Articles

Found 4 Documents
Search

JPT : JURNAL PROTEKSI TANAMAN (JOURNAL OF PLANT PROTECTION) Vol 1 No 1 (2017): Pengendalian Hayati dan Insektisida Nabati
Publisher : Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Faperta Unand

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.733 KB)

Abstract

Crocidolomia pavonana is an important pest in Brassicaceae. Botanical insecticides is pest control alternative  which meet to eco-friendly manajement. This study aims to determine lethal concentration of single  and mixture of water extract of Piper aduncum (Piperaceae) fruit and Cymbopogon cirtatus (Poaceae) stem against Crocidolomia pavonana larvae. The study was conducted in laboratory experiment through preliminary test and advance test using a completely randomized design (CRD). Observations were included to larval mortality, antifeedant effect, and duration of larval development. Bioassay was done against second instar larvae of C. pavonana using leaves immersion method during 48 hours. The results show that LC50 and LC95 value of mixture extract are 2.83% and 5.79% respectively. Based on index combination analysis, P. aduncum and C. citratus mixture extract  were antagonistic at LC50  and additive  at LC95 . Water extract of   P. aduncum and C. citratus were relatively weak to influence feeding activity of C. pavonana larvae (41%). Mixture extract  also extend larval development from second instar to third instar  around 0.24 days and third instar to fourth instar around 0.97 days.

Potensi Insektisida Melur (Brucea javanica L. Merr) dalam Mengendalikan Hama Kubis Crocidolomia pavonana (F.) (Lepidoptera: Crambidae) dan Plutella xylostella (L.) (Lepidoptera: Yponomeutidae)

Jurnal Natur Indonesia Vol 12, No 02 (2010)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Riau

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.412 KB)

Abstract

This study was conducted to evaluate the potency of Brucea javanica (melur) for controlling two species ofcrucifer pests, i.e. Crocidolomia pavonana and Plutella xylostella. Melur fruits, twigs, and leaves were extracteddirectly with methanol or sequentially with hexane, ethyl acetate, and methanol. The most active extract was thenfractionated by preparative layer chromatography using hexane, mixtures of ethyl acetate and methanol, andmethanol as eluents. The most active fraction was formulated as EC (emulsifiable concentrate) and WP (wettablepowder) formulations, and tested for their toxicity and antifeedant effect against C. pavonana and P. xylostellalarvae. The results showed that methanol extract of melur fruits was more active than that of twigs and leaves.Fractionation of methanol extract of melur fruits yielded an active fraction which was eluted with ethyl acetate-methanol 9:1. EC and WP formulations of melur fruits were active against C. pavonana larvae with LC50 of 0.39%and 0.21%, respectively. The same formulations were also active against P. xylostella larvae with LC50 of 0.31% and0.54%, respectively. In no-choice tests, the antifeedant effect of the EC formulation on C. pavonana larvae (feedinginhibition [FI]: 70.9%-97.5%) was higher than on P. xylostella larvae (FI: 52.2%-83.9%), but the antifeedant effect ofthe WP formulation on the two species was relatively the same. In a choice test, the EC formulation at LC 85completely inhibited feeding by C. pavonana larvae (FI: 100%).

TEKNOLOGI TERAPAN PENGHALAU BURUNG OTOMATIS BAGI PETANI PADI DI SALINGKA KAMPUS UNIVERSITAS ANDALAS

Jurnal Hilirisasi IPTEKS Vol 1 No 3b (2018): September 2018
Publisher : LPPM Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sumatera Barat merupakan provinsi yang penduduknya rata-rata bekerja sebagai petani. Produksi padi di Sumatera Barat cukup tinggi, mencapai 55.532 ton per tahunnya. Namun, petani mengalami kesulitan dalam mengahadapi serangan hama, salah satunya yaitu hama burung. Hama burung menyebabkan kehilangan hasil mencapai 30% bahkan 100% pada tingkat serangan yang parah, dan pada tanaman serelia lainnya mampu memnyebabkan kehilangan hasil mencapai 67%. Akibat kehilangan hasil yang cukup tinggi, perlu dilakukannya pengendalian terhadap hama burung. Tetapi, pengendalian hama burung tidak sama dengan hama lain yang dapat dikendalikan secara praktis menggunakan pestisida karena hama burung yang bersifat mobile atau aktif bergerak. Saat ini petani masih menggunakan pengendalian secara mekanis yang di Sumatera disebut dengan istilah ‘Manggaro’. Dimana petani menunggui sawah dan ladangnya selama fase pengisian bulir hingga panen. Pengendalian seacara mekanis ini menghabiskan waktu petani untuk menghalau kedatangan hama burung. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dibutuhkan suatu usaha dan teknologi yang mampu digunakan untuk menghalau burung tanpa perlu diawasi oleh petani, hemat waktu dan lebih efisien dalam pengendalian serta dapat digunakan dalam jangka panjang. Kegiatan penelitian yang diusulkan meliputi pemasangan alat penghalau burung otomatis dengan sistem deteksi panas tubuh dan motor pengayun sumber bunyi di lahan sawah yang berada disalingka kampus Unand Limau Manis. Pengamatan yang dilakukan adalah hasil produksi padi terhadap 3 perlakuan yang diberikan yaitu penggunaan alat penghalau otomatis hama burung, penggunaan jaring burung dan lahan tanpa menggunakan alat atau dsebut juga sebagai kontrol. Selanjutnya,data yang diperoleh akan dianalisis untuk melihat efektivitas alat penghalau hama burung otomatis. Manfaat alat ini dapat membantu petani dalam pengendalian hama burung. Dimana petani tidak harus berada dilahan persawahannya seharian penuh untuk menghalau hama burung yang menyerang lahan persawahan tersebut.

TRIMA DIA PAS DIPANDANG:TRICHODERMA DENGAN MEDIA AMPAS TEBU DICAMPUR DENGAN PUPUK KANDANG SEBAGAI UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI KENAGARIAN LAWANG, AGAM

BULETIN ILMIAH NAGARI MEMBANGUN Vol 1 No 3: September 2018
Publisher : LPPM Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.504 KB)

Abstract

Nagari Lawang merupakan sebuah nagari di daerah Kabupaten Agam, Sumatera Barat yang dikenal sebagai sentral tanaman tebu. Tanaman tebu yang telah diolah menjadi gula saka ataupun produk lainnya akan meghasilkan limbah berupa ampas tebu yang hanya digunakan untuk pembakaran serta dibuang begitu saja tanpa dimanfaatkan. Kegiatan bertujuan untuk transfer ilmu dan teknologi dari lingkungan perguruan tinggi kepada masyarakat terkait pemanfaatan limbah ampas tebu, mengurangi pencemaran lingkungan serta membuka peluang usaha bagi masyarakat setempat. Kegiatan ini dilaksanakan dengan empat tahapan umum, yaitu sosialisasi pengenalan program, implementasi dilapangan, monitoring program, dan evaluasi. Implikasi dari hasil kegiatan ini yaitu pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengembangbiakkan jamur Trichoderma dengan media ampas tebu dan pengaplikasian jamur Trichoderma dengan pupuk kandang pada tanaman pertanian.