Articles

Instrumen Pengukuran Kualitas Hidup Anak Terinfeksi HIV

Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 6 No. 3 Desember 2011
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anak penderita Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Indonesia memperlihatkan tren yang semakin meningkat karena meningkatnya proporsi perempuan terinfeksi HIV/AIDS. Pertimbangan pada dampak besar yang dihadapi anak penderita HIV mendorong kebutuhan pengembangan instrumen khusus untuk mengukur kualitas hidup mereka. Penelitian ini bertujuan mengembangkan instrumen kualitas hidup anak penderita AIDS dengan memodifikasi instrumenyang ada sesuai dengan konteks Indonesia. Pada penelitian ini ditemukan hasil bahwa instrumen yang dikembangkan mempunyai reliabilitas yang cukup baik pada balita dan anak usia 5 – 11 tahun. Nilai reliabilitas (Cronbach’s Alpha) balita, domain fungsi fisik, fungsi sosial, dan gejala HIV masing masing adalah 0,71; 0,72; dan 0,88, sedangkan pada anak 5 – 11 tahun, domain fungsi-fungsi fisik, psikologis, sosial, sekolah, dan gejala terkait HIV masing-masing 0,76; 0,89; 0,67; 0,67; dan 0,88. Penelitian ini menunjukkan untuk konteks Indonesia, nilai ambang batas CD4 yang menunjukkan perbedaan kualitas hidup adalah 15%. Pada balita, dari berbagai ketiga domain, hanya domain gejala terkait HIV yang cukup sensitif untuk mendeteksi perbedaan kualitas hidup anak, sementara pada anak 5 – 11 hanya domain fungsi fisik dan fungsi psikologis yang cukup sensitif untuk mendeteksi perbedaan kualitas hidup anak. Penelitian ini menunjukkan bahwa dampak HIV pada anak masih terkonsentrasi pada gangguan fungsi fisik, fungsi psikologis, dan gejala terkait HIV.Kata kunci: Instrumen pengukuran, anak terinfeksi HIV, kualitas hidupAbstractChildren with HIV/AIDS in Indonesia are increasing due to the increase of woman with HIV. A special instrument for measuring quality of life (QoL) of children with HIV is needed to be developed as the great impact of the infection to children. This study was conducted by modifying the existing QoL instrument of children for Indonesian context. The study indicated that thereliability of the instrument is quite good both for children under 5 and 5 – 11 years old. Reliability values (Cronbach’s Alpha) for under 5, domains of physical function, social function, and HIV-related symptoms are 71, 72, and 88 respectively while for children 5 – 11 years old, domains of physical, psychological, social, and school functions, and HIV-related symptoms are 76, 89, 67, 67, and 88 respectively. The study showed, for Indonesian context, 15% of CD4 is indicated as the threshold to detect the difference of QoL forchildren with HIV. However, for under 5 years old, only questions of HIV-related symptoms domain which is sensitive to detect difference QoL, whereas for children of 5 – 11 years old, the questions concerning physical and psychological domains which are sensitive to detect difference QoL. The study indicated that the impact of HIV on children is mostly on physical andpsychological functions and HIV-related symptoms.Key words: Measurement instrument, children with HIV, quality of life

PENGENAAN PAJAK PENGHASILAN TERHADAP UPAH PEKERJA

Sosiohumaniora Vol 7, No 2 (2005): SOSIOHUMANIORA, JULI 2005
Publisher : Sosiohumaniora

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.782 KB)

Abstract

Upah pekerja di Indonesia belum mencapai taraf yang menggembirakan, Namun demikian, terhadap upah tersebut masih dikenakan Pajak Penghasilan yang memberatkan pekerja, apalagi pada masa krisis ekonomi berkepanjangan seperti sekarang ini. Di dalam penelitian ini dipergunakan metode deskriptif analitis agar diperoleh gambaran yang jelas dan menyeluruh tentang Pajak Penghasilan yang dikenakan terhadap upah pekerja. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan hukum normatif terhadap peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengenaan pajak terhadap pekerja. Dari penelitian yang telah dilaksanakan diperoleh kesimpulan bahwa upah pekerja adalah upah minimum yang ditetapkan oleh Gubernur. Upah pekerja dikenakan Pajak Penghasilan, namun penghasilan sampai 1 (satu) juta rupiah ditanggung oleh Pemerintah. Kata Kunci : Pekerja, Upah pekerja

Inovasi Pelayanan Perizinan Investasi Di Kota Mataram

Jesya (Jurnal Ekonomi & Ekonomi Syariah) Vol 2 No 2 (2019): Jesya Volume 2 Nomor 2 Periode Juni 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Al-Washliyah Sibolga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui inovasi pelayanan perizinan investasi di kota Mataram dan faktor-faktor yang mendorong DPMPTSP untuk terus melakukan inovasi dalam pelayanan perizinan investasi tersebut. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan analisanya menggunakan analisa deskriptif. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah model Miles  dan Huberman  yaitu dimulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Jenis data yang digunakan data primer dan data sekunder. Data primer didaptkan dari hasil wawancara dan data sekunder didapatkan dari dokumen-dokumen yang terkait dengan penelitian ini. Hasil penelitian didapatkan bahwa inovasi pelayanan perizinan investasi yang dilakukan oleh DPMPTSP adalah mengadakan izin paket (paralel), izin Sehati, pelayanan berbasis digital Online Single Submission (OSS), dan mengadakan acara pada hari minggu OSS Goes To Car Free Day. Faktor-faktor yang mendorong DPMPTSP untuk terus melakukan inovasi diantaranya untuk transparansi pelayanan perizinan, mengurungi adanya pungutan liar, meningkatkan dan memberikan kemudahan akses pelayanan perizinan.

AN ANALYSIS OF STUDENT’S READING SPEED OF DESCRIPTIVE TEXT AT VIII GRADE SMPN 1 RAMBAH SAMO

Jurnal Ilmiah Mahasiswa FKIP Prodi Bahasa Inggris Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa FKIP Prodi Bahasa Inggris

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.748 KB)

Abstract

This research about reading speed students. The population of this research was 119 students. Thesamples in this research were 27 students. Researcher used cluster random sampling/random to takesamples that focus on one class. The instrument in this research is reading test. Based on a readingspeed skills test, the average speed of reading students, 2 students were able to reach 100-149 WPM inslow category and 25 other students are only able to achieve 50-99 WPM in very slow category. So,the skill of reading speed students at VIII grade in SMPN 1 Rambah Samo was very slow

Pemenuhan Hak atas Perumahan dan Kawasan Permukiman yang Layak dan Penerapannya Menurut Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya di Indonesia

PADJADJARAN Jurnal Ilmu Hukum (Journal of Law) Vol 1, No 1 (2014): PADJADJARAN Jurnal Ilmu Hukum (Journal of Law)
Publisher : Faculty of Law, Padjadjaran University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7929.413 KB)

Abstract

AbstrakSetiap manusia memiliki hak untuk hidup sejahtera yang melekat pada diri mereka sejak lahir. Salah satunya adalah hak untuk bertempat tinggal serta menghuni rumah yang layak dan terjangkau. Tanggung jawab negara dalam penyelenggaraan perumahan dan permukiman merupakan amanat Pembukaan UUD 1945 dan Pasal 28 H ayat 1 UUD 1945 yang menyebutkan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Pemenuhan kewajiban oleh negara untuk menyelenggarakan pembangunan perumahan dan permukiman bagi rakyatnya adalah untuk memenuhi hak-hak sipil dan politik (sipol), dan hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya (ekosob) warga negara. Pemenuhan atas tempat tinggal yang layak merupakan kewajiban pemerintah sesuai dengan ketentuan dalam The International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights yang diratifikasi melalui UU No. 11 Tahun 2005. Pada kenyataannya, belum semua masyarakat dapat menikmati perumahan yang layak. Hal itu disebabkan oleh perbedaan perumbuhan dan perkembangan daerah dan perhatian pemerintah yang kecil terhadap masyarakat berpenghasilan rendah. Solusi dari permasalahan itu dapat dilakukan salah satunya dengan menyinkronkan UUD 1945, UU No. 1 Tahun 2011, dan UU No. 5 Tahun 2005 sebagai petunjuk dalam mengembangkan dan menyediakan rumah-rumah untuk masyarakat, khususnya masyarakat berpenghasilan rendah melalui kepemilikan “Rumah Swadaya”, “Rumah Umum”, “Rumah Khusus”, “Rumah Negara”, dan “Rumah Komersial” yang perpanjangan perlindungan hukum bagi masyarakat terkait penyediaan rumah yang layak. Negara harus segera memberikan perlindungan hukum serta jaminan untuk masyarakat yang tidak memiliki rumah dengan melakukan perjanjian maupun diskusi dengan kelompok-kelompok masyarakat terkait.Kata Kunci: hak atas perumahan, pemukiman yang layak, perumahan masyarakat berpenghasilan rendah, rumah susun, tanggung jawab negara. The Fulfilment of the Right of the Adequate Housing in Indonesia within the Framework of the Implementation of the International Covenant on Economic, Social, and Cultural RightsAbstractEvery person has the right to prosperous life which has been inherited since they were born. One of the implementation of this right is to live in a decent and affordable house. The responsibility of the State in providing decent and affordable house for their citizen is mandated by the Preambule and Article 28H paragraph (1) of the 1945 Constitution of Republic Indonesia, which stipulates that every person shall have the right to live in physical and spiritual prosperity, to have a home and to enjoy a good and healthy environment, and shall have the right to obtain medical care. The fulfillment of such obligation by the government in providing decent and affordable housing for its citizens in order to meet their civil and political, economic, social, and cultural rights based on the International Covenant on Economic, Social, and Cultural Rights ratified by Law Act No. 11 Year 2005. In reality, however, not all of the citizens of Indonesia have enjoyed their rights to live in a decent house. This is due to different regional growth and development as well as the lack of attention by the government on citizens who have low-income. One of the solution for this legal problem is to synchronize the legal rules regulated under the 1945 Constitution, Act No. 1 Year 2011 regarding Housing and Shelter, and Act No. 11 Year 2005 regarding The Ratification of The International Covenant of Economic, Social and Cultural Rights as guidance in developing and providing decent housings for citizens, especially low-income citizens (MBR), through the ownership of “Rumah Swadaya”, “Rumah Umum”, “Rumah Khusus”, “Rumah Negara”, and “Rumah Komersil”, each having different functions. Any mechanism is used, there shall be an extent of legal protection for the citizen’s rights with regards to the provision of decent houses. The State must immediately provide legal protection and assurance for citizens who have no access to decent and affordable houses by making an arrangement or discussion with the stakeholders and the relevant groups of the community.Keywords: rights to housing, affordable housing, low price housing, low cost apartement, state responsibility.DOI: https://doi.org/10.22304/pjih.v1n1.a5

Gambaran Fungsi Kognitif HIV Anak yang Telah Memperoleh Terapi Antiretrovirus

Sari Pediatri Vol 18, No 2 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Pasien HIV anak berisiko tinggi mengalami gangguan neurokognitif akibat keterlibatan sistem saraf pusat (SSP). Pemberian antiretrovirus (ARV menurunkan viral load di SSP sehingga mencegah penurunan fungsi kognitif.Tujuan. Memberikan gambaran fungsi kognitif pasien HIV anak dalam terapi ARV.Metode. Studi potong lintang dilakukan terhadap pasien HIV anak berusia 5-15 tahun. Penilaian kognitif dilakukan dengan instrumen Wechsler intelligence scale for children IV (WISC IV) dilanjutkan dengan pemeriksaan elektroensefalografi untuk membuktikan kerusakan akibat keterlibatan SSP pada infeksi HIV.Hasil. Sembilan puluh pasien HIV anak (median usia 9 tahun) telah memperoleh ARV selama  1-124 bulan dengan median 69 bulan. Hasil rerata verbal, performance, dan full-scale IQ (FSIQ) berturut-turut adalah 88,66 (SB 15,69), 85,30 (SB 15,35), dan 85,73 (SB 15,61). Dua puluh tiga (25,6%) subjek memiliki verbal IQ abnormal, 34 (37,8%) performance scale abnormal, dan 32 (35,6%) FSIQ abnormal. Hasil EEG abnormal didapatkan pada 22 subjek (22,4%) dan tidak memiliki hubungan dengan stadium klinis, usia dan lama pemberian ARV, serta viral load. Stadium HIV menunjukkan hubungan bermakna dengan komponen verbal scale IQ dan FSIQ (p=0,042 dan p=0,044). Hasil IQ tidak memiliki hubungan dengan usia pemberian ARV, lama pemberian ARV, dan viral load.Kesimpulan. Pasien HIV anak yang telah mendapat terapi ARV selama 1-124 bulan memiliki rerata IQ abnormal pada verbal, performance, dan FSIQ meskipun jika dinyatakan dalam bentuk kategori, lebih dari 50% subjek memiliki IQ normal pada ketiga skala WISC. 

Berbagai Teknik Pemeriksaan untuk Menegakkan Diagnosis Penyakit Alergi

Sari Pediatri Vol 11, No 3 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Angka kejadian penyakit alergi makin meningkat selama tigapuluh tahun terakhir dan tidak jarang mengganggu aktivitas sehari-hari bahkan mengganggu tumbuh kembang anak. Faktor herediter merupakan penyebab terpenting terjadinya penyakit alergi namun paparan lingkungan, infeksi, dan kondisi psikis juga sering kali menjadi faktor pencetus. Tata laksana utama penyakit alergi adalah tindakan pencegahan terhadap alergen penyebab namun tidak jarang alergen penyebab sulit diidentifikasi hanya berdasarkan pada anamnesis. Disamping itu banyak pula kasus alergi dengan gejala menyerupai penyakit lain, maka diperlukan pemeriksaan penunjang untuk membantu menegakkan diagnosis dan menentukan alergen penyebab.

Terapi Antiretroviral Lini Kedua pada HIV Anak di RS. Cipto Mangunkusumo

Sari Pediatri Vol 14, No 2 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Akses terhadap terapi antiretroviral (ARV) semakin mudah saat ini dan membuat angka harapan hidup anak terinfeksi HIV semakin panjang. Dalam penanganan jangka panjang anak terinfeksi HIV, salah satu masalah baru yang timbul adalah gagal terapi dan resistensi obat. Tujuan. Menilai karakteristik pasien anak terinfeksi di RS. Cipto Mangunkusumo yang menggunakan terapi ARV lini kedua dan indikasi penggantian ke terapi ARV lini kedua.Metode. Penelitian kohort pasien anak terinfeksi HIV di RS Cipto Mangunkusumo sejak tahun 2002. Kriteria inklusi adalah pasien anak terinfeksi HIV yang berobat di RS Cipto Mangunkusumo sejak tahun 2002 sampai April 2012 dan menggunakan salah satu obat antiretroviral lini kedua. Data yang diambil adalah data demografis, kada CD4, jumlah virus, stadium klinis, dan kombinasi terapi ARV.Hasil. Empatratus empat pasien anak terinfeksi HIV dan 44 (10,9%) menggunakan terapi antiretroviral lini kedua. Sebagian besar (59,1%) gagal terapi adalah kombinasi antara kegagalan virologi, imunologis, dan klinis. Median usia saat memulai terapi ARV lini kedua 69 (26-177) bulan. Median lama subyek menggunakan terapi ARV lini pertama 9 (13-176) bulan. Seluruh subyek penelitian menggunakan lopinavir/ritonavir sebagai salah satu obat ARV lini kedua dengan kombinasi terbanyak adalah didanosin, lamivudin, dan lopinavir/ritonavir (40,9%). Efek samping didapatkan pada 2 pasien akibat abacavir. Sebagian besar subyek (19/25) yang diperiksa jumlah virus pada 6-12 sesudah menggunakan ARV lini kedua mempunyai hasil tidak terdeteksi.Kesimpulan. Jumlah pasien yang menggunakan terapi ARV lini kedua tidak terlalu banyak karena deteksi kegagalan terapi masih lebih banyak berdasarkan kegagalan klinis dan imunologis.

Pemberian Steroid pada Purpura Henoch-Schonlein serta Pola Perbaikan Klinis di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM Jakarta

Sari Pediatri Vol 10, No 4 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Purpura Henoch-Schonlein (PHS) merupakan penyakit vaskulitis yang relatif sering pada anak. Selama periode tahun 1998-2003 di Departemen IKA RSCM terdapat 23 kasus PHS. Pengobatan lebih bersifat simtomatik dan suportif. Pemberian steroid selama 5-7 hari menjadi pilihan pada gejala klinis yang berlanjut. Belum diketahui perjalanan penyakit pasien PHS yang mendapat terapi simtomatis maupun yang mendapat terapi steroid.Tujuan. Mengetahui pola perbaikan klinis pasien PHS di Poliklinik Anak RSCMMetode. Dilakukan penelitian deskriptif, Juli-Desember 2006, subjek penelitian kasus PHS di Poliklinik Alergi-Imunologi Anak RSCM.Hasil. Didapatkan 10 kasus baru dengan usia rerata 5 tahun 4 bulan. Perbandingan laki-laki dan perempuan 1:4. Seluruh subjek mempunyai gejala purpura dan nyeri sendi. Nyeri perut didapatkan pada 9 subjek, keterlibatan ginjal 3, hipertensi dan hematuria 1, proteinuria 3, leukositosis dan trombosis pada 6 dan 3 subjek. Tujuh subjek mendapat imunomodulator. Perbaikan gejala berupa purpura, nyeri perut, nyeri sendi dan nefritis terjadi setelah 2 minggu, sisanya sebelum 2 minggu. Leukositosis dan trombosis membaik setelah 1-2 minggu. Tujuh subjek mendapat steroid setelah 1 minggu timbul gejala, 3 subjek mendapat triamsinolon dan sisanya metil prednisolon. Nyeri perut paling cepat menghilang pada subjek yang mendapat triamsinolon, sedangkan purpura pada yang mendapat metil prednisolon.Kesimpulan. Terjadi peningkatan kasus PHS selama delapan bulan terakhir tahun 2006. Perbaikan gejala klinik mayoritas terjadi setelah 2 minggu mendapat pebgobatan steroid. Hal ini diperkirakan berhubungan dengan terlambatnya terapi steroid akibat pasien berobat dan penggunaan imunomodulator yang marak saat ini.

Pemberian Bubur Formula Protein Hidrolisat dan Bubur Soya dalam Pencegahan Alergi Susu Sapi

Sari Pediatri Vol 8, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Alergi susu sapi (ASS) sering merupakan penyakit alergi pertama padaseorang bayi. Upaya pencegahan terhadap alergi protein susu sapi berupa pencegahanprimer, sekunder atau tersier.Tujuan. Untuk membandingkan bubur yang mengandung protein susu sapi hidrolisisparsial dengan bubur yang mengandung isolat protein soya sebagai makanan pendampingpada bayi berisiko alergi tinggi terjadinya ASS.Metoda. Penelitian uji klinik acak buta ganda ini dilakukan pada bayi usia 4-6 bulanyang mempunyai bakat atopik dengan pemberian dua jenis bubur yaitu buburhipoalergenik dan bubur soya.Hasil. Didapatkan 84 bayi yang dapat dievaluasi sampai akhir penelitian, terdiri dari47 (56%) bayi laki-laki dan 37 (44%) bayi perempuan. Subyek dibagi menjadi kelompokbubur hipoalergenik (HA) 47 bayi (56%) dan kelompok bubur bubur soya 37 bayi(44%). Sebagian besar evaluasi skor gejala alergi menunjukkan hasil skor yang tidaktimbul atau skor yang menurun, yaitu masing-masing 39 bayi (46,4%) dan 36 bayi(42,9%). Pengukuran kadar IgE spesifik protein susu sapi pada awal dan akhir penelitiansebagian besar menunjukkan hasil negatif, yaitu masing-masing 62 bayi (86,1%) dan 43bayi (70,5%). Tidak ada hubungan yang bermakna antara evaluasi skor gejala alergiantara kedua kelompok bubur, ataupun antara kadar IgE spesifik protein susu sapi padaakhir penelitian pada kedua kelompok bubur yang hanya menggunakan susuhipoalergenik atau ASI.Kesimpulan. Bubur protein soya yang dikombinasi dengan susu hipoalergenik atauASI mempunyai manfaat yang sama dengan bubur hipoalergenik dalam mencegahtimbulnya ASS. Kedua kelompok bubur juga dapat menghasilkan kenaikan berat badandan panjang badan yang sama.

Co-Authors Ade Bastian, Ade Afifah, Siti Sarah Anisah M. Saleh, Anisah M. Antonius H. Pudjiadi, Antonius H. Arwin Akib, Arwin Arwin AP Akib, Arwin AP Aryono Hendarto, Aryono Badriul Hegar Syarif, Badriul Hegar Bambang Supriyatno Budi Utomo Dadi Suyoko, Dadi Damayanti R. Syarif, Damayanti R. Darmawan B. Setyanto, Darmawan B. Desy Dewi Saraswati, Desy Dewi Dewi Kania Sugiharti Dharmayati B. Utoyo Dhieka Avrilia Lantana Dina Muktiarti, Dina Djajadiman Gatot Efa Laela Fakhriah EM Dadi Suyoko, EM Dadi Enny Zuliatie Evi Kasyulita, Evi Ferga Prasetyo, Tri Finny Fitry Yani Fita R. Utami Herlina Herlina Idham Amir Irawan Mangunatmadja, Irawan Jasin, Madeleine Ramdhani Karima, Inna Sabily Kemas Firman Lisnawati Lisnawati Maret Priyanta Meida Tanukusumah, Meida Muhammad Irfan Mulya Rahma Karyanti, Mulya Rahma Mulya Safri, Mulya Mulyadi M. Djer Nastiti Kaswandani Ni Ketut Prami Rukmini, Ni Ketut Prami Ni Putu Sudewi, Ni Putu Nilamsari, T Novie Amelia C, Novie Amelia Pentatito Gunowibowo Permata, Rika Ratna Pramita Gayatri, Pramita Putri, Desy Hanisa Reginawati Hindersah Setyanto, Darmawan Budi Sjawitri P Siregar Soedjatmiko Soedjatmiko Sondi Kuswaryan Souisa, Yongky Sri Hastuti Noer Sri Rezeki Hadinegoro, Sri Rezeki Sri S Nasar, Sri S Sudigdo Sastroasmoro Susanto, Erliyan Redy Swistoro, Eko Titis Prawitasari, Titis Toha Muhaimin Tri Ferga Prasetyo, Tri Ferga Triyanti Anugrahini Ummi Rasyidah Yani Pujiwati Yessi Yuniarti, Yessi Yessy Yanitasari Yusuf Saepul Zamil, Yusuf Saepul Zakiudin Munasir