Nendah Kurniasari
Pusat Riset Pengolahan Produk dan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan

Published : 21 Documents
Articles

Found 21 Documents
Search

PENINGKATAN PENGETAHUAN SISWA SUPM KOTA TEGAL (JAWA TENGAH) MELALUI PENYEBARAN INFORMASI TENTANG TRANSPORTASI UDANG HIDUP SISTEM KERING MENGGUNAKAN MEDIA FILM BINGKAI BERSUARA Erlina, Mei Dwi; Kurniasari, Nendah
Jurnal Penyuluhan Vol. 2 No. 1 (2006): Jurnal Penyuluhan
Publisher : Program Pascasarjana Ilmu Penyuluhan Pembangunan, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.38 KB) | DOI: 10.25015/penyuluhan.v2i1.2137

Abstract

This research aims to know influence of dissemination of picture form, influence of music type attendant of frame film narasi voice, and influence of interaction music type attendant of narasi and dissemination of form draw to improve knowledge of target. Sample determined by purposive to 117 student of SUPM Tegal Central Java with clauses have never followed shrimp transportation technique subject live dry system. This research is quasi exsperimental with factorial device 2x2. Free variable compose from 1) Type music factor attendant of narasi two-level that is populer music and dangdut 2) Factor presentation of picture of comparison of foto frame amount: line picture = 75 : 25% and comparison of photo frames amount : line picture = 25 : 75%. Not free variable are the make-up of knowledge of student. Result of research indicate that 1) Usage of pop music as attendant of narasi in presentation of frame film voice more effective to submit information concerning shrimp transportation live dry system to student of SUPM Tegal; 2) Make-up of knowledge of student of SUPM do not influence by difference of presentation of form draw in frame film displaying voice; 3) frame film voice with comparison of photo picture frames amount : line picture = 75 : 25% and accompanied pop music (MPGF) is treated group of combination which most effective in disseminating innovation of transportation of life shrimp dry system. The respondents of sound film frame of MPGT get the biggest score in increasing knowledge compared to the respondents of treated sound film frame of MPGG, MDGF and MDGG;. 4) Sound film frame can be used to disseminate and enhance of diffusion of innovation on transportation of life shrimp dry system, especially to the SUPM students and the people at large.
STRATEGI PENGEMBANGAN SEKTOR KELAUTAN DAN PERIKANAN DI KOTA SABANG Kurniasari, Nendah; Rosidah, Latifatul; Erlina, Mei Dwi
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 2 (2018): DESEMBER 2018
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.145 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v8i2.7321

Abstract

Sektor kelautan dan perikanan di Kota Sabang memiliki permasalahan yang berbeda-beda dan membutuhkan penyelesaian yang berbeda pula di setiap tipologi sehingga diperlukan identifikasi tipologi mana yang lebih prioritas, penting, dan mendesak untuk diselesaikan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi pengembangan sektor tersebut agar terjadi sinergitas dalam pengembangan setiap tipologi. Penelitian dilakukan di Kota Sabang pada tahun 2016 dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara, observasi, dokumentasi, dan diskusi grup terfokus tehadap pelaku usaha dan pemangku kepentingan di Kota Sabang. Analisis data menggunakan analisis Urgency, Seriousness, and Growth (USG), analisis Strength, Weakness, Opportunity, and Threat (SWOT) dan analisis Qualitative Strategic Planning Method (QSPM). Hasil penelitian menujukkan bahwa prioritas sektor perikanan dalam pembangunan sektor kelautan dan perikanan di Kota Sabang adalah pengembangan usaha pengolahan perikanan. Oleh karena itu, strategi yang perlu dilakukan adalah; 1) memanfaatkan kawasan destinasi wisata sebagai peluang pasar dengan meningkatkan kualitas produk olahan melalui peningkatan kualitas bahan baku, 2) membangun sentra pengolahan ikan dengan mempertimbangkan ketersediaan dan kualitas air sebagai unsur utama dalam proses pengolahan agar memenuhi kebutuhan pasar, dan 3) memperbaiki akses pengolah terhadap bahan baku melalui pembangunan sentra pendaratan ikan.Title: Strategy for Development of Marine and Fisheries Sector in Sabang CityMarine and fisheries sector in Sabang City has different problems and thus requires different solutions in each typology. Therefore, it is necessary to identify which typologies are more priority, important, and urgent to resolve. This study aims to formulate development strategy for the sector to be more effective and efficient. The study was conducted in Sabang City in 2016 using qualitative and quantitative approaches based on primary and secondary data. Primary data were collected through interview, observation, documentation, and focused group discussions (FGD) between fishery businessmen and stakeholders in Sabang. Data were analyzed using analysis of Urgency, Seriousness, and Growth (USG), analysis of Strength, Weakness, Opportunity, and Threat (SWOT) and analysis of Qualitative Strategic Planning Method (QSPM). The results showed that the development priority for marine and fishery sector in Sabang City is developing fisheries processing business. Therefore, it needs following strategies: 1) optimizing the tourist destination as a market place by improving the quality of fishery products through the quality of its raw materials, 2) developing “fish processing center” supported with the availability and quality of fresh water to meet the market needs, and 3) Improving the access of fish processors to the raw materials through the development fish landing center.
IMPLIKASI KEBIJAKAN RELOKASI KAPAL IZIN PUSAT TERHADAP NELAYAN LOKAL DI KEPULAUAN ARU Yuliaty, Christina; Kurniasari, Nendah; Muhartono, Rizky; Priyatna, Fatriyandi N.
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 1 (2019): JUNI 2019
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.195 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v9i1.7267

Abstract

Kebijakan yang diambil Kementerian Kelautan Perikanan berupa relokasi wilayah tangkap  kapal berijin pusat ( > 30 GT) dari WPP 712 ke wilayah-wilayah yang dianggap masih mempunyai sumberdaya perikanan yang lebih moderat, di antaranya ke WPP 718 memberikan dampak bagi masyarakat di wilayah tujuan relokasi. Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan implikasi nelayan pendatang terhadap relasi dan pola usaha nelayan lokal yang berada di Kepulauan Aru. Kajian ini dilakukan di Kota Dobo dan beberapa desa di Kepulauan Aru sebagai salah satu lokasi relokasi kapal berijin pusat. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Penelitian ini berupaya memberikan gambaran kondisi secara nasional, meskipun pendalaman dilakukan pada lokasi sampel yang terbatas. Hasil penelitian memperlihatkan jumlah kapal berijin pusat di Wilayah Pengelolaan Perikanan 718 mengalami kenaikan yang sangat signifikan yaitu 293,2% selama periode 2015-Maret 2018 dan terdapat potensi konflik terkait perebutan ruang tangkapan dan perubahan terhadap potensi relasi produksi ilegal. Title: Policy Implications of Relocating Centralized Vessels Licensie to Local Fishers in the Aru IslandsThe policy of Ministry of Marine Affairs and Fisheries to relocate the capture areas of  in central licensed vessels (> 30 GT) from Fisheries Management Area (WPP) 712 to other more moderate fishery areas including to WPP 718 gives an impact on communities in the destination areas. This paper aims to describe the implications of migrant fishers on the relations and business patterns of local fishers in the Aru Islands. This study was conducted in Dobo City and several villages in the Aru Islands as one of destination fishing area. This is a descriptive qualitative reserach. This study gives an overview of national condition, even though more comprehensive analysis focused on limited sample location. The results showed a significant increase in the number of central licensed vessels in the WPP 718 Fisheries Management Region of 293.2% during 2015 to March 2018. This study also found potential conflicts related to struggle for fishing areas and changes to the potential of illegal production. 
Adopsi Teknologi Palka Berinsulasi untuk Penanganan Ikan Segar di Pelabuhanratu, Sukabumi Erlina, Mei Dwi; Kurniasari, Nendah
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 9, No 2 (2007)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.38

Abstract

This research aimed to understand the adoption level of insulation palka for handling fresh fish, and the relationship between internal-external characteristics of fisherman with technological adoption level. The research was located in Pelabuhanratu, Sukabumi which was one of the locations for the introduction of insulation palka by Fisheries Research and Development Centre. Samples were collected by purposive sampling method, with fisherman using insulation palka to handle fresh fish as respondent. Data were analysed by descriptive analysis and non parametric (Spearman correlation) test. The result showed that fisherman in Pelabuhanratu had a high motivation to adopt insulation palka technology indicated by application of recommended technological packages. The relationship test indicated that formal education factor, family income, numbers of labours in family, reason of using insulation palka, cosmopolitan, interaction with extension agent and decision making type should be paid attention related to every effort to introduce the similar technology. Besides, external characteristics which should be paid attention were member of fisherman group, availability of infrastructure, enforcement of society leader, institution support, capital source, marketing, and culture value.
TINGKAT ADOPSI TEKNOLOGI PERIKANAN BUDIDAYA IKAN KERAPU DI KERAMBA JARING APUNG DI NUSA TENGGARA BARAT Azizi, Achmad; Erlina, Mei Dwi; Kurniasari, Nendah
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 1 (2009): juni (2009)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.679 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v4i1.5823

Abstract

Riset ini bertujuan untuk mempelajari tingkat adopsi teknologi budidaya ikan kerapu di keramba jaring apung dan faktor-faktor karakteristik internal yang mempengaruhi tingkat adopsi. Menggunakan metode survei yang bersifat deskriptif korelasional. Pengambilan sampel dilakukan secara sensus, hal ini disebabkan kegiatan Budidaya ikan kerapau relatif masih baru diperkenalkan. Hasil riset menunjukkan bahwa tingkat adopsi paket teknologi pembesaran ikan kerapu di Lombok Timur termasuk kategori sedang dengan nilai skor 3.038. Sebaran responden menurut tingkat adopsi teknologi pembesaran ikan kerapu termasuk kategori sedang. Hasil analisis korelasi Rank Spearman menunjukkan bahwa faktor internal seperti umur, tingkat pendidikan formal, non formal, pendapatan, jumlah tanggungan keluarga, jumlah tenaga kerja dalam keluarga, alasan memilih usaha ikan kerapu, kekosmopolitan, interaksi dengan penyuluh perikanan dan jenis pengambilan keputusan tidak memiliki hubungan yang nyata dengan tingkat adopsi teknologi, dinyatakan dengan koefisien korelasi lebih rendah dari nilai kritinya yaitu 0,325 pada taraf signifikan 0,01. Tittle: Level of Adoption of Grouper in the Floating Cage Culture in West Nusa Tenggara.The objective of this research was to study adoption level of grouper cage culture technology and internal characteristic factors which influence adoption level. This research was carried out using a census technique. Results show that adoption level of grouper cage culture technology in East Lombok was classified as moderate with score of 3,038. Respondent distribution regarding adoption level of the above mention was moderate. Rank Spearman Analysis shows that the age, formal and non formal education level, income, number of children, number of labor in the household, reasons for choosing grouper business, cosmopolitan, interaction with fisheries extension officers, and also decision making do not have significant relation with adoption level of the technology. This is showed by correlation coefficient by which is lower than its critical value (0.325) at 0.01 significant level.
DIMENSI RELIGI DALAM PEMBUATAN PINISI Kurniasari, Nendah; Yuliaty, Christina; Nurlaili, Nurlaili
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2013): Juni (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.582 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v8i1.1197

Abstract

Pinisi merupakan salah satu contoh perwujudan pengetahuan masyarakat lokal dalam beradaptasi dengan lingkungannya secara harmonis. Pengetahuan ini, mencakup dimensi unsur religi yang sarat akan sejumlah makna, nilai dan simbol yang menjadi landasan membentuk harmonisasi dirinya dengan alam. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dimensi religi dalam pembuatan pinisi serta dinamika yang menyertainya. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam sebagai teknik pengambilan data dan deskriptif analitik sebagai metoda analisis. Penelitian dilakukan pada bulan Juli 2011 di Desa Ara dan Tanah Beru Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba Sulawesi Tenggara. Pinisi sebagai bagiandari suatu budaya sarat akan sejumlah makna, simbol, dan nilai yang tertuang dalam setiap prosesi pembuatannya. Perubahan kondisi sumber daya dan intervensi modernitas pada setiap aspek kehidupan menyebabkan perubahan dalam aktivitas unsur religi yang terkandung dalam pembuatan pinisi. Panrita lopisebagai tokoh kunci dalam menjaga tradisi tersebut tidak bisa mengelak dari tuntutan perubahan peradaban, namun melalui berbagai kebijaksanaannya, mereka mencoba mengeliminir perubahan agar tetap berada dalam sendi-sendi keseimbangan antara unsur makrokosmos dan mikrokosmos yang diyakini sebagai syarat agar kehidupan tetap terjaga. Sinergitas program pelestarian sumber daya antar Kementrian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kehutanan, Kementerian Perindustrian dan Kepolisian dalam melestarikan sumber daya guna mendukung pelestarian pinisi merupakan langkah yang harus segera direalisasikan.
ANALISIS KEBERLANJUTAN LILIFUK: TINJAUAN PERSEPSI MASYARAKAT LOKAL Yulisti, Maharani; Kurniasari, Nendah; Yuliaty, Christina
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 1 (2014): Juni (2014)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.605 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v9i1.1187

Abstract

ABSTRAKPeran serta masyarakat dalam pengelolaan sumber daya perikanan dalam bentuk kearifan lokal merupakan wujud tanggung jawab mereka dalam melestarikan sumber daya sehingga dapat memberikanmanfaat berkelanjutan.Kearifan lokal tersebut bernama Lilifuk, yaitu kawasan di laut berbentuk kolam yang tergenang saat surut sehingga ikan terperangkap di dalamnya.Tulisan ini mengkaji persepsimasyarakat mengenai keberlanjutan Lilifuk di Kabupaten Kupang. Penelitian dilaksanakan di Desa Bolok dan Desa Kuanheum, Kecamatan Kupang Barat Kabupaten Kupang pada Oktober 2012 dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Metode studi kasus dan triangulasi digunakan dalam penelitian ini. Wawancara mendalam dilakukan terhadaptetua adat, kepala desa, dan perwakilan lembaga swadaya masyarakat.Data persepsi masyarakat dikumpulkan dari 30 responden. Data dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil analisis persepsi menunjukkan bahwa sebesar 93,3% masyarakat mengetahui tentang keberadaan Lilifuk, 60% tahu sejarahnya, 93,3% tahu lokasinya dan 26,7% tahu batas-batasnya. Sebanyak 44% masyarakat menyatakan otoritas pengambilan keputusan pengelolaan Lilifuk adalah pemiliknya.Keterlibatan Masyarakat dalam Lilifuk hanya sebagai pemanfaat saat Lilifuk dibuka (63%). Manfaat Lilifukdapat diidentifikasikan sebagai berikut: menambah penghasilan, menjalin hubungan sosial, rekreasi, menjaga sumber daya ikan, menjaga lingkungan dan menjaga tradisi. Faktor-faktor yang mengancam keberlanjutan Lilifuk adalahlahan yang sempit, penurunan produksi ikan, pencemaran perairan dan tidak adanya penjagaan. Prioritas utama dalam menjaga keberlanjutan Lilifuk adalah (1) Menjaga dan melindungi serta memperbaiki kelestarian lingkungan; (2) Dukungan dan pengawasan pemerintah; (3) Menerapkan aturan dan sanksi hukum; (4) Meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kelestarian, dan; (5) Menggunakan alat tangkap ramah lingkungan.
KONFLIK DAN POTENSI KONFLIK DALAM PENGELOLAAN SUMBERDAYA KERANG HIJAU DI KALIBARU JAKARTA UTARA Kurniasari, Nendah; Satria, Arif; Rusli, Said
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 7, No 2 (2012): DESEMBER (2012)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.704 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v7i2.5686

Abstract

Sebagai entitas usaha yang memanfaatkan sumberdaya pesisir yang bersifat common property resources, pembudidaya dan pengolah kerang hijau harus berhadapan dengan berbagai pelaku yang mempunyai kepentingan yang berbeda terhadap wilayah pesisir yang sama. Kondisi ini memunculkan berbagai potensi konflik terkait dengan pengaturan peruntukan wilayah dan kewenangan dalam pengelolaan sumberdaya pesisir. Penelitian ini berupaya untuk menganalisis eksistensi konflik dan strategi penyelesaian konflik yang terjadi dalam pengelolaan sumberdaya kerang hijau di Kalibaru Jakarta Utara. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan mengambil kasus di Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Cilincing Kotamadya Jakarta Utara. Analisa data dilakukan mengacu pada teori struktural fungsional dan teori konflik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber potensi konflik berawal dari perbedaan pemaknaan antar pihak yang berkonflik, serta penegakkan aturan yang tidak semestinya. Jenis konflik terdiri dari konflik kewenangan, konflik perebutan wilayah dan konflik ekologi yang terjadi antara pembudidaya dan pengolah kerang hijau dengan nelayan, pemerintah dan pihak industri. Penyelesaian konflik cenderung dapat diselesaikan dengan cepat secara kekeluargaan jika yang berkonflik merupakan pengguna perairan secara langsung yang memahami kesepakatan lokal yang berlaku di wilayah tersebut. Namun demikian konflik ini pun mempunyai dampak positif yaitu menumbuhkan kesadaran pembudidaya dan pengolah kerang hijau untuk berkelompok, mempercepat terjadinya penyelesaian atas isu-isu yang berkembang selama ini, serta membimbing kepada aliansi antar kelompok yang berkepentingan. Tittle: Conflicts and Potential Conflicts in Resource Management of Perna Viridis in Kalibaru, North Jakarta.As an Business entity that utilizes coastal resources which are common property resources, fishers and perna viridis farmers have to deal with various actors who have different interested in the same coastal areas. This condition raises many potential conflict associated with the setting of designated territory and authority in managing the coastal resources. This research tried to analyze the existence of the conflict and its solving strategies in the management of Perna viridis in Kalibaru, North Jakarta. This research was using a qualitative research methods in the village Kalibaru, Cilincing district, North Jakarta Municipality. Analysis data were refered to the structural-functional theory and theory of conflict. Results showed that sources of the conflict were originated from the differences in interpreting of the conflicting parties, as well as the enforcing the improper rules. Types of conflict consisted of the conflict of authority, territory and ecology that occur between farmers and Perna viridis processor with fishers, government and industry. The conflict tend, to be resolved quickly, especially those who directly used water resource understanding the existing local agreement. The conflict, however, has had a positive impact on raise awareness among farmers and Perna viridis processor to accelerate the completion of growing issues and lead to alliances between interest groups.
LUBUK LARANGAN: BENTUK PERILAKU EKOLOGIS MASYARAKAT LOKAL DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA PERIKANAN PERAIRAN UMUM DARATAN (TIPOLOGI SUNGAI) Kurniasari, Nendah; Yulisti, Maharani; Yuliaty, Christina
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 2 (2013): DESEMBER (2013)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (912.957 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v8i2.5676

Abstract

Perilaku ekologis masyarakat di sekitar sungai merupakan sebuah modal mendasar bagi keberlangsungan sumberdaya ikan di kawasan sungai tersebut. Oleh karenanya, makalah ini bertujuan untuk menganalisis perilaku ekologis masyarakat lokal dalam memanfaatkan sumberdaya sungai. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2012 pada masyarakat Nagari Manggilang Kecamatan Pangkalan Koto Baru Kabupaten Lima Puluh Kota Sumatera Barat yang menetap di daetah aliran sungai Batang Talagiri dan Batang Manggilang. Analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif yang menginterpretasikan secara logic hubungan antara faktor-faktor pendorong, implementasi serta implikasi perilaku ekologis tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perilaku ekologis masyarakat Nagari Manggilang dalam memperlakukan sungai didukung oleh beberapa hal yaitu kondisi geografis, pola kepemimpinan, hukum adat, dan sistem mata pencaharian masyarat. Keempat unsur ini turut andil dalam melestarikan perilaku ekologis tersebut. Perilaku ekologis masyakat Manggilang yang terwujud dalam lubuk larangan tidak hanya berimplikasi terhadap perilaku ekologi masyarakat secara kolektif, juga merubah perilaku sosial ekonomi masyarakat ke arah yang lebih produktif dan memiliki nilai moral yang tinggi. Title: Lubuk Larangan: Form of Ecological Behavior of Local Community in The Inland Fisheries Resource Management (River Tipology)Ecological behavior is a potential capital of sustainable resources. This paper aims to study the ecological behavior of local communities in the use of river resources. This study was conducted in 2012 at Nagari Manggilang, Pangkalan Koto Baru, Lima Puluh Kota District, West Sumatera with the objects are the community who settled in the watershed of the Batang Talagiri river and Batang Manggilang river. Data analysed by using descriptive qualitative that interpreted logically the relation among the supportive factors, implementation factors, and the implication of the ecological behavior. The results  showed that the ecological behavior of Nagari Manggilang’ residents in treating the river suppoerted by several elements: geography, leadership patterns, customary laws, and livelihood systems. All of these elements contributed to preserve the ecological behavior. This ecological behavior at Nagari Manggilang’ residents that materialized as “Lubuk Larangan” was not only implicated to the ecological behavior of the society, but also changed the social behavior as well as economic behavior towards a more productive society and higher morale values
DOMINASI PEMANFAATAN SUMBER DAYA PERIKANAN DI KOTA KENDARI Studi Kasus: Nelayan Bugis Makassar Yuliaty, Christina; Triyanti, Riesti; Kurniasari, Nendah
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 1 (2016): Juni (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.432 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i1.3174

Abstract

Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi etos kerja nelayan Bugis-Makassar yang mempengaruhidominasi mereka dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan di Kota Kendari. Tulisan ini menggunakanpendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancaramendalam menggunakan topik data sebagai pedoman wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi.Analisis data dilakukan dengan menggunakan push-pull theory. Hasil pembahasan menunjukkandominasi nelayan Bugis - Makassar dalam pemanfatan sumberdaya perikanan di Kota Kendari didorongoleh falsafah hidup yang terwujud dalam etos kerja yang tinggi. Etos kerja tersebut tergambar padacurahan waktu kerja, pemanfaatan waktu luang, disiplin dan pandangan ke depan/visioner. Di sisi lain,letak geografis dan masih tersedianya lahan potensial, potensi perikanan yang besar menjadi faktorpenarik berpindahnya nelayan Bugis-Makassar ke Kota Kendari.Title: Domination Fisheries Resources Used in Kendari City Case Study : Bugis Makasarese FishersThis study aims to explore the work ethic of Bugis-Makassar fishermen affecting their dominancein the utilization of fishery resources in Kendari and background history of Kendari ethnic (Tolaki) whoprefer to controled the formal sector and the agricultural sector. This study used a qualitative descriptiveapproach with data collection techniques used in-depth interview with data topic, observation anddocumentation. Data were analyzed by push-pull theory. The results showed the dominance ofBugis - Makassar fishermen in utilization of fishery resources in Kendari driven by a philosophy of lifethat is embodied in a high work ethic. The work ethic is reflected in working hours, use of leisure time,discipline and foresight / visionary. The other side, geographical location, the available potential land andfisheries becomes pull factors for migration of Bugis-Makassar to Kendari.