Restu Lanjari
Department of Drama, Dance and Music, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Semarang, Semarang, Indonesia Jl. Taman Siswa, Sekaran, Gunung Pati, Semarang, Jawa Tengah 50229

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

Kethoprak Humor: Kajian Kerja Sama dalam Dialog Antarpemain dalam Membentuk Cerita Ketoprak Gobyok H.M. Syakirun Lakon "Jaka Kendhil" (Humour Ketoprak: Joint Reseachn in Inter Player Dialogue in Forming Kethoprak Gebyok H.M Syakiran Tittle "Joko Kendil")

Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 8, No 2 (2007)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di tengah maraknya jenis hiburan modern seperti sinetron, ketoprak sebagai salah satubentuk kesenian tradisional tak pelak harus bersaing dengan jenis hiburan moderntersebut untuk memperoleh perhatian di hati masyarakat. Terutama karena adanyaperubahan selera masyarakat terhadap kesenian tradisional semacam ketoprak Keseniantradisional memang harus berkompromi dan beradaptasi agar bisa bertahan. Ketoprak Humor,Ketoprak Canda, Ketoprak Jampi Stres, atau Ketoprak Plesetan relatif berhasil melakukannyamelalui televisi. Agar tontonan ini tidak cepat membosankan, maka pihaknyamembalutnya dengan humor segar. Apa yang dilakukan Kethoprak Humor ini menjadiinspirasi bagi Kethoprak Gobyok pimpinan H.M. Syakirun, yakni mengemas kethoprakdengan menonjolkan sisi humor, hanya saja Kethoprak Gobyok masih memakai bahasaJawa sebagai media penyampai pesannya. Kethoprak sebagai sebuah teater tradisionalterikat oleh hukum panggung. Hukum panggung ini menyangkut bagaimana akting diahirsecara baik dan bagaimana dialog mampu menjadi sarana untuk menyampaikan lakonkepada penonton. Agar dialog dapat benar-benar hadir secara baik sehingga penontondapat menikmati cerita secara uttth perlu ada kerjasama yang baik antarpemain. Namundemikian pada praktiknya Prinsip Kerja Sama yang terjaUn bagus dalam kethoprak padaumumnya, dalam konteks kethoprak humor justru sering dilanggar. Hal ini dilakukanuntuk menciptakan efek humor, penciptaan efek humor ini dilakukan dengan caramelanggar kebenaran dan melanggar kelaziman. Namun demikian, meski menonjolkansisi humor, Kethoprak Gobyok masih berusaha menjaga agar alur cerita tidakmenyimpang, dan humor yang dilontarkan tidak mengganggu dialog antarpemain. Hal inimembuktikan bahwa kerjasama sangat penting untuk dipatuhi dalam membentuk ceritakethoprak, sementara itu pelanggaran dilakukan untuk memberi sentuhan-senUihan humordalam rangka menarik minat penonton.Kata Kunci: dialog, kethoprak gobyok, pelanggaran, pematuhan, prinsip kerja sama

Political Practice and Its Implication on Folk Art Marginalization (Case Study of Wayang Orang/ Human Puppet Ngesti Pandhowo)

Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 16, No 2 (2016): (Nationally Accredited, December 2016)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The government, political practice, both reflected in the government, politics, policies and the attitude of the public figure, influences the existence of folk art that is overshadowed by changes as the results of modernization and industrialization. The aim of this research is to find out the marginalization of folk art because of political practice. This research was done using a qualitative approach while the subject of this research was Ngesti Pandhawa Human Puppet Group. The result of this research showed that folk art could be marginalized because of the influence of the changes in economic and politic that was formulated inside the modernization waves and technology development that offered new values. The attention of the government on the existence of folk art was still being questioned because of politic budget. The budget for art was extremely small compared to the budget for sport. The existence of folk art depended on the favor and interest of the local leaders, especially political interest.

SEXY DANCE GRUP ALEXIS DANCER DI LIQUID CAFE KOTA SEMARANG DENGAN KAJIAN KOREOGRAFI DAN MOTIVASI PENARI

Jurnal Seni Tari Vol 5 No 2 (2016): Vol. 5 No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Seni Tari

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.761 KB)

Abstract

Sari Sexy Dance merupakan tari modern yang erotis, didukung dengan gerak dan busana yang sexy atau terbuka. Keunikan Alexis Dancer adalah pada bentuk koreografi gerak setiap bentuk gerak menggunakan istilah paket gerak dan gerak akrobatik diakhir pertunjukan. Sexy dancer mendapat kritikan dari masyarakat diketahui bahwa masyarakat tidak menerima keberadaan sexy dancer, kurangnya sikap apresiatif masyarakat terhadap sexy dancer. Berdasarkan paparan hal tersebut dan melihat keunikan pertunjukan grup Alexis Dancer, maka muncul beberapa pertanyaan mengenai bagaimana bentuk koreografi grup Alexis Dancer ? dan Apa motivasi penari Alexis Dancer ? Tujuan penelitian adalah menganalisis dan mengetahui bentuk koreografi Alexis Dancer dan mengetahui apa motivasi penari Alexis Dancer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif yang memberikan gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu, keadaan, gejala, atau kelompok-kelompok tertentu. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, dan verifikasi. Teknik keabsahan data yang digunakan yaitu triangulasi sumber, metode, dan teori. Hasil penelitian, pada bentuk koreografi menggunakan istilah paket gerak dan terdapat aksi akrobatik. Aspek-aspek koreografi atau pertunjukan yang meliputi gerak, iringan / musik tari, tata rias, kostum tari dan properti / perlengkapan. Proses pembuatan koreografi melewati sebuah tahapan yaitu meliputi tahap eksplorasi, improvisasi dan pembentukan/komposisi sehingga dapat tercipta gerakan yang sexy, enerjik, dan erotis. Motivasi penari Alexis untuk terjun dalam pekerjaan ini adalah berawal dari hoby menari dan sering datang ke tempat hiburan malam. Alexis Dancer mampu bertahan dan memberikan wadah penyaluran hobi bagi remaja yang ingin bekerja sambil berkarya. Saran penelitian ini adalah bentuk koreografi sangat diutamakan bagi seluruh pertunjukan sebagai salah satu cara agar tetap diminati masyarakat. Implikasi bagi dunia pendidikan, seni tari modern secara global dapat dijadikan sebagai media apresiasi pada kegiatan extrakurikuler di sekolah. Bagi Alexis Dancer, dapat lebih profesional dalam menjalankan pekerjaan dengan membuat koreografi yang lebih kreatif dan inovatif. Ekspresi panggung para penari agar lebih bisa dibentuk baik senyum maupun mimik wajah, karena menari harus sejalan dengan gerak, irama dan rasa serta penggunaan tata rias busana tari agar lebih kreatif.       Kata Kunci: Sexy Dance, Koreografi, Motivasi Penari.       Sexy Dancer of Alexis Dancer Group at Liquid Café Semarang with Choreography Study and Dancer’s Motivation   ABSTRACT   Sexy Dance is an erotic modern dance, supported by motion and sexy costume. The uniqueness of Alexis Dancer was in the form of choreography, every form of motion using the term of package motion and acrobatic motion at the end of the show. Sexy dancer got some critics from the public, it was known because the public does not accept the existence of a sexy dancer, and the lack of public appreciation toward sexy dancer.Based on the explanation and see the uniqueness of the Alexis Dancer group’s show, then some questions appeared about how the form of Alexis Dancer group’s choreography? and, what is the motivation of the dancers of Alexis Dancer? The aim of the research is to analyze and determine the choreography form of Alexis Dancer and to know what the motivation of the dancers of Alexis Dancer is. This research used descriptive qualitative method which gave a description as accurate as possible about an individual, state, symptom, or certain groups. Data collection techniques used in this study was observation, interviews and documentation. Data analysis techniques in this study used data reduction, data presentation, drawing conclusions, and verification. Validity technique of data was used triangulation of sources, methods, and theory. The results of the study, from the form of choreography used the term motion package and there were some stunts. Aspects of choreography or performances included movement, accompaniment / music of dance, makeup, costumes of dance and properties / equipment. The process of making choreography was passing through a phase which included the exploration, improvisation and the formation / composition, so as to create sexy, energetic, and erotic choreography. Motivation of the dancers of Alexis to engage in this work was started from their hobby and coming often to the nightlife spots. Alexis Dancer was able to survive and provide a place for teenagers’ hobbies and some of them who want to work while creating a work. Suggestions of this study are form of choreography should be very principal aspect for the entire show as a way to keep people interested. Implications for education, modern dance globally can be used as a appreciation media in extracurricular activities at school. For Alexis Dancer, they should be more professional in carrying out the work to make the choreography more creative and innovative. Expression of the dancers onstage can be further formed such as smile or facial expression, because dance should be in line with the movement, the rhythm and flavor as well as the use of makeup and costumes to be more creative.      

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP TARI SORENG DI DESA LEMAHIRENG BAWEN KABUPATEN SEMARANG

Jurnal Seni Tari Vol 5 No 1 (2016)
Publisher : Jurnal Seni Tari

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.057 KB)

Abstract

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP TARI SORENG DI DESA LEMAHIRENG BAWEN KABUPATEN SEMARANG Anis Khairunnisa Restu Lanjari Alumni Mahasiswa Jurusan Sendratasik, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang Email: anisdewangga11@gmail.com     Sari                 Tari Soreng merupakan jenis tari kerakyatan yang berada di Desa Lemahireng. Tari Soreng menggambarkan semangat para pasukan prajurit pilihan pemberani yang siap untuk berperang laga. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini yaitu: Persepsi Masyarakat terhadap Tari Soreng di Desa Lemahireng Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang. Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi masyarakat di Desa Lemahireng Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang dan untuk mengetahui upaya yang harus dilakukan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan melakukan penelitian dengan metode pendekatan sosiologi. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari beberapa persepsi yang diperoleh dari masyarakat tentang Tari Soreng. Persepsi yang tidak mendukung terdapat pada pada masyarakat usia anak-anak (12-17 Tahun) dan usia muda (17-25 Tahun) dan yang mendukung cenderung masyarakat pada usia tua (25-85 Tahun). Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap Tari Soreng di Desa Lemahireng Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang adalah yang melatar belakangi lahirnya persepsi dimasyarakat seperti tingkat pendidikan yang tinggi membuat cara pandang masyarakat lebih terbuka dan modern. Adapun Upaya yang harus dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Semarang yaitu melakukan pembinaan Tari Soreng harus dimulai dengan masyarakatnya sendiri di daerahnya masing-masing, juga dilakukan oleh kelompok paguyuban Soreng kridho wargo budhoyo, salah satu bentuk pembinaan yang efektif adalah dengan mengadakan festival atau lomba.Simpulan dari penelitian adalah : Permasalahan persepsi disuatu masyarakat tergantung pada sudut pandang dan cara melihat suatu kesenian. persepsi tentang Tari Soreng berubah di berbagai elemen masyarakat Desa Lemahireng seiring dengan semakin majunya jaman. Saran untuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Semarang, untuk lebih memaksimalkan upaya pelestarian dalam pemanfaatan Tari Soreng dalam bidang ilmu pengetahuan dan pariwisata. Generasi muda diharapkan dapat lebih mudah memelajari Tari Soreng dan diharapkan dapat melestarikan dan mengembangkannya.                                   Kata Kunci : Tari Soreng, Persepsi Masyarakat Di Desa Lemahireng;                               THE PUBLIC PERCEPTIONSTOWARDS SORENG DANCE AT LEMAHIRENG VILLAGE BAWEN SEMARANG   AnisKhairunnisa Restu Lanjari Graduate Students of Dance and Music Departement, Languanges and Arts Facull, Semarang State University Email: anisdewangga11@gmail.com     ABSTRACT                   Soreng dance is a kind of populist dance in the village Lemahireng. Dance Soreng describe the morale of the troops brave choice soldiers prepared for war games. Issues examined in this study are: Public perception of the Dance in the Village Lemahireng Soreng Bawen District of Semarang District. Goals to be achieved in this research is to determine the public perception in the village Lemahireng Bawen District of Semarang District and to determine the measures to be undertaken by the Department of Education and Culture. This study uses qualitative research methods and conduct research with a sociological approach method. Data were analyzed using data reduction, data presentation and conclusion. The results showed that of some perceptions obtained from the community about Tari Soreng. Perception is not present in the community to support children age (12-17 years) and younger age (17-25 years) and that support tends society in old age (25-85 years). Factors that affect the public perception of dance in the village Soreng Lemahireng Bawen District of Semarang District is the background for the birth of the perception of the community as a high level of education makes way people view more open and modern. The effort to do Office of Education and Culture of Semarang District is to provide guidance Dance Soreng should start with their own community in their respective regions, also carried out by a group of community Soreng kridho Wargo budhoyo, one form of effective formation is to hold a festival or competition. The conclusions of the study are: Problems sector in the public perception depends on your viewpoint and how to view an art. Dance Soreng perception of change in different elements of society Lemahireng village along with the advancement of age. Suggestions for the Education and Culture District of Semarang, to further maximize conservation efforts in the utilization of Dance Soreng in science and tourism. The younger generation is expected to be more easily studied dance Soreng and is expected to preserve and develop it.           Keywords : soreng Dance, public perceptions of lemahireng village;  

NILAI DAN FUNGSI TARI LENGGANG NYAI

Jurnal Seni Tari Vol 6 No 2 (2017): Vol 6 No 2 (2017)
Publisher : Jurnal Seni Tari

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.328 KB)

Abstract

ABSTRACT   Lenggang Nyai Dance is a dance of new creations created by Wiwiek Widiyastuti in 2002 consists of 32 motions. The idea of creating the Lenggang Nyai Dance is the Nyai Dasimah folklore. This study aims to know and understand, about the values and functions that contained in Lenggang Nyai Dance.  This study uses qualitative method. Data collection techniques that used in this study are observastion, interviews, and documentation. Lenggang Nyai Dance has 2 values, consisting of moral and aesthetic values. Lenggang Nyai Dance has 2 values and 3 functions which is a positive thing for the art connoisseur. The moral values in the Dance Lenggang Nyai in the form of: confusion, sadness, shame, confidence, happiness, confidence, courage, and true love. And the value of aesthetics can be seen from various elements such as wiraga, wirama, wirasa, wirupa. Functions that exist in Lenggang Nyai dance are entertainment, performing arts and as a education facility. Suggestions from the study results are for artists in the future to convey the content of dances and dancers can better appreciate the values that exist in the contents of the dance.   Keyword: presentation form, function, value, Tari Lenggang Nyai

PEMBARONG WANITA DALAM KELOMPOK BARONGAN SAMIN EDAN

Jurnal Seni Tari Vol 7 No 2 (2018): Vol 7 No 2 (2018)
Publisher : Jurnal Seni Tari

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.374 KB)

Abstract

Pembarong wanita adalah penari wanita yang menarikan tokoh Barongan dengan menggunakan properti topeng Barongan dalam kesenian Barongan Kabupaten Blora. Pembarong wanita dalam kelompok Barongan Samin Edan di Semarang merupakan fenomena unik dimana belum dijumpai pada kelompok Barongan umumnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk pertunjukan Barongan Samin Edan dan penampilan pembarong wanita. Metode yang digunakan ialah deskriptif kualitatif dan pendekatan etnokoreologi. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, dokumentasi, dan wawancara. Teknik keabsahan data dengan metode triangulasi teknik, triangulasi waktu dan triangulasi sumber. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian berupa bentuk pertunjukan Kelompok Barongan Samin Edan serta aspek-aspek penampilan pembarong wanita yakni bakat, ketrampilan, dan sarana/media. Bentuk perunjukan Kelompok Barongan Samin Edan di dalamnya memiliki elemen-elemen pertunjukan seperti; tema, alur dramatik, gerak, penari, pola lantai, ekspresi wajah / polatan, tata rias, tata busana, tata iringan / musik, tempat pertunjukan, properti, dan tata cahaya.