Articles

Found 12 Documents
Search

UNJUK KERJA MESIN DIESEL MITSUBISHI 4DR5 SEBAGAI PENGGERAK KAPAL PADA KONDISI TRIM Alwi, M.Rusydi; Klara, Syerly
JURNAL RISET TEKNOLOGI KELAUTAN Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Ikatan Sarjana Teknik Perkapalan UNHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mesin diesel mobil banyak digunakan sebagai tenaga penggerak kapal. Sebagai land engine,apakah mesin diesel mobil bisa bekerja maksimal pada kondisi gelombang air laut dan cuacaburuk.Sehingga perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui performa mesin diesel mobil padavariasi kemiringan yang dialami oleh kapal pada saat beroperasi di laut. Metode penelitian yangdigunakan adalah bersifat eksperimental, yaitu menghitung performa mesin diesel dengan kondisikemiringan berbeda. Kemiringan diasumsikan kondisi trim pada kapal. Pengujian dilakukankondisi normal dan pada kemiringan 8°, 15°, 22°, dan 29°. Dari hasil perhitungan dan analisisdiperoleh performa mesin pada kemiringan normal (0°), dimana secara umum terjadi peningkatanperforma yaitu efisiensi volumetris (ηvol) 84,702 %, penyerapan panas oleh pendingin mesin(Qap) 2,357 (kW), kehilangan panas gas buang (Qgb) 5,026 (kW), kerugian kalor mekanis (Qm)0,540 (kW) dan daya efektif (Ne) 2,19 (kW). Pada kemiringan 8° nilai daya efektif (Ne) adalah11,10 kW. Disarankan batas kemiringan maksimum mesin diesel Mitsubishi 4DR5 sebagaipenggerak kapal adalah kemiringan 8°.
PERENCANAAN ISOLASI TANGKI SETLING DAN TANGKI HARIAN BAHAN BAKAR MARINE FUEL OIL (MFO) PLTD LOPANA SEKTOR MINAHASA Klara, Syerly; Baharuddin, .
JURNAL RISET TEKNOLOGI KELAUTAN Vol 10, No 2 (2012)
Publisher : Ikatan Sarjana Teknik Perkapalan UNHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PLTD Lopana Sektor Minahasa di Kabupaten Minahasa Selatan Kota Amurang Provinsi Sulawesi Utara melakukan penggantian jenis bahan bakar pada mesin diesel pembangkit tenaga listriknya yang semula menggunakan High Speed Diesel (HSD) menjadi Marine Fuel Oil (MFO). Tujuan penelitian ini untuk menentukan volume tanki settling dan tanki harian, merencanakan jenis isolasi dan sistem pemanas tanki bahan bakar MFO. Metode yang digunakan analisis persamaan perpindahan panas dengan mempertimbangkan specific fuel oil consumption (sfoc), viskositas bahan bakar dan kapasitas pompa yang digunakan untuk menentukan dan merencanakan dimensi dan bahan isolasi tanki bahan bakar MFO. Dari hasil rancangan, volume tanki sebesar 9,66 m3 dengan bahan isolasi terdiri dari Baja wolfram (5 mm), ceramic (5 mm), Busa urethane (6 cm) dan aluminium (2 mm). Beban pemanas bahan bakar pada tanki settling dan tanki harian masing-masing 18,03 kW dan 8,78226 kW dengan demikian jenis pemanas yang digunakan adalah electric heater untuk menjaga suhu bahan bakar MFO tetap konstan.
PEMBANGKIT LISTRIK DENGAN SISTEM OCEAN THERMAL ENERGY CONVERSION Klara, Syerly; Had, Abd. Latief
978-979-127255-0
Publisher : PROSIDING HASIL PENELITIAN FAKULTAS TEKNIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan sumber daya alam laut Indonesia sudah cukup baik diantaranya dibidang perikanan, pertambangan dan perindustrian, namun apabila ditinjau lebih jauh, Sumberdaya alam laut Indonesia juga dapat digunakan sebagai pembangkit energi listrik dengan memanfaatkan panas laut seperti perairan Sulawesi Barat. Penelitian ini bertujuanmengetahui hubungan antara diameter pipa, debit aliran fluida, temperatur permukaan dan daya listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik panas laut (OTEC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya maksimum sebesar 23,628.62 Watt didapatkan pada diameter pipa air laut 3.2 m dengan kecepatan aliran sebesar 2.03 m/s. Daya output maksimum lebih besar dapat diperoleh pada temperatur permukaan air laut yang lebih besar yaitu pada pertengahan tahun antara bulan Mei sampai September.
ANALISA EFEKTIFITAS SISTEM PENGKONDISIAN UDARA PADA RUANG PENUMPANG KAPAL FERRY NEW CAMELIA ., Baharuddin; Klara, Syerly; ., Hendroi
978-979-127255-0
Publisher : PROSIDING HASIL PENELITIAN FAKULTAS TEKNIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kapal adalah alat transportasi lintas perairan dimana dalam pengoperasiannya menuntut kebutuhan akan kenyamanan, untuk kapal penumpang kebutuhan akan kenyamanandiantaranya kenyamanan suhu dalam ruangan, untuk itu perlu untuk merencanakan sebuah sistem pengkondisian udara yang akan digunakan pada sebuah kapal. Ferry RO-RO New Camelia yang saat ini sedang beroperasi di perairan Indonesia yaitu di rute Pelabuhan Siwa Kab.Wajo - Pelabuhan Tobaku Kolaka Utara adalah kapal yang dibangun di Jepang dengan aturan klas NKK dan diperuntukkan untuk beroperasi di Jepang. Sistem pengaturan udara pada kapal ini di rancang dengan rencana pelayaran pada perairan wilayah negara Jepang yang suhunya lebih dingin daripada wilayah Indonesia, melihat kenyataan tersebut terjadi kelebihan penggunaan daya yang mengakibatkan suhu dalam ruangan penumpang terlalu dingin. sebaliknya jika jumlah penumpang melebihi kapasitas maka suhu ruangan menjadi lebih panas. Dari beberapa hal di atas sehingga penulis mengangkat topik ini. Dengan mengetahui kondisi ruang penumpang dan jumlah penumpang, maka beban ventilasi dapat diketahui sehingga kapasitas sistem pengkondisian udara juga dapat diketahui. Sedangkan untuk mengetahui nilai efektifitas komponen pada sistem tersebut diperlukan data-data fisik pada komponen yang dianalisa (evaporator dan kondensor). Dari besar kapasitas pendingin yang dihasilkan diatas, untuk mengatasi beban ventilasi yang terjadi pada ruang penumpang KMP New Camelia dibutuhkan sebuah system pengkondian udara dengan daya sebesar = 58700,43 Kkal/jam = 91,5497 Hp. Beban kalor yang terjadi Untuk jumlah penumpang 50 orang beban total yang terjadi adalah 58754,031 watt sedangkan beban untuk jumlah penumpang 100 orang, beban total yang terjadi adalah 61880,755 watt. Sehingga dapat di analisa bahwa untuk penambahan setiap 50 orang penumpang maka beban akan bertambah sebesar 3126,72 watt. Pada analisis komponensistem pengkondisian udara yaitu kondensor dan evaporator nilai efektivitas untuk kondensor adalah 89,91% sedangkan nilai efektivitas untuk Evaporator adalah 87,75%.
KAJIAN POTENSI ENERGI ANGIN DI PERAIRAN BARAT DAN SELATAN PULAU SULAWESI Klara, Syerly; Had, Abd. Latief; Baharuddin, Baharuddin; Pawara, M. Uswah
978-979-127255-0
Publisher : PROSIDING HASIL PENELITIAN FAKULTAS TEKNIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Umumnya telah diketahui bahwa Indonesia mempunyai cadangan energi terbarukan yang besar bersumber dari matahari, angin, air, biomassa, dan lain-lain. Namun sumber daya yang ada ini belum dieksplorasi dan digunakan secara efektif dan maksimal. Salah satu sumber daya yang hampir belum digunakan sama sekali di Indonesia adalah energi angin terutama energi angin di laut. Seperti yang diketahui bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki wilayah laut yang luas sehingga potensi energi angin di wilayah perairanIndonesia juga melimpah. Oleh karena itu, menjadi sangat penting untuk mengkaji densitas energi angin di wilayah-wilayah perairan Indonesia untuk dapat menentukan lokasi terbaikdalam memperoleh energi angin secara maksimal. Pada penelitian ini, data kecepatan angin yang diperlukan untuk penentuan densitas angin diperoleh dari stasiun meteorologi Paotere, Makassar. Stasiun meteorologi tersebut mengukur dan mengumpulkan data dari 11 wilayah perairan di bagian barat dan selatan Pulau Sulawesi. Dalam analisis, distribusi Weibull dan Rayleigh digunakan untuk menghitung probability density function (PDF) and cumulative distribution function (CDF). Namun demikian, untuk mendapatkan fungsi-fungsi distribusitersebut, faktor bentuk (k) dan faktor skala (c) dari distribusi Weibull dan Rayleigh harus ditentukan sebelumnya. Berdasarkan hasil perhitungan dalam penelitian ini, dapat dikatakan bahwa wilayah perairan barat dan selatan pulau Sulawesi memiliki densitas energi angin yang memadai untuk dapat di eksplorasi dan dimanfaatkan lebih lanjut.
KAJIAN POTENSI ENERGI ANGIN DI PERAIRAN BARAT DAN SELATAN PULAU SULAWESI Klara, Syerly; Had, Abd. Latief; Baharuddin, .; Pawara, M. Uswah
978-979-127255-0
Publisher : PROSIDING HASIL PENELITIAN FAKULTAS TEKNIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Umumnya telah diketahui bahwa Indonesia mempunyai cadangan energi terbarukan yangbesar bersumber dari matahari, angin, air, biomassa, dan lain-lain. Namun sumber daya yangada ini belum dieksplorasi dan digunakan secara efektif dan maksimal. Salah satu sumberdaya yang hampir belum digunakan sama sekali di Indonesia adalah energi angin terutamaenergi angin di laut. Seperti yang diketahui bahwa Indonesia merupakan negara kepulauanyang memiliki wilayah laut yang luas sehingga potensi energi angin di wilayah perairanIndonesia juga melimpah. Oleh karena itu, menjadi sangat penting untuk mengkaji densitasenergi angin di wilayah-wilayah perairan Indonesia untuk dapat menentukan lokasi terbaikdalam memperoleh energi angin secara maksimal. Pada penelitian ini, data kecepatan anginyang diperlukan untuk penentuan densitas angin diperoleh dari stasiun meteorologi Paotere,Makassar. Stasiun meteorologi tersebut mengukur dan mengumpulkan data dari 11 wilayahperairan di bagian barat dan selatan Pulau Sulawesi. Dalam analisis, distribusi Weibull danRayleigh digunakan untuk menghitung probability density function (PDF) and cumulativedistribution function (CDF). Namun demikian, untuk mendapatkan fungsi-fungsi distribusitersebut, faktor bentuk (k) dan faktor skala (c) dari distribusi Weibull dan Rayleigh harusditentukan sebelumnya. Berdasarkan hasil perhitungan dalam penelitian ini, dapat dikatakanbahwa wilayah perairan barat dan selatan pulau Sulawesi memiliki densitas energi anginyang memadai untuk dapat di eksplorasi dan dimanfaatkan lebih lanjut.
PEMANFAATAN GAS BUANG MESIN DIESEL SEBAGAI ENERGI LISTRIK Klara, Syerly; ., Sutrisno
Jurnal Riset Teknologi Kelautan Vol 14, No 1 (2016): Jurnal Riset Teknologi Kelautan (JRTK)
Publisher : Jurnal Riset Teknologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan energi alternatif yang ramah lingkungan dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi saat ini mulai ramai dikembangkan. Salah satunya adalah termoelektrik generator. Termoelektrik generator memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan tidak menimbulkan polusi sehingga sangat ramah lingkungan. Prinsip dasar dari termoelektrik generator adalah memanfaatkan perbedaan suhu yang terjadi di lingkungan menjadi energi listrik. Pada penelitian ini digunakan beberapa peltier yang disusun secara seri maupun parallel pada kondisi putaran mesin variasi mulai dari 1000 RPM sampai 2500 RPM yang bertujuan untuk mengetahui besar energi listrik yang dapat dihasilkan dari perbedaan temperatur pada panas mesin utama kapal hasil pembakaran yang terbuang dengan suhu kamar mesin. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebuah peltier mampu menghasilkan maksimal daya pada kondisi putaran mesin 2500 RPM dengan perbedaan suhu 39 ºC sebesar 0,84 Watt, dan susunan 6 buah peltier dirangkai seri memiliki daya yang lebih besar dibandingkan susunan peltier secara parallel pada kondisi putaran mesin yang sama yaitu sebesar 68.88 Watt. Ini menunjukkan sinkronisasi antara perbedaan suhu yang terjadi pada kedua sisi peltier dengan daya listrik yang dihasilkan pada peltier.
FATIGUE ANALYSIS OF CATENARY MOORING SYSTEM DUE TO HARSH ENVIRONMENT IN FOLLOWING SEAS Assidiq, Fuad Mahfud; Paroka, Daeng; Alie, Muhammad Zubair Muis; Klara, Syerly
Jurnal Indonesia Emas PPI Dunia Vol 1 No 01 (2018): OISAA Journal of Indonesia Emas
Publisher : PPI Dunia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2375.517 KB)

Abstract

In the operation, Floating Production Unit (FPU) will get dynamic loads on the structure periodically such as the mooring line responses. The aim of the present study to discuss fatigue life on catenary mooring system refers to the comparison of using or without using the Single Line Freestanding Riser (SLFR), the operational design and installation conditions at FPU Gendalo-Gehem and located in the Makassar Strait using the six-strand wire rope with 0,115 meters outer diameter and 1.200 meters length will be fatigue life analysed. The FPU motion observation shows the highest Response Amplitude Operator (RAO) surge, sway, heave, roll, pitch, and yaw motion due to harsh environments are 0,615 m/m, 1,01x10-6 m/m, 1,048 m/m, 1,14x10-5 0/m, 2,23 0/m, and 9,08x10-8 0/m. It means that the amplitude response will always be smaller than the wave amplitude coming up. Taking into RAO motion calculation, the fatigue life on catenary mooring systems for following seas are 445 years in mooring line 1 and mooring line 8 with using SLFR while without using SLFR for 5.461 years in mooring line 1. The structure is still in safe condition because of the design safety factor about 300 years.
Fatigue Analysis of Catenary Mooring System due to Harsh Environment in Head Seas Assidiq, Fuad Mahfud; Paroka, Daeng; Muis Alie, Muhammad Zubair; Klara, Syerly
EPI International Journal of Engineering Vol 1 No 1 (2018): Volume 1 Number 1, February 2018
Publisher : Center of Techonolgy (COT), Engineering Faculty, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Floating Production Unit (FPU) is a floating gas production barge that is moored by catenary mooring system to the seabed. In the operation, Floating Production Unit (FPU) will get dynamic loads such as ocean waves, ocean currents, and winds on the mooring line structure periodically. This may cause damage to mooring line structures which effect to the operational structure performance. The aim of the present study is to discuss fatigue life on catenary mooring system. The model studied refers to the comparison of using or without using the Single Line Freestanding Riser (SLFR), the operational design and installation conditions at FPU Gendalo-Gehem and located in the Makassar Strait. The dimensions of mooring line type six-strand wire rope are 0,115 meters outer diameter and 1.200 meters length will be fatigue life analyzed. The FPU motion observation in heading 1800  (head seas) shows the highest Response Amplitude Operator (RAO) surge, sway, heave, roll, pitch, and yaw motion due to harsh environments with Hs = 4,0 meters and T = 7,7 sec are 0,615 m/m; 9,354x10-7 m/m; 1,048 m/m; 18,423x10-6 0/m; 2,225 0/m; and 12,671x10-8 0/m. It means that the amplitude response will always be smaller than the wave amplitude coming up. Another thing happened when using SLFR has longer frequency about 0,207 rad/sec than without using SLFR. Taking into RAO motion calculation, the fatigue life on catenary mooring systems for head seas are 412 years in mooring line 4 and mooring line 5 with using SLFR while without using SLFR for 6.636 years in mooring line 5. The structure is still in safe condition because of the design safety factor about 300 years. 
Mitigasi Bencana Tsunami di Pantai Losari Makassar, Sulawesi Selatan Baeda, Achmad Yasir; Klara, Syerly; Hendra, Hendra; Muliyati, Rita
Jurnal Penelitian Enjiniring (JPE) Vol 20 No 1 (2016)
Publisher : Center of Techonolgy (COT), Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pantai Losari yang merupakan salah satu ikon penting Kota Makassar, ternyata memendam potensi bahaya yang cukup besar, yakni kerentanan terhadap terpaan tsunami. Hal ini lebih disebabkan karena posisinya yang tepat berada di depan Selat Makassar bagian Selatan yang kurang mempunyai sejarah seismik yang cukup signifikan untuk membangkitkan tsunami. Walaupun demikian, adanya Spreading Center serta kenyataan akan meningkatnya stress pada ujung-ujung lempeng aktif di sekitar Pulau Sulawesi, justru meningkatkan potensi gempa bawah laut, yang pada akhirnya dapat menyebabkan tsunami. Belum adanya konsep mitigasi bencana tsunami di Pantai Losari, semakin memperbesar peluang jatuhnya korban jiwa dan material yang besar, jika terjadi tsunami. Olehnya diperlukan kajian khusus mengenai mekanisme evakuasi yang tertuang pada Manual Mitigasi Bencana Tsunami jika terjadi di Pantai Losari Makassar. Kajian dilakukan dalam dua tahap, pertama adalah pemodelan penjalaran tsunami Selat Makassar bagian Selatan menuju Pantai Losari Makassar, dan kedua adalah kajian khusus mitigasi tsunami itu sendiri. Dengan pemodelan penjalaran tsunami menggunakan SiTProS Ver. 1.5, didapatkan bahwa tsunami dapat mencapai Pantai Losari Makassar sekitar 6.07 menit setelah gempa pertama dan dapat mencapai 9.0 meter run-up. Hal ini menjadi dasar pembuatan peta evakuasi sebagai alternatif terbaik mitigasi tsunami di Pantai Losari Makassar.