Articles

Found 22 Documents
Search

EVALUASI PERTUMBUHAN, SINTASAN DAN NISBAH KELAMIN HUNA BIRU (Cherax albertisii) DAN RED CLAW (Cherax quadricarinatus) DENGAN PEMBERIAN PAKAN ALAMI DAN PAKAN BUATAN Kurniasih, Titin
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 15, No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Penelitian untuk mengevaluasi pertumbuhan huna biru Papua (Cherax albertisii) dan huna capit merah Australia (Cherax quadricarinatus/red claw) dengan pemberian pakan alami (Chironomus sp) dan buatan (pelet udang komersial) telah dilakukan di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar Bogor. Penelitian berdurasi tiga bulan (98 hari) bertujuan untuk menemukan daya saing huna lokal Indonesia terhadap huna Australia dan mendapatkan informasi awal mengenai pakan yang sesuai untuk pertumbuhan Cherax sp. Penelitian dilakukan di indoor hatchery, menggunakan rancangan acak lengkap dua faktor dengan kedua species sebagai faktor pertama, dan perbedaan pakan sebagai faktor kedua. Benih kedua species berumur 2 bulan dipelihara pada akuarium berukuran 60 cm x 50 cm x 40 cm, dengan kepadatan 10 individu per akuarium (30 ind/ m2). Parameter yang diamati adalah pertumbuhan (pertambahan bobot dan panjang baku, laju pertumbuhan harian), ratio jantan dan betina serta sintasan di antara setiap perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan nyata (p < 0.05) bagi parameter pertumbuhan di antara faktor species (Cherax albertisii dan Cherax quadricarinatus) dan interaksi di antara faktor spesies dan faktor pakan, sedangkan parameter pertumbuhan di antara faktor pakan (pakan alami dan buatan) berbeda sangat nyata (p < 0.01). Tidak ada fenomena sexual dimorfisme untuk individu Cherax sp pada kedua species.Kata kunci: pertumbuhan, sintasan, sexual dimorphisme, Cherax albertisii, Cherax quadricarinatus/redclaw), huna, lobster air tawar.
Analisis Nilai Moral Dalam Cerbung Kledung, Pedhute Wis Sumilak Karya Suharno, S. Ip dalam Majalah Djaka Lodang Kurniasih, Titin
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 6, No 3 (2015): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) unsur struktural cerbung Kledung, Pedhute Wis Sumilakkarya Suharno, S. Ip dalam majalah Djaka Lodang, dan (2) nilai moral dalam cerbung Kledung, Pedhute Wis Sumilak karya Suharno, S. Ip dalam majalah Djaka Lodang.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Subjek penelitian ini adalah cerbung Kledung, Pedhute Wis Sumilak karya Suharno S.Ip dalam majalah Djaka Lodang. Objek penelitian ini adalah unsur struktural, dan nilai  moral. Penelitian ini difokuskan pada tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, dan sudut pandang, amanat serta nilai moral dalam cerbung Kledung, Pedhute Wis Sumilak. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri dan dibantu kertas pencatat data. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik pustaka, dan teknik pencatatan data. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis konten. Dalam penyajian hasil analisis digunakan teknik informal.Hasil yang diperolah dari penelitian ini yaitu: (1) unsur struktural cerbung Kledung, Pedhute Wis Sumilak memiliki (a) tema: masalah percintaan; (b) tokoh utamanya: Yoga dan Asih, sedangkan tokoh tambahannya: Daru, Yudi, Nunik, Bu Yati; (c) Alur dalam cerbung ini menggunakan alur maju; (d) Latar meliputi latar tempat: Kledung, Omah Bu Yati, Omah Pak Pandusuwita, Bank Permata Kencana, Pategalan, Bandungan Ambarawa, Hotel Candhi Baru Semarang, (e) latar waktu: Pagi hari, Siang hari, Sore hari, Malam hari, (f) latar sosial: sosial keluarga Daru tinggi sedangkan Yoga hanya dari keluarga sederhana; (e) Sudut pandang dalam cerbung Kledung, Pedhute Wis Sumilak menggunakan sudut pandang persona ketiga. (h) amanat : jangan mudah percaya terhadap orang dan jangan malu meminta maaf dan mengakui kesalahan. (2)Nilai moral yang terdapat dalam cerbung Kledung, Pedhute Wis Sumilak meliputi: (a) hubungan antara manusia dengan Tuhan: berdoa kepada Tuhan, Pasrah; (b) Hubungan antara manusia dengan manusia lain: hormat, cinta, patuh, memberi semangat, peduli terhadap orang lain; (c) Hubungan manusia dengan diri sendiri: setia, yakin, mau mengakui kesalahan, berani, bijaksana.   Kata Kunci: Struktural, Nilai  Moral, cerbung Kledung, Pedhute Wis Sumilak
SUBSTITUSI TEPUNG BUNGKIL KEDELAI DENGAN TEPUNG DAUN LAMTORO DAN PENGARUHNYA TERHADAP EFISIENSI PAKAN DAN PERTUMBUHAN IKAN NILA [Effect of Soybean Meal Replacement with Leucaena leucocephala Meal in Pelleted Feed on feed efficiency and the growth of Nile Tilapia] Kurniasih, Titin; Rosmawati, Rosmawati
BERITA BIOLOGI Vol 12, No 2 (2013)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.597 KB) | DOI: 10.14203/beritabiologi.v12i2.528

Abstract

The high cost of fish feed is a main problem in aquaculture industries, and the effort to improve the cost efficiency of feed is the main focus for nutritional research program all over the world. Research is needed to identify less expensive and more sustainable ingredients within fish feeds, while maintaining nutritional quality equal to those based mainly on fish meal and soybean meal. Leucaena leaf meal (LLM) is a potential alternative plant protein source because of its high protein content and low cost compared to soybean meal. The Leucaena leaf was soaked in freshwater for 3 days prior to use. This study was a 60-day trial and aimed to examine the replacement of soybean meal with LLM at various level in practical feed for Nile tilapia. This trial used a Completely Randomized Design which was carried out in 15 aquarias sized of 60 x 60 x 50 cm. Triplicate group of nile tilapia (initial body weight 12,04 ± 0,38 g fish-1 ) were fed five isonitrogenous and isocaloric feeds. The control feed was containing soybean meal, whereas in other four feeds, LLM directly replaced soybean meal with the inclusion level of 8, 16, 24 dan 31 % within the feed formulation. Result showed that the growth performance and feed efficiencies of feed containing 8, 16, 24 and 31 % LLM on the formulation were significantly lower compared to control feed. LLM was able to consumed by nile tilapia although there was a tendency of decrease of the feed consumption with the increase of LLM inclusion. It suggested that the additional treatment is needed to improve the quality of LLM, and to increase the inclusion level of LLM in feed.
EVALUASI PERTUMBUHAN, SINTASAN DAN NISBAH KELAMIN HUNA BIRU (Cherax albertisii) DAN RED CLAW (Cherax quadricarinatus) DENGAN PEMBERIAN PAKAN ALAMI DAN PAKAN BUATAN Kurniasih, Titin
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 15, No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Penelitian untuk mengevaluasi pertumbuhan huna biru Papua (Cherax albertisii) dan huna capit merah Australia (Cherax quadricarinatus/red claw) dengan pemberian pakan alami (Chironomus sp) dan buatan (pelet udang komersial) telah dilakukan di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar Bogor. Penelitian berdurasi tiga bulan (98 hari) bertujuan untuk menemukan daya saing huna lokal Indonesia terhadap huna Australia dan mendapatkan informasi awal mengenai pakan yang sesuai untuk pertumbuhan Cherax sp. Penelitian dilakukan di indoor hatchery, menggunakan rancangan acak lengkap dua faktor dengan kedua species sebagai faktor pertama, dan perbedaan pakan sebagai faktor kedua. Benih kedua species berumur 2 bulan dipelihara pada akuarium berukuran 60 cm x 50 cm x 40 cm, dengan kepadatan 10 individu per akuarium (30 ind/ m2). Parameter yang diamati adalah pertumbuhan (pertambahan bobot dan panjang baku, laju pertumbuhan harian), ratio jantan dan betina serta sintasan di antara setiap perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan nyata (p < 0.05) bagi parameter pertumbuhan di antara faktor species (Cherax albertisii dan Cherax quadricarinatus) dan interaksi di antara faktor spesies dan faktor pakan, sedangkan parameter pertumbuhan di antara faktor pakan (pakan alami dan buatan) berbeda sangat nyata (p < 0.01). Tidak ada fenomena sexual dimorfisme untuk individu Cherax sp pada kedua species.Kata kunci: pertumbuhan, sintasan, sexual dimorphisme, Cherax albertisii, Cherax quadricarinatus/redclaw), huna, lobster air tawar.
Evaluasi Pertumbuhan Empat Populasi Ikan Nila (Oreochromis niloticus) di Kolam Percobaan Cijeruk, Bogor Gustiano, Rudhy; Kurniasih, Titin; Arifin, Otong Zenal
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 22, No 3 (2005)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mib.2005.22.3.177

Abstract

The objective of the present study was to obtain good populations of Oreochromis niloticus based on their growth performances. Four populations, i.e GIFT-6, Tempe, Local, and GIFT-3 were used in this study. Sixteen 16 cages laid in four earthen ponds in the Cijeruk Research Installation, Bogor, were used as replication. The results showed that there were no significant difference among four populations for biomass, but a significant difference among populations was observed on length parameter (F < 0.01),in which the local population was the best.
Feminisasi Nila (GIFT), Oreochromis sp. Menggunakan Hormon Estradiol 17-β Kurniasih, Titin; Arifin, Otong Zenal; Marizal, Marizal
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 8, No 1 (2006)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.166

Abstract

Research to find out the effect of oral administration of estradiol 17-β  on feminization of Oreochromis sp. (GIFT) fry was carried out at Cibalagung Research Station. Five different concentrations of estradiol 17-β  i.e.: 60, 80, 100, 120 and 0 mg/kg feed, were given to larvae of 6 days old twice a day for 21 days in triplicates. The result indicated that there was significant difference of average percentage of female between control and treatments.The highest percentage of female was obtained from fish treated with 100 mg estradiol /kg feed (86.6%), whereas the lowest was obtained from fish control (51.7%). The survival rate and length growth were not significantly different. Survival rate of larvae ranged from 94 to 97.7% and the average of length growth ranged from 10.08 to 13.32 mm.
PEMBERIAN EKSTRAK ENZIM KASAR DARI CAIRAN RUMEN DOMBA PADA TEPUNG BUNGKIL KEDELAI LOKAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN NILA Kurniasih, Titin; Fitriliyani, Indira; Azwar, Zafril Imran
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.2.2012.247-256

Abstract

Kendala utama yang dihadapi dalam upaya pencarian bahan baku lokal sumber protein alternatif untuk mendapatkan pakan yang ekonomis dan efisien antara lain kualitas bahannya yang tidak sebaik tepung ikan dan tepung bungkil kedelai impor. Enzim protease, amylase, dan selulase bermanfaat untuk meningkatkan kecernaan bahan baku yang mengandung protein kompleks, karbohidrat, dan serat yang tinggi. Cairan rumen ternak domba telah dideteksi banyak mengandung enzim yang dapat membantu meningkatkan kecernaan bahan baku nabati. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan sumber enzim alamiah yang murah dan tersedia cukup banyak di Indonesia, yaitu cairan rumen domba, untuk menghidrolisis bahan baku tepung bungkil kedelai lokal (TBKL). Penelitian ini terdiri atas dua tahap yaitu in vitro dan in vivo. Penelitian in vitro bertujuan mengevaluasi kadar produk hidrolisis yang dihasilkan setelah TBKL diinkubasi dengan ekstrak enzim kasar dari cairan rumen domba (EEK CRD) dengan dosis 0, 200, 400, 600, dan 800 mL/kg TBKL, dan hasilnya adalah bahwa kadar total gula dan protein terlarut pada TBKL terhidrolisis meningkat apabila konsentrasi EEK CRD bertambah. Penelitian in vivo bertujuan menguji pemakaian TBKL yang telah dihidrolisis dengan dosis yang terpilih (dosis 800 mL EEK CRD/kg TBKL) dalam formulasi pakan ikan nila dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Ikan uji adalah nila berukuran rata-rata 2,48 ± 0,0183 g per ekor, dan dipelihara di 15 akuarium berukuran 50 cm x 60 cm x 50 cm yang diisi masing-masing 10 ekor selama 40 hari percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan TBKL terhidrolisis dalam formulasi pakan menghasilkan peningkatan signifikan (P&lt;0,05) pada parameter efisiensi pakan dibandingkan pakan kontrolnya, tetapi tidak signifikan (P&gt;0,05) untuk parameter laju pertumbuhan, konsumsi pakan, retensi protein, dan retensi lemak. Tidak ada perbedaan signifikan (P&gt;0,05) untuk tingkat sintasan di antara kelima perlakuan. EEK CRD dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan melalui predigestion terhadap nutrien protein kompleks dan karbohidrat dalam suatu bahan.
VARIASI GENETIK TIGA POPULASI IKAN NILA ( Oreochromis niloticus ) BERDASARKAN POLIMORFISME mt-DNA Arifin, Otong Zenal; Kurniasih, Titin
Jurnal Riset Akuakultur Vol 2, No 1 (2007): (April 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.333 KB) | DOI: 10.15578/jra.2.1.2007.67-75

Abstract

Penelitian untuk mengevaluasi keragaman genetik tiga populasi ikan nila telah dilakukan di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi variasi genetik ikan nila populasi GET, GIFT, dan nila Danau Tempe sebagai informasi dasar bagi program seleksi karakter kuantitatif. Hasil menunjukkan bahwa ikan nila GET, GIFT, dan nila Danau Tempe memiliki keragaman genetik yang tinggi dengan nilai haplotype diversity berturut-turut sebesar 0,7579; 0,5895; dan 0,5333. Jarak genetik terdekat terdapat antara ikan nila GIFT dan nila Danau Tempe, sedangkan jarak genetik terjauh terdapat pada ikan nila GET dengan populasi Danau Tempe.Research on evaluating genetic diversity between three populations of nile tilapia ( Oreochromis niloticus ) was conducted at Research Institute for Freshwater Aquaculture, Bogor. This research aimed to obtain preliminary information related with the genetic diversity of GET, GIFT, and Tempe Lake tilapia, which will be used as basic information for the future selective breeding program. Result showed that GET, GIFT, and Tempe Lake tilapia have high haplotype diversity of 0.7579, 0.5895, and 0.5333 respectively. The closest genetic distance was found between GIFT and Tempe Lake tilapia, while the farthest genetic distance was observed between GET and the Tempe Lake population.
ISOLASI, SELEKSI, DAN IDENTIFIKASI BAKTERI DARI SALURAN PENCERNAAN IKAN LELE SEBAGAI KANDIDAT PROBIOTIK Kurniasih, Titin; Widanarni, Widanarni; Mulyasari, Mulyasari; Melati, Irma; Azwar, Zafril Imran; Lusiastuti, Angela Mariana
Jurnal Riset Akuakultur Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.415 KB) | DOI: 10.15578/jra.8.2.2013.277-286

Abstract

Penambahan probiotik pada pakan telah banyak diaplikasikan pada kegiatan akuakultur dan terbukti bermanfaat meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi pakan ikan. Probiotik yang ditujukan untuk membantu meningkatkan aktivitas pencernaan dalam saluran pencernaan ikan, akan lebih baik apabila diisolasi dari saluran pencernaan ikan itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bakteri probiotik dari saluran pencernaan ikan lele, mengisolasi, menyeleksi, serta mengidentifikasi bakteri yang didapatkan. Lambung dan usus lele, digerus dan diencerkan, kemudian dikultur dengan teknik cawan sebar. Koloni yang didapat dimurnikan dan diseleksi dengan uji zona hidrolisis protein dan uji patogenisitas, dan diidentifikasi secara biokimiawi dan molekuler. Tahap isolasi mendapatkan 10 isolat, tahap uji zona hidrolisis protein mendapatkan 4 isolat dengan zona hidrolisis tertinggi, sedangkan uji patogenisitas hanya meloloskan 2 isolat, yaitu A1 dan L1. Hasil uji identifikasi biokimiawi dan molekuler menunjukkan bahwa isolat A1 adalah Staphylococcus epidermidis dan L1 adalah Bacillus cereus. Bacillus cereus merupakan spesies yang sebagian besar anggotanya merupakan probiotik bagi hewan darat dan ikan, dengan demikian dari penelitian ini didapatkan bahwa Bacillus cereus merupakan kandidat bakteri yang berpeluang untuk dijadikan probiotik.
PRODUKSI ENZIM SELULASE DARI BAKTERI TS2b YANG DIISOLASI DARI RUMPUT LAUT DAN PEMANFAATANNYA DALAM MENGHIDROLISIS KULIT UBI KAYU DAN DAUN UBI KAYU SEBAGAI BAHAN BAKU PAKAN IKAN Irma Melati, Irma; Mulyasari, Mulyasari; Sunarno, Mas Tri Djoko; Bintang, Maria; Kurniasih, Titin
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.672 KB) | DOI: 10.15578/jra.9.2.2014.263-270

Abstract

Upaya untuk mendapatkan bahan baku pakan alternatif masih perlu dilakukanmengingat makin meningkatnya harga pakan ikan. Salah satu bahan yang berpotensi untuk dimanfaatkan adalah kulit ubi kayu (KUK) dan daun ubi kayu (DUK). Tingginya kadar serat kasar khususnya selulosa dalam bahan baku tersebut, menjadi kendala dalam upaya pemanfaatannya. Penggunaan enzim selulase dapat menjadi alternatif untuk menangani masalah tersebut. Kemampuan komplek enzim selulase dari bakteri selulolitik dalam mendegradasi selulosa sangat beragam. Tujuan penelitian ini adalah memproduksi dan memanfaatkan enzim selulase dari bakteri yang diisolasi dari rumput laut untuk menghidrolisis KUK, DUK, dan selulosa murni (Carboxymethyl Cellulose). Penelitian ini dilaksanakan dalam dua tahap yaitu: pertama adalah produksi optimum enzim selulase dari bakteri TS2b dengan waktu inkubasi 24, 48, 72, 78, dan 96 jam dan kedua adalah tahap untuk mengetahui kemampuan enzim selulase bakteri TS2b dalam menghidrolisis KUK, DUK, dan Carboxymethyl Cellulose (CMC) (in vitro). Parameter yang diamati adalah aktivitas enzim selulase berdasarkan modifikasi metode Miller dan kadar gula pereduksi (glukosa) berdasarkan metode DNS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu optimum untuk produksi enzim selulase terjadi pada jam ke-78 yaitu sebesar 0,0214 U/mL dengan kadar glukosa yang dilepaskan sebesar 0,0231 mg/L. Daya hidrolisis enzim selulase tertinggi diperoleh pada substrat KUK dengan aktivitas enzim selulase dan kadar gula pereduksi yang dilepaskan berturutturut sebesar 0,0179 U/mL dan 0,9701 mg/L; sedangkan daya hidrolisis terendah diperoleh pada substrat DUK dengan aktivitas selulase sebesar 0,0015 U/mL dan kadar gula pereduksi yang dilepaskan sebesar 0,0787 mg/L. Enzim selulase isolat TS2b mempunyai kemampuan menghidrolisis substrat KUK dengan baik, tapi kurang efektif untuk menghidrolisis CMC dan DUK.