Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Ulumul Syar'i

Hadis Musykil Menurut Pandangan Ibnu Hajar al-Asqalani Kusnadi, Kusnadi
Ulumul Syari Vol 6 No 1 (2017): Ulumul Syari
Publisher : Lembaga Penelitian & Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIS Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ibnu Hajar termasuk ulama yang banyak menguasai hadis, baik riwayah maupun dirayah. Menurutnya hadis sama dengan al-Qur’an dari sisi kehujjahan dan dalilnya, bahwa hadis sebagai penjelas terhadap al-Qur’an. Hadis merupakan wahyu yang diturunkan kepada orang yang berbicara tidak berdasarkan hawa nafsunya. Dia mampu menguraikan secara detail hadis-hadis yang musykil. Hadis yang menimbulkan kemusykilan adalah Jawami’ al-Kalim  (ungkapan yang singkat namun padat makna). Menurut Ibnu  Hajar hadis yang  jawami’ al-kalim itu terdapat beberapa yang musykil. Di antaranya adalah “al-ain haqq”. Menurut dia, makna hadis tersebut, bahwa mata manusia pada orang-orang tertentu memiliki kekuatan supranatural.  Di antara hadis muskil adalah “: “sebagian dari keterangan adalah sihir”. Ibnu Hajar  mengartikan hadis tersebut secara majazi, yaitu kata-kata yang dapat mengagumkan orang bisa berkonotasi positif dan bisa berkonotasi negatif. Diantara hadis musykil adalah ungkapan dengan bahasa perumpamaan,  “Orang mukmin itu makan dalam satu usus, orang kafir makan dalam tujuh usus”. Ibnu  Hajar berpandangan bahwa yang dimaksud dengan tujuh usus pada orang kafir adalah pola hidup konsumerisme. Sementara orang mukmin dalam menyikapi gemerlapnya dunia ini hanya mengambilnya sebatas kebutuhan hidupnya. Di antara hadis musykil adalah Bahasa Perumpamaan, seperti hadis  â€œApabila hambaku mendekati aku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta”. Menurut Ibnu  Hajar hadis itu kalau diartikan secara hakiki menunjukkan adanya jarak yang ditempuh secara fisik. Hal itu tidak mungkin bagi Allah. Karenanya hadis itu harus diartikan secara majazi, yaitu Allah meneguhkan ketaatan kepada hambanya dalam melaksanakan ibadah.
Kehujjahan Hadis Daif Dalam Permasalahan Hukum Menurut Pendapat Abu Hanifah Kusnadi, Kusnadi
Ulumul Syar'i Vol 7 No 2 (2018): Ulumul Syar'i
Publisher : Lembaga Penelitian & Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIS Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hadis secara otentisitas tidak sama dengan al-Qur’an.   Secara formal al-Qur’an telah ditulis pada masa Rasulullah saw setiap  wahyu turun, dengan demikian, otentisitas al-Quran dan validitasnya dapat terjamin. Sedangkan hadis baru dibukukan secara resmi pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz (61-101 H). Dengan demikian, untuk menjamin kebenaran dan kesahihan hadis membutuhkan penelitian dan analisis secara kritis. Mayoritas ulama hadis berpendapat bahwa hadis daif  tidak bisa dijadikan sebagai landasan hukum, terutama yang berkaitan dengan hukum halal dan haram. Akan tetapi Imam Abu Hanifah berpendapat, hadis daif boleh dijadikan sebagai landasan hukum. Menurut pandangan Abu Hanifah, hadis daif lebih baik dari pada qiyas dan ra’yu. Hadis Rasul yang dianggap daif oleh Abu Hanifah adalah hadis āhād jika bertentangan dengan al-Quran, hadis mutawatir dan hadis masyhur. Perawi hadis āhād, riwayatnya tidak boleh bertentangan dengan perbuatannya. Apabila hadis āhād tidak memenuhi kriteria tersebut, maka Abu Hanifah menganggap sebagai hadis daif atau hadis mardud. Oleh karena itu, dia mendahulukan mengamalkan hadis-hadis mursal  dari pada meng-amalkan kias. Hadis daif juga dapat dijadikan sumber Hukum.