Engkus Kuswarno
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Jl. Raya Bandung-Sumedang Km 21, Jatinangor-Sumedang Telp. (022) 7794122 Telp/Fax (022) 7796954.

Published : 18 Documents
Articles

Found 18 Documents
Search

KOMUNIKASI TUAN GURU SEBAGAI MOTIVATOR DI PESANTREN Yuni Dharta, Firdaus; Kuswarno, Engkus
Sosiohumaniora Vol 14, No 1 (2012): SOSIOHUMANIORA, MARET 2012
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.135 KB)

Abstract

Penelitian tentang Komunikasi Tuan Guru sebagai motivator di Pesantren dilakukan di beberapa pondok pesantren di Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini berdasarkan pada fenomena rendahnya motivasi masyarakat untuk mengikuti pendidikan, ketidakberdayaan masyarakat serta rendahnya tingkat partisipasi masyarakat. Dengan menggunakan pendekatan interaksi simbolis, penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan penelitian yaitu bagaimanakah Komunikasi Tuan Guru untuk memotivasi masyarakat, memberdayakan masyarakat, dan meningkatkan partisipasi masyarakat. Metode pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan partisipatif dan wawancara mendalam dengan sejumlah informan kunci yang berasal dari beberapa pondok pesantren yang terdapat di Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tuan Guru berinteraksi dengan masyarakat, siswa dan santri dengan menggunakan dua bentuk komunikasi yaitu komunikasi lisan (verbal), komunikasi bilhal, dan integrasi antara komunikasi lisan dan bilhal. Integrasi antara komunikasi lisan (verbal) dan komunikasi bilhal mengubah pandangan tentang Tuan Guru dari Tuan Guru sebagai agamawan tradisional kepada Tuan Guru sebagai agawaman organisasi yang tidak mahir atau berpengetahuan tentang Kitab Kuning tetapi juga membumikan pengetahuan Kitab Kuning dalam perbuatan praksis (Kitab Hijau) yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat melalui kegiatan pendidikan, penghijauan, perekonomian dan pemberdayaan masyarakat. Dalam berinteraksi dengan masyarakat, siswa dan santri, Tuan Guru tidak hanya menggunakan simbol-simbol verbal berupa kata-kata, ucapan, isyarat, kinestik; tetapi juga menggunakan simbol perbuatan nyata dalam kehidupan praksis masyarakat. Integrasi antara Kitab Kuning dan Kitab Hijau pada akhirnya tersebut menjadi basis kepercayaan masyarakat kepada Tuan Guru yang memotivasi masyarakat, meningkatkan partisipasi masyarakat, dan memberdayakan masyarakat.
Efektivitas Komunikasi Organisasi Kuswarno, Engkus
Mediator Vol 2, No 1 (2001)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terdapat dua aspek penting yang mempengaruhi efektivitas komunikasi organisasi. Pertama, masalah proses pengolahan informasi dalam organisasi, yaitu menyangkut masalah pemaknaan pesan (informasi) dan jumlah informasi; kedua, masalah gaya komunikasi organisasi. Pemahaman kedua hal tersebut menjadi bekal bukan saja bagi para (calon) pemimpin organisasi, manajer, akan tetapi juga bagi semua yang terlibat dalam organisasi. Kegagalan komunikasi adalah menjadi pertimbangan terpenting dari setiap proses komunikasi organisasi, dengan maksud dapat diprediksi, dianalisis, dan ditanggulangi jika hal itu terjadi.
Tradisi Fenomenologi pada Penelitian Komunikasi Kualitatif: Sebuah Pengalaman Akademis Kuswarno, Engkus
Mediator Vol 7, No 1 (2006): Nomor Syukur
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

As a communication quantitative research, a phenomenological tradition in communication qualitative research has been divided in three important steps, such as preparation, implementation and reporting step. Researcher in the preparation step has a lot of philosophical basic’s knowledge such as ontology, epistemology and acciology. Researcher in the implementation step has not only known how do the research better, but how to get some literatures for his/her own knowledge from other researcher. Researcher in the reporting step has developed a research reporting format in its own institution tradition. Every educational institution has developed a research reporting format on its own traditions; depend on level of education and particular scientific specification.
STRATEGI PROMOSI UNTUK MENINGKATKAN KOMERSIALISASI HASIL RISET IPTEK Kuswarno, Engkus
Sosiohumaniora Vol 8, No 2 (2006): SOSIOHUMANIORA, JULI 2006
Publisher : Sosiohumaniora

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.537 KB)

Abstract

Tema kajian ini adalah bagaimana produk iptek hasil riset dapat dijadikan komoditas yang komersial dan laku dijual. Cara memasarkan produk iptek biasanya secara konvensional melalui seminar dan publikasi. Untuk Memasarkan (mengkomersialkan) ciptaan iptek itu tampaknya perlu strategi lain. Penelitian ini menggunakan pendekatan survey deskriptif dan pengumpulan data memalui Focus Group Discussion (FGD). Hasilnya ditemukan bahwa riset untuk penerapan atau aplikasi lebih berpotensi komersial dibandingkan dengan riset untuk pengembangan ilmu. Terdapat dua strategi untuk promosi hasil riset agar berhasil secara komersial, yaitu pendekatan komunikasi pemasaran, melalui bauran promosi atau bauran komunikasi, dan pendekatan inovasi, melaui difusi inovasi. Agar secara komersial menguntungkan, maka peranan jaringan institusi sumber hasil riset iptek (inventor) dengan institusi penguasa hasil riset tersebut (misalnya masyarakat industri dan investor) sangat diperlukan, terutama untuk pemasyarakatan hasil riset dalam jumlah besar atau produksi missal. Kata kunci: Promosi, Komersialisasi, Komunikasi Pemasaran, Bauran Komunikasi, Komunikasi Inovasi, Difusi Inovasi.
TRADISI FENOMENOLOGI PADA PENELITIAN KOMUNIKASI KUALITATIF Sebuah Pedoman Penelitian dari Pengalaman Penelitian Kuswarno, Engkus
Sosiohumaniora Vol 9, No 2 (2007): SOSIOHUMANIORA, JULI 2007
Publisher : Sosiohumaniora

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.572 KB)

Abstract

Seperti lazimnya penelitian komunikasi perspektif kuantitatif, penelitian komunikasi kualitatif tradisi fenomenologi dibagi ke dalam tiga tahap penting, yaitu tahap persiapan, pelaksanaan dan pelaporan. Pada tahap persiapan, peneliti perlu memperoleh cukup pengetahuan dasar filosofisnya, meliputi aspek ontologis, epistemologis maupun aksiologisnya. Pada tahap pelaksanaan, peneliti tidak hanya dituntut mengetahui bagaimana sebaiknya melakukan penelitian, tetapi juga bagaimana mendapatkan pengetahuan dari penelitian orang lain melalui penelusuran literatur. Pada tahap pelaporan, seringkali peneliti harus mengembangkan format laporan penelitian mengikuti tradisi yang dikembangkannya. Tulisan ini mengacu pada pengalaman penulis pada pelaksanaan penelitian tentang Komunikasi Pengemis, dengan beberapa penyederhanaan. Kata kunci : komunikasi, kualitatif, tradisi, fenomenologi
Desa Tani, Penduduk Miskin, Lumbung Padi, dan Layanan Implementatif Perpustakaan Desa di Kecamatan Pamarican Kabupaten Ciamis Yusup, Pawit M; Khadijah, Ute Lies Siti; Kurniasih, Nuning; Kuswarno, Engkus
Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 13, No 2 (2017): Desember
Publisher : UPT Perpustakaan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This preliminary study aims to explore the initial data on the pilot system development joint venture farmer groups in the form of a granary (granaries famine) in the village. These types of business groups based on local knowledge systems are characterized by togetherness, solidarity, mutual help, and proved resilient in the face of global change. To begin the steps necessary technical-strategic and integrated approach, involving various related elements, such as universities, business entities that exist in the village, community leaders, business groups community, village library, and other elements. The approach used is the field observation and interviews with a number of related elements. The technical measures that do are as follows: (a) explore the initial information through discussions with the community about the problems of rural poverty maps from the aspects of the provision of business training based reading information sources entrepreneurship; (b) study with poor rural communities about the potential for business in the village on the basis of their views and experiences; (c) developing a business model based on the use of reading materials that match the type of business in the village; (d) a discussion on the pilot implementation of a business group based Lumbung Padi village, which proved resistant to global change; and (e) to synergize all activities performed by each of the above elements, in the form of a model village harmony peasants, the poor, granary, and the village library.
Kearifan Lokal Ulun Lampung Kajian PR Budaya Melalui Pendekatan Etnografi PR Hidayat, Dasrun; Kuswarno, Engkus; Zubair, Feliza; Hafiar, Hanny
J-IKA Vol 4, No 1 (2017): JURNAL J-IKA
Publisher : J-IKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKArtikel ini fokus pada ritual mupakat adat prosesi pemberian gelar atau Juluk Adok. Aspek-aspek yang dikaji meliputi simbol pada sistem dan status pernikahan sebagai gerbang pemberian gelar. Simbol sistem dan status pernikahan yakni simbol atribut adat yang digunakan pada prosesi pemberian gelar. Simbol tersebut terdiri dari simbol Mupakat Kamar, Mupakat Pandia Paku Sakha dan Mupakat Balak sebagai pedoman prosesi pemberian gelar. Penelitian dilaksanakan di Desa Banjar Negeri Kecamatan Gunung Alip Kabupaten Tanggamus Lampung. Penelitian ini menggunakan studi Etnografi PR yang berfokus pada perilaku komunikasi Jakhu Suku sebagai PR Budaya. Penelitian bersifat kualitatif dengan paradigma konstruktivis. Teknik pengumpulan data melalui observasi dan wawancara dengan melibatkan delapan informan perangkat adat. Hasil penelitian menemukan bahwa mupakat adat menjadi simbolisasi ritual pemberian gelar. Simbolisasi meliputi Mupakat Kamar, Mupakat Pandia Paku Sakha dan Mupakat Balak. Mupakat adat terjadi secara khas dan berulang sehingga membangun Pola Kerja Jakhu Suku pada prosesi mupakat adat pemberian gelar. Kata kunci: PR Budaya, Kearifan Lokal, Pola Mupakat Adat. ABSTRACTThis article focuses on the traditional mupakat rituals of giving title procession named juluk adok. These aspects are examined include the symbol on the system and the status of marriage as a gate of giving title. Symbols on the system is the custom attributes symbols used in giving title procession. The symbol consists of Mupakat Kamar symbols, Mupakat Pandia Paku Sakha, and Mupakat Balak as guidelines for giving title procession. The research was conducted in the village of Banjar Negeri in District Gunung Alip Tanggamus Lampung. This study used Ethnographic PR studies that focus on Jakhu Suku’s communication behavior as a Culture PR. The research is qualitative with the constructivist paradigm. The technique of collecting data through observation and interviews with eight informants of custom devices. The study found that traditional mupakat become a symbolization of giving title ritual. Symbolization includes Mupakat Kamar, Mupakat Pandia Paku Sakha, and Mupakat Balak. Traditional mupakat be typically and repeatedly so as to build a work pattern of Jakhu Suku in traditional mupakat of giving title procession. Keywords: Culture-PR, Local Wisdom, Traditional Mupakat Pattern.
Desa Tani, Penduduk Miskin, Lumbung Padi, dan Layanan Implementatif Perpustakaan Desa di Kecamatan Pamarican Kabupaten Ciamis Yusup, Pawit M; Khadijah, Ute Lies Siti; Kurniasih, Nuning; Kuswarno, Engkus
Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 13, No 2 (2017): Desember
Publisher : UPT Perpustakaan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (662.228 KB)

Abstract

This preliminary study aims to explore the initial data on the pilot system development joint venture farmer groups in the form of a granary (granaries famine) in the village. These types of business groups based on local knowledge systems are characterized by togetherness, solidarity, mutual help, and proved resilient in the face of global change. To begin the steps necessary technical-strategic and integrated approach, involving various related elements, such as universities, business entities that exist in the village, community leaders, business groups community, village library, and other elements. The approach used is the field observation and interviews with a number of related elements. The technical measures that do are as follows: (a) explore the initial information through discussions with the community about the problems of rural poverty maps from the aspects of the provision of business training based reading information sources entrepreneurship; (b) study with poor rural communities about the potential for business in the village on the basis of their views and experiences; (c) developing a business model based on the use of reading materials that match the type of business in the village; (d) a discussion on the pilot implementation of a business group based Lumbung Padi village, which proved resistant to global change; and (e) to synergize all activities performed by each of the above elements, in the form of a model village harmony peasants, the poor, granary, and the village library.
Aspek keterbatasan akses informasi penghidupan orang miskin pedesaan Yusup, Pawit M; Kuswarno, Engkus; Kurniasih, Nuning
Masyarakat, Kebudayaan dan Politik Vol 30, No 1 (2017): Masyarakat, Kebudayaan dan Politik
Publisher : FISIP Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.806 KB)

Abstract

This study aims to assess the meaning of poor from the perspectives of poor people in rural areas, specifically in the context of the limited access to livelihood information. The method used in this research is qualitative phenomenological tradition. Data collected by unstructured interview technique, involving 65 informants whom originated from rural poor in the southern part of West Java. The study conducted during 2014-2016. The results illustrate that the meaning of poor and poverty from the perspective of the poor are: those who do not feel fast enough to get information about their livelihood; who feel that there were no another party that tells information about their livelihood; people who feel that nothing can be done to increase their income; who feel that they have no information and knowledge in entrepreneurship; who feel that no need to put effort in seeking of information about livelihood; a person who feels sad to see people scramble around to get information about a living; persons who are not able to compete in getting information related to livelihood; people who do not have information about other parties who can help them out of poverty; people who feel that there are no books and other sources of information ona better technique of entrepreneurship; people who feel that there was inadequate time to read books and other reading materials about entrepreneurship; and, those who feel that they only have limited experience in finding and using information about livelihoods.
MESSAGE PLATFORM ATRIBUT SIGER LAMPUNG DI DALAM KEBHINEKAAN MULTIKULTUR Hidayat, Dasrun; Kuswarno, Engkus; Zubair, Feliza; Hafiar, Hanny
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.852 KB)

Abstract

Penelitian ini fokus pada pengelolaan keberagaman dan kebinekaan di tengah masyarakat Lampung yang multikultur. Aspek yang dikaji yakni pesan komunikasi dan negosiasi nilai keragaman untuk mencapai kebbinekaan yang terdapat pada makna Siger. Menggunakan studi kasus dengan paradigma konstruktivis, penelitian ini menemukan bahwa bentuk Siger sebagai lambang kebesaran gelar yang dimiliki masyarakat adat Saibatin Lampung. Siger dengan 7 lekukan menggambarkan tentang posisi, perang dan tanggung jawab setiap gelar atau Juluk Adok. Lekukan pertama berukuran paling tinggi, artinya posisi paling depan menggambarkan posisi gelar tertinggi. Lekukan berikutnya dengan ukuran semakin pendek artinya posisi gelar yang berada di bawah posisi gelar sebelumnya dan seterusnya. Adat Saibatin mempunyai 7 gelar dengan pembagian dua wilayah Ke-Bandandakhan dan Ke-Sebatinan. Ke-Bandakhan terdiri dari gelar Sultan, Pangikhan, Dalom/Batin, Khaja, Khadin, Minak dan Kimas. Ke-Sebatinan meliputi gelar Dalom/Batin, Khaja, Khadin, Minak, Kimas, Mas, dan Layang. Message Platform yang ada pada atribut siger menonjolkan tentang identitas budaya yang menghasilkan integrasi budaya melalui pernikahan antar suku yang harus dikelola oleh setiap penerima gelar. Tanggung jawab untuk mengelola keberagaman adat istiadat di tengah kebinekaan masyarakat multikultur. Reputasi bahwa masyarakat Lampung ramah dan terbuka menjadi salah satu faktor perekat keberagaman menjadi kebinekaan.