Articles

Found 10 Documents
Search

MULA KERJA ROKURONIUM

JURNAL BIOMEDIK Vol 5, No 1 (2013): Jurnal Biomedik (JBM) Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (41.045 KB)

Abstract

Abstract: Endotracheal intubation needs a muscle relaxant to permit the pipe to get easily into the trachea. Injury of the respiratory tract during this procedure can be avoided by being cognizant of the onsets of action of certain muscle relaxants. Rocuronium is a non-depolarization muscle relaxant with intermediate duration of action and fewer side effects. This study aimed to find out the onset of action of rocuronium. This was an observational study conducted in the operation rooms of Prof. Dr. R.D. Kandou Hospital from November 2012 to January 2013. Samples were patients with ASA 1-2, aged 18 40 years who had been selected by using simple random sampling methods. Midazolam 0,7 mg/kg BW and fentanyl 2 µg/kg BW were used as premedication agents; propofol 2 mg/kg BW as an anaesthetic induction agent; and rocuronium 0,6 mg/kg BW as the muscle relaxant. The rocuronium’s onset of action was measured by using TOF-Watch after the injection of rocuronium until the percentage of muscle relaxation was 0. The results showed that the onset of action in 17 samples (14 females and 3 males) was 151 seconds. The onset of action in females was 65 seconds shorter than in males. A correlation test (P = 0.857) and the chi-square test (P = 0.434) showed no significant correlation between age and the onset of action. There was a significant difference (P < 0.05) between the onset of action and sex showed by the t-test (P = 0.023) and the chi-square test (P = 0.035). Conclusion: The average onset of action of rocuronium was 2 minutes and 31 seconds, with  females having a shorter onset of action of rocuronium. Keywords: onset of action, rocuronium.     Abstrak: Pemasangan pipa trakea memerlukan obat pelumpuh otot untuk memudahkan pipa ini masuk ke saluran napas. Cedera saluran napas akibat pemasangan pipa trakea dapat dihindari dengan mengetahui mula kerja (onset of action) dari obat pelumpuh otot. Rokuronium merupakan obat pelumpuh otot jenis non-depolarisasi dengan lama kerja sedang tanpa efek samping bagi tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mula kerja rokuronium dan dilakukan di ruang operasi Rumah Sakit Prof Dr. R.D. Kandou Manado sejak bulan Nopember 2012 hingga Januari 2013. Sampel ialah pasien dengan ASA 1-2, berusia 18-40 tahun, yang dipilih secara simple random sampling. Pasien dipremedikasi dengan midazolam 0,7 mg/kg BB dan fentanil 2 µg/kg BB, diinduksi dengan propofol 2 mg/kg BB dan kemudian diberikan rokuronium 0,6 mg/kg BB secara intra vena. Mula kerja rokuronium diukur antara selesai penyuntikan hingga persentase kelumpuhan otot pada TOF-watch mencapai 0. Hasil penelitian memperlihatkan pada 17 sampel (14 orang perempuan dan 3 orang laki-laki), rerata mula kerja rokuronium 151 detik. Mula kerja rokuronium pada perempuan 65 detik lebih singkat daripada laki-laki. Hasil uji korelasi (P = 0,857) dan uji chi-square (P = 0,434) memperlihatkan tidak terdapat korelasi bermakna antara usia dan mula kerja rokuronium. Terdapat perbedaan bermakna (P < 0,05) antara mula kerja rokuronium dan jenis kelamin yang ditunjukkan dengan uji t (P = 0,023) dan uji chi-square (P = 0,035). Simpulan: Rerata mula kerja rokuronium dengan dosis 0,6 mg/kg BB untuk kedua jenis kelamin 2 menit 31 detik. Perempuan mempunyai mula kerja rokuronium lebih singkat daripada laki-laki. Kata kunci: mula kerja, rokuronium.

GAMBARAN LAMA KERJA ATRAKURIUM PADA PASIEN YANG MENJALANI ANESTESIA UMUM DI IBS RSUP PROF KANDOU MANADO NOVEMBER-DESEMBER 2013

e-CliniC Vol 2, No 2 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : e-CliniC

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.68 KB)

Abstract

Abstrak: Obat pelumpuh otot adalah obat yang digunakan selama anestesi dan memfasilitasi intubasi. Pelumpuh otot non depolarisasi merupakan antagonis dari fase I blok pelumpuh otot depolarisasi, karena ia menduduki reseptor asetilkolin sehingga depolarisasi oleh suksinilkolin sebagian dicegah. Atrakurium adalah salah satu obat pelumpuh otot non depolarisasi yang mempunyai struktur benziliquinolin yang berasal dari tanaman Leontice Leontopeltalum, keunggulan adalah metabolisme terjadi di dalam darah, tidak bergantung di pada fungsi hati dan ginjal, tidak mempunyai efek akumulasi pada pemberian berulang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran lama kerja dari obat pelumpuh obat non depolarisasi atrakurium.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif prospektif yang dilakukan pada ruang pasca bedah Instalansi Bedah Sentral RSUP.Prof. DR. R. D. Kandou Manado dengan subjek berjumlah 10 orang yang telah memenuhi kriteria inklusi. Dapat disimpulkan bahwa rerata gambaran lama kerja adalah 35,6 menit. Kata kunci: pelumpuh otot non depolarisasi, atrakurium     Abstract: Muscle relaxant drugs are drugs used during anesthesia and facilitate intubation . Non- depolarizing muscle relaxants is an antagonist of the phase I block of depolarizing muscle relaxants , because it occupies the acetylcholine receptors so that depolarization by succinylcholine partially prevented . Atracurium is one of the non- depolarizing muscle relaxant drugs that have a structure that is derived from plants benziliquinolin LeonticeLeontopeltalum , excellence is metabolism occurs in the blood , does not depend on the function of the liver and kidney , had no effect on the accumulation of repeated administration . The purpose of this study is to describe the work of the old non- depolarizing paralytic drug drug atracurium . This study is a prospective descriptive study conducted on postoperative space Installation Central Surgical Hospital .Prof .DR . R. D. Kandou Manado with the subject of 10 people who have met the inclusion criteria . It can be concluded that the average length of employment was 35.6 overview minutes. Keywords: Muscle relaxants, Atracurium

PERBANDINGAN SKOR RAMSAY ANESTETIKA INHALASI ISOFULRAN DIBANDING SEVOFLURAN PADA PASIEN PASCA OPERASI ABDOMEN

Jurnal e-Biomedik Vol 1, No 1 (2013): Jurnal e-Biomedik
Publisher : Jurnal e-Biomedik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.526 KB)

Abstract

Abstract: Almost all surgery is performed under anesthesia, and of them performed under general anesthesia. General anesthesia is a reversible condition that changes the physiological status of the body, characterized by sedation, analgesia, amnesia and relaxation. Score ramsay is the first scale that is defined and designed as a measurement tools ability to wake up. Score ramsay have six different levels of sedation and designed in accordance with how the patients ability to get up, making it suitable for universal use. This study aims to determine the comparisons between the score ramsay on volatile agent isoflurane and sevoflurane post abdominal surgery in  Hospital Prof.Dr.R.D Kandou. The population in this study were patients undergoing abdominal surgery. Twenty eight people were divided into two groups isoflurane and sevoflurane, each consisting 14 people. Data were collected through examination of the level of sedation as measured by post-discontinuation of inhaled agents using ramsay scale. This study found ramsay score on isoflurane higher when compared with sevoflurane in both the 5th minute post-discontinuation and in the 10th minute. There were significant differences between the score ramsay isoflurane and sevoflurane were measured both at the 5th minute post-discontinuation (p=0.000) and at 10th minutes (p=0.000). Keywords: isoflurane, scores ramsay, sedation, sevoflurane.   Abstrak: Hampir semua tindakan pembedahan dilakukan dibawah pengaruh anestesi, dan diantaranya dilakukan dengan anestesi umum. Anestesi umum adalah suatu keadaan reversible yang mengubah status fisiologis tubuh, yang ditandai dengan sedasi, analgesi, amnesi dan relaksasi. Skor ramsay merupakan skala pertama yang didefinisikan dan dirancang sebagai alat ukur kemampuan seseorang untuk bangun. Skor ramsay  mempunyai enam tingkat sedasi  yang berbeda dan didesain sesuai dengan bagaimana kemampuan pasien untuk bangun, sehingga cocok untuk penggunaan universal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan antara skor ramsay anestetika inhalasi isofluran dan sevofluran paska operasi abdomen di RSU Prof.Dr.R.D Kandou Manado. Populasi dalam penelitian ini ialah pasien yang menjalani bedah abdomen di RSU Prof.Dr.R.D Kandou Manado. Sebanyak 28 orang dibagi dalam dua kelompok yaitu kelompok isofluran dan kelompok sevofluran, yang masing-masing terdiri dari 14 orang. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan langsung tingkat sedasi yang diukur paska penghentian agen inhalasi dengan menggunankan skala ramsay. Penelitian ini ditemukan skor ramsay pada anestetika inhalasi isofluran lebih tinggi dibandingkan dengan sevofluran baik pada menit ke-5 paska penghentian agen inhalasi maupun pada menit ke-10. Terdapat perbedaan yang bermakna antara skor ramsay isofluran dan sevofluran yang diukur baik pada menit ke-5 paska penghentian agen inhalasi (p=0.000) maupun pada menit ke-10 (p=0.000). Kata kunci : isofluran, skor ramsay, sedasi, sevofluran.

HUBUNGAN SKOR SOFA DENGAN LAMA RAWAT INAP PASIEN SEPSIS PASCA LAPARATOMI DI ICU PERIODE JULI 2012 – SEPTEMBER 2013

e-CliniC Vol 2, No 2 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : e-CliniC

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.434 KB)

Abstract

Abstract: Sofa score is one of the assessments used in ICU. Sofa score can help to see organ dysfunction or organ failure during treatment and can be used to predict the prognosis of patients treated in ICU. Aim:  To determine the relationship of sofa score with length of stay patients septic post laparatomy in ICU. Methods: This study is a retrospective analytic study with collection data of sofa score patients septic post laparatomy in ICU RSUP Prof. R D. Kandou period July 2012-September 2013.Data were evaluated and analyzed to see the relationship with length of stay. Result: These results by using the spearman correlation test showed significance value p=0,557 (p>0,05). Conclusions: No relationship between the sofa score with length of stay patients septic post laparatomy in ICU because of less number of samples and a short period study. Keywords: sofa score, length of stay, septic post laparatomy.   Abstrak: Skor Sofa adalah salah satu penilaian yang digunakan di ICU. Skor Sofa dapat membantu untuk melihat disfungsi organ atau gagal organ selama perawatan dan dapat digunakan untuk memprediksikan prognosis dari pasien yang dirawat di ICU. Tujuan: Mengetahui hubungan Skor Sofa dengan lama rawat inap pasien sepsis post laparatomi di ICU. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik retrospektif dengan pengumpulan data skor sofa pasien sepsis post laparatomi yang dirawat di ICU RSUP Prof. DR. R. D. Kandou periode Juli 2012 – September 2013. Data dievaluasi dan dianalisis untuk melihat hubungannya dengan lama rawat inap. Hasil: Hasil penelitian ini dengan menggunakan uji korelasi spearman menunjukkan nilai signifikasi p=0,557 (p>0,05). Simpulan: Tidak didapatkan hubungan antara skor sofa dengan lama rawat inap pasien sepsis post laparatomi di ICU karena jumlah sampel yang kurang dan periode penelitian yang singkat. Kata Kunci: skor sofa, lama rawat inap, sepsis post laparatomi.

PROFIL NYERI DAN PERUBAHAN HEMODINAMIK PADA PASIEN PASCA BEDAH SEKSIO SESAREA DENGAN ANALGETIK PETIDIN

e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : e-CliniC

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.484 KB)

Abstract

Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil nyeri (VAS) dan perubahan hemodinamik seperti: tekanan darah, laju nadi dan laju napas pada pasien pasca bedah seksio sesarea dengan analgetik petidin. Penelitian yang dilakukan di ruang pemulihan pasca bedah Instalasi Bedah Sentral (IBS) dan Instalasi Rawat Darurat (IRD) serta ruang perawatan Instalasi Rawat Inap D (IRINA D) di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado pada bulan November-Desember 2014 merupakan penelitian yang bersifat deskriptif prospektif. Dalam rentang waktu tersebut diperoleh 20 kasus yang dilakukan operasi seksio sesarea dengan menggunakan anestesia lokal (spinal anestesia) yang memenuhi kriteria inklusi. Dapat disimpulkan bahwa rata-rata skor VAS pada jam ke-0 adalah 0,65, jam ke-2 menjadi 0,10 lalu jam ke-4 menjadi 3,20 dan jam ke-6 menjadi 9,70. Rata-rata tekanan darah sistolik (TDS) pada jam ke-0 adalah 110 mmHg, jam ke-2 menjadi 104 mmHg, jam ke-4 menjadi 114 mmHg dan jam ke-6 menjadi 122,5 mmHg. Rata-rata tekanan darah diastolik (TDD) pada jam ke-0 adalah 71,5 mmHg, jam ke-2 menjadi 67 mmHg, jam ke-4 menjadi 74 mmHg dan jam ke-6 menjadi 82,5 mmHg. Rata-rata MAP pada jam ke-0 adalah 97,17 mmHg, jam ke-2 menjadi 91,67 mmHg, jam ke-4 menjadi 100,67 mmHg dan jam ke-6 menjadi 109,17 mmHg. Rata-rata laju nadi pada jam ke-0 adalah 73,60x/m, jam ke-2 menjadi 78,05x/m lalu jam ke-4 menjadi 79,85x/m dan jam ke-6 menjadi 85,65x/m. Rata-rata laju napas jam ke-0 adalah 21,10x/m, jam ke-2 menjadi 18,95x/m, jam ke-4 menjadi 20,60x/m dan jam ke-6 menjadi 25,20x/m.Kata kunci: VAS, perubahan hemodinamik, petidinAbstract: The purpose of this research is to know the profile of pain with assessment methods VAS (Visual Analogue Scale) and haemodynamic changes such as: blood pressure, pulse rate and respiratory rate in caesarean section post-surgery patients with pethidine analgesic. Research done in the recovery room after surgery of the Central Surgical Installation (IBS) and the Installation of Emergency (IRD) as well as space Installation Care Inpatient D (IRINA D) at was Prof. Dr. R. D. Kandou Manado in November 2014 to December 2014 is a prospective descriptive research. In the span of time retrieved 20 cases caesarean section by using local anesthesia (spinal anesthesia) that meet the criteria inclusion. It can be concluded that the average score of VAS at the 0 hour is 0.65, at the 2nd hour being 0.10 and then at the 4th hour be 3.20 and at the 6th hour to 9.70. The average of systolic blood pressure at the 0 hour is 110 mmHg, at the 2nd hour to be 104 mmHg and then the 4th hour be 114 mmHg and 6th hour be 122,5 mmHg. The average of diastolic blood pressure at the 0 hour is 71,5 mmHg, at the 2nd hour to 67 mmHg and then on the 4th hour be 74 mmHg and at the 6th hour be 82.5 mmHg. The average of mean arterial pressure (MAP) at the 0 hour is 97,17 mmHg, 2nd hour to be 91,67 mmHg, 4th hour be 100,67 mmHg and 6th hour be 109,17 mmHg. The average of pulse rate at the 0 hour is 73,60 x/min, 2nd hour to 78,05x/min and then at the 4th hour be 79,85x/min and 6th hour being 85,65x/min. The average of respiratory rate at the 0 hour is 21,10 x/min, at the 2nd hour being 18, 95x/min and then at the 4th hour to 20,60 x/min and 6th hour to 25, 20 x/min.Keywords: VAS, haemodynamic changes, pethidine

PERBANDINGAN NYERI PASCA SEKSIO SESAREA PADA PENDERITA YANG DIBERIKAN KETOROLAK DAN TRAMADOL DENGAN PETIDIN

e-CliniC Vol 3, No 3 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : e-CliniC

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.847 KB)

Abstract

Abstract: Anesthesia can not be separated from surgery and other medical procedures that cause pain. General anesthesia is associated with loss of consciousness (sedation), loss of perception of pain (analgesia), and suppression of motor reflexes of the body that allows the immobilization of the patient (areflexia). Pain is an unpleasant sensory and emotional experience that is associated with tissue damage that has or potentially occur, or can be explained by the damage. Postoperative pain should be adequately controlled because if the pain is not adequately relieved it can lead to discomfort and affect the pulmonary, cardiovascular, gastrointestinal, endocrine, and immunological systems. This study aimed to determine the value of post-operative pain in patients with caesarean section and to compare the value of pain after administration of ketorolac and tramadol with pethidine on 0, 2, 4, 6 hours. This was a prospective analytical study. There were 16 cases of cesarean section selected according to the inclusion and exclusion criteria. Patients were divided into 2 groups: the first group for the combination of ketorolac and tramadol and the second group for pethidine. The data were measured by using VAS pain scale, and were statistically analyzed by using independent t test and Man Whitney U test. The ketorolac and tramadol group showed an increase of VAS score averages: 0 in hour-0; 1 in hour-2; 4.5 in hour-4; and 6.5 in hour-6. The pethidine group showed the VAS score averages: 0 in hour-0 until hour-2; 7 in hour-4; and 9.6 in hour-6. Conclusion: There were differences in the post-caesarean section pain which were significant in the hour-4 and hour-6 between tramadol and ketorolac group and the pethidine group. Moreover, the average value of VAS scale was lower in the ketorolac and tramadol group than of the pethidine group.Keywords: caesarean section, VAS scale pain, ketorolac, tramadol, pethidineAbstrak: Anestesia tidak dapat dipisahkan dari pembedahan dan berbagai prosedur medis lain yang menimbulkan rasa sakit. Anestesi umum dihubungkan dengan hilangnya kesadaran (sedasi), hilangnya persepsi nyeri (analgesia) dan tersupresinya refleks–refleks motorik tubuh, memungkinkan imobilisasi pasien (arefleksia).Nyeri adalah suatu pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang berkaitan dengan kerusakan jaringan yang sudah atau berpotensi terjadi, atau dijelaskan berdasarkan kerusakan tersebut. Nyeri pasca operasi harus dikontrol secara adekuat sebab nyeri yang tidak diatasi secara adekuat dapat mengakibatkan ketidaknyamanan serta mempengaruhi sistem pulmonary, kardiovaskular, gastrointestinal, endokrin, dan imunologik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai nyeri pada pasien pasca operasi seksio sesarea dan membandingkan nilai nyeri setelah pemberian ketorolak dan tramadol dengan pemberian petidin pada jam ke 0, 2, 4, dan 6. Penelitian ini merupakan studi analitik prospektif. Terdapat 16 kasus bedah sesar yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pasien dibagi menjadi 2 kelompok, yakni kelompok I untuk kombinasi ketorolak dan tramadol; dan kelompok II untuk petidin. Data yang dikumpulkan diukur dengan skala nyeri VAS, kemudian data dianalisis dengan menggunakan uji t independent dan uji Man Whitney U. Pada skor VAS kelompok ketorolak tramadol terjadi peningkatan nilai rerata dari jam ke-0 sebesar 0; pada jam ke-2 menjadi 1; pada jam ke-4 menjadi 4,5; dan pada jam ke-6 meningkat menjadi 6,5. Pada skor VAS kelompok petidin nilai rerata dari jam ke-0 sebesar 0; tetap stabil pada angka 0 pada jam ke-2; pada jam ke-4 menjadi 7; dan pada jam ke-6 menjadi 9,6. Simpulan: Terdapat perbedaan rasa nyeri yang sangat bermakna pada jam ke-4 dan jam ke-6 antara kelompok ketorolak + tramadol dan kelompok petidin. Nilai rerata VAS pada kelompok ketorolak + tramadol lebih rendah dibandingkan nilai rerata VAS pada kelompok petidin.Kata kunci: seksio sesarea, skala nyeri, ketorolak, tramadol, petidin

Profil Pasien Stroke Hemoragik yang Dirawat di ICU RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado Periode Desember 2014 sampai November 2015

e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : e-CliniC

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.088 KB)

Abstract

Abstract: Hermorrhagic stroke is a disease caused by rupture of blood vessels of the brain that causes bleeding intro the brain parenchym tissue, cerebrospinal space around the brain or combination of both. Cause of death from hemorrhagic stroke is presence of complications or other comorbodities, like cerebral edema were reported the highest cause of death of hemorrhagic stroke. This study aimed to determine the profile of patients with hemorrhagic stroke in ICU, using descriptive retropective method. The samples were Prof. Dr. R.D. Kandou Manado ICU’s patients with hemorrhagic stroke based on the data in the medical record from December 2014 – November 2015. Hemorrhagic stroke mortality rate is very high (89%). From total 35 samples were examined, there 4 survivors (11%) and 31 deaths (89%), which consisted of 24 males (69%) and 11 females (31%). Most patients are 45-59 years old.Keywords: hemorrhagic stroke, ICUAbstrak: Stroke hemoragik adalah penyakit yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak yang menyebabkan keluarnya darah ke jaringan parenkim otak, ruang serebrospinalis disekitar otak atau kombinasi keduanya. Penyebab kematian dari stroke hemoragik sendiri adalah adanya komplikasi atau penyakit penyerta lainnya, salah satu contohnya yaitu edema serebri yang dilaporkan merupakan penyebab kematian terbanyak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pasien stroke hemoragik yang dirawat di ICU RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado, menggunakan metode penelitian deskriptif retrospektif. Besar sampel ditentukan dengan metode non probability sampling yaitu purposive sampling. Sampel penelitian adalah pasien ICU RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado dengan diagnosa stroke hemoragik berdasarkan data di bagian Rekam Medik periode Desember 2014 sampai November 2015. Angka mortalitas stroke hemoragik sangatlah tinggi (89%). Total 35 sampel yang diteliti dengan 4 orang yang selamat (11%) dan 31 orang meninggal dunia (89%), terdiri dari 24 orang laki-laki (69%) dan 11 orang perempuan (31%). Sebagian besar adalah pasien umur 45-59 tahun.Kata kunci: stroke hemoragik, ruang rawat intensif

Gambaran skala visual analog dan hemodinamik pada pasien yang diberikan kombinasi tramadol dan ketorolak pasca bedah laparotomi

e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : e-CliniC

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.107 KB)

Abstract

Abstract: Pain as an unpleasant sensory and emotional experience associated with tissue damage or potential tissue damage or a condition that indicates tissue damage. This study aimed to describe the visual analogue scale (VAS) and hemodynamic among patients given combination of tramadol and ketorolac post laparotomy. Evaluation of pain was assessed by using VAS. This was a descriptive prospective study and was carried out in the recovery room (RR) postoperation and in inpatient A and D instalations of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from December 2015 to March 2016. There were 20 respondents that were handled with laparotomy and had met the inclusion criteria. The results showed that the average VAS score at the 2nd hour was 5, while the average VAS score at the 4th hour and the 6th hour were 6.4 and 8.5 respectively. The average systolic pressure at the 2nd hour was 124 mmHg, the 4th hour was 126 mmHg, and the 6th hour was 131.6 mmHg. The average diastolic pressure at the 2nd hour was 78 mmHg, at the 4th was 80 mmHg, and at the 6th was 85 mmHg. The average pulse rate at the 2nd hour was 85.4 per minute, at the 4th was 86.7 per minute, and at the 6th was 90.3 per minute. The average MAP at the 2nd hour was 91 mmHg, at the 4th was 91.3 mmHg, and at the 6th was 94 mmHg. Keywords: visual analog scale, haemodynamic, ketorolac, tramadol Abstrak: Nyeri adalah suatu pengalaman sensoris dan emosional yang tidak menyenangkan dihubungkan dengan adanya kerusakan jaringan atau potensial terjadinya kerusakan jaringan atau suatu keadaan yang menunjukan kerusakan jaringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran skala analog visual dan hemodinamik pada pasien yang diberikan kombinasi tramadol dan ketorolak pascabedah laparotomi. Gambaran nyeri dinilai dengan menggunakan visual analog scale (VAS). Jenis penelitian ini deskriptif prospektif dan dilakukan di ruang pemulihan recovery room (RR) pascabedah dan di Instalasi Rawat Inap A dan D RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado pada bulan Desember 2015-Maret 2016. Jumlah sampel yaitu 20 orang yang dilakukan operasi laparotomi yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata skor VAS pada jam ke-2 ialah 5 sedangkan rerata skor VAS pada jam ke-4 dan jam ke-6 ialah 6,4 dan 8,5 secara berurutan. Rerata tekanan sistolik pada jam ke-2 ialah 124 mmHg, jam ke-4 ialah 126 mmHg dan jam ke-6 menjadi 131,6 mmHg. Rerata tekanan diastolik pada jam ke-2 ialah 78 mmHg, jam ke-4 ialah 80 mmHg, dan jam ke-6 menjadi 85 mmHg. Rerata laju nadi pada jam ke-2 ialah 85,4 x/menit, jam ke-4 ialah 86,7 x/menit, dan jam ke-6 menjadi 90,3 x/menit mmHg. Rerata MAP pada jam ke-2 ialah 91 mmHg, jam ke-4 ialah 91,3 mmHg, dan jam ke-6 menjadi 94 mmHg.Kata kunci: visual analog scale, hemodinamik, ketorolak, tramadol

Venous Air Embolism (VAE) during Craniotomy of Supratentorial Meningioma in Supine Position

Bali Journal of Anesthesiology Vol 1, No 3 (2017)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractVenous Air Embolism (VAE) is one of the most serious complications in neuroanesthesia case. The highest number of VAE incident is during neurosurgery procedure with sitting position, even tough VAE may occur during craniotomy of supratentorial tumor in the supine position. VAE occurs due to the pressure differential between open vein in the surgical field and right atrium. A 46 years old woman underwent craniotomy for supratentorial meningioma in the supine position. Intraoperative, the patient was experiencing a decrease in end-tidal CO2 pressure about 6 mmHg in 5 minutes. Therefore, management of acute VAE was proceed to the patient, such as informed the surgeon immediately, discontinued N2O and increased flow of O2, modified the anesthesia technique, asked the surgeon to irrigate the surgical field with fluids, gave compression on jugular vein, aspirated the right atrial catheter, prepared drugs to support the hemodynamic, and changed the patient’s position if possible. 

Profil Penurunan Tekanan Darah (hipotensi) pada Pasien Sectio Caesarea yang Diberikan Anestesi Spinal dengan Menggunakan Bupivakain

e-CliniC Vol 5, No 1 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : e-CliniC

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Cesarean section is generally performed on pregnant women and the prevalence is continuously increasing every years. This study was aimed to determine the profile of the occurence of hypotension in patients of sectio caesarea with spinal anesthesia using bupivacaine at Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. This was a descriptive retrospective study. Data were obtained from the emergency operation room at Prof. Dr. R. D. Kandou Manado from November through December 2015. The results showed that there were 15 cases of cesarean section with spinal anesthesia using bupivacaine. According to age group, there was 1 patient (6.66%) in age group <20 years; 11 patients (73.33%) in age group 20-35 years; and 3 patients (20%) in age group >35 years. After spinal anaesthesia using bupivacaine, the highest percentage of decrease in systolic blood pressure was 18.18%, meanwhile of diastolic blood pressure was 11.11%. Conclusion: The decreases in systolic blood pressure and diastolic blood pressure after spinal anesthesia using bupivacaine were within normal limits.Keywords: spinal anesthetic, bupivacaine, hypotension Abstrak: Sectio caesarea (SC) merupakan operasi yang umum dan luas dilakukan pada wanita hamil dan prevalensi meningkat setiap tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kejadian hipotensi pada pasien SC yang diberikan anestesi spinal dengan bupivakain di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif. Data penelitian diambil dari ruang operasi darurat periode November 2015 sampai Desember 2015. Hasil penelitian mendapatkan 15 kasus bedah SC dengan menggunakan teknik anestesi spinal. Berdasarkan golongan usia, ditemukan kelompok usia <20 tahun sebanyak 1 pasien (6,66%); usia 20-35 tahun sebanyak 11 pasien (73,33%); dan usia >35 tahun sebanyak 3 pasien (20%). Persentase penurunan tekan darah sistolik yang paling tinggi sesudah dilakukan anestesi spinal ialah sebesar 18,18% sedangkan untuk tekanan darah diastolik paling tinggi mencapai 11,11%. Simpulan: Penurunan tekan darah sistolik dan tekanan darah diastolik sesudah dilakukan anestesi spinal masih berada dalam batas normal.Kata kunci: anestesi spinal, bupivakain, hipotensi