Articles

Found 18 Documents
Search

PENINGKATAN KECERAHAN WARNA UDANG RED CHERRY (Neocaridina heteropoda) JANTAN MELALUI PEMBERIAN ASTAXANTHIN DAN CANTHAXANTHIN DALAM PAKAN

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 3, No 4 (2012)
Publisher : Jurnal Perikanan Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.007 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan dosis penambahan suplemen warna astaxanthin dan canthaxanthin pada pakan buatan yang dapat meningkatkan kecerahan warna udang red cherry (Neocaridina heteropoda) jantan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan tersebut adalah pakan tanpa astaxanthin dan canthaxanthin, pakan dengan 100 mg/kg astaxanthin, pakan dengan 100 mg/kg canthaxanthin, dan pakan dengan 50 mg/kg astaxanthin dan 50 mg/kg canthaxanthin. Parameter yang diamati meliputi tingkat perubahan warna, kelangsungan hidup, pertumbuhan, dan kualitas air. Data kelangsungan hidup dan pertumbuhan dianalisis dengan ANOVA uji F dengan tingkat kepercayaan 95%. Data perubahan warna dianalisis dengan menggunakan analisis Kruskal-Wallis. Data kualitas air dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan astaxanthin dan canthaxanthin dalam pakan buatan dapat meningkatkan kecerahan warna udang red cherry jantan. Penambahan 100 mg/kg canthaxanthin dalam pakan buatan menghasilkan peningkatan kecerahan warna dengan nilai yang lebih tinggi daripada perlakuan lainnya. Berdasarkan hasil ANOVA uji F, tidak ada perbedaan signifikan antar perlakuan dalam kelangsungan hidup dan pertumbuhan.

PENGARUH PADAT PENEBARAN YANG BERBEDA TERHADAP TINGKAT KELANGSUNGAN HIDUP DAN PERTUMBUHAN BENIH IKAN TORSORO (Tor soro)

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 3, No 4 (2012)
Publisher : Jurnal Perikanan Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.538 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui padat penebaran yang memberikan kelangsungan hidup dan pertumbuhan terbaik bagi pemeliharaan benih ikan Torsoro (Tor soro). Penelitian  ini telah dilaksanakan di Instalasi Riset Perikanan Air Tawar Cijeruk, Bogor, pada tanggal 25 Februari sampai 5 Juni 2012. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari lima perlakuan dan 3 ulangan yaitu, perlakuan A (1 ekor L¯¹), B (2 ekor L¯¹), C (3 ekor L¯¹), D (4 ekor L¯¹) dan E (5 ekor L¯¹). Hasil penelitian dianalisis menggunakan uji F dan uji jarak berganda Duncan. Parameter yang diamati adalah tingkat kelangsungan hidup, pertumbuhan dan kualitas air.  Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa padat penebaran tidak berpengaruh terhadap tingkat kelangsungan hidup, tetapi berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan (P<0,05). Perlakuan A (1 ekor L¯¹) merupakan padat penebaran yang terbaik bagi pemeliharaan benih ikan Torsoro (Tor soro) menghasilkan laju pertumbuhan bobot harian sebesar 3,80% hari¯¹, biomassa mutlak sebesar 0,39 gram, panjang mutlak sebesar 1,405 cm dan tingkat kelangsungan hidup sebesar 100%.

STRUKTUR KOMUNITAS PLANKTON DI SITU CISANTI KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT

Jurnal Akuatika Vol 4, No 1 (2013): Jurnal Akuatika
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (811.753 KB)

Abstract

Penelitian tentang struktur komunitas plankton di Danau Cisanti Kabupaten Bandung, Jawa Barat Indonesia telah dilakukan pada bulan Mei 2009 sampai Juni 2009 selama musim hujan. Metode yang digunakan adalah metode survei. Sampling plankton dilakukan pada lima stasiun dengan enam kali ulangan setiap tujuh hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas fitoplankton terdiri dari 46 genus dan zooplankton 10 genus. Bacillariophyceae memberikan kontribusi tertinggi pada kepadatan fitoplankton dan Diatoma merupakan genus yang utama. Kepadatan zooplankton Sementara tertinggi diberikan oleh Crustaceae dengan Cyclops sebagai genus yang utama. Indeks Simpson berkisar 0,305-0,616, untuk fitoplankton dan 0,468-0,746 untuk zooplankton. Sementara indeks keanekaragaman berkisar 0,384-0,695 untuk fitoplankton dan 0,254-0,532 untuk zooplankton. Berdasarkan struktur komunitas dan nutrisi plankton (NO3-dan PO4-3) konsentrasi di waduk Cisanti dikategorikan sebagai mesotrophic cenderung eutrophic.

PENGARUH PEMBERIAN DEDAK PADI HASIL FERMENTASI RAGI (Saccharomyces cerevisiae) TERHADAP PERTUMBUHAN BIOMASSA Daphnia sp

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 3, No 1 (2012): Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol 3. No. 1, Maret 2012
Publisher : Jurnal Perikanan Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.679 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian dedak padi yang telah difermentasi dengan ragi (Saccharomyces cerevisiae) terhadap pertumbuhan biomassa Daphnia sp. Penelitian ini menggunakan Metode Eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan enam perlakuan dan tiga ulangan, yaitu perlakuan A (Kontrol) 125 mg/L dedak tanpa fermentasi, perlakuan B (25 mg/L dedak hasil fermentasi), perlakuan C (50 mg/L dedak hasil fermentasi), perlakuan D (75 mg/L dedak hasil fermentasi), perlakuan E (100 mg/L dedak hasil fermentasi), dan perlakuan F (125 mg/L dedak hasil fermentasi). Daphnia sp. dikultur selama 22 hari dalam wadah toples plastik dengan volume 1 Liter. Parameter yang diamati adalah pengujian proksimat dedak hasil fermentasi, pertumbuhan populasi, pertumbuhan biomassa, dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses fermentasi oleh ragi Saccharomyces cerevisiae dapat meningkatkan nilai nutrisi dalam dedak seperti protein sebesar 4,78 % dan karbohidrat sebesar 95,71 %, serta menurunkan nilai nutrisi lipid sebesar 80,07 % dan serat kasar sebesar 17,43 %. Pemberian dedak hasil fermentasi sebesar 125 mg/L menghasilkan puncak populasi tertinggi pada hari ke-12 sebanyak 177 individu dan biomassa tertinggi dicapai pada hari ke-14 sebesar 63,1 mg.

INVENTARISASI EKTOPARASIT PADA BENIH NILEM (Osteochilus hasselti) DARI GARUT, JAWA BARAT

Jurnal Teknotan Vol 2, No 2 (2008)
Publisher : Jurnal Teknotan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui ektoparasit pada  stadia  benih ikan nilem (Osteochillus hasselti) yang terdapat di Pasar Ikan  Tarogong, Garut, Jawa Barat  . Pengamatan menggunakan metode deskriptif, dengan mengamati bagian  sisik/kulit, sirip dan insang ikan. Sampel diambil sebanyak 200 ekor  dari mulai bulan Juni sampai dengan bulan September 2007.Hasil menunjukkan bahwa ektoparasit yang ditemukan terdiri dari dua filum yaitu Protozoa (77%) dengan lima genus yaitu  Ichthyophthirius sp (36,16%), Trichodina sp (22,20%), Trichodinella sp (4,65%), Myxobolus sp ( 3,32%), Epistylis sp (0,07%)  dan filum Helminthes (23%) yang terdiri dari tiga genus yaitu Dactylogyrus sp (29,27%), Gyrodactylus sp (3,20%), Transversotrema sp (0,03%), dengan intensitas 55,48  dan Prevalensi 77%. Kata kunci: Ektoparasit, Benih nilam

Efektivitas Ekstrak Biji Pepaya Mentah (Carica papaya L.) Dalam Pengobatan Benih Ikan Nila Yang Terinfeksi Bakteri Streptococcus agalactiae

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 6, No 2(1) (2015): Jurnal Perikanan dan Kelautan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.939 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi efektif dari ekstrak biji pepaya dalam pengobatan benih ikan nila yang terinfeksi bakteri Streptococcus agalactiae sehingga dapat meningkatkan kelangsungan hidup. Benih ikan nila yang digunakan berukuran ±8 cm. Metode Penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari lima perlakuan dan tiga kali ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah perendaman dengan ekstrak biji pepaya pada konsentrasi A (0 ppm), B (50 ppm), C (100 ppm), D (150 ppm), dan E (200 ppm). Parameter yang diamati adalah gejala klinis, proses pemulihan, kelangsungan hidup, dan kualitas air. Hasil pengamatan gejala klinis, proses pemulihan dan parameter kualitas air dianalisis secara deskriptif, sedangkan kelangsungan hidup benih ikan nila dianalisis dengan menggunakan uji F pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak biji pepaya pada konsentrasi 50 ppm dan 100 ppm dengan metode perendaman 48 jam efektif dalam pengobatan infeksi bakteri Streptococcus agalactiae pada benih ikan nila dan memberikan kelangsungan hidup sebesar 64,44% dan66,66%. Pemberian ekstrak biji pepaya pada konsentrasi 100 ppm memberikan tingkat pemulihan lebih cepat pada hari ke- 13 dan menunjukkan respon pakan yang lebih cepat pada hari ke-6. Konsentrasi optimum untuk pengobatan ikan nila yang terinfeksi bakteri Streptococcus agalctiae selama 48 jam dengan metode perendaman adalah sebesar 78 ppm dengan kelangsungan hidup sebesar 70%. Kata kunci: Benih Ikan Nila Sultana, Ekstrak Daun Kecubung, Streptocococcis.

ANALISIS SANITASI DAN HIGIENEUNIT PENGOLAHAN IKAN KEP.01/MEN/2007 (STUDI KASUS PENGOLAHAN OTAK-OTAK BANDENG DI UKMP JUWITA FOOD BANDUNG)

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 8, No 2 (2017): Jurnal Perikanan dan Kelautan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.149 KB)

Abstract

Kondisi sanitasi higiene suatu usaha pangan menentukan keamanan produk.Penelitian bertujuan untuk menganalisis tingkat penerapan sanitasi dan higiene serta menganalisis cemaran mikrobiologis pada pengolahan otak-otak bandeng di UKMP Juwita Food Bandung. Data diperoleh melalui wawancara dan observasi tempat pengolahan UKMP Juwita Food Bandung menggunakan lembar penilaian kelayakan unit pengolahanikan (Modifikasi KEP.01/MEN/2007) terhadap praktek sanitasi higiene pekerja, peralatan pengolahan, bahan baku, dan produk jadi, serta pengujian mikrobiologi di laboratorium BPMHP Tangerang.Secara keseluruhan kebersihan dan kelengkapan produksidi UKMP Juita Food ini sudah cukup baik, hail uji mikrobiologi menunjukan kedua bahan baku dengan sebelum pencucian dan sesudah pencucian didapatkan hasil angka lempeng total sebanyak 1,2 x 105 koloni/g dan 1,0 x 105 koloni/g sedangkan pada produk otak-otak bandeng dihasilkan sebanyak 3,8 x 104koloni/g . Hasil dari pengujian bakteri Escherchia coli pada kedua bahan baku setelah dan sebelum pencucian yaitu < 2 MPN/g dan pada produk otak-otak bandeng < 3MPN/g, sedangkan untuk hasil pengujian Salmonella dinyatakan negatif.

Efektivitas Penambahan Ekstrak Buah Pepaya Pada Pakan Terhadap Peningkatan Kecerahan Ikan Badut (Amphiprion ocellaris)

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 6, No 2(1) (2015): Jurnal Perikanan dan Kelautan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.061 KB)

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung, dari bulan Mei sampai Juli 2015. Tujuan  penelitian ini  adalah  untuk  mendapatkan konsentrasi ekstrak  buah  papaya pada  pakan  buatan  yang  dapat meningkatkan warna terbaik pada ikan badut (Amphiprion ocellaris). Ikan yang digunakan adalah ikan badut berumur ±2 bulan dan memiliki panjang 3 cm yang diperoleh dari Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung. Ikan yang digunakan sebanyak 5 ekor dalam satu akuarium dengan kepadatan 1 ekor / 1 L. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuannya adalah dengan penambahan ekstrak buah papaya dalam pakan dengan konsentrasi 0 mg/g (perlakuan A), konsentrasi 1,25 mg/g (perlakuan B), konsentrasi 2,5 mg/g (perlakuan C), konsentrasi 3,75 mg/g (perlakuan D), dan terakhir   dengan konsentrasi 5 mg/g (perlakuan E). Parameter yang diamati meliputi tingkat kecerahan warna pada tubuh ikan yang diukur dengan menggunakan Toca Colour Finder (TCF). Hasil penelitian menunjukkan pengaruh penambahan ekstrak buah papaya tidak memberikan hasil yang signifikan terhadap tingkat kecerahan warna ikan badut (Amphiprion ocellaris). Kata Kunci : Ikan Badut, Warna, Ekstrak Pepaya

Analisis Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) Pada Makrozoobenthos Di Kawasan Mangrove Desa Pusakajaya Utara Kecamatan Cilebar Karawang

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 7, No 2 (2016): Jurnal Perikanan dan Kelautan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.899 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi logam timbal pada makrozoobenthos, di kawasan mangrove Desa Pusakajaya Utara Kecamatan Cilebar Kabupaten Karawang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Pengukuran kandungan logam berat pada air, sedimen dan makrozoobenthos dengan menggunakan metode potensiometrik. Makrozoobenthos di kawasan mangrove Desa Pusakajaya Utara yang teridentifikasi terdiri dari 5 genus yang seluruhnya tergolong dalam filum moluska dan kedalam kelas gastropoda. Kecuali 1 genus yang tergolong dalam filum arthropoda dan kedalam kelas malacostraca. Kelimpahan makrozoobenthos paling rendah berada di Stasiun 2 dengan kepadatan 171 individu/m2 dan kelimpahan tertinggi berada pada Stasiun 1 dengan kepadatan 236 individu/m2. Kandungan logam timbal pada makrozoobenthos berkisar antara 22,431 – 25,222 mg/kg secara umum lebih rendah dari kandungan logam timbal pada sedimen dengan kandungan logam timbal berkisar antara 31,897 – 36,689 mg/kg sementara kandungan logam timbal pada air berkisar antara 5,398 – 6,670 ppm.

Sebaran Logam Berat Timbal (Pb) Pada Makrozoobenthos Di Perairan Waduk Cirata, Provinsi Jawa Barat

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 7, No 1 (2016): Jurnal Perikanan dan Kelautan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.822 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai akumulasi logam timbal pada makrozoobenthos, pola persebarannya di Waduk Cirata dan mengetahui peranan makrozoobenthos dalam proses biomagnifikasi yang terjadi     di Waduk Cirata. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Pengukuran kandungan logam timbal pada sedimen dan makrozoobenthos dengan menggunakan metode AAS (Atomic Absorbtion Spectofotometer). Makrozoobenthos di Waduk Cirata yang teridentifikasi terdiri dari 9 genus yang keseluruhannya tergolong kedalam Filum Moluska dan Kelas Gastropoda. Kepadatan makrozoobenthos paling rendah berada di Stasiun Muara Cibalagung dengan kepadatan 74 individu/m2 dan kelimpahan tertinggi berada pada Stasiun Dam dengan kepadatan 267 individu/m2. Kandungan logam timbal pada makrozoobenthos berkisar antara 0,78 – 3,22 mg/kg, yang secara umum lebih rendah dari kandungan logam timbal pada sedimen yang berkisar antara 0,29 – 5,04 mg/kg sementara kandungan logam timbal pada air pada semua stasiun yaitu <0,01 ppm. Kandungan logam timbal pada sedimen Inlet Muara Citarum menurun secara perlahan hingga pada stasiun Muara Cibalagung, kemudian kembali naik pada stasiun Gandasoli dan Dam. Hal tersebut diduga akibat adanya masukan logam timbal akibat penggunaan pakan pada budidaya KJA di Waduk Cirata. Makrozoobenthos diduga tidak terlalu berperan dalam dalam proses biomagnifikasi di Waduk Cirata.