This Author published in this journals
All Journal Interaksi Online
Triono Lukmantoro
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

PEMAKNAAN TREN FASHION BERJILBAB ALA HIJABERS OLEH WANITA MUSLIMAH BERJILBAB Budiono, Taruna; Herieningsih, Sri Widowati; Lukmantoro, Triono
Interaksi Online Vol 1, No 3 (2013): Wisuda Agustus
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.682 KB)

Abstract

ABSTRAKNama : Taruna BudionoNIM : 14030110151025Judul : Pemaknaan Tren Fashion Berjilbab Ala Hijabers Oleh WanitaMuslimah BerjilbabMengkomunikasikan identitas diri menggunakan medium fashion adalah hal umum yang dilakukan oleh banyak orang. Salah satu pilihan fashion tersebut adalah jilbab. Tren fashion berjilbab belakangan ini sedang marak di Indonesia. Para wanita muslim khususnya yang tinggal di kota-kota besar banyak yang mengikuti tren fashion ini. Jilbab yang mereka pakai banyak dipengaruhi oleh kehadiran komunitas wanita berjilbab seperti hijabers community, serta beberapa figur publik yang juga memakai jilbab.Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian ini memberikan gambaran tentang fenomena tren fashion berjilbab di kalangan wanita muda dan pemaknaan jilbab yang dipakai oleh para mereka. Penelitian ini mengacu pada konsep fashion sebagai komunikasi, sebagaimana dikatakan oleh Fiske bahwa fashion atau pakaian menjadi medium yang digunakan seseorang untuk menyatakan sesuatu pada orang lain (Fiske dalam Barnard, 2011: 41). Jilbab sebagai bagian dari fashion juga berguna untuk medium penyampaian pesan-pesan para pemakainya kepada orang lain. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap empat orang informan yakni para wanita muda yang memakai jilbab ala hijabers/modifikasi yang tinggal di kota Semarang.Hasil temuan penelitian menggambarkan Jilbab yang dipakai oleh para wanita muslim digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu, menunjukkan identitas diri, dan sebagai media ekspresi diri. Pesan utama yang ingin dinyatakan oleh para wanita berjilbab ini adalah bahwa selain melaksanakan perintah agama, mereka juga bisa tampil modis dan fashionable, serta tetap aktif dengan berbagai macam kegiatan tanpa terganggu jilbab yang mereka pakai. Lebih lanjut, media massa yang dijadikan rujukan oleh para wanita berjilbab adalah media internet, dimana kemudahan akses menjadi daya tariknya.Kata kunci: jilbab; tren fashion; identitas diriABSTRACTName : Taruna BudionoNIM : 14030110151025Title : Interpreting Hijabers Veiling Fashion Trends By Veiled MuslimWomenCommunicating identity through fashion are common things, one is the hijab. Veiled fashion trend lately emerging in Indonesia. Many muslim women especially those who lives in big cities follow the fashion trend. Veil they wear affected a lot by the presence of veiled women communities such as hijabers community, as well as some public figures who also wears the hijab.This study is a qualitative research with phenomenological approach. This study provides an overview of veiled fashion trends phenomenon among young women and the meaning of the veil they worn. This study refers to the concept of fashion as communication, as stated by Fiske that fashion or clothing become medium that used to express something to others (Fiske in Barnard, 2011: 41). Hijab as part of fashion also useful as medium to conveying messages to others. Data were obtained through in-depth interviews of four informants that is young women who wear the hijabers/modification hijab style that living in Semarang.This research describes the hijab worn by muslim women used to convey certain messages, show identity, and as a medium of self-expression. The main message expressed by the veiled women is that in addition to carrying out the religious orders, they can also look fashionable, and stay active with a variety of activities without being bothered by their hijab. Furthermore, the mass media are used as a reference by the veiled woman is the internet, where the ease of access become its appeal.Keywords: veil; fashion trends; personal identityPendahuluan Mengkomunikasikan identitas diri menggunakan medium fashion adalah hal umum yang dilakukan oleh banyak orang. Salah satu pilihan fashion tersebut adalah jilbab. Penutup kepala ini telah berkembang menjadi satu identitas sosial bagi pemakainya. Jilbab sekarang ini memiliki banyak varian corak dan model. Tren fashion berjilbab di Indonesia mungkin telah dimulai sejak beberapa artis ibukota memilih untuk memakai jilbab sebagai pakaian sehari-hari mereka. Ada beberapa artis populer yang dulunya tidak berjilbab sekarang memakai jilbab sebagai busana sehari-hari, mereka memakai jilbab sebagai bentuk penghayatan dan kesadaran mereka untuk memenuhi kewajiban agama untuk menutup aurat, mereka antara lain adalah: Nuri Maulida, Marshanda, Puput Melati, Rachel Maryam, Desi Ratnasari, Risty Tagor, Zaskia Sungkar. (http://jogja.tribunnews.com/2012/07/20/7-artis-yang-kini-berjilbab). Namun merebaknya penggunaan jilbab sebagai fashion di kalangan anak muda nampaknya lebih dipengaruhi oleh kemunculan sosok Dian Pelangi dan Hijabers Community. Dian Pelangi adalah desainer muda Indonesia, yang debutnya di dunia mode telah dimulai sejak umurnya 19 tahun pada gelaran Jakarta Fashion Week 2009. Pada ajang tahunan tersebut Dian Pelangi mampu mencuri perhatian dengan rancangan busana muslim modern yang ditampilkannya. Selain itu ia adalah pendiri Hijabers Community yaitu komunitas yang berisi anak-anak muda berjilbab yang tampil modis dan gaya yang diresmikan pada tanggal 27 November 2010 di Jakarta. (http://www.tabloidbintang.com/hobi/56493-hijabers-community-bermula-dari-acara-buka-puasa-di-mal.html) Hijabers Community sendiri mempunyai suatu misi untuk memperkenalkan jilbab/kerudung yang modis kepada anak-anak muda, dan ingin mengikis anggapan bahwa para pemakai jilbab adalah orang yang kuno. Meningkatnya jumlah wanita muslimah yang memakai jilbab ini juga tidak lepas dari banyaknya event yang dilaksanakan oleh hijabers community untuk mengenalkan jilbab trendy kepada masyarakat. Salah satu event yang seringdigelar oleh mereka adalah Hijab Class. Dalam acara Hijab Class ini para peserta diajarkan tentang bagaimana memakai jilbab yang modis dan trendi. Selain itu Hijabers Communnity juga memanfaatkan media jejaring sosial dalam setiap acara yang mereka buat, tercatat ada tiga media sosial yang digunakan Hijabers Community yaitu WebBlog, Facebook dan Twitter.Media massa tersebut memberi ide dan gagasan pada wanita muslimah untuk memakai jilbab seperti yang dikenakan oleh publik figur yang sering muncul di media massa. Hal ini dimungkinkan karena media massa memiliki kekuatan untuk mengonstruksikan realitas. Pada umumnya sebaran konstruksi sosial media massa menggunakan model satu arah, di mana media menyodorkan informasi sementara konsumen media tidak memiliki pilihan lain selain mengonsumsi informasi itu. Model satu arah ini terutama terjadi pada media cetak. Sedangkan media elektronik khususnya radio bisa dilakukan dua arah (Bungin, 2008: 198). Banyaknya wanita muslimah yang memakai jilbab tidak lantas membuat mereka terbebas dari cibiran dan pandangan negatif dari masyarakat. Para wanita muslimah yang memakai jilbab trendi dan modis ala hijabers kadangkala dianggap hanya mengikuti tren semata, ada juga yang beranggapan bahwa jilbab yang mereka pakai tidak sesuai syariah islam karena jilbab yang mereka pakai tidak memenuhi kaidah berjilbab yang benar. Pandangan-pandangan negatif tersebut bisa dilihat salah satunya dalam pemberitaan di media-media berbasis Islam seperti yang diberitakan oleh media online Dakwatuna berikut: Ketika kita berbicara tentang jilbab, maka kita berbicara tentang pakaian takwa. Pakaian yang diturunkan untuk muslimah, untuk menutup auratnya dan jelas disebutkan di Al-Qur’an. Baru-baru ini, paradigma manusia tentang jilbab semakin jauh dari kata “syar’i”, bagaimana tidak? Iklan-iklan jilbab yang “mengaku menjual jilbab syar’i” semakin membuat kening ini berkerut? Apakah memang seperti itu jilbab yang diperintahkan oleh Allah, atau kita selama ini telah tertipu? Jilbab syar’i dan modis, begitu tagline yang selama ini digembar-gemborkan oleh kalangan hijabers. (http://www.dakwatuna.com/2013/05/13/33127/jilbab-syari-jilbab-paling-modis-sepanjang-zaman/#ixzz2ZYcppqlC)Dalam kehidupan sehari-hari kata fashion lebih sering diartikan sebagai dandanan atau gaya dan busana, ada juga orang yang mengartikan fashion sebagai pakaian atau memakai pakaian (Barnard, 2011: 13). Fashion juga menjadi simbol kelas dan status sosial pemakainya, ia juga menjadi representasi sosial budaya yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Dalam hal representasi sosial budaya, fashion kadang juga dikaitkan dengan simbol-simbol agama tertentu. Misalnya pemakaian kerudung/jilbab yang diidentikan dengan Islam, aksesoris-aksesoris berupa kalung berbentuk salib yang diidentikan dengan agama Kristen, dan masih banyak lagi. Malcolm Barnard dalam bukunya Fashion as Communication mengidentifikasi busana baku dengan antifashion, sedangkan busana modis dengan fashion (Barnard, 2011: 20). Apabila fashion dan antifashion dikaitkan dengan jilbab, maka jilbab sebagai busana sekarang ini bisa dikategorikan sebagai busana fashion. Jilbab sebagai busana yang antifashion sekarang ini sudah tidak ada lagi, karena sekarang telah banyak model-model jilbab yang dibuat mengikuti tren fashion yang sedang berkembang. Yang ada adalah jilbab yang fashionable dan jilbab yang tidak fashionable. Perkembangan jilbab tentu saja tidak bisa dilepaskan dari kebudayaan di mana jilbab itu dipakai, di Indonesia sendiri jilbab telah mengalami banyak perkembangan dari segi bentuknya. Berdasarkan hal tersebut, maka bisa dirumuskan permasalahan “Bagaimana pengalaman dan pemaknaan wanita muslimah berjilbab dalam memakai jilbab ala hijabers”.IsiPenelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi. Fenomenologi adalah metode yang berusaha untuk memahami bagaimana seseorang mengalami dan memberi makna pada sebuah pengalaman (Kuswarno, 25: 2009). Fenomenologi sendiri bertujuan untuk memahami bagaimana pemahaman manusia dalam mengonstruksi makna dan konsep-konsep penting dalam kerangka intersubjektivitas.Sumber informasi dalam penelitian ini adalah empat wanita muslimah yang tinggal di kota Semarang yang memakai jilbab dengan ala hijabers untuk busana sehari-hari mereka. Mereka ditanya tentang fenomena semakin banyaknya wanita muslimah yang memakai jilbab ala hijabers, pengalaman mereka memakai jilbab ala hijabers, dan bagaimana mereka memberi makna terhadap tren fashion berjilbab ala hijabers.Jilbab yang dipakai oleh para wanita muslim dengan berbagai macam model dan bentuknya adalah upaya mereka untuk membentuk identitas individu mereka. Tubuh kita memiliki peran penting dalam merepresentasikan identitas kita. Pengertian tentang siapa kita, dan hubungan kita dengan individu, personal, dan masyarakat di mana kita hidup selalu berada dalam perwujudan tubuh. (Woodward, 2002: 1-2). Jilbab yang dipakai oleh para wanita muslim adalah representasi identitas diri mereka yang bisa dilihat melalui perwujudan tubuh. Mereka memilih menunjukkan identitas diri melalui perwujudan tubuh karena cara inilah yang paling mudah, karena setiap orang yang melihat wanita berjilbab pasti akan tahu bahwa ia adalah wanita muslim.Dalam usaha untuk membentuk identitas diri, ada proses yang dinamakan identifikasi diri. Identifikasi diri adalah kecenderungan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan orang lain. Orang lain yang menjadi sasaran identifikasi dinamakan idola. Setiap orang pada saat berinteraksi dengan orang lain melalui pakaiannya, dapat memilih ia ingin menjadi seperti siapa (Crane & Bovone, 2006: 319). Jilbab yang dipakai oleh para wanita muslim bisa menunjukkan kecenderungan merujuk kepada siapa identifikasi diri mereka. Kebanyakan mereka mengidentifikasi diri mereka dengan para public figure yang memakai jilbab, seperti Jenahara Nasution, Dian Pelangi, dan Zaskia Adya Mecca.Dalam proses pembentukan identitas diri dan identifikasi diri, lingkungan merupakan faktor yang memiliki pengaruh besar. Lingkungan tersebut bisa berupa lingkungan tempat tinggal, lingkungan pergaulan, ataupun lingkungan kerja. Para wanita muslim ini menyatakan lingkungan di sekitar mereka memiliki andil yangcukup besar dalam proses pembentukan identitas diri sebagai wanita muslimah, dalam hal ini dengan cara memakai jilbab. Lingkungan yang memberi pengaruh besar umumnya adalah lingkungan teman sepergaulan dan teman sebaya, disusul lingkungan keluarga. Selain itu ada juga pengaruh khusus yang didapat dari guru mengaji.Selain tubuh kita sendiri, identitas diri seseorang juga dipengaruhi beberapa faktor eksternal, antara lain ekonomi, sosial, budaya, dan politik (Woodward, 2002: 1-2). Dalam proses pembentukan identitas diri dan identifikasi diri yang dilakukan oleh para informan, ada faktor eksternal yang mempengaruhi mereka. Ada dua faktor eksternal yang membentuk identitas diri para informan sebagai wanita muslim, dua faktor tersebut yaitu faktor sosial dan budaya.Pengaruh faktor sosial bisa bisa dilihat dari mereka yang tertarik memakai jilbab setelah melihat lingkungan sekitar mereka, yaitu teman sepergaulan dan keluarga yang memakai jilbab. Dari faktor sosial inilah akhirnya muncul keinginan dari mereka untuk menunjukkan identitas diri mereka sebagai seorang wanita muslim dengan cara memakai jilbab. Sedangkan pengaruh faktor budaya bisa dilihat dari salah satu informan yang memakai jilbab sejak kecil, karena ia selalu bersekolah di sekolah Islam. Kebiasaannya memakai jilbab sejak kecil dan budaya di sekolahnya yang mengharuskan setiap siswi untuk memakai jilbab adalah hal yang membentuk identitas dirinya sebagai wanita muslim.Sebagai bagian dari fashion, jilbab selain berfungsi sebagai penanda identitas diri sebagai seorang muslim, juga menjadi bagian dari ekspresi diri dalam berbusana. Ekspresi tersebut terlihat dari pilihan jenis jilbab yang dipakai oleh setiap wanita muslim. Jilbab modifikasi yang sedang menjadi tren saat ini, sejatinya juga menggambarkan ekspresi diri para pemakainya. Warna, corak dan bentuk dari jilbab modifikasi yang dipakai oleh para wanita muslim tersebut, bisa menunjukkan perasaan atau isi hati si pemakai.Fashion sebagai bentuk komunikasi nonverbal mengikuti mahzab komunikasi yaitu mahzab “proses”. Yaitu fashion atau pakaian menjadi mediumyang digunakan seseorang untuk “menyatakan” sesuatu pada orang lain (Fiske dalam Barnard, 2011: 41). Pesan yang ingin disampaikan melalui jilbab inipun beragam, seperti jilbab dipakai sebagai batasan diri dalam bergaul. Seorang wanita muslim memakai jilbab untuk membatasi dirinya dalam pergaulan negatif dan menghindarkan diri dari pelecehan seksual.Jilbab yang dipakai olehnya menjadi medium komunikasi nonverbal yang membawa pesan bagi orang lain bahwa dengan memakai jilbab, ia ingin memberi jarak/batasan bagi dirinya dalam bergaul. Dengan jilbab yang dipakainya tersebut, diharapkan orang lain juga paham dengan maksudnya untuk membatasi diri dalam pergaulan. Selain membatasi diri dalam pergaulan, jilbab dalam hal ini jilbab modifikasi, juga dipakai sebagai media untuk menunjukkan bahwa seorang wanita muslim bisa aktif dalam berbagai macam kegiatan tanpa terhalangi oleh jilbab yang dipakainya.Jilbab sebagai bagian dari fashion juga berfungsi sebagai penanda status sosial bagi pemakainya. Ada sebagian wanita muslim yang melakukan hal ini dengan cara memakai jilbab modifikasi yang sedang menjadi tren, dengan tujuan agar dilihat memiliki status sosial yang lebih tinggi dari orang lain. Hal ini wajar saja, karena orang sering menggunakan pakaian atau fashion untuk menunjukkan nilai sosial atau status sosial, dan orang kerap membuat penilaian terhadap nilai sosial atau status sosial orang lain berdasarkan apa yang dipakai orang tersebut (Barnard, 2011: 86).Jilbab juga bisa menjadi ekspresi diri dari pemakainya. Wanita muslim memiliki selera dan ketertarikan yang berbeda terhadap model dan bentuk jilbab. Kebanyakan jilbab yang disukai oleh para wanita muslim adalah jilbab yang dipopulerkan dan dipakai oleh para public figure seperti Jenahara Nasution, Dian Pelangi, dan Zaskia Adya Mecca. Sedangkan untuk jenisnya sendiri, mereka lebih banyak memakai jilbab segi empat, dan shawl.Meskipun para wanita muslim ini ingin mengekspresikan diri dan menunjukkan keunikan mereka dengan memakai jenis dan bentuk jilbab yangdipakai berbeda, namun mereka juga tidak ingin merasa terasing dari pergaulan kelompok mereka. Maka ketika para wanita muslim di lingkungan mereka memakai jilbab modifikasi, mereka pun menjadi tertarik untuk juga memakai jilbab tersebut. Orang rupanya perlu menjadi sosial dan individual di saat yang sama, dan fashion serta pakaian merupakan cara dari sejumlah hasrat atau tuntutan yang kompleks dinegosiasikan (Barnard, 2011: 17). Karena selain keinginan untuk menunjukkan keunikan individu, manusia juga memiliki keinginan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Hal ini adalah kebutuhan manusia yang bisa diwujudkan oleh fashion (dalam hal ini jilbab).Umumnya para wanita muslim lebih memilih memakai jilbab modern/modifikasi karena mereka tertarik dengan berbagai macam model jilbab sekarang. Selain itu ada diantara mereka yang memakai jilbab modern untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya, sedangkan yang lainnya memakai jilbab modern karena tidak ingin dianggap kuno. Disini bisa dilihat bahwa para wanita muslim tersebut tidak ingin menjadi terasing dari lingkungannya, oleh sebab itu mereka memutuskan untuk memakai jilbab modifikasi karena lingkungan sekitar mereka juga memakai jilbab yang sama.Media massa juga turut andil dalam mempopulerkan berbagai macam model jilbab, sehingga akhirnya banyak wanita yang tertarik untuk memakai jilbab sebagai busana sehari-hari mereka. Tren fashion berjilbab sekarang yang banyak dipengaruhi oleh hijabers community sudah sangat bagus dan maju dibandingkan fashion berjilbab sebelum adanya hijabers community. Meskipun sudah bagus dan berkembang pesat, namun ada beberapa orang yang memakai jilbab hanya untuk menonjolkan kekayaan dan status sosial saja. Selain itu tren fashion berjilbab ini seringkali disalah artikan oleh sebagian masyarakat, dengan seringnya dilihat wanita berjilbab namun memakai pakaian ketat. Tren fashion berjilbab ala hijabers ini sebenarnya juga lebih ditujukan untuk kalangan menengah ke atas, sebab tren fashion yang mereka bawa termasuk tren fashion yang mahal.Media massa memiliki kemampuan untuk membentuk konstruksi sosial, dalam hal ini konstruksi sosial tentang wanita berjilbab. Selama ini konstruksi sosial yang ditampilkan oleh media massa tentang wanita berjilbab menimbulkan citra positif di masyarakat, karena oleh media massa wanita berjilbab sekarang ini tidak lagi dicitrakan sebagai wanita kuno dan ketinggalan jaman, melainkan sebagai wanita yang cantik dan modis. Selain itu berbagai pemberitaan tentang kegiatan positif yang dilakukan oleh komunitas wanita berjilbab juga menambah citra positif tentang wanita berjilbab. Hal-hal yang demikian akhirnya menumbuhkan ketertarikan bagi para wanita untuk memakai jilbab.Pada umumnya sebaran konstruksi sosial media massa menggunakan model satu arah, di mana media menyodorkan informasi sementara konsumen media tidak memiliki pilihan lain selain mengonsumsi informasi itu. Model satu arah ini terutama terjadi pada media cetak. Sedangkan media elektronik khususnya radio bisa dilakukan dua arah (Bungin, 2008: 198). Konstruksi sosial media massa yang berlangsung satu arah ini membuat media cetak seperti majalah dan buku tidak terlalu diminati oleh para wanita muslim dalam mencari informasi tentang tren fashion berjilbab. Hal ini karena para wanita muslim sebagai penerima pesan hanya bisa menerima pesan dari media tersebut, tanpa bisa memberi tanggapan langsung atas pesan yang ia terima.Dalam perkembangan tren fashion berjilbab sekarang ini, internet menjadi media yang paling banyak digunakan oleh para wanita berjilbab untuk mencari informasi dan referensi tentang jilbab. Internet tampaknya telah menggeser peran media massa cetak dan media elektronik lainnya seperti televisi dan radio. Hal ini juga dilakukan oleh para wanita berjilbab yang lebih sering mengakses internet dibandingkan dengan membaca majalah, ataupun menonton televisi.Mereka lebih suka mengikuti perkembangan tren fashion berjilbab melalui internet karena ia memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh media massa lain seperti majalah dan televisi. Keunggulan utama dari internet adalah kemudahan akses, dimana hampir semua orang yang memiliki komputer bisa masuk kejaringan. Dengan beberapa kali klik tombol mouse, kita akan masuk ke lautan informasi dan hiburan yang ada di seluruh dunia. (Vivian, 2008: 262). Terlebih lagi sekarang ini koneksi internet tidak hanya tersedia melalui jaringan kabel yang hanya bisa diakses melalui komputer saja. Jaringan internet nirkabel pun sekarang telah bisa dinikmati melalui perangkat laptop ataupun ponsel. Hal ini tentu saja menambah kemudahan akses internet untuk dipakai dimana saja.Internet juga memiliki kelebihan lain yang tidak dimiliki oleh media massa lainnya, yaitu bersifat interaktif. Interaktif disini memiliki arti bahwa internet punya kapasitas untuk memampukan orang berkomunikasi, bukan sekadar menerima pesan belaka, dan mereka bisa melakukannya secara real time. (Vivian, 2008: 263). Meskipun media elektronik seperti televisi dan radio sekarang ini juga bisa bersifat interaktif, namun interaksi antara media massa dan audience mereka tidak bisa berlangsung setiap waktu. Berbeda dengan internet dimana penerima pesan/audience bisa memberi tanggapan sewaktu-waktu.Dari berbagai macam situs internet yang ada dan menjadi referensi dalam mengikuti perkembangan tren fashion berjilbab, situs berbagi video youtube adalah situs yang paling sering diakses oleh para wanita berjilbab ini. Youtube menjadi pilihan karena ia memiliki kelebihan dibanding situs internet lain yang kebanyakan hanya berisi tulisan dan gambar. Youtube menawarkan konten audio visual yang menarik sama seperti televisi, ditambah dengan segala kelebihan internet yang melekat padanya. Ditambah lagi konten audio visual yang ada di youtube bisa diunduh dan disimpan, untuk nantinya disaksikan pada lain waktu. Kelebihan inilah yang tidak dimiliki oleh televisi yang membuat youtube lebih unggul, meskipun keduanya sama-sama memiliki konten audio visual.Media-media yang menjadi referensi para wanita berjilbab memberi pengaruh kepada jilbab yang mereka pakai, meskipun tingkat pengaruhnya berbeda-beda. Mereka cenderung selektif dalam mengambil/menggunakan konten dari sebuah media. Seberapapun jernih dan jelasnya pesan, orang mendengar dan melihatnya secara egosentris. Fenomena ini dikenal sebagai selective perception(Vivian, 2008: 478). Selektifitas para wanita berjilbab dalam menggunakan konten media massa yang mereka pakai untuk mencari informasi tentang jilbab, terlihat dari sebagian dari mereka yang hanya mengambil tutorial berjilbab yang ada di media massa, namun tidak berusaha untuk menirunya secara persis dan sama.Penutup Alasan utama para wanita muslim memakai jilbab adalah untuk menjalankan perintah agama. Dalam keputusan untuk memakai jilbab tersebut ada berbagai faktor yang mempengaruhi mereka, faktor-faktor tersebut adalah kesadaran dari dalam diri sendiri dan lingkungan sekitar. Para wanita ini memakai jilbab untuk menunjukkan identitas diri mereka sebagai seorang wanita muslim, karena di Indonesia jilbab identik dengan Islam.Ada beberapa pesan komunikasi yang ingin disampaikan oleh para wanita muslim melalui jilbabnya. Pesan-pesan tersebut adalah jilbab yang dipakai digunakan sebagai batasan diri dalam pergaulan agar tidak berlaku yang tidak baik. Jilbab juga dijadikan simbol perubahan diri menjadi orang yang lebih baik, dibanding sebelum memakai jilbab. Selain itu sebagai wanita berjilbab mereka juga ingin menyampaikan bahwa wanita berjilbab juga bisa tampil modis dan fashionable, dan tetap aktif dengan berbagai macam kegiatan tanpa terganggu jilbab yang mereka pakai.Internet adalah media massa yang paling sering digunakan oleh para wanita berjilbab untuk mencari informasi tentang tren fashion berjilbab, dan situs yang paling sering diakses adalah youtube. Mereka memilih internet karena kemudahan akses dimana saja, dan youtube dipilih karena youtube menawarkan konten audio visual yang menarik sama seperti televisi, ditambah dengan segala kelebihan internet yang melekat padanya. Selain itu daya tarik utama youtube adalah konten media tersebut yang bisa diunduh, sehingga bisa ditonton lagi sewaktu-waktu.Daftar Pustaka Barnard, Malcolm. 2011. Fashion Sebagai Komunikasi : Cara mengkomunikasikan identitas sosial, seksual, kelas, dan gender. Diterjemahkan oleh: Idy Subandy Ibrahim & Drs. Yosal Iriantara, Ms. Yogyakarta: Jalasutra. Bungin, Burhan. 2008. Konstruksi Sosial Media Massa. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Kuswarno, Engkus. 2009. Metode Penelitian Komunikasi Fenomenologi: Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitiannya. Bandung: Widya Padjajaran.Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa. Diterjemahkan oleh: Tri Wibowo B.S. Jakarta: Kencana Prenada GroupWoodward, Kath. 2002. Understanding Identity. London: ArnoldJurnalCrane, D, & Bovone, L. 2006. Approaches to Material Culture: The Sociology of Fashion and Clothing. PoeticsSumber InternetKriswanti, Wida. 2012. Hijabers Community: Bermula dari Acara Buka Puasa di Mall. (http://www.tabloidbintang.com/gaya-hidup/hobi/56493-hijabers-community-bermula-dari-acara-buka-puasa-di-mal.html; diakses pada 2 Oktober 2012) Reswari, Arnova. 2013. Jilbab Syar’i = Jilbab Paling Modis Sepanjang Zaman. (http://www.dakwatuna.com/2013/05/13/33127/jilbab-syari-jilbab-paling-modis-sepanjang-zaman/#ixzz2ZYcppqlC; diakses pada 15 Juli 2013)Thea. 2012. 7 Artis yang Kini Berjilbab. (http://jogja.tribunnews.com/2012/07/20/7-artis-yang-kini-berjilbab; diakses pada 2 Oktober 2012)      
Interpretasi Khalayak Pria terhadap Sosok Perempuan dalam Tayangan Mata Lelaki Sari, Rindhianti Novita; Gono, Joyo Noer Suryanto; Lukmantoro, Triono
Interaksi Online Vol 1, No 3 (2013): Wisuda Agustus
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.606 KB)

Abstract

Nama : Rindhianti Novita SariNIM : D2C009009Judul : Interpretasi Khalayak Pria terhadap Sosok Perempuandalam Tayangan Mata LelakiABSTRAKProgram acara televisi yang menonjolkan kesensualan perempuan sebagai dayatarik utamanya, menjadi ajang bisnis bagi pekerja media untuk meraup untungsebesar-besarnya. Kata “pengetahuan” dan “hiburan” dijadikan alasan dalampenyajian tayangan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuibagaimana interpretasi khalayak pria terhadap sosok perempuan dalam tayanganMata Lelaki. Selain itu juga untuk mengetahui bagaimana para penonton programacara Mata Lelaki menggunakan materi acara tersebut sebagai rujukanpembicaraan dalam kehidupan sehari-hari. Teori yang digunakan yaitu encodingdecoding(Stuart Hall, 1980), everyday life (David Chaney, 2002), dan teorinormatif (McQuail,1987). Tipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif denganpendekatan resepsi dan dikaitkan dengan analisis ekonomi politik media. Teknikpengumpulan data dilakukan dengan menggunakan indepth interview kepadaempat informan yang telah dipilih oleh peneliti, yakni khalayak pria yang aktifatau pernah aktif menonton tayangan Mata Lelaki.Hasil penelitian ini menunjukkan khalayak menganggap bahwa tayangan MataLelaki merupakan sebuah tayangan yang menghibur, yang berorientasi padaseksualitas. Selain itu, ada pula keberagaman pendapat mengenai eksploitasisensualitas dan tubuh perempuan yang digunakan dalam tayangan Mata Lelaki.Secara keseluruhan khalayak setuju bahwa apa yang disajikan dalam tayanganMata Lelaki sudah sesuai dengan Pedoman Perilaku Penyiaran dan StandarProgram Siaran (P3SPS) yang ditetapkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).Dalam hal ini tayangan Mata Lelaki dianggap materi yang ringan, sehingga bisadijadikan pembicaraan dalam konteks bercanda atau selingan ketika waktu sela ditengah-tengah kesibukan bekerja. Tayangan Mata Lelaki digunakan sebagairujukan pembicaraan dalam kehidupan sehari-hari, meskipun hal tersebut tidakdilakukan oleh semua khalayak. Penelitian ini menunjukkan bahwa khalayakmengetahui adanya istilah khusus yang digunakan dalam tayangan Mata Lelaki.Namun, meskipun hampir semua informan menggunakan tayangan Mata Lelakisebagai bahan pembicaraan sehari-harinya, mereka tidak serta mertamenggunakan istilah yang ada dalam tayangan tersebut ke dalam pembicaraansehari-harinya.Kata kunci: Sensualitas perempuan, everyday life, tayangan malam Indonesia.ABSTRACTTelevision programs that highlight the sensuality of women as the main attraction,also become a business event for media workers to reap maximum profit. Theword "knowledge" and "entertainment" as a reason in the presentation of theshow. The purpose of this study was to determine how the public interpretation ofthe figure of a man in a womens show Mata Lelaki. In addition, to know how toprogram the audience the show Mata Lelaki using the event as a referencematerial talks in everyday life. The theory used is encoding-decoding (Stuart Hall,1980), everyday life (David Chaney, 2002), and normative theory (McQuail,1987). This type of research is a qualitative descriptive approach was associatedwith the reception and analysis of the political economy of media. Data wascollected using in-depth interviews to four informants who had been chosen bythe researchers.The results showed that the audience assumes impressions Mata Lelaki is anentertaining show, which is oriented towards sexuality. In addition, there is also adiversity of opinion regarding the exploitation of sensuality and womens bodiesare used in the show Mata Lelaki. Overall the audience agreed that what ispresented in the Mata Lelaki impressions are in accordance with the BroadcastingCode of Conduct and Broadcasting Program Standards (P3SPS) established by theIndonesian Broadcasting Commission (KPI). In this sense impressions MataLelaki is considered as a lightweight material, so that it can be used in the contextof the conversation everyday or distraction joking in the spare time in the middleof busy work. Impressions Mata Lelaki is used as a reference in the conversationof everyday life, even if it is not done by all audiences.This study shows that theaudience aware of any specific terms used in the show Mata Lelaki. However,although almost all informants using impressions Mata Lelaki as a day-to-dayconversation, they do not necessarily use the term contained in these show intoeveryday conversation.Keywords: Sensuality women, everyday life, evening shows in Indonesia.Interpretasi Khalayak Pria terhadap Sosok Perempuan dalam TayanganMata LelakiSummary SkripsiPenyusunPENDAHULUANMenayangkan materi bermuatan seksualitas di media massa, memangmemiliki tujuan yang jelas dan hampir selalu disadari oleh pengelola media, yaituuntuk menarik perhatian pembaca, pendengar, atau penonton untuk membaca,mendengar, dan menonton materi tersebut. Jika perhatian khalayak telah berhasildirebut, hal ini selanjutnya dapat dijual ke pengiklan, yang artinya membawakeuntungan ekonomis bagi organisasi media. Jadi, memang tidak dapat dipungkiribahwa seks dan semua bentuk serta penggambarannya (yang memiliki unsurkenikmatan) akan selalu membangkitkan rasa ingin tahu khalayak dan juga dapatmembangkitkan fantasi pada khalayak tertentu. Salah satu isu utama dalam studipenonton menyangkut hubungan antara produser, teks, dan penonton. Dalambanyak persamaan ini adalah tentang keseimbangan kekuatan yakni menilaisejauh mana khalayak dipengaruhi dan terpengaruh oleh teks media (Rayner,Wall, dan Kruger, 2004: 96).Program tayangan televisi Indonesia yang sengaja disajikan pada tengahmalam seringkali mengusung tema seksualitas. Perempuan yang ditampilkanselalu menggunakan busana mini yang ditujukan agar penonton yangmenyaksikan tayangan tersebut semakin terbelalak, terutama pada kaum lelaki.Hal ini tidak terlepas dari adanya komodifikasi dari pihak-pihak tertentu yangmemiliki kepentingan untuk memperoleh keuntungan secara materi. John Dovey(dalam Rayner, Wall, dan Kruger, 2004: 126) berpendapat bahwa kita hidupdalam masyarakat pengakuan dan menggambarkan fenomena genre baru televisisebagai media orang pertama di mana subjektivitas, personal, dan intim menjadiprioritas. Mata lelaki seringkali dibuat terbelalak manakala menyaksikan kamerayang menelusuri tubuh perempuan dari ujung kaki hingga ujung rambut, ditambahpula si perempuan yang dengan sengaja melekukkan tubuhnya agar terlihat lebihsensual dan menarik hasrat kaum lelaki.Perempuan yang kemudian dijadikan objek untuk dieksploitasi seakanakanpasif dan menerima saja atas perlakuan pihak-pihak yang berkepentingan.Dalam hal ini perlindungan hak-hak perempuan justru dikesampingkan danmengutamakan profit yang akan didapatkan pihak media. Perempuan dijadikankonsumsi khalayak dan dipandang sebagai makhluk yang lemah, sebagaikeindahan yang dinikmati oleh barbagai khalayak yang berbeda-beda, dan darilatar belakang yang berbeda pula.Dari uraian di atas, serta mengingat bahwa penelitian ini ingin mengupasruang pemaknaan, maka peneliti ingin melihat bagaimana pemaknaan khalayakterhadap sosok perempuan dalam tayangan Mata Lelaki berkaitan dengan gayahidup masyarakat di era modern saat ini. Selanjutnya masalah yang diteliti dalampenelitian ini dirumuskan ke dalam pertanyaan sebagai berikut:1. Bagaimana interpretasi lelaki terhadap sosok perempuan dalam tayanganMata Lelaki?2. Bagaimana para penonton program acara Mata Lelaki menggunakanmateri acara tersebut sebagai rujukan pembicaraan dalam kehidupansehari-hari?ISIPenelitian ini merupakan kajian interpretatif atas content media berupateks, yang merupakan kombinasi tanda-tanda yang berupa tanda visual dan audio,dengan analisis yang bersifat kualitatif. Penelitian kualitatif memerlukanketerlibatan yang lebih mendalam dengan penonton itu sendiri. Ini termasukteknik seperti wawancara dalam rangka untuk sampai pada kesimpulan tentangperilaku penonton dalam kaitannya dengan konsumsi media (Rayner, Wall danKruger, 2004: 96).Jika dikaitkan dengan tema tersebut, penelitian ini menggunakanparadigma interpretatif untuk melakukan interpretasi dan memahami alasan darisubyek penelitian terhadap tindakan sosial yang mereka lakukan, yaitu bagaimanamereka mengonstruksikan kehidupan yang ditampilkan dalam sebuah tayangantelevisi Mata Lelaki dan memberikan makna dari tayangan tersebut. Penelitian inimenggunakan analisis resepsi yang memiliki cara pandang khusus mengenaikhalayak. Dalam hal ini khalayak adalah sebagai penghasil makna, bukan hanyapengonsumsi media semata. Tujuan resepsi secara umum adalah untukmenemukan bagaimana khalayak dengan konteks sosial dan latar belakang yangberbeda membuat bermacam-macam pengertian mengenai teks media.Televisi merupakan salah satu bentuk komunikator massa, di mana dalamhal ini khalayak adalah sebagai komunikan. Proses komunikasi massa padahakekatnya merupakan proses pengoperan lambang-lambang yang berarti(mengandung arti atau makna) yang dilakukan melalui saluran-saluran (chanel),biasanya dikenal dengan media cetak, media auditif (radio), media visual (gambar,lukisan), atau media audio visual seperti televisi dan film.Dalam hal ini hubungan antara media dan khalayak dijelaskan Stuart Halldalam model encoding dan decoding. Encoding, yang merupakan domain dariproduser, dan decoding domain dari penonton. Proses mengkomunikasikan pesanmensyaratkan bahwa dikodekan sedemikian rupa sehingga penerima pesanmampu untuk memecahkan kode itu (Rayner, Wall, dan Kruger, 2004: 97).Misalnya, pesan televisual dikodekan melalui penggunaan teknologi kamera,ditransmisikan sebagai sinyal dan kemudian diterjemahkan dengan menggunakantelevisi, kemudian khalayak memberikan pemaknaan atas tanda-tanda dan pesanyang disampaikan oleh media. Dalam hal ini pesan yang disampaikan oleh mediakepada khalayak mengandung sebuah ideologi. Sebagai salah satu media massa,televisi membawa ideologi-ideologi tertentu yang berusaha ditanamkan kepadakhalayak melalui teks. Model encoding dan decoding yang diajukan oleh StuartHall dan David Morley berpusat pada gagasan bahwa penonton bervariasi dalamrespon mereka terhadap pesan media. Hal ini karena khalayak dipengaruhi olehposisi sosial mereka, jenis kelamin, usia, etnis, pekerjaan, pengalaman dankeyakinan serta di mana mereka berada dan apa yang mereka lakukan ketikamereka menerima pesan.Dalam perspektif active audience khalayak dipandang sebagai penciptamakna yang aktif. Khalayak Mata Lelaki adalah khalayak yang aktif. Merekatidak langsung secara mentah-mentah menerima apa yang mereka tonton dalamsebuah tayangan televisi. Khalayak merupakan penerima pesan dan pengolahinformasi. Ien Ang menyebutkan bahwa khalayak media bukanlah sebagai“masses” yaitu sekumpulan orang anonym dan pasif yang tidak beridentitas.Bukan pula sebagai “market” yang menjadi target industri media. Namunkhalayak media aktif dalam menggunakan, menginterpretasikan dan menikmatiproduk media. (Ang, dalam Downing, Mohammad, dan Sreberny Mohammad,1990 : 165). Dalam pelaksanaannya, mereka seakan terlihat pasif dan hanya diamketika menonton sebuah tayangan televisi, namun pada kenyatannya banyak halyang sedang berlangsung dalam pikiran mereka (Burton, 2008: 222). Selain itukhalayak menginterpretasikan teks media dengan cara mereka sendiri dandihubungkan dengan keadaan sosial dan budaya mereka serta pengalaman pribadimereka (Ang dalam Downing, Mohammadi, dan Sreberny-Mohammadi [eds],1990: 160).Khalayak yang menjadi informan dalam penelitian ini merupakankhalayak yang masih aktif menonton tayangan Mata Lelaki, dan pernah aktifmenonton tayangan tersebut. Keempat informan memiliki tingkat pendidikan danlingkungan sosial yang berbeda. Dalam wawancara informan menyampaikaninterpretasi mereka masing-masing terkait dengan tayangan Mata Lelaki.Khalayak yang dalam hal ini merupakan penghasil makna, memaknai tayanganMata Lelaki secara beragam, karena teks yang berbeda dapat menghasilkanpemaknaan yang beragam.Berdasarkan hasil penelitian dan wawancara dapat disimpulkan sebagaiberikut:1. Khalayak menganggap bahwa tayangan Mata Lelaki merupakan sebuahtayangan yang menghibur, yang berorientasi pada seksualitas. Meskipundemikian, ada pula anggapan bahwa perempuan yang tampil sensual danterbuka dalam media merupakan hal yang tidak wajar. Adapun yangmengatakan hal tersebut sebagai suatu kewajaran, yakni karena melihatdari pers yang ada di Indonesia. Bahwa pers di Indonesia sudah terbukadan bebas, sehingga hal tersebut merupakan konsekuensi yang harusditerima oleh kita sendiri dari kebebasan pers yang kita anut.2. Penelitian ini menunjukkan adanya keberagaman pendapat mengenaiekploitasi sensualitas dan tubuh perempuan yang digunakan dalamtayangan Mata Lelaki. Ada pendapat tidak setuju, dengan alasan haltersebut sama saja merendahkan derajat kaum perempuan. Namun adapula pendapat yang setuju mengenai hal tersebut, dikarenakan apa yangditampilkan dalam tayangan Mata Lelaki tidak sekadar seksualitas saja.Tetapi juga ada informasi baru yang diberikan kepada penonton. Meskipundemikian, secara keseluruhan khalayak setuju bahwa apa yang disajikandalam tayangan Mata Lelaki sudah sesuai dengan Pedoman PerilakuPenyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) yang ditetapkan olehKomisi Penyiaran Indonesia (KPI).3. Dalam hal ini tayangan Mata Lelaki dianggap materi yang ringan,sehingga bisa dijadikan pembicaraan dalam konteks bercanda atauselingan ketika waktu sela di tengah-tengah kesibukan bekerja. TayanganMata Lelaki digunakan sebagai rujukan pembicaraan dalam kehidupansehari-hari, meskipun hal tersebut tidak dilakukan oleh semua khalayak.4. Penelitian ini menunjukkan bahwa khalayak mengetahui adanya istilahkhusus yang digunakan dalam tayangan Mata Lelaki. Namun, meskipunhampir semua informan menggunakan tayangan Mata Lelaki sebagaibahan pembicaraan sehari-harinya, mereka tidak serta merta menggunakanistilah yang ada dalam tayangan tersebut ke dalam pembicaraan sehariharinya.PENUTUPMedia televisi melalui tayangan Mata Lelaki yang disajikan memangbertujuan untuk mengarahkan khalayak ke arah pembacaan yang diinginkan.Makna dominan (preferred reading) dalam sebuah tayangan selalu tersirat denganjelas, dalam hal ini bagaimana produser ingin menuntun khalayak kepadapemaknaan yang sesuai dengan kode-kode dominan tersebut. Dalam hal ini MataLelaki sebagai tayangan malam mempertontonkan kesensualan perempuan,dengan menggunakan busana yang sangat minim dan terlihat pada bagian dadanyadiharapkan dapat menjadi sebuah hiburan bagi khalayak yang menonton. Selainitu, tayangan ini juga menekankan pada sisi informatif untuk memberikanpengetahuan baru bagi khalayaknya seputar dunia malam dan seksualitas.Sosok perempuan dalam media hingga saat ini masih sering digambarkansebagai penarik perhatian. Tayangan televisi sebagai salah satu industri budayaseringkali menggunakan tubuh perempuan lengkap dengan segala“keperempuanannya” sebagai daya tarik yang paling utama. Tubuh perempuandieksploitasi dengan penonjolan pada bagian-bagian tubuhnya yang mampumenimbulkan kesan sensual seperti paha, payudara, rambut yang tergerai, bibir,atau tubuh yang sensusal secara utuh. Hal tersebut masih saja selalu terjadi karenadianggap mampu menaikkan rating program televisi mereka yakni sebagaipekerja media. Meskipun sering mendapat teguran keras dari KPI karenamenyajikan bagian-bagian intim tubuh perempuan seperti belahan dada dan paha.Para pekerja media hanya memikirkan keuntungan untuk mereka sendiri dan tidakpeduli apakah hal tersebut melanggar P3SPS yang sudah ditetapkan KPI. Itulahmengapa tayangan hiburan malam yang berorientasi pada seksualitas masih sajadiproduksi.Peran dari Pedoman Perilaku Penyiaran (P3SPS) terlihat masih sangatlemah. Hal tersebut dapat dilihat dari interpretasi informan yang secarakeseluruhan dari mereka mengatakan tayangan Mata Lelaki sudah sesuai denganP3SPS, karena sudah dilakukan sensor di dalamnya. Padahal jika kita lebihcermat, dalam tayangan tersebut dilakukan sensor hanya untuk melindungiidentitas narasumber yang dirahasiakan. Sedangkan untuk adegan yangmemperlihatkan bagian intim tubuh perempuan, seperti paha, belahan dada, danperut justru sama sekali tidak tersentuh sensor. Dari sini dapat dilihat bahwa perandari P3SPS masih sangat lemah. Selain itu, media seakan-akan masih bebasmelakukan apa pun demi mendapatkan keuntungan. Media sangat cerdas dalammemainkan perannya dan bersembunyi di balik kata sensor yang sudah merekalakukan, meskipun sensor tersebut tidak tepat dalam penggunaannya.Khalayak diharapkan lebih cermat mengkritisi tayangan malam yangdisuguhkan oleh pekerja media yang banyak mengeksploitasi tubuh perempuandan lebih mampu berperan sebagai khalayak aktif dalam menerima pesan yangdisampaikan oleh media.Penelitian terhadap tayangan Mata Lelaki yang mengeksploitasi tubuhperempuan yang menggunakan analisis resepsi, ini diharapkan dapat menjadireferensi untuk penelitian selanjutnya. Dengan menggunakan berbagai teori danpendekatan lainnya yang sesuai, untuk mengkritisi tayangan-tayangan televisiyang ada di Indonesia sesuai perkembangannya.DAFTAR PUSTAKABurton, Graeme. 2000. Membincangkan Televisi: Sebuah Pengantar KepadaStudi Televisi. (Terj.) Bandung: JalasutraDowning, John, Ali Mohammadi, Annabelle Sreberny-Mohammadi. 1990.Questioning The Media a Critical Introduction. USA: Sage PublicationRayner, Philip, Peter Wall dan Stephen Kruger. 2004. Media Studies: TheEssentian Resource. London: Routledge
KECEMASAN KOMUNIKASI (COMMUNICATION APPREHENSION) FANS DALAM INTERAKSI LANGSUNG DENGAN IDOLA Kurniawati, Rika; Santosa, Hedi Pudjo; Lukmantoro, Triono
Interaksi Online Vol 1, No 3 (2013): Wisuda Agustus
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.482 KB)

Abstract

KECEMASAN KOMUNIKASI (COMMUNICATION APPREHENSION)FANS DALAM INTERAKSI LANGSUNG DENGAN IDOLA(Studi Terhadap Fans Korean Pop di Indonesia)Rika Kurniawati1Abstrak:Kpop berasal dari musik pop Korea yang telah dimodernisasi dengan sedikit gaya Western sepertihiphop atau rock. Permasalahan yang ingin diselidiki dalam penelitian ini adalah mengapa kecemasankomunikasi muncul di dalam interaksi fans dengan idolanya, faktor-faktor apa yang mempengaruhidan tipe-tipe kecemasan yang terjadi sehubungan dengan perubahan media interaksi yangdilakukan.Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah menjelaskan mengenai kecemasankomuniaksi yang terjadi, faktor-faktor yang berpengaruh di dalamnya serta tipe-tipe kecemasankomunikasi yang terjadi sehubungan dengan adanya perubahan media interaksi. Denganmenggunakan metoda fenomenologi, penulis berusaha menjawab permasalahan tersebut denganmenggunakan teori kecemasan komunikasi sebagai salah satu penghambat dalam prosesberkomunikasi dan kajian fans dan fandom. Sementara obyek penelitian adalah lima orang fans yangbersedia menjadi informan dengan latar belakang pendidikan yang berbeda. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa kecemasan yang terjadi sangat bervariasi pada semua informan. Kecemasankomunikasi yang terjadi dalam interaksi fans cenderung disebabkan oleh adanya ketidakpastian yangterjadi terkait dengan komunikasi yang sedang berlangsung atau yang sedang diantisipasi. Perbedaanmedia interaksi yang digunakan, dari computer mediated communication menjadi interaksi langsungtatap muka, bisa memicu timbulnya kecemasan namun tidak berpengaruh terhadap tipe-tipekecemasan komunikasi yang terjadi.Key Words: Kecemasan Komunikasi; fans, fandom, dan kajian fans; pengurangan ketidakpastianAbstract:Kpop is the Korean pop music which has been modernized with a Western style such as hip-hop orrock.. The problems investigated in this study is why communication anxiety appears in theinteraction with the fans of his idol, the factors that affect and the types of anxiety that occurs inconnection with the changes made of media interaction.The objectives of this research is to explainthe communication anxiety happens, the factors that influence in it as well as the types ofcommunication anxiety that occurs in connection with a change of media interaction.By using aphenomenological method, the authors sought to answer these problems by using the theory ofcommunication anxiety as one of the obstacles in the process of communicating and study fans andfandom. While the object of the study is five fans who are willing to become informants with differenteducational backgrounds.The results showed that the anxiety occurs with varies greatly in allinformants. Communication anxiety that occurs in the interaction of fans likely to be caused by theuncertainties that occur related to the ongoing communications or are anticipated. Differences in theinteraction of media used, from computer mediated communication to face-to-face direct interaction,can lead to anxiety, but had no effect on the types of communication that occur anxiety.Key words: Communications apprehension; anxiety; fans, fandom and fans studies; uncertainty.1 Mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro angkatan tahun 2008 PendahuluanCommunication Apprehension sendiri seringkali diartikan sebagai perasaan takut,gugup dan cemas ketika hendak berkomunikasi dan atau berinteraksi dengan orang lain.Selama ini fans Kpop yang ada di Indonesia hanya berinteraksi dengan idola mereka melaluimedia online/SNS (social networking system) seperti Twitter, Cyworld, Me2day, Weibo dll.Kesempatan untuk bertemu langsung dengan idola tentu saja tidak sebanyak fans lain yangada di Korea secara langsung.Permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut,mengapa CA terjadi dan muncul pada fans Kpop dengan idolanya dalam interaksikomunikasi mereka? Kemudian faktor apa saja yang menyebabkan seorang fans mengalamikecemasan berkomunikasi? Lalu dengan adanya perubahan media interaksi dan pola interaksiyang dilakukan, pengaruh apa yang muncul di dalam tipe kecemasan berkomunikasi yangdialami oleh individu?Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan fenomena kecemasan komunikasi antarafans terhadap idolanya, mendeskripsikan penyebab munculnya kecemasan berkomunikasiseorang fans serta mendeskripsikan mengenai perbedaan media interaksi yang digunakansebelumnya dan pola interaksi langsung yang terjadi dengan tipe-tipe kecemasanberkomunikasi yang dialami.Dalam berkomunikasi tatap muka, seringkali ditemui adanya kecemasan komunikasiseorang individu terhadap individu lainnya.Ada 4 (empat) jenis kecemasan komunikasi yang dapat diidentifikasi, yaitu:1. Traitlike CA, merupakan kecenderungan kecemasan komunikasi yang relatifstabil dan panjang waktunya ketika seseorang dihadapkan pada berbagai kontekskomunikasi.2. Context-based CA, yaitu kecemasan komunikasi yang muncul ketika individuindividuharus berbicara di depan umum (public speaking), tetapi dia tidakmengalami kecemasan pada tipe-tipe komunikasi yang lain. Atau dalam istilahlain, kecemasan komunikasi yang dialami oleh tipe ini akan berubah konteksnya.3. Audience-based CA, merupakan kecemasan komunikasi yang dialami olehseseorang ketika ia berkomunikasi dengan tipe-tipe orang tertentu tanpamemandang waktu atau konteks.4. Situational CA, merupakan kecemasan komunikasi yang berhubungan dengansituasi ketika seseorang mendapatkan perhatian yang tidak biasa (unusual) dariorang lain.Fans adalah seseorang yang memiliki ketertarikan yang loyal pada suatu hal(Jenkins, 2002). Mat Hills (Fans Cultures, 2002) mendefinisikan fans sebagai seseorang yangterobsesi dengan bintang, selebriti, film, acara TV atau band; seseorang yang bisamenghasilkan penyebaran informasi di dalam fandom mereka, dan mampu menyitir kalimatatau lirik, bab dan sajak favorit. MetodaTipe penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif yang bertujuan untukmenjelaskan fenomena melalui pengumpulan data sedalam-dalamnya. Metode yangdigunakan dalam penelitian ini adalah fenomenologi. Subjek penelitian adalah para fansKpop di Indonesia tanpa terkait batasan tempat. Pemilihan informan akan dilakukan denganmemperhatikan kualifikasi bahwa calon informan tersebut sudah menjadi fans Kpop minimalselama satu tahun dan sudah pernah bertemu dengan idolanya secara langsung baik melaluikonser maupun acara-acara lainnya.Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara secara mendalam (indepth interview) dengan informan. Sementara proses analisis dan interpretasi datamenggunakan metode yang dikemukakan oleh Von Eckartsberg (1986)(dalam Moustakas,1994) yang melibatkan tahapan sebagai berikut:1. Permasalahan dan Perumusan Pertanyaan Penelitian (The Problem and QuestioningFormulation: The Phenomenon).2. Data yang menghasilkan situasi: Teks Pengalaman Kehidupan (The data generatingSituation:The Protocol Life Text).3. Analisis data: Eksplikasi dan Interpretasi (The Data Analysis: Explication andInterpretating) Hasil PenelitianPemilihan informan berdasarkan 5 orang informan dengan pembagian 2 informanmelalui wawancara langsung sementara 3 informan lainnya dengan wawancara melaluichatting.Informan I dan IV menempatkan idola sebagai sosok teman dan atau saudara yangharus didukung dan sesekali dikritik dengan candaan, namun Informan III dan V masihmenempatkan sosok idola sebagai orang asing yang memiliki jarak dengan mereka meskipunsebagai fans. Informan II mengaku malah kadang dirinya menganggap jika sosok-sosok yangdia lihat di layar kaca atau laptop itu hanyalah tokoh rekaan atau khayalan yang tak mungkinbisa dia temui secara nyata di hidupnya.Bentuk outcomes dari CA yang dialami oleh informan adalah communicativedisruption yang berupa terbata-bata atau stuttering, stuck for words atau hanya bengong danmembeku di tempat sementara fans-fans lain di sekitarnya berusaha menarik perhatian idola,serta talking too much atau bisa dikategorikan dalam kata histeris.Informan I, II, IV dan V mengalami CA berdasarkan pada trait-trait situationalkarena mereka mengantisipasi interaksi dengan orang lain sementara Informan III mengalamiCA berdasarkan trait personal yaitu anxiety muncul dari adanya strong negative expectationterhadap idola yang nantinya hendak berinteraksi langsung dengan dirinya.Informan I dan IV seolah membentuk sebuat self protector dengan mengungkapkanjika mereka tidak berharap muluk-muluk akan idola yang mengenal mereka secara personaldan bahkan menjadi pasangan mereka. Informan II masih merasakan jarak antara dirinya danidola sehingga saat dirinya memiliki kesempatan untuk bertemu dengan idola dirinya justrumembeku dan cenderung menghindari kontak atau interaksi yang mungkin timbul. InformanIII merasakan hal yang sama dengan Informan II, namun dirinya mampu mengatasi perasaantersebut pada saat Informan III berada di depan idolanya tepat dan melakukan interaksi yanglebih intens seperti percakapan singkat, kontak mata dan high-five serta jabatan tangan.Informan V mengaku dirinya sudah merasa biasa saat menghadiri konser karenasudah terhitung berkali-kali dia mengikuti konser idola Kpop kesukaannya. Informan Vmengatakan jika dirinya merasa deg-degan dan makin histeris justru ketika teriakannyaditanggapi oleh idolanya dan mereka melihat ke arah posisi Informan V dalam arena konsertersebut. PembahasanBerdasarkan temuan hasil penelitian, kecemasan komunikasi terjadi dalam faseperubahan interaksi antara fans terhadap idola yang berawal dari interaksi tak langsung danlangsung melalui media online ke interaksi langsung yang berupa komunikasi tatap mukadengan berbagai variasi.Informan I dan Informan IV menyaring segala informasi dan pengetahuan tentangidola yang diterimanya setiap hari dengan cara yang berbeda. Informan I menempatkanstandar humanis bagi idolanya, dalam artian dia menganggap idolanya sebagai seorangsaudara dan sahabat, bahwa seorang idola juga membutuhkan sosok pendamping hidupnantinya, dan bahwa dia hanya sebagai fans dan bukan kekasih mereka. Dengan pikiranpikirantersebut Informan I berusaha melindungi dirinya sendiri dari rasa kecewa dan jugamenunjukkan batas penerimaan penuh atas idolanya sebagai seorang manusia, bukan hanyaperformer di atas panggung. Leon Festinger (dalam West & Turner, 2009) menamakanperasaan yang tidak seimbang ini sebagai disonansi kognitif atau cognitive dissonance. Halini merupakan perasaan yang dimiliki oleh orang ketika mereka ‘menemukan diri merekasendiri melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang mereka ketahui, ataumempunyai pendapat yang tidak sesuai dengan pendapat lain yang mereka pegang’.Kecemasan komunikasi terjadi dalam interaksi Informan I terhadap idola dengan parameteryang dialami bahwa secara physiological aspect dirinya mengalami perasaan deg-degan,keringat dingin serta tiba-tiba menangis karena luapan emosi, sementara untuk behavioralmanifestation dan cognitive dimension tidak ditemukan. Informan I juga mengalamicommunicative disruption yang berupa stuttering atau berbicara dengan intonasi tidak jelas.Informan IV mengaku dirinya mengalami kecemasan komunikasi pada awalpertemuan pertama dengan idola. Communicative disruption berupa stuck for words sertatiba-tiba menangis dan mengulang kalimat yang sama ‘apakah ini mimpi?’ saat pertemuanpertama. Beberapa parameter kecemasan komunikasi yang mampu ditemukan dalampengalamannya adalah secara physiological aspect dirinya merasa deg-degan, dan histeris,tidak ditemukan adanya cognitive dimension namun dalam behavioral manifestation dirinyamembentuk sebuah self protector yang mendoktrin bahwa dia hanya akan menerima segalainformasi dan pengetahuan yang menurut dia baik dan menolak menerima pengetahuan yangmengancam dan membuatnya merasa tidak nyaman serta kecewa. Hal ini juga sesuai denganteori cognitive dissonance yang terdapat dalam diri Informan I, namun bedanya Informan IVmenggunakan cognitive dissonance justru sebagai penangkal kecemasan komunikasi. Denganadanya self protector Informan IV mengaku dirinya merasa lebih nyaman dalam beraktivitassebagai fans karena dia tahu semua idola itu memiliki sisi baik dan sisi buruk, sehingga yangdia butuhkan hanya menerima sisi baik dan membiarkan sisi buruk mereka tanpa merasatakut akan kecewa.Informan III juga mengalami kecemasan komunikasi dalam interaksi langsungnyadengan idola. Berdasarkan trait personal dari informan, anxiety muncul dari adanya strongnegative expectation yaitu pada saat fanmeet berlangsung dia histeris dan deg-degan karenaakan berhadapan langsung dengan idola dan sentuhan tangan, tapi saat berhadapan langsungjustru deg-degan hilang dan terasa biasa seperti menghadapi teman lama. Informan III tidakmengalami outcomes berupa communicative disruption yang jelas namun dia mengalamibeberapa parameter dari CA seperti physiological aspect berupa deg-degan, keringat dingin,panik dan cognitive dimension yang berupa merasa minder karena bentuk badannya yanglebih kecil dari fans lain, merasa idola tak akan memberi perhatian kepada dirinya. Sementarabehavioral manifestation tidak ada.Informan III merasa minder dengan fans lain yang memiliki penampilan lebih tinggidan dinilai lebih menarik dari dirinya, sehingga dia takut idolanya tidak akan menanggapiatau memberinya perhatian. Pertemuan pertama yang akan Informan III hadapi dengan idolajuga sarat dengan ketidakpastian, Informan III masih menduga-duga seperti apakahtanggapan dari idola yang akan dia terima nanti ketika sesi high-five dan jabat tanganberlangsung. Karena ketidakpastian tersebut kemudian timbul suatu kecemasan komunikasi,apakah nantinya idola yang dia hadapi ramah? Apakah dia bisa menerima perhatian dansegala perasaaan cintanya yang disampaikan melalui bingkisan serta ucapan dalam bahasainggris? Semua pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat Informan III gugup dan berkeringatdingin.Namun kecemasan komunikasi tersebut mampu diatasi seiring dengan hilangnyaketidakpastian yang ditakutkan. Tanggapan bagus yang Informan III terima saat berkontakmata membuatnya merasa sedikit tenang sehingga segala kegugupan dan perasaan kacauyang dia alami sesaat sebelum sesi high-five pun sirna.Bentuk outcomes dari CA yang Informan II alami adalah communicative disruptionyang berupa stuck for words atau hanya bengong dan membeku di tempat sementara fansfanslain di sekitarnya berusaha menarik perhatian idola. CA muncul pada Informan II ketikadia berhadapan dengan seseorang yang dia anggap lebih tinggi posisinya dari dirinya, dalamhal ini Informan II selalu berpikir jika idolanya tersebut seolah adalah tokoh dunia khayalanyang hidup di dunia yang berbeda dengan dunia tempat dia hidup. Beberapa parameter CAyang dialami bisa dilihat dari physiological aspect berupa perasaan deg-degan, badanmembeku serta terasa kaku, dan tangan gemetar. Sementara parameter lain yang berupabehavioral manifestation bisa dilihat dari caranya menghindari interaksi dengan idola dengantidak menarik perhatian si idola tersebut (avoiding communication) dan parameter cognitivedimension tidak ditemukan.Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, menurut McCroskey (1977b) (dalamHoneycutt, Choi dan DeBerry, 2009), kecemasan komunikasi dapat didefinisikan sebagaisebuah level ketakutan atau kecemasan individu dengan komunikasi, yang terjadi serta yangsedang diantisipasi, dengan orang lain atau orang banyak. Kunci penting dalam pernyatantersebut adalah ‘komunikasi yang diantisipasi’, sehingga bisa diambil kesimpulan bahwakecemasan yang disebabkan oleh komunikasi yang akan terjadi bisa sekuat interaksisebenarnya. Kalimat pengandaian, perasaan mengantisipasi, kesan pertama, merupakankualitas-kualitas dari Imagined interaction (IIs). Honeycutt (2003) mendefinisikan ImagineInteraction sebagai proses kognisi sosial di mana seseorang membayangkan dan oleh karenaitu secara tidak langsung telah memiliki pengalaman dalam mengantisipasi ataupun interaksikomunikasi dengan orang lain. Dalam definisi tersebut, dapat dilihat bahwa kecemasankomunikasi dapat memiliki hubungan dengan Imagined Interaction, karena seseorang mamputerpengaruh secara langsung oleh pengalamannya sendiri dalam mengantisipasi sebuahinteraksi melalui imajinasinya atau imajinasi orang lain. Jika Honeycutt mengungkapkanbahwa interaksi yang dibayangkan mampu mengurangi tingkat kecemasan yang terjadisehubungan dengan interaksi nyata yang akan terjadi, maka dalam pengalaman Informan IIsemua itu justru berbanding terbalik. Semua proses-proses Imagined Interactions yangInforman II alami tak mampu mengurangi kecemasannya ketika hendak bertemu denganidolanya. Nyatanya kecemasan komunikasi yang Informan II alami justru terlihat paling kuatsehingga dirinya hanya bisa membeku dan cenderung menghindari kontak mata atauperhatian si idola.Informan V telah berulang kali bertemu dengan idolanya dalam suatu konser.Bahakan Informan V juga mengikuti konser artis lain yang bukan idolanya karena ajakanteman atau promosi harga yang murah. Kecemasan komunikasi terjadi pada saat awalpertemuan pertama dengan parameter kecemasan komunikasi yang dialami Informan V untukphysiological aspect berupa histeris. Untuk behavioral manifestation dan cognitive dimensiontidak ditemukan. Communicative disruption terjadi saat teriakannya ditanggapi oleh idoladengan tatapan mata atau senyuman ke arahnya, biasanya berupa gagap dan menjadi semakinberteriak histeris. Informan V telah berkali-kali mengikuti konser sehingga perasaan degdegankarena cemas berganti dengan perasaan deg-degan karena antusias dan terbawakehebohan suasana konser. Dari sini dapat ditarik kesimpulan jika ternyata kecemasankomunikasi tidak hanya terjadi pada interaksi yang sedang terjadi atau yang diantisipasi,melainkan terjadi variasi kecemasan komunikasi dalam penerimaan feedback.Dari hasil penelitian ditemukan bahwa beberapa penyebab munculnya kecemasankomunikasi dalam interaksi langsung antara fans terhadap idola adalah sebagai berikut:a) Perubahan media interaksi yang dilakukan dari computer mediated communicationmenjadi interaksi tatap muka menyebabkan adanya perasaan yang awalnya dekatnamun tiba-tiba merasa seolah menjadi sosok anonim yang asing.b) Meskipun Honeycutt (2003) telah mengemukakan hasil riset bahwa imaginedinteraction mampu mengurangi adanya kecemasan komunikasi yang timbul, namunternyata justru imagined interaction yang berlebihan pun juga mampu menjadipenyebab seseorang mengalami kecemasan komunikasi.c) Adanya perasaan ketidakpastian yang timbul terhadap sosok idola yang akan ditemuiatau ketidakpastian akan komunikasi yang sedang diantisipasi oleh fans.d) Adanya kasus istimewa, bahwa sosok idola memberi feedback terhadap umpanumpanyang dilontarkan juga memicu adanya kecemasan komunikasi.Dari semua kecemasan komunikasi yang terjadi, dapat dikelompokkan menjadi duatipe kecemasan komunikasi. Informan I, II, III, dan IV mengalami kecemasan komunikasikarena siapa yang mereka hadapi sementara Informan V mengalami kecemasan komunikasikarena apa yang dia dapatkan dari idola, yaitu adanya perhatian yang tidak biasa dari oranglain. Jadi bisa dikatakan Informan I, II, III, dan IV mengalami audience-based CA, bahwakecemasan komunikasi yang dialami terjadi karena dia berkomunikasi dengan tipe-tipe orangtertentu (idola) tanpa memandang waktu atau konteks. Sementara Informan V mengalamisituational CA, karena kecemasan komunikasi yang dia alami berhubungan dengan situasiketika dirinya mendapatkan perhatian yang tidak biasa (unusual) dari orang lain (idola). Darisemua deskripsi tersebut, mampu dirangkum pernyataan jika ternyata tipe media interaksi danperbedaan pola interaksi langsung yang dilakukan tidak berpengaruh pada adanya tipe-tipekecemasan komunikasi yang terjadi.PenutupPembahasan tentang temuan studi ini menghasilkan beberapa hal yang dapatdisimpulkan, yaitu:1) Communication apprehension atau kecemasan komunikasi, yangdidefinisikan sebagai ketakutan atau kecemasan terkait dengan komunikasilangsung atau komunikasi yang akan dan sedang dilakukan dengan oranglain, pada kenyataannya dialami oleh siapa saja tak terkecuali oleh fans.Perubahan media interaksi yang dilakukan dari computer mediatedcommunication menjadi interaksi tatap muka menyebabkan adanya perasaanyang awalnya dekat namun tiba-tiba merasa seolah menjadi sosok anonimyang asing.2) Kecemasan komunikasi yang terjadi dalam interaksi fans cenderungdisebabkan oleh adanya ketidakpastian yang terjadi terkait dengankomunikasi yang sedang berlangsung atau yang sedang diantisipasi. Ketikaketidakpastian di antara fans dan idola tersebut mampu diatasi makakecemasan komunikasi yang dialami juga mampu teratasi dengan lancar.3) Beberapa poin khusus yang terjadi mampu menggeser titik penyebabkecemasan komunikasi tak lagi karena ketidakpastian, namun justru karenadisonansi kognitif dan imagine interaction yang mereka ciptakan dalambenak individu itu sendiri. Hal menarik lainnya adalah, dalam beberapapenelitian terdahulu, imagine interaction justru dimunculkan sebagai salahsatu cara untuk mengatasi kecemasan komunikasi yang terjadi sementaradalam studi ini ditemukan bahwa imagined interaction merupakan salah satupenyebab munculnya kecemasan yang terjadi. Dalam studi ini jugaditemukan jika disonansi kognitif, selain menjadi salah satu penyebab adanyakecemasan komuniaksi yang terjadi, juga mampu digunakan sebagai solusiuntuk mengurangi kecemasan yang dialami.4) Kecemasan komunikasi tak hanya terjadi pada komunikasi yang diantisipasiatau sedang berlangsung, namun juga pada saat timbul feedback dari umpanumpanyang diberikan oleh fans.5) Perbedaan media interaksi yang digunakan, dari computer mediatedcommunication menjadi interaksi langsung tatap muka, bisa memicutimbulnya kecemasan namun tidak berpengaruh terhadap tipe-tipekecemasan komunikasi yang terjadi.Daftar RujukanBuku dan E-BookGriffin, EM. (2012). A First Look at Communication Theory, Eighth Edition. New York: Mc GrawHill.Hills, Matt. (2002). Fan Cultures. New york: Routledge.Honeycutt, J. M. (2003). Imagined Interactions: Daydreaming About Communication. Cresskill, NewJersey: Hampton.Husserl, Edmund. (1970). Logical Investigations (J.N. Findlay. Trans.) (vol. 1). New York:Humanities press.Jenkins, Henry. (1992). Textual Poachers: Television Fans and Participatory Culture. New York:Routledge, Chapman and Hall.Lewis, Glen and Christina Slade. (1994). Critical Communication. Australia: Prentice Hall Australia.Littlejohn, Stephen W and Karen A. Foss. (2008). Theories of Human Communication: InternationalStudent Edition. USA: Thomson Wadsworth.Moleong, Lexy J. (2005). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Morreale, Sherwyn P. Brian H. Spitzberg, J. Kevin Barge. Julia T. Wood, Sarah J. Tracy. (2004).Introduction to Human Communication: the Hugh Down School of Human Communication. Arizona,USA: Wadsworth Group.Moustakas, Clark. (1994). Phenomenological Research Method. Beverly Hills, CA: SAGEPublications.Artikel atau Bab dalam BukuHoneycutt, James M, Charles W. Choi, and John R. DeBerry (2009). Communication Apprehensionand Imagined Interactions. Dalam Communication Research Reports vol.26, No. 3 (228-236). NewYork: Routledge.McCroskey, J.C. (1982a). Oral Communication Apprehension: A Reconceptualization. Dalam M.Burgoon (Ed.), Communication Yearbook 6 (136-170). Beverly Hills, CA: Sage Publishers.McCroskey, James C. (1984). The communication apprehension perspective. dalam J. A. Daly, andJ. C. McCroskey (Eds.), Avoiding communication: Shyness, reticence, and communication, (pp. 13-38). Beverly Hills, CA: SAGE Publications.McCroskey, J. C. And Beatty, M. J. (1986). Oral Communication Apprehension. Dalam W. H. Jones,J. M. Cheek, & S. R. Briggs (Eds.), Shyness: Perspectives on Research and Treatment (279-293).New York : Plenum Press.Jurnal dan Artikel Media MassaMcCroskey,J.C. (1977). Oral Communication Apprehension: A summary of Recent Theory andResearch. Human Communication Research, 4,(78-96).McCroskey J.C. (2009). Communication Apprehension: What We Have Learned in the Last FourDecades. Human Communication Research 12(2), (179-187).
Interpretasi Khalayak Pria terhadap Sosok Perempuan dalam Tayangan Mata Lelaki Sari, Rindhianti Novita; Suprihatini, Taufik; Lukmantoro, Triono
Interaksi Online Vol 1, No 3 (2013): Wisuda Agustus
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.606 KB)

Abstract

Nama : Rindhianti Novita SariNIM : D2C009009Judul : Interpretasi Khalayak Pria terhadap Sosok Perempuandalam Tayangan Mata LelakiABSTRAKProgram acara televisi yang menonjolkan kesensualan perempuan sebagai dayatarik utamanya, menjadi ajang bisnis bagi pekerja media untuk meraup untungsebesar-besarnya. Kata “pengetahuan” dan “hiburan” dijadikan alasan dalampenyajian tayangan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuibagaimana interpretasi khalayak pria terhadap sosok perempuan dalam tayanganMata Lelaki. Selain itu juga untuk mengetahui bagaimana para penonton programacara Mata Lelaki menggunakan materi acara tersebut sebagai rujukanpembicaraan dalam kehidupan sehari-hari. Teori yang digunakan yaitu encodingdecoding(Stuart Hall, 1980), everyday life (David Chaney, 2002), dan teorinormatif (McQuail,1987). Tipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif denganpendekatan resepsi dan dikaitkan dengan analisis ekonomi politik media. Teknikpengumpulan data dilakukan dengan menggunakan indepth interview kepadaempat informan yang telah dipilih oleh peneliti, yakni khalayak pria yang aktifatau pernah aktif menonton tayangan Mata Lelaki.Hasil penelitian ini menunjukkan khalayak menganggap bahwa tayangan MataLelaki merupakan sebuah tayangan yang menghibur, yang berorientasi padaseksualitas. Selain itu, ada pula keberagaman pendapat mengenai eksploitasisensualitas dan tubuh perempuan yang digunakan dalam tayangan Mata Lelaki.Secara keseluruhan khalayak setuju bahwa apa yang disajikan dalam tayanganMata Lelaki sudah sesuai dengan Pedoman Perilaku Penyiaran dan StandarProgram Siaran (P3SPS) yang ditetapkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).Dalam hal ini tayangan Mata Lelaki dianggap materi yang ringan, sehingga bisadijadikan pembicaraan dalam konteks bercanda atau selingan ketika waktu sela ditengah-tengah kesibukan bekerja. Tayangan Mata Lelaki digunakan sebagairujukan pembicaraan dalam kehidupan sehari-hari, meskipun hal tersebut tidakdilakukan oleh semua khalayak. Penelitian ini menunjukkan bahwa khalayakmengetahui adanya istilah khusus yang digunakan dalam tayangan Mata Lelaki.Namun, meskipun hampir semua informan menggunakan tayangan Mata Lelakisebagai bahan pembicaraan sehari-harinya, mereka tidak serta mertamenggunakan istilah yang ada dalam tayangan tersebut ke dalam pembicaraansehari-harinya.Kata kunci: Sensualitas perempuan, everyday life, tayangan malam Indonesia.ABSTRACTTelevision programs that highlight the sensuality of women as the main attraction,also become a business event for media workers to reap maximum profit. Theword "knowledge" and "entertainment" as a reason in the presentation of theshow. The purpose of this study was to determine how the public interpretation ofthe figure of a man in a womens show Mata Lelaki. In addition, to know how toprogram the audience the show Mata Lelaki using the event as a referencematerial talks in everyday life. The theory used is encoding-decoding (Stuart Hall,1980), everyday life (David Chaney, 2002), and normative theory (McQuail,1987). This type of research is a qualitative descriptive approach was associatedwith the reception and analysis of the political economy of media. Data wascollected using in-depth interviews to four informants who had been chosen bythe researchers.The results showed that the audience assumes impressions Mata Lelaki is anentertaining show, which is oriented towards sexuality. In addition, there is also adiversity of opinion regarding the exploitation of sensuality and womens bodiesare used in the show Mata Lelaki. Overall the audience agreed that what ispresented in the Mata Lelaki impressions are in accordance with the BroadcastingCode of Conduct and Broadcasting Program Standards (P3SPS) established by theIndonesian Broadcasting Commission (KPI). In this sense impressions MataLelaki is considered as a lightweight material, so that it can be used in the contextof the conversation everyday or distraction joking in the spare time in the middleof busy work. Impressions Mata Lelaki is used as a reference in the conversationof everyday life, even if it is not done by all audiences.This study shows that theaudience aware of any specific terms used in the show Mata Lelaki. However,although almost all informants using impressions Mata Lelaki as a day-to-dayconversation, they do not necessarily use the term contained in these show intoeveryday conversation.Keywords: Sensuality women, everyday life, evening shows in Indonesia.Interpretasi Khalayak Pria terhadap Sosok Perempuan dalam TayanganMata LelakiPENDAHULUANMenayangkan materi bermuatan seksualitas di media massa, memangmemiliki tujuan yang jelas dan hampir selalu disadari oleh pengelola media, yaituuntuk menarik perhatian pembaca, pendengar, atau penonton untuk membaca,mendengar, dan menonton materi tersebut. Jika perhatian khalayak telah berhasildirebut, hal ini selanjutnya dapat dijual ke pengiklan, yang artinya membawakeuntungan ekonomis bagi organisasi media. Jadi, memang tidak dapat dipungkiribahwa seks dan semua bentuk serta penggambarannya (yang memiliki unsurkenikmatan) akan selalu membangkitkan rasa ingin tahu khalayak dan juga dapatmembangkitkan fantasi pada khalayak tertentu. Salah satu isu utama dalam studipenonton menyangkut hubungan antara produser, teks, dan penonton. Dalambanyak persamaan ini adalah tentang keseimbangan kekuatan yakni menilaisejauh mana khalayak dipengaruhi dan terpengaruh oleh teks media (Rayner,Wall, dan Kruger, 2004: 96).Program tayangan televisi Indonesia yang sengaja disajikan pada tengahmalam seringkali mengusung tema seksualitas. Perempuan yang ditampilkanselalu menggunakan busana mini yang ditujukan agar penonton yangmenyaksikan tayangan tersebut semakin terbelalak, terutama pada kaum lelaki.Hal ini tidak terlepas dari adanya komodifikasi dari pihak-pihak tertentu yangmemiliki kepentingan untuk memperoleh keuntungan secara materi. John Dovey(dalam Rayner, Wall, dan Kruger, 2004: 126) berpendapat bahwa kita hidupdalam masyarakat pengakuan dan menggambarkan fenomena genre baru televisisebagai media orang pertama di mana subjektivitas, personal, dan intim menjadiprioritas. Mata lelaki seringkali dibuat terbelalak manakala menyaksikan kamerayang menelusuri tubuh perempuan dari ujung kaki hingga ujung rambut, ditambahpula si perempuan yang dengan sengaja melekukkan tubuhnya agar terlihat lebihsensual dan menarik hasrat kaum lelaki.Perempuan yang kemudian dijadikan objek untuk dieksploitasi seakanakanpasif dan menerima saja atas perlakuan pihak-pihak yang berkepentingan.Dalam hal ini perlindungan hak-hak perempuan justru dikesampingkan danmengutamakan profit yang akan didapatkan pihak media. Perempuan dijadikankonsumsi khalayak dan dipandang sebagai makhluk yang lemah, sebagaikeindahan yang dinikmati oleh barbagai khalayak yang berbeda-beda, dan darilatar belakang yang berbeda pula.Dari uraian di atas, serta mengingat bahwa penelitian ini ingin mengupasruang pemaknaan, maka peneliti ingin melihat bagaimana pemaknaan khalayakterhadap sosok perempuan dalam tayangan Mata Lelaki berkaitan dengan gayahidup masyarakat di era modern saat ini. Selanjutnya masalah yang diteliti dalampenelitian ini dirumuskan ke dalam pertanyaan sebagai berikut:1. Bagaimana interpretasi lelaki terhadap sosok perempuan dalam tayanganMata Lelaki?2. Bagaimana para penonton program acara Mata Lelaki menggunakanmateri acara tersebut sebagai rujukan pembicaraan dalam kehidupansehari-hari?ISIPenelitian ini merupakan kajian interpretatif atas content media berupateks, yang merupakan kombinasi tanda-tanda yang berupa tanda visual dan audio,dengan analisis yang bersifat kualitatif. Penelitian kualitatif memerlukanketerlibatan yang lebih mendalam dengan penonton itu sendiri. Ini termasukteknik seperti wawancara dalam rangka untuk sampai pada kesimpulan tentangperilaku penonton dalam kaitannya dengan konsumsi media (Rayner, Wall danKruger, 2004: 96).Jika dikaitkan dengan tema tersebut, penelitian ini menggunakanparadigma interpretatif untuk melakukan interpretasi dan memahami alasan darisubyek penelitian terhadap tindakan sosial yang mereka lakukan, yaitu bagaimanamereka mengonstruksikan kehidupan yang ditampilkan dalam sebuah tayangantelevisi Mata Lelaki dan memberikan makna dari tayangan tersebut. Penelitian inimenggunakan analisis resepsi yang memiliki cara pandang khusus mengenaikhalayak. Dalam hal ini khalayak adalah sebagai penghasil makna, bukan hanyapengonsumsi media semata. Tujuan resepsi secara umum adalah untukmenemukan bagaimana khalayak dengan konteks sosial dan latar belakang yangberbeda membuat bermacam-macam pengertian mengenai teks media.Televisi merupakan salah satu bentuk komunikator massa, di mana dalamhal ini khalayak adalah sebagai komunikan. Proses komunikasi massa padahakekatnya merupakan proses pengoperan lambang-lambang yang berarti(mengandung arti atau makna) yang dilakukan melalui saluran-saluran (chanel),biasanya dikenal dengan media cetak, media auditif (radio), media visual (gambar,lukisan), atau media audio visual seperti televisi dan film.Dalam hal ini hubungan antara media dan khalayak dijelaskan Stuart Halldalam model encoding dan decoding. Encoding, yang merupakan domain dariproduser, dan decoding domain dari penonton. Proses mengkomunikasikan pesanmensyaratkan bahwa dikodekan sedemikian rupa sehingga penerima pesanmampu untuk memecahkan kode itu (Rayner, Wall, dan Kruger, 2004: 97).Misalnya, pesan televisual dikodekan melalui penggunaan teknologi kamera,ditransmisikan sebagai sinyal dan kemudian diterjemahkan dengan menggunakantelevisi, kemudian khalayak memberikan pemaknaan atas tanda-tanda dan pesanyang disampaikan oleh media. Dalam hal ini pesan yang disampaikan oleh mediakepada khalayak mengandung sebuah ideologi. Sebagai salah satu media massa,televisi membawa ideologi-ideologi tertentu yang berusaha ditanamkan kepadakhalayak melalui teks. Model encoding dan decoding yang diajukan oleh StuartHall dan David Morley berpusat pada gagasan bahwa penonton bervariasi dalamrespon mereka terhadap pesan media. Hal ini karena khalayak dipengaruhi olehposisi sosial mereka, jenis kelamin, usia, etnis, pekerjaan, pengalaman dankeyakinan serta di mana mereka berada dan apa yang mereka lakukan ketikamereka menerima pesan.Dalam perspektif active audience khalayak dipandang sebagai penciptamakna yang aktif. Khalayak Mata Lelaki adalah khalayak yang aktif. Merekatidak langsung secara mentah-mentah menerima apa yang mereka tonton dalamsebuah tayangan televisi. Khalayak merupakan penerima pesan dan pengolahinformasi. Ien Ang menyebutkan bahwa khalayak media bukanlah sebagai“masses” yaitu sekumpulan orang anonym dan pasif yang tidak beridentitas.Bukan pula sebagai “market” yang menjadi target industri media. Namunkhalayak media aktif dalam menggunakan, menginterpretasikan dan menikmatiproduk media. (Ang, dalam Downing, Mohammad, dan Sreberny Mohammad,1990 : 165). Dalam pelaksanaannya, mereka seakan terlihat pasif dan hanya diamketika menonton sebuah tayangan televisi, namun pada kenyatannya banyak halyang sedang berlangsung dalam pikiran mereka (Burton, 2008: 222). Selain itukhalayak menginterpretasikan teks media dengan cara mereka sendiri dandihubungkan dengan keadaan sosial dan budaya mereka serta pengalaman pribadimereka (Ang dalam Downing, Mohammadi, dan Sreberny-Mohammadi [eds],1990: 160).Khalayak yang menjadi informan dalam penelitian ini merupakankhalayak yang masih aktif menonton tayangan Mata Lelaki, dan pernah aktifmenonton tayangan tersebut. Keempat informan memiliki tingkat pendidikan danlingkungan sosial yang berbeda. Dalam wawancara informan menyampaikaninterpretasi mereka masing-masing terkait dengan tayangan Mata Lelaki.Khalayak yang dalam hal ini merupakan penghasil makna, memaknai tayanganMata Lelaki secara beragam, karena teks yang berbeda dapat menghasilkanpemaknaan yang beragam.Berdasarkan hasil penelitian dan wawancara dapat disimpulkan sebagaiberikut:1. Khalayak menganggap bahwa tayangan Mata Lelaki merupakan sebuahtayangan yang menghibur, yang berorientasi pada seksualitas. Meskipundemikian, ada pula anggapan bahwa perempuan yang tampil sensual danterbuka dalam media merupakan hal yang tidak wajar. Adapun yangmengatakan hal tersebut sebagai suatu kewajaran, yakni karena melihatdari pers yang ada di Indonesia. Bahwa pers di Indonesia sudah terbukadan bebas, sehingga hal tersebut merupakan konsekuensi yang harusditerima oleh kita sendiri dari kebebasan pers yang kita anut.2. Penelitian ini menunjukkan adanya keberagaman pendapat mengenaiekploitasi sensualitas dan tubuh perempuan yang digunakan dalamtayangan Mata Lelaki. Ada pendapat tidak setuju, dengan alasan haltersebut sama saja merendahkan derajat kaum perempuan. Namun adapula pendapat yang setuju mengenai hal tersebut, dikarenakan apa yangditampilkan dalam tayangan Mata Lelaki tidak sekadar seksualitas saja.Tetapi juga ada informasi baru yang diberikan kepada penonton. Meskipundemikian, secara keseluruhan khalayak setuju bahwa apa yang disajikandalam tayangan Mata Lelaki sudah sesuai dengan Pedoman PerilakuPenyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) yang ditetapkan olehKomisi Penyiaran Indonesia (KPI).3. Dalam hal ini tayangan Mata Lelaki dianggap materi yang ringan,sehingga bisa dijadikan pembicaraan dalam konteks bercanda atauselingan ketika waktu sela di tengah-tengah kesibukan bekerja. TayanganMata Lelaki digunakan sebagai rujukan pembicaraan dalam kehidupansehari-hari, meskipun hal tersebut tidak dilakukan oleh semua khalayak.4. Penelitian ini menunjukkan bahwa khalayak mengetahui adanya istilahkhusus yang digunakan dalam tayangan Mata Lelaki. Namun, meskipunhampir semua informan menggunakan tayangan Mata Lelaki sebagaibahan pembicaraan sehari-harinya, mereka tidak serta merta menggunakanistilah yang ada dalam tayangan tersebut ke dalam pembicaraan sehariharinya.PENUTUPMedia televisi melalui tayangan Mata Lelaki yang disajikan memangbertujuan untuk mengarahkan khalayak ke arah pembacaan yang diinginkan.Makna dominan (preferred reading) dalam sebuah tayangan selalu tersirat denganjelas, dalam hal ini bagaimana produser ingin menuntun khalayak kepadapemaknaan yang sesuai dengan kode-kode dominan tersebut. Dalam hal ini MataLelaki sebagai tayangan malam mempertontonkan kesensualan perempuan,dengan menggunakan busana yang sangat minim dan terlihat pada bagian dadanyadiharapkan dapat menjadi sebuah hiburan bagi khalayak yang menonton. Selainitu, tayangan ini juga menekankan pada sisi informatif untuk memberikanpengetahuan baru bagi khalayaknya seputar dunia malam dan seksualitas.Sosok perempuan dalam media hingga saat ini masih sering digambarkansebagai penarik perhatian. Tayangan televisi sebagai salah satu industri budayaseringkali menggunakan tubuh perempuan lengkap dengan segala“keperempuanannya” sebagai daya tarik yang paling utama. Tubuh perempuandieksploitasi dengan penonjolan pada bagian-bagian tubuhnya yang mampumenimbulkan kesan sensual seperti paha, payudara, rambut yang tergerai, bibir,atau tubuh yang sensusal secara utuh. Hal tersebut masih saja selalu terjadi karenadianggap mampu menaikkan rating program televisi mereka yakni sebagaipekerja media. Meskipun sering mendapat teguran keras dari KPI karenamenyajikan bagian-bagian intim tubuh perempuan seperti belahan dada dan paha.Para pekerja media hanya memikirkan keuntungan untuk mereka sendiri dan tidakpeduli apakah hal tersebut melanggar P3SPS yang sudah ditetapkan KPI. Itulahmengapa tayangan hiburan malam yang berorientasi pada seksualitas masih sajadiproduksi.Peran dari Pedoman Perilaku Penyiaran (P3SPS) terlihat masih sangatlemah. Hal tersebut dapat dilihat dari interpretasi informan yang secarakeseluruhan dari mereka mengatakan tayangan Mata Lelaki sudah sesuai denganP3SPS, karena sudah dilakukan sensor di dalamnya. Padahal jika kita lebihcermat, dalam tayangan tersebut dilakukan sensor hanya untuk melindungiidentitas narasumber yang dirahasiakan. Sedangkan untuk adegan yangmemperlihatkan bagian intim tubuh perempuan, seperti paha, belahan dada, danperut justru sama sekali tidak tersentuh sensor. Dari sini dapat dilihat bahwa perandari P3SPS masih sangat lemah. Selain itu, media seakan-akan masih bebasmelakukan apa pun demi mendapatkan keuntungan. Media sangat cerdas dalammemainkan perannya dan bersembunyi di balik kata sensor yang sudah merekalakukan, meskipun sensor tersebut tidak tepat dalam penggunaannya.Khalayak diharapkan lebih cermat mengkritisi tayangan malam yangdisuguhkan oleh pekerja media yang banyak mengeksploitasi tubuh perempuandan lebih mampu berperan sebagai khalayak aktif dalam menerima pesan yangdisampaikan oleh media.Penelitian terhadap tayangan Mata Lelaki yang mengeksploitasi tubuhperempuan yang menggunakan analisis resepsi, ini diharapkan dapat menjadireferensi untuk penelitian selanjutnya. Dengan menggunakan berbagai teori danpendekatan lainnya yang sesuai, untuk mengkritisi tayangan-tayangan televisiyang ada di Indonesia sesuai perkembangannya.DAFTAR PUSTAKABurton, Graeme. 2000. Membincangkan Televisi: Sebuah Pengantar KepadaStudi Televisi. (Terj.) Bandung: JalasutraDowning, John, Ali Mohammadi, Annabelle Sreberny-Mohammadi. 1990.Questioning The Media a Critical Introduction. USA: Sage PublicationRayner, Philip, Peter Wall dan Stephen Kruger. 2004. Media Studies: TheEssentian Resource. London: Routledge
Bintang Film Dewasa sebagai Komoditas dalam Film Horor Indonesia Windiasih, Wilis; Suprihatini, Taufik; Lukmantoro, Triono
Interaksi Online Vol 1, No 3 (2013): Wisuda Agustus
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.433 KB)

Abstract

Bintang Film Dewasa sebagai Komoditas dalam Film Horor IndonesiaWilis Windiasih (D2C009061)AbstrakMenonjolkan pornografi dan menggunakan bintang film dewasa, seperti Rin Sakuragi, Maria Ozawa, Sora Aoi, Tera Patrick, Sasha Grey, dan Vicky Vette, dalam film horor Indonesia menjadi ladang bisnis yang menjanjikan. Adanya seks dan bintang film dewasa mengubah film horor menjadi film yang penuh dengan adegan vulgar dan erotis. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui proses pembuatan film horor dan alasan utama yang mendasari industrialis perfilman memproduksi film horor berbau seks dengan melibatkan bintang film dewasa. Teori yang digunakan yaitu Culture Industry (Theodor W. Adorno, 1991) dan Star System (Paul McDonald, 2000). Tipe penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dan dikaji dengan analisis ekonomi politik media. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan indepth interview kepada producer, casting manager, script writer, dan general manager Maxima Pictures.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bintang film dewasa yang terlibat dalam pembuatan film horor Indonesia melaksanakan tugas-tugasnya sebagai tenaga kerja spesialis dalam sebuah industri. Oleh karena itu, keterlibatannya sangat berpengaruh pada pemasaran dan penjualan film baik pada saat preproduction, production, postproduction, distribution, dan exhibition. Karena sebagai tenaga kerja spesialis, bintang film dewasa diperlakukan istimewa dibandingkan tenaga kerja lainnya baik dari segi bayaran maupun fasilitas yang didapat. Seks dan bintang film dewasa dalam industri film horor menjadi bisnis yang mendatangkan keuntungan berlimpah. Seks muncul dalam film horor dikarenakan adanya pangsa pasar di mana masyarakat Indonesia suka dengan hal-hal yang berbau pornografi. Adanya keterlibatan bintang film dewasa dikarenakan pada waktu itu sedang digandrungi dan populer di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Hasil lainnya, yaitu industrialis perfilman tetap memperhatikan nilai, tema, dan pesan dalam memproduksi film horor berbau seks yang melibatkan bintang film dewasa. Namun, ketiga hal tersebut sangat kecil kemungkinannya tersampaikan kepada penonton karena film dibuat semata-mata untuk kepentingan komersil. Industrialis perfilman juga memperhatikan kode etik di mana dialog, adegan, dan penyampaiannya yang tidak mendetail saat menampilkan adegan seks dalam film horor.Kata kunci: ekonomi politik media, industri film horor, seks, bintang film dewasaPorn Star as a Commodity in Indonesian Horror MoviesWilis Windiasih (D2C009061)AbstractHighlight the use of pornography and porn stars, like Rin Sakuragi, Maria Ozawa, Sora Aoi, Tera Patrick, Sasha Grey, and Vicky Vette, in Indonesian horror movies become promising business field. The existence of sex and porn stars alter horror movies into a film filled with vulgar and erotic scenes. The purpose of this study are to determine the process of making horror movies and the main reason underlying the film industrialist producing sexist horror movies involving porn stars. The theory used the Culture Industry (Theodor W. Adorno, 1991) and the Star System (Paul McDonald, 2000). This type of research is a qualitative descriptive phenomenological approach and studied by analysis of the political economy of media. Data is collected by in-depth interview to producer, casting manager, script writer, and general manager of Maxima Pictures.These results indicate that porn stars are involved in the manufacture of Indonesian horror movies to perform his duties as a labor specialist in an industry. Therefore, their involvement are very influential in the marketing and sales of both films during preproduction, production, postproduction, distribution, and exhibition. Because as a labor specialist, porn stars are treated more special than other workers in terms of pay and facilities acquired. Sex and porn stars in the horror movie industry become a profitable business abound. Sex appeared in horror movies because of where the market share of Indonesian society with things like that pornography. The involvement of porn stars because at the time they are loved and popular among the people of Indonesia. Other results, the movie industralist still consider the values, themes, and messages in producing sexist horror movies involving porn stars. However, three things are much less likely conveyed to the audience because the films are made solely for commercial purposes. The movie industrialist also pay attention to the code of ethics in which dialogue, scenes, and delivery time are not detailed while displaying sex scenes in horror movies.Keywords: political economy of media, horror movie industry, sex, porn starBintang Film Dewasa sebagai Komoditas dalam Film Horor IndonesiaWilis Windiasih, Dra. Taufik Suprihatini, M. Si (dosen pembimbing I), Triyono Lukmantoro, S.Sos, M.Si (dosen pembimbing II)PENDAHULUAN: Salah satu fungsi film (film horor) adalah sebagai media hiburan. Film horor merupakan salah satu genre film yang digemari oleh masyarakat Indonesia. Melihat peluang tersebut, para industrialis perfilman berlomba-lomba memproduksi film horor dengan kemasan semenarik mungkin. Karena begitu digemari oleh masayarakat luas, maka perkembangannya pun begitu pesat. Hingga akhirnya film horor mengalami masa keemasan, yaitu di era 80-an dan 2000-an. Masa keemasan di sini tidak hanya ditandai oleh banyaknya penonton yang antusias terhadap film di era tersebut, tetapi juga kualitas dari film itu sendiri. Di era 80-an, film horor Indonesia lebih banyak dibintangi oleh Suzanna Martha Frederika van Osch, seperti film Sundel Bolong (1981), Nyi Blorong (1982), Telaga Angker (1984), dan Malam Jumat Kliwon (1985). Tahun 2000-an ditandai dengan munculnya film Jelangkung (2001) yang mencapai penonton hingga 5,7 juta dan Kuntilanak (2006) dengan 2,4 juta penonton (Cheng dan Barker, 2011: 200). Karena begitu ketatnya persaingan dalam industri film horor, maka sang produser mencari inovasi dan gebrakan baru terhadap film horor, sehingga filmnya berbeda dengan lainnya. Muncullah bintang film dewasa dari Jepang, seperti Rin Sakuragi, Maria Ozawa, dan Sora Aio yang digunakan oleh rumah produksi Maxima Pictures dengan Produsernya Ody Mulya Hidayat, serta bintang film dewasa dari Amerika, seperti Tera Patrick, Sasha Grey, dan Vicky Vette yang dikontrak oleh rumah produksi K2K Production dengan produsernya yaitu KK Dheeraj.Adanya bintang film dewasa yang terlibat dalam film horor Indonesia, maka perannya pun sangat dekat dengan hal-hal yang berbau pornografi. Jadi, film horor tersebut menonjolkan seks di dalamnya. Menurut Karl Heider seks merupakan salah satu dari tiga formula ampuh yang digunakan dalam film horor Indonesia, yaitu seks, komedi, dan religi (Rusdiarti, 2009: 11). Adanya perpaduan seks dan bintang film dewasa, ternyata menarik perhatian banyak penonton. Akhirnya, industrialis dapat menikmati keuntungan yang mereka peroleh dari penjualan filmnya. dapt dikatakan bahwa film merupakan menjadi salah satu produk dari industri budaya (culture industry). Dalam memasarkan produknya, industri budaya menggunakan strategi penggunaan seorang bintang (star system). Kemudian bintang tersebut mengalami komodifikasi tenaga kerja. Melihat fenomena tersebut, penelitian ini bertujuan ingin mengetahui bagaimana proses pembuatan film yang melibatkan bintang film dewasa dalam film horor Indonesia dan ingin mengetahui alasan utama yang mendasari industrialis perfilman memproduksi film horor berbau seks dengan melibatkn bintang film dewasa.PEMBAHASAN: Menurut Carrol horor dapat diartikan sebagai sesuatu yang berusaha untuk membangkitkan ketakutan dan hal yang menjijikkan yang ditujukan langsungkepada sebuah monster yaitu makhluk yang dianggap mengancam. Definisi monster yang dimaksud oleh Carroll adalah makhluk-makhluk yang mengerikan. Sedangkan menurut Freeland, horor diartikan sebagai sesuatu yang berusaha untuk mengeksplorasi segala bentuk kejahatan (Livingston dan Plantinga, 2009: 46). Jadi film horor, menurut Vincent Pinell, diartikan sebagai film yang penuh dengan ekspoitasi unsur-unsur horor yang bertujuan untuk membangkitkan ketegangan penonton (Rusdiarti, 2009: 2). Menurut Charles Derry, film horor dibagi menjadi tiga subgenre, yaitu horror of personality (horor psikologis), horrof of armageddon (horor bencana), dan horror of demonic (horor hantu) (Rusdiarti, 2009: 2-3). Horor of personality dihadapkan pada tokoh-tokoh manusia biasa yang tampak normal, tetapi di akhir film mereka memperlihatkan sisi “iblis” atau “monster” mereka. Biasanya mereka adalah individu-individu yang “sakit jiwa” atau terasing secara sosial. Horror of armageddon adalah jenis film horor yang mengangkat ketakutan laten manusia pada hari akhir dunia atau hari kiamat. Manusia percaya bahwa suatu hari dunia akan hancur dan umat manusia akan binasa. Horror of demonic merupakan film yang paling dikenal dalam dunia perfilman horor. Menurut Derry, film jenis ini menawarkan tema tentang dunia (manusia) yang menderita ketakutan karena kekuatan setan menguasai dunia dan mengancam kehidupan umat manusia. Subgenre horor hantu inilah yang sering digunakan dalam film horor Indonesia. Hantu yang sering digunkanan adalah jenis hantu kuntilanak dan pocong.Dalam perkembangannya, film horor mengalami modifikasi dan muncullah konsep sex-horror-comedy. Film horor Indonesia antara tahun 2009 hingga 2011 lebih banyak didominasi film-film yang menonjolkan pornografi di dalamnya, seperti Suster Keramas yang dimainkan oleh Rin Sakuragi, Hantu Tanah Kusir oleh Maria Ozawa, dan Suster Keramas 2 oleh Sora Aoi. Ketiga film tersebut merupakan produksi Maxima Pictures. Adanya seks dalam film horor mereka karena masyarakat Indonesia suka dengan hal-hal berbau pornografi. Adanya keterlibatan bintang film dewasa dari Jepang karena memang ketiga bintang tersebut sedang digandrungi oleh masayarakat Indonesia. Fenomena semacam ini disebut sebagai culture industry. Film horor kini menjadi salah satu produk industri budaya. Artinya, film horor merupakan sebuah fenomena yang diangkat dari budaya yang ada di masyarakat Indonesia. Kemudian, film horor tersebut dijadikan sebuah konsumsi massa. Jadi, produk industri budaya tidak ada dengan sendiri, melainkan telah melalui proses perencanaan yang dibuat oleh para industrialis yaitu produser. Dapat dikatakan bahwa industri budaya (culture industry) merupakan sebuah komodifikasi dan industrialisasi budaya, dikelola dari atas dan diproduksi untuk mendatangkan keuntungan (Schement, 2002: 209). Dalam memasarkan produknya, industri budaya menggunakan salah satu strategi yaitu penggunaan seorang bintang. Jadi, Maxima Pictures untuk memasarkan filmnya menggunakan star system dalam produksinya. Dalam rangkaian pertukaran komersial, bintang menjadi bentuk modal yang merupakan aset untuk membuat dan mendapatkan keuntungan dalam pasar hiburan. Bintang film dewasa yang berasal dari Jepang menjadi aset yang berharga karena dengan nama besarnya dan ketenarannya di dunia pornografi, industri film akan meraup keuntungan yang berlimpah. Dapat dikatakan bahwa bintang film dewasa dianggap sebagai sebuah citra, sebagai modal, dan sebagai tenaga kerja dalam indsutri film horor Indonesia.Bintang sebagai citra dibangun dalam berbagai kategori teks, yang tidak hanya penampilan bintang film, tetapi juga bentuk-bentuk publisitas dan promosi (McDonald, 2000: 7). Faktor-faktor lain yang berkontribusi terhadap citra bintang adalah karakter yang mereka mainkan dan gaya kinerja mereka gunakan untuk menggambarkan peran itu. Citra Rin Sakuragi, Maria Ozawa, dan Sora Aoi terbentuk dari dunia pornografi. Peran dan kinerjanya dalam memainkan adegan-adegan seks dalam blue film membawa namanya hingga ke kancah internasional. Melihat peluang tersebut, Maxima Pictures memanfaatkan ketiga bintang film tersebut karena mereka merupakan ikon dalam dunia pornografi. Dengan demikian, Maxima Pictures tidak bersusah payah untuk mendapatkan market filmnya karena dengan adanya bintang film dewasa secara otomatis akan menarik perhatian penonton.Bintang juga menjadi bentuk modal karena dalam komersial industri film, ia adalah aset berharga bagi sebuah perusahaan produksi. Bintang adalah bentuk investasi yang digunakan dalam produksi film sebagai penjaga terhadap kemungkinan kerugian. Upah bintang sebagian besar dari anggaran setiap film dan bintang juga merupakan alat pemasaran, yang citranya dipromosikan dengan maksud untuk mempengaruhi pasar hiburan. Cathy Klaprat melihat nilai dari bintang melalui prinsip-prinsip ekonomi produk diferensiasi dan inelastisitas permintaan (McDonald, 2000:11). Klaprat berpendapat bahwa diferensiasi bintang secara teoritis bisa menstabilkan permintaan, menciptakan konsistensi kinerja box office untuk sebuah bintang film, sehingga memungkinkan distributor untuk menaikkan harga produk mereka terhadap exhibitors. Diferensiasi bintang itu menjadi strategi yang berharga karena menawarkan cara untuk tidak hanya menstabilkan harga film tetapi juga meningkatkan harga terhadap produk tertentu. Bintang film dewasa yang ada dalam film horor Maxima Pictures memang menjadi aset yang berharga. Bintang film dewasa tersebut diharapkan akan membawa keuntungan bagi Maxima Pictures. Keuntungan di sini tentulah keuntungan materi yang akan diperoleh industri tersebut. Hal tersebut akan berdampak pada penjualan tiket di bisokop 21 di seluruh nusantara. Tingginya penjualan yang diperoleh film horor yang dibintangi oleh bintang film dewasa, maka film Maxima Pictures dapat bertahan satu setengah bulan untuk diputar di bioskop tersebut.Bintang adalah orang yang bekerja di dalam industri film dan dengan demikian mereka merupakan bagian dari tenaga kerja dari produksi film. Peran bintang dalam industri tersebut tidak hanya terbatas pada fungsi mereka dalam proses pembuatan film, tetapi juga pada proses distribusi dan pameran (McDonald, 2000: 5). Oleh karena itu, bintang film dewasa yang digunakan oleh Maxima Pictures sebagai alat promosi yang akan membantu pemasaran dan penjualannya baik saat preproduction, production, postproduction, distribution, dan exhibition. Karena sebagai tenaga kerja, seorang bintang mengalami sebuah komofidikasi tenaga kerja. Komodifikasi tenaga kerja direproduksi melalui proses eksploitasi absolut (memperpanjang hari kerja) dan eksploitasi relatif (intensifikasi proses kerja) yang memperdalam ekstraksi nilai lebih (Mosco, 2009: 131). Hal tersebut melibatkan perpanjangan hari kerja untuk upah yang sama dan untuk mengintensifkan proses tenaga kerja melalui kontrol yang lebih besar atas penggunaan waktu kerja, termasuk pengukuran dan sistem pemantauan untuk mendapatkan lebih banyak tenaga kerja keluar dari unit waktu kerja. Dengan kata lain, dalam komodifikasi tenaga kerja telah menciptakan nilai absolut dan relatif. Komodifikasi mengacu pada proses mengubah nilai guna menjadi nilai tukar, dariproduk transformasi yang nilainya ditentukan oleh kemampuan pemilik modal untuk memenuhi individu dan kebutuhan sosial ke dalam produk yang nilainya ditetapkan oleh harga pasar mereka (Mosco, 2009: 132).Dalam pembagian kerja, bintang dikategorikan sebagai spesialis kinerja di mana bintang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu (McDonald, 2000: 9). Apa yang dilakukan oleh bintang film dewassa merupakan tanggung jawab spesialis bintang dalam pembagian perburuhan. Bintang dapat dikategorikan sebagai spesialis kinerja, tetapi posisi mereka dalam industri juga ditandai dengan status hierarkis mereka. Dane Clark menjelaskan perbedaan antara bintang dan pemain biasa dalam hal kekuatan perbedaan kerja (McDonald, 2000: 10). Bagi Clark, setiap pemahaman tentang sistem bintang tidak bisa berkonsentrasi secara eksklusif pada pemain dengan status bintang, tetapi harus melihat bintang sebagai posisi relatif dalam kondisi tenaga kerja. Meskipun istilah star system mengacu pada hirarki kelembagaan yang dibentuk untuk mengatur dan mengontrol pekerjaan dan penggunaan semua aktor, bintang telah menjadi kelas istimewa dalam pembagian kerja. Melihat sistem bintang dengan cara ini menuntut pertimbangan daya yang melekat pada bintang dalam industri film. Bintang film dewasa yang turut main dalam film horor Maxima Pictures, posisinya lebih istimewa dibanding dengan pemain maupun tim lapangan lainnya. Hal tersebut terlihat pada bayaran yang diterima oleh bintang film dewasa mencapai 1,5 milyar rupiah dan fasilitas yang diperoleh, seperti penyambutan dengan polisi, hotel bintang lima, dan ke mana-mana dikawal oleh bodyguard. Keistimewaan tersebut dikarenakan bintang film dewasa mempunyai nama yang terkenal dan menjadi ikon, meski mereka menjadi ikon dalam blue film bukan dalam public film. Daya yang melekat pada ketiga bintang tersebut sebagai seorang bintang film dewasa, yaitu molek, seksi, menggoda, dan menggairahkan.Fenomena film horor sebagai sebuah industri budaya yaitu dengan menggabungkan unsur horor dan seks yang lebih dominan, menjadi bisnis yang menjanjikan bagi perusahaan Maxima Pictures. Untuk menarik perhatian penonton, mereka tidak tanggung-tanggung dalam memproduksi film horornya yaitu dengan melibatkan bintang film dewasa untuk memainkan adegan-adegan syur dan erotis. Dengan kata lain, Maxima Pictures menggunakan star system dalam film horor Suster Keramas, Hantu Tanah Kusir, dan Suster Keramas 2. Apa yang dilakukan oleh industri tersebut hanyalah memanfaatkan peluang yang ada dengan dasar melihat apa yang sedang tren pada waktu itu. Bintang film dewasa dari Jepang begitu populer pada saat itu. Secara cerdik Maxima Pictures langsung mengadakan kontrak kerjasama dengan manajemen bintang film dewasa tersebut. Tentulah masyarakat penasaran terhadap film horor tersebut karena ingin mengetahui seperti apa bintang film dewasa ketika main dalam film yang bersifat publik.Walau Maxima Pictures melihat berdasarkan tren yang sedang berkembang di tengah-tengah masyarakat, tetapi film horor yang disuguhkan tidak semata-mata untuk memenuhi keinginan khalayak. Tujuan utama Maxima Pictures adalah untuk kepentingan komersil dengan mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Film yang diproduksi lebih mengarah pada kemauan industri tersebut yaitu mencampurkan pornografi di dalamnya untuk diperankan oleh bintang film dewasa. Maxima Pictures yakin bahwa filmnya akan laku keras di pasaran. Alhasil, film horornya booming, sehingga menghasilkan pundi-pundi materi yang berlimpah. Hasil film horor tersebutmemang spektakuler, tetapi adegan seks di dalamnya terlalu berlebihan yaitu adanya adegan menanggalkan baju yang hampir terlihat telanjang bulat.Adegan seks dalam film Maxima Pictures telah melanggar Kode Etik Penyensoran Indonesia karena mengarah pada: (1) Adegan seorang pria atau wanita dalam keadaan atau mengesankan telanjang bulat, baik dilihat dari depan, samping, atau dari belakang. Bintang film dewasa beradegan yang mengesankan telanjang bulat terlihat pada Rin Sakuragi yang beradegan sedang mandi di air terjun dan mandi di kamar mandi. Maria Ozawa saat berganti pakaian di kamar tidurnya karena bajunya tersiram sayur dan di dalam rumah tua karena bajunya basah kuyup akibat hujan di mana ia akan menggantinya dengan kain sarung. Sora Aoi melepaskan pakaian di toilet atas anjuran lawan main pria untuk mengusir setan. (2) Close up alat vital, paha, buah dada, atau pantat, baik dengan penutup maupun tanpa penutup. Dalam film horor Maxima Pictures bagian dada dari ketiga bintang film dewasa sering di-close up hingga beberapa kali, sehingga memperlihatkan nafsu para pemain prianya. (3) Adegan, gerakan, atau suara persenggamaan, atau yang memberikan kesan persenggamaan, baik oleh manusia maupun oleh hewan, dalam sikap bagaimanapun, secara terang-terangan atau terselubung. Rin Sakuragi beradegan minum es lilin dan kemudian d jilat-jilat serta menjulurkan lidahnya secara terselubung memberikan kesan persenggamaan. Begitupun dengan Sora Aoi yang menunjukkan keinginannya untuk pergi ke tempat karaoke kepada pemain prianya. Sedangkan suara persenggamaan, seperti mendesah, dimainkan oleh Shinta Bachir.PENUTUP: Bintang film dewasa yang terlibat dalam pembuatan film horor Indonesia melaksanakan tugas-tugasnya sebagai tenaga kerja spesialis dalam sebuah industri. Oleh karena itu, keterlibatannya sangat berpengaruh pada pemasaran dan penjualan baik pada saat preproduction, production, postproduction, distribution, dan exhibition. Karena sebagai tenaga kerja spesialis, bintang film dewasa diperlakukan lebih istimewa dibandingkan tenaga kerja lainnya baik dari segi bayaran maupun fasilitas yang didapat. Seks dan bintang film dewasa dalam industri film horor menjadi bisnis yang menjanjikan. Seks muncul dalam film horor dikarenakan adanya pangsa pasar di mana masyarakat Indonesia suka dengan hal-hal yang berbau pornografi. Adanya keterlibatan bintang film dewasa dikarenakan pada waktu itu sedang digandrungi dan populer di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Perpaduan kedua hal tersebut membuat industri film meraup keuntungan yang berlimpah.DAFTAR PUSTAKA: Adorno, Theodor W. (1991). The Culture Industry: Selected Essays on Mass Culture. New York: Routledge.; Livingston, Paisley dan Carl Plantinga. (2009). The Routledge Companion to Philosophy and Film. New York: Routledge.; McDonald, Paul. (2000). The Star System: Hollywood’s Production of Popular Identities. London: Wallflower Publishing.; Mosco, Vincent. (2009). The Political Economy of Communication. 2nd Edition. London: Sage Publications.; Rusdiarti, Suma Riella. (2009). Film Horor Indonesia: Dinamika Genre. Universitas Indonesia.;Schement, Jorge Reina. 2002. Encyclopedia of Communication and Information. New York: Gale Group.