Tri Harso Karyono
Staf Direktorat Teknologi Lingkungan BPP Teknologi dan Staf Pengajar Arsitektur di Jakarta

Published : 13 Documents
Articles

Found 13 Documents
Search

FUNGSI RUANG HIJAU KOTA DITINJAU DARI ASPEK KEINDAHAN, KENYAMANAN, KESEHATAN DAN PENGHEMATAN ENERGI Karyono, Tri Harso
JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol 6, No 3 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

       Town’s area needs both open and green spaces. This is not only for thesake of aesthetical requirement in shaping the town, but also to fulfill theneeds of fresher and cooler air for its inhabitants. Green area is required toaccommodate people social activities, and also to reduce air pollution –particularly in the form of carbon dioxide comes from vehicles. Besidesreducing air temperature, green area also benefit people by producing oxygenand absorbing dust. Green area must be provided adequately in the town, andbe controlled firmly by legislation. By the provision of sufficient and well-distributed green spaces in the town, people will be guaranteed to have suchlower air temperatures, fresher air and better living environment. This may beresulting, whether direct or indirectly, in reducing the consumption of energy inmany sectors in the town. This article discusses the way green space andvegetation are giving benefit to the inhabitants through several aspects asmentioned above.
KOTA TROPIS HEMAT ENERGI: MENUJU KOTA YANG BERKELANJUTAN DI INDONESIA Karyono, Tri Harso
JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol 7, No 1 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Modern life and modern technology require vast use of energy. The use ofenergy in the cities has been dramatically escalated within the last decades. Since most of energy consumed by people live in urban areas is from the non-renewable resources like fossil fuels, we will certainly face problems of energy crisis and global warming to sustain our cities livable in the future. Due to the moderate prevailing climate conditions, which are close to the comfort temperature, less energy will be required to modify indoor temperature suitable for human indoor activities. Since the dependency to the energy is small, people in the humid tropic may have better chances to sustain their cities livable in the future. However, most of Indonesian cities are designed in such away with little consideration to some important design factors as climate, environment, energy, green transportation and an adequate infra structure, like urban drainage. In return, many cities are nothealthy and convinience to be lived for and are not in line with the sustainable design approach. This article provides some discussion on how tropical cities in Indonesia must be planned and designed toward sustainable built environment. Energy as the main role in sustaining our built environment is taken as a priority here to be considered in designing our humid tropical cities of Indonesia. This is in order to achieve sustainable living environment for our future generation and us.
PENELITIAN KENYAMANAN TERMIS DI JAKARTA SEBAGAI ACUAN SUHU NYAMAN MANUSIA INDONESIA Karyono, Tri Harso
DIMENSI (Jurnal Teknik Arsitektur) Vol 29, No 1 (2001): JULY 2001
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The current standard for thermal comfort in Indonesia is based on ASHRAE 55 -1992 (the American Standard). This standard recommends a neutral temperature of 24.0 oCTo with the range of comfort between 22 and 26 oCTo Results from a thermal comfort study done by the author in Jakarta - in which some of 596 office workers from seven multi-storey office buildings were participated in this study - showed that these values were fairly too low to the average requirement of the Indonesian workers who were (about 95% of the sample population) still comfortable within the range temperature of 24.9 to 28.0 oC in terms of air temperature (Ta) or 25.1 to 27.9 oC in terms of operative temperature (To). The lower the values of the standard would result to the higher energy consumption in the air-conditioned building. It discusses also the effect of the so called external factors, such as gender, age, fatness, ethnic backgrounds, etc., on the state of human thermal comfort. Abstract in Bahasa Indonesia : Penelitian kenyamanan termis yang dilakukan penulis memperlihatkan sekitar 95% dari 596 karyawan/wati di beberapa bangunan tinggi di Jakarta merasa nyaman pada suhu udara (Ta) 26,4oC atau suhu operasi (To) 26.7oC. Sementara rentang nyaman antara 24.9 hingga 28.0 Ta dan 25.1 hingga 27.9 To. Dalam kondisi termis ini diperkirakan 90% responden merasa nyaman. Standar kenyamanan termis di Indonesia yang berpedoman pada standar Amerika [ANSI/ASHRAE 55-1992] merekomendasikan suhu nyaman 22.5o-26oC To, atau disederhanakan menjadi 24 oC + 2 oC To, atau rentang antara 22 oCTo hingga 26 oCTo. Perbedaan ini akan berakibat pada jumlah energi yang dikonsumsi oleh bangunan. Dibandingkan hasil penelitian diatas, suhu nyaman perencanaan bangunan berpengkondisi udara di Jakarta berada sekitar 2.5 oC To lebih rendah dibanding suhu rekomendasi ASHRAE. Paper ini juga menelaah beberapa faktor lain (jenis kelamin, usia, faktor gemuk, dsb.) - diluar enam faktor baku ISO - yang diperkirakan akan berpengaruh terhadap kenyamanan. Kata kunci: suhu udara, suhu operasi, suhu nyaman, sensasi termis.
WUJUD KOTA TROPIS DI INDONESIA: SUATU PENDEKATAN IKLIM LINGKUNGAN DAN ENERGI Karyono, Tri Harso
DIMENSI (Journal of Architecture and Built Environment) Vol 29, No 2 (2001): DECEMBER 2001
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (33.354 KB) | DOI: 10.9744/dimensi.29.2.

Abstract

Almost all the Indonesian cities are designed someway in which local climate, environmental aspect and energy conservation have been paid little inttention by the architecs and urban designers. The result is that most of the Indonesian cities have provided no good place for people living in. This articles tries to explore all the possibility aspects of climatic, environmental and energy, in which they may influence to the design of humid tropical cities of Indonesia. Some strategies are proposed to achieve a better urban design in terms of climate, environment and energy conservation. Abstract in Bahasa Indonesia : Sebagian besar kota di Indonesia dirancang tanpa memperhatikan beberapa aspek seperti halnya iklim, kesehatan lingkungan dan penghematan energi. Akibatnya, beberapa kota tersebut menjadi tidak cukup nyaman bagi warga setempat untuk tinggal dan bekerja. Tulisan ini dimaksudkan untuk menganalisis berbagai aspek yakni, iklim, lingkungan dan energy, yang berpengaruh terhadap rancangan kota tropis di Indonesia. Beberapa strategi pemecahan yang berkaitan dengan aspek tersebut di atas dicoba untuk ditawarkan melalui tulisan ini. Kata kunci: energi, iklim, Indonesia, kota tropis basah, lingkungan.
TENAGA SURYA DAN ARSITEKTUR: SUATU ANALISIS LINGKUNGAN DAN PERANCANGAN Karyono, Tri Harso
DIMENSI (Journal of Architecture and Built Environment) Vol 31, No 1 (2003): JULY 2003
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.41 KB) | DOI: 10.9744/dimensi.31.1.

Abstract

This paper discusses the potential use of solar energy in building as an alternative solution of energy resources to reduce the negative impact in burning fossil fuels to the environment. It higlights the positive aspects in environment by generating solar energy and also discusses the aesthetical values in employing solar panels on buildings. Abstract in Bahasa Indonesia : Isue mengenai pemanasan bumi yang diakibatkan oleh produksi gas karbon dioksida sebagai akibat pembakaran bahan bakar minyak (minyak bumi, batu bara, gas alam) memaksa ilmuwan, pakar energi, akhli lingkungan, serta pihak-pihak lain yang terkait untuk ikut memikirkan penggunaan energi alternatif yang aman. Tenaga nuklir yang tidak menghasilkan gas buang semacam karbon dioksida, ternyata bukan merupakan solusi energi alternatif yang baik karena meninggalkan sampah radioaktif yang belum ada solusi pembuangan yang diangap aman untuk masa yang akan datang. Tenaga surya, yang umumnya sudah digunakan secara tradisional sejak ratusan abad yang silam, perlu mendapat perhatian. Pemanfaatan tenaga surya baik secara pasif maupun aktif bagi bangunan perlu mendapat perhatian dari para arsitek. Pemanfaatan tenaga surya secara aktif, dimana tenaga surya dikonversikan terlebih dahulu menjadi tenaga listrik dengan solar sel, seyogyanya tidak berdiri sendiri, perlu diintegrasikan dengan aplikasi perancangan secara pasif. Perancangan secara aktif bertujuan untuk mengurangi beban listrik yang berasal dari minyak bumi - secara langsung mengurangi jumlah gas karbon dioksida yang dibuang ke udara, sedangkan perancangan pasif bertujuan untuk mengurangi beban penggunaan energi listrik - yang berasal dari sumber listrik apapun - di dalam bangunan. Makalah ini membahas isue yang diutarakan diatas, dimana pada akhirnya memberikan contoh dari suatu karya arsitektur yang dianggap berhasil dalam mengaplikasikan strategi perancangan secara aktif (menggunakan solar sel) serta tidak meninggalkan sterategi perancangan secara pasif. Kata kunci: bangunan, karbon dioksida, minyak bumi, pemanasan bumi, photovoltaic (solar sel), rancangan aktif, rancangan pasif, tenaga surya
RELASI KENYAMANAN TERMAL DAN KONSUMSI ENERGI LISTRIK WARD DI WILAYAH TROPIS LEMBAP Mulia, Yuyus; Karyono, Tri Harso; A Arif, Kamal
Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol 16, No 02 (2018)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/agora.v16i02.3233

Abstract

Penelitian kenyamanan termal pada  ward  (bangunan rawat inap rumah sakit) belum banyak dilakukan. Isu pokok penelitian ini  mencakup aspek kenyamanan termal dan aspek konsumsi energi listrik ward di wilayah tropis lembap. Tujuan penelitian ini mengungkap relasi tingkat kenyamanan  termal dan tingkat konsumsi energi listrik ward di wilayah tropis lembap. Metoda penelitian ini bersifat kuantitatif dengan jumlah sampel 11  unit ward (5 unit di dataran rendah/ wilayah Cirebon dan 6  unit di dataran tinggi/ wilayah Bandung ? Provinsi Jawa Barat, Indonesia); jumlah responden 1099 orang (500 orang berada di kelompok ward dataran rendah, dan 599 orang di kelompok ward dataran tinggi).  Peralatan yang digunakan untuk mendata kondisi parameter iklim dan pilihan sensasi termal pengguna ward adalah pengukur dan perekam digital Heat Index WBGT Meter-Model WBGT-2010SD ex Lutron dan Anemometer-Model AM-4222 ex Lutron, serta formulir survey. Uji statistik dan analisa regresi linier terhadap data yang diperoleh, menunjukkan hasil: pada ward dataran rendah dengan temperatur udara lingkungan berkisar 23.4 ? 37.2°C;  tingkat  kenyamanan termalnya 29.2°C dan  tingkat konsumsi energi listriknya berkisar 62 kWh/m2/th. Sementara pada ward dataran tinggi dengan  temperatur udara lingkungan berkisar 18.4 ? 32.2°C;  tingkat kenyamanan termalnya 27.4°C dan tingkat konsumsi energi listriknya berkisar 49 kWh/m2/th.  Kesimpulan; pada ward di wilayah tropis lembap ditemukan adanya fakta relasi sebagai berikut: semakin tinggi temperatur udara lingkungannya,  semakin tinggi tingkat kenyamanan termalnya, dan semakin tinggi pula jumlah konsumsi energi listriknya. Kata Kunci: Kenyamanan termal, konsumsi energi listrik, ward, tropis lembab ABSTRACTResearch on thermal comfort in the ward (hospital inpatient building) has not been widely carried out. The main issues of this study include aspects of thermal comfort and aspects of ward electrical energy consumption in humid tropical regions. The purpose of this study is to reveal the relation between thermal comfort level and ward electrical energy consumption level in humid tropical regions. This research method is quantitative with a sample of 11 ward units (5 units in the lowland / Cirebon region and 6 units in the highlands / Bandung area - West Java Province, Indonesia); the number of respondents is 1099 people (500 people are in the lowland ward group, and 599 people in the highland ward group). The equipment used to record climate parameter conditions and the choice of thermal sensations for ward users is the WBGT-2010SD Model Heat Index WBGT Meter and digital recorder ex Lutron and Anemometer-Model AM-4222 ex Lutron, as well as survey forms. Statistical tests and linear regression analysis of the data obtained showed results: in the lowland ward with ambient air temperature ranging from 23.4 - 37.2 ° C; the lowest level of comfort is 29.2 ° C and the level of electricity consumption is around 62 kWh / m2 / year. While in the highland ward with environmental air temperatures ranging from 18.4 - 32.2 ° C; the lowest level of comfort is 27.4 ° C and the level of electricity consumption is around 49 kWh / m2 / year. Conclusion; In the ward in the humid tropics, the facts of the relationship are as follows: the higher the air temperature of the environment, the higher the level of thermal comfort, and the higher the amount of electricity consumption. Keywords: thermal comfort, electrical energy consumption, ward, humid tropical
KOTA TROPIS HEMAT ENERGI: MENUJU KOTA YANG BERKELANJUTAN DI INDONESIA Karyono, Tri Harso
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol 7, No 1 (2006): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v7i1.366

Abstract

Modern life and modern technology require vast use of energy. The use ofenergy in the cities has been dramatically escalated within the last decades. Since most of energy consumed by people live in urban areas is from the non-renewable resources like fossil fuels, we will certainly face problems of energy crisis and global warming to sustain our cities livable in the future. Due to the moderate prevailing climate conditions, which are close to the comfort temperature, less energy will be required to modify indoor temperature suitable for human indoor activities. Since the dependency to the energy is small, people in the humid tropic may have better chances to sustain their cities livable in the future. However, most of Indonesian cities are designed in such away with little consideration to some important design factors as climate, environment, energy, green transportation and an adequate infra structure, like urban drainage. In return, many cities are nothealthy and convinience to be lived for and are not in line with the sustainable design approach. This article provides some discussion on how tropical cities in Indonesia must be planned and designed toward sustainable built environment. Energy as the main role in sustaining our built environment is taken as a priority here to be considered in designing our humid tropical cities of Indonesia. This is in order to achieve sustainable living environment for our future generation and us.
PEMANASAN BUMI SEBAGAI KONSEKUENSI PEMBANGUNAN MODERN YANG TIDAK TERKONTROL Karyono, Tri Harso
185P -3466
Publisher : Agency for the Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Bencana alam melanda hampir setiap tempat di semua penjuru dunia. Hal ini  merupakan gejala atau fenomena alam yang dapat terjadi di manapun dan kapanpun. Kepentingan hidup manusia terusik. Besarnya dimensi dan frekuensi bencana alam diduga erat terkait dengan perubahan pola aktifitas manusia serta pertambahan populasi manusia di dunia. Gejolak alam ini menimbulkan lebih banyak bencana alam ketika manusia mulai merambah, menguasai dan menempati hampir semua titik di permukaan muka bumi yang sebelumnya tidak pernah dihuni. Peningkatan ragam aktifitas manusia meningkatkan kebutuhan sarana dan prasarana untuk mengakomodir aktifitas tersebut. Pembangunan sarana dan prasarana fisik meningkat dengan cepat. Gedung, jembatan, pelabuhan, bandara udara, jalan, perumahan, sarana rekreasi dan lainnya bertambah dengan sangat cepat menambah luasan kulit bumi yang tertutup bangunan dan perkerasan. Sayangnya pembangunan fisik ini tidak selalu mempertimbangkan keseimbangan lingkungan alami bumi sehingga timbul pergeseran keseimbangan lingkungan yang menimbulkan lebih banyak gejolak alam.Menengok kembali cara pembangunan yang dilakukan para leluhur kita dalam menyediakan sarana dan prasarana fisik bagi aktifitas kehidupan mereka, banyak hal yang dapat kita pelajari untuk kehidupan kita saat ini dan masa datang. Paper ini mencoba membahas konsep dan metoda membangun secara tradisional di masa lalu serta konsep dan metoda membangun modern masa kini, untuk kemudian dikaitkan dengan isu pemanasan bumi dan bencana alam
Model Perhitungan Kandungan Emisi Co2 pada Bangunan Gedung Co2 Sabaruddin, Arief; Karyono, Tri Harso; Tobing, Rumiati R.
Jurnal Permukiman Vol 6, No 3 (2011)
Publisher : Pusat Litbang Permukiman, Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2011.6.154-163

Abstract

Meningkatnya kandungan CO2 di atmospher telah menyebabkan efek gas rumah kaca, yang mengakibatkan naiknya temperatur bumi, sehingga terjadi pencairan cadangan es di kutub utara dan selatan serta cadangan es di dataran tinggi. Peningkatan gas CO2 disebabkan oleh proses pembakaran yang dibutuhkan dalam menjalankan sarana dan prasarana penunjang kehidupan kehidupan dan penghidupan manusia. Bangunan gedung berpeluang mengeluarkan 30% dari total emisi CO2 yang dihasilkan oleh kehidupan manusia. Terdapat 2 cara emisi CO2 yang berasal dari bangunan, yaitu emisi CO2 yang dihasilkan ketika proses pembangunan (embodied CO2 emission) serta emisi CO2 yang dihasilkan pada pemanfaatan bangunan. Konsep green building adalah salah satu pendekatan untuk menjamin terjaganya kualitas lingkungan agar tetap langgeng. Salah satu indikatornya adalah bangunan tersebut harus mengkonsumsi energi secara efisien sampai dengan zero energy. Namun nyatanya pemanasan global belum dapat diukur oleh besar konsumsi energi, akan tetapi dari besarnya emisi CO2 yang dihasilkan oleh bangunan. Hal tersebut disebabkan, besarnya emisi CO2 yang dihasilkan oleh setiap pembangkit listrik memiliki nilai yang berbeda-beda. Pembangkit listrik tenaga uap dengan batu bara menghasilkan emisi CO2 940 gr CO2 setiap 1 kWh, sedangkan energi listrik tenaga diesel menghasilkan 581 gr CO2 untuk 1 kWh. Sebagai upaya mitigasi terhadap pemanasan global, sudah saat-nya, besarnya emisi CO2 yang dihasilkan oleh bangunan tersebut dikendalikan. Proses pengendalian dapat dilakukan pada tahap perencana an maupun tahap pelaksanaan, sebagai upaya untuk menurunkan emisi CO2 yang dikandung oleh bangunan. Untuk menunjang proses perencanaan bangunan gedung rendah emisi CO2 tersebut diperlukan tools, yang berfungsi untuk mengukur/menghitung besarnya emisi CO2 pada bangunan. Tools tersebut akan memberi informasi besarnya harga satuan emisi CO2 pada bangunan gedung per meter persegi (HSEBG).
Metode Kovariansi Dalam Penilaian Kinerja Kemampuan Adaptasi Bangunan Terhadap Lingkungan Sabaruddin, Arief; Karyono, Tri Harso; Tobing, Rumiati R.
Jurnal Permukiman Vol 8, No 1 (2013)
Publisher : Pusat Litbang Permukiman, Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2013.8.30-38

Abstract

Penelitian arsitektur terkait dengan pengukuran kinerja bangunan terhadap kemampuan adaptasi pada lingkungan (iklim mikro), sering sekali terkendala oleh kondisi tempat dan cuaca, yang tidak memiliki kesamaan ketika kegiatan pengukuran dilakukan pada beberapa sampel. Beberapa variabel data yang diukur sulit untuk dikontrol, seperti dalam pengukuran udara (iklim mikro). Pada kasus penelitian pengaruh desain terhadap kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan, diperlukan beberapa sampel yang diambil dari desain yang berbeda. Kegiatan membandingkan kinerja dua objek bangunan pada lokasi yang berbeda, seperti perbedaan lokasi antara kawasan pantai dataran rendah dengan lokasi pada dataran tinggi. Kinerja bangunan dalam hal ini dinyatakan sebagai kemampuan desain bangunan untuk beradaptasi terhadap lingkungan outdoor terhadap lingkungan indoor. Bangunan berfungsi melindungi penghuninya dari gangguan di luar bangunan. Dalam penelitian arsitektur demikian terdapat tiga variabel utama, yakni, sebagai variabel dependen adalah lingkungan indoor, variabel independen adalah lingkungan outdoor dan variabel faktor adalah aspek-aspek desain. Metode Analisa Kovariansi sudah umum digunakan pada penelitian pada disiplin ilmu di luar disiplin arsitektur. Tulisan ini menjelaskan penerapan metode dengan Analisa Kovariansi dalam mengukur kinerja desain bangunan secara murni tanp a pengaruh perbedaan tempat dan iklim mikro.