M. Sholeh Kosim
Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro / RSUP Dr. Kariadi, Jl. Dr. Sutomo 16-18 Semarang

Published : 9 Documents
Articles

Found 9 Documents
Search

Faktor Risiko Kejadian Kurang Pendengaran Tipe Sensorik pada Bayi Baru Lahir Muyassaroh, Muyassaroh; Kosim, M. Sholeh; Suprihati, Suprihati
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2011:MMI Volume 45 Issue 3 Year 2011
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.962 KB)

Abstract

ABSTRACTThe risk factors of sensory type of hearing loss in newborn babyBackground: The influence of risk factors (RF) of hearing loss (HL) varies from birth until many years of live. This study aimed to analyze whether the risk factors asphyxia, indirect bilirubin levels, prematurity, birth weight and sepsis in the newborn influenced to the incidence of HL.Method: The cohort prospective study in newborn baby with or without RF at Kariadi Hospital Juli 2010-Desember 2010. Basic data and RF were taken from medical records. Hearing examination with DPOAE and tympanometer were done when discharge from the hospital and 3-month-old baby. Sensory HL is refer DPOAE and type A of tympanogram. Data analysis was using the chisquare test and relative risk.Result: There were 112 babies with RF and 117 babies without RF. The incidence of HL after 3 month, were 9 babies (3.9%) at-risk group and 3 (1.3%) in the group without RF. The risk to sensory HL in the babies with many RF was 4 times greater than one RF. Prematurity and VLBW influenced the incidence of sensory HL. Multivariate logistic regression analysis found that VLBW independency influenced the incidence of sensory HL (RR=9.500 CI=1.091-82.725; p=0.041). Aspyxia, hiperbilirubinemia and sepsis not influenced the incidence of sensory HL.Conclusion: Prematurity and VLBW influenced the incidence of sensory HL. VLBW independently influenced the incidence of sensory HL.Keywords: Hearing loss, risk factors, newborn babyABSTRAKLatar belakang: Manifestasi klinik kurang pendengaran (KP) dari beberapa faktor risiko (FR) bervariasi dari sejak lahir sampai bayi umur beberapa bulan atau setelah beberapa tahun. FR yang dapat menyebabkan KP adalah asfiksia, berat badan lahir, prematuritas, kadar bilirubin indirek, dan sepsis. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa FR asfiksia, berat lahir, prematuritas, kadar bilirubin indirek dan sepsis pada bayi baru lahir secara sendiri atau bersama-sama berpengaruh terhadapkejadian KP tipe sensorik.Metode: Dilakukan penelitian kohort prospektif pada 229 bayi baru lahir dengan atau tanpa FR yang dirawat di RSUP Dr. Kariadi Semarang Juli 2010-Desember 2010. Data dasar dan FR diambil dari rekam medik. Pemeriksaan pendengaran dengan distortion product otoacustic emission (DPOAE) dan timpanometri sesaat sebelum pulang dan dievaluasi setelah 3 bulan. KP tipe sensorik bila hasil pemeriksaan DPOAE merujuk pada “refer” dan timpanogram menghasilkan tipe A. Analisis statistik digunakan uji Chi-squaredan risiko relatif.Hasil: Didapatkan 112 bayi dengan FR dan 117 bayi tanpa FR. Kejadian KP tipe sensorik pada 9 bayi dengan FR (3,9%) dan 3 bayi tanpa FR (1,3%). Bayi dengan beberapa FR mempunyai risiko 4 kali lebih besar terjadi KP tipe sensorik dibandingkan dengan bayi satu FR. Prematur dan BBLSR berpengaruh terhadap kejadian KP tipe sensorik. Analisis regresi logistik multivariat didapatkan BBLSR secara independen berpengaruh terhadap kejadian KP tipe sensorik (RR=9,500 CI=1,091-82,725; p=0,041). Asfiksia, hiperbilirubinemia dan sepsis tidak berpengaruh terhadap kejadian KP tipe sensorik. Asfiksia, hiperbilirubinemia dan sepsis tidak berpengaruh terhadap kejadian KP tipe sensorik.Simpulan: Prematur dan BBLSR berpengaruh terhadap kejadian KP tipe sensorik. BBLSR secara independen berpengaruh terhadap kejadian KP tipe sensorik.
Pemeriksaan Kekeruhan Air Ketuban Kosim, M. Sholeh
Sari Pediatri Vol 11, No 5 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air ketuban (AK) adalah cairan jernih dengan warna agak kekuningan yang menyelimuti janin di dalamrahim selama masa kehamilan, berada di dalam kantong ketuban, dan mempunyai banyak fungsi. Airketuban yang berubah menjadi berwarna kehijauan atau kecoklatan, menunjukkan bahwa neonatustelah mengeluarkan mekonium, menjadi petanda bahwa neonatus dalam keadaan stress dan hipoksia.menyebabkan peristaltik usus dan otot sfinter ani relaksasi sehingga mekonium dapat keluar melalui anus.Mekonium merupakan feses pertama janin dan neonatus yang juga mengandung enzim pankreas, asamlemak bebas, orfirin, interleukin-8, fosfolipase A2, biliribun indirek, dan bilirubin direk. Air merupakankomponen terbesar (85%–95%), sehingga kekeruhan AK sebagian besar disebabkan oleh mekonium yangmengandung feses dan asam empedu. Sehubungan keadaan tersebut maka perlu dideteksi adanya feses didalam AK. Pemeriksaan kekeruhan dapat dilakukan secara visual (makroskopik) atau dengan mikrometer danspektrofotometri. Berbagai penelitian mencoba menjawab pertanyaan ini. Di antaranya adalah pemeriksaanspektrofotometri, “meconium crit“, dan “mecometer“ Pemeriksaan feses dapat dilakukan secara konvensionaldengan menggunakan uristiks yang lebih praktis untuk memeriksa komponen kimiawi, untuk berbagaimacam tujuan.
Infeksi Neonatal Akibat Air Ketuban Keruh Kosim, M. Sholeh
Sari Pediatri Vol 11, No 3 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infeksi neonatal masih merupakan masalah di bidang pelayanan Perinatologi dengan angka morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi dengan berbagai latar belakang penyebab. Air ketuban keruh bercampur mekonium (selanjutnya disebut AKK) dapat menyebabkan sindrom aspirasi mekonium (SAM) yang mengakibatkan asfiksia neonatorum yang selanjutnya dapat berkembang menjadi infeksi neonatal. Diagnosis berdasarkan atas penemuan pemeriksaan radiologis. Penyebab SAM belum jelas mungkin terjadi intra uterin atau segera sesudah lahir akibat hipoksia janin kronik dan asidosis serta kejadian kronik intra uterin. Faktor risiko SAM adalah skor Apgar <5 pada menit ke lima, mekonium kental, denyut jantung yang tidak teratur atau tidak jelas, dan berat lahir. Diagnosis infeksi neonatal sulit, didasarkan atas anamnesis, pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan penunjang. Banyak panduan atau sistem skor untuk menegakkan diagnosis infeksi neonatal. Salah satu panduan yang dapat digunakan untuk mendiagnosis infeksi neonatal adalah panduan WHO yang sudah diadaptasi di Indonesia. Diagnosis pasti ditegakkan dengan biakan darah, cairan serebrospinal, urin, dan infeksi lokal. Petanda diagnostik sangat berguna sebagai indikator sepsis neonatal karena dapat meningkatkan sensitivitas dan ketelitian diagnosis serta berguna untuk memberikan menghentikan secara dini terapi antibiotik. Namun tidak ada satupun uji diagnostik terbaru tunggal yang cukup sensitif dan spesifik. (
Gawat Darurat Neonatus pada Persalinan Preterm Kosim, M. Sholeh
Sari Pediatri Vol 7, No 4 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persalinan preterm atau kurang bulan akan membawa konsekuensi bayi yang lahirmenjadi bayi preterm atau bayi kurang bulan (BKB) . Bila terjadi kegagalan adaptasipada kehidupan ekstra uterin maka akan terjadi gawat neonatus yang dapat berdampakkematian atau kecacatan. Bayi cukup bulan (BKB) mempunyai banyak risiko ataumasalah akibat kurang matangnya fungsi organ antara lain Penyakit membran hialin,asfiksia, perdarahan intrakranial, gangguan neurologik, hipotermia, gangguan metabolikdan kecenderungan untuk terjadinya infeksi neonatal. Sedangkan komplikasi jangkapanjang antara lain akan mengakibatkan terjadinya retardasi mental, gangguan sensori(gangguan pendengaran dan penglihatan, kelainan retina ROP (retinopathy ofprematurity). Upaya yang paling penting adalah mencegah terjadinya persalinan pretermsemaksimal mungkin dengan pemeriksaan antenatal yang baik, meningkatkan statusgizi ibu, mencegah kawin muda dan mencegah serta mengobati infeksi intra uterin.Apabila sudah terjadi ancaman persalinan, maka pemberian steroid antenatal ternyatamenunjukkan bukti medis yang bermakna dalam mematangkan fungsi paru. Apabilabayi terpaksa lahir sebagai BKB, maka manajemen yang cepat tepat dan terpadu harussudah mulai dilaksanakan pada saat antepartum, intrapartum dan postpartum ataupasca natal. Manajemen intrapartum dengan menerapkan pelayananan neonatal esensial,manajemen pasca natal dengan strategi neuroprotektif, pencegahan sepsis neonatorum,pemberian nutrisi adekuat dan perawatan pasca natal lain nya untuk bayi baru lahir.
Hubungan Hiperbilirubinemia dan Kematian Pasien yang Dirawat di NICU RSUP Dr Kariadi Semarang Kosim, M. Sholeh; Garina, Lisa Adhia; Chandra, Tony; Adi, M. Sakundarno
Sari Pediatri Vol 9, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Hiperbilirubinemia merupakan salah satu masalah kegawatan pada bayi baru lahir.Peningkatan unconjugated bilirubin serum sampai dengan kadar 20 mg/dl sering menyebabkan ”kern ikterus”,sehingga fungsi otak terganggu dan mengakibatkan kecacatan sepanjang hidup atau kematian. Sebagianbesar pasien hiperbilirubinemia yang dirawat di NICU mempunyai prognosis yang kurang menggembirakan.Tujuan. Mengetahui hubungan hiperbilirubinemia dan kejadian kematian pasien yang dirawat di NICURSUP Dr. Kariadi Semarang periode Januari 2005 – November 2006Metode. Studi observasional retrospektif pada pasien di bangsal NICU RSUP Dr. Kariadi Semarang,Januari 2005 – November 2006. Variabel yang diteliti ialah karakteristik umum (masa gestasi, berat badanlahir, cara persalinan, kejadian sepsis) yang merupakan faktor risiko hiperbilirubinemia dan hubunganhiperbilirubinemia terhadap hasil keluaran (hidup atau mati). Kadar bilirubin diperiksa pertama kali padasaat ditemukan ikterus. Analisis statistik menggunakan program SPSS versi 11.5 for Windows.Hasil. Dari 90 pasien dengan ikterus neonatorum, 71 (78,9%) pasien mempunyai kadar bilirubin =10 mg/dL.Limapuluh tiga (58,9%) pasien BBLR, 50 (55,6%) preterm dan 54 (60%) lahir spontan. Limapuluh tujuh bayi(69,5%) pasien dengan sepsis awitan dini, 33 bayi ( 30.5 %) awitan lambat. Angka kematian 80% dan sebagianbesar 65 (90,3%) disebabkan oleh sepsis. Tidak didapatkan hubungan antara hiperbilirubinemia dan hasil keluaran.Sepsis awitan lambat merupakan faktor risiko terjadinya hiperbilirubinemia OR 32,3 (95% CI 7,8 - 125) danpartus dengan tindakan juga merupakan faktor risiko terjadinya hiperbilirubinemia OR 4,5 (95% CI 1,5 – 13,3).Kesimpulan. Sepsis awitan lambat dan partus dengan tindakan merupakan faktor risiko terjadinyahiperbilirubinemia pada pasien yang dirawat di NICU. (
Associations of viscosity, stercobilin and bilirubin levels in meconium stained amniotic fluid to meconium aspiration syndrome Kosim, M. Sholeh; Suromo, Lisyani B.; Hendarwati, Chrisna
Paediatrica Indonesiana Vol 51 No 2 (2011): March 2011
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background Meconium-stained amniotic fluid (MSAF) increases morbidity and mortality in neonates. Meconium aspiration syndrome (MAS) occurs in 2-9% of neonates with MSAF. Viscosity of MSAF is associated with the amount of the meconium release.Objective To determine the associations between viscosity and the presence of stercobilin and bilirubin in MSAF with MAS in neonates.Methods This observational cohort study was perfonned with term babies who were born v.ith MSAF in Kariadi Hospital from August 2009 to May 2010. Amniotic fluid specimens were taken at birth and neonates were observed for respiratory symptoms until the 5th day of life. Analysis was done by chi-square test, Fishers exact test and relative risk.Results The majority of the 48 subjects were male, Mth mean gestational age of 39.9 (SD 1.73) weeks. Classification of MSAF as thick or thin was done by macroscopic examination Mth Kappa test 0.741. The MSAF tested ositively for stercobilin and bilirubin in 12/48 and 17/48 subjects, respectively. Thick MSAF correlated significantly to MAS (P=0.03) Mth a relative risk of 10.1 (95% CI 1.2 to 87 .6), while stercobilin and bilirubin presence did not.Conclusion Thick MSAF was associated Mth lvtAS and was a risk factor for MAS. Stercobilin and bilirubin presence in MSAF were not associated with MAS.
Antibiotics on incidence of infection in neonates with meconium-stained amniotic fluid Kosim, M. Sholeh; Noerpramana, N. P.; Aminullah, Asril; Hadisaputro, Suharyo
Paediatrica Indonesiana Vol 53 No 1 (2013): January 2013
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.004 KB)

Abstract

Background The effectiveness of antibiotics for preventinginfection in neonates with meconium-stained amniotic fluid(MSAF) remains unclear. Not all neonates with MSAF developmeconium aspiration syndrome (MAS) or neonatal infection.Furthermore, neonatal infection diagnosis may be difficult dueto lack of symptoms. As such, clinical manifestations, laboratoryresults, and infection markers are important for diagnosis.Objective To evaluate antibiotic use on the incidence ofinfectionin neonates with MSAF.Methods This double-blind randomized controlled clinical trialwas performed at Dr. Kariadi Hospital, Semarang, Indonesia fromOctober 2009 to March 2010. Subjects were newborns with MSAFwho were diagnosed by two observers (Kappa test intraobserveragreement was 0.74) and with feces metabolites found in theiramniotic fluid. Sixty-nine newborns were divided into groups Iand II, comprised of 35 and 34 subjects, respectively. Group Isubjects (control group) were not given antibiotics, while groupII subjects (treatment group) were given combination antibioticsof ampicillin (50 mg;kg BW) and gentamicin (8 mg;kg BW), assingle doses. Neonatal infection diagnosis was based on clinicalmanifestations, laboratory results (leucocyte count, blood culture,and I: T ratio), and the following infection markers: procalcitonin(PCT), interleukin-6 (IL-6), tumor necrosis tumor-a (TNF-a),and C-reactive protein (CRP). Chi-square and Fischer's exacttests were used for statistical analyses.Results We found no significant differences in the incidence ofneonatal infection between those who received and those whodid not receive antibiotics, based on clinical manifestations, thefirst and second examination of laboratory marker (P=0.53),examinations of CRP, IL-6, TNF-a, and PCT either as singlemarkers or combinations of 2, 3, or 4 markers (P&gt; 0.05) , as wellas mortality rate (P=0.30).Conclusion There is no significant difference in the incidenceof infection in neonates with MSAF who received prophylactic antibiotics compared to those who did not receive antibiotics.
Diagnostic Accuracy of CRP (C-Reactive Protein) Examination in Neonatal Infections Kosim, M. Sholeh; Arhana, Bagus Ngurah Putu; Mangunsong, Harry
Paediatrica Indonesiana Vol 33 No 7-8 (1993): July 1993
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.215 KB)

Abstract

The incidence of neonatal infections has been still high in Indonesia. The main factors influencing success of treatment are early clinical diagnosis and rapid determination of the etiologic microorganisms. C-reactive protein (CRP) could be measured in the serum of baby suffering from bacterial infections. The aim of this study was to compare the capability of CRP examination in determining the diagnosis of neonatal infections, using blood culture examination as the gold standard. For comparison, white blood cell (WBC) and platelet counts, which have been used as indicators of neonatal infections, were also evaluated. This study was done prospectively on 30 cases with suspected neonatal infections admitted to the High Risk Baby Ward, Division of Perinatology, and 30 normal babies as control, during the period of April to December 1990. CRP examination was done by latex agglutination method. The results of this study revealed that CRP examination has good sensitivity, specificity. and predictive values. CRP was also proved to be superior to WBC and platelet counts. CRP examination was also easy to perform, cheaper, and faster than blood culture examination. It is concluded that CRP examination could be used as the confirmatory tool in the diagnosis of neonatal bacterial infections.
Hubungan antara Besarnya Defek Septum Ventrikel dengan Fungsi Paru Sari, Nurlina Kumala; Soetadji, Anindita; Kosim, M. Sholeh
Sari Pediatri Vol 16, No 3 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Pada anak dengan defek septum ventrikel (DSV), terjadi peningkatan aliran darah ke paru. Semakin besar DSV, semakin meningkat aliran darah ke paru maka risiko infeksi saluran pernafasan akut dan gagal jantung meningkat dan menganggu fungsi paru. Fungsi paru yang baik penting untuk pemeliharaan suplai oksigen saat sebelum dan setelah dilakukan operasi. Spirometri merupakan alat yang penting dan praktis dalam menilai fungsi paru. Perbandingan FEV1/FVC digunakan untuk mendiagnosis dan membedakan antara penyakit paru obstruktif dan restriktif.Tujuan. Membuktikan adanya hubungan antara besarnya DSV, flow ratio, klasifikasi gagal jantung, frekuensi infeksi respiratori akut (IRA), dan status gizi dengan fungsi paru.Metode. Dilakukan penelitian observasional dengan pendekatan cross-sectional di RS dr. Kariadi dari bulan September 2011 sampai dengan Desember 2012. Subjek anak dengan DSV yang belum dilakukan operasi, umur 5-14 tahun yang mendapat terapi di instalasi rawat jalan RS dr. Kariadi. Dilakukan ekokardiografi untuk mengukur diameter DSV dan flow ratio (Qp/Qs) dan spirometri untuk menilai fungsi paru melalui pengukuran (FEV1/FVC). Analisis statistik dengan uji korelasi Spearman dan uji Fisher’s Exact.Hasil. Subjek terdiri atas 20 anak dengan DSV (65% perempuan). Rerata diameter DSV 12,32 mm (SB 9,18), rerata dari flow ratio 2,63 (SB 0,92), rerata frekuensi IRA 4,60 kali (SB 2,98). Rerata FEV1/FVC adalah 94,1% (SB 9,82). Ukuran DSV besar, flow ratio yang tinggi, dan seringnya IRA mempunyai risiko tinggi untuk terjadinya gangguan fungsi paru restriktif, secara berturut-turut dengan RP=1,5 (p=0,038), RP=1,8 (p=0,009), RP=1,5 (p=0,038). Status gizi berhubungan sedang dengan fungsi paru (r=0,604, p=0,005).Kesimpulan. DSV besar, flow ratio, frekuensi IRA, dan status gizi berhubungan dengan fungsi paru.