Articles

Found 24 Documents
Search

MODEL OPTIMASI POLA TANAM PADA LAHAN KERING DI DESA SARIMUKTI KECAMATAN PASIRWANGI KABUPATEN GARUT

Jurnal Teknotan Vol 1, No 1 (2007)
Publisher : Jurnal Teknotan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Garut residence, as one of the main agriculture area in West Java Province, in the year of 2001 Garut government has decided to developed dry land plants, because the dry land has an extensive area compared to the wet land area in Garut. In contrast the income of the dry land farmers are remaining low. The research was carried out on March to September 2006. The aim of this research is to decide the optimal plantation pattern so can gain a maximal profit, and also find out the level of farmer’s earning before and after the optimizing process was conducted. Alternative patterns of plantation which can be developed are potatoes, cabbage, string bean, mustard greens, peas and red pepper chili for first plantation season. In the second plantation, the optimal patterns are cabbage, mustard greens and cauliflower.   In the third plantation season, the alternative pattern is potato, cauliflower, string bean and mustard greens. Keywords:  Garut, optimized pattern of plantation

PENGGUNAAN TEKNIK PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK MENENTUKAN POTENSI KETERSEDIAAN AIR TANAH Kasus di Sub DAS Cisangkuy, DAS Citarum Bandung

Jurnal Teknotan Vol 2, No 3 (2008)
Publisher : Jurnal Teknotan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Informasi ketersediaan air tanah sangat diperlukan dalam perencanaan pertanian, manajemen irigasi dan perencanaan pola tanam. Agar dapat menggambarkan sebaran spasial informasi ketersediaan air suatu suatu wilayah secara lebih rinci, maka informasi data visual geografik menjadi sangat menarik untuk digunakan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan distribusi spasial ketersediaan air tanah menggunakan teknik penginderaan jauh dan sistem informasi geografis. Penelitian ini dilakukan dengan metode kesetimbangan air yang dikemukakan oleh Thornthwaite menggunakan input data visual geografis yang berupa peta dan citra satelit. Penggunaan data input visual diharapkan mampu menggambarkan sebaran nilai ketersediaan air tanah secara rinci mengikuti sebaran geografis sesuai kondisi di lapangan. Dalam penelitian ini dibandingkan pula dua jenis input data yang digunakan yaitu input peta karakteristik lahan serta input dari citra dan informasi topografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan data input spasial dapat menggambarkan distribusi nilai ketersediaan air tanah. Penggunaan citra satelit dan informasi topografi ternyata lebih handal dibandingkan input peta karakteristik lahan. Kehandalan tersebut dapat dilihat dari angka root mean square (RMS) dan angka koefisien korelasi. Nilai RMS untuk masing-masing cara yaitu 27,8% untuk input peta karakteristik lahan serta 21.3% untuk penggunaan indeks kelembaban dan indeks topografi. Sedangkan angka koefisien korelasi untuk input peta karakteristik lahan adalah 0,6, serta angka koefisien korelasi untuk input indeks kelembaban dan indeks topografi adalah 0,65. Kata kunci : Ketersediaan Air, Sistem Informasi Geografis, Penginderaan jauh, Kesetimbangan air 

KAJIAN PENGGUNAAN PROGRAM TITEDA DALAM PENGELOLAAN DATA DEBIT DI DAS HULU CITARUM

Jurnal Teknotan Vol 2, No 2 (2008)
Publisher : Jurnal Teknotan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji sejauhmana perangkat lunak Titeda dapat diaplikasikan dalam pengelolaan data debit di DAS Citarum Hulu.Penelitian dilakukan dari bulan April sampai dengan September 2007, dengan menggunakan metode penelitian deskriptif analitik. Dari hasil olahan software Titeda menunjukkan bahwa curah hujan rata-rata selama 10 tahun di stasiun Batujajar DAS Citarum Hulu sebesar 1,553 mm/hari dengan jumlah hujan selama 10 tahun sebesar 10158 mm. Curah hujan minimum sebesar 0,0 mm (tidak terjadi hujan) dan curah hujan maksimum 85 mm. Tinggi Muka Air DAS Citarum Hulu pada stasiun Cimahi-Cicakung selama 10 tahun maksimum sebesar 1,73 m dan minimum sebesar 0,115 m. Debit sungai DAS Citarum Hulu di stasiun Cimahi Cicakung selama 10 tahun menunjukkan debit maksimum sebesar 8,00 m3/detik dan debit minimum sebesar 6,67 m3/detik. Kata kunci : Titeda, Debit, DAS Citarum Hulu

PENGGUNAAN METODE FUZZY DALAM PENENTUAN LAHAN KRITIS DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI DAERAH SUBDAS CIPELES

Jurnal Teknotan Vol 1, No 2 (2007)
Publisher : Jurnal Teknotan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Untuk mengatasi permasalahan akibat ketidakpastian identifikasi, ketidakpastian kualitatif dalam menilai lahan kritis melalui Sistem Informasi Geografis (GIS) dengan metode skoring, telah dilakukan penelitian dengan menggunakan metode fuzzy. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi alternatif rujukan metode dalam penentuan lahan kritis diberbagai instansi yang kerap kali menggunakan data spasial terutama yang berkaitan dengan bidang pertanian dan kehutanan. Penelitian dilakukan di subDAS Cipeles, DAS Cimanuk, Kabupaten Sumedang dari tanggal 21 Agustus 2006 hingga 30 September 2006. Analisis dilakukan di Laboratorium Sistem & Manajemen Keteknikan Pertanian, Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran, Kampus Jatinangor. Alat bantu analisis yang digunakan adalah GPS (global positions system) beserta software-nya yaitu  ArcView 3.3, AV spatial analyst 2.0a (extension ArcView), AV 3D analyst 1.0.(extension ArcView), MatLab ver.7.0.1, SPSS 13.0, Office acces 2003, dan Office excel 2003. Metode analisis fuzzy berbeda dengan metode skoring, yang biasa dilakukan dalam analisis spasial pada data GIS. Data diskrit pada metode skoring terlebih dahulu diubah ke dalam data dari fungsi keanggotaan fuzzy melalui pendekatan interpolasi fuzzy. Hasil interpretasi data melalui metode fuzzy dengan defuzzifikasi Centre of Grafity (COG) menunjukkan bahwa Metode fuzzy mampu mengatasi ketidak pastian dalam klasifikasi data lahan kritis yang disajikan dalam bentuk diskrit, dimana dari hasil uji Wilcoxon interpretasi hasil analisis fuzzy mendekati kondisi yang sebenarnya di lapangan. Kata kunci: Sistem Informasi Geografis (GIS), Analisis Fuzzy

PENGGUNAAN TRANSFORMASI NDVI (NORMALIZED DEFFERENCE VEGETATION INDEX) UNTUK IDENTIFIKASI SUHU PERMUKAAN LAHAN PADA CITRA SATELIT LANDSAT TM ”STUDI KASUS DI SUB DAS CISANGKUY KABUPATEN BANDUNG”

Jurnal Teknotan Vol 2, No 1 (2008)
Publisher : Jurnal Teknotan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Informasi suhu sangat penting bagi para perencana wilayah dalam menganalisis potensi ketersediaan air, perencanaan kalender tanam, kekeringan dan sebagainya. Informasi suhu permukaan sering kali masih berupa data titik, artinya informasi tersebut diperoleh pada suatu stasiun (satu lokasi) yang mewakili suatu wilayah. Informasi suhu secara spasial sering kali juga diturunkan dari informasi titik (data stasiun) dengan model interpolasi menjadi kontur suhu. Padahal informasi suhu adalah informasi spasial yang secara dinamik setiap lokasi mempunyai nilai yang mencerminkan nilai temparetur lokasi tersebut. Namun jika pemetaan secara langsung itu dilakukan akan membutuhkan waktu dan biaya yang sangat besar. Oleh sebab itu perlu kiranya dicari suatu metode yang memungkinkan dapat menggambarkan distribusi suhu yang handal dengan efisien. Penginderaan jauh sebagai suatu ilmu yang dapat menggambarkan informasi kebumian secara baik memungkinkan digunakan sebagai suatu metode pemetaan distribusi suhu permukaan.Perkembangan penginderaan jauh dan teknologi satelit memungkinkan memperoleh informasi yang handal dalam memetakan suatu informasi. Informasi suhu permukaan merupakan salah satu hasil interaksi antara intensitas sinar matahari dengan karakteristik lahan. Interaksi intensitas sinar matahari dan karakteristik lahan digunakan sebagai metode untuk identifikasi suhu permukaan. Identifikasi informasi karakteristik lahan yang handal dalam remote sensing adalah penggunaan transformasi NDVI (Normalized Vegetation Index). Oleh sebab itu dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan NDVI untuk indentifikasi suhu permukaan. Hasil NDVI dikonversi menjadi suhu permukaan. Analisis kesalahan digunakan untuk menguji kehandalan metode ini melalui data lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa NDVI mampu digunakan sebagai cara untuk identifikasi suhu permukaan. Kesalahan yang terjadi antara suhu permukaan hasil NDVI dengan data lapangan adalah 1,76. Kata kunci : Suhu permukaan, Penginderaan jauh, Citra Satelit Landsat TM, NDVI (Normalized Defference Vigetation Index)

IDENTIFIKASI DISTRIBUSI LAHAN KRITIS BERDASARKAN METODE ANFIS (ARTIFICIAL NEURO-FUZZY INFERENCE SYSTEM) STUDI KASUS DI SUB DAS CILAKI HULU, DAS CITARUM HULU

Jurnal Teknotan Vol 5, No 1 (2011)
Publisher : Jurnal Teknotan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertumbuhan lahan kritis yang cepat perlu dicegah melalui identifikasi distribusi spasial lahan kritis. Dalam kajian ini metode sistem inferensi Neuro-Fuzzy buatan - Artificial neuro-fuzzy inference system (ANFIS) digunakan untuk identifikasi kekritisan lahan. Hasil kajian menunjukkan bahwa ANFIS dapat digunakan untuk identifikasi kekritisan lahan dengan mempertimbangkan jumlah faktor penentu, kualitas data training dan pembobotan untuk masing-masing variabel. Dari hasil analisis kehandalan menunjukkan bahwa tingkat kesalahan ANFIS dalam analisis kekritisan lahan 0.75. Kendala terjadi pada tingkat ketelitian data yang beragam, sehingga tingkat akurasi mengikuti akurasi data terrendah. Selain itu,  dalam penentuaan aturan ANFIS tidak dilakukan pembobotan antar variabel, sehingga variabel mempunyai derajat pengaruh yang sama antar variabel.  Kata kunci : Kekritisan lahan, Artificial Neuro-Fuzzy Inference System (ANFIS), Distribusi spasial

EVALUASI METODE PRAKIRAAN IKLIM DI WILAYAH KARAWANG MENGGUNAKAN KARAKTERISTIKA OPERASI RELATIF (ROC) Evaluation of Climate Prediction Method in Karawang Region Using Relative Operating Characteristics (ROC)

Jurnal Teknotan Vol 8, No 2 (2014)
Publisher : Jurnal Teknotan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Informasi mengenai prakiraan musim hujan untuk menentukan awal musim hujan dan awal musim kemarau diperlukan dalam penentuan awal musim panen dan penyusunan pola tanam yang akan diterapkan di suatu lokasi berdasarkan pengamatan terhadap data pola cuaca dan pola curah hujan harian atau bulanan. Metode ROC (Relative Operating Characteristic) digunakan sebagai alat untuk menguji kehandalan data yang diperoleh. Nilai prakiraan, dalam penelitian ini diperoleh berdasarkan data curah hujan di stasiun curah hujan Karawang tahun 1971-2007, dan data indeks Sea Surface Temperature (SST) dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai prakiraan awal musim hujan maju atau mundur dapat dihitung cukup baik dengan potensi proposional, di mana kurva hasil prakiraan musim hujan maju lebih baik daripada prakiraan musim hujan mundur. Kata Kunci: Evaluasi, nilai prakiraan, karakteristika operasi relatif (ROC) Information for predicting rainy season in the determination of rainy and dry seasons is required in determining the beginning of harvesting time and in arranging what plant pattern would be applied and developed in a certain location. The prediction is based on climate pattern as well as on daily or monthly rainfall pattern observation. ROC (Relative Operating Characteristic) method was used as a mean to test the reliability of the data obtained. The predicted value in this research was based on data of Karawang’s rainfall station of 1971 up to 2007 and those of the index of sea surface temperature of BMKG (The Office of Meteorology, Climatology and Geophysique). Result analysis showed that the forward or retreat values of the beginning of rainfall seasons could be sufficiently well calculated at a proportional potency where ROC curve obtained was at a level above normal and the result curve of forward rainfall prediction was better than that of the retreat curve.Keywords: Evaluation, Predicted value, relative operation characteristics (ROC)

PEMILIHAN LOKASI KOLAM PENGEMBANGAN EMBUNG POTENSIAL SEBAGAI ALTERNATIF SUMBER AIR IRIGASI UNTUK USAHATANI LAHAN KERING BERDASARKAN PARAMETER FISIK LAHAN - STUDI KASUS DI LAHAN KERING SUB DAS CITARIK

Jurnal Teknotan Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Jurnal Teknotan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembuatan kolam embung untuk penampungan air hujan dapat dilakukan dengan tujuan sebagai cadangan air di musim kemarau, agar produktivitas lahan dapat dipertahankan. Penempatan kolam embung dapat melalui analisis Geography Information System (GIS).Penentuan kolam embung yang potensial dikembangkan dengan GIS ini dilakukan melalui tumpang susun dengan sistem skoring dan filtering. Skoring dilakukan untuk menentukan lokasi kolam potensial secara fisik, Sedang filtering digunakan untuk menentukan keterkaitan antara faktor lokasi dan faktor penggunaan lahan. Filtering menggunakan tabel  dua dimensi dilakukan untuk menggabungkan informasi potensi secara fisik dan lokasi dengan penggunaan lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarik. Hasil yang diperoleh menunjukkan distribusi lokasi-lokasi yang potensial untuk pengembangan kolam embung. Cara pendekatan ini dapat memberi hasil lebih baik, bila didukung oleh metode, kelengkapan dan ketelitian data yang mencakup  metode, kelengkapan dan ketelitian data (sosial ekonomi, kependudukan, kelompok tani, iklim). Kata kunci: Embung, Pemilihan lokasi, Potensi pengembangan, Analisis spasial, Lahan kering,                    DAS Citarik

ANALISIS PERHITUNGAN KEBUTUHAN OPTIMUM TRAKTOR RODA DUA DI KABUPATEN BANDUNG

Jurnal Teknotan Vol 10, No 1 (2016): Jurnal Teknotan, Agustus 2016
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.019 KB)

Abstract

Mekanisasi pertanian berperan penting dalam meningkatkan daya saing sektor pertanian. Efisiensi waktu dan biaya dapat dicapai dengan proses mekanisasi. Waktu panen juga dapat lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan tenaga kerja padat karya sehingga efisiensi biaya meningkat hingga 40%. Traktor sebagai salah satu produk mekanisasi telah banyak diaplikasikan di petani, akan tetapi kebutuhan optimum suatu daerah terhadap traktor seringkali belum diketahui. Kajian ini mencoba menghitung jumlah traktor yang dapat diserap secara optimum berdasarkan potensi lahan pertanian, perubahan lahan dan dinamika kependudukan di Kabupaten Bandung. Analisis yang digunakan dalam kajian ini adalah analisis desriptif menggunakan aplikasi analisis spasial untuk memperoleh data luasan area lahan pertanian eksisting maupun potensi berdasarkan arahan penggunaan lahan. Hasil analisis menunjukkan bahwa wilayah di sekitar Kabupaten Bandung jumlah kebutuhan traktor roda dua masih kurang, namun demikian jumlah kekurangan dalam analisis proyeksi menunjukkan kecenderungan menurun. Jumlah kebutuhan traktor pada tahun 2025 adalah 2237 untuk kebutuhan traktor dengan berdasarkan pada luas lahan dan proyeksi ketersediaan traktor adalah 2393.Kata kunci: Optimasi pengembangan traktor, neraca ketersediaan dan kebutuhan traktor, karakteristik lahan

Differences Growing Media In Autopot Fertigation System And Its Response To Cherry Tomatoes Yield

Indonesian Journal of Applied Sciences Vol 7, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.362 KB)

Abstract

Hydroponic cultivation system is one solution to overcome the limited agricultural land. This farming system is widely used in farming high-value horticulture, one of them is a cherry tomato plants. The key to success in the hydroponic system is the management of water and nutrients appropriate to the needs of plants. Nevertheless, fertigation system on hydroponic plant cultivation requires a fairly high production costs and dependent on electrical energy for circulation. This study aims to assess the application of fertigation systems that do not use electricity for the circulation of water and nutrients using autopot technology. Fertigation system using this autopot applied to the cherry tomato plants using three combinations of planting medium is husk-compost, husk charcoal-humus and husk-cocopeat with a ratio of 50%: 50%. The results showed that autopot system capable of supplying the needs of water and plant nutrients to the level of irrigation efficiency is very high also minus consumption of electrical energy. The combination of growing media and compost husk cherry tomato plants to respond favorably with yields of 4.72 kg/plant. Keywords : Hydroponics; Autopot technology; Growing media; Cherry tomatoes; Fertigation automation