Aryu Candra Kusumastuti
Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro

Published : 58 Documents
Articles

PENGARUH ASUPAN PURIN DAN CAIRAN TERHADAP KADAR ASAM URAT WANITA USIA 50-60 TAHUN DI KECAMATAN GAJAH MUNGKUR, SEMARANG

Journal of Nutrition College Vol 2, No 1 (2013): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Salah satu penyakit degeneratif yang sering dialami oleh golongan pralansia yaitu penyakit gout. Gout merupakan gangguan metabolik yang ditandai dengan meningkatnya kadar asam urat (hiperurisemia). Meningkatnya  kadar asam urat dipengaruhi oleh asupan makanan tinggi purin. Sementara, konsumsi cairan yang tinggi dapat menurunkan kadar asam  urat, karena cairan berfungsi sebagai pelarut dan sebagai media pembuangan hasil metabolisme. Tujuan : Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh asupan purin dan cairan terhadap kadar asam urat wanita usia 50-60 tahun. Metode : Jenis penelitian adalah observasional dengan rancangan cross-sectional. Jumlah subjek penelitian adalah 40 orang wanita usia 50-60 tahun . Asupan  purin dihitung menggunakan tabel pengelompokan bahan makanan menurut kadar purin, sedangkan cairan menggunakan software nutrisurvey. Metode enzimatik digunakan untuk menganalisis kadar asam urat dalam darah. Data diolah menggunakan uji regresi linier. Hasil : Kadar asam urat sebagian besar subjek (95%) termasuk dalam kategori normal. Sebanyak 82,5% asupan purin subjek rendah, yaitu < 500 mg per hari dan juga 85% asupan cairan subjek cukup, yaitu  >1500 ml per hari. Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada pengaruh antara cairan dengan kadar asam urat (p>0,05) dan ada pengaruh  positif asupan purin terhadap kadar asam urat (p<0,05). Kesimpulan : Asupan purin berpengaruh terhadap kadar asam urat, sedangkan cairan tidak berpengaruh terhadap kadar asam urat pada wanita usia 50-60 tahun.

STATUS YODIUM PENDERITA HIPERTENSI DENGAN DIET RENDAH GARAM ( STUDI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEDUNGMUNDU SEMARANG)

Journal of Nutrition College Vol 1, No 1 (2012): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Garam merupakan salah satu komoditi yang difortifikasi dengan yodium dan menjadi salah satu sumber yodium yang sehari-hari dikonsumsi. Namun pembatasan asupan natrium berupa diet rendah garam pada penderita hipertensi dikhawatirkan dapat mengakibatkan defisiensi yodium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dan perbedaan status yodium antara penderita hipertensi yang diet rendah garam dan tidak diet rendah garam. Metode: Penelitian dengan desain cross sectional pada 48 orang subjek yang terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok diet dan non-diet. Subjek dipilih secara consecutive sampling. Status yodium subjek diukur menggunakan sampel Ekskresi Yodium Urin (EYU) sewaktu. Analisis bivariat dengan uji independent t-test. Hasil: 3 orang subjek dari kelompok diet (12,5%) memiliki nilai EYU <100 µg/L sedangkan subjek dari kelompok non-diet tidak ada yang memiliki nilai EYU <100 µg/L. Rerata nilai EYU pada subjek kelompok diet (195,95±82,55 µg/L) lebih rendah daripada kelompok non-diet (268,33±58,49 µg/L). Terdapat perbedaan nilai EYU yang bermakna antara kelompok diet dan non-diet dengan tingkat kemaknaan p = 0,001. Simpulan: Terdapat perbedaan nilai EYU dan asupan yodium yang bermakna antara kelompok diet dan non-diet. Persentase subjek yang memiliki nilai EYU bawah nilai normal lebih besar pada kelompok diet daripada kelompok non-diet.

HUBUNGAN ANTARA BODY IMAGE DAN PERILAKU MAKAN DENGAN STATUS GIZI REMAJA PUTRI DI SMA THERESIANA SEMARANG

Journal of Nutrition College Vol 1, No 1 (2012): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: The dissatisfaction with their body shapes is commonly found among female adolescents. The lack of the contentment lead them to gain an ideal body shape but, unfortunately, they implement improper eating behaviour. The extreme diet they have affects negatively to their nutritional status. This study was aimed at analyzing the association between the body image and eating behaviour with nutritional status of female adolescents. Methods: The study was cross-sectional on 72 female students of grade X, XI and XII in Theresiana Senior High School Semarang. The samples were taken based on simple random sampling. The samples were fulfilled inclusive criterion. The data were gathered by using questionnaires and focus group discussion (FGD). The FGD was intended to find more data on body image. Nutritional status data was obtained by measuring weight and height.  Then, z-score was calculated based on BMI/ U by using WHO Anthro Plus 2007. Results: A total of 29 subjects (40.3%) were not satisfied with their body shape and 43 subjects (59.7%) were satisfied with their body shape. The majority (56.9%) subjects have not good eating behavior yet, whereas 43.1 % of them have good eating behavior. There were significant association between body image with nutritional status (r = 0.482 p = 0.001) and eating behavior with nutritional status (r = 0.507 p = 0.001). Conclusion: Body image and the eating behavior were associated with nutritional status of female adolescents.

HUBUNGAN PEMBERIAN SUSU FORMULA DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BAYI USIA 0-6 BULAN

Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Diare adalah suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti biasanya, dimana terjadi peningkatan volume, konsistensi lunak atau encer dan frekuensi lebih dari 3kali/hari dan pada neonates lebih dari 4 kali/hari. Angka kejadian dan kematian diare masih tinggi terutama pada bayi yang mendapat susu formula. Pemberian susu formula dengan botol yang tidak sesuai prosedur meningkatkan risiko diare karena kuman dan moniliasis mulut yang meningkat, sebagai akibat dari pengadaan air dan sterilisasi yang kurang baik.Tujuan : Mengetahui hubungan pemberian susu formula dengan kejadian diare pada bayi usia 0-6 bulan. Metode : Jenis Penelitian adalah analitik observasional dengan rancangan kasus kontrol dengan matching berdasarkan usia bayi. Pengambilan subjek secara purposive sampling. Kelompok kasus adalah 40 subjek yang mengalami diare sedangkan kontrol adalah 40 subjek yang tidak mengalami diare. Data dianalisis menggunakan uji statistic Chi Square.Hasil : Hasil penelitian menunjukkan sebesar 92,5% bayi pada kelompok kasus menderita diare dan diberi susu formula. Semua subjek mendapatkan jenis susu formula yang tepat. Analisis bivariat menunjukkan pemberian susu formula berhubungan dengan kejadian diare (p = 0.000; OR= 14,1; CI = 2,9-66,4), cara pemberian susu formula berhubungan dengan kejadian diare (p = 0.040; OR 4.1; CI = 1.21 - 8.84) .Simpulan : Terdapat hubungan bermakna antara pemberian susu formula dengan kejadian diare pada bayi usia 0-6 bulan dan cara pemberian susu formula dengan kejadian diare pada bayi usia 0-6 bulan.

HUBUNGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU MENYUSUI DENGAN STATUS GIZI BAYI USIA 0-6 BULAN

Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan utama bagi bayi usia 0-6 bulan. ASI yang diproduksi dipengaruhi oleh asupan makan dan riwayat gizi ibu. Anemia merupakan salah satu masalah gizi yang disebabkan karena kekurangan asupan mikronutrien seperti zat besi, asam folat, dan vitamin B12. Anemia ibu akan berhubungan dengan performa ibu,  kualitas dan kuantitasASI yang akan berpengaruh pada status gizi bayi.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kejadian anemia pada ibu menyusui dengan status gizi bayi usia 0-6 bulan. Metode: Desain penelitian Cross Sectional dengan jumlah sampel 51 ibu menyusui yang memiliki bayi usia 0-6 bulan. Sampel ditentukan secara Purposive Sampling. Data yang diteliti meliputi kadar Hemoglobin pada ibu yang ditentukan dengan metode Cyanmethemoglobin, berat badan bayi diukur dengan Baby Scale, pemberian ASI eksklusif diketahui melalui wawancara, dan asupan mikronutrien diperoleh melalui formulir Recall 3x24 jam kemudian dihitung dengan nutrisoft. Uji yang digunakan adalah uji Chi Square.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 60,78% ibu menyusui mengalami anemia dan 3,92% bayi usia 0-6 bulan mengalami gizi kurang. Rerata kadar hemoglobin ibu menyusui sebesar 11,75±1,19 SD dan rerata untuk z-score BB/U bayi sebesar 0,08±1,05 SD. Tidak ada hubungan bermakna antara kejadian anemia pada ibu menyusui dengan status gizi bayi usia 0-6 bulan (p=0,75). Simpulan: Tidak ada hubungan antara kejadian anemia pada ibu menyusui dengan status gizi bayi usia 0-6 bulan.

HUBUNGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU MENYUSUI DENGAN STATUS GIZI BAYI USIA 7-12 BULAN

Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Anemia merupakan masalah utama pada wanita hamil dan menyusui. Hal tersebut berkaitan dengan defisiensi asupan mikronutrien seperti zat besi, asam folat dan vitamin B12. Anemia pada ibu dapat berhubungan dengan pola asuh ibu, kualitas dan kuantitas ASI yang akan berpengaruh pada status gizi bayi. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kejadian anemia pada ibu menyusui dengan status gizi bayi usia 7-12 bulan.Metode : Desain penelitian cross-sectional dengan subjek 51 ibu menyusui yang dipilih secara purposive sampling. Kadar hemoglobin ibu diukur menggunakan metode Cyanmethemoglobin, berat badan bayi diukur dengan Baby Scale. Asupan mikronutrien ibu diperoleh dengan metode Recall 24 jam dan asupan MPASI diperoleh dengan metode Food Frequency Questionnaire (FFQ) kemudian dihitung dengan nutrisoft. Analisis bivariat menggunakan uji Chi Square.Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa 58,8% ibu menyusui mengalami anemia dan 9,8% bayi usia 7-12 bulan mengalami gizi kurang. Rerata kadar hemoglobin ibu 11,8 gr/dL dan rerata z-score bayi -0,40 ± 1,00 SD. Asupan MPASI 74,5% tergolong kurang. Tidak ada hubungan bermakna antara kejadian anemia pada ibu menyusui dengan status gizi bayi usia 7-12 bulan (p=0,95) dan tidak ada hubungan bermakna antara asupan MPASI dengan status gizi bayi usia 7-12 bulan (p=0,16).Simpulan : Tidak ada hubungan antara kejadian anemia ibu menyusui dengan status gizi bayi usia 7-12 bulan.

HUBUNGAN ASUPAN LEMAK JENUH DENGAN KEJADIAN ACNE VULGARIS

Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Acne vulgaris adalah salah satu penyakit kulit yang sering menjadi masalah bagi remaja dan dewasa muda. Pada wanita, acne vulgaris berkembang lebih awal, yaitu pada saat premenarke. Puncak insiden pada wanita dijumpai pada usia 14-17 tahun. Asupan makan terutama tinggi lemak jenuh dapat memicu timbulya acne vulgaris bahkan memperburuk acne vulgaris. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan asupan lemak jenuh dengan kejadian acne vulgaris.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan sampel 60 siswi SMA Negeri 5 Semarang berusia 14-18 tahun. Data primer seperti riwayat  acne vulgaris diperoleh dari wawancara dan observasi. Data asupan diperoleh dari pengisian lembar food recall lalu dianalisis software nutrisoft. Selain data riwayat acne, peneliti juga mengambil data lain melalui wawancara seperti riwayat  menstruasi, stress, kebersihan wajah, riwayat keluarga yang menderita acne. Analisis data dilakukan dengan uji chi square, dengan tingkat kemaknaan p < 0,05Hasil penelitian: Kejadian acne vulgaris paling banyak ditemukan pada usia 16-17 tahun (51,7%). Asupan lemak jenuh pada responden  sebagian besar tergolong  lebih dari cukup (50,0%) . Berdasarkan hasil wawancara sebagian besar subjek (41,7%) menyatakan timbulnya acne vulgaris sewaktu-waktu. Pada sebagian besar siswi yang menderita acne  terdapat Riwayat keluarga yang positif (60,0%). Faktor menstruasi berpengaruh pada kejadian acne vulgaris p=0,003. Tidak ada hubungan bermakna antara asupan lemak jenuh dengan kejadian acne vulgaris p=0,988Simpulan: Terdapat hubungan yang tidak bermakna antara asupan lemak jenuh dengan kejadian acne vulgaris. Terdapat hubungan yang bermakna antara kejadian menstruasi dengan kejadian acne vulgaris.

HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN SARAPAN DAN KEBIASAAN JAJAN DENGAN STATUS GIZI ANAK SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN PEDURUNGAN KOTA SEMARANG

Journal of Nutrition College Vol 2, No 1 (2013): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Meningkatnya prevalensi obesitas pada anak perlu menjadi perhatian publik. Obesitas pada anak-anak dan remaja dapat berlangsung hingga dewasa dan dapat menjadi faktor risiko dari berbagai penyakit degeneratif. Meninggalkan sarapan dan mengkonsumsi makanan jajanan tinggi kalori dapat menyebabkan obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kebiasaan sarapan dan kebiasaan jajan dengan status gizi dan besar risiko terhadap kejadian obesitas dan kegemukan pada anak sekolah dasar. Metode : Penelitian dilakukan di 2 SD di kecamatan Pedurungan kota Semarang. Desain penelitian kasus kontrol dengan jumlah subyek sebesar 64 yang terdiri dari 32 kasus dan 32 kontrol. Pemilihan sampel penelitian menggunakan simple random sampling pada anak kelas 3 sampai dengan kelas 6. Data kebiasaan sarapan dan kebiasaan jajan diperoleh dari wawancara secara langsung menggunakan metode Food Recall selama seminggu. Hasil : Prevalensi overweight dan obesitas sebesar 11,7% dan 8%. Pada penelitian ini ditemukan 13 subjek (40,62%) pada kelompok kasus dan 15 subjek (46,87%) pada kelompok kontrol yang tidak biasa sarapan dan tidak terdapat hubungan antara kebiasaan sarapan dengan status gizi (p=0.614; OR=0,636; CI= 0.479-3.470). Hasil penelitian juga menunjukkan 29 subjek (90,65%)  kelompok kasus dan 17 subjek (53,15%) kelompok kontrol biasa jajan dan terdapat hubungan antara kebiasaan jajan terhadap kejadian obesitas dan kegemukan (p=0.001; OR= 7.012; CI=2.153-33.788). Terdapat 28 subjek (43,76%) yang tidak biasa sarapan tetapi biasa jajan, dan tidak terdapat subjek yang tidak biasa sarapan tetapi tidak biasa jajan. Terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan sarapan dengan kebiasaan jajan (p=0,000; OR=1.500; CI=0.361-0.693) Simpulan : Kebiasaan sarapan berhubungan dengan kebiasaan jajan. Tidak biasa sarapan dapat meningkatkan risiko biasa jajan sebesar 1,5 kali. Kebiasaan jajan berhubungan dengan status gizi. Biasa jajan meningkatkan risiko terjadinya status gizi lebih sebesar 7 kali.

HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN PENURUNAN PERSEN LEMAK TUBUH IBU MENYUSUI

Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Sebagian besar ibu setelah melahirkan mengalami kenaikan berat badan sampai terjadi obesitas.  Obesitas yang terjadi pada wanita disebabkan oleh faktor sosial, ekonomi, lingkungan, dan faktor reproduksi. Perubahan fisiologi yang terjadi pasca melahirkan, masa kehamilan dan  menyusui menyebabkan terjadinya obesitas pada ibu. Menyusui secara eksklusif dapat menurunkan berat badan ibu sehingga dapat mengurangi risiko obesitas postpartum.Tujuan: Mengetahui hubungan pemberian ASI eksklusif dengan penurunan persen lemak tubuh ibu menyusui.Metode: Desain penelitian cohort dengan jumlah subjek 54 ibu menyusui di wilayah puskesmas Ngemplak Simongan dan Candi Lama. Data yang diteliti meliputi pemberian ASI eksklusif dengan cara wawancara dan kuesioner, persen lemak tubuh yang diukur dengan alat Omron Body Fat Analyzer Scale model HBF-200, dan  asupan lemak menggunakan formulir FFQ semi quantitative. Analisis bivariat menggunakan uji Chi Square dan uji Fisher’s. Analisis multivariat menggunakan  uji regresi logistik untuk melihat hubungan kedua variabel setelah dikontrol oleh asupan lemak.Hasil: Proporsi pemberian ASI eksklusif sebesar 19 subjek (35,2%) dan ASI tidak eksklusif sebesar 35 subjek (64,8%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 12 subjek (63,2%) pada kelompok ASI eksklusif dan sebesar 9 subjek (25,7%) pada kelompok ASI tidak eksklusif mengalami penurunan persen lemak tubuh. Analisis bivariat menunjukkan ada hubungan pemberian ASI eksklusif dengan penurunan persen lemak tubuh (p=0,007; RR= 2,7). Ada hubungan bermakna antara pemberian ASI eksklusif dengan penurunan persen lemak tubuh setelah dikontrol oleh asupan lemak (p= 0,006).Kesimpulan: Terdapat hubungan pemberian ASI eksklusif dengan penurunan persen lemak tubuh. Menyusui secara eksklusif menurunkan persen lemak tubuh 2,7 kali lebih besar dibandingkan dengan tidak menyusui secara eksklusif.

HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN PENURUNAN BERAT BADAN IBU MENYUSUI

Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 *)Penulis Penanggungjawab Latar Belakang: Pemberian ASI eksklusif diyakini sebagai cara yang efektif untuk menurunkan berat badan setelah melahirkan. Hal tersebut masih bersifat kontroversi karena beberapa penelitian menunjukan bahwa menyusui dapat menurunkan berat badan, sedangkan beberapa penelitian belum menunjukan hasil yang serupa.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemberian ASI eksklusif dengan penurunan berat badan ibu menyusui.Metode: Desain penelitian kohort prospektif dengan jumlah subjek 54 ibu menyusui yang dipilih secara purposive sampling. Data yang diteliti meliputi berat badan yang diukur dengan timbangan injak digital, pemberian ASI eksklusif diketahui melalui wawancara dengan kuesioner dan asupan energi diperoleh melalui formulir Food Frequency Questionaire semi kuantitatif kemudian dihitung dengan nutrisurvey. Uji chi square digunakan untuk analisis bivariat dan regresi logistik digunakan untuk analisis multivariat.Hasil: Proporsi pemberian ASI eksklusif sebesar 35,2% dan ASI tidak eksklusif sebesar 64,8%. Hasil penelitian ini menunjukan sebesar 78,9% ibu pada kelompok ASI eksklusif dan sebesar 51,4 % pada kelompok ASI tidak eksklusif mengalami penurunan berat badan. Rerata penurunan berat badan sebanyak 1,1 kg pada kelompok ASI eksklusif dan sebanyak 0,4 kg pada kelompok ASI tidak eksklusif. Ada hubungan bermakna antara pemberian ASI eksklusif dengan penurunan berat badan ibu menyusui (p=0,048; RR=1,54). Ada hubungan bermakna antara pemberian ASI eksklusif dengan penurunan berat badan setelah dikontrol oleh asupan energi (p=0,029).Simpulan: Ada hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan penurunan berat badan ibu menyusui. Penurunan berat badan ibu yang memberikan ASI eksklusif 1,54 kali lebih besar dibandingkan ibu yang memberikan ASI tidak eksklusif.