Articles

Found 8 Documents
Search

Kontribusi Fakultas Kedokteran Unisba Dan Pemerintah Propinsi dalam Membantu Pencapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Jawa Barat Kusmiati, Mia
MIMBAR, Jurnal Sosial dan Pembangunan MIMBAR, Volume 22, No. 4, Tahun 2006 (Terakreditasi)
Publisher : P2U (Pusat Penerbitan Universitas) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangunan manusia tumbuh dari keprihatinan, kemiskinan masih belum tertanggulangi. Tujuan pembangunan adalah untuk membangun sebuah lingkungan yang memberdayakan rakyat.Masalah, bagaimana implementasi kontribusi Unisba meningkatkan IPM di Jawa Barat, penggunaan IPM & peranan pemerintah Propinsi. Tujuan dan Manfaat penulisan,memberi gambaran tentang IPM dan kontribusi FK Unisba.  Metode penulisan menggunakan analisis deskriftif. IPM sebagai alat ukur untuk melihat pencapaian pembangunan manusia, dengan 3 indikatornya: kesehatan, pendidikan dan ekonomi.  Tiga kelompok Negara berdasarkan skala IPM, yaitu: skala 0-0,5 ; skala 0,51-0,79 ; dan skala 0,8-1. Tabel nilai maksimum dan minimum komponen IPM terdiri : indeks komponen, nilai indikator dan standar UNDP. Kurikulum pendidikan dokter berbasis kompetensi, dengan kompetensi dokter layanan primer melalui pendekatan dokter keluarga. KIPDI III memiliki 7 area kompetensi dengan 6 tanggung jawab dokter Indonesia. Kompetensi tambahan Unisba  Penguasaan nilai-nilai Islami di bidang kedokteran dan pendalaman penguasaan kesehatan masyarakat industri. Kontribusi FK Unisba,lulusan dokter dari segi kualitas maupun kuantitas.  IPM sebagai gambaran komprehensif dan signifikan dalam menilai kinerja pembangunan.  Peranan pemerintah propinsi dalam mencapai IPM 80 harus dapat menjawab kebutuhan masyarakat dengan rencana strategi 2006-2010 yang memperhatikan aspek filosofis, yuridis dan sosiologis.
Perbandingan Fungsi Paru Juru Parkir Basement dengan Juru Parkir Ruang Terbuka di Kota Bandung Trissekti, Galih; Kusmiati, Mia; Budiman, Budiman
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Polusi udara bertanggung jawab atas 3,1 juta kematian seluruh dunia setiap tahunnya. Efek buruk dari polusi udara berdasarkan penelitian pada tiga lokasi berbeda di Beijing, Cina tahun 1986, menyatakan bahwa peningkatan konsentrasi polusi udara sebesar 1 mikrogram/m3 mampu menurunkan forced expiratory volume in one second (FEV1) sebesar 35,6 mL. Populasi yang berisiko mengalami masalah pernapasan akibat terpapar asap kendaraan yang dapat terhirup setiap waktu ini secara jangka panjang, salah satunya adalah juru parkir. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan fungsi paru juru parkir basement dengan juru parkir ruang terbuka di Kota Bandung periode Januari–Juni2014. Desain penelitian bersifat analitik kuantitatif dengan rancangan potong lintang terhadap masig-masing 33 subjek yang berprofesi sebagai juru parkir basement dan juru parkir ruang terbuka. Terlebih dahulu dilakukan pengukuran data karakteristik fisik berupa usia (tahun) dan IMT (kg/m2), selanjutnya dilakukan pengukuran fungsi paru menggunakan parameter FEV1, forced vital capacity (FVC), dan FEV1/FVC dengan spirometri, kemudian dibandingkan antara kedua kelompok juru parkir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai median FEV1 juru parkir basement (3.300 mL, range 2.600–4.400 mL) dan juru parkir ruang terbuka (3.000 mL, range 2.300–3.800 mL) dengan nilai p=0,011. Nilai FVC rata-rata juru parkir basement (3.587,88 ± 470,21 mL) dan juru parkir ruang terbuka (3.287,88 ± 478,77 mL) dengan nilai p=0,013. Nilai median FEV1/FVC juru parkir basement (0,94; range 0,79–0,98) dan juru parkir ruang terbuka (0,92; range 0,77–0,97) dengan nilai p=0,016.Simpulan hasil penelitian menunjukkan fungsi paru yang digambarkan dengan FEV1, FVC, dan FEV1/FVC pada juru parkir basement lebih baik daripada juru parkir ruang terbuka.   Kata kunci: Fungsi paru, juru parkir basement, juru parkir ruang terbuka The Comparison of Lung Function between Basement Parking and Street Parking Attendants in Bandung City Abstract Air pollutions responsible for 3.1 milion death in the world every years. The bad effect from it according to research in three different places of Beijing (1986) reveal that enhancement 1 microgram/m3 of air pollution concentration can cause reduction forced expiratory volume in one second (FEV1) about 35.6mL. Population with high risk to have respiratory disorder as consequence exposed to vehicle’s smoke that can inhaled anytime and long-term, one of which is parking attendants. This research is therefore conducted to obtain comparison of lung function between basement parking attendants and street parking attendants in Bandung city period January–June 2014. This research design is quantitative analysis with cross sectional method towards each 33 subjects that worked as basement parking attendants and street parking attendants. The demography characteristic such as age (years old) and BMI (kg/m2). Further performed test of lung function with parameters: FEV1, forced vital capacity (FVC), and FEV1/FVC by spirometer, furthermore compared between the two groups of parking attendants. The research result showed that FEV1 median score of basement parking attendants (3,300 mL, range 2,600–4,400 mL) and street parking attendants (3,000 mL, range 2,300–3,800 mL) with p=0.011. The FVC average score of basement parking attendants (3,587.88 ± 470.21 mL) and street parking attendants (3,287.88 ± 478.77 mL) with p=0.013. The FEV1/FVC median score of basement parking attendants (0.94; range 0.79–0.98) and street parking attendants (0.92; range 0.77–0.97) with p=0.016. In conclusion lung function described by FEV1, FVC, and FEV1/FVC in basement parking attendants are better than street parking attendants, with all score are significant.   Key words: Basement parking attendant, lung function, street parking attendants 
Membangun Kesehatan Organisasi Institusi Pendidikan Dokter: Sebuah Transformasi menuju Akuntabilitas Sosial Kusmiati, Mia
MIMBAR (Jurnal Sosial dan Pembangunan) Volume 31, No. 1, Tahun 2015 [Terakreditasi Dikti]
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Institusi pendidikan Dokter saat ini telah mengalami perkembangan yang cukup drastis. Dengan diberlakukannya kurikulum berbasis kompetensi pada pendidikan dokter sejak tahun 2006, telah terjadi pergeseran paradigma pendidikan dokter dari yang berbasis pada penguasaan disiplin ilmu kepada paradigma yang berbasis pada penguasaan kompetensi. Perubahan ini menyebabkan perlunya institusi pendidikan dokter membangun kesehatan organisasinya untuk  mewujudkan akuntabilitas sosial.  Transformasi pendidikan dokter pada kenyataannya tak bisa dipisahkan dari visi misi institusi. Identitas yang sesungguhnya dari institusi dapat diimplemantasikan dan direfleksikan pada semua aspek institusi. Beberapa hal yang harus dilakukan dalam membangun kesehatan organisasi institusi pendidikan dokter untuk mencapai akuntabilitas sosial diantaranya: (1) membangun budaya institusi berbasis nilai, hal ini bisa dilakukan melalui menumbuhkembangkan idealisme, membangun karakter dan komunitas (Raka,2008); (2) menciptakan suasana institusi yang kondusif   (3) melakukan evaluasi berkelanjutan terhadap semua aspek baik terhadap kurikulum, metode pembelajaran maupun sistem penilaian  (4) mengembangkan program institusional yang futuristik namun  tetap mempertahankan kearifan lokal.  . 
IDENTIFIKASI AKTINOMISETES SEDIMEN AIR TAWAR MAMASA, SULAWESI BARAT DAN AKTIVITASNYA SEBAGAI ANTIBAKTERI DAN PELARUT FOSFAT Putri, Ade Lia; Lisdiyanti, Puspita; Kusmiati, Mia
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol 5, No 2 (2018): December 2018
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (542.935 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v5i2.2953

Abstract

Identification of Actinomycetes in Freshwater Sediments from Mamasa, West Sulawesi and Their Antibacterial and Phosphate Solubilizing ActivitiesABSTRACTA large number of actinomycetes that have been isolated and screened were obtained from soil and marine samples. Consequently, the possibility of isolating novel Actinomycetes and secondary metabolites compounds strains from soil and marine samples have limited. Exploration of actinomycetes from freshwater sediment is rare. In this study, 30 isolates of Actinomycetes from freshwater sediments in Mamasa District, West Sulawesi were isolated, identified, and screened for their antibacterial and phosphate solubilizing activity. Actinomycetes were isolated by serial dilution method and were identified based on morphological and 16S rRNA gene sequence. Antibiotic activity was screened using the agar plug diffusion method, while soluble phosphate ability was observed by clear zone ratio in PKA medium. Most of the isolates belong to the genus Streptomyces (80%). Out of 30 isolates, 56.6% showed antibacterial activity and 36.6% had potential as solubilizing phosphate which belong to genus Streptomyces, Actinomadura, and Kitasatospora.Keywords: 16S rRNA, Actinomycetes, antibacterial, freshwater sediment, phosphate solubilizing ABSTRAKSebagian besar aktinomisetes yang telah diisolasi dan dilakukan penapisan metabolit sekundernya berasal dari sampel tanah dan laut. Konsekuensinya, kesempatan untuk menemukan aktinomisetes jenis baru maupun yang menghasilkan metabolit sekunder baru dari tanah dan laut semakin berkurang. Eksplorasi aktinomisetes dari lingkungan lain seperti sedimen air tawar jarang dilakukan. Pada penelitian ini, 30 isolat aktinomisetes yang diisolasi dari sedimen air tawar di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, telah diidentifikasi dan dilakukan penapisan antibakteri dan kemampuan isolat dalam melarutkan fosfat. Aktinomisetes diisolasi dengan metode pengenceran secara langsung dan selanjutnya diidentifikasi secara morfologi dan molekular berdasarkan gen 16S rRNA. Metode yang digunakan dalam penapisan aktivitas antibakteri adalah agar plug diffusion method, sedangkan kemampuan aktinomisetes dalam melarutkan fosfat diuji dengan cara menumbuhkan isolat pada media PKA. Isolat yang paling banyak diisolasi termasuk ke dalam marga Streptomyces (80%). Dari 30 isolat, 56,6% isolat menunjukkan adanya aktivitas antibakteri dan 36,6% dari isolat berpotensi sebagai pelarut fosfat, yang termasuk ke dalam marga Streptomyces, Actinomadura, dan Kitasatospora.Kata Kunci: 16S rRNA, Aktinomisetes, sedimen air tawar, antibakteri, pelarut fosfat
Hubungan Self Assessment-Peer Assessment dengan Nilai Kelulusan OSCE Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unisba Rahimah, Santun Bhekti; Kusmiati, Mia; Widyastuti, Ermina
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/gmhc.v5i1.1856

Abstract

Objective structured clinical examination (OSCE) adalah cara penilaian kompetensi klinik mahasiswa secara komprehensif dan konsisten serta dapat dijadikan media untuk meningkatkan hasil belajar. Feedback dapat dilakukan oleh mahasiswa itu sendiri (self assessment) maupun mahasiswa lain yang satu level (peer assessment). Self dan peer assessment diharapkan akan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam melihat tujuan pembelajaran, meningkatkan rasa percaya diri, kemampuan berpikir kritis, dan bertindak tepat dalam menghadapi ujian. Tujuan penelitian ini melihat hubungan self assessment dan peer assessment dengan nilai kelulusan OSCE mahasiswa tingkat dua dan empat FK Unisba tahun akademik 2012/2013. Nilai hasil ujian OSCE yang dipergunakan adalah pada periode Desember 2012–Juni 2013. Self dan peer assessment dilaksanakan setelah ujian OSCE. Self assessment dilakukan oleh mahasiswa itu sendiri, sedangkan peer assessment didapatkan dari lima orang mahasiswa lain yang pernah berada dalam satu kelompok dengan subjek. Hasil penelitian menunjukkan untuk mahasiswa tingkat dua terdapat korelasi bermakna self assessment dan peer assessment dengan nilai OSCE (p<0,001), arah hubungan antara keduanya positif, serta kekuatan hubungan keduanya sedang (R=0,426). Pada mahasiswa tingkat empat terdapat korelasi bermakna antara self assessment dan nilai OSCE (p<0,001) dengan kekuatan hubungan keduanya sedang (R=0,451), serta terdapat korelasi yang bermakna antara penilaian peer assessment dan nilai OSCE. Simpulan, self assessment mempunyai korelasi positif terhadap nilai kelulusan OSCE pada mahasiswa tingkat dua dan tingkat empat, sedangkan peer assessment mempunyai korelasi positif dengan nilai kelulusan OSCE hanya pada mahasiswa tingkat dua. Self assessment mempunyai korelasi positif dengan peer assessment pada mahasiswa tingkat dua dan tingkat empat FK Unisba tahun akademik 2012/2013.RELATION BETWEEN SELF ASSESSMENT-PEER ASSESSMENT AND OSCE'S RESULTS FROM MEDICAL STUDENTS OF UNISBAObjective structured clinical examination (OSCE) is a tools to assess  students clinical competency comprehensively and consistently. It can also used as medium to improve the learning process. Feedback for student performance can be done trough self-assessment or peer assessment done by other students. Self and peer assessment are expected to enhance the ability of students to see the purpose of learning, improve self-confidence, the ability to think critically and act right in an examination. The aim of this study was to find the relationship between self assessment and peer assessment of the OSCE final mark of second and fourth grade student at Medical Faculty, Bandung Islamic University academic year 2012/2013. The OSCE mark used were taken from December 2012–June 2013, while the self and peer assessment carried out after the OSCE finished. Self assessment were done by students themselves, while peer assessment obtained from five persons which have been in one group with subject. Results showed that for second grade student showed there was significant correlation between self-assessment and peer assessment and OSCE's mark value (p<0.001) with the direction of the relationship was positive and had moderate strength (R=0.426). Fourth grade students showed significant correlation only between self-assessment and OSCE's mark value (p<0.001) with moderate strength (R=0.451). There was no significant relation between the assessment of peer assessment and OSCE's mark value. In clonclusion, self assessment correlated positively to OSCE's mark value for second and fourth grade students. Peer assessment correlated positively to the passing scores for second grade student. Self assessment had a positive correlation to peer assessment for second and fourth grade medical students.
Deteksi Dini Penyakit Parkinson: Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Petani Desa Tanjung Wangi Cicalengka Mengenai Bahaya Pestisida bagi Kesehatan Yulianti, Arief Budi; Irasanti, Siska Nia; Maulida, Meta; Kusmiati, Mia; Rahmatullah, Adhika Putra
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/gmhc.v4i1.1730

Abstract

Pestisida bersifat toksik bagi manusia dan lingkungan sekitarnya. Petani adalah kelompok masyarakat berisiko tinggi terpapar pestisida. Tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku petani mengenai bahaya pestisida sangat diperlukan agar keputusan untuk menggunakan pestisida sesuai dengan jenis, waktu, dan cara menjadi tepat. Penelitian ini dilaksanakan selama bulan Maret–Juli 2015 dan merupakan penelitian observasional dengan subjek penelitian petani Desa Tanjung Wangi. Subjek penelitian diambil secara acak diperoleh 62 subjek penelitian yang terdiri atas 47 laki-laki dan 15 perempuan. Tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku diukur dengan kuesioner yang sudah divalidasi. Pengukuran gejala dini Parkinson menggunakan kuesioner PDQ39 yang sudah dimodifikasi. Diperoleh tingkat pengetahun dan sikap petani mengenai bahaya pestisida skor terendah 0,70 dan tertinggi 0,97 dengan nilai median 0,80 dan modus 0,79. Perilaku pestisida ini mengenai tata cara penggunaan pestisida skor terendah 0,64, tertinggi 1 dengan modus 0,84. Gejala dini Parkinson pada petani di Desa Tanjung Wangi skor tertendah 0,74 dan tertinggi 1 dengan nilai median 0,84 dan modus 0,91. Simpulan, pengetahuan, sikap, dan perilaku petani Desa Tanjung Wangi mengenai bahaya pestisida baik. Hasil yang diperoleh dari kuesioner tidak menggambarkan kondisi petani di lapangan. Hal ini dapat terjadi karena peneliti tidak memasukkan unsur ekonomi sebagai salah satu faktor penentu pengambilan keputusan menggunakan pestisida sehingga diperlukan upaya edukasi petani. DETECTION-EARLY OF PARKINSON'S DISEASE: KNOWLEDGE, ATTITUDES, AND BEHAVIOR FARMER IN DESA TANJUNG WANGI ABOUT PESTICIDES TOXICITIES TOWARD HEALTHPesticides are toxic for human and environment. Farmers are people at high risk of exposure to pesticides. The level of knowledge, attitudes, and behaviors of farmers about pesticides toxicity needed, so the decision to use pesticides be expected right. This research held on March–July 2015, observational method with subjects farmers in Desa Tanjung Wangi were taken randomly. Number of samples were 62 person consisted of 47 men and 15 women. The level of knowledge, attitudes, behaviors and detectionearly of Parkinson’s disease were measured with a questionnaire PDQ39 modified. The lowest score of level knowledge and attitudes about pesticides toxicities was 0.70 and the highest was 0.97 with median and modus 0.80 and 0.79, respectively. The lowest score of behavior regarding the method of pesticides used was 0.64 and the highest was 1 with modus 0.84. The lowest score of detection-early of Parkinson’s disease was 0.74 and the highest was 1 with median and modus 0.84 and 0.91, respectively. In conclusions, farmers knowledge, attitudes and behavior regarding pesticides toxicities are good. But the questionnaire wasn’t describe the really condition in field, especially in economic issues that affecting decisions about pesticides to be used, so educating to understand about pesticides toxicities needs to be done.
Validation of Patient Perception Instruments for Junior Doctor Performance: a Factor Analysis Kusmiati, Mia; Bahari, Rafidah; Hamid, Noor Aini Abdul; Sanip, Suhaila; Emilia, Ova
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/gmhc.v7i1.4611

Abstract

The patient is an essential stakeholder within the medical healthcare system and an important stakeholder of the medical education program. The patients should be able to assess the performance of junior doctors in general practitioner residency to ensure their competency. Some instruments of patient assessment are available, but they do not adapt to local needs and context. This study aims to validate newly developed evaluation instruments from the patient’s perspective against the performance of a junior doctor in a teaching hospital. Fifty patients from outpatient clinics of internal medicine of two teaching hospital Faculty of Medicine Universitas Islam Bandung were selected to fill out the questionnaire in September–October 2018. The tool consists of 20 items and used a 4-point Likert scale of strongly disagree, disagree, agree, and strongly agree. The SPSS version 21 have used to extract the data as the principal axis factoring of analysis. Oblimin rotation method was applied with Kaiser normalization to simplify and describe the data structure. The detailed analysis identified five factors based on the initial eigenvalue >1. Patient perception instruments of junior doctor performance (PIJDP) showed that five constructs extracted explained 81.27% of the variance of them. Constructs were namely: humanism, responsibility-accountability, communication-empathy, altruism, and pleasant manner. Construct validity achieved after the PIJDP run fifteen times, and consistency internal with Cronbach’s alpha was 0.95. In conclusions, the PIJDP could be used to assess the performance of junior doctors and could make a novel contribution to the development of medical education. VALIDASI INSTRUMEN PERSEPSI PASIEN TERHADAP KINERJA DOKTER MUDA: SEBUAH ANALISIS FAKTORPasien merupakan stakeholder kunci dalam sistem pelayanan kesehatan dan stakeholder penting dalam program pendidikan kedokteran. Pasien dapat menilai kinerja dokter muda dalam pemagangan umum untuk memastikan kompetensi mereka. Beberapa instrumen penilaian pasien sudah dibuat, namun mereka tidak diadaptasi terhadap kebutuhan dan konteks lokal. Penelitian ini bertujuan memvalidasi instrumen evaluasi yang baru dikembangkan menurut perspektif pasien terhadap kinerja dokter muda di rumah sakit pendidikan. Lima puluh pasien dari klinik rawat jalan penyakit dalam dua rumah sakit pendidikan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung dipilih untuk mengisi kuesioner pada September–Oktober 2018. Kuesioner berisi 20 item yang menggunakan Skala Likert empat poin dari sangat tidak setuju, tidak setuju, setuju, dan sangat setuju. SPSS versi 21 digunakan untuk menganalisis data melalui principal axis factoring. Metode rotasi oblimin dengan normalisasi Kaiser diaplikasikan untuk menyederhanakan dan menjelaskan struktur data. Hasil analisis mengidentifikasi lima faktor berdasar atas eigenvalue awal >1. Instrument persepsi pasien terhadap kinerja dokter muda (PIJDP) menggambarkan 5 construct yang diekstraksi sebesar 81,27% dari varian indikator dapat dijelaskan oleh faktor yang terbentuk. Faktor tersebut adalah humanisme, tanggung jawab-akuntabilitas, komunikasi-empati, altruisme, dan sifat menyenangkan. Kesahihan construct dicapai setelah PIJDP diulang lima belas kali dan konsistensi internal dengan Cronbach’s alpha sebesar 0,95. Simpulan, PIJDP dapat digunakan untuk menilai kinerja dokter muda dan dapat memberi kontribusi baru dalam pengembangan pendidikan kedokteran.
Perbandingan Fungsi Paru Juru Parkir Basement dengan Juru Parkir Ruang Terbuka di Kota Bandung Trissekti, Galih; Kusmiati, Mia; Budiman, Budiman
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/gmhc.v2i2.1533

Abstract

Polusi udara bertanggung jawab atas 3,1 juta kematian seluruh dunia setiap tahunnya. Efek buruk dari polusi udara berdasarkan penelitian pada tiga lokasi berbeda di Beijing, Cina tahun 1986, menyatakan bahwa peningkatan konsentrasi polusi udara sebesar 1 mikrogram/m3 mampu menurunkan forced expiratory volume in one second (FEV1) sebesar 35,6 mL. Populasi yang berisiko mengalami masalah pernapasan akibat terpapar asap kendaraan yang dapat terhirup setiap waktu ini secara jangka panjang, salah satunya adalah juru parkir. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan fungsi paru juru parkir basement dengan juru parkir ruang terbuka di Kota Bandung periode Januari–Juni2014. Desain penelitian bersifat analitik kuantitatif dengan rancangan potong lintang terhadap masig-masing 33 subjek yang berprofesi sebagai juru parkir basement dan juru parkir ruang terbuka. Terlebih dahulu dilakukan pengukuran data karakteristik fisik berupa usia (tahun) dan IMT (kg/m2), selanjutnya dilakukan pengukuran fungsi paru menggunakan parameter FEV1, forced vital capacity (FVC), dan FEV1/FVC dengan spirometri, kemudian dibandingkan antara kedua kelompok juru parkir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai median FEV1 juru parkir basement (3.300 mL, range 2.600–4.400 mL) dan juru parkir ruang terbuka (3.000 mL, range 2.300–3.800 mL) dengan nilai p=0,011. Nilai FVC rata-rata juru parkir basement (3.587,88 ± 470,21 mL) dan juru parkir ruang terbuka (3.287,88 ± 478,77 mL) dengan nilai p=0,013. Nilai median FEV1/FVC juru parkir basement (0,94; range 0,79–0,98) dan juru parkir ruang terbuka (0,92; range 0,77–0,97) dengan nilai p=0,016. Simpulan hasil penelitian menunjukkan fungsi paru yang digambarkan dengan FEV1, FVC, dan FEV1/FVC pada juru parkir basement lebih baik daripada juru parkir ruang terbuka. THE COMPARISON OF LUNG FUNCTION BETWEEN BASEMENT PARKING AND STREET PARKING ATTENDANTS IN BANDUNG CITYAir pollutions responsible for 3.1 milion death in the world every years. The bad effect from it according to research in three different places of Beijing (1986) reveal that enhancement 1 microgram/m3 of air pollution concentration can cause reduction forced expiratory volume in one second (FEV1) about 35.6mL. Population with high risk to have respiratory disorder as consequence exposed to vehicle’s smoke that can inhaled anytime and long-term, one of which is parking attendants. This research is therefore conducted to obtain comparison of lung function between basement parking attendants and street parking attendants in Bandung city period January–June 2014. This research design is quantitative analysis with cross sectional method towards each 33 subjects that worked as basement parking attendants and street parking attendants. The demography characteristic such as age (years old) and BMI (kg/m2). Further performed test of lung function with parameters: FEV1, forced vital capacity (FVC), and FEV1/FVC by spirometer, furthermore compared between the two groups of parking attendants. The research result showed that FEV1 median score of basement parking attendants (3,300 mL, range 2,600–4,400 mL) and street parking attendants (3,000 mL, range 2,300–3,800 mL) with p=0.011. The FVC average score of basement parking attendants (3,587.88 ± 470.21 mL) and street parking attendants (3,287.88 ± 478.77 mL) with p=0.013. The FEV1/FVCmedian score of basement parking attendants (0.94; range 0.79–0.98) and street parking attendants (0.92; range 0.77–0.97) with p=0.016. In conclusion lung function described by FEV1, FVC, and FEV1/FVC in basement parking attendants are better than street parking attendants, with all score are significant.