Devy Kuswidiastuti
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Published : 14 Documents
Articles

Found 14 Documents
Search

Evaluasi Kinerja Penerapan Koordinasi Interferensi pada Sistem Komunikasi LTE-Advanced dengan Relay Elvina, Rosita; Hendrantoro, Gamantyo; Kuswidiastuti, Devy
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi komunikasi di Indonesia akan memasuki era LTE–advanced (4G) yang memiliki beberapa kemampuan yang semakin menguntungkan pengguna. Salah satu kemampuan yang dimiliki adalah meningkatkan performansi user yang berada pada daerah tepi sel dengan meletakkan relay pada daerah tersebut. Teknologi ini memiliki permasalahan mengenai inter–cell interference (ICI) dan nilai throughput pada daerah tepi sel. Pada penelitian ini dilakukan analisis tentang dampak dari penambahan koordinasi interferensi pada sistem komunikasi LTE–advanced dengan relay, yang dapat mengurangi interferensi antar–relay dan meningkatkan kinerja sistem. Koordinasi interferensi yang digunakan adalah teknik penjadwalan penggunaan resource pada access link di setiap relay. Teknik penjadwalan dilakukan dengan beberapa tahap yaitu, penghitungan alokasi resource setiap relay, dan perhitungan jumlah subframe komunikasi semua user pada masing – masing relay. Dengan menggunakan teknik penjadwalan pada access link, maka pelayanan yang diberikan kepada pengguna yang berada di ujung cakupan (daerah tepi sel) akan memiliki performansi yang lebih baik. Parameter performansi yang diukur pada penelitian ini adalah SINR (Signal to Interference plus Noise Ratio), throughput, spectral efficiency, dan BER (Bit Error Rate).
Analisis Kinerja Metode Power Control untuk Manajemen Interferensi Sistem Komunikasi Uplink LTE-Advanced dengan Femtocell Febryanti, Safirina; Hendrantoro, Gamantyo; Kuswidiastuti, Devy
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknologi LTE-Advanced menghadirkan fitur baru bernama femtocell atau disebut juga Home Enhanced NodeB (HeNB) yang dapat meningkatkan area cakupan indoor. Di lain sisi HeNB menimbulkan interferensi baik uplink maupun downlink. Interferensi uplink terjadi antara user HeNB (HUE) dan user eNB (MUE) maupun sesama HUE. Interferensi ini mendegradasi kinerja sistem terutama dari sisi Signal to Interference plus Noise Ratio (SINR). Penelitian ini memberi penjelasan mengenai penerapan power control sebagai teknik manajemen interferensi uplink pada sistem LTE-Advanced dengan femtocell. Power control mengatur daya pancar user penginterferensi sehingga daya interferensi pada sisi HeNB dan eNB berkurang dan nilai SINR akan membaik. Dari hasil pengujian, didapatkan hasil bahwa power control efektif mengurangi interferensi dan memperbaiki kinerja sistem LTE-Advanced. Kinerja tersebut ditunjukkan dengan 50% SINR pada eNB bernilai di atas 30 dB setelah sebelumnya hanya 25 dB. 50% SINR HeNB bernilai di atas 60 dB setelah sebelumnya hanya 30 dB. Peningkatan SINR diiringi dengan peningkatan paramater performansi yang lain.
Desain dan Analisa Kinerja Femtocell LTE-Advanced Menggunakan Metode Inter Cell Interference Coordination Muryono, Aji Hidayat; Hendrantoro, Gamantyo; Kuswidiastuti, Devy
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telekomunikasi memasuki generasi ke-4 atau sering disebut dengan teknologi LTE-Advanced. Dalam implemantasinya LTE-Advanced menerapkan sistem heterogeneous network yang memungkinkan adanya pengembangan sel-sel didalam cakupan macrocell. HeNB (Home eNB) merupakan mini eNB yang dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas sinyal didalam ruangan. Namun, HeNB ini hanya dapat diakses oleh user yang sudah terdaftar pada database operator, jadi femtocell dianggap sebagai sumber interferensi bagi user yang tidak dapat mengaksesnya. Penelitian ini memberikan penjelasan mengenai pengaruh penerapan metode Inter Cell Interference Coordination (ICIC) pada sistem LTE-Advanced menggunakan HeNB dan menguji efektifitas penerapan metode ini. ICIC adalah metode koordinasi antara eNB-HeNB untuk menyediakan kanal yang mempunyai interferensi rendah kepada user terinterferensi femtocell. Dari hasil pengujian, Sistem yang menggunakan metode ICIC memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan sistem yang tidak menggunakan metode. Kinerja tersebut ditunjukkan dengan nilai SINR dan throughput. Pada sistem dengan metode ICIC, nilai SINR diatas threshold naik hingga 42.76% dibanding pada sistem tanpa menggunakan metode ICIC. Untuk nilai throughput, pada sistem dengan metode ICIC user memiliki throughput diatas threshold ada 76.03% sedangkan pada sistem tanpa metode hanya 33.27% . Penerapan metode ICIC sangat tergantung pada ketersediaan kanal, sehingga meningkatnya user terinterferensi femtocell maka probabilitas user terselamatkan semakin berkurang.
LTE Load Balancing dengan Skenario Game Theory Mardela, Nila Putri; Kuswidiastuti, Devy
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adanya multi user yang meminta untuk dilayani dengan baik dalam kondisi apapun terutama dalam kondisi cell yang congested tentunya menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam sistem komunikasi wireless termasuk dalam hal ini untuk teknologi Long Term Evolution (LTE) sehingga diperlukan suatu proses dalam jaringan yang dapat menanggulangi permintaan user ini. Proses yang dapat dilakukan adalah dengan load balancing. Untuk memodelkan interaksi dari elemen jaringan yang melakukan load balancing , maka dibutuhkan suatu teknik atau skenario sehingga dicapai suatu keputusan yang rasional untuk dilakukannya load balancing. Teknik yang dapat digunakan adalah skenario game theory. Dalam tugas akhir yang berjudul LTE Load Balancing dengan Skenario Game Theory ini diusulkan metode Load Balancing Cooperative Game pada LTE dimana setiap tindakan yang dilakukan dalam rangka load balancing didasarkan terhadap nilai utilitas yang akan didapatkan, dan setiap eNB berhak memilih tindakan yang memiliki nilai utilitas maksimum. Efek dari load balancing yang diinginkan adalah penurunan jumlah drop call sebagai indikasi peningkatan layanan dan peningkatan utilitas eNB sebagai indikasi pengoptimalan utilitas bandwidth yang tidak terpakai. Dengan menerapkan LTE Load Balancing dengan Skenario Game Theory ini maka dapat dicapai penurunan jumlah drop call sebesar 92,33%, peningkatan utilitas eNB penolong sebesar 41,24%, dan 0,249% untuk peningkatan utilitas eNB congested yang meminta bantuan. Apabila dalam skema handover user dari eNB cell sumber yang congested ke eNB cell tetangga yang tidak congested ditambahkan syarat bahwa RSRP user dari eNB cell tetangga lebih besar dari pada eNB cell sumber maka penurunan drop call yang dicapai adalah sebesar 37,12%, peningkatan utilitas eNB penolong adalah sebesar 9,375%, dan peningkatan utilitas eNB congested yang meminta bantuan adalah sebesar 0,249%.
Rancang Bangun Modulator BPSK untuk Komunikasi Citra pada ITS-Sat Siahaan, Lena Miranti; Setijadi, Eko; Kuswidiastuti, Devy
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ITS-Sat merupakan satelit yang dirancang dan dibuat oleh mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Salah satu subsistem payload satelit tersebut adalah modulator BPSK yang digunakan untuk pengiriman citra pada lintasan downlink dengan frekuensi downlink 2,4 GHz. Tugas Akhir ini bertujuan untuk merancang dan mengimplementasikan modulator BPSK yang bekerja pada frekuensi IF (Intermediate Frequency) dengan frekuensi 70 MHz dan baud rate 19200 baud. Modulator BPSK yang telah diimplementasikan memiliki dimensi 5 cm x 3,7 cm. Hasil pengujian dan pengukuran perangkat menunjukkan bahwa modulator BPSK mampu bekerja dengan kecepatan transmisi data 19200 baud pada frekuensi IF 70 MHz. Hasil ini sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan sebagai modulator BPSK pada payload satelit ITS-Sat.
Rancang Bangun Demodulator BPSK untuk Komunikasi Citra pada Stasiun Bumi Aprilya, Atika; Setijadi, Eko; Kuswidiastuti, Devy
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem komunikasi satelit terdiri atas dua konfigurasi yaitu space segment (ruas angkasa) dan ground segment (ruas bumi). Pada tugas akhir ini dikhususkan pada stasiun bumi yang merupakan suatu ground segment yang dapat berfungsi sebagai pemancar maupun penerima. Stasiun bumi pada Tugas Akhir ini hanya membahas pada arah downlink, yang hanya menerima data yang dipancarkan dari satelit pico. Pada stasiun bumi terdapat berbagai macam modul seperti antenna, RF Downlink, baseband (demodulator), decoder(modul mikrokontroler), dan PC untuk menampilkan hasil pengiriman data berupa citra. Modul demodulator berfungsi mengembalikan sinyal termodulasi ke bentuk semula. Tugas akhir ini bertujuan merancang dan membuat perangkat demodulator BPSK yang bekerja pada baudrate 19200 baud/s. Demodulator ini diimplementasikan dengan melalui 3 tahap rancangan, yakni balanced modulator, carrier recovery, dan low pass filter. Pengujian demodulator BPSK ini melalui 3 tahap rancangan agar dapat mengetahui kinerja perangkat secara keseluruhan. Hasil pengujian menunjukan bahwa demodulator BPSK dapat mendemodulasi sinyal analog dengan baud rate 19200 baud/s. Hasilnya telah sesuai dengan spesifikasi rancangan yang dibutuhkan baseband pada stasiun bumi.
Kajian Penggunaan Standar Mobile Wimax untuk Sistem Komunikasi Taktis Militer Harsono, Dyah Ayu Kusumaningtyas; Hendrantoro, Gamantyo; Kuswidiastuti, Devy
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Teknik ITS (ISSN 2301-9271)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem komunikasi taktis merupakan sistem komunikasi yang diterapkan di area yang luas dengan kriteria tertentu diantaranya mampu menjadi Super Network akibat banyaknya unit yang bergabung dalam sebuah operasi militer, menuntut transfer data yang relatif cepat, diperkuat dengan keamanan transmisi, serta memungkinkan diterapkan pada infrastruktur yang tidak tetap. Pada penelitian ini dilakukan pengkajian  mengenai pemilihan teknologi Mobile Wimax sebagai teknologi komunikasi alternatif yang bisa diterapkan di daerah taktis. Pengkajian yang dilakukan menggunakan dua metode, yaitu dengan simulasi untuk menguji kemampuan security pada Mobile Wimax terhadap gangguan jamming dan studi pustaka mengenai kriteria yang harus dipenuhi dalam sistem komunikasi taktis seperti kemampuan Mobile Wimax menjadi Super Network, perbaikan rute apabila suatu saat terjadi pemblokan rute pada proses pentransmisian informasi, dan mekanisme yang membolehkan apabila sebuah unit baru ingin bergabung dalam sebuah jaringan mesh yang sudah aktif sebelumnya. Dari hasil simulasi yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa sistem Orthogonal Frequency Division Muliplexing (OFDM) yang ada pada Mobile Wimax harus dimodifikasi dengan memberikan convolutional coding dan interleaver agar tahan terhadap gangguan  jamming. Sedangkan pada hasil dari studi pustaka menunjukkan bahwa teknologi Mobile Wimax mampu memenuhi kriteria-kriteria yang telah ditetapkan.
Radio Resource Management dalam Multihop Cellular Network dengan menerapkan Resource Reuse Partition menuju teknologi LTE – Advanced Londong, Theresia Dwi Lestari; Hendrantoro, Gamantyo; Kuswidiastuti, Devy
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Teknik ITS (ISSN 2301-9271)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Multihop Cellular Networks (MCN) dengan relay adalah teknologi yang sedang diteliti untuk diterapkan pada komunikasi LTE – Advanced. Berdasarkan persyaratan yang telah ditetapkan oleh 3GPP untuk IMT-Advanced, diantaranya adalah peak data rate (maksimum kecepatan transfer data) untuk downlink adalah sebesar 1 Gbps dan 500 Mbps untuk uplink, operator telekomunikasi harus menyediakan arsitektur komunikasi pendukung teknologi LTE-Advanced dengan kualitas layanan yang tinggi dan cost efficient. Teknik MCN dengan pengaturan nilai daya pancar Relay Node dapat mengurangi jarak tempuh transmisi dan meningkatkan kualitas kanal komunikasi seiring dengan peningkatan nilai SINR. Pada skenario daya pancar Relay Node sebesar 27 dBm terlihat bahwa SINR sitem dengan relay mengalami penigkatan sebesar 0.0194% dibanding sistem tanpa rela. Metode Resource Reuse Partition (RRP) mampu menekan masalah pemborosan sub carrier akibat penerapan teknik MCN. Dari hasil skenario simulasi dengan variasi nilai Threshold SINR dan nilai pancar Relay Node dapat menekan masalah interferensi dan meningkatkan jumlah User yang mampu dilayani sistem. Nilai pemborosan terkecil pada skenario daya pancar  RN sebesar 27 dBm yaitu 32.55%. Jumlah User yang mampu dilayani sistem mengalami peningkatan 89.46% dibanding sistem dengan skenario daya pancar 40 dBm.
Evaluasi Kinerja Sistem Gaussian Minimum Shift Keying (GMSK) untuk Pengiriman Citra dari Satelit Nano ke Stasiun Bumi Habibi, Muhammad Rizal; Hendrantoro, Gamantyo; Kuswidiastuti, Devy
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Teknik ITS (ISSN 2301-9271)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Satelit nano IiNUSAT merupakan satelit nano pertama yang dibuat dan diluncurkan oleh mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Riset terkait satelit nano IiNUSAT telah mencapai tahap kedua yang bernama IiNUSAT II. Sistem komunikasi satelit nano IiNUSAT II memiliki dua lintasan transmisi, yaitu uplink dengan frekuensi carrier 145,995 MHz dan downlink dengan frekuensi carrier 2,4 GHz. Satelit nano IiNUSAT II dipersiapkan untuk melakukan surveillance terhadap bumi, sehingga sinyal informasi yang dikirimkan dalam lintasan downlink adalah sinyal informasi yang berasal dari citra. Satelit nano IiNUSAT II berorbit pada Low Earth Orbit (LEO) dengan kecepatan tertentu. Pergerakan relatif satelit terhadap stasiun bumi mengakibatkan adanya pergeseran frekuensi kerja satelit  yang dikenal dengan Doppler shift. Doppler shift terbesar terjadi saat satelit berada pada jarak terjauh dengan terminal di bumi. Pada lintasan transmisi downlink, Doppler shift maksimum adalah sebesar 51,1 kHz. Di samping Doppler shift, pada kanal sistem komunikasi satelit ini juga terdapat gangguan lain yang berupa Additive White Gaussian Noise (AWGN). Berdasarkan hasil simulasi, dapat diketahui bahwa Doppler shift tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap lintasan downlink yang digunakan dalam proses pengiriman citra dari satelit nano menuju stasiun bumi.
Kajian Implementasi Standar Long-Term Evolution (LTE) pada Sistem Komunikasi Taktis Militer Pradana, Aris; Hendrantoro, Gamantyo; Kuswidiastuti, Devy
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Teknik ITS (ISSN 2301-9271)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem komunikasi taktis memungkinkan banyak pengguna dengan mobilitas tinggi, memiliki kemampuan network recovery dan network entry yang baik, serta diperkuat dengan sistem keamanan transmisi yang tahan terhadap jamming. Di sisi lain kemajuan telekomunikasi mendorong dikembangkannya LTE (Long-Term Evolution). LTE meningkatkan kapasitas sistem, cakupan area, high peak data rates, didukung dengan sistem keamanan yang baik guna mewujudkan pelayanan komunikasi menjadi lebih baik. Pada penelitian ini dilakukan simulasi dan pengkajian penggunaan standar teknologi LTE agar mampu mendukung dan meningkatkan kualitas sistem komunikasi taktis militer. Simulasi dilakukan untuk menguji kemampuan LTE terhadap jamming. Dari hasil simulasi dan pengkajian didapatkan bahwa sistem uplink LTE, dengan penambahan convolutional coding dan interleaver 8×8, memiliki ketahanan terhadap jamming dengan amplitudo di bawah 2,5 V, serta lebih tahan terhadap multitone-jamming pada sub-carrier yang berbeda daripada multitone-jamming pada sub-carrier yang sama. Arsitektur LTE dengan dukungan teknik AMC, AAA server, dan fast cell selection mampu mendukung sistem super network, network entry, dan network recovery pada sistem komunikasi taktis.