Natalini Nova Kristina
Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat

Published : 11 Documents
Articles

Found 11 Documents
Search

PENGARUH AUKSIN IAA, IBA, DAN NAA TERHADAP INDUKSI PERAKARAN TANAMAN STEVIA (Stevia rebaudiana) SECARA IN VITRO

Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 24, No 2 (2013): Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Balittro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKInduksi perakaran merupakan tahapan yang sangat penting dalam pembentukan benih secara in vitro. Perbanyakan stevia (Stevia rebaudina) secara konvensional melalui setek atau biji terkendala pada tingkat keberhasilan, keseragaman, dan produksi rendah. Perbanyakan inkonvensional melalui kultur jaringan telah berhasil dilakukan sampai dengan tahap multiplikasi tunas. Keberhasilan tersebut perlu didukung dengan inisiasi akar melalui induksi dengan penambahan zat pengatur tumbuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur respon stevia terhadap zat pengatur tumbuh induksi perakaran in vitro. Penelitian dilakukan sejak Maret sampai Agustus 2012 di laboratorium kultur jaringan Balittro dan Kebun Percobaan Manoko. Bahan tanaman yang digunakan adalah tunas aseptik stevia dari kultur yang berumur tiga bulan pada media penyimpanan MS + B 0,1 mgl-1. Tunas stevia dikulturkan pada media MS dengan penambahan IAA (0,1; 0,2; dan 0,3) mg l-1, IBA (0,1; 0,2; dan 0,3) mg l-1, dan NAA (0,1; 0,2; dan 0,3) mg l-1. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Acak lengkap dengan sepuluh ulangan. Parameter yang diamati adalah jumlah dan tinggi tunas, jumlah dan panjang akar, dan tingkat keberhasilan aklimatisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan NAA 0,2 dan 0,3 mg l-1 memacu pertumbuhan jumlah akar terbaik. Pada tahap aklimatisasi, persentase keberhasilan masih rendah dan perlu didukung dengan kondisi lingkungan yang optimum.Kata kunci: Stevia rebaudina, induksi perakaran, in vitro, auksin

KARAKTERISTIK MORFOLOGI, POTENSI PRODUKSI DAN KOMPONEN UTAMA RIMPANG SEMBILAN NOMOR LEMPUYANG WANGI

853-8212
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.167 KB)

Abstract

ABSTRAKLempuyang  merupakan family  Zingiberaceae,  dan  banyakdigunakan oleh masyarakat untuk obat/jamu sebagai peningkat stamina,antikanker dan obat antiinfeksi. Balittro memiliki koleksi plasma nutfahlempuyang yang dikumpulkan dari berbagai daerah. Potensi sifat tanamanperlu dievaluasi untuk mengetahui karakter potensial dan keunggulannya.Karakterisasi sembilan aksesi lempuyang wangi dilakukan di KP. Cicurug– Sukabumi Jawa Barat tahun 2009 hingga tahun 2010. Benih ditanamdengan jarak tanam 60 x 40 cm, jumlah tanaman per plot 20 tanaman dandiulang tiga kali. Pengamatan dilakukan pada sepuluh tanaman terhadapsifat morfologi tanaman, pertumbuhan, produksi, dan mutu rimpang. Hasilpengamatan menunjukkan bahwa morfologi dan pertumbuhan tanamanlempuyang bervariasi. Pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah anakan,jumlah daun panjang dan lebar daun, serta diameter batang antar aksesibervariasi. Produksi rimpang lempuyang wangi umumnya lebih dari 15ton/ha, rimpang mempunyai banyak akar. Mutu simplisia rimpang adalahkisaran kadar minyak atsiri 1,34–4,61%, kadar sari larut dalam air 16,22–23,5%, kadar sari larut etanol 7,9–13,8%, kadar serat 5,47– 8,87% dankadar pati 40-50%. Hasil analisis ekstrak rimpang lempuyang dengan GC-MS menunjukkan bahwa sekitar 50 komponen terdeteksi. Zerumbonemerupakan komponen utama lempuyang dengan nilai sebesar 36–49%.Komponen utama zerumbone dan acetic acid terdapat di semua aksesi.Komponen utama lainnya di antaranya adalah alpha humulene, humuleneoxide, beta-eudesmol, beta-selinene, linalool, 12-oxabicyclo, caryophileneoxide, 3-octadecyne, hexadecanoic acid, dan 3-octyne 5-methyl.Komposisi komponen utama antar aksesi berbeda senada dengan aromawangi yang ditimbulkan pada lempuyang. Sebanyak tujuh nomor aksesiyang mempunyai keunggulan produksi lebih dari 15 t/ha, mutu minyakatsiri lebih dari 1% dan zerumbone 40%.Kata kunci: Zingiber aromaticum, produksi, komponen utama rimpangABSTRACTWild ginger is one of Zingiberaceae family. Plant use as a medicinefor stamina improvement, anticancer and antiinfection. Balittro hadcollected wild ginger from several area and potential characters should beevaluated. Characterization was conducted at Cicurug experimental garden– West Java on 2009-2010. Seed rhizome of nine accession was plantedwith 60 x 40 cm space, twenty numbers of plant each plot and threereplication. Observation was carried out for morphological characters,growth, yield, and rhizome quality. Result showed that there werevariations in morphology and growth of wild ginger. Plant height, numbersof tillers, numbers of leaves, leaves length, leaves width, and stemdiameter among acessions were variate. Rhizome yield was generally morethan 15 ton/ha, rhizome having plenty of roots. Rhizome quality analysisshowed that among accessions have essential oil content range from 1.34-4.61%, extract soluble water 16.22 – 23.5%, extract soluble ethanol 7.9-13.88%, fiber content 5.47 – 8.87%, and carbohydrat content 40-50%.GS-MS of wild ginger rhizome extract revealed totally around 50constituent was detected. The highest constituent detected is zerumbone(36-49%). Moreover, acetic acid also detected in all accession with valuerange from 4.64 – 14.36%. Other major constituent are alpha humulene,humulene oxide, beta-eudesmol, beta-selinene, linalool, 12-oxabicyclo,caryophilene oxide, 3-octadecyne, hexadecanoic acid, and 3-octyne 5-methyl. The composition of major constituent among collection numbers isdifferent and reflected the differences of the flavour of the flesh rhizome.Seven collection numbers are having yield potential more than 15 ton/ha,essential oil content more than 1% dan zerumbone content 40%.Key word: Zingiber aromaticum, rhizome yield, rhizome constituent

PENGARUH AUKSIN IAA, IBA, DAN NAA TERHADAP INDUKSI PERAKARAN TANAMAN STEVIA (Stevia rebaudiana) SECARA IN VITRO

Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 24, No 2 (2013): Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Balittro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (720.727 KB)

Abstract

ABSTRAKInduksi perakaran merupakan tahapan yang sangat penting dalam pembentukan benih secara in vitro. Perbanyakan stevia (Stevia rebaudina) secara konvensional melalui setek atau biji terkendala pada tingkat keberhasilan, keseragaman, dan produksi rendah. Perbanyakan inkonvensional melalui kultur jaringan telah berhasil dilakukan sampai dengan tahap multiplikasi tunas. Keberhasilan tersebut perlu didukung dengan inisiasi akar melalui induksi dengan penambahan zat pengatur tumbuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur respon stevia terhadap zat pengatur tumbuh induksi perakaran in vitro. Penelitian dilakukan sejak Maret sampai Agustus 2012 di laboratorium kultur jaringan Balittro dan Kebun Percobaan Manoko. Bahan tanaman yang digunakan adalah tunas aseptik stevia dari kultur yang berumur tiga bulan pada media penyimpanan MS + B 0,1 mgl-1. Tunas stevia dikulturkan pada media MS dengan penambahan IAA (0,1; 0,2; dan 0,3) mg l-1, IBA (0,1; 0,2; dan 0,3) mg l-1, dan NAA (0,1; 0,2; dan 0,3) mg l-1. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Acak lengkap dengan sepuluh ulangan. Parameter yang diamati adalah jumlah dan tinggi tunas, jumlah dan panjang akar, dan tingkat keberhasilan aklimatisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan NAA 0,2 dan 0,3 mg l-1 memacu pertumbuhan jumlah akar terbaik. Pada tahap aklimatisasi, persentase keberhasilan masih rendah dan perlu didukung dengan kondisi lingkungan yang optimum.Kata kunci: Stevia rebaudina, induksi perakaran, in vitro, auksin

PENGARUH AUKSIN IBA DAN NAA TERHADAP INDUKSI PERAKARAN INGGU

Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 20, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.678 KB)

Abstract

ABSTRAK Inggu (Ruta graveolens L.) merupakan salah satu tanaman obat langka di Indonesia yang perlu dilestarikan. Upaya konservasi tanaman inggu telah dilakukan secara in vitro di laboratorium Balittro selama 17 tahun pada kultur tunas. Untuk mengobservasi kestabilan genetik perlu dilakukan induksi perakaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh auksin IBA dan NAA terhadap induksi perakaran inggu secara in vitro. Bahan tanaman yang digunakan adalah tunas steril inggu in vitro yang telah berumur 17 tahun, yang ditanam pada media dasar Murashige dan Skoog (MS) setengah konsentrasi (½ MS) yang diperkaya vitamin dari group B. Perlakuan yang diuji adalah beberapa taraf konsentrasi auksin IBA dan NAA (0; 0,001; 0,002; dan 0,003 mg/l). Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan lima ulangan. Setiap ulangan terdiri dari lima botol yang berisi dua tanaman. Parameter yang diamati adalah jumlah, panjang, dan bentuk akar, serta jumlah tunas dan penampilan kultur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media ½ MS yang diperkaya NAA pada konsentrasi rendah 0,001 mg/l menghasilkan jumlah akar terbanyak, yaitu 13,6 akar. Perlakuan ini juga menghasilkan banyak bulu-bulu akar yang menandakan akar yang sehat. Kata kunci: Ruta graveolens L., IBA, NAA, induksi perakaran, in vitro  The Effect of Auxin IBA and NAA to In Vitro Rooting Induction of Roe (Ruta graveolens L.)  ABSTRACTRoe (Ruta graveolens L.) is one of the Indonesian rare medicinal plants. An attempt to conserve roe, has been conducted through in vitro culture of sterile shoots at the laboratory of the Indonesian Spice and Medicinal Crops Research Institut (ISMCRI) for 17 years. To observe the genetic stability of culture following in vitro conservation for a long period, the collection must be tested in greenhouse and field. Therefore, it is necessary to induce rooting. The aim of the experiment was to observe the effect of IBA and NAA auxin to root induction of roe. The sterile shoots were used as material. They were planted on half-concentration (½ MS) on Murashige and Skoog (MS) medium, enriched with vitamin from group B. The experiment was arranged in a completely randomized design with five replications. Each replication consist of five bottles with two plants. The treatment tested were several concentrations of IBA and NAA (0; 0.001; 0.002; and 0.003 mg/l). The parameters observed were number, lenght, shape, and length of roots, and also the number of shoots and culture performance. The result showed that the use of ½ MS + NAA0.001 mg/l produced the highest number of roots  (13.6 roots). This treatment also produced a lot of root hairs which indicates a healthy roots. Key words: Ruta graveolens L., IBA, NAA, roots induction, in vitro

INDUKSI DAN REGENERASI KALUS KELADI TIKUS (Typonium flagelliforme. Lodd. ) SECARA IN VITRO

853-8212
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.073 KB)

Abstract

ABSTRAKKeladi tikus umumnya diperbanyak secara vegetatif sehingga ragamgenetiknya sempit. Penelitian peningkatan keragaman genetik pada keladitikus melalui kultur in vitro telah dilakukan di Laboratorium KulturJaringan, Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro) Bogorpada bulan April sampai Desember 2005. Bahan tanaman yang digunakanadalah daun steril keladi tikus in vitro. Media dasar yang digunakan adalahMurashige and Skoog (MS) yang diperkaya vitamin dari group B. Sebagaisumber energi digunakan sukrosa sebanyak 30 g/l. Penelitian terdiri daridua tahap yaitu induksi dan regenerasi kalus. Perlakuan yang diuji padatahap I adalah beberapa taraf konsentrasi auksin (2,4-D) secara tunggalmaupun kombinasi dengan sitokinin (kinetin) terhadap induksi kalus yaitu: 2,4-D 0,1 mg/l; 2,4-D 0,5 mg/l; 2,4-D 1,0 mg/l; 2,4-D 0,1 + kinetin 0,1mg/l; 2,4-D 0,5 mg/l + kinetin 0,1 mg/l; 2,4-D 1.0 mg/l + kinetin 0,1 mg/l;2,4-D 0,1 mg/l + kinetin 0,3 mg/l; 2,4-D 0,5 mg/l +kinetin 0,3 mg/l dan2,4-D 1,0 mg/l + kinetin 0,3 mg/l. Tahap II adalah beberapa tarafkonsentrasi benzyl adenin untuk regenerasi kalus. Penelitian disusunmenggunakan rancangan acak lengkap dengan pola faktorial dan limaulangan, dan setiap ulangan terdiri dari satu eksplan. Faktor pertamaadalah asal kalus dan faktor kedua adalah beberapa taraf konsentrasi BAyaitu : BA 0,1 mg/l ; BA 0,3 mg/l dan BA 0,5 mg/l. Parameter yangdiamati adalah waktu inisiasi kalus, struktur dan warna kalus, jumlahtunas serta penampilan kultur secara visual. Hasil penelitian menunjukkanbahwa kalus asal eksplan daun dapat diinduksi pada perlakuan 2,4-D 1,0mg/l + kinetin 0,1 mg/l dan 2,4-D 1,0 mg/l + kinetin 0,3 mg/l denganwaktu inisiasi 8 sampai 10 minggu setelah perlakuan. Regenerasi kalusterbaik diperoleh pada medium 2,4-D 1,0 mg/l + kinetin 0,3 mg/lmengandung BA 0,3 mg/l dengan rata-rata tunas dan daun yang dihasilkansebanyak 13,2 tunas dan 4,4 daun.Kata kunci : Keladi tikus, Typonium flagelliforme Lodd., induksi,regenerasi kalus, in vitroABSTRACTInduction and regeneration of Rodent tuber calli throughin vitro cultureRodent tuber plant (Typonium flagelliforme Lodd) is commonlypropagated vegetatively, the repro its genetic variation is narrow. Aresearch to increase the genetic variability of the plant was conducted inTissue Culture Laboratory of the Indonesian Medicinal and AromaticResearch Institute, Bogor from April to December 2005. The leaf ofRodent tuber in vitro used as an explants. Murashige and Skoog (MS)medium used as basic medium, supplemented with vitamin from B group,sucrose 30 g/l was added into the medium as carbon source. The researchconsist of two steps : 1) calli induction and 2) calli regeneration. Thetreatment tested in first step : 2.4-D 0.1 mg/l; 2.4-D 0.5 mg/l; 2.4-D 1,0mg/l; 2.4-D 0.1 + kinetin 0.1 mg/l; 2.4-D 0.5 mg/l + kinetin 0.1 mg/l; 2.4-D 1.0 mg/l + kinetin 0,1 mg/l; 2.4-D 0.1 mg/l + kinetin 0.3 mg/l; 2.4-D 0.5mg/l + kinetin 0.3 mg/l and 2.4-D 1.0 mg/l + kinetin 0.3 mg/l. In thesecond steps, several concentration of BA were tested i.e: BA 0,1 mg/l ;BA 0,3 mg/l and BA 0,5 mg/l. The experiment was arranged incompletely randomized design with factorial pattern. Each treatmentconsist of five replications. The parameters observed were time of calliinitiation, texture, colour of calli and number of shoot and leaves inregeneration. The result showed that calli can be induced on 2.4-D 1.0mg/l + kinetin 0.1 mg/l and 2.4-D 1.0 mg/l + kinetin 0.3 mg/l, eight to tenweeks after culture. The best medium for shoots regeneration contains 2.4-D 1.0 mg/l + kinetin 0.3 mg/l with 0.3 mg/l BA, with mean result of 13.2shoots and 4.4 leaves.Key words : Rodent tuber, Typonium flagelliforme Lodd. bl , induction,regeneration, calli, in vitro

KARAKTERISTIK MORFOLOGI, POTENSI PRODUKSI DAN KOMPONEN UTAMA RIMPANG SEMBILAN NOMOR LEMPUYANG WANGI

Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 19, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.167 KB)

Abstract

ABSTRAKLempuyang  merupakan family  Zingiberaceae,  dan  banyakdigunakan oleh masyarakat untuk obat/jamu sebagai peningkat stamina,antikanker dan obat antiinfeksi. Balittro memiliki koleksi plasma nutfahlempuyang yang dikumpulkan dari berbagai daerah. Potensi sifat tanamanperlu dievaluasi untuk mengetahui karakter potensial dan keunggulannya.Karakterisasi sembilan aksesi lempuyang wangi dilakukan di KP. Cicurug– Sukabumi Jawa Barat tahun 2009 hingga tahun 2010. Benih ditanamdengan jarak tanam 60 x 40 cm, jumlah tanaman per plot 20 tanaman dandiulang tiga kali. Pengamatan dilakukan pada sepuluh tanaman terhadapsifat morfologi tanaman, pertumbuhan, produksi, dan mutu rimpang. Hasilpengamatan menunjukkan bahwa morfologi dan pertumbuhan tanamanlempuyang bervariasi. Pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah anakan,jumlah daun panjang dan lebar daun, serta diameter batang antar aksesibervariasi. Produksi rimpang lempuyang wangi umumnya lebih dari 15ton/ha, rimpang mempunyai banyak akar. Mutu simplisia rimpang adalahkisaran kadar minyak atsiri 1,34–4,61%, kadar sari larut dalam air 16,22–23,5%, kadar sari larut etanol 7,9–13,8%, kadar serat 5,47– 8,87% dankadar pati 40-50%. Hasil analisis ekstrak rimpang lempuyang dengan GC-MS menunjukkan bahwa sekitar 50 komponen terdeteksi. Zerumbonemerupakan komponen utama lempuyang dengan nilai sebesar 36–49%.Komponen utama zerumbone dan acetic acid terdapat di semua aksesi.Komponen utama lainnya di antaranya adalah alpha humulene, humuleneoxide, beta-eudesmol, beta-selinene, linalool, 12-oxabicyclo, caryophileneoxide, 3-octadecyne, hexadecanoic acid, dan 3-octyne 5-methyl.Komposisi komponen utama antar aksesi berbeda senada dengan aromawangi yang ditimbulkan pada lempuyang. Sebanyak tujuh nomor aksesiyang mempunyai keunggulan produksi lebih dari 15 t/ha, mutu minyakatsiri lebih dari 1% dan zerumbone 40%.Kata kunci: Zingiber aromaticum, produksi, komponen utama rimpangABSTRACTWild ginger is one of Zingiberaceae family. Plant use as a medicinefor stamina improvement, anticancer and antiinfection. Balittro hadcollected wild ginger from several area and potential characters should beevaluated. Characterization was conducted at Cicurug experimental garden– West Java on 2009-2010. Seed rhizome of nine accession was plantedwith 60 x 40 cm space, twenty numbers of plant each plot and threereplication. Observation was carried out for morphological characters,growth, yield, and rhizome quality. Result showed that there werevariations in morphology and growth of wild ginger. Plant height, numbersof tillers, numbers of leaves, leaves length, leaves width, and stemdiameter among acessions were variate. Rhizome yield was generally morethan 15 ton/ha, rhizome having plenty of roots. Rhizome quality analysisshowed that among accessions have essential oil content range from 1.34-4.61%, extract soluble water 16.22 – 23.5%, extract soluble ethanol 7.9-13.88%, fiber content 5.47 – 8.87%, and carbohydrat content 40-50%.GS-MS of wild ginger rhizome extract revealed totally around 50constituent was detected. The highest constituent detected is zerumbone(36-49%). Moreover, acetic acid also detected in all accession with valuerange from 4.64 – 14.36%. Other major constituent are alpha humulene,humulene oxide, beta-eudesmol, beta-selinene, linalool, 12-oxabicyclo,caryophilene oxide, 3-octadecyne, hexadecanoic acid, and 3-octyne 5-methyl. The composition of major constituent among collection numbers isdifferent and reflected the differences of the flavour of the flesh rhizome.Seven collection numbers are having yield potential more than 15 ton/ha,essential oil content more than 1% dan zerumbone content 40%.Key word: Zingiber aromaticum, rhizome yield, rhizome constituent

PENGARUH KOMPOSISI MEDIA TERHADAP PERTUMBUHAN KALUS DAN KADAR TANNIN DARI DAUN JATI BELANDA (Guazuma ulmifolia Lamk) SECARA IN VITRO

Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.898 KB)

Abstract

ABSTRAKJati belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.) merupakan salah satu jenistanaman penghasil senyawa tannin yang berkhasiat sebagai obat untukobesitas. Tannin dapat diproduksi secara in vitro dan kadarnya dapatditingkatkan melalui kultur kalus. Komposisi media yang tepat sangatdiperlukan agar dihasilkan kalus dengan pertumbuhan cepat dan optimal.Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh komposisi media terhadappertumbuhan kalus dan kadar tannin secara in vitro. Bahan tanaman yangdigunakan adalah daun muda yang berasal dari tanaman di rumah kaca danberumur dua tahun. Media dasar yang digunakan adalah Murashige danSkoog (MS) yang diperkaya dengan vitamin dari group B. Perlakuan yangdiuji adalah media dasar MS + 2,4-D (0,1; 0,3; 0,5 mg/l) secara tunggaldan kombinasinya dengan Benzyl Adenin/BA ( 0,1 dan 0,3 mg/l).Parameter yang diamati adalah pertumbuhan kalus yang meliputi diameter,struktur, warna kalus, bobot basah kalus, serta visual kalus selamapengkulturan. Rancangan yang digunakan adalah acak lengkap polafaktorial dengan sepuluh ulangan. Analisis kandungan tannin dilakukandengan mengeringkan kalus in vitro dan sampel daun dari lapang danselanjutnya diekstrak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapatinteraksi antara perlakuan 2,4-D 0,3 mg/l yang dikombinasikan denganBenzyl Adenin 0,1 mg/l terhadap ukuran diameter kalus terbesar yaitu28,7 mm, diameter kalus terbesar setelah sub kultur yaitu 31,9 mm, danberat basah kalus yaitu 5,02 g. Kandungan tannin pada semua perlakuankalus in vitro (3,72 – 4,27%) lebih tinggi dari pada tannin yang terdapatpada daun (2,24%).Kata kunci : Guazuma ulmifolia Lamk, jati belanda, induksi kalus,kandungan tannin, in vitroEffect of Medium Composition on Calli Growth andTannin Content from Leaves of West Indian Elm(Guazuma ulmifolia Lamk.) through in vitro CultureABSTRACTWest Indian Elm ( Guazuma ulmifolia Lamk.) is one of potentialplant producing tannin which is useful for controlling obesity. Tannin canbe produced through in vitro and this compound could be increased bycalli culture. The medium composition for calli induction was necessary toproduce the optimal calli. The aim of this research was to obtain themedium composition for calli induction through in vitro. Young leaves ofWest Indian Elm from glass house were used as explants. Murashige andSkoog (MS) medium enriched with B vitamin group was used as basicmedium. The experiments were arranged in completely randomized designin factorial pattern with ten replications. For calli induction, variousconcentration of 2,4-D (0.1; 0.3; and 0.5 mg/l) and its combination withBenzyl Adenin of 0.1 and 0.3 mg/l were used as treatments. Parametersobserved were calli diameter, structure, colour, fresh weight andperformance during culture. Analysis of tannin was conducted by usingdried samples both (in vitro and leaves from glass house) and thenextracted. The result showed that there was interaction between 2,4-D 0.3mg/l and Benzyl Adenin 0.1 mg/l on calli diameter (28.7 mm), the biggestcalli diameter after sub culture (31.9 mm), and fresh calli weight (5.02 g)eight weeks after treatments. Tannin content obtained from all of the invitro treatments (3.72 – 4.27%) was higher than tannin from leaves(2.24%).Key words : Guazuma ulmifolia Lamk., West Indian Elm, calli induction,in vitro, tannin content

MULTIPLIKASI TUNAS, AKLIMATISASI DAN ANALISIS MUTU SIMPLISIA DAUN ENCOK (Plumbago zeylanica L.) ASAL KULTUR IN VITRO PERIODE PANJANG

Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 19, No 2 (2008): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.069 KB)

Abstract

Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan dan Fisiologi Hasil, Balai Pe-nelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Bogor mulai Juni 2005 – Juli 2006. Penelitian ber-tujuan untuk mengetahui pengaruh kultur In Vitro terhadap multiplikasi, aklimatisasi, mutu dan kandungan bahan aktif tanaman daun encok. Bahan tanaman yang digunakan adalah tunas pucuk tanaman daun encok hasil kultur in vitro periode panjang berumur tujuh tahun. Untuk multiplikasi tunas, perlakuan yang diuji adalah: Benzyl Adenin (BA) 0,1 mg/l (kon-trol); BA 0,1 mg/l + Thidiazuron 0,01 mg/l; BA 0,1 mg/l + Thidiazuron 0,05 mg/l; BA 0,1 mg/l + Thidiazuron 0,1 mg/l dan BA 0,1 mg/l + Thidiazuron 0,15 mg/l. Rancangan yang digu-nakan adalah Acak Lengkap dengan sepuluh ulangan. Parameter yang diamati adalah jumlah tunas, daun dan akar serta panjang tunas in vitro. Tanaman diaklimatisasi di rumah kaca dan langsung diobservasi. Parameter yang diamati adalah jumlah anakan, jumlah daun dan tinggi tanaman. Analisis mutu dilakukan terhadap kadar air, kadar abu, kadar sari larut dalam alkohol dan kadar sari larut dalam air serta kandungan bahan aktifnya dengan meng-gunakan GCMS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan BA 0,1 mg/l + thidiazuron 0,05 mg/l menghasilkan jumlah tunas dan daun terbanyak serta tunas terpan-jang dalam waktu dua bulan. Morfologi tanam-an hasil kultur in vitro sama dengan induk di rumah kaca dalam hal batang, daun dan visual tanaman. Hasil analisis mutu menunjukkan bahwa kadar sari larut dalam air dan larut dalam alkohol asal kultur in vitro lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman daun encok asal lapang dan MMI. Selain itu senyawa steroid dapat dideteksi pada tanaman asal kultur in vitro. Hasil analisis GCMS menunjukkan kan-dungan senyawa aktif  tertinggi adalah phytol (26,13%). 

ANALISIS FITOKIMIA DAN PENAMPILAN POLAPITA PROTEIN TANAMAN PEGAGAN (Centella asiatica) HASIL KONSERVASI IN VITRO

Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 20, No 1 (2009): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.475 KB)

Abstract

Pegagan (Centella asiatica) merupa-kan salah satu tanaman obat yang digunakan untuk mengatasi pikun dan juga sebagai bahan industri farmasi, kosmetika, suplemen makanan dan minuman. Tanaman ini telah dikonservasi secara in vitro dan telah memasuki usia kultur lima tahun. Selama masa periode tersebut terlihat ada perubahan pada penampilan kultur. Untuk itu tanaman hasil konservasi in vitro tersebut dikeluarkan dari botol kultur dan di aklimatisasi di rumah kaca. Penelitian ber-tujuan untuk melihat kandungan fitokimia dan pola pita protein tanaman tersebut dibanding-kan dengan tanaman induknya yang berasal dari kebun percobaan Cimanggu. Sampel daun pegagan in vitro dan yang tumbuh di lapang diekstrak untuk analisis fitokimia alkaloid, flavanoid, saponin, dan triterpenoid berdasar-kan metode Harbone (1987). Kadar protein ditentukan dengan menggunakan metode Lowry dan pola pita protein ditentukan ber-dasarkan hasil elektroforesis dengan gel poli-akrilamida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan metabolit sekunder pegagan in vitro berbeda dengan tanaman induk yang tumbuh di lapang. Pegagan asal in vitro menghasilkan tannin dan alkaloid positif (2+) saponin positif kuat (3+) serta ditemukan steroid dengan kandungan positif kuat sekali (4+). Sementara pada tanaman pegagan lapang, kandungan metabolit sekunder tannin, alkaloid, dan flavonoid positif kuat (3+), saponin, tanin, dan triterpenoid kuat sekali (4+), tetapi tidak ditemukan steroid. Konsentrasi protein total pada pegagan asal in vitro 17,092 μg/mL lebih tinggi dibandingkan dengan di lapang 8,559 μg/mL. Pola pita protein asal in vitro lebih tebal   daripada   yang di lapang dan menunjuk-kan adanya 2 pita protein yang dominan dengan masing-masing bobot molekul 53,7 Kda dan 31 Kda.

KUTU TANAMAN DAN TRIPS BERASOSIASI DENGAN TANAMAN DAUN UNGU DAN TINGKAT KERUSAKAN TANAMAN

Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 23, No 1 (2012): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.373 KB)

Abstract

Daun ungu (Graptophyllum pictum) atau dalam bahasa Sunda : handeuleum merupakan salah satu tanaman yang berkhasiat untuk mengobati penyakit wasir, melancarkan buang air seni, melancarkan haid dan lain-lain. Salah satu kendala dalam budidaya tanaman ialah serangan ulat pemakan daun. Ulat ini sangat rakus sehingga tanaman yang diserang dapat menjadi gundul. Ulat pemakan daun yang menyerang tanaman daun ungu di Jawa Barat ialah Doles-challia bisaltide, sedang di Maluku dan Papua masing-masing Doleschallia nacar dan Doleschallia hexophtalmos. Selain serangga tersebut juga terdapat kutu tanaman dan trips yang berasosiasi dengan tanaman daun ungu. Untuk mengetahui kutu tanaman dan trips tersebut maka dilakukan identifikasi se-rangga-serangga tersebut yang beraso-siasi dengan tanaman daun ungu dari Jawa Barat, Maluku, dan Papua sejak April sampai Juni 2010. Kutu tanaman dan trips, dikoleksi dengan memasukkan masing-masing ke dalam botol gelas yang berisi alkohol 70%, dibuat preparat mikroskop di laboratorium, kemudian diidentifikasi dengan menggunakan buku kunci identifikasi. Selain itu, juga dilaku-kan pengamatan serangan kutu tanaman utama yang menyerang daun ungu. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa kutu tanaman dan trips yang berasosiasi dengan tanaman daun ungu ialah Rastro-coccus viridarii Williams (Hemiptera : Pseudococcidae), kututempurung Sais-setia neglecta De Lotto (Hemiptera : Coccidae), Insignorthezia insignis Browne (Hemiptera : Ortheziidae), kutudaun Aphis gossypii Glover (Hemiptera : Aphididae), dan Astrothrips tumiceps Karny (Thysanoptera : Thripidae). Serangan kututempurung S. neglecta di rumah kaca pada tanaman muda dapat menyebabkan kematian tanaman daun ungu.