Gustina Lubis
Unknown Affiliation

Published : 17 Documents
Articles

Found 17 Documents
Search

The Effect of Pediococcus pentosaceus on Stool Frequency, TNF-α Level, Gut Microflora Balance in Diarrhea-induced Mice Yuliawati, Yuliawati; Jurnalis, Yusri Dianne; Purwati, Endang; Lubis, Gustina
The Indonesian Journal of Gastroenterology, Hepatology, and Digestive Endoscopy VOLUME 13, NUMBER 2, August 2012
Publisher : The Indonesian Journal of Gastroenterology, Hepatology, and Digestive Endoscopy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Enteropathogenic Escherichia coli (EPEC) are pathogenic microorganisms causing inflammation and imbalanced gut microflora that may result in diarrhea. Pediococcus pentosaceus (P. pentosaceus) isolated from “dadih” (milk curd) are used as probiotics containing lactic acid bacteria (LAB), which are useful to improve the balance of intestinal microflora and inhibit the growth of pathogenic microorganisms. This study was aimed to recognize the effect of P. pentosaceus supplementation on stool frequency, tumor necrosis factor-α (TNF-α) and gut microflora balance in experimental mice with EPEC-induced diarrhea. Method: The study was conducted in 60 white mice (Mus muscullus) at Biomedical Laboratory, Biotechnology/Production and Animal Husbandry Technology Institute, University of Andalas, Padang in April 2012. The frequency of stool, TNF-α level and microflora balance of the mice were measured before and after the EPEC-induced diarrhea and following the administration of antibiotics. Statistical analysis was performed using ANOVA and Duncan test. Results: The highest mean stool frequency was found in positive control group, i.e. 55 times, which was reduced significantly after 12-hour P. pentosaceus supplementation in a dose of 2 x 108 cfu/g into 18 times. The mean TNF-α level in positive control group was 128.17 pg/mL that lowered significantly to 48.0 pg/mL. The highest mean total number of LAB was 97.0 x 107 cfu/g, which was significantly different from positive control group of 7 x 107 cfu/g. Conclusion: P. pentosaceus supplementation in a dose of 2 x 108 cfu/g may reduce the stool frequency, lower TNF-α and improve the gut microflora balance following 12-hour supplementation in diarrhea-induced mice. Keywords: Pediococcus pentosaceus, TNF-α, diarrhea, EPEC, gut microflora
Perbedaan Kadar Lisozim dalam Air Susu Ibu (ASI) pada Bayi Sehat dan Bayi Sakit yang Mendapat ASI Eksklusif Irwandi, Irwandi; Lubis, Gustina; Lipoeto, Nur Indrawati
Sari Pediatri Vol 19, No 5 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Air susu ibu (ASI) sangat diperlukan selama masa pertumbuhan dan perkembangan bayi untuk meningkatkan daya tahan tubuh karena mengandung anti mikroba seperti lisozim. Air Susu Ibu mengandung 300 kali lebih banyak lisozim dibandingkan susu sapi. Lisozim berperan sebagai sistem imunitas alami yang dapat melindungi bayi dari berbagai macam infeksi.Tujuan. Mengetahui perbedaan kadar lisozim dalam ASI pada bayi sehat dan bayi sakit yang mendapat ASI eksklusif.Metode. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang komparatif, dilakukan pada September-November 2016 di beberapa Puskesmas di kota Padang dan RSUP Dr M Djamil Padang.Hasil. Lisozim lebih tinggi dalam ASI di kelompok bayi sakit dibandingkan ASI di kelompok bayi sehat, tetapi perbedaannya tidak bermakna (p 0,183). Lisozim lebih tinggi dalam ASI di kelompok bayi yang menderita infeksi saluran nafas dibandingkan dengan bayi yang menderita infeksi saluran cerna. Kesimpulan. Terdapat perbedaan kadar lisozim dalam ASI pada bayi sehat dan bayi sakit yang mendapat ASI eksklusif, tetapi secara statistik perbedaannya tidak bermakna.
Pengaruh Pemberian Amylase Resistant Starch Terhadap Durasi Diare dan Kadar Secretory Immunoglobulin A pada Anak dengan Diare Akut Yanti, Trisna Resti; Jurnalis, Yusri Dianne; Oenzil, Fadil; Lubis, Gustina
Sari Pediatri Vol 19, No 4 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Cairan rehidrasi oral (CRO) merupakan terapi utama dalam tata laksana diare. Berbagai upaya dilakukan untuk penyempurnaan CRO agar menjadi lebih efektif dengan penambahan probiotik, prebiotik, zink, dan protein polimer. Amylase resistant starch adalah polisakarida yang tidak dapat dihidrolisis oleh enzim α-amilase dan berperan sebagai prebiotik. Tujuan. Mengetahui pengaruh pemberian amylase resistant starch terhadap durasi diare dan kadar secretory immunoglobulin A (sIgA) pada anak dengan diare akut Metode. Studi eksperimental tidak tersamar pre and post-test group design dilakukan pada 24 anak diare akut dehidrasi sedang berumur 6 - 60 bulan yang dirawat di RSUP dr. M. Djamil dan RSUD Rasidin Padang pada bulan Maret 2016 - Juni 2017. Subjek dibagi dalam 2 kelompok, yaitu kelompok kontrol dan intervensi yang diberikan amylase resistant starch. Uji statistik digunakan t test dan Mann-Whitney test.Hasil. Kelompok intervensi memiliki durasi diare yang lebih pendek (72,67±19,04) jam dibandingkan dengan kontrol (85,08±11,05) jam. Perubahan kadar sIgA lebih tinggi pada kelompok intervensi (8,13 ng/ml) dibandingkan dengan kelompok kontrol (4,27 ng/ml).Kesimpulan. Pemberian amylase resistant starch pada anak dengan diare akut akan memperpendek durasi diare meningkatan kadar secretory immunoglobulin A. 
Pengaruh Pemberian Vitamin C terhadap Kadar Leukotrien Urin pada Pasien Asma Anak Alfalah, Cece; Lubis, Gustina; Yani, Finny F; Lipoeto, Nur I
Sari Pediatri Vol 16, No 6 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Pada asma anak terdapat peningkatan kadar leukotrien darah dengan hasil metabolit akhirberupa leukotrien E4(LTE4). Vitamin C dapat menghambat lipoksigenase sehingga menurunkan kadar LTE4urin sejalan dengan perbaikan klinis asma.Tujuan. Mengetahui pengaruh pemberian vitamin C terhadap perbaikan klinis asma anak, ditandai denganpenurunan kadar LTE4 urin dan peningkatan nilai C-ACT.Metode. Penelitian intervensi (pre and post group design) pemberian vitamin C 200 mg/hari setelah makanselama 6 minggu, dilakukan pada pasien asma anak dari bulan September sampai dengan Oktober 2013.Kadar LTE4 urin normal 10-60 pg/ml dan nilai C-ACT terkontrol ????20. Perbedaan dua data numerik tidakberdistribusi normal diuji dengan uji Wilcoxon-Rank (p<0,05). Korelasi antara dua data numerik tidakberdistribusi normal diuji dengan korelasi SpearmanHasil. Pemberian vitamin C tidak menurunkan kadar LTE4 urin (60,5%), tetapi terdapat kecenderunganpeningkatan nilai C-ACT (50%), p>0,05. Terdapat korelasi antara kadar LTE4 urin dan nilai C-ACT sebelumdan setelah pemberian vitamin C (r=-0,327 dan -0,359; p<0,05). Terdapat penurunan kejadian seranganasma setelah pemberian vitamin C, p<0,05.Kesimpulan. Pemberian vitamin C dapat memperbaiki klinis asma, meskipun kadar LTE4urin dan nilai C-ACTtidak mempunyai korelasi sebelum dan setelah pemberian vitamin C.
Hubungan Lingkar Pinggang dengan Faktor Risiko Penyakit Kardiovaskular pada Anak Obesitas Usia Sekolah Dasar Lubis, Gustina; Oyong, Nazardi
Sari Pediatri Vol 8, No 2 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Obesitas pada masa anak cenderung menetap sampai dewasa danmeningkatnya kemungkinan menderita penyakit kardiovaskuler (PKV) di kemudianhari. Oleh karena itu perlu parameter praktis untuk mendeteksi faktor risiko tersebutlebih dini. Lingkar pinggang (LP) merupakan prediktor yang lebih baik untukmendeteksi faktor risiko PKV pada dewasa; data epidemiologis hubungan ini padaanak masih sedikit.Tujuan penelitian. Untuk mencari apakah ada hubungan antara lingkar pinggangdengan faktor risiko penyakit kardiovaskuler pada anak obesitas usia Sekolah Dasar.Metoda. Penelitian dilakukan secara cross sectional analitik pada 100 anak obes usiaSD yang berasal dari empat SD favorit di Kota Padang bulan Desember 2003 sampaidengan Januari 2004. Subyek dipilih secara consecutif sampling. Subyek penelitian yaituanak obes terjaring ( Indeks massa tubuh > persentase 95, CDC 2000 ) yang telahmendapat persetujuan orangtuanya untuk mengikuti penelitian. Data dianalisis denganmencari korelasi bivariat koefisien Pearson, uji t, ANOVA dan X2 dengan á 0,05 danpower 80%.Hasil. Subyek terdiri dari 59 anak laki-laki dan 41 perempuan, usia 5-13 tahun, 58anak dengan LP > persentil 90 dan 42 anak dengan LP < persentil 90. Peningkatan LPdiikuti peningkatan GDP (r=0,24), ApoB (r=0,20), Kol/HDL (r=0,25) dan LDL/HDL(r=0,25). Tujuh puluh lima persen anak obes dengan LP > p90 sudah terdapat minimal1 faktor risiko dan 58% minimal 2 faktor risiko PKV. Anak obes dengan LP >p90kemungkinan menderita hipertensi sistolik adalah 1,8 kali (p= 0,000 ), hipertensi diastolik1,5 kali (p = 0,001).Kesimpulan. Terdapat hubungan LP dengan beberapa faktor risiko PKV pada anakobesitas usia sekolah dasar. Ukuran LP dapat dipakai sebagai parameter untuk mendeteksifaktor risiko PKV pada kelompok anak tersebut.
Hubungan Pemberian Enteral Makanan Dini dan Pertambahan Berat Badan pada Bayi Prematur Lubis, Gustina; Suciati, R. Trin
Sari Pediatri Vol 9, No 2 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Prematuritas berkaitan erat dengan mortalitas dan morbiditas pada masa neonatal.Pemberian enteral feeding dini merupakan salah satu upaya meningkatkan kemampuan adaptasi salurancerna sehingga bayi dapat bertahan hidup dan tumbuh dan kembang dengan baik.Tujuan Penelitian. Mengetahui hubungan pemberian enteral feeding dini dan pertambahan berat badanpada bayi prematur serta faktor yang mempengaruhinya.Metode. Penelitian prospektif observasional dilakukan terhadap bayi prematur yang dirawat di Sub BagianPerinatologi Bagian Anak RS Dr. M. Djamil Padang selama periode 1 April 2005 sampai dengan 31Maret 2006. Enteral feeding segera diberikan setelah bayi stabil. Data dianalisis dengan uji korelasi Pearsondan regresi linear dengan nilai bermakna p<0,05.Hasil. Subjek 75 bayi, rerata usia 17,23±13,88 jam. Rerata pertambahan berat badan adalah 7,82 ± 6,31gram/kgBB/hari. Didapatkan korelasi negatif antara enteral feeding dini dengan rerata pertambahan beratbadan (r=-0,387, p=0,001). Rerata pertambahan berat badan berkurang 0,176 kali setiap jam penundaanpemberian enteral feeding. Hubungan antara enteral feeding dini dengan rerata pertambahan berat badanlebih kuat pada pasien dengan usia gestasi dan berat badan lahir yang sama (r=-0,993 dan r=-0,4076,p=0,001). Hubungan tersebut berkurang pada pasien dengan tingkat pertumbuhan intra uterin yang sama(r=-0,3737, p=0,001) dan bayi yang menderita penyakit penyerta (r=-0,2918, p=0,011).Kesimpulan. Semakin dini enteral feeding diberikan maka pertambahan berat badan semakin besar.Hubungan enteral feeding dini dengan rerata pertambahan berat badan dipengaruhi oleh usia gestasi,berat badan lahir, tingkat pertumbuhan intra uterin serta adanya penyakit penyerta.
Hubungan antara Kadar Total Triptofan Plasma dan Indeks Massa Tubuh dengan Gejala Depresi dan Skor Children Depression Inventory pada Siswa SMP Moriska, Marlia; Lubis, Gustina; Herman, Rahmatina B
Sari Pediatri Vol 17, No 5 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Kejadian depresi pada anak dan remaja terus meningkat. Depresi merupakan kelainan multifaktor, salah satu penyebab adalah rendahnya asupan asam amino triptofan dalam makanan sehari-hari yang penting untuk sintesis serotonin pada regulasi emosi. Indeks massa tubuh (IMT) menggambarkan pola makan sehari-hari.Tujuan. Mengetahui hubungan antara kadar total plasma triptofan dan IMT dengan gejala depresi dan skor children depression inventory (CDI) pada siswa SMP.Metode. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional pada 27 anak gejala depresi dan 27 kontrol.Hasil. Kadar triptofan total plasma pada kelompok depresi (52,54±20,57)μmol/L ditemukan lebih rendah dibanding kontrol (88,47±20,27) μmol/L, p=0,001. Nilai IMT pada kelompok depresi (17,22±3,74) kg/m2 ditemukan lebih rendah dibanding kontrol (19,61±3,14) kg/m2, p=0,014. Terdapat faktor risiko IMT abnormal terhadap depresi OR 6,4; IK95%:1,8-22. Terdapat korelasi antara kadar triptofan total plasma dengan skor CDI (r=-0,442, p=0,021).Kesimpulan. Pada kelompok depresi ditemukan kadar total triptofan plasma dan IMT yang lebih rendah dibanding kontrol. Terdapat korelasi sedang antara kadar triptofan total plasma dengan skor CDI.
Hubungan Pemberian Makanan Pendamping Asi (MP-ASI) dengan Status Gizi Anak Usia 1-3 Tahun di Kota Padang Tahun 2012 Lestari, Mahaputri Ulva; Lubis, Gustina; Pertiwi, Dian
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakMakanan pendamping ASI (MP-ASI) adalah makanan padat yang mengandung nutrien lengkap yang diberikan kepada bayi mulai usia 6 bulan disamping ASI eksklusif untuk mencapai tumbuh kembang yang optimal. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara usia pemberian MP-ASI dan jenis MP-ASI dengan status gizi. Penelitian ini merupakan studi cross sectional yang dilaksanakan pada bulan Mei-November 2012 pada anak usia 1-3 tahun yang berdomisili di Kota Padang. Pengumpulan data karakteristik responden, usia pemberian MP-ASI, dan jenis MP-ASI dilakukan dengan wawancara terpimpin. Pengukuran status gizi dilakukan berdasarkan BB/TB Z-score. Analisis statistik yang digunakan adalah uji chi square. Hasil penelitian menunjukan dari 200 anak, 51% anak diberi diberi MP-ASI sesuai jadwal dengan jenis MP-ASI buatan pabrik. Status gizi kurang, lebih banyak didapatkan pada anak yang diberi MP-ASI dini (33%). Tidak ditemukan anak dengan status gizi buruk.Terdapat hubungan antara usia pemberian MP-ASI dengan status gizi p= 0,001 (P < 0,05) dan tidak ada hubungan antara jenis MP-ASI dengan status gizi p= 0,456 (p > 0,05).Kata kunci: MP-ASI, Status gizi, Anak usia 1-3 tahunAbstractComplementary feeding is a solid and nutrient dense foods that contain complete given to infants from 6 months of age are exclusively breastfed in addition to achieve optimal growth and development. The research objective was to determine the relationship between the age of complementary feeding and provision of complementary feeding types with nutritional status. This study is a cross-sectional study that was conducted in May-November 2012 on children aged 1-3 years who live in Padang. The characteristics of the respondents, aged giving complementary feeding, and the type of complementary feeding by the guided interview. Measurement of nutritional status is based on weight / height Z-score.The statistical analysis used was chi square test. The results showed that of 200 children, 51% children were given complementary feeding schedule. The type was given is complementary feeding of factory. Nutritional status is much less than was found in children who were given complementary feeding early (33%). There are no children with poor nutritional status. There is a significant association between age of Complementary feeding with nutritional status p = 0.001 (P < 0.05) and there was no significant association between the type of Complementary feeding with nutritional status p = 0.456 (p >0.05).Keywords:Complementary feeding, nutritional status, children aged 1-3 years
Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan Angka Kejadian Diare Akut pada Bayi Usia 0-1 Tahun di Puskesmas Kuranji Kota Padang Rahmadhani, Eka Putri; Lubis, Gustina; Edison, Edison
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPemberian ASI eksklusif merupakan salah satu upaya untuk mencapai tumbuh kembang optimal dan terlindungi dari penyakit seperti diare. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pemberian ASI eksklusif dengan angka kejadian diare akut pada bayi usia 0-1 tahun di Puskesmas Kuranji Kota Padang. Penelitian ini dilaksanakan secara observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini adalah bayi usia 0-1 tahun yang berkunjung ke posyandu di wilayah kerja Puskesmas Kuranji Kota Padang dengan menggunakan simple random sampling. Jumlah bayi dengan kelompok usia 0-5 bulan 29 hari sebanyak 69 orang (51,1%) dan usia 6-12 bulan sebanyak 66 orang (48,9%). Dari hasil penelitian didapatkan bayi usia 0-5 bulan 29 hari yang masih mendapat ASI saja sebanyak 41 bayi (30,4%) dan yang sudah mendapat campuran lain selain ASI sebanyak 28 bayi (20,7%). Jumlah bayi usia 6-12 bulan dengan ASI eksklusif sebanyak 34 bayi (25,2%) dan 32 bayi lainnya (23,7%) non ASI eksklusif. Sebanyak 57 bayi (42,2%) pernah diare dan 78 bayi lainnya (57,8%) tidak pernah. Analisis chi square mendapatkan p=0,001 dan hasil ini signifikan (p<0,5). Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan harus ditingkatkan karena mempunyai hubungan dengan angka kejadian diare akut.Kata kunci: Bayi, ASI Exclusif, diareAbstractExclusive breastfeeding is an effort to achieve optimal growth and development and can be protected from diarrhea. The purpose of this study was to determine the relationship of exclusive breastfeeding with the incidence of acute diarrhea in infants aged 0-1 years in the Kuranji Public Health Center Padang. This study conducted a cross sectional observational study. The sample was a baby aged 0-1 years who visited posyandu in the Kuranji Public Health Center working area using simple random sampling. The result showed 41 infants (30.4%) aged 0-5 months 29 days which is still breastfed only and other than breast milk were 28 infants (20.7%). Number of 6-12 months infants are exclusively breastfed as many as 34 babies (25.2%) while the other 32 babies (23.7%) were not exclusively breastfed. A total of 57 infants (42.2%) had suffered from diarrhea and the other 78 infants (57.8%) had never. Chi square analysis got p = 0.001 and the results are significant (p <0.5). Exclusive breastfeeding for 6 months should be improved because it has relation with diarrhea.Keywords:Baby, Exclusive breastfeeding, diarrhea
Hubungan Asupan Nutrisi dengan Kadar Vitamin D pada Tuberkulosis Anak Erisma, Roza; Lubis, Gustina; Yani, Finny Fitry
Sari Pediatri Vol 18, No 1 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Vitamin D dapat meningkatkan aktivitas antimikrobial makrofag terhadap Mycobacterium tuberculosis. Defisiensi vitamin D diindikasikan sebagai salah satu faktor risiko penyakit tuberkulosis (TB). Kekurangan asupan nutrisi yang mengandung vitamin D dapat memengaruhi kadar vitamin D dalam darah sehingga akan memengaruhi imunitas terhadap infeksi TB. Tujuan. Mengetahui hubungan asupan nutrisi yang mengandung vitamin D dengan kadar vitamin D darah pada anak yang terinfeksi TB. Metode. Penelitian cross sectional pada bulan Oktober 2014 sampai Maret 2015 di Poliklinik Anak RS Dr M Djamil dan Puskesmas kota Padang. Subyek penelitian anak usia 1-14 tahun yang kontak serumah dengan TB dewasa BTA positif, dengan hasil tuberculin skin test positif. Asupan vitamin D diperoleh melalui food recall 2x24 jam dengan standar normal > 600 International Unit menurut Recommended Dietary Allowance (RDA) dan diolah menggunakan program Nutri-Survey Indonesia. Kadar vitamin D darah berupa 25(OH)D diukur dengan metode Cheluminescent Immunoassay, kategori nilai normal >30-50 ng/mL, insufisiensi >10-30 ng/mL, dan defisiensi <10 ng/mL. Hasil. Total subjek penelitian 57 anak. Asupan vitamin D di bawah RDA 54 (94,7%), 45 (83,3%) di antaranya mengalami insufisiensi vitamin D dan 9 (16,7%) memiliki kadar vitamin D cukup. Anak dengan asupan vitamin D sesuai RDA 3 (5,3%), tetapi hanya 1 (33,3%) di antaranya memiliki kadar vitamin D darah normal (p=0,446). Kesimpulan. Sebagian besar anak yang terinfeksi TB mengalami insufisiensi vitamin D meskipun secara statistik tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan asupan nutrisi.