Diyah Erlina Lestari
Pusat Reaktor Serba Guna-BATAN Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan 15310,Banten Telp.021.7560908,Faks 7560573

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

WATER CHEMISTRY ANALYSIS IN RSG-GAS SECONDARY COOLING SYSTEM

SIGMA EPSILON - Buletin Ilmiah Teknologi Keselamatan Reaktor Nuklir Vol 20, No 2 (2016): November 2016
Publisher : Badan Tenaga Nuklir Nasional

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.992 KB)

Abstract

The G.A Siwabessy reactor (RSG-GAS) located in the Puspiptek area uses water as a coolant. The water as a coolant will contact directly with the component or structure of the reactor, that a chemical reac- tion between water and those components might cause the possibility of corrosion process. Therefore, cooling water quality will determine the integrity of reactor components or structures. The research described in this paper was conducted in order to monitor the quality of secondary cooling water, so that the water quality specifications is maintained and the reactor can be safely operated. One way to monitor the cooling water quality is by performing analysis into the secondary cooling water and raw water on June 6, 2016. The methodology used was by analysing the pH value using a pH-meter, conductivity value using Conductivity-meter, water hardness analysis, and analysis for some chemical elements such as Cl-, SO42-, Fe, P using calibrated Spectrophotometer DR / 2400. Corrosion rate of the carbon-steel as the piping material of secondary cooling system under environmental corrosion condition was also analyzed using the Potentiostat. From those performed analysis, the overall measured values are still below the standard values as required in the RSG-GAS safety analysis report document, meaning that the water quality management of the secondary coo- ling system has been well performed so far. 

STUDI PENGOTOR PADA PENDINGIN PRIMER REAKTOR RSG GAS SETELAH 30 TAHUN BEROPERASI

GANENDRA Majalah IPTEK Nuklir Volume 21 Nomor 1 Januari 2018
Publisher : PSTA BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.505 KB)

Abstract

ABSTRAKSTUDI  PENGOTOR PADA PENDINGIN PRIMER REAKTOR RSG GAS SETELAH  30 TAHUN BEROPERASI. Sistem pendingin primer reaktor dengan air sebagai media berfungsi sebagai pendingin, moderator dan perisai radiasi. Setelah beroperasi selama 30 tahun diduga terdapat pengotor yang mengendappada dasar kolam, yang berasal dari produk korosi teraktivasi maupun akibat kegiatan pemanfaatan reaktor. Untuk mengurangi jumlah endapan pengotor dan mengetahui jenis nuklida yang terkandung didalamnya maka dilakukan penyedotan air dasar kolam reaktor dengan pompa benam pada saat reaktor shut down di akhir teras 91. Air hasil penyedotan dicacah menggunakan Multi channel analyzer (MCA) Ortec A65-B32 Maestro-32 dengan detektor HPGe. Hasil pencacahan menunjukkan adanya nuklida Cr-51, Sb-124, Sb-125, Sc-46, Fe-59, Zn-65 dan Co-60. Endapan yang terbentuk dianalisis dengan menggunakan metode AAN. Hasil analisis endapan menunjukkan adanya kesamaan dengan nuklida yang teridentifikasi dalam sampel air hasil penyedotan. Beberapa jenis unsur yang sama juga teridentifikasi dalam air bekas pencucian batu topaz pra iradiasi.  Hasil pemantauan rutin  terhadap kualitas air pendingin menunjukkan bahwa aktivitas nuklida yang teridentifikasi masih berada dibawah nilai yang tercantum dalam dokumen Laporan Analisis Keselamatan. Ini disebabkan karena  sistem purifikasi yang berfungsi dengan baik. Namun demikian penyedotan secara berkala perlu dilakukan untuk mengurangi pengotor yang mengendap didasar tangki kolam reaktor, disamping itu perlu diperhatikan pula proses pencucian batu topaz pra iradiasi sesuai dengan prosedur yang ditetapkan  untuk memperkecil kemungkinan terbentuknya pengotor dalam sistem pendingin primer. Kata Kunci : Pendingin primer, reaktor,  pengotor, produk korosi.

Pengaruh Bioksida Pengoksidasi Terhadap Pertumbuhan Mikroorganisme Pada Air Pendingin Sekunder RSG-GAS

Jurnal Forum Nuklir JFN Vol 4 No 2 November 2010
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1045.622 KB)

Abstract

Sistem Pendingin sekunder RSG-GAS merupakan sistem air pendingin sirkulasi ulang terbuka. Salah satu permasalahan yang timbul pada sistem air pendingin resirkulasi terbuka adalah pertumbuhan mikroorganisme. Untuk mengendalikan pertumbuhan mikroorganisme pada sistem pendingin sekunder RSG-GAS ditambahkan bahan kimia bioksida pengoksidasi dan dilakukan pemantauan terhadap pertumbuhan mikroorganisme pada air sistem pendingin.sekunder Pemantauan pertumbuhan mikroorganisme dilakukan dengan jalan penentuan jumlah total bakteri pada sistem pendingin sekunder dengan menggunakan dipslide test. Dari hasil pemantauan menunjukan bahwa pertumbuhan mikroorganisme pada air pendingin sekunder lebih cepat pertumbuhannya pada saat sistem pendingin sekunder tidak beroperasi dan akan mengalami penurunan pertumbuhannya setelah penambahan bioksida pengoksidasi,.

Analisis korosi pipa pendingin sekunder RSG - GAS dengan teknik electrochemical impedance spectroscopy (EIS)

Urania Jurnal Ilmiah Daur Bahan Bakar Nuklir Vol 24, No 2 (2018): Juni, 2018
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1074.921 KB)

Abstract

ANALISIS KOROSI PIPA PENDINGIN SEKUNDER RSG-GAS DENGAN TEKNIK ELECTROCHEMICAL IMPEDANCE SPECTROSCOPY (EIS). Reaktor serba guna G.A. Siwabessy menggunakan sistem pendingin sekunder untuk mengambil panas yang dihasilkan dari reaksi fisi uranium dalam reaktor. Material pipa pendingin termasuk jenis baja karbon. Media pendingin sekunder berupa air yang disuplai dari Puspiptek. Upaya untuk memperpanjang umur pakai pipa tersebut maka pada media pendingin air dimasukan senyawa kimia ZnPO4 sebagai inhibitor korosi. Analisis korosi pipa sekunder tersebut dilakukan dengan pengujian korosi dengan metode EIS dan tafel. Pengujian korosi secara elektrokimia tersebut dengan sel tiga elektroda dalam media air, larutan HCl 0,05 M dan larutan NaCl 3%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan konsentrasi inhbitor yang optimum yang ditambahkan dalam pendingin sekunder dan menentukan mekanis inhibisi serta efisiensi inhibitornya. Pengujian EIS dilakukan dalam rentang frekuensi 100 kHz sampai 0,02 Hz. Hasil pengujian dalam media HCl 0,05 M menunjukkan adanya perubahan parameter listrik seperti Rct, Cdl dan Rs. Hambatan Rct semakin besar dengan meningkatnya konsentrasi inhibitor. Pada konsentrasi inhibitor 90 ppm menghasilkan nilai Rct paling besar yaitu 81,16 ohm. Efisiensi penambahan inhibitor menghasilkan nilai maksimal sebesar 66,46% pada konsentrasi 90 ppm. Inhibitor kerak menjadi lebih efektif jika ditambahkan sedikit inhibitor lumut. Inhibitor campuran yang terdiri dari inhibitor lumut 20 ppm dan kerak 80 ppm dapat menurunkan laju korosi baik dalam media air maupun NaCl 3%. Nilai Rct inhibitor campuran dalam media air mencapai 2082 ohm dengan efisiensi 71% dan dalam larutan NaCl 3% sebesar 1403 ohm dengan efisiensi 75%. Laju korosi pada sampel dalam media NaCl 3% tanpa inhibitor, inhibitor lumut dan inhibitor kerak diperoleh berturut-turut 3,975, 3,576 dan 3,215 mpy. Hasil uji korosi menunjukkan bahwa inhibitor kerak mampu menurunkan laju korosi sedangkan Inhibitor lumut mempunyai fungsi utama bukan menurunkan laju korosi.  Kata kunci: korosi, pipa pendingin sekunder, EIS, inhibitor.