Kurniati Puji Lestari
Nursing Department, Polytechnic Health Ministry of Semarang

Published : 8 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Jurnal Link Ilmu Kesehatan

Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Sopir Truk Dengan Ims Untuk Test Hiv Di Wilayah Pantai Utara Jawa Tengah Surahmi, Fajar; Lestari, Kurniati Puji; Windiarti, Sri Endang
Jurnal LINK Vol 9, No 2 (2013): Mei 2013
Publisher : UPPM Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

As a truck driver, is a consequence of having to travel a long and tiring from the eastern end of Java samapai Jakarta. This trip is done regularly and over 3 profinsi the area of Central Java, West Java and DKI Jakarta entered. Through out the rest of the crew truck where there are female sex hawkers (WPS) which directly or indirectly coloring transactional sex to the crews truck. Supply and demand is very high in the area, so the issue of sexual behavior to be important to convey. Survey conducted by BPS and the MOH in this group in 2007 issued 5% of data that this truck crews have an STI. Research purposes Mendidkripsikan factor - factor that affect truckers IMS for HIV test. This research will be conducted descriptive analytic cross sectional design. Research places like truck stops Tegal, Batang, Pekalongan, Kendal, Semarang, Demak and Apex. Sample population and sample work was taken by sampling the total sampling technique, the sample size of approximately 47 truck drivers. Analysis of test results using ststistik with chi-square test showed that there is one variable significantly affect the HIV test is a truck driver attitudes towards HIV testing behavior, with a significance level of 5% is obtained p value 0.009, independent Variable most predominant predictor truck driver HIV test is a truck driver attitudes towards HIV testing with significant value of 0.013. Attitudes towards HIV testing truckers who do not support the Wald p value = 6,237 and the value adjusted OR or exp (B) 0, 117 means that the truck driver attitudes towards HIV testing do not support having 0.143 times the risk for contracting HIV. This research should continue because the ground was very poor, so the results of the present invention can determine the appropriate intervention to increase awareness of truck drivers to maintain her health
PELATIHAN INSTRUKTUR KLINIK : METODE PERSEPTOR DALAM PEMBELAJARAN KLINIK DI LINGKUNGAN DINAS KESEHATAN KOTA SEMARANG Lestari, Kurniati Puji; Siswanto, Joni; Sriningsih, Iis; Setyowati, Sri Eny
Jurnal LINK Vol 15, No 1 (2019): MEI 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.38 KB)

Abstract

Pembelajaran klinik merupakan kebutuhan primer dalam proses pendidikan tahap profesi ners agar lulusan mampu memberikan layanan kesehatan yang berkualitas. Pembelajaran klinik yang baik harus didukung oleh instruktur klinik yang mampu menjadi role model. Instruktur klinik berwenang dan bertanggung jawab untuk mengatur proses pembelajaran klinik di wahana praktik. Oleh sebab itu dibutuhkan pelatihan untuk meningkatkan pemahaman dan kesiapan instruktur klinik dalam melaksanakan peran dan tanggung jawabnya. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan kejelasan akan peran fungsi dan tanggung jawab instruktur klinis dalam membimbing peserta didik di tatanan klinik. Pemberian materi melalui pendidikan Pembelajaran Klinik, diskusi interaktif dan simulasi pembelajaran klinik. Strategi pembelajaran yang digunakan yaitu ceramah, metode demonstrasi untuk memberikan keterampilan tentang preceptorship dan proses evaluasi, simulasi, metode diskusi, dan pendampingan bimbingan klinik. Berdasarkan hasil evaluasi didapatkan sebagian besar peserta menyatakan tema pelatihan bagus (63,4%), ketepatan waktu cukup (49,6%), suasana bagus (60,1%), kelengkapan materi bagus (70,6%), pelayanan atau sikap penyelenggaraan bagus (61,6%), media atau alat bantu bagus (57,2%). Rerata nilai pembicara sebesar 84,85 (rentang nilai 25-100) termasuk dalam kategori baik. Rerata nilai pre-test sebesar 30,45 dan nilai post-test sebesar 45,5 (rentang nilai 0-100) dengan rerata peningkatan nilai antara pre dan post-test sebesar 10,9. Kegiatan ini dapat meningkatkan pemahaman pembimbing klinik tentang metode perseptorship dan dapat diadopsi untuk dilaksanakan di wahana praktik lain. Ketepatan waktu pelatihan perlu diperhatikan. Evaluasi kegiatan tidak hanya menilai pengetahuan instruktur klinik tetapi juga menilai sikap atau kesiapan dalam pelaksanaan metode preceptorship.