Articles

Found 22 Documents
Search

140 PEMETAAN BATIMETRI PERAIRAN DANGKAL MENGGUNAKAN CITRA QUICKBIRD DI PERAIRAN TAMAN NASIONAL KARIMUN JAWA, KABUPATEN JEPARA, JAWA TENGAH Nurkhayati, Rina; Khakhim, Nurul
Jurnal Bumi Indonesia Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Fakultas Geografi UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknologi penginderaan jauh melakukan penyadapan informasi titik kedalaman di perairan dangkal memanfaatkan panjang gelombang yang memiliki respon spektral baik terhadap obyek perairan dan dapat menembus perairan hingga kedalaman tertentu. Metode rasio linear yang dikembangkan Stumpf, nilai pantulan citra berhubungan eksponensial dengan nilai kedalaman aktual.Hubungan eksponensial ini dilinearkan dengan mengubah nilai pantulan menjadi nilai ln pantulan sehingga hubungan eksponensial ini menjadi hubungan linear yang membentuk persamaan empiris untuk memperoleh nilai estimasi kedalaman.Nilai kedalaman yang dipakai adalah nilai kedalaman hasil dari persamaaan regresi terbaik yang dilihat dari nilai koefisien deteminasi, koefisien korelasi dan nilai RMS error. Dalam penelitian ini, persamaan regresi terbaik adalah menggunakan rasio Lnsaluran biru-Lnsaluran hijau, yaitu persamaan y = 264.5x - 224.9, nilai koefisien determinasi` 0,711, koefisien korelasi 0.843dan RMS error terkecil 2.30929205992788. Nilai kedalaman berkisar 0-28 meter.Kata kunci : Batimetri, perairan dangkal, Quickbird
KAJIAN ALGORITMA PENGOLAHAN CITRA AQUA/ TERRA MODIS UNTUK IDENTIFIKASI DAN MONITORING TUMPAHAN MINYAK (OIL SPILL) DI LAUT TIMOR TAHUN 2009 Yananto, Ardila; Khakhim, Nurul; Hidayati, Iswari Nur
Jurnal Bumi Indonesia Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012
Publisher : Fakultas Geografi UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui algoritma yang lebih optimal dalam pengolahan citra MODIS, khususnya untuk digunakan dalam proses identifikasi dan monitoring tumpahan minyak di perairan laut. Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui bagaimana pola persebaran tumpahan minyak di perairan Laut Timor akibat ledakan anjungan minyak Montara yang terjadi tahun 2009. Berdasarkan uji akurasi yang dilakukan dapat diketahui bahwa metode klasifikasi citra Maximum Likelihood, gabungan PC13 dan NDVI memiliki nilai akurasi paling baik untuk identifikasi tumpahan minyak di perairan Laut Timor. Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis yang dilakukan dapat diketahui jika pola persebaran tumpahan minyak di perairan Laut Timor yang berasal dari anjungan minyak Montara cenderung menyebar mengikuti arah pergerakan angin. Selain itu dapat diketahui juga bahwa total luas perairan laut yang tercemar oleh tumpahan minyak dari tanggal 30 Agustus 2009 sampai 2 November 2009 kurang lebih seluas 22.673,10 km2, dimana seluas 4.285,01 km2 terdapat di perairan laut Indonesia. Kata kunci : tumpahan minyak, MODIS, metode optimal, identifikasi, monitoring
PEMANFAATAN CITRA DIGITAL ALOS AVNIR-2 DAN SIG UNTUK EVALUASI SUMBERDAYA LAHAN DI WILAYAH PESISIR BANTUL Manuhoro, Rr. Anna Dyah Retno; Khakhim, Nurul
Jurnal Bumi Indonesia Volume 1, Nomor 3, Tahun 2012
Publisher : Fakultas Geografi UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian sumberdaya lahan di wilayah pesisir Kabupaten Bantul, Propinsi D.I. Yogyakarta berdasarkan penilaian parameter fisik lahan hasil interpretasi citra ALOS AVNIR-2 untuk permukiman, pertanian, perikanan darat (tambak), dan wisata (rekreasi pantai) menggunakan metode Arithmatic Matching (AM) dan Weight  Factor Matching (WFM) dalam menentukan klasifikasi kesesuaian sumberdaya lahan. Berdasarkan pengolahan data citra ALOS AVNIR-2 menghasilkan peta satuan lahan dan data sumberdaya lahan wilayah pesisir diuraikan menjadi beberapa parameter yang dilihat dari kriteria penilaian kesesuaian sumberdaya lahannya menghasilkan persentase kesesuaian sumberdaya lahan untuk permukiman kelas sesuai (S1) 35,59%; untuk pertanian kelas sesuai (S1) yaitu 59,64%; untuk perikanan darat (tambak) kelas sesuai (S1) 37,75%; serta untuk wisata (rekreasi pantai) kelas sesuai (S1) adalah 21,21%. Penggunaan metode AM tidak selalu dapat berdiri sendiri melainkan memerlukan tambahan penggunaan metode WFM. Kata kunci : Sumberdaya lahan pesisir, pengolahan ALOS AVNIR-2 dan SIG, metode AM (Arithmathic Matching) dan WFM (Weight Factor Matching).
KAJIAN PEMROSESAN CITRA DIGITAL ASTER MULTITEMPORAL UNTUK DETEKSI TELAGA DAN TERKAIT PERMUKIMAN DI KAWASAN KARST KABUPATEN GUNUNGKIDUL Luthfiyah, Luthfiyah; Khakhim, Nurul; Hidayati, Iswari Nur
Jurnal Bumi Indonesia Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Fakultas Geografi UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan (1) mengkaji citra ASTER multitemporal dalam memetakan sebaran Telaga, (2) mengkaji beberapa transformasi citra yang paling efektif, (3) menganalisis hubungan distribusi Telaga dan distribusi permukiman di kawasan karst Kabupaten Gunungkidul. Ekstraksi nilai transformasi citra Band Rationing, NDVI, dan NDWI digunakan untuk mendeteksi Telaga. Klasifikasi multispektral maximum likelihood dilakukan untuk mengetahui penggunaan lahan sebagai analisis keberadaan permukiman. Least cost path analysis digunakan untuk menganalisis hubungan distribusi Telaga dan distribusi permukiman. Akurasi paling tinggi pada peta sebaran Telaga dari transformasi NDWI (86,6%). Kedua dari transformasi Band Rationing (85,7%) kemudian transformasi NDVI (84,2%). Uji akurasi dari peta penggunaan lahan memiliki nilai akurasi yang baik (85,71%). Jarak terdekat Telaga dengan keberadaan permukiman adalah sebesar 3,2 km. Pada radius 3,2 km ini sebanyak 1746 rumah tangga dari 1997 rumah tangga tidak menggunakan air PAM untuk dikonsumsi. Untuk itu keberadaan air Telaga sangat dimanfaatkan oleh penduduk.Kata kunci: Telaga, Band Rationing, NDVI, dan NDWI
ANALISIS KARAKTERISTIK AKUIFER BERDASARKAN PENDUGAAN GEOLISTRIK DI PESISIR KABUPATEN CILACAP JAWA TENGAH Purnama1, Setyawan; Febriarta, Erik; Cahyadi, Ahmad; Khakhim, Nurul; Ismangil, , Lili; Prihatno, Hari
Pendidikan Geografi Vol 11, No 22 (2013): Volume 11 Nomor 22 Desember 2013
Publisher : Pendidikan Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Airtanah merupakan sumberdaya potensial untuk memenuhi kebutuhan air manusia. Keberadaanya di alam berbeda-beda menurut ruang dan waktu. Keberadaan airtanah sangat terkait dengan karakteristik akuifer di suatu wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik akuifer. Peneiltian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik akuifer yangmeliputi jenis material dan ketebalan akuifer. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode geolistrik dengan konfigurasi Schlumberger. Hasil analisis menunjukkan bahwa  akuifer potensial terdapat pada titik A,C,D dan E. Titik-titik tersebut memiliki material akuifer berupa pasir sampai dengan krakal dengan ketebalan lebih dari 70 meter. Selain itu,  hasil penelitian menunjukkan bahwa material pada titik B,F,G,H dan I. didominasi oleh material lempung dan lanau dengan kedalaman lebih dari 70 meter. Hal ini menunjukkan bahwa pada titik-titik tersebut merupakan lokasi dengan potensi airtanah yang kecil.   Kata Kunci: Airtanah, Akuifer, Cilacap, Geolistrik, Pesisir
Analisis Ekologis Meiofauna Sebagai Bioindikator Di Pesisir Pantai Losari, Makassar Yusal, Muh Sri; Marfai, Muh Aris; Hadisusanto, Suwarno; Khakhim, Nurul
bionature Vol 19, No 1 (2018): April
Publisher : Fakultas MIPA UNM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35580/bionature.v19i1.7308

Abstract

Abstract.  The research aims to analyze ecological value of meiofauna as bioindicator in Losari Coast, Makassar. The total meiofauna abundance was 66791 indv/m2, consisted of 12 phylum and 91 species/genus. The stations located at the mouth of the Jeneberang River, Tanjung Merdeka, and the Tallo River  are research sites with high levels of abundance, due to the presence of organic contaminants produced by surrounding anthropogenic activity that trigger high growth of meiofauna.  ostracoda, oligochaeta, tunicata and ciliophora are the phylum with high levels of abundance compared to other meiofauna, as it that phylum has a high adaptability to the entry of pollutant material in the water. Diversity index and evenness indicates  the meioufauna in the Losari Coast categorized by a high level of diversity and evenly distributed. While  dominance index indicated that no dominant meifauna species, except at research stations located around the Losari Beach reclamation project. Keywords: Abundance, meiofauna, anthropogenic, Coastal Losari Beach, Makassar
Mapping of Marine Area Boundary of Central Java Province using Differential GPS Survey Method Khakhim, Nurul; Dulbahri, Dulbahri; Widartono, Barandi Sapta
Forum Geografi Vol 16, No 2 (2002)
Publisher : Forum Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1525.824 KB)

Abstract

The development of GPS (Global Positioning System) technology which is measuring position by satellite, has taken a great metodology aspect of position on surface of earth. The standard GPS measurement takes an absolute positioning. To develop the accurate abd precision, it is used the differential method. Differential GPS measurement can be much more accurate than standard GPs measurement, wherever the method uses one receiver as base station/ reference and the other receiver as field station in a same time. That could reduce and eliminate drifts and errors. The aim of research is use the differential method of GPS survey to map the ocean boundary of Central Java Province. Physical data which neede are base line and base point. Base line were taken from obsrvation of longtime Landsat TM image band 5th based o opinion that shore line are clear seems and easy to interpreted at 10.00 am according to Landsat satellite reording time and the lowest tide time as base line. Location of lowest tide were selected at conspicuous place, such as cape, dry shore, etc and measured base on the BPN (Badan Pertahanan Nasional) base/ reference point (orde 2 and 3) on the district, with GPS differential metod. Twelve miles distance from base line of ocean bounddary is belong to province and 1/3 of is belong to district. Characteristic of marine landform as cape, bay, estuaria, attended to international rules. Final report of the research were 1) oean boundary map of Center Java Province, 2) the location and base/ reference points (orde 2 and 3) that could be reference as a base point differential method.
The Application of Global Positioning System (GPS) in Mapping Survey of Historical and Archeological Site Khakhim, Nurul
Forum Geografi Vol 16, No 1 (2002)
Publisher : Forum Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1360.994 KB)

Abstract

Technical development of Global Positioning System (GPS) is the positional determination system of ground control point in the earth surface, which based on satellite. It leads to the significant influence on the methodological aspect of positional determination survey in the earth surface. Global Positioning System gives the three dimension position (X, K Z) or longitudinal, latitude and altitude which are formulated in the reference of World Geodetic System (WGS) in 1984. The data characteristic is the first data, which is required in the survey of limit mapping of historical and archeological site. This article tries to explain the possibility of using the technology of Global Positioning System (GPS) to map the archeological site which contains of potential, ohstacle, methodology and case study in Boko Prambanan temple area. It is also utilized to the possibility of using the Geographical Information System (GIS) to analyze the spatial existence site of environmental condition.
PENGARUH PASANG SURUT TERHADAP DINAMIKA PERUBAHAN HUTAN MANGROVE DI KAWASAN TELUK BANTEN Anurogo, Wenang; Lubis, Muhammad Zainuddin; Khakhim, Nurul; Prihantarto, Wikan Jaya; Cannagia, Lingga Renggana
Jurnal Kelautan Vol 11, No 2 (2018)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.846 KB) | DOI: 10.21107/jk.v11i2.3804

Abstract

Luas hutan mangrove Indonesia menurun sekitar 4,5 juta ha menjadi 1,9 juta ha. Penurunan luas hutan mangrove paling dominan disebabkan oleh faktor manusia. Pemantauan tingkat kerusakan hutan mangrove dengan menggunakan metode konvensional memakan waktu lama dan mahal. Pemantauan tingkat kerusakan ini sangat penting bagi para stakeholder dalam mengelola kawasan hutan mangrove. Pemanfaatan data spasial dapat memudahkan dan mempercepat interaksi dengan benda-benda di permukaan bumi. Tahapan dalam penelitian ini meliputi tiga bagian, yaitu tahap pre-field, field dan post-field. Tahap pre-field termasuk pengumpulan data, pengolahan gambar, dan identifikasi tutupan lahan di daerah penelitian untuk setiap tahunnya. Data tutupan ekstraksi dari data citra penginderaan jauh di setiap tahun kemudian dipisahkan dari data tutupan lahan mangrove. Data tutupan lahan mangrove untuk tahun pencatatan 2017 digunakan sebagai unit analisis yang digunakan sebagai basis referensi untuk pengambilan informasi di lapangan. Tahap post-field dimaksudkan untuk memproses data yang dikumpulkan, analisis statistik, menguji keakuratan hasil perubahan dan menilai kemampuan gambar penginderaan jauh dalam mengidentifikasi hutan mangrove dan transfer fungsi utilitas mereka. Luas hutan mangrove di Kabupaten Banten sekitar 681,86 Ha. Penyebaran hutan mangrove terbesar adalah di kecamatan Tirtayasa dan Pontang. Kedua kawasan tersebut memiliki nilai persentase 29,75% dan 28,46% dari total luas hutan mangrove di Teluk Banten. Tingkat distribusi terkecil adalah Kabupaten Kramatwatu yang hanya sekitar 3,11% atau 21,19 Ha dari total luas hutan mangrove di Teluk Banten.Kata kunci: Mangrove, Dinamika perubahan mangrove, Data Spasial, Pasang SurutABSTRACTThe extent of Indonesia's mangrove forest declines from the initial area of about 4.5 million ha to 1.9 million ha. The decline in the area of mangrove forest is most dominant due to the damage caused by human factors. Monitoring the extent of mangrove forest destruction by using conventional methods takes a long time and is expensive. Monitoring this level of damage is very important for the stakeholders in managing the mangrove forest area. Utilization of spatial data can facilitate and accelerate in interacting with objects found on the surface of the earth. Stages in this research outline include three parts, namely pre-field stage, field stage and post-field stage. The pre-field stage includes data collection to be used, image processing, and land cover identification in the research area for each year of image recording. The cover data of the extraction from remote sensing image data in each recording year is then separated from mangrove land cover data. The mangrove land cover data for the recording year 2017 is then used as the unit of analysis used as the reference base for information retrieval in the field by using the sample. The post-field stage is intended to process the data collected, statistical analysis, test the accuracy of the results of changes and assess the capabilities of remote sensing images in identifying mangrove forests and transfer of their utility functions. The mangrove forest in Banten regency is about 681.86 Ha. The largest spread of mangrove forest is in Tirtayasa and Pontang sub-districts. The two sub-districts have a percentage value of 29.75% and 28.46% of the total mangrove forest area in Banten Bay. The smallest extent of distribution is in Kramatwatu District which is only about 3.11% or 21.19 Ha of the total area of mangrove forest in Banten Bay.Keywords: Mangrove, Dynamics of mangrove changes, Spatial Data, Tidal
Pemilihan Lokasi Kawasan Konservasi Mangrove dengan Pendekatan SIG Partisipatif di Wilayah Pantai Kabupaten Demak Nurrohmah, Elida; Sunarto, Sunarto; Khakhim, Nurul
Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 2 (2016): September 2016
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.15639

Abstract

Penentuan lokasi kawasan konservasi berkaitan dengan keputusan penggunaan lahan, yang melibatkan banyak aktor dan faktor. Analisis yang bersifat multifaktor dapat diselesaikan dengan memanfaatkan Sistem Informasi Geografis (SIG), namun penilaiannya hanya berdasarkan pada penilaian tunggal dari seseorang ataupun suatu institusi. Penelitian ini berusaha untuk mengintegrasikan analisis yang bersifat multiaktor dan multifaktor melalui analisis multikriteria dengan SIG berbasis partisipasi masyarakat untuk memilih lokasi kawasan konservasi mangrove. Kriteria yang dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi ini meliputi aspek (i) fisik, (ii) sosial, (iii) pembiayaan, dan (iv) ancaman. Kriteria aspek fisik disusun berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan untuk mangrove. Kriteria aspek sosial, pembiayaan, dan ancaman disusun berdasarkan data sosial kependudukan yang diperoleh melalui studi literatur. Partisipasi masyarakat dalam proses pemilihan lokasi ini terletak pada penentuan bobot kriteria melalui perbandingan kriteria berpasangan dan dianalisis dengan teknik Analytical Hierarchial Process (AHP), serta penggalian informasi lokal melalui pemetaan partisipatif. Bobot kriteria setiap pemangku kepentingan diintegrasikan dengan data spasial melalui operasi perkalian raster untuk menghasilkan lokasi kawasan konservasi mangrove terpilih kombinasi seluruh pemangku kepentingan. Hasil analisis kesesuaian lahan menunjukkan bahwa lahan dengan kelas sesuai untuk mangrove seluas 11.564 ha (94,8% dari luas daerah penelitian) dan sesuai marginal seluas 629 ha. Pemangku kepentingan pada tingkat lokal (kelompok mangrove, petani tambak, dan tokoh masyarakat) lebih memprioritaskan aspek sosial dibandingkan aspek fisik, pembiayaan, dan ancaman; sedangkan pemerintah daerah lebih memprioritaskan aspek pembiayaan. Dengan prioritas tersebut, lokasi kawasan konservasi mangrove  paling memenuhi prioritas pemangku kepentingan (prioritas I) didapati seluas 51,7 ha; terletak di wilayah pantai Desa Babalan dan lahan tambak garam di Desa Kedungmutih, Kecamatan Wedung; sedangkan lokasi yang cukup memenuhi prioritas pemangku kepentingan (prioritas II) didapati seluas 1.626,9 ha terletak di wilayah pantai Kecamatan Wedung, Bonang, dan sebagian kecil Karangtengah.