Ery Leksana
Unknown Affiliation

Published : 20 Documents
Articles

Found 20 Documents
Search

Perbedaan Jumlah Bakteri Trakhea pada Tindakan Oral Hygiene Menggunakan Chlorhexidine dan Povidone Iodine pada Penderita dengan Ventilator Mekanik Dewi, Fitri Hapsari; Pujo, Jati Listiyanto; Leksana, Ery
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 4, No 2 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Background: pneumonia is a nosocomial infection that often occurs. Pneumonia can be caused by bacterial colonization in the trachea due to aspiration of upper respiratory tract bacteria. Oral hygiene in the upper respiratory tract can decrease the number of bacteria.Objective: To find the differences in decrease in the number of tracheal bacteria with oral hygiene chlorhexidine 0.2% and povidone iodine 1% on patients with mechanical ventilator.Methods: A randomized clinical control trial study on 30 patients with mechanical venti-lator. Patients were divided into 2 groups (n=15), group 1 using chlorhexidine 0.2% and group 2 using povidone iodine 1%. Each group was given oral hygiene every 12 hours for 48 hours. Each group was taken of tracheal secretions before and after treatment, for later examination counting the number and types of bacteria. Statistics using the Wil-coxon test and Mann-Whitney test (with degrees of significance <0.05).Results: This study found a decrease the number of bacteria trachea in chlorhexidine group 78.99 ± 69.105 (significant difference p=0.04) more than in the povidone iodine group 24.91 ± 104.764 (not significantly different p=0.75). While the comparative differ-ence in the two groups of test results obtained p=0144 (not significantly different).Conclusion: The decrease in the number of tracheal bacteria on oral hygiene with chlor-hexidine 0.2% was not different from povidone iodine 1%Keywords : chlorhexidine 0.2%, povidone iodine 1%, the number of tracheal bacteria, oral hygiene, mechanical ventilator.ABSTRAKLatar belakang: Pneumonia merupakan infeksi nosokomial yang sering terjadi. Pneumo-nia dapat disebabkan karena kolonisasi bakteri di trakhea karena aspirasi bakteri salu-ran nafas atas. Tindakan oral hygiene pada saluran nafas atas dapat menurunkan jumlah bakteri.Tujuan: Untuk mengetahui adanya perbedaan penurunan jumlah bakteri trakhea pada tindakan oral hygiene dengan chlorhexidine 0,2% dan povidone iodine 1% pada penderita dengan ventilator mekanik.Metode: Merupakan penelitian randomized clinical control trial pada 30 penderita den-gan ventilator mekanik. Penderita dibagi menjadi 2 kelompok (n=15), kelompok 1 meng-gunakan chlorhexidine 0,2% dan kelompok 2 menggunakan povidone iodine 1%. Masing -masing kelompok diberikan oral hygiene tiap 12 jam selama 48 jam. Tiap kelompok diambil sekret dari trakhea sebelum dan setelah perlakuan, untuk kemudian dilakukan pemeriksaan hitung jumlah dan jenis bakteri. Uji statistik menggunakan Wilcoxon dan Mann-Whitney test ( dengan derajat kemaknaan < 0,05 ).Hasil: Pada penelitian ini didapatkan penurunan jumlah bakteri trakhea pada kelompok chlorhexidine sebesar 78,99±69,105 ( berbeda bermakna p=0,04 ) lebih banyak bila dibandingkan pada kelompok povidone iodine 24,91±104,764 ( berbeda tidak bermakna p=0,75). Sedangkan pada uji selisih komparatif dua kelompok didapatkan hasil berbeda tidak bermakna ( p=0.144 ).Simpulan: Penurunan jumlah bakteri trakhea pada tindakan oral hygiene dengan chlor-hexidine 0,2% tidak berbeda bermakna dengan povidone iodine 1%
Perbedaan Pengaruh Pemberian HES 6 % Dalam Larutan Berimbang Dengan HES 6 % Dalam Larutan Nacl 0,9 % Terhadap Perubahan pH, Strong Ion Difference Dan Klorida Pada Pasien Bedah Sesar Dengan Anestesi Spinal A, Suriyadi; Harahap, Mohamad Sofyan; Leksana, Ery
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 4, No 1 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Background : Colloid administration as preload on caesarian section with spinal anesthesia is more effective than crystalloid administration. Colloid solvent-based-on administration has been improved due to the effect of acid-base balance.Purpose : To analyze the effect of HES 6% in balance solution and HES 6% in NaCl 0,9% solution on pH, SID and chloride change in caesarian section delivery with spinal anesthesia.Methode : This is second stage experimental clinical trial, double blind randomized with consecutive sampling, divided into two groups (n=24), HES 6% in balance solution and HES 6% in NaCl 0,9% solution. T-test or Wilcoxon Signed Rank Test was performed to compare pH, SID and chloride level in each group whereas Independent t-test or Mann Whitney U-test was used to compare both.Result : There was no significant difference on pH, SID and chloride level after administration of HES 6% in balance solution and HES 6% in NaCl 0,9% on caesarian section.Conclusion : There is increasing on chloride concentration not significantly after administration of HES in NaCl 0,9% solution, while pH and SID decrease after the administration of two solution.Keywords : HES 6%, balance solution, NaCl 0,9% solution, pH, SID, chloride levelABSTRAKLatar belakang penelitian : Pemberian koloid sebagai preload pada bedah sesar dengan anestesi spinal lebih efektif dibandingkan kristaloid. Kebijakan pemilihan koloid berdasarkan jenis pelarutnya mulai dikembangkan terkait dengan dampak terhadap keseimbangan asam-basa.Tujuan : Melihat perbedaan pengaruh pemberian preload HES 6% dalam larutan NaCl 0,9% dengan HES 6% dalam larutan berimbang terhadap perubahan pH, SID dan kadar klorida pada pasien bedah sesar dengan anestesi spinal.Metode : Merupakan uji klinik eksperimental tahap II yang dilakukan secara acak tersamar ganda, menggunakan consecutive sampling, dibagi dua kelompok (n=24), kelompok HES 6% dalam larutan berimbang dan HES 6% dalam larutan NaCl 0,9%. Uji statistik t-test atau Wilcoxon signed rank test digunakan untuk membandingkan nilai pHSID, dan kadar klorida pada masing-masing kelompok, sedangkan uji statistik antarkelompok digunakan independent t-test atau Mann-Whitney U-test.Hasil : Nilai pH, SID, dan kadar klorida sebelum dan sesudah operasi antara NaCl 0,9% terdapat perbedaan yang tidak bermakna (p&gt;0,05)Kesimpulan : Terdapat penurunan pH, penurunan SID dan peningkatan kadar klorida pada kelompok HES 6% dalam larutan NaCl 0,9% dibandingkan HES 6% kelompok HES 6 % dalam larutan berimbang dan HES 6% dalam larutan terdalam larutan berimbang secara tidak bermakna.
Natrium Laktat Hipertonik dan Strong Ions Difference (SID) Pada Pasien Sectio Caesaria Nurastadila, Tutus; Leksana, Ery; Budiono, Uripno
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 3 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Backgrounds: Fluid therapy is an important part of peri -operative patient management. An adequate plasma volume is important to maintain cardiac output and tissue perfusion. In pregnant women, there is retention of sodium and potassium during pregnancy, but the whole concentration of these serum electrolytes decreases because of water retention which results in hemodilution. Until now, volume of hemorrhage is replaced based on the amount of blood loss, without considering the acid-base balance. Considering the acid-base balance will help post operative patient management. Objectives: to prove that hypertonic sodium lactate solution is better than Haes-sterile 6% in maintaining Stewart acid base balance in sectio caesarean. Methods: This is an experimental study. It is a 2 nd phase clinical study to know the efficacy of hypertonic sodium lactate solution and Haes-sterile 6% on strong ions difference (SID) based on Stewart method. There are 48 samples, divided into two groups. LH groups are patients with 250 ml hypertonic sodium lactate solution and Haes group are patients with 500 ml Haes-sterile 6%, during sectio caesarean. Venous blood is taken wore and after surgery. The noted variables used for statistical analysis which are included in the objectives of the study are the concentration of serum electrolyte. These variables are tested using independent t-test and paired t-test, with the significance level a = 0,05. Result: SID in hypertonic sodium lactate group before and after sectio caesarean surgery increased significantly, p=0,000 (p &lt;0,05). SID in Haes group before and after sectio caesarean surgery decreased significantly, p=0,000 (p &lt; 0,05). Conclusion: The use of hypertonic sodium lactate solution can maintain post operative SID up to its normal value, compared with the use of Haes-sterile 6% which is decreasing SID.Keywords : Hypertonic sodium lactate, Haes-sterile 6%, strong ions difference (SID)ABSTRAKLatar belakang: Tatalaksana cairan merupakan bagian penting penanganan pasien pada masa perioperatif. Volume plasma yang adekuat penting untuk mempertahankan curah jantung dan seterusnya perfusi jaringan. Pada wanita hamil terjadi penumpukan natrium dan kalium selama kehamilan, akan tetapi secara kesuluruhan konsentrasi elektrolit -elektrolit tersebut menurun karena terjadi retensi cairan yang menyebabkan hemodilusi. Selama ini, volume perdarahan yang terjadi diganti berdasarkan jumlah yang keluar tanpa memperhatikan keseimbangan asam-basa. Dengan memperhatikan keseimbangan asam-basa, akan sangat membantu dalam mengelola pasien paska operasi. Tujuan: Untuk membuktikan bahwa cairan sodium laktat hipertonik lebih baik dibanding cairan haes-steril 6% dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa Stewart dalam tindakan operasi sectio caesaria. Metode: Penelitian ini termasuk eksperimental berupa uji klinik tahap 2 bertujuan untuk mengetahui efektifitas pemberian cairan sodium laktat hipertonik dan infus haes-steril 6% terhadap strong ions difference (SID) yang berdasarkan metode Stewart. Sampel berjumlah 48 pasien dibagi dalam 2 kelompok yaitu kelompok LH mendapat sodium laktat hipertonik 250 ml dan kelompok Haes mendapat Haes-steril 6% 500 ml, selama operasi sectio caesaria. Darah vena diambil sebelum operasi dan setelah operasi. Data -data yang dicatat untuk perhitungan statistik yang termasuk dalam tujuan penelitian ini adalah kadar elektrolit. Uji statistik menggunakan independent t-test dan paired t-test, dengan derajat kemaknaan a = 0,05. Hasil: SID pada kelompok sodium laktat hipertonik sebelum dan sesudah operasi sectio caesaria mengalami kenaikan yang bermakna p=0,000 (p &lt;0,05). SID pada kelompok Haes sebelum dan sesudah operasi sectio caesaria mengalami penurunan yang bermakna p=0,000 (p &lt; 0,05). Simpulan : Pemberian infus sodium laktat hipertonik dapat mempertahankan SID paska operasi dimana SID meningkat menuju nilai normal dibandingkan infus Haes-steril 6% yang mengalami penurunan nilai SID.Kata kunci : Sodium laktat hipertonik, Haes-steril 6%, strong ions difference (SID)
Monitoring Kardiovaskuler pada Pediatric Intensive Care Rusmaladewi, Aprilina; Leksana, Ery; Nurcahyo, Widya Istanto
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 3 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Anesthesia plays an important role on the development of the Pediatric Intensive care because anestesiologist knowledge and skills in managing the airway and breathing, circulation and vascular access monitoring. Pediatric Anesthesia is also a leader in the management of childhood respiratory and intensive care. Anesthesia knowledge and skills in acute and emergency in the operating room and the skills to provide basic life su pport to make a lot of anesthetic to be a leader in the PICU.Keywords : -ABSTRAKAnestesi memegang peranan penting terhadap perkembangan Pediatric Intensive care karena ilmu pengetahuan dan keterampilan anestesiologist dalam mengelola jalan nafas dan pernafasan, monitoring sirkulasi dan akses vaskular. Pediatric Anestesi juga menjadi leader pada pengelolaan pernafasan pada anak dan intensive care. Ilmu pengetahuan anestesi dan keterampilan pada keadaan akut dan emergensi di dalam ruang operasi dan keterampilan dalam memberikan bantuan hidup dasar menjadikan anestesi menjadi leader di banyak PICU.Kata kunci : -
Pengelolaan Pasca Operasi dan Rawat Intensif pada Pasien Trauma ., Rindarto; Pujo, Jati Listiyanto; Leksana, Ery
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 1 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Postoperative management of trauma patients in the ICU on patient outcomes is critical, because with good management in ICU trauma patient survival rate is higher. Management of trauma patients in the ICU is primarily focused on the management of hypothermia, coagulopathy, acidosis, and abdominal compartment syndrome, ARDS, it is because of these factors is the leading cause of death in the first hours after trauma.Keywords : -ABSTRAKPengelolaan pasca operasi di ICU pada pasien trauma sangat menentukan hasil akhir pasien, karena dengan pengelolaan yang baik di ICU, tingkat survival pasien trauma menjadi lebih tinggi. Pengelolaan pasien trauma di ICU terutama difokuskan pada pengelolaan hipotermi, koagulopati, asidosis, sindrom kompartemen abdomen dan ARDS, hal ini karena faktor-faktor tersebut merupakan penyebab utama kematian pada jam-jam pertama pasca trauma.Kata kunci : -
Perbedaan Pengaruh Pemberian Etomidate Dan Penthotal Terhadap Agregasi Trombosit Hadi, Noor; Satoto, Hari Hendriarto; Leksana, Ery
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 3 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Background: Perioperative bleeding is frequently found in a surgery, while anesthesia agent for induction (etomidate and penthotal) influences inhibition of thrombocyte aggregation.Aim of study: to define the difference between etomidate and penthotal effect towards thrombocyte aggregation.Methods: This experimental research included 43 subjects who received general anesthesia. Subjects were divided in two groups subsequently, Group I (n=23) received intravenous etomidate 0,3mg/kgBW, while group II (n=20) received intravenous penthothal 5 mg/kgBW. Blood samples were drawn from each patient 5 minutes before and 5 minutes after induction. Trombocyte aggregation test were performed in Clinical Pathology Laboratory afterwards to all samples using ADP 10, 5, and 2 µM as inductor. Paired t-test and independent t-test were performed as statistical analysis (with p&lt;0,05 considered as significant).Results: ADP 10 µM is the most sensitive inductor in detecting hypoaggregation. The differences in maximum thrombocyte aggregation percentage between before and after administration of anesthetic agents are significant in both group, with p value 0,000 respectively. Trombocyte aggregation percentage post intervention on group I (66,0±8,9) is significantly different compared to group II (77,9±6,8), with p value 0,000. Substraction between post and pre intervention trombocyte aggregation percentage between group I (14,7±3,9) was also significantly different compared to group II (3,6 ± 3,2), with p value 0,000. Hypoaggregation was found in 14 from 23 patients at group I, and I from 20 patients at group II.Conclusions: Intravenous etomidate 0,3mg/kgBB and penthotal 5mg/kgBB were both causing significant decrease in trombocyte aggregation, however etomidate caused more significant decrement in thrombocyte aggregation compared to penthotal. Besides, hypoaggregation was also more common to be found in etomidate group.Keywords : Etomidate, Penthothal, ADP, Trombocyte aggregationABSTRAKLatar Belakang: Perdarahan perioperatif sering dijumpai dalam setiap operasi. Penggunaan obat anestesi induksi (etomidat dan pentotal) berpengaruh dalam menghambat agregasi trombosit.Tujuan: untuk mengetahui perbedaan pengaruh etomidat dan pentotal terhadap agregasi trombosit.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental pada 43 pasien yang mendapat anestesi umum. Subjek selanjutnya dibagi menjadi dua kelompok, dengan kelompok I mendapatkan etomidat dosis 0,3mg/kgBB intravena, sedang kelompok II (n=20) mendapatkan penthothal dosis 5mg/kgBB intravena. Sampel darah pasien pada kedua kelompok diambil 5 menit sebelum dan 5 menit sesudah induksi. Semua spesimen dibawa ke Laboratorium Patologi Klinik untuk dilakukan pemeriksaan Tes Agregasi Trombosit dengan ADP 10, 5, dan 2 µM sebagai induktor. Uji statistik menggunakan paired t-test dan independent t-test (dengan p&lt; 0,05 dianggap signifikan).Hasil: ADP 10 µM merupakan induktor yang paling sensitif dalam mendeteksi hipoagregasi. Pada penggunaan ADP 10 µM sebagai induktor didapatkan perbedaan persentase agregasi maksimal trombosit yang bermakna antara sebelum dan sesudah pemberian etomidat maupun pentotal dengan nilai p masing-masing 0,000. Persentase agregasi trombosit pasca perlakuan pada kelompok I (66,0±8,9) berbeda bermakna dengan kelompok II (77,9±6,8), dengan nilai p 0,000. Selisih persentase agregasi trombosit sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok I (14,7±3,9) juga berbeda bermakna dengan kelompok II (3,6±3,2), dengan nilai p 0,000. Hipoagregasi ditemukan pada 14 dari 23 pasien pada kelompok I, dan 1 dari 20 pasien pada kelompok II.Kesimpulan: Etomidat 0,3mg/kgBB intravena dan pentotal 5mg/kgBB intravena menyebabkan penurunan agregasi trombosit yang bermakna, namun penurunan agregasi trombosit pada kelompok etomidat lebih rendah secara bermakna dibandingkan pentotal, selain itu lebih banyak pasien dari kelompok etomidat yang mengalami hipoagregasi.
Magnesium Sulfat Intravena, Derajat Nyeri dan Kebutuhan Opioid Pasca Operasi Nasution, Husni Riadi; Leksana, Ery; Sutiyono, Doso
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 3 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Background: Over 70% of patients experiencing pain after surgery, and 80% of this patient suffered severe pain for the Hospital care. The magnesium as NMDA antagonists in theory can blokade the making process of central sensitization. Giving magnesium is expected to reduce the degree of preoperative pain and opioid requirements after surgery. Methods: This study was an experimental study post test only controlled randomized design. Twenty -six patients underwent the elective oncology surgery using general inhalation anesthesia in the hospital dr. Kariadi Semarang, met the inclusion and exclusion criteria were divided into two group. Vital signs recorded pre surgery. MgSO 4 group (I) were given MgSO 4 50 mg / kg in 250 ml saline before incision, the control group (II) were given 250 mL NaCl 0.9%. premedication midazolam 0.07 mg / kg iv, 10 mg iv metoclopramid, sulfas atropine 0.01 mg / kg. induction tiopental 5 mg / kg, atrakurium 0.5 mg / kg, fentanyl 2 mcg / kg, then intubation. Maintenance of anesthesia N2O: O2 = 50%: 50%, enfluran 0.8% -1.5%, atracurium intermittent. After the operation complete patient were extubated , and observed in the recovery room. When pain scores or Visual Analog Scale (VAS) &gt; 3 cm is given meperidine 0.5 mg / kg iv. Vital signs recorded post -surgery, every 4 hours for 24 hours. In the ward were given analgesics meperidine 0.5 mg / kg if VAS &gt; 3 cm. Total meperidine requirement and the side effects occurred were recorded. Statistics Test for VAS used T-Test, while the need for opioids used Mann-Whitney. Result: The degree of pain and the needs of both groups significantly different (p&gt;0,05) Thinning MgSO4 administration significantly affected the degree of pain and opioid requirements aftersurgery. Conclusion: MgSO4 admission do not significant influence pain scale an opioid needs during postoperative period.Keywords : MgSO4 , VAS, opioid, postoperative pain, NMDA antagonist.ABSTRAKLatar belakang: Lebih dari 70% pasien paska operasi mengalami nyeri, dan 80% dari pasien ini mengalami nyeri yang berat selama perawatan di rumah sakit. Magnesium yang bersifat sebagai antagonis NMDA secara teori dapat meblokade proses sensitisasi sentral. Pemberian magnesium preoperatif diharapkan dapat mengurangi derajat nyeri dan kebutuhan opioid paska operasi. Metode: merupakan jenis penelitian eksperimental randomized post test only controlled group design. Dua puluh enam pasien yang menjalani operasi elektif bedah onkologi dengan anestesi umum inhalasi di RS dr. Kariadi Semarang, memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dibagi dalam dua kelompok. Dicatat tanda vital pra bedah. Kelompok MgSO 4 (I) diberi MgSO4 50 mg/kgBB dalam NaCl 250 mL sebelum insisi, kelompok kontrol (II) diberi NaCl 0,9% 250 mL. Premedikasi dengan midazolam 0,07 mg/kgBB iv, metoclopramid 10 mg iv, sulfas atropin 0,01 mg/kgBB. Induksi dengan Tiopental 5 mg/kgBB, atrakurium 0,5 mg/kgBB, fentanil 2 mcg/kgBB, lalu dilakukan intubasi. Rumatan anestesi dengan N 2 O:O2 =50%:50%, enfluran 0,8% - 1,5%, atrakurium intermiten. Selesai operasi pasien diekstubasi, dilakukan observasi di ruang pemulihan. Bila skor nyeri atau nilai Visual Analog Scale (VAS) &gt; 3 cm diberikan meperidin 0,5 mg/kgBB iv. Dicatat tanda vital paska bedah, setiap 4 jam selama 24 jam. Di bangsal diberi analgetik meperidin 0,5 mg/kgBB bila VAS &gt; 3 cm. Dicatat jumlah total kebutuhan meperidin. Efek samping yang terjadi dicatat. Uji statistik untuk VAS digunakan T-Test, sedangkan kebutuhan opioid dengan Mann-Whitney. Hasil: Derajat nyeri dan kebutuhan antara kedua kelompok berbeda tidak bermakna (p&gt;0,05) Kesimpulan: pemberian MgSO 4 tidak signifikan mempengaruhi derajat nyeri dan kebutuhan opioid paska operasi.Kata kunci : MgSO4 , VAS, opioid, derajat nyeri setelah operasi, antagonis NMDA
ANGKA KEJADIAN PNEUMONIA PADA PASIEN SEPSIS DI ICU RSUP DR.KARIADI SEMARANG Rahmawati, Fida Amalina; Leksana, Ery
MEDIA MEDIKA MUDA Vol 3, No 1 (2014): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar belakang : Angka kejadian pneumonia dan sepsis meningkat setiap tahunnya dan membutuhkan biaya besar untuk perawatannya. Mortalitas dan morbiditas pasien pneumonia dan sepsis masih tinggi di negara berkembang. Hal ini merupakan masalah medik, sosial dan ekonomi terutama di negara berkembang sepert di Indonesia dimana penduduknya sebagaian besar memiliki pendapatan terbatas untuk membiayai perawatan.Tujuan : Mengetahui dan mendapatkan data angka kejadian pasien Pneumonia pada pasien Sepsis di ICU dan HCU RSUP dr. Kariadi Semarang periode 1 Januari – 31 Desember 2013.Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Sampel penelitian ini adalah pasien sepsis yang mengalami pneumonia di rawat di ICU RSUP dr. Kariadi pada periode 1 Januari – 31 desember 2013. Data diperoleh dari catatan rekam medik di Instalasi Rekam Medik RSUP dr. Kariadi.Hasil : Didapatkan 126 pasien sepsis dan ditemukan diantaranya 53 pasien sepsis menderita pneumonia di ICU. Dari jumlah data tersebut terdapat 46 pasien (86.8%) meninggal dan 7 pasien (13.2%) hidup. Berdasarkan karakteristik umur pasien sepsis yang menderita pneumonia terbanyak berusis lanjut usia dan dewasa tua, dengan jumlah 22 pasien (41.5%). Indikasi masuk ICU terbanyak adalah penurunan kesadaran sebanyak 22 pasien (41.5%). Jenis pembiayaan yang paling banyak adalah biaya pribadi sebesar 32 pasien (60.4%). Untuk rentang skor APACHE II , terbanyak pada rentang skor 16-20 pada 16 pasien (30.2%).Kesimpulan : Berdasarkan catatan rekam medik di RSUP dr. Kariadi dari 1 Januari – 31 Desember 2013 diperoleh 126 pasien sepsis dan ditemukan 53 pasien (42%) sepsis yang menderita pneumonia di ICU diantaranya 46 pasien (86.8%) meninggal dan 7 pasien (13.2%) hidup.
PERBEDAAN PENGARUH PEMBERIAN INFUS HES DENGAN BERAT MOLEKUL 40 KD DAN 200 KD TERHADAP MEAN ARTERIAL PRESSURE:Kajian Pada Pasien Dengan Perdarahan Sampai 20% Estimated Blood Volume Wijdani, Dini Hisan; Leksana, Ery
MEDIA MEDIKA MUDA Vol 3, No 1 (2014): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar Belakang: Kasus perdarahan yang banyak terjadi membutuhkan cairan pengganti, dan salah satu cairan yang paling banyak digunakan antara lain koloid HES.HES dengan berat molekul besar memiliki efek hemodinamik lebih baik.Mean Arterial Pressure merupakan penanda hemodinamik yang dapat digunakan untuk menentukan perfusi jaringan.Tujuan: Membuktikan adanya perbedaan Mean Arterial Pressure pada pasien yang diberi larutan HES 40 kD dan HES 200 kD pada pasien yang menjalani operasi dengan perdarahan sampai 20% EBV.Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional retrospektif. Kelompok penelitian dibagi menjadi 2 kelompok secara acak, masing-masing 23 pasien. Grup 1 diberi HES 40 kD dan grup 2 diberi HES 200 kD dan mencari data dari catatan medik. Data yang dikumpulkan adalah karakteristik pasien, tekanan darah sistolik dan diastolik, serta nilai Mean Arterial Pressure.Analisis data statistik menggunakan SPSS.Hasil: Tidak terdapat perbedaan signifikanpada pengukuran menit ke-0 dan ke-30 antara HES 40 kD dan 200 kD terhadap nilai Mean Arterial Pressure dengan nilai p = 0,24 pada menit ke-0 dan p = 0,28 pada menit ke-30 (p &gt; 0,05).Kesimpulan:Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara HES 40 kD dan 200 kD terhadap nilai Mean Arterial Pressure.
Perbedaan Pengaruh HES 6% (200) Dalam NaCl 0,9% dan Dalam Larutan Berimbang pada Base Excess dan Strong Ion Difference Pasien Seksio Sesaria dengan Anestesi Spinal Hasyim, Djatun; Samodro, Ratn; Sasongko, Himawan; Leksana, Ery
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 2 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Background : On cesarean section with spinal anesthesia, colloid administration aspreload is more effective than crystalloid. This preload using colloid with its differentsolvent has its own effect to the acid base balance. Therefore the use of colloid-solvent-based-on is being improved. Objectives : to analyze the effect of HES 6% in balanced solution with HES 6% in NaCl0,9% on Base Excess (BE) and Strong Ion Difference (SID) on cesarean sectionpatients with spinal anesthesia.Method: this is an experimental clinical trial, double blind randomized withconsecutive sampling, divided into two groups (n=12), HES 6% in balanced solutionand HES 6% in NaCl 0,9%. Statistical analysis were performed with SPSS forWindows version 16. Result : Group HES 6% in NaCl 0,9% has significant difference for BE before andafter administration (p < 0,05). While BE before and after administration on HES 6%in balanced solution has insignificant difference (p > 0,05). Group HES 6% in NaCl0,9% has significant difference for SID before and after administration (p < 0,05).While SID before and after administration on HES 6% in balanced solution hasinsignificant difference (p > 0,05). Conclusion : there are significant declination of BE and SID on group of HES 6% inNaCl 0,9% than on group of HES 6% in balanced solution.  Latar belakang : Pada bedah sesar dengan anestesi spinal, pemilihan koloid sebagaicairan preload lebih efektif ketimbang kristaloid. Pemberian cairan koloid denganpelarut yang berbeda sebagai preload ini memiliki dampak terhadap keseimbanganasam basa tubuh. Sehingga pemilihan koloid berdasarkan pelarutnya mulaidipertimbangkan. Tujuan : Melihat pengaruh pemberian HES 6% dalam larutan berimbang dengan HES6% dalam NaC1 0,9% terhadap Base Excess (BE) dan Strong Ion Difference (SID)pada pasien bedah sesar dengan anestesi spinal. Metode : Merupakan uji klinik eksperimental yang dilakukan secara acak tersamarganda, dengan consecutive sampling, dibagi menjadi 2 kelompok (n=12) yaitukelompok HES 6% dalam larutan berimbang dan HES 6% dalam NaC1 0,9%. Ujistatistik untuk membandingkan nilai BE dan SID pada masing-masing kelompokmenggunakan SPSS for Windows versi 16. Hasil : Nilai BE sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok HES 6% dalam NaCI0,9%, memiliki perbedaan yang bermakna (p < 0,05). Sedangkan nilai BE sebelumdan sesudah perlakuan pada kelompok HES 6% dalam larutan berimbang memilikiperbedaan yang tidak bermakna (p > 0,05). Nilai SID sebelum dan sesudah perlakuanpada kelompok HES 6% dalam NaC1 0,9%, memiliki perbedaan yang bermakna (p0,05). Sedangkan nilai SID sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok HES 6%dalam larutan berimbang memiliki perbedaan yang tidak bermakna (p > 0,05). Kesimpulan : Terdapat penurunan BE dan SID secara bermakna pada kelompok HES6% dalam NaC1 0,9% dibanding pada kelompok HES 6% dalam larutan berimbang.