Articles

Found 32 Documents
Search

MIKROENKAPSULASI PIGMEN DARI KUBIS MERAH: STUDI INTENSITAS WARNA DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN Lukitasari, Diah Mustika; Indrawati, Renny; Chandra, Rosita Dwi; Heriyanto, _; Limantara, Leenawaty
Jurnal Teknologi dan Industri Pangan Vol. 28 No. 1 (2017): Jurnal Teknologi dan Industri Pangan
Publisher : Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB Indonesia bekerjasama dengan PATPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.61 KB) | DOI: 10.6066/jtip.2017.28.1.1

Abstract

Utilization of artificial food colorants has obtained particular concern for long time consumption. Red cabbage (Brassica oleracea L. var. capitata forma rubra L.) was extracted to produce a candidate for natural food colorant through a one-step physical extraction and microencapsulation. The color strength was determined by measuring: (1) tinctorial strength, (2) color degradation kinetics at various pH, and (3) thermostability. Yield level and antioxidant activity were enclosed as supporting data. The results showed that extract of red cabbage exhibited vivid red until green color at various pH and was nearly stable at pH 2 and 3, meanwhile its thermostability was fairly good at pH 3, 4, 8, and 9. The encapsulated red cabbage extract produced high color intensity at pH 2 for red color and pH 9 for blue color with a yield level of  5.53%. It also showed antioxidant activity with IC50 value of 725.65±0.086 ppm in methanol solvent and 258.25±0.097 ppm in water-methanol solvent.
Studi Komposisi Pigmen dan Kandungan Fukosantin Rumput Laut Cokelat dari Perairan Madura dengan Kromatogra Cair Kinerja Tinggi Limantara, Leenawaty; Heriyanto, Heriyanto
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 15, No 1 (2010): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Variasi warna tallus pada setiap jenis rumput laut dipengaruhi oleh adanya perbedaan jenis pigmen dan kandungan pigmen dominan yang terdapat didalamnya. Oleh sebab itu, lima jenis rumput laut cokelat telah dianalisa menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) yang dilengkapi dengan detektor photodiode array untuk menentukan komposisi pigmen dan kandungan pigmen dominan fukosantin. Dua puluh enam, 27, 18, 27, dan 19 jenis pigmen telah dipisahkan dari Sargassum duplicatum, S. lipendula, S. polycystum, Padina australis dan Turbinaria conoides secara berturut-turut, dalam satu langkah kerja dengan KCKT fase terbalik menggunakan elusi gradien antara metanol, aseton dan larutan amonium asetat selama 70 menit waktu elusi untuk mendapatkan pemisahan puncak pigmen dengan resolusi yang tinggi. Identikasi pigmen dilakukan berdasarkan urutan kepolaran dan panjang gelombang serapan maksimum setiap pigmen yang dibandingkan dengan literatur yang menggunakan sampel rumput laut cokelat dan fase gerak yang relatif sama. Klorolid a, klorofil c, isomer trans fukosantin, isomer cis fukosantin, ß-kriptoxantin, zeaxantin, violaxantin, fucoxantol, klorofil a, klorofil a’, feofitin a, feofitin a’ dan ß-karoten merupakan pigmen yang ditemukan pada hampir semua rumput laut cokelat. Kandungan fukosantin ditentukan berdasarkan persamaan garis dari kurva standar fukosantin antara luas puncak fukosantin dan konsentrasi fukosantin standar. P. australis memiliki kandungan fukosantin tertinggi jika dibandingkan dengan rumput laut cokelat lainnya yaitu sebesar 0,6368 mg/g berat basah. Hal ini disebabkan karena P. australis tumbuh pada kedalaman yang lebih dalam, sehingga memiliki kemampuan adaptasi khusus berupa thallus yang menyerupai lembaran daun yang digunakan dalam proses pemanenan cahaya secara efisien. Kata kunci: rumput laut cokelat, komposisi pigmen, kandungan fukosantin, KCKT The color of seaweed is influenced by the difference of the type and the content of main pigments inside of seaweed thallus. Therefore, five kinds of brown seaweed have been analyzed by high-performance liquid chromatography (HPLC) which equipped by photodiode array detector to determine the composition of pigment and the content of fucoxanthin. Twenty six, 27, 18, 27, and 19 pigments were separated from Sargassum duplicatum, S. filipendula, S. polycystum, Padina australis and Turbinaria conoides, respectively, in a single-step procedure by reversedphase HPLC with an elution gradient of methanol, acetone and ammonium acetate solution during elution time of 70 minutes. The high resolution peaks of the separated pigments from seaweeds have been obtained by above procedure. The identification of pigments was carried out based on the sequence of pigment polarity and the maximum absorption wavelength of each pigment. These pigment properties were compared by literature that using the brown seaweed as a sample and its mobile phase was relatively similar. Chlorophyllide a, chlorophyll c1, trans-isomer fucoxanthin, cis-isomers fucoxanthin, β-cryptoxanthin, zeaxanthin, violaxanthin, fucoxanthol, chlorophyll a, chlorophyll a’, phaeophytin a, phaeophytin a’ and β-carotene were pigments found in almost of brown seaweeds. The content of fucoxanthin was determined according to a line equation of the fucoxanthin standard curve between the peak area of fucoxanthin and the concentration of fucoxanthin standard. P. australis has a highest of fucoxanthin content than that of the other brown seaweeds, which is 0.6368 mg/g wet weight. This result is caused by the deeper growth place of P. australis. Therefore, P. australis has leaf-like thallus which can be used for efficient light harvesting process. Key words: brown seaweeds, pigment composition, fucoxanthin content, HPLC
Optimasi Proses Ekstraksi Fukosantin Rumput Laut Coklat Padina australis Hauck Menggunakan Pelarut Organik Polar Limantara, Leenawaty; Heriyanto, Heriyanto
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 2 (2011): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.42 KB)

Abstract

Rumput laut coklat merupakan salah satu sumber daya alam laut yang belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat Indonesia. Warna rumput laut coklat berasal dari salah satu pigmen dominan yang terdapat dalam rumput laut ini yaitu fukosantin, yang bermanfaat sebagai anti-kanker dan anti-obesitas. Penelitian mengenai proses optimasi ekstraksi fukosantin pada rumput laut coklat belum banyak dilakukan, sehingga penelitian ini bertujuan  untuk  menentukan  pelarut  organik  polar  yang  dapat  mengekstrak  fukosantin  secara  optimal. Fukosantin diekstraksi dari Padina australis Hauck menggunakan lima jenis pelarut organik polar, yaitu: aseton, asetonitril,  dimetil  sulfoksida (DMSO),  etanol  dan  metanol.  Berdasarkan  hasil  analisis  spektrometri,  nilai absorbansi pada panjang gelombang serapan maksimum (λmak) fukosantin dari spektra serapan ekstrak kasar pigmen, Padina australis Hauck yang diekstraksi dengan pelarut metanol memiliki nilai absorbansi relatif tinggi yaitu 0,9338 hampir sama ketika DMSO dan etanol digunakan sebagai pelarut ekstraksi. Hasil ini diperkuat oleh hasil analisis kandungan fukosantin dengan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) dimana kandungan fukosantin mencapai 2,6049 mg/g berat kering dengan pelarut metanol dan kandungan fukosantin ini lebih tinggi 1,08-1,71 kali dibandingkan menggunakan pelarut organik polar lainnya. Kemurnian fukosantin dapat ditentukan berdasarkan nilai persentase luas puncak fukosantin (isomer cis dan trans fukosantin) terhadap luas dari seluruh puncak pigmen yang dapat dipisahkan pada kromatogram KCKT. Pelarut metanol memiliki nilai persentase luas puncak fukosantin relatif tinggi yaitu 60,11%. Berdasarkan hasil penelitian ini maka metanol merupakan pelarut yang terbaik untuk mengekstrak fukosantin dari Padina australis Hauck. Kata kunci: pelarut organik polar, ekstraksi, kandungan fuksosantin, Padina australis Hauck Brown seaweed, is one of marine natural resources, grows naturally and abundantly at Indonesian coastal waters, and yet Indonesians have not utilized it optimally. The color of brown seaweed ascribes to one kind of dominant pigments that this seaweed contains, namely fucoxanthin. Fucoxanthin has potent beneficial effects on human  health,  such  as  anti-cancer  and  anti-obesity  properties.  However,  the  research  concerning  the optimization of fucoxanthin extraction on brown seaweed has not been much done. Therefore, the purpose of this research is to determine the polar-organic solvent that can optimally extract fucoxanthin. Fucoxanthin was extracted from Padina australis Hauck by using various polar-organic solvents (such as acetone, acentonitrile, dimethyl sulfoxide (DMSO), ethanol and methanol). The result of spectrometry analysis, absorbance values at maximum absorption wavelength (λmak) of fucoxanthin from absorption spectra of pigment-crude extracts, showed that Padina australis Hauck extracted by methanol solvent has a relatively high absorbance value, i.e. 0.9338. This absorbance value was almost of the same value when DMSO and ethanol solvents are used as extraction solvent. This result supported the result of fucoxanthin content analysis by High Performance Liquid Chromatography (HPLC), where fucoxantin content was 2.6049 mg/g dry weight and this fucoxanthin content is 1.08-1.71 times higher when another polar-organic solvent was applied. The purity of fucoxantin can be determined from area percentage of fucoxantin peaks (cis and trans isomers fucoxanthin) toward the area of all pigments peaks that could be separated on HPLC chromatogram. Methanol solvent has a high area percentage value of 60.11%. Based on these experimental results, it can be claimed that methanol solvent is the best solvent for fucoxanthin extraction from brown seaweed Padina australis Hauck. Key words: polar-organic solvent, extraction, fucoxanthin content, Padina australis Hauck
Estimasi Produk Degradasi Ekstrak Kasar Pigmen Alga Merah Kappaphycus alvarezii (Doty) Doty Varian Merah, Coklat, dan Hijau: Telaah Perbedaan Spektrum Serapan de Fretes, Helly; Susanto, A.B.; Prasetyo, Budi; Heriyanto, Heriyanto; Brotosudarmo, Tatas H.P.; Limantara, Leenawaty
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 17, No 1 (2012): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (635.571 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi produk degradasi pigmen ekstrak kasar alga merah Kappaphycus alvarezii (Doty) Doty varian merah, coklat dan hijau yang terbentuk selama perlakuan iradiasi dan pemanasan, melalui perbedaan spektrum serapannya. Ketiga varian diekstraksi menggunakan 100% metanol. Uji fotostabilitas ekstrak pigmen dilakukan dengan iradiasi menggunakan lampu Volpi intralux 4100 pada intensitas cahaya 39300 lux, 56700 lux dan 76400 lux.  Lama waktu penyinaran 0, 5, 10, 15, dan 20 menit. Sedangkan uji termostabilitas  dilakukan pada suhu 25 dan 90 ° C selama 0, 3, 6 24, dan 48 jam. Pola spektra diukur pada panjang gelombang 300-800 nm sebelum dan sesudah perlakuan dengan spektrofotometer UV-Tampak Shimadzu 1700. Data dianalisis dengan SPINA Versi 3, untuk memperoleh intensitas maksimum dan perbedaan spektra serapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk degradasi pigmen ekstrak kasar alga merah K. alvarezii dapat diidentifikasi melalui spektrum serapan dan hasil perbedaan spektra serapan. Isomer cis karotenoid, karotenoid tidak berwarna, dan feofitin a diestimasi sebagai produk degradasi yang terbentuk selama perlakuan iradiasi dengan intensitas cahaya 76400 lux dan perlakuan pemanasan pada suhu 90°C selama 48 jam. Penurunan intensitas warna larutan pigmen juga mengindikasikan terbentuknya produk degradasi selama perlakuan. Kata kunci: Kappaphycus alvarezii, perbedaan spektrum serapan, produk degradasi The aims of this study were to estimate the degradation products of crude pigment extracts from red, brown, and green varieties of red alga Kappaphycus alverezii (Doty) Doty that formed during irradiation and heating treatment from their difference absorption spectra. All three variants were extracted using 100% methanol. The photostability assay of crude pigment extracts was conducted by irradiating the crude pigment extracts with a day light lamp (Volpi, Intralux 4100) at 39300 lux, 56700 lux and 76400 lux light intensity during 0, 5, 10, 15, and 20 minutes treatment, whereas the thermostability assay was performed at 25 and 90 °C for 0, 3, 6 24, and 48 hours. The absorption spectra of the crude pigment extract before and after each treatment were monitored successively at 300-800 nm using MultiSpec 1501 UV-VIS spectrophotometer. Data were analyzed with spina Version 3, to obtain maximum intensity and the difference absorption spectra. The results showed that the  degradation products of crude pigment extracts from red alga K. alvarezii could be identified by absorption spectra and difference absorption spectra. Cis isomers carotenoids, colorless carotenoids, and feofitin-a were estimated as degradation product formed during the irradiation treatment with 76400 lux of light intensity and heating treatment at a temperature of 90 ° C for 48 hours. Decrease in the intensity of the color of pigment solution also indicates the formation of degradation products during treatment.Key words: Kappaphycus alvarezii, difference absorption spectra, degradation products
PENGARUH PROSES PENGERINGAN RIMPANG TEMULAWAK (Curcuma xanthorriza ROXB) TERHADAP KANDUNGAN DAN KOMPOSISI KURKUMINOID Cahyono, Bambang; Huda, Muhammad Diah Khoirul; Limantara, Leenawaty
REAKTOR Volume 13, Nomor 3, Juni 2011
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.395 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.13.3.165-171

Abstract

EFFECT OF DRYING PROCESSES ON CURCUMINOID CONTENT AND COMPOSITION OF TEMULAWAK (Curcuma xanthorriza ROXB) RHIZOMES. Curcuminoid a yellow coloring agent of turmeric is known to have many benefits in food and medicinal industries. This compound can be isolated by simple extraction from fresh rhizome or symplicia. The research of comparing qualitative and quantitative of curcuminoid in different drying process has not yet been published. Drying methods used in this research were done in an oven at 60°C and under 30-watt electrical lamp at ±30°C. Each method was carried out in time variation of 1, 3, and 5 days. Extraction of curcuminoid was done using ethanol 95% followed by fat reduction process using petroleum ether. Curcuminoid analysis was done by TLC, UV-Visible spectrophotometer and HPLC. The result showed that the water content of all samples was approximately 4.06%-7.76%. TLC analysis identified the presence of two dominant components in the curcuminoid with the Rf values of 0.37 and 0.15. The UV-Visible spectra indicated that simplicia would give more result in curcuminoid than fresh rhizome. There were 4 substances detected in HPLC analysis, they were curcumin 61-67%, demetoxycurcumin 22-26%, bisdemetoxycurcumin 1-3%, and curcuminoid derivative 10-11%. In addition, drying on oven resulted brighter and crispier simplicia than drying under lamp.  Kurkuminoid yang merupakan zat utama yang berwarna kuning dalam temulawak telah diketahui memiliki banyak manfaat di bidang kesehatan dan makanan. Bahan ini dapat diisolasi dari bahan segar atau simplisia kering melalui ekstraksi. Riset yang mencoba membandingkan kualitas dan kuantitas kurkuminoid akibat perlakuan panas pada saat pembuatan simplisia hingga sekarang belum pernah dilakukan. Penelitian dimulai dengan pengeringan temulawak segar setelah dirajang pada oven suhu 60°C dan pada pengeringan lampu listrik 30 watt pada suhu ± 30°C. Masing-masing metode dilakukan variasi lama pengeringan 1, 3, 5 hari. Ekstraksi kurkuminoid dilakukan menggunakan etanol 95% dan defatisasi menggunakan petroleum eter, sedangkan analisis kualtatif dan kuantitatif kurkuminoid direalisasikan dengan KLT, spektrofotometer UV-Tampak dan KCKT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan air semua sampel sekitar 4,06%-7,76%. Analisis KLT mengidentifikasi adanya dua komponen dominan dalam kurkuminoid dengan nilai Rf 0,37 dan 0,15. Hasil analisis Spektrofotometri UV-tampak memberikan keenderungan bahwa kurkuminoid dari sampel kering lebih mudah terekstraksi daripada sampel basah. Kromatogram HPLC dapat mendeteksi adanya 4 senyawa yaitu kurkumin 61-67%, demetoksikurkumin 22-26%, bisdemetoksikurkumin 1-3%, dan turunan kurkuminoid 10-11%, urutan prosentase masing-masing komponen tetap sama selama proses pengeringan. Hasil penelitian ini juga telah dapat menunjukkan bahwa perbedaan kondisi operasi pengeringan sangat mempenaruhi penampakan simplisia yang dihasilkan, pengeringan oven memiliki warna lebih cerah dan  lebih meremah daripada pengeringan lampu.
Pengaruh Berbagai Faktor Eksternal terhadap Stabilitas Pigmen Bixin dari Selaput Biji Kesumba (Bixa orellana L.) Potensi sebagai Pewarna Alami Makanan _, Suparmi; Limantara, Leenawaty; Prasetya, Budhi
Jurnal Sains Medika Vol 1, No 1 (2009)
Publisher : Fakultas Kedokteran UNISSULA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background. Bixin is an orange-yellow carotenoid derived from the outer seed coats of annatto (Bixa orellanaL.), which are of interest as natural colorant in food. However, the use of this colorant in food products mayface some problems due to its stability during storage. The characterization of bixin on temperature, pH, light,and oxidator-reductor was investigated to determine its stability.Design and Method: The spectra absorption was analyzed by UV-Vis spectroscopy.Result: Bixin in acetone solution was stable at 4 ºC, 25 ºC, 37 ºC, and 50 ºC with daily degradation rate of0.52%; 0.85%; 3.58%; and 10.22% respectively. The bixin was stable at dark condition, while the effect of UVlight for 12 hours caused pigment degradation rate of almost 100%. Exposure to polychromatic light for 7 dayscaused bixin degradation with daily rate of 14.39%. The bixin was stable at pH 4 and its degradation rate wasincreased at pH 3 and 5. It was stable on addition of oxidator (H2O2 30%) and reductor (ascorbic acid).Conclusion: Bixin is stable on temperature, pH, light, and oxidator-reductor. It is potential as natural colorantin dairy and fat-based food products such as yogurt, (Sains Medika, 1 (1) : 81-91).Pendahuluan: Bixin merupakan pigmen karotenoid pada selaput biji kesumba keling (Bixa orellana L.) dengankisaran warna kuning-orange. Pigmen ini berpotensi sebagai pewarna alami makanan. Permasalahan utamadalam penggunaan pigmen sebagai pewarna alami makanan adalah menjaga stabilitas warna pigmen selamapengolahan dan penyimpanan makanan, sehingga tidak terjadi degradasi warna. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui stabilitas bixin pada berbagai suhu, cahaya, pH, dan oksidator-reduktor.Metode:Stabilitas bixin setelah perlakuan dengan waktu tertentu diamati berdasarkan spektrum absorbansiyang ditampilkan pada spektrofotometer.Hasil: Bixin bersifat stabil pada berbagai penyimpanan dengan kondisi 4 °C, 25 °C, 37 °C, dan 50 °C denganrasio degradasi per hari pada masing-masing suhu sebesar 0,52%; 0,85%; 3,58%; dan 10,22%. Bixin lebih stabilpada kondisi gelap, sedangkan pengaruh cahaya UV selama 12 jam menyebabkan degradasi hampir 100%.Irradiasi cahaya polikromatik selama 7 hari menyebabkan degradasi per hari sebesar 14,39%. Bixin memilikikecenderungan lebih stabil pada pH 4 dan mengalami peningkatan degradasi pada pH 3 dan pH 5. Bixin bersifatrelatif stabil terhadap pengaruh penambahan oksidator H2O2 30% dan reduktor asam askorbat. Hasil ujiorganoleptik dengan parameter utama warna menunjukkan bahwa serbuk pewarna bixin yang disukai panelisadalah pada konsentrasi 5%.Kesimpulan: Bixin bersifat stabil terhadap berbagai kondisi suhu, cahaya, pH, dan oskidator-reduktor, sehinggaberpotensi sebagai pewarna alami makanan yang menyehatkan, (Sains Medika, 1 (1) : 81-91).
ENKAPSULASI DENGAN KITOSAN-NATRIUM ALGINAT MENGGUNAKAN TEKNIK SPRAY-DRYING DAN FREEZE-DRYING Mulyadi, Naomi Megananda; Widyaningsih, Tri Dewanti; Wijayanti, Novita; Indrawati, Renny; Limantara, Leenawaty
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

abstrak
Perkembangan Sensitizer pada Terapi Fotodinamika Tumor dan Kanker Hingga Penuntunan Nanopartikel (Nanoparticulate Targeting) Dengan Antibodi Monoklonal INDRAWATI, RENNY; KARWUR, FERRY F; LIMANTARA, LEENAWATY
Indonesian Journal of Cancer Vol 4, No 3 (2010): Jul - Sep 2010
Publisher : "Dharmais" Cancer Center Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

World Health Organization (WHO) estimates both the number of patients and mortality rates due to cancer will continue to rise. Various researches were conducted in order to prevent and handle the cases of tumors and cancers, including the application of photosynthetic pigment molecules known as photodynamic therapy (PDT). Chlorophylls, the main pigment in photosynthesis, have an ability to capture light energy and control series of photobiology and photochemical processes1. In PDT, chlorophyll or its derivatives compounds act as the sensitizer which have energy excitation by light radiation (visible or near infra red), and generate some reactive oxygen species which triggers the death of cancer cells selectively (through apoptosis and / or necrosis pathway)2. Sensitizer compounds have been progressing from the first to third generation. The development of the third generation sensitizer was influenced by the advances of nanotechnology which lead to the improvement of PDT efficacy. The structure and size of nanoparticles can increase light absorption, and make the sensitizer accumulate in cancer tissues more specifically 3-4. Furthermore, nanoparticulatte targeting also interested to be studied because by conjugate functional groups, i.e. monoclonal antibody, on the sensitizer, it can improve the selectivity of therapy in targeting tumor and cancer tissues.
Pigmen Spirulina sebagai Senyawa Antikanker Pirenantyo, Prasetyandaru; Limantara, Leenawaty
Indonesian Journal of Cancer Vol 2, No 4 (2008): Oct - Dec 2008
Publisher : "Dharmais" Cancer Center Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3164.34 KB)

Abstract

Spirulina, ganggang hijau biru yang berbentuk spiral, mengandung fitonutrisi yang cukup lengkap dan berpotensi sebagai agen antikanker yang efektif. Fikosianin, klorofil a, dan karotenoid adalah pigmen-pigmen yang dikandung Spirulina. Artikel ini merangkum berbagai penelitian in vivo dan ex vivo yang melaporkan ketiga pigmen tersebut merupakan antioksidan kuat. Bahkan, beberapa laporan mencatat bahwa turunan klorofil a juga berpotensi sebagai antimutagen, induktor apoptosis, dan fotosensitizer untuk PDT (Fotodinamika Terapi Kanker). PDT diharapkan memberikan harapan baru dalam terapi kanker. Namun demikian, tidak hanya pigmen yang berperan sebagai antioksidan dalam terapi penyembuhan kanker dengan Spirulina, nutrisi lain seperti asam lemak GLA (gamma linoleic acid), enzim superoksida dismutase (SOD), dan oligosakarida juga turut berperan sebagai senyawa antikanker. Spirulina dijual dalam bentuk suplemen golongan CAM (Complementary and Aternative Medicine). Terapi dengan mengkonsumsi spirulina cair, tablet, kapsul, ataupun bubuk secara teratur menawarkan sebuah jawaban bagi mereka yang sedang bergumul dengan kanker stadium awal jika ingin menghindari pembedahan, radioterapi, ataupun kemoterapi.vKata kunci: spirulina, fikosianin, klorofil a, karotenoid, antioksidan, complementary and alternative medicine
Potensi Astaxantin sebagai Senyawa Antikanker Pratiwi, Reny; Limantara, Leenawaty
Indonesian Journal of Cancer Vol 2, No 4 (2008): Oct - Dec 2008
Publisher : "Dharmais" Cancer Center Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1762.22 KB)

Abstract

Astaxantin merupakan salah satu golongan karotenoid xantofil yang memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan tubuh. Pada berbagai studi telah dibuktikan peran astaxantin dalam melindungi sel dan jaringan dari kerusakan terutama akibat stres oksidatif yang juga dapat memicu terjadinya kanker. Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai potensi astaxantin sebagai senyawa antikanker.Kata Kunci: astaxantin, antioksidan, antikanker.