Articles

Found 36 Documents
Search

PEWARNAAN GRAF: POLINOMIAL KROMATIKDAN TEOREMA INVERSI MOBIUS MIFTAHUL JANNAH, NURUL; LUKITO, AGUNG
MATHunesa Vol 2, No 3 (2013): Volume 2 Nomor 3 Agustus 2013
Publisher : Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran pada hakikatnya dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Keempat istilah tersebut merupakan satu kesatuan dalam pembelajaran. Pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang akan dan/atau sedang digunakan dapat diketahui dari langkah-langkah pembelajaran yang telah tersusun dan/atau sedang terjadi. Pendekatan pembelajaran adalah cara umum dalam memandang pembelajaran. Sedangkan strategi pembelajaran adalah ilmu dan kiat di dalam memanfaatkan segala sumber belajar yang dimiliki dan/atau yang dapat dikerahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Metode mengajar adalah berbagai cara kerja yang bersifat relatif umum yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dan teknik pembelajaran adalah ragam khas penerapan suatu metode sesuai dengan latar penerapan tertentu. Teknik pembelajaran mengambarkan langkah-langkah penggunaan metode mengajar yang sifatnya lebih operasional. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penentuan teknik pembelajaran di antaranya adalah kemampuan dan kebiasaan guru, ketersedian sarana dan waktu, serta kesiapan siswa. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih strategi pembelajaran ialah tujuan pembelajaran, jenis dan tingkat kesulitan materi pelajaran, sarana, waktu yang tersedia, siswa, dan guru.
GRUP AUTOMORFISME GRAF KIPAS DAN GRAF KIPAS GANDA ROHMAWATI, SITI; Lukito, Agung
MATHunesa Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran pada hakikatnya dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Keempat istilah tersebut merupakan satu kesatuan dalam pembelajaran. Pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang akan dan/atau sedang digunakan dapat diketahui dari langkah-langkah pembelajaran yang telah tersusun dan/atau sedang terjadi. Pendekatan pembelajaran adalah cara umum dalam memandang pembelajaran. Sedangkan strategi pembelajaran adalah ilmu dan kiat di dalam memanfaatkan segala sumber belajar yang dimiliki dan/atau yang dapat dikerahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Metode mengajar adalah berbagai cara kerja yang bersifat relatif umum yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dan teknik pembelajaran adalah ragam khas penerapan suatu metode sesuai dengan latar penerapan tertentu. Teknik pembelajaran mengambarkan langkah-langkah penggunaan metode mengajar yang sifatnya lebih operasional. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penentuan teknik pembelajaran di antaranya adalah kemampuan dan kebiasaan guru, ketersedian sarana dan waktu, serta kesiapan siswa. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih strategi pembelajaran ialah tujuan pembelajaran, jenis dan tingkat kesulitan materi pelajaran, sarana, waktu yang tersedia, siswa, dan guru.
GRUP RSA MERUPAKAN GRUP PSEUDO-FREE DI BAWAH ASUMSI RSA KUAT ZAMLAHANI, KHUSSAL; LUKITO, AGUNG
MATHunesa Vol 2, No 2 (2013): Vol 2 Nomer 2 (2013)
Publisher : Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran pada hakikatnya dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Keempat istilah tersebut merupakan satu kesatuan dalam pembelajaran. Pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang akan dan/atau sedang digunakan dapat diketahui dari langkah-langkah pembelajaran yang telah tersusun dan/atau sedang terjadi. Pendekatan pembelajaran adalah cara umum dalam memandang pembelajaran. Sedangkan strategi pembelajaran adalah ilmu dan kiat di dalam memanfaatkan segala sumber belajar yang dimiliki dan/atau yang dapat dikerahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Metode mengajar adalah berbagai cara kerja yang bersifat relatif umum yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dan teknik pembelajaran adalah ragam khas penerapan suatu metode sesuai dengan latar penerapan tertentu. Teknik pembelajaran mengambarkan langkah-langkah penggunaan metode mengajar yang sifatnya lebih operasional. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penentuan teknik pembelajaran di antaranya adalah kemampuan dan kebiasaan guru, ketersedian sarana dan waktu, serta kesiapan siswa. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih strategi pembelajaran ialah tujuan pembelajaran, jenis dan tingkat kesulitan materi pelajaran, sarana, waktu yang tersedia, siswa, dan guru.
GRUP AUTOMORFISME GRAF HELM,GRAF HELM TERTUTUP, DAN GRAF BUKU NURHIDAYAT, ANTONI; LUKITO, AGUNG
MATHunesa Vol 2, No 3 (2013): Volume 2 Nomor 3 Agustus 2013
Publisher : Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran pada hakikatnya dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Keempat istilah tersebut merupakan satu kesatuan dalam pembelajaran. Pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang akan dan/atau sedang digunakan dapat diketahui dari langkah-langkah pembelajaran yang telah tersusun dan/atau sedang terjadi. Pendekatan pembelajaran adalah cara umum dalam memandang pembelajaran. Sedangkan strategi pembelajaran adalah ilmu dan kiat di dalam memanfaatkan segala sumber belajar yang dimiliki dan/atau yang dapat dikerahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Metode mengajar adalah berbagai cara kerja yang bersifat relatif umum yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dan teknik pembelajaran adalah ragam khas penerapan suatu metode sesuai dengan latar penerapan tertentu. Teknik pembelajaran mengambarkan langkah-langkah penggunaan metode mengajar yang sifatnya lebih operasional. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penentuan teknik pembelajaran di antaranya adalah kemampuan dan kebiasaan guru, ketersedian sarana dan waktu, serta kesiapan siswa. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih strategi pembelajaran ialah tujuan pembelajaran, jenis dan tingkat kesulitan materi pelajaran, sarana, waktu yang tersedia, siswa, dan guru.
PELATIHAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK (PMR) DENGAN MEDIA BERBAHAN BEKAS DI SEKOLAH DASAR Palupi, Evangelista Lus Windyana; Lukito, Agung; Khabibah, Siti; Amin, Siti Maghfirotun
Jurnal ABDI: Media Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/ja.v5n2.p97-105

Abstract

Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) merupakan salah satu alternatif pendekatan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar matematika secara bermakna dan realistik bagi siswa. Prinsip emergent modeling dalam PMR menuntut ketersediaan media pembelajaran agar siswa dapat membayangkan situasi masalah yang diberikan. Namun permasalahan yang muncul adalah keterbatasan media murah yang dapat digunakan guru dan keterbatasan pengetahuan guru dalam merancang pembelajaran matematika realistik berbantuan media. Di lain pihak, sejumlah besar barang bekas dibiarkan menumpuk, kurang dimanfaatkan. Padahal barang bekas dapat didaur ulang menjadi barang dengan nilai guna, salah satunya dengan memanfaatkannya untuk kepentingan belajar dan mengajar matematika. Pelatihan pembelajaran matematika realistik dengan bantuan media berbahan bekas di sekolah dasar dapat menjadi solusi praktis untuk membantu guru menyelenggarakan proses pembelajaran matematika yang bermakna, menarik, interaktif, mudah diikuti dan murah. Meskipun rancangan pembelajaran yang dihasilkan belum memenuhi prinsip dan karakteristik pembelajaran matematika realistik, kegiatan ini dinilai bermanfaat dan berhasil dalam membantu guru untuk memilih bahan bekas sebagai media dan merancang pembelajaran matematika dengan media tersebut. Dari kegiatan ini, dihasilkan 27 desain pembelajaran matematika dengan media berbahan bekas yang berbeda dari 36 desain yang dibuat. Rancangan pembelajaran yang dibuat meliputi beberapa topik matematika untuk kelas 3 dan 4 sekolah dasar.
Learning The Concept of Area and Perimeter by Exploring Their Relation Winarti, Destina Wahyu; Amin, Siti Maghfirotun; Lukito, Agung; Gallen, Frans Van
Journal on Mathematics Education Vol 3, No 1 (2012)
Publisher : Department of Doctoral Program on Mathematics Education, Sriwijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22342/jme.3.1.616.41 - 44

Abstract

Learning the concept of perimeter and area is not easy for students in grade 3 of primary school. A common mistake is that students think that if the area is the same, the perimeter also has to be the same. It is difficult for them to understand that for a  given area, there are many possibilities of perimeter and vice versa. When student are not aware of this relation they might confuse about the concept in their continuation of learning process. This research was conducted to study if it would support students’ understanding of the concept of perimeter and area if we let them explore the relation between perimeter and area in the very first phase of the learning process. Design research was chosen as the method to study this issue and the three basic principles in The Realistic Mathematics approach were applied in this study to support the learning process of perimeter and area. Real life context such as picture frames was choosen in developing a sequence of learning line to reach the learning goal of perimeter and area. The partipants of this research were students and mathematics teacher of grade 3 in one of the elementary school in Surabaya. Two classes were taken to involve in the first cycle and second cycle respectively.  The teaching experiment shows that the class activities such as making photo frame, measuring photo paper with sticky paper and arranging shapes with wooden matches are activities which can be used to reveal the relation of perimeter and area. From those activities students build their own understanding that in fact area and perimeter are not in one to one correspondence, they found that for the given area they might find different perimeter or vice versa. They also found the reason why they multiply length and width to count the area of rectangular or square shape from sticky paper activity. Somehow some students were found still struggle with their understanding of area and perimeter. They often simply count the area and perimeter but when it comes into comparing the area or perimeter  they still struggle to differentiate between area and perimeter. Keywords: Perimeter, Area, Relation between perimeter and area, Understanding DOI: http://dx.doi.org/10.22342/jme.3.1.616.41-54
Students Modelling in Learning The Concept of Speed Khikmiyah, Fatimatul; Lukito, Agung; Patahudin, Sitti Maesuri
Journal on Mathematics Education Vol 3, No 1 (2012)
Publisher : Department of Doctoral Program on Mathematics Education, Sriwijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22342/jme.3.1.618.87-98

Abstract

Previous researchs shows that speed is one of the most difficult in the upper grades of primary school. It is because students must take into consideration of two variables; distance and time. Nevertheless, Indonesian students usually learn this concept as a transmission subject and teacher more emphasizes on formal mathematics in which the concept of speed given as distance by time rigorously. A sequence of learning activities with toy cars context was designed based on students development and Realistic Mathematics Education (RME) principles which are guided reinvention, didactical phenomenology and emergent modelling. Using their own models, students are able to explain a proportion among distance and time in speed as well the relationship of it. Keywords: The concept of speed, design research, Toy cars, context, ratio tables model
Student's Understanding of Graph Based on Information-Processing Mampouw, Helti Lygia; Lukito, Agung; Suwarsono, St.
International Journal of Active Learning Vol 1, No 1 (2016): April 2016
Publisher : International Journal of Active Learning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijal.v1i1.7735

Abstract

This study is a preliminary research on how students understand patterns. Students' understanding of something is a cognitive phenomenon as, according to information processing perspective, an integral part of the stimulus, receiving, encoding, storing and retrieving information. This paper aims to describe the information processing by students when they interpret the graph as a task that was delivered using takjil context. There are 9 seven graders aged 11-12 years in various mathematics ability that three students in each its category high, mid and low. It was found that: (1) The graph given in the task attract students' attention with various reasons. (2) The level of abstraction and processing is in accordance with students' mathematical abilities. (3) The number of words related to the context activated at certain period was determined by reviews of their experiences with similar contexts. (4) Concepts of a new schemes were not solely determined by the students' mathematical abilities. Broadly, this study recommends students to have learning experiences through varying contexts and gain extensive experiences to develop appropriate and useful cognitive schemes for solving problems.How to CiteMampouw, H. L., Lukito, A., & Suwarsono, S. (2016). Student's Understanding of Graph Based on Information-Processing. International Journal of Active Learning, 1(1).
PROFIL PENALARAN SISWA DALAM PEMECAHAN MASALAH OPEN ENDED DITINJAU DARI KEMAMPUAN MATEMATIKA NASROTUL MUALIFAH, ASRI; LUKITO, AGUNG
MATHEdunesa Vol 3, No 3 (2014): Jurnal MathEdunesa Nomor 3 Volume 3 Tahun 2014
Publisher : Jurusan Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan penalaran siswa dalam pemecahan masalah open-ended ditinjau dari kemampuan matematika siswa. Subjek penelitian adalah tiga siswa kelas VII F SMP Negeri 26 Surabaya tahun ajaran 2013/2014, yaitu 1 siswa berkemampuan matematika tinggi, 1 siswa berkemampuan matematika sedang, dan 1 siswa berkemampuan matematika rendah. Instrumen pendukung dalam penelitian ini terdiri atas lembar tes kemampuan matematika, lembar tugas pemecahan masalah open-ended, dan pedoman wawancara. Indikator penalaran dalam penelitian ini yaitu, mengumpulkan fakta, menyusun dan menguji dugaan, memberikan argumen dan menarik simpulan. Data dianalisis berdasarkan aktivitas penalaran yang muncul pada setiap langkah pemecahan masalah Polya. Dalam memahami masalah, aktivitas penalaran yang bisa muncul yaitu mengumpulkan fakta dan menyusun dugaan. Dalam menyusun rencana, aktivitas penalaran yang bisa muncul yaitu mengumpulkan fakta, menyusun dugaan, dan memberikan argumen. Dalam melaksanakan rencana, aktivitas penalaran yang bisa muncul yaitu menguji dugaan. Dalam memeriksa kembali, aktivitas penalaran yang bisa muncul yaitu menguji dugaan, memberikan argumen, dan menarik simpulan. Berdasarkan analisis data pekerjaan tertulis dan hasil wawancara, diperoleh deskripsi penalaran siswa sebagai berikut: (1) Untuk siswa berkemampuan matematika tinggi, seluruh aktivitas penalaran muncul pada tahap memahami masalah, melaksanakan rencana, dan menarik simpulan. Sedangkan pada tahap menyusun rencana, aktivitas menyusun dugaan tidak muncul. (2) Untuk siswa berkemampuan matematika sedang, seluruh aktivitas penalaran muncul pada tahap memahami masalah dan melaksanakan rencana. Sedangkan pada tahap menyusun rencana, siswa tidak meyusun dugaan dan pada tahap memeriksa kembali siswa tidak menarik simpulan. (3) Untuk siswa berkemampuan matematika rendah, aktivitas penalaran muncul pada tahap melaksanakan rencana. Sedangkan pada tahap memahami masalah siswa tidak menyusun dugaan, pada tahap menyusun rencana siswa tidak mengumpulkan fakta dan tidak menyusun dugaan dan pada tahap memeriksa kembali siswa tidak menarik simpulan. Kata kunci: profil, penalaran, pemecahan masalah, masalah open-ended, kemampuan matematika
Profil Intuisi Siswa SMA dalam Memecahkan Masalah Turunan Ditinjau Dari Gaya Kognitif Field Dependent dan Field Independent ZUKHRUF FIRDA NURRAKHMI, RIZKY; LUKITO, AGUNG
MATHEdunesa Vol 3, No 3 (2014): Jurnal MathEdunesa Nomor 3 Volume 3 Tahun 2014
Publisher : Jurusan Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

  Salah satu aktivitas mental yang dibutuhkan pada proses pemecahan masalah adalah intuisi. Intuisi adalah aktivitas mental segera yang memenuhi karakteristik- karakteristik sebagai berikut: langsung (direct) dan terbukti dengan sendirinya (self-evident), intrinsic certainty, perseverance, coerciveness, extrapolativeness, theory status, globality dan implicitness. Intuisi yang digunakan seseorang saat memecahkan masalah tidak sama baik jenis maupun waktu penggunaannya. Intuisi seseorang dipengaruhi beberapa faktor, seperti gaya kognitif yakni cara seseorang untuk melakukan berbagai aktivitas mental menghadapi segala bentuk permasalahan, gaya kognitif. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan profil intuisi siswa SMA dalam memecahkan masalah turunan ditinjau dari gaya kognitif field dependent (FD) dan field independent (FI). Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah 2 orang siswa kelas XII IPA-6 di SMA Negeri 1 Krian, yakni 1 siswa dengan gaya kognitif FI dan 1 siswa dengan gaya kognitif FD dengan kemampuan matematika, kemampuan komunikasi yang relatif sama dan gender yang sama. Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah metode tes tertulis dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan pada umumnya profil intuisi siswa SMA dalam memecahkan masalah turunan adalah sebagai berikut: (1) Intuisi affirmatory subjek field dependent tidak digunakan dalam memahami masalah, intuisi anticipatory subjek digunakan dalam membuat dan melaksanakan rencana pemecahan masalah, intuisi tersebut muncul ketika subjek berusaha keras untuk memecahkan masalah, sedangkan intuisi conclusive subjek tidak digunakan dalam memeriksa kembali. (2) Intuisi affirmatory subjek field independent tidak digunakan dalam memahami masalah, intuisi anticipatory subjek juga tidak digunakan dalam membuat dan melaksanakan rencana pemecahan masalah, intuisi conclusive subjek juga tidak aktif ketika memeriksa kembali. Kata kunci: Intuisi, pemecahan masalah, gaya kognitif, gaya kognitif field dependent, gaya kognitif field independent