Articles

Found 13 Documents
Search

SERAPAN UNSUR HARA NITROGEN DAN PHOSPOR BEBERAPA TANAMAN LEGUM PADA JENIS TANAH YANG BERBEDA Fajarditta, Fiona; Sumarsono, Sumarsono; Kusmiyati, Florentina
Animal Agricultural Journal Vol 1, No 2 (2012): Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012
Publisher : Animal Agricultural Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.852 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji serapan unsur hara nitrogen dan phospor pada tanaman legum pada jenis tanah yang berbeda. Materi yang digunakan dalam penelitian adalah tanah alluvial yang di ambil dari daerah Kabupaten Rembang, tanah latosol yang di ambil dari daerah Kecamatan Tembalang, Semarang; benih legum, meliputi: kaliandra (Calliandra calothyrsus Meissn), calopo (Calopogonium mucunoides), turi (Sesbania grandifora), lamtoro (Leucaena leucocephala), dan orok-orok ( Crotalaria juncea L). Rancangan yang digunakan adalah rancangan petak terbagi (split plot) dengan 3 ulangan. Perlakuan jenis tanaman sebagai petak utama, yaitu turi, lamtoro, calopo, kaliandra, dan orok-orok. Perlakuan jenis tanah sebagai anak petak, yaitu tanah latosol dan tanah alluvial. Parameter yang diamati adalah serapan N dan P oleh akar dan tajuk. Hasil penelitian menunjukan bahwa serapan nitrogen tajuk, nitrogen akar, dan phospor tajuk angka tertinggi terlihat pada tanaman kaliandra di tanah latosol berturut-turut yaitu 2,23; 0,41; dan 3,41; sedangkan phospor akar angka tertinggi terlihat pada tanaman lamtoro di tanah latosol (0,67). Pada angka nitrogen tajuk, nitrogen akar, phospor tajuk, dan phospor akar terendah secara berurutan pada tanah alluvial terlihat pada tanaman kaliandra, turi, dan calopo; kaliandra, lamtoro dan calopo; kaliandra, turi, dan calopo; kaliandra, turi, calopo, dan lamtoro. Sedangkan bila di lihat dari persentase laju penurunan nitrogen tajuk, nitrogen akar, phospor tajuk, dan phospor akar terlihat persentase tertinggi pada tanaman kaliandra (92,70%; 87,53%; 93,28%; dan 88,27%), sedangkan persentase laju penurunan terendah nitrogen tajuk, phospor tajuk, dan phospor akar terlihat pada tanaman orok-orok (40,33%; 28,07%; dan 51,98%), sedangkan nitrogen akar terlihat pada tanaman turi (58,28%). Simpulan penelitian adalah serapan nitrogen dan phospor oleh tajuk dan akar legum pada tanah latosol lebih baik dibandingkan tanah alluvial.Kata kunci : alluvial; latosol; legum; nitrogen; phosporABSTRACTThe purpose of this study was to assess the uptake of elements nitrogen and phosphorus of legume crops on different soil types. The material used in this study was alluvial soil taken from areas Rembang district, latosol soil taken from areas Tembalang district, Semarang; seed legumes, include: Calliandra calothyrsus Meissn (kaliandra), Calopogonium mucunoides (calopo), Sesbania grandifora (turi), Leucaena leucocephala (lamtoro), and Crotalaria juncea L (orok-orok). The design used was split plot design (split plot) with 3 replications. The main plot was legumes plants, there are Sesbania grandifora, Leucaena leucocephala, Calopogonium mucunoides, Calliandra calothyrsus Meissn, and Crotalaria juncea L. The sub plot was soil types latosol soil and alluvial soil. Parameters measured were N and P uptake by the roots and crown. The results showed that crown nitrogen uptake, root nitrogen and phosphorus highest editorial looks at the plants in the ground Calliandra calothyrsus Meissn latosol row is 2.23; 0.41; and 3.41, while the roots of the highest visible phosphorus in plants Leucaena leucocephala in latosol soil (0.67). In figures crown nitrogen, nitrogen root, crown phosphorus, and phosphorus lowest root sequentially on alluvial soil seen in plants Calliandra calothyrsus Meissn, Sesbania grandifora, and Calopogonium mucunoides; Calliandra calothyrsus Meissn, Leucaena leucocephala, and Calopogonium mucunoides; Calliandra calothyrsus Meissn, Sesbanian grandifora, and Calopogonium mucunoides; Calliandra calothyrsus Meissn, Sesbania grandifora, Calopogonium mucunoides, and Leucaena leucocephala. Meanwhile, when seen from the decline in the percentage of nitrogen crown, root nitrogen, phosphorous crown and root seen the highest percentage of phosphorus in plants Calliandra calothyrsus Meissn (92.70%, 87.53%, 93.28% and 88.27%), while the percentage of the lowest rate of decline in crown nitrogen, phosphorous crown and root phosphorous visible on the plant Crotalaria juncea L (40.33%; 28.07%; and 51.98%), while nitrogen seen in plant roots Sesbania grandifora (58.28%). Conclusions of research are nitrogen and phosphorus uptake by the crown and on the ground legume roots latosol better than alluvial soil.Key word : alluvial; latosol; legumes; nitrogen; phosphor
KARAKTERISTIK FISIOLOGI RUMPUT BENGGALA (Panicum maximum) PADA TANAH SALIN YANG DIPERBAIKI Pradewa, Civic Julian; Sumarsono, Sumarsono; Kusmiyati, Florentina
Animal Agricultural Journal Vol 1, No 2 (2012): Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012
Publisher : Animal Agricultural Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.696 KB)

Abstract

Research use saline soil from Kaliori, Rembang, Central Java, in green house and Plant and feed science Laboratorium, of animal husbandry and agricultural faculty, Diponegoro University. The research to evaluated Physiology Characteristic of Benggala grass that, wide leaf area, a chlorophyll, b chlorophyll, total chlorophyll, and nitrat reductase activty at repair of saline soil. Research use complete random progam, and duncan test with 3 rasio, and 7 treatment. Control (P0), gypsum (P1), ash hull of rice (P2), animal fertilizer (P3), gypsum and ash hull of rice combination (P4), gypsum and animal fertilizer combination (P5), ash hull of rice and animal fertilizer combination (P6). Repair of saline soil with gypsum and animal fertilizer combination (P5) have best effect, than other treatment. This effect give highest on the average at parameter of wide leaf area, and so of a chlorophyll, b chlorophyll, total chlorophyll, and nitrat reductase.Key word : Saline soil, Benggala grass, Leaf Area, chlorophyll, Nitract Reductase Activity.ABSTRACTPenelitian menggunakan tanah salin asal kecamatan Kaliori, Rembang Jawa Tengah dan dilaksanakan di rumah kaca dan Laboratorium Ilmu Tanaman Makanan Ternak, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, untuk mengkaji karakteristik fisiologi rumput benggala yaitu luas daun, klorofil a, b, dan total, serta aktivitas nitrat reduktase, pada tanah salin yang diperbaiki. Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang di lanjutkan dengan uji jarak berganda duncan, yang terdiri 3 ulangan dan 7 perlakuan, yaitu kontrol (P0), gipsum (P1), abu sekam padi (P2), pupuk kandang (P3), kombinasi gipsum dan abu sekam padi (P4), kombinasi gipsum dan pupuk kandang (P5), kombinasi abu sekam padi dan pupuk kandang (P6). Perbaikan tanah salin menggunakan perlakuan kombinasi pupuk kandang gipsum (P5) memiliki pengaruh paling baik dibandingkan dengan perlakuan lain. Perlakuan kombinasi gipsum pupuk kandang, menunjukkan nilai rata-rata paling tinggi pada parameter luas daun, begitu pula pada klorofil a, klorofil b, klorofil total serta aktivitas nitrat reduktase.Kata kunci : Tanah Salin, Rumput Benggala, Luas Daun, Klorofil, Aktivitas Nitrat Reduktase.
PENGARUH METODE PERBAIKAN TANAH SALIN TERHADAP SERAPAN NITROGEN DAN FOSFOR RUMPUT BENGGALA (Panicum maximum) Suharyani, Suharyani; Kusmiyati, Florentina; Karno, Karno
Animal Agricultural Journal Vol 1, No 2 (2012): Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012
Publisher : Animal Agricultural Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.006 KB)

Abstract

Wilayah pesisir memiliki sumber daya alam yang berpotensi cukup besar untuk pengembangan ternak ruminansia. Hal ini didukung oleh banyaknya lahan marginal yang dapat digunakan untuk mendukung ketersediaan hijauan pakan. Namun ketersediaan hijauan pakan sering menjadi masalah karena sulitnya hijauan pakan untuk tumbuh di wilayah pesisir yang memiliki tanah dengan kadar garam (NaCl) yang tinggi. Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh metode perbaikan tanah salin terhadap serapan nitrogen dan fosfor rumput benggala (Panicum maximum). Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca Laboratorium Ilmu Tanaman Makanan Ternak Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan dan Pertanian UNDIP selama 5 bulan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 ulangan dan 7 perlakuan (T0 : Kontrol; T1 : gypsum (0,02 kg/pot);T2 : abu sekam padi (0,01 kg/pot); T3 : pupuk kandang (1,30 kg/pot); T4 : gypsum (0,02 kg/pot) dan abu sekam padi (0,01 kg/pot); T5 : gypsum (0,02 kg/pot) dan pupuk kandang (1,30 kg/pot); T6 : abu sekam padi (0,01 kg/pot) dan pupuk kandang (1,30 kg/pot). Parameter yang diamati adalah (1) serapan nitrogen, (2) serapan fosfor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode perbaikan tanah salin pada perlakuan gypsum dan pupuk kandang dapat meningkatkan serapan nitrogen dan fosfor pada tanah salin. Kesimpulan adalah penyerapan nitrogen dan fosfor oleh rumput benggala tertinggi dengan pemberian perlakuan gypsum dan pupuk kandang.Kata kunci : Rumput benggala, nitrogen, fosfor, tanah salin.Abstract The coastal area has a potential resource for livestock development. This is supported by large areas of marginal land that can be used for forage production. However, forage production in coastal areas is often limited by saline soil which has high sodium concentration. This study aimed to assess the effect of saline soil improvement methods on nitrogen and phosphorus uptake of Bengagala grass (Panicum maximum). The experiment was conducted for 5 months at the Greenhouse of Forage Science Laboratory, Department of Nutrition and Feed Science, Faculty of Animal Science and Agriculture, Diponegoro University. The experiment was arranged based on completely randomized Design (CRD) with 3 replications and 7 treatments (T0: Control; T1: gypsum (0.02 kg/pot), T2: rice husk ash (0.01 kg/pot); T3: animal manure (1.30 kg/pot); T4: gypsum (0.02 kg/pot) and rice husk ash (0.01 kg/pot), T5: gypsum (0.02 kg/pot) and animal manure (1.30 kg/pot); T6: rice husk ash (0.01 kg/pot) and animal manure (1.30 kg/pot). Parameters observed were (1) absorption of nitrogen, (2) absorption of phosphorus. The results showed that the treatment of gypsum and animal manure increased uptake of nitrogen and phosphorus in saline soil. It can be concluded that the treatment of gypsum and animal manure resulted in the highest nitrogen and phosphorus uptake by Benggala grass.Key word: Benggala grass, nitrogen, phosphorous, saline soil.
PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI RUMPUT BENGGALA (Panicum maximum) PADA BERBAGAI UPAYA PERBAIKAN TANAH SALIN Suswati, Suswati; Sumarsono, Sumarsono; Kusmiyati, Florentina
Animal Agricultural Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agricultural Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.96 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pertumbuhan dan produksi rumput benggala (Panicum maximum) pada berbagai upaya perbaikan tanah salin. Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca, Laboratorium Ilmu Tanaman Makanan Ternak, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 7 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari : kontrol (P0), gypsum (P1), abu sekam padi (P2), pupuk kandang (P3), gypsum dan abu sekam padi (P4), gypsum dan pupuk kandang (P5) dan abu sekam padi dan pupuk kandang (P6). Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan, panjang akar, bahan kering akar, produksi bahan kering dan nisbah daun batang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perbaikan tanah salin berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertambahan tinggi tanaman, pertambahan jumlah daun, pertambahan jumlah anakan, panjang akar, bahan kering akar dan produksi bahan kering tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap nisbah daun batang.Kata kunci : tanah salin, pertumbuhan dan produksi, rumput benggala
Potensi Kombinasi Teknologi Mutan Padi Toleran Kekeringan dan Polimer Superabsorben: Peran IPTEK Nuklir dalam Peningkatan Produksi Padi Lahan Kering Herwibawa, Bagus; Kusmiyati, Florentina
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 13, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.252 KB)

Abstract

Padi merupakan sumber bahan pangan pokok, yang dikonsumsi lebih dari 95% penduduk Indonesia. Kebutuhannya terus meningkat tiap tahun, namun belum berhasil dicukupi dari produksi sendiri, sehingga masih bergantung impor hingga 1.347.856 ton per tahun. Upaya yang dapat dilakukan selain impor, adalah peningkatan produksi padi melalui ekstensifikasi dan intensifikasi pertanian. Namun 72,98% daratan Indonesia yang sesuai untuk pertanian merupakan lahan kering, tentu akan menghambat peningkatan produksi padi. IPTEK Nuklir dapat berperan dalam optimalisasi pemanfaatan lahan kering, dimana keterbatasan keragaman alami dalam pemuliaan tanaman padi toleran kekeringan, dan polimerasi serta grafting polimer superabsorben, keduanya dapat diperbaiki melalui radiasi pengion. Kombinasi teknologi mutan padi toleran kekeringan dan polimer superabsorben sangat potensial sebagai satu diantara upaya-upaya untuk meningkatkan produksi padi. Namun, upaya penerapan teknologi tersebut tentu akan menimbukan masalah karena lemahnya diseminasi teknologi inovatif, dan lambatnya adopsi teknologi. Diperlukan  perhatian yang lebih besar dari peneliti, pengambil kebijakan, dan masyarakat pengguna.
PENDAMPINGAN PEMANFAATAN PUPUK ORGANIK BIOSLURRY UNTUK RUMAH PANGAN LESTARI DI DESA MONTONGSARI KABUPATEN KENDAL Kusmiyati, Florentina; Budiyanto, Susilo; Herwibawa, Bagus
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 24, No 1 (2018): JANUARI - MARET
Publisher : LPM Unimed

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (640.105 KB)

Abstract

AbstrakKetahanan pangan mensyaratkan kondisi tercukupinya pangan bagi seluruh elemen masyarakat, berkualitas, aman, beragam, bergizi, merata, serta mudah dijangkau. Rumah tangga memiliki peran penting sebagai satu diantara banyak faktor pendukung terwujudnya ketahanan pangan nasional, misalnya dengan pembentukan Rumah Pangan Lestari (RPL) yang berwawasan pertanian organik.Selain memiliki nilai ekonomi, kesehatan, dan ekologi, pembentukan RPL juga akan mengoptimalkan pemanfaatan pekarangan dan ruang-ruang sempit di sekitar rumah. Artikel ini merupakan rangkuman dari satu diantara beberapa kegiatan Kuliah Kerja Nyata - Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat(KKN-PPM UNDIP) di desa Montongsari, kabupaten Kendal. Kegiatan ini bertujuan untuk memberdayakan kelompok ibu-ibu rumah tangga yang tidak bekerja, untuk memanfaatkan limbah biogas atau biosurry sebagai pupuk organik dalam budidaya tanaman dengan teknik vertikultur di sekitar rumah. Metode yang digunakan adalah survei, penyuluhan, pelatihan, dan pendampingan pembuatan RPL dengan memanfaatkan bioslurry. Hasil kegiatan ini memberikan dampak positif bagi masyarakat, yaitu mulai timbul kesadaran dan perubahan perilaku masyarakat. Bioslurry yang sebelumnya belum dimanfaatkan, dapat diaplikasikan sebagai pupuk organik. Lahan kosong di sekitar rumah dan sepanjang kiri-kanan jalan yang selama ini tidak dimanfaatkan, mulai dimanfaatkan sebagai kawasan yang menunjang pangan masyarakat. Lingkungan yang dulu terkesan gersang berubah menjadilebih asri. Oleh sebab itu untuk mendukung keberlanjutan RPL, diperlukan keinginan yang serius dan tindakan nyata dari pemerintah dan masyarakat.Kata kunci: Bioslurry, Kelestarian Lingkungan, Organik, Pangan, Rumah Pangan LestariAbstractFood security exist when all people at all times have access to sufficient, safe, and nutritious food. Households have an important role in national food security, by creating the Sustainable Food Reserve Gardens based on organic principles. It has economic, health, and ecological benefits. Sustainable Food Reserve Gardens also will optimize the spaces arround the houses. This article is a summary of one of the Student Community Service - Community Empowerment Learning of Diponegoro University activities in Montongsari village, Kendal Regency. This program aims was to empower the group of housewives to use biogas residue or bioslurry as organic fertilizer in verticulture arround the houses. The methods used were survey, extension, training, and outreach in application of bioslurry organic fertilizer for Sustainable Food Reserve Gardens. This program had positive impact for the community, including the emergence of awarenees and behavior changes of community. Bioslurry can be appliedas organic fertilizer. Spaces arround the houses can provide accessibility of fresh food for community. The village seems to change to become more beautiful. Therefore, to support the Sustainable Food Reserve Gardens, it requires serious commitment and real action of the government and community. Keywords: Bioslurry, Environmental Sustainability, Organic, Food, Sustainable Food Reserve Gardens
Pengaruh pelapisan benih dengan Polyethylene glycol (PEG) dan lama penyimpanan terhadap viabilitas benih tomat ceri (Solanum lycopersicum var. cerasiforme) Nahampun, Velly Dontor; Kusmiyati, Florentina; Kristanto, Budi Adi
Journal of Agro Complex Vol 2, No 3 (2018)
Publisher : Department of Agriculture, Animal and Agricultural Sciences, Diponegoro University, Semara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research aimed to study the effectiveness of polyethylene glycol (PEG) as seed coating to maintain viability of cherry tomato during different storage period. This research was conducted in June to October 2017 at Laboratory of Plant Physiology and Breeding, Faculty of Animal and Agricultural Sciences, Diponegoro University. The research was assigned in completely randomized factorial design with the first factor was the level of PEG (0%, 20%, 40%, and 60%) and the second factor was the storage period (30 days, 60 days, and 90 days). Parameter were percentage of germination seed, seed water content, and dry weight of normal seedling. The data were analyzed using analysis of variance and continued by Duncan Multiple Range Test. The result showed that there was interaction between seed coating and storage period that affected percentage of germination seed, seed water content, and dry weight of normal seedling. Seed coating with PEG 20% and 90 days storage was able to maintain the percentage of germination up to 97.2%, seed water content of 7.39 % and dry weight of normal seedling of 0.66 g. Keywords : Percentage of germination, seed water content, dry weight of normal seedling 
Ketahanan kedelai varietas Detam 3 hasil iradiasi sinar gamma di tanah salin Ghosypea, Awang; Sutarno, Sutarno; Sutarno, Sutarno; Kusmiyati, Florentina; Kusmiyati, Florentina
Journal of Agro Complex Vol 2, No 3 (2018)
Publisher : Department of Agriculture, Animal and Agricultural Sciences, Diponegoro University, Semara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mutation is one of a breeding technique to modify plant’s genetic. The purpose of study was to evalauate effect of gamma irradiation on M1 soybean variety Detam 3 based on agronomic characteristic at saline soil (2 dS/m). Gamma iradiation applied were 160, 208, 256, 304, 352, 400, 448, 496, 544, 592, 640 Gy. Parameters observed were plant height, number of leaves, number of pods, weight of pods, number of seeds, and seed weight per plant. The results showed that 10 plants classified as moderate, 4 plants classified as tolerant, and 2 plants classified as most tolerant at saline soil (2 dS/m).Keywords: Detam 3, gamma, irradiation, saline soil, soybean. 
Ketahanan kedelai varietas Detam 3 hasil iradiasi sinar gamma di tanah salin Ghosypea, Awang; Sutarno, Sutarno; Sutarno, Sutarno; Kusmiyati, Florentina; Kusmiyati, Florentina
Journal of Agro Complex Vol 2, No 3 (2018)
Publisher : Department of Agriculture, Animal and Agricultural Sciences, Diponegoro University, Semara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mutation is one of a breeding technique to modify plant’s genetic. The purpose of study was to evalauate effect of gamma irradiation on M1 soybean variety Detam 3 based on agronomic characteristic at saline soil (2 dS/m). Gamma iradiation applied were 160, 208, 256, 304, 352, 400, 448, 496, 544, 592, 640 Gy. Parameters observed were plant height, number of leaves, number of pods, weight of pods, number of seeds, and seed weight per plant. The results showed that 10 plants classified as moderate, 4 plants classified as tolerant, and 2 plants classified as most tolerant at saline soil (2 dS/m).Keywords: Detam 3, gamma, irradiation, saline soil, soybean. 
Aplikasi Teknologi Bioslurry di Desa Montongsari Kabupaten Kendal Provinsi Jawa Tengah Kusmiyati, Florentina; Herwibawa, Bagus; Budiyanto, Susilo
Jurnal Lahan Suboptimal : Journal of Suboptimal Lands Vol 6, No 2 (2017): JLSO
Publisher : Pusat Unggulan Riset Pengembangan Lahan Suboptimal (PUR-PLSO) Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (721.356 KB)

Abstract

Kusmiyati et al, 2017. Application of Bioslurry Technology at Montongsari Village, Kendal Regency Central Java Province. JLSO 6(2):106-112.The dependence of farmers on inorganic fertilizers is increasing from year to year. The urea requirement for agriculture in 2015 was 3.795.596 tons, increased to 4.007.463 tons in 2016. Many efforts have been made to reduce farmer’s dependence on inorganic fertilizers. The activity purpose of Student Community Service-Community Empowerment Learning was to reduce farmer’s dependence on inorganic fertilizers by using bioslurry at Montongsari village, Kendal regency, Central Java. The activities were training, mentoring and demonstration plot. Training and mentoring activities were  processing of biogas wastes into solid and liquid bioslury fertilizers and their application on plant. The treatments of demonstration plot were without and with liquid bioslurry on growth and production of water spinach (Ipomoea aquatica). The result of the mentoring activities showed a biogas reactor (capacity of 4 m3) will produce 18 kg of bioslury from 20-40 kg of goat dung. Nitrogen content (N), C-organic  and C / N ratio of solid bioslury were 1.43%; 37.61% and 26.30, respectively. While nitrogen content of liquid bioslury was only 0.09%.  There were no growth difference between aplication of liquid bioslurry and inorganic fertilizer on water spinach. The conclusion was  bioslury of biogas waste both solid and liquid bioslury can be utilized as organic fertilizer for plants.