Budi Laksono
Central Java Health Department, Semarang, Indonesia

Published : 36 Documents
Articles

Found 36 Documents
Search

PENGARUH BERMAIN VIDEO GAME TIPE FIRST PERSON SHOOTER TERHADAP ATENSI YANG DIUKUR DENGAN ATTENTION NETWORK TEST Arifin, Abraham Murya; Adyaksa, Gana; Laksono, Budi
MEDIA MEDIKA MUDA Vol 3, No 1 (2014): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar belakang: Bermain video game merupakan kegiatan rekreasi yang populer di seluruh dunia. Video game tipe First Person Shooter menuntut pemainnya untuk selalu waspada dan memikirkan strategi sehingga memerlukan  kemampuan kognisi yang baik. Salah satu parameter untuk mengevaluasi kemampuan kognisi adalah atensi.Tujuan: Mengetahui pengaruh bermain video game tipe first person shooter terhadap atensi.Metode: Penelitian ini menggunakan metode eksperimental murni. Sampel penelitian adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Undip (n=36) yang diukur atensinya menggunakan software Attention Network Test sebelum dan sesudah bermain video game selama 30 menit, satu jam dan dua jam. Atensi antara sebelum dan sesudah bermain video game dianalisis menggunakan uji T berpasangan, sedangkan perubahan atensi antar kelompok dianalisis dengan menggunakan One Way ANOVA.Hasil: Ditemukan rerata peningkatan atensi pada fungsi conflict subyek penelitian yang bermain video game tipe first person shooter selama satu jam dari 107,0±20,88 ms menjadi 88,9±12,30 ms dengan P = 0,010.Kesimpulan: Bermain video game tipe first person shooter selama satu jam dapat meningkatkan atensi pada fungsi conflict.  
PENGARUH BERMAIN VIDEO GAME TIPE FIRST PERSON SHOOTER TERHADAP WAKTU REAKSI YANG DIUKUR DENGAN RULER DROP TEST Aji, Irfan Satya; Adyaksa, Gana; Laksono, Budi
MEDIA MEDIKA MUDA Vol 3, No 1 (2014): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar belakang: Bermain video game merupakan kegiatan rekreasi yang paling populer. Video game tipe first person shooter menuntut pemainnya untuk berkonsentrasi, berpikir, dan bereaksi cepat sehingga memerlukan koordinasi visual dan motorik yang baik. Waktu reaksi merupakan parameter fisiologis untuk mengevaluasi kemampuan koordinasi visual dan motorik.Tujuan: Mengetahui pengaruh bermain video game tipe first person shooter terhadap waktu reaksi.Metode: Penelitian menggunakan metode eksperimental murni. Sampel penelitian adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Undip (n=36) yang diukur waktu reaksinya menggunakan ruler drop test sebelum dan sesudah bermain video game selama 30 menit, 1 jam, dan 2 jam. Uji yang digunakan untuk menganalisis data waktu reaksi tiap kelompok dianalisis menggunakan uji T berpasangan. Sedangkan data perubahan waktu reaksi antarkelompok dianalisis dengan menggunakan One Way ANOVA dilanjutkan dengan post hoc Tukey.Hasil:Ditemukan rerata penurunan waktu reaksi subjek penelitian yang bermain video game tipe first person shooter dengan durasi 30 menit adalah 17,33±14,18 milisekon dengan p=0,006. Sedangkan untuk durasi 1 jam ditemukan rerata penurunan waktu reaksi 30,88±13,06 milisekon dengan p=<0,001. Ditemukan perbedaan bermakna waktu reaksi subjek penelitian antara yang bermain video game tipe simulasi dan first person shooter selama 30 menit (p<0,001) dan antara subjek penelitian yang bermain tipe first person shooter selama 1 dan 2 jam.(p<0,001).Kesimpulan: Terdapat pengaruh bermakna antara bermain video game tipe first person shooter selama 30 menit dan 1 jam terhadap penurunan waktu reaksi.
PENGARUH BERMAIN VIDEO GAME TIPE FIRST PERSON SHOOTER TERHADAP WAKTU REAKSI YANG DIUKUR DENGAN ATTENTION NETWORK TEST Pramadika, Taufan; Adyaksa, Gana; Laksono, Budi
MEDIA MEDIKA MUDA Vol 3, No 1 (2014): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar Belakang: Bermain video game merupakan salah satu kegiatan rekreasi yang paling populer. Video game tipe First Person Shooter menuntut pemainnya untuk berkonsentrasi, berpikir dan bereaksi cepat sehingga memerlukan koordinasi visual dan motorik yang baik. Salah satu parameter fisiologis untuk mengevaluasi kemampuan koordinasi visual dan motorik adalah waktu reaksi.Tujuan: Mengetahui pengaruh bermain video game tipe First Person Shooter terhadap waktu reaksi.Metode: Penelitian menggunakan metode eksperimental murni. Subjek penelitian adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (n=36) yang diukur waktu reaksi sebelum dan sesudah bermain video game selama 30 menit, 1 jam dan 2 jam menggunakan software Attention Network Test. Waktu reaksi sebelum dan sesudah bermain video game dianalisis dengan uji-T berpasangan. Perubahan waktu reaksi antarkelompok dianalisis dengan uji One Way ANOVA dilanjutkan dengan uji post-hoc Tukey.Hasil: Ditemukan rerata penurunan waktu reaksi yang bermakna pada subjek penelitian yang bermain video game First Person Shooter selama 30 menit yaitu 37,00±28,24 milisekon (p=0,004) dan selama 1 jam yaitu 35,88±15,61 milisekon (p<0,001). Terdapat perbedaan perubahan waktu reaksi yang bermakna antara subjek penelitian yang bermain video game simulasi dengan yang bermain video game First Person Shooter (p=0,046) dan antara subjek penelitian yang bermain First Person Shooter selama 30 menit dengan 2 jam (p=0,003) dan yang bermain video game First Person Shooter selama 1 jam dengan 2 jam (p=0,004).Kesimpulan: Bermain video game tipe first person shooter selama 30 menit dan 1 jam menurunkan waktu reaksi seseorang.
PENGARUH OLAHRAGA AEROB RUTIN TERHADAP MEMORI JANGKA PENDEK MAHASISWA FK UNDIP YANG DIUKUR DENGAN SCENERY PICTURE MEMORY TEST Hanjani, Arcita; Laksono, Budi; Indraswari, Darmawati Ayu
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 4, No 4 (2015): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Background: Sports, especially aerobic exercise is one of the activities that can be done by community to improve the quality of life. Besides that, WHO declared that the insufficiency of physical activity ranked 4th in the world as a risk factor that leads to death. Aerobic exercise is known to increase the possibility of providing benefits brain blood flow, especially to the hippocampus and increasingneoplasticity brain that is important for the memory to function properly. Short-term memory is a core element of the cognitive development, for all forms of individual learning involves memory.Objective: To determine whether there are differences in short-term memory between the group of people whom exercise aerobic regulary and the ones that do not exercise aerobic regulary.Methods: This study was an observational form with cross sectional design. In the test for normality using the unpaired T test this research covers 47 subjects with 24 groups of sports and non-sports group 23 which is Undip medical students. Retrieval of data in the form of questionnaire data and for short-term memory using SPMT (Scenery Picture Memory Test) consisting of the correct amount of answers on the objects and locations on the image.Results: The non-sports group can answer an average of 12.38 objects and 13.47 location of the objects correctly. The sports can answer an average of up to 17.91 object and 17 locations of the objects correctly.Conclusions: Both short-term memory in sports and non-sports group in the category of sports on SPMT are classified as good. But the average of the correct answers by the excercising group is higher than the non-exercise group.
HUBUNGAN TINGKAT KEBUGARAN KARDIORESPIRASI DAN KEKUATAN GENGGAMAN TANGAN DENGAN SINDROM METABOLIK Amalia, Fika; Indraswari, Darmawati Ayu; Laksono, Budi
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 4, No 4 (2015): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Background: The metabolic syndrome, a clustering of metabolic disorders, is associated with morbidity and all-cause mortality. WHO estimated that 23% of men and 12% of women in the world had metabolic syndrome. Several studies had examined that metabolic syndrome was associated with cardiorespiratory fitness and handgrip strength.Aim: To investigate the association of cardiorespiratory fitness and handgrip strength with metabolic syndrome.Methods: This cross-sectional study included 31 subjects (23 women and 8 men), aged 40 to 70. Cardiorespiratory fitness was measured by Harvard step test. Handgrip strength was measured with a handgrip dynamometer. NCEP ATP III guideline was used to determine the metabolic syndrome diagnosis.Results: About twenty-five percent (25,81%) of 31 samples had metabolic syndrome. A higher percentage was observed in subjects with low cardiorespiratory fitness levels. The same number was observed in subjects with low and normal handgrip strength. Spearman correlation test between cardiorespiratory fitness and metabolic syndrome along with Fisher’s exact test between cardiorespiratory fitness categories and metabolic syndrome showed no significant correlation. Meanwhile, Spearman correlation test between handgrip strength and metabolic syndrome showed a significant inverse correlation (r=-0,373; p=0,039). Furthermore, Fisher’s exact test also showed a significant correlation between handgrip strength categories and metabolic syndrome (p=0,026; prevalence ratio 4,17).Conclusions: There was no significant correlation between cardiorespiratory fitness and metabolic syndrome. Metabolic syndrome was inversely correlated with handgrip strength.
HUBUNGAN LINGKAR PINGGANG DENGAN ARUS PUNCAK EKSPIRASI PADA POPULASI SINDROM METABOLIK Sholeh, Ihwanu; Indraswari, Darmawati Ayu; Laksono, Budi
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 4, No 4 (2015): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Background: IDF estimates around 20-25 percent of the world’s adult population have metabolic syndrome and the highest prevalence about 55-64 years old. Some earlier studies reported the higher impairment in lung function in population of metabolic syndrome. PEFR is one of the pulmonary function test parameters.Aim: To find out the correlation between waist circumference and peak expiratory flow rate in population of metabolic syndrome.Methods: This cross-sectional study was done in 30 subjects above 40 years old with metabolic syndrome in Padangsari village, Banyumanik, Semarang. The data are subjects characteristics, waist circumference, and PEFR among study subjects by using mini-Wright Peak Flow Meter. The Pearson test and chi-square test were used for statistical analysis.Results: The study shows 93,33% of the subjects above 40 years old with metabolic syndrome were increased and substantially increased waist circumference and 56,67% showed abnormal PEFR among population of metabolic syndrome. In the group of population with increased waist circumference, 42,86% of them showed abnormal PEFR and in the group of population that substantially increased waist circumference, 78,57% of them showed abnormal PEFR. The Pearson test showed a moderate degree of negative correlation waist circumference with PEFR in population of metabolic syndrome (r= -0,42;p= 0,021). The chi-square test showed a significant relationship between waist circumference categories with PEFR in population of metabolic syndrome (p=0,04).Conclusions: There is a negative correlation with moderate degree between waist circumference with peak expiratory flow rate in population of metabolic syndrome.
PERBANDINGAN NILAI FLEKSIBILITAS TUBUH IBU POST PARTUM YANG MELAKUKAN DAN TIDAK MELAKUKAN SENAM PILATES Prabandani, Dyah Ayu; Laksono, Budi
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.875 KB)

Abstract

Latar Belakang : Mengukur nilai fleksibilitas tubuh adalah salah satu cara untuk mengetahui tingkat kelenturan tubuh seorang ibu, yang dapat berpengaruh terhadap ruang gerak sendi. Pada ibu post partum akan mengalami beberapa perubahan seperti pengendoran otot dan bertambahnya berat badan yang dapat berpengaruh terhadap ruang gerak sendi. Senam pilates merupakan jenis senam yang populer di Indonesia yang menonjolkan stretching sehingga melatih kelenturan tubuh.Tujuan Penelitian : Membuktikan perbandingan nilai fleksibilitas tubuh ibu post partum yang melakukan dan tidak melakukan senam pilates.Metode Penelitian : Jenis penelitian adalah cross sectional. Sampel penelitian adalah kelompok pesenam pilates dan non pilates(n=15 tiap kelompok) yang diukur fleksibilitasnya dengan Sit and Reach Test. Uji hipotesis menggunakan uji T – tidak berpasangan.Hasil Penelitian : Rerata nilai fleksibilitas kelompok pesenam pilates adalah 39,47±5,18 dengan nilai terendah 31,5 cm dan nilai tertinggi 46,5 cm. Rerata nilai fleksibiltas kelompok non pilates adalah 32,5±3,5 dengan nilai terendah 26 cm dan nilai tertinggi 38 cm. Rerata nilai fleksiblitas kelompok pesenam pilates lebih besar dibanding rerata nilai fleksibilitas kelompok non pilates.Kesimpulan : Rerata nilai fleksibilitas tubuh ibu post partum yang rutin melakukan senam pilates lebih tinggi dibanding rerata nilai fleksibilitas tubuh ibu post partum yang tidak melakukan senam pilates.
HUBUNGAN LATIHAN TAEKWONDO TERHADAP ATENSI PADA USIA REMAJA YANG DIUKUR DENGAN ATTENTION NETWORK TEST Harmoni, Fauzi Hestu; Laksono, Budi; Kumaidah, Endang
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.434 KB)

Abstract

Latar Belakang : WHO menyatakan bahwa kurangnya aktivitas fisik telah diidentifikasi sebagai faktor risiko keempat yang menyebabkan 3,2 juta kematian pertahun secara global. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak penelitian mengevaluasi beberapa aspek dari beladiri yang mengindikasikan dapat meningkatkan kebugaran. Taekwondo merupakan seni beladiri yang berasal dari Korea yang perkembangannya terhitung pesat baik di dunia termasuk di Indonesia. Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa berlatih Taekwondo dalam rentang waktu satu tahun dapat meningkatkan fungsi kognitif.Tujuan : Mengetahui pengaruh latihan Taekwondo terhadap atensi.Metode : Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan menggunakan rancangan belah lintang yang dilaksanakan di Kampus STIMART AMNI Semarang. Sampel penelitian adalah mahasiswa STIMART AMNI Semarang (n=48) yang terbagi atas kelompok yang mengikuti latihan Taekwondo dan kelompok yang tidak mengikuti latihan Taekwondo, kemudian diukur atensinya menggunakan software Attention Network Test. Aspek atensi alerting dan executive antara kelompok non olahraga aerob rutin dan kelompok olahraga aerob rutin dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney. Sedangkan aspek atensi orienting menggunakan uji t-tidak berpasangan.Hasil : Pada pemeriksaan atensi ditemukan rerata peningkatan atensi pada fungsi alerting, orienting, dan executive sampel penelitian yang mengikuti latihan Taekwondo. Uji Mann-Whitney diperoleh hasil bermakna yaitu alerting p= 0,041 dan executive p= 0,003. Namun uji t-tidak berpasangan diperoleh hasil tidak bermakna yaitu orienting p= 0,481.Kesimpulan : Terdapat perbedaan atensi pada fungsi alerting dan executive yang bermakna pada sampel yang mengikuti latihan Taekwondo dibandingkan sampel yang tidak mengikuti latihan Taekwondo.
PERBANDINGAN NILAI FLEKSIBILITAS TUBUH IBU POST PARTUM YANG MELAKUKAN DAN TIDAK MELAKUKAN SENAM PILATES Prabandani, Dyah Ayu; Laksono, Budi
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.875 KB)

Abstract

Latar Belakang : Mengukur nilai fleksibilitas tubuh adalah salah satu cara untuk mengetahui tingkat kelenturan tubuh seorang ibu, yang dapat berpengaruh terhadap ruang gerak sendi. Pada ibu post partum akan mengalami beberapa perubahan seperti pengendoran otot dan bertambahnya berat badan yang dapat berpengaruh terhadap ruang gerak sendi. Senam pilates merupakan jenis senam yang populer di Indonesia yang menonjolkan stretching sehingga melatih kelenturan tubuh.Tujuan Penelitian : Membuktikan perbandingan nilai fleksibilitas tubuh ibu post partum yang melakukan dan tidak melakukan senam pilates.Metode Penelitian : Jenis penelitian adalah cross sectional. Sampel penelitian adalah kelompok pesenam pilates dan non pilates(n=15 tiap kelompok) yang diukur fleksibilitasnya dengan Sit and Reach Test. Uji hipotesis menggunakan uji T – tidak berpasangan.Hasil Penelitian : Rerata nilai fleksibilitas kelompok pesenam pilates adalah 39,47±5,18 dengan nilai terendah 31,5 cm dan nilai tertinggi 46,5 cm. Rerata nilai fleksibiltas kelompok non pilates adalah 32,5±3,5 dengan nilai terendah 26 cm dan nilai tertinggi 38 cm. Rerata nilai fleksiblitas kelompok pesenam pilates lebih besar dibanding rerata nilai fleksibilitas kelompok non pilates.Kesimpulan : Rerata nilai fleksibilitas tubuh ibu post partum yang rutin melakukan senam pilates lebih tinggi dibanding rerata nilai fleksibilitas tubuh ibu post partum yang tidak melakukan senam pilates.
STUDI EFFEKTIVITAS KEFIR BENING DAN MENIRAN (Philanthus niruri) TERHADAP PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA HEWAN TIKUS WISTAR HIPERGLIKEMIA DIINDUKSI STREPTOZOTOCIN ., Judiono; Hadisaputro, Soeharyo; Djokomoeljanto, RRJ; Laksono, Budi; W, Theophilus
GIZI INDONESIA Vol 33, No 2 (2010): September 2010
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

EFFECTIVITY STUDY OF PLAIN KEFIR AND MENIRAN (PHILANTUS NIRURI) ON BLOOD GLUCOSE LEVELS ON HYPERGLYCEMIA WISTAR RATS INDUCED STREPTOZOTOCINTraditional medicines and functional foods used for diabetes therapy increased in Indonesia. Bioactive components play an important role in decreasing blood glucose. The study aims to prove the effectiveness of plain kefir and Meniran (Philanthus niruri) to decrease blood glucose levels in wistar rats with streptozotocin-induced hyperglycemia. The study design was randomized pre – post test control group. A number of 60 male rats aged 2.5-3 months, 150-250 g were made hyperglycemia by induced streptozotocin (STZ) 40 mg / kg berat badan. The hyperglycemic rats were grouped into: (1) treated with 0.76 UI insulin /day, (2) treated with 3.6 mL plain kefir /day, (3) treated 2.7 mL meniran / day, (4) positive control group of hyperglycemic rats, and (5) negative control group (standard diet ad libitum). The ratswere given feed refers to the AIN 93. Fasting glucose levels before and after treatment were measured by Super (Glucocard II) enzimatic method. The results showed that body weight increased in all treatments, except meniran, however the increaments were not differ significantly. Changes in body weight of insulin group were 13.800 + 16.104 g, kefir treatment amounted to 13.812 + 21.294, and meniran increased about 18.394 + 16.225. Changes in blood glucose in the insulin group about -118.571+55.815 mg/dL, kefir treatment at -102.875+60.454, while meniran group -66,625+37,784. In contrast, the positive control group tended to increase glucose levels. Conclusion In vitro, plain kefir and meniran potentially lowered blood glucose levels. However, kefir showed lowered glucose level better than meniran. Futher research needs to study bio- molecular mechanisms of the decline in the future.Key words: diabetes mellitus, meniran, plain kefir, streptozotocin (STZ), hyperglycemic rat