This Author published in this journals
All Journal Interaksi Online
Fariza Khumaedi
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents
Articles

Found 1 Documents
Search

PERLAWANAN TERHADAP BUDAYA DOMINAN DALAM LIRIK LAGU-LAGU EFEK RUMAH KACA (Analisis Semiotika)

Interaksi Online Vol 1, No 2 (2013): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSI PERLAWANAN TERHADAP BUDAYA DOMINAN DALAM LIRIK LAGU-LAGUEFEK RUMAH KACA (Analisis Semiotika)Nama : Fariza KhumaediNim: D2C606016Efek Rumah Kaca which consists of Cholil Mahmud as a vocalist and guitarist, AkbarBagus Sudibyo as a drummer, and a bassist Adrian Yunan Faisal as a band called by some mediaas the savior band music of Indonesia. At the moment all the bands in the mainstream talk aboutinfidelity and heartbreak, Efek Rumah Kaca provide refreshment and get closer the audiencewith themes of social reality which contains elements of resistance, where we are invited toappreciate the environment, balance, thinking about the social phenomenon, and open your heartto see oppression of the rulers.This research aimed to analyze the symbols and ideologies that reflect the resistance ofthe dominant culture in the lyrics of Efek Rumah Kaca’s songs. By using this approach belongsSaussure semiology, text analysis consisted of analysis of syntagmatic and paradigmatic analysisare used to reading the symbols of the seven songs from Efek Rumah Kaca chosen by theresearchers, such as: Di udara, Jalang, Mosi Tidak Percaya, Hilang, Kenakalan remaja di erainformatika, Desember, Balerina.The results of this study, based on syntagmatic analysis shows that the Efek RumahKaca’s lyrics are politically themed, rich with voice of resistance against the ruling classoppressed. Efek Rumah Kaca role as an oppressed minority party representation, it is known bylooking at the functions role in the song lyrics. Narrative patterns in the songs can be understoodas representing a story that has a message of resistance against the repression, which in thiscontext is the repression of acts of domination ruling arbitrarily. Second, the songs on the socialthemedused by Efek Rumah Kaca as an afterthought to make amends, learning about life inorder to be better in the future. While the results of paradigmatic analysis showed an associationbetween the tracks of the Greenhouse Effect with political issues and social phenomenon thatoccurred in Indonesia, such as: Di Udara, which tells the story of the death of human rightsactivist, Munir; Jalang, that criticized the Anti-Pornography and Porno action draft law; danHilang, that brought the spirit refuse to forget the kidnapping of activists in Orde Baru era;Kenakalan remaja di era informatika, which tells about the phenomenon of teens naked in frontof the camera; Desember which tells the story of the rainy season often lead to disaster; andBalerina, who shared the experience of dynamics and balance in life.Keyword: Efek Rumah Kaca, Lyric, semiologyPERLAWANAN TERHADAP BUDAYA DOMINAN DALAM LIRIK LAGULAGUEFEK RUMAH KACA(Analisis Semiotika)Musik memainkan peranan penting dalam sejarah kehidupan manusia diberbagai pelosok dunia. Salah satunya adalah sejarah perlawanan atau revolusi.Musik diterapkan sebagai alat untuk menyampaikan opini tentang sudut pandangyang diambil dalam menangkap keadaan sosial yang terjadi di masanya. Musikperlawanan cenderung mendapatkan tempat tersendiri di benak penikmatnya. Hal initerjadi karena lirik yang terdapat di dalamnya mengisahkan pengalaman sejarah yangmemiliki kedekatan secara emosional maupun pengalaman dengan parapendengarnya.Pada masa lalu, kesulitan hidup di rumah, di pabrik, di lokasi pertambangan,di perkebunan dan di ladang pertanian merupakan tema-tema utama bagi lagu-lagubernada protes (http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/lagu-protes-danperjuangan).Namun, kecenderungan di ranah musik mulai berubah seiring perubahandi tiap elemen kehidupan. Melalui budaya populer musik berkembang menjadi salahsatu bagian dari industri, perkembangan inilah yang menjadikan tantangan dankonsekuensi bagi tiap musisi untuk bertahan di ranah musik, apakah mereka masihdapat mempertahankan idealisme bermusik mereka atau hanyut terbawa aruspermainan industri. Untuk sebagian dari musisi yang terjebak permainan industrimusik, tema-tema lagu yang keluar menjadi stereotip, menyesuaikan selera pasar danmayoritas menceritakan tentang kisah romantisme belaka.Musisi yang membawakan pesan resistensi dan pemberontak dapat diamatiberdasarkan genre musik. Dalam ranah rock, band rap-rock Rage Against TheMachine (RATM) merupakan salah satu contoh yang representatif, band yang dikenaldengan warna musiknya yang kental dengan politik dan perlawanan. Albumpertamanya, Rage Against The Machine, dirilis pada tahun 1992 dengan sampulalbum yang sarat dengan kontroversi, yaitu seorang Biksu yang membakar diri(http://www.berdikarionline.com/suluh/20120203/tom-morello-dari-musikperlawanan-hingga-politik.html). RATM menyuarakan kritik sosial yang serupadengan aksi pelaku bakar diri namun menggunakan media yang berbeda dalammengungkapkannya. Mereka sama-sama resah, dan sama-sama ingin „berbagi‟keresahan kepada publik. Keresahan mereka tidak berhenti pada musik dan liriknyayang mengedepankan kritik politik, namun juga karena para personel band ini sangataktif dalam gerakan-gerakan politik perlawanan sayap kiri.Ada beberapa pemusik yang telah menjadi bagian dan menjadi inspiratorrevolusi, seperti John Lennon yang banyak memberi pengaruh terhadap kelas pekerjadan kaum muda, Green day dengan kesedihan mereka terhadap orang-orang Amerikadalam lagu “American Idiot”, hingga PJ Harvey dengan album Let England Shakeyang oleh majalah musik Inggris New Musikal Express (NME), Uncut dan Mojo,dinobatkan sebagai album terbaik tahun 2011(http://www.jakartabeat.net/editorial/pengantar-redaksi/83-editorial/699-bagaimana2011-menghakimi-let-england-shake.html). Beberapa musisi di atas menunjukkanbahwa, musik yang bermuatan perjuangan, pemberontakan atau kritik politik punmemiliki pasar dan penikmatnya sendiri. Musik tentang perlawanan memilikikarismanya sendiri yang membuatnya berbeda dengan tema musik industrial,mungkin karena muatan pesan yang dimiliki merekam peliknya kehidupan.Keberhasilan mereka layak disyukuri karena romantisme bukanlah harga mati danmemberi warna sendiri dalam industri musik.Pada jalur musik protes, masyarakat Indonesia tentu tidak asing dengan namaIwan Fals. Konsistensinya terhadap lagu-lagu dengan lirik perlawanan terhadapketidakadilan membuatnya dikenal sebagai pahlawan kaum pinggiran. Diamengungkapkan realitas sosial dalam untaian lirik lagu berirama balada.Setiap kali mendengar lagu-lagu Iwan Fals, banyak orang yang sejenaktersadar akan kondisi sosial tanah air. Orang menyukainya karena lagu-lagunyamudah dicerna dan mengandung pesan-pesan humanis yang mendalam. Kelebihanlirik lagu-lagu Iwan Fals yang paling mencolok adalah kenyataan bahwa dia tidaklahir dari ruang hampa, lirik-liriknya lahir dari hasil jepretan atas kondisi sosialpolitik Indonesia sendiri dengan penggunaan kata-kata sederhana, telanjang, dankadang-kadang jenaka.Efek Rumah Kaca merupakan buah bibir untuk genre musik indie diIndonesia di tahun 2007 berangkat dari sebuah single “Di Udara” yang didedikasikankepada pejuang HAM, mendiang Munir. Mereka mulai meramaikan industri musikIndonesia dengan membawakan tema-tema musik yang beragam. Efek Rumah Kacamerupakan grup musik indie yang berasal dari Jakarta. Terdiri dari Cholil Mahmud(vokal, gitar), Adrian Yunan Faisal (vokal latar, bass) dan, Akbar Bagus Sudibyo(drum, vokal latar). Melalui jalur musik, Efek Rumah Kaca membingkai peristiwa didunia nyata dan kemudian dituturkan dalam bait-bait lirik. Efek Rumah Kacamerupakan grup band Indonesia saat ini yang secara konsisten memiliki semangatmemperjuangkan idealisme dalam berkarya. Sampai sekarang, band ini sudahmengeluarkan dua buah album studio, yaitu Efek Rumah Kaca pada tahun 2007 danKamar Gelap pada tahun 2008.Efek Rumah Kaca merilis album penuh pertamanya, Self Titled, di bawahlabel indie Paviliun. Tidak diduga, album itu mendapat sambutan baik, terjual 4.000hingga 5.000 keping. Ini adalah jumlah penjualan yang bagus untuk band indie,sekaligus membuktikan bahwa jalur indie pun memiliki kekuatan untuk bersaingdengan jalur mainstream. Di luar penjualan album, Efek Rumah Kaca sering dimintatampil dalam pergelaran musik. Sekarang rata-rata Efek Rumah Kaca memilikijadwal konser enam kali sebulan dengan tarif sekali manggung Rp 0 alias gratishingga Rp 13 juta(http://entertainment.kompas.com/read/2008/09/07/01403215/ERK.Band.dengan.Pernyataan.Politik).Efek Rumah Kaca pada awalnya dibentuk pada tahun 2001. Setelahmengalami beberapa kali perubahan personel, akhirnya mereka memantapkan diridengan formasi band tiga orang. Sebelumnya, band ini bernama Hush. Nama inikemudian diganti menjadi Superego, lalu berubah lagi pada tahun 2005 menjadi EfekRumah Kaca - diambil dari salah satu judul lagu pada album perdana mereka.Sejak awal kemunculan mereka, banyak pihak yang menyebutkan bahwawarna musik Efek Rumah Kaca tergolong dalam post-rock, bahkan ada yangmenyebutkan shoegaze sebagai warna musik mereka. Tetapi, Efek Rumah Kacadengan lugas menyebutkan bahwa warna musik mereka adalah pop, karena merekamerasa tidak menggunakan banyak distorsi dan efek-efek gitar dalam lagu-lagumereka seperti selayaknya musik rock.Efek Rumah Kaca adalah penyegaran bagi musik Indonesia, menjadi sebuahrenungan bagi kita untuk lebih menghargai hidup. Ketika kontroversi pornografi danpornoaksi mencuat, ERK menulis lagu ”Jalang”. Lagu tersebut mengkritik pasalpasalkaret RUU Pornografi dan Pornoaksi. Dalam liriknya tertulis:siapa berani bernyanyi nanti dikebiri/siapa yang berani menari nanti kan dieksekusi//.Penggalan lirik di atas menggambarkan bagaimana Efek Rumah Kaca mencoba untukmenyampaikan pesan bahwa tubuh bukanlah sekadar obyek seksualitas, tapijuga obyek estetik. Pendekatan RUU Pornografi dianggap semata-mata memandangtubuh sebagai isu moral dan tidak sensitif terhadap keberagaman masyarakatIndonesia yang multikultur dalam memandang tubuh dan ketelanjangan.Ketika kasus Munir mencuat, Efek Rumah Kaca meluncurkan lagu “DiUdara”. Lagu tersebut menegaskan, teror dan ancaman pembunuhan tidak akanmenciutkan nyali pejuang HAM seperti Munir. Lagu ini memposisikan diri sebagaiinformasi agar pendengarnya sadar kondisi Munir yang membela orang lalu dibunuh.Dengan mengedepankan spirit perjuangan bagi para pendengarnya, sepertinya EfekRumah Kaca memiliki harapan yang cukup tinggi akan munculnya "Munir-Munir"baru.Lirik Efek Rumah Kaca tidak hanya bicara soal politik. Mereka juga bicarasoal penyakit diabetes yang diderita oleh bassis mereka, Adrian Yunan Faisal, dalamlagu “Sebelah Mata” dan nafsu belanja dalam lagu “Belanja sampai Mati”. Bahkan,mereka menyorot musisi Indonesia yang atas nama selera pasar berbondong-bondongmenulis lagu-lagu cinta.Sudut pandang yang diambil oleh Efek Rumah Kaca dalam memandangmusik bukan sekadar sarana hiburan, melainkan media yang bisa digunakan untukmemotret fenomena sosial, menyatakan opini, bahkan beroposisi, ini merupakanperwujudan dari semangat idealisme, protes dan sikap kritis tentang keadaan sosialyang terjadi pada saat itu. Sikap bermusik seperti ini sebelumnya telah ditunjukkanmusisi Indonesia yang lebih senior, macam Iwan Fals, Harry Roesly, FrankySahilatua, dan Slank. Mereka bertahan dan memiliki massa yang mengidolakanmereka.Jika Rage Against The Machine (RATM) menggunakan lirik sebagai senjataperlawanan terhadap kapitalisme dan politisi, Efek Rumah Kaca menekankan soalmetode bagaimana musik bisa membangkitkan dan menggerakkan massa rakyat,menggunakan lirik untuk membentuk sebuah kesadaran baru bahwa ada sesuatu yangsalah, belum sampai pada perlawanan, maka untuk sampai kepada musik perlawananpun memerlukan tahapan; menggelitik, ingin tahu, menyadari, dan mulai berpikirbagaimana mengubah keadaan.Saat ini musik populer yang digemari oleh masyarakat kurang lebih memilikiciri yang sama, baik dalam aransemen maupun penampilan para musisipengusungnya. Ini tidak terlepas dari campur tangan pelaku industri yang masihmenggunakan musik sebagai komoditas hiburan atau barang jualan semata danmasyarakat yang pasrah menikmati arus musik yang seragam. Efek Rumah Kacamencoba menawarkan gagasan melalui konsep “pasar bisa diciptakan”, konsep inimerupakan bentuk perlawanan jalur independen (subculture) terhadap budayadominan yang diwakili oleh jalur mainstream.Di balik perlawanan jalur independen yang diusung oleh Efek Rumah Kacamelalui keberagaman tema musik yang kemudian mereka wujudkan pada konsep“pasar bisa diciptakan” kita harus menyadari bahwa Efek Rumah Kaca berada dalamsistem yang memungkinkan pihak tertentu yang berusaha menguasai pihak lainnyadengan mendominasi ideologi pada media melalui ekspresi dan sudut pandang yangdianut sebagai budaya mapan, baik secara sadar maupun tidak. Dalam konteks iniEfek Rumah Kaca sebagai komoditas yang dipasarkan oleh label atau korporasi yangmenaungi Efek Rumah Kaca.Dari penjabaran di atas yang menarik untuk dikaji adalah perlawanan tehadapbudaya dominan yang disuarakan oleh Efek Rumah Kaca melalui lirik lagu yangmereka ciptakan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui :1. Simbol-simbol pada lirik lagu-lagu Efek Rumah Kaca yang merefeleksikanusaha perlawanan terhadap budaya dominan dalam sebuah media lagu.2. Ideologi yang berperan dominan dalam lirik lagu-lagu Efek Rumah Kaca dalamkonteks usaha perlawanan terhadap budaya dominan.Penelitian ini menguraikan bagaimana struktur lirik yang dibangun oleh EfekRumah Kaca. Seperti yang kita ketahui bersama, Efek Rumah Kaca merupakan salahsatu band yang memiliki tema bervariasi dalam lagu-lagunya. Dari beberapa albummaupun single yang sudah dirilis, peneliti menemukan sedikitnya empat buah laguyang bertema politik. Lagu-lagu tersebut adalah Di Udara, Jalang, Mosi TidakPercaya, dan lagu terbaru mereka berjudul Hilang. Selain itu dalam penelitian inidijabarkan juga struktur dari tiga lagu Efek Rumah Kaca yang dipilih penelitiberdasarkan pesan yang bersifat lebih personal. Lagu-lagu tersebut adalah Kenakalanremaja di era informatika, Desember, dan Balerina. Selanjutnya lagu-lagu tersebutdianalisis satu persatu menggunakan analisis sintagmatik dan paradigmatik untukmengkaji lebih jauh pesan denotasi dan konotasi yang terkandung di dalamnya.Pendekatan semiologi milik Saussure digunakan untuk membedah kumpulanteks yang terdapat dalam lirik lagu-lagu Efek Rumah Kaca. Analisis teks tersebutterdiri dari analisis sintagmatik dan analisis paradigmatik yang digunakan untukpembacaan simbol-simbol terhadap tujuh lagu dari Efek Rumah Kaca yang telahdisebutkan di atas.Dengan menggunakan Jargon “Pasar dapat diciptakan”, Efek Rumah Kacamencoba menekankan soal metode bagaimana musik bisa membangkitkan danmenggerakkan massa rakyat. Sejumlah media, zine, dan blog sempatmemberitakannya sebagai sindiran Efek Rumah Kaca terhadap industri musik diIndonesia yang semakin seragam. Bermodalkan dua album Efek Rumah Kaca yangsarat dengan muatan kritik-kritik sosial yang tajam berhasil memberikan warna yangberbeda di kancah dunia musik Indonesia.Berdasarkan penilitian yang telah dilakukan, ditemukan beberapa fakta terkaitdengan lirik lagu-lagu Efek Rumah Kaca dalam konteks usaha perlawanan terhadapbudaya dominan yang dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu:Pertama, hasil analisis dari struktur sintagmatik dalam lagu-lagu Efek RumahKaca yang bertema politik menunjukkan bahwa lirik lagu dari Efek Rumah Kacakaya dengan suara perlawanan kelas tertindas terhadap penguasa. Efek Rumah Kacaberperan sebagai representasi pihak minoritas yang tertindas, hal tersebut diketahuidengan melihat fungsi peran dalam lirik lagu. Pola narasi dalam lagu-lagu tersebutdapat dipahami sebagai penggambaran sebuah cerita yang memiliki pesanperlawanan terhadap aksi penindasan, yang dalam konteks ini aksi penindasan adalahdominasi penguasa yang bertindak semena-mena.Kedua, hasil analisis dari struktur paradigmatik dalam lagu-lagu Efek RumahKaca yang bertema politik menunjukkan adanya keterkaitan antara lagu dari EfekRumah Kaca dengan isu politik yang terjadi di Indonesia dan bagaimana sudutpandang Efek Rumah Kaca dalam menyikapi hal tersebut, seperti: Di Udara, yangbercerita tentang kematian pejuang HAM, Munir; Jalang, yang mengkritikRancangan Undang-Undang Anti-Pornografi dan Pornoaksi; dan Hilang, yangmembawa semangat menolak lupa akan peristiwa penculikan sejumlah aktivis padaera Orde Baru. Dari hasil analisis ini juga menjabarkan bagaimana keberpihakanEfek Rumah Kaca dalam memandang isu politik yang ada. Beberapa lagu di atasseperti memperlihatkan respon fisik ketidakpuasan Efek Rumah Kaca terhadappemerintah Indonesia, seperti kasus Munir yang hingga kini belum menemui titikterang siapa dalang dibaliknya atau kasus hilangnya sejumlah aktivis pada masa OrdeBaru hingga kini para keluarga korban belum juga mendapat penjelasan daripemerintah.Ketiga, struktur sintagmatik dalam lagu-lagu Efek Rumah Kaca yangbermuatan isu sosial mendeskripsikan bahwa Efek Rumah Kaca memposisikan dirisebagai individu yang mendapatkan pengalaman secara langsung terhadap fenomenasosial. Lagu-lagu yang bertema sosial ini digunakan oleh Efek Rumah Kaca sebagairenungan untuk mengoreksi diri, media pembelajaran tentang hidup agar dapatmenjadi lebih baik di kemudian hari.Keempat, Berdasarkan analisis paradigmatik yang dilakukan pada beberapalagu Efek Rumah Kaca bermuatan isu sosial, dapat dipahami sebagai pernyataanopini mereka terhadap fenomena sosial yang terjadi. Lagu-lagu Efek Rumah Kacaseperti Kenakalan remaja di era informatika, yang bercerita tentang fenomena pararemaja yang bugil di depan kamera; Desember yang bercerita tentang musimpenghujan yang sering menimbulkan bencana; dan Balerina, yang berbagipengalaman tentang dinamika serta keseimbangan dalam hidup. Di sini terlihatbahwa Efek Rumah Kaca memiliki kepekaan dalam menangkap kondisi sosial yangada di masyarakat dan memberikan opini tentang apa yang mereka rasakan. Haltersebut menempatkan Efek Rumah Kaca pada level berkesenian yang lebih tinggidari pada band-band baru bermunculan yang hanya mementingkan aspek ekonomisemata.