Yunita Lisnawati
Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan, Jl. Gunung Batu No. 5, Bogor 16610

Published : 8 Documents
Articles

Found 8 Documents
Search

MANAJEMEN ADAPTASI DALAM PERUBAHAN IKLIM Tambunan, Parlindungan; Suhendi, Hendi; Siswanto, Bambang Edy; Lisnawati, Yunita
ISSN 0216-0897
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.273 KB)

Abstract

Perubahan-perubahan iklim bumi yang sekarang telah merubah sistem ekologi di sekitar bumi. Rata-rata global temperatur permukaan bertambah sekitar 0,7°C. Pertambahan-pertambahan temperatur mempengaruhi semua proses kimia dan biologi kehidupan di alam yang mengubah secara dramatis dan kompleks ekosistem permukaan bumi. Perubahan-perubahan ekosistem merupakan tantangan terbesar bagi para manajer sumber daya alam dan perencana-perencana konservasi. Oleh sebab itu, pendekatanpendekatan baru dibutuhkan untuk pengelolaan sumber daya alam dan ekosistem di dalam perubahan iklim. Salah satu pendekatan baru adalah menggunakan manajemen adaptasi. Manajemen adaptasi tidak hanya sebagai sebuah alat, tetapi juga mempunyai daya tarik perhatian pada pengalaman manajemen sebagai suatu sumber pembelajaran. Dengan pembelajaran, ide bersinar untuk menciptakan situasi yang lebih baik atau pembaharuan, karena proses perubahan ingatan dan tingkah laku terjadi dalam diri sendiri dan organsasi. Dengan demikian, implementasi manajemen adaptasi untuk mencapai solusi semua masalah adalah dengan komunikasi atau dialog antara para manajer atau pemimpin, para ahli, dan warga institusi, di samping pengetahuan sistem ekologi dan masalah lingkungan dan juga memiliki daya cipta.
KONTROL PEMBANGUNAN DAN KONSERVASI UNTUK MENYELAMATKAN BUMI Tambunan, Parlindungan; Wibowo, Ari; Lisnawati, Yunita
ISSN 0216-0897
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.034 KB)

Abstract

Hutan berperanan penting di planet untuk mengurangi konsentrasi gas rumah kaca pada lapisan atmosfir. Menurut Protokol Kyoto, pengurangan emisi karbon terjadi melalui hutan. Dalam hal ini, manajemen hutan yang tepat akan memberi kontribusi yang sangat baik pada pengurangan gas rumah kaca. Sesuai dengan kebijakan pemerintah, fungsi hutan dalam menyerap gas rumah kaca, hutan merupakan ekosistem yang kompleks dan kebijakan pada pengurangan karbon dapat dimulai dari tingkat-tingkat pohon, yaitu konservasi karbon, penyerapan karbon, dan penggantian pohon. Dasar kebijakan-kebijakan adalah ilmu agama yang kuat dan ilmu pengetahuan yang tepat. Penerapan strategi untuk mencapai konservasi karbon terbaik adalah dengan mengontrol pembangunan dan konservasi wilayah dengan kemajuan managemen. Karena dengan manajemen yang maju emisi karbon berkurang sekitar 30% dari managemen yang konvensional. Dengan demikian, perangkat-perangkat hukum di sektor kehutanan dan lintas sektor perlu direview dan disesuaikan dengan kemajuan manajemen.
DAMPAK PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI Acacia crassicarpa DI LAHAN GAMBUT TERHADAP TINGKAT KEMATANGAN DAN LAJU PENURUNAN PERMUKAAN TANAH Lisnawati, Yunita; Suprijo, Haryono; Poedjirahajoe, Erny; Musyafa, Musyafa
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 22, No 2 (2015)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangunan hutan tanaman di lahan gambut tidak terlepas dari sorotan isu negatif lingkungan terkait dengan penurunan kedalaman muka air tanah, sehingga terjadi perubahan ekosistem asli. Kegiatan reklamasi lahan untuk HTI Acacia crassicarpa dalam jangka panjang disinyalir akan menimbulkan dampak negatif terhadap perubahan karakteristik tanah gambutnya seperti tingkat kematangan dan laju penurunan permukaan tanah gambut (subsiden). Kajian mengenai dampak pembangunan HTI di lahan gambut terhadap tingkat kematangan dan laju subsiden perlu dilakukan untuk memberikan informasi mengenai kondisi exsisting daya dukung lahannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kematangan gambut baik secara vertikal (berdasarkan kedalaman gambut) maupun secara horizontal (berdasarkan jarak dari bibir kanal) dan mengetahui laju subsiden sebagai dampak dari reklamasi lahan gambut menjadi HTI A. crassicarpa. Penelitian dilakukan di PT AA, Distrik Rasau Kuning, Kabupaten Siak, Riau. Plot penelitian ditempatkan dalam satu transek sepanjang 100 m yang dibuat tegak lurus dengan kanal tersier, terdapat 12 plot dan dalam satu transek terdapat 3 titik pengamatan sehingga total titik pengamatan adalah 36 titik. Parameter yang diamati adalah dinamika kedalaman muka air tanah, nilai kadar serat tanah gambut dan laju subsiden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak perubahan kedalaman muka air tanah gambut di lokasi penelitian hanya mempengaruhi tingkat kematangan gambut pada kedalaman kurang dari 2 m, sedangkan jarak kanal tersier sebesar 125 m tidak berpengaruh secara nyata terhadap tingkat kematangan gambut. Pada kedalaman kurang dari 2 m tingkat kematangan gambut lebih tinggi dibandingkan dengan lapisan di bawahnya. Pembangunan HTI A. crassicarpa di lokasi penelitian menyebabkan laju subsiden sebesar rata-rata 5,5 cm/tahun. 
HUBUNGAN KEDEKATAN EKOLOGIS ANTARA FAUNA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK TANAH GAMBUT YANG DIDRAINASE UNTUK HTI Acacia crassicarpa Lisnawati, Yunita; Suprijo, Haryono; Poedjirahajoe, Erny; Musyafa, Musyafa
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan lahan gambut untuk pengembangan HTI Acacia crassicarpa diawali dengan pembuatan saluran drainase dan pembukaan lahan (land clearing) yang kemudian dilanjutkan dengan penyiapan lahan untuk penanaman, sedangkan kegiatan pemeliharaan meliputi pemberantasan gulma dengan menggunakan herbisida dan pemupukan. Kegiatan pengelolaan dan pemeliharaan tentunya mempunyai dampak bagi kondisi ekologis lahan gambut. Perubahan kondisi ekologis terjadi karena perubahan lahan yang selanjutnya berpengaruh terhadap kelimpahan dan keragaman fauna tanah.Kelimpahan dan keragaman fauna tanah serta fungsi ekosistem menunjukkan hubungan yang sangat kompleks dan belum banyak diketahui dengan pasti. Kecenderungan fauna tanah untuk memilih suatu habitat dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan baik biotik maupun abiotik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji kedekatan ekologis antara karakteristik tanah gambut yang didrainase untuk HTI A. crassicarpa dengan kelimpahan fauna tanahnya. Penelitian dilakukan di HTI lahan gambut  PT. Arara Abadi, Distrik Rasau Kuning, Kabupaten Siak, Riau.  Pengambilan sampel fauna tanah dengan metode pencuplikan contoh tanah yang berukuran 25 x 25 x 25 cm3, pemisahan fauna tanah dengan tanah dilakukan dengan menggunakan modifikasi corong barlese.  Parameter yang diamati adalah kelimpahan dan keragaman fauna tanah, kematangan gambut (C/N), kadar air gambut, dan kedalaman muka air tanah gambut. Untuk menilai kedekatan ekologis digunakan analisis hirarki.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan fauna tanah tertinggi terdapat pada tegakan A. crassicarpa umur 2 tahun. Keragaman jenis fauna tanah di lokasi penelitian termasuk melimpah sedang dengan nilai H’ 1,2. Formicidae berpotensi sebagai bioindikator kelembaban tanah gambut yang rendah yang dicirikan dengan kandungan kadar air yang rendah dan mempunyai tingkat kematangan gambut yang lebih tinggi. Entomobryidae berpotensi sebagai bioindikator kadar air yang tinggi dan mempunyai tingkat kematangan yang masih rendah.
PENGGUNAAN CITRA LANDSAT ETM+ UNTUK MONITORING PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KAWASAN PUNCAK Lisnawati, Yunita; Wibowo, Ari
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 4, No 2 (2007): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.879 KB)

Abstract

Puncak merupakan kota pariwisata dengan bentuk penggunaan lahan untuk usahatani dan daerah resapan air. Secara umum kawasan ini merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian bervariasi mulai dari 330 meter sampai 3.002 meter di atas permukaan laut, dengan kemiringan lahan antara 8% sampai dengan 50% dan terletak di kawasan Sub DAS Ciliwung Hulu. Persoalan utama di kawasan Puncak  adalah perubahan penggunaan lahan yang terus terjadi dan meningkat dari tahun ke tahun.  Selama periode tahun 1981 – 2001 perubahan penggunaan lahan terluas terjadi pada permukiman. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan pemukiman merupakan faktor terbesar yang mendorong perubahan fungsi lahan di kawasan Puncak. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan monitoring perubahan penggunaan lahan di kawasan Puncak Kabupaten Bogor.  Citra satelit multi waktu digunakan sebagai data utama dalam mendefinisikan tipe-tipe penggunaan lahan yang terjadi pada kurun waktu 1995 – 2003. Analisis spasial dilakukan dengan menggunakan System Informasi Geografis yang dikembangkan oleh Aronoff (1989). Hasil analisis spasial menunjukkan perubahan luasan dari delapan tipe penggunaan lahan yaitu hutan, kebun teh, kebun campuran, pemukiman, tegalan, semak, lahan terbuka dan sawah.  Perubahan penggunaan lahan yang penting terjadi diantaranya adalah hutan (34,96% pada tahun 1995 menjadi 28,07% pada tahun 2003), sedangkan pemukiman (8,79% pada tahun 1995 menjadi 32,28% pada tahun 2003). Pada tahun 2003, luas penggunaan lahan untuk pemukiman sudah menempati peringkat teratas dibandingkan dengan penggunaan lahan lainnya, sehingga apabila penambahan pemukiman tidak dapat ditekan maka akan berdampak meningkatnya aliran permukaan yang dapat menimbulkan erosi dan banjir yang berulang. Akurasi citra hasil klasifikasi landsat ETM lebih besar dari 85%, dengan demikian ketelitian klasifikasi tergolong sangat baik. 
ANALISIS DAYA DUKUNG LAHAN DI KAWASAN PUNCAK KABUPATEN BOGOR Lisnawati, Yunita; Wibowo, Ari
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 6, No 1 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.816 KB)

Abstract

Kawasan Puncak di Kabupaten Bogor telah ditetapkan sebagai kawasan andalan, kawasan konservasi tanah dan air, daerah wisata dan penyangga ibu kota Jakarta. Akan tetapi kawasan ini telah mengalami banyak perubahan penggunaan lahan yang mempersempit lahan pertanian dan dapat menurunkan daya dukung lahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis besarnya daya dukung lahan di kawasan Puncak Kabupaten Bogor pada tahun 2005. Daya dukung lahan adalah jumlah penduduk yang dapat didukung atau disokong oleh suatu luas sumberdaya lahan pada lingkungan tertentu dalam keadaan makmur, sesuai dengan teknologi dan pengelolaan usahatani yang dilakukan petani. Analisis dilakukan dengan menggunakan rumus Bayliss-Smith yang diwakili oleh 3 desa contoh yaitu desa Gadog, Batulayang dan Sukakarya. Hasil perhitungan daya dukung menunjukkan daya dukung lahan di desa Sukakarya 84,48 jiwa/ha, desa Batulayang 40,90 jiwa/ha dan desa Gadog sebesar 35,65 jiwa/ha. Dengan angka kepadatan penduduk yang sesungguhnya yaitu desa Sukakarya 14,71 jiwa/ha, Batulayang 26,61 jiwa/ha dan Gadog 36,05 jiwa/ha, maka diketahui bahwa desa Gadog sudah melampaui daya dukung lahannya.
ANALISIS FLUKTUASI DEBIT AIR AKIBAT PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KAWASAN PUNCAK KABUPATEN BOGOR Lisnawati, Yunita; Wibowo, Ari
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 7, No 4 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.693 KB)

Abstract

Kawasan Puncak yang terletak di Sub DAS Ciliwung Hulu merupakan daerah tangkapan air yang penting bagi kota Jakarta. Namun saat ini dengan terjadinya perubahan penggunaan lahan yang sangat dinamis, terutama peningkatan penggunaan untuk pemukiman telah berdampak pada perubahan debit air maksimum-minimum. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan antara tahun 1995-2003, dalam hubungannya dengan perubahan debit air maksimum-minimum di kawasan Puncak Kabupaten Bogor. Analisis spasial dilakukan dengan menggunakan peta penggunaan lahan tahun 1995-2003 berdasarkan citra satelit landsat ETM+, dan Sistem Informasi Geografis (SIG). Analisis data atribut menggunakan Analisis Korelasi Berganda dan Analisis Regresi Berganda. Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan di kawasan Puncak pada periode tahun 1995-2003 cenderung didominasi oleh perubahan lahan kebun campuran menjadi pemukiman. Analisis korelasi berganda menunjukkan adanya korelasi yang cukup tinggi dan berkorelasi negatif antara luas hutan dan selisish debit maksimum-minimum. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa hutan mampu menurunkan selisih debit air maksimum-minimum sebesar 0,027 m3/detik, jika luasan hutan naik sebesar satu hektar.
MANAJEMEN ADAPTASI DALAM PERUBAHAN IKLIM Tambunan, Parlindungan; Suhendi, Hendi; Siswanto, Bambang Edy; Lisnawati, Yunita
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan
Publisher : Centre for Research and Development on Social, Economy, Policy and Climate Change

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.819 KB)

Abstract

Perubahan-perubahan iklim bumi yang sekarang telah merubah sistem ekologi di sekitar bumi. Rata-rataglobaltemperaturpermukaanbertambahsekitar0,7°C.Pertambahan-pertambahantemperatur mempengaruhi semua proses kimia dan biologi kehidupan di alam yang mengubah secara dramatis dan kompleks ekosistem permukaan bumi. Perubahan-perubahan ekosistem merupakan tantangan terbesar bagi para manajer sumber daya alam dan perencana-perencana konservasi. Oleh sebab itu, pendekatanpendekatan baru dibutuhkan untuk pengelolaan sumber daya alam dan ekosistem di dalam perubahan iklim. Salah satu pendekatan baru adalah menggunakan manajemen adaptasi. Manajemen adaptasi tidak hanya sebagai sebuah alat, tetapi juga mempunyai daya tarik perhatian pada pengalaman manajemen sebagai suatu sumber pembelajaran. Dengan pembelajaran, ide bersinar untuk menciptakan situasi yang lebihbaikataupembaharuan,karena prosesperubahaningatandantingkahlakuterjadidalamdirisendiri dan organsasi. Dengan demikian, implementasi manajemen adaptasi untuk mencapai solusi semua masalah adalah dengan komunikasi atau dialog antara para manajer atau pemimpin, para ahli, dan warga institusi,disampingpengetahuansistemekologidanmasalahlingkungandanjugamemilikidayacipta.