Articles

Found 24 Documents
Search

RESPONS 12 AKSESI KECIPIR (Psophocarpus tetragonolobus L. DC) TERHADAP PEMANGKASAN REPRODUKTIF PADA MUSIM HUJAN DI JATINANGOR Nusifera, Sosiawan; H.K, Murdaningsih; Rachmadi, Meddy; Karuniawan, Agung
Jurnal FAPERTA : CEFARS Vol 3, No 1 (2011): JURNAL AGRIBISNIS DAN PENGEMBANGAN WILAYAH
Publisher : Jurnal FAPERTA : CEFARS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.2 KB)

Abstract

Abstract Research aimed to know the responses of 12 winged bean accessions to reproductive pruning in rainy season, was conducted in experimental station of agricultural faculty, Padjadjaran University started from November 2008 until May 2009. Experiment was arranged in randomized block design with split-plot pattern and replicated twice. Main plot was reproductive pruning consisted of two levels namely with (p) and without pruning (np). Whereas, sub plot was 12 winged bean accessions. Variables observed were tuber length (cm), tuber diameter (cm), tuber volume (ml), tuber weight per plant (g), number of tuber per plant, and tuber weight per plot (kg). Data were analysed using analysis of variance, if there was significant source of variance, analysis was continued with Scott Knott Cluster Analysis for genotype simple effect and LSD for pruning simple effect, with 5% level respectively. Results showed that there were different responses of each accession to reproductive pruning, especially  on characters of tuber diameter, number of tuber per plant, and tuber weight per plant. Eventhough singly, pruning didn’t show significant effect on all characters observed, for tuber diameter, number of tuber per plant, and tuber weight per plot, effectiveness of pruning was seen on several accessions. Single effect of accessions was seen on tuber volume and tuber weight per plant. For tuber length, pruning, accessions and interaction of both, seemed to have no effect on it. Accessions of 8.20, 8.16, 8.29, 8.10, and 8.6 were potential genotypes for tuber production for they had tuber diameter over 2 cm.   Keywords : winged bean, reproductive pruning, tuber
Kekerabatan Genetik Populasi Bengkuang Pachyrhizus erosus Berdasarkan Karakter Morfologi Bunga dan Daun Karuniawan, Agung; Wicaksana, Noladhi
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol 34, No 2 (2006): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.915 KB)

Abstract

Yam bean Pachyrhizus erosus is widely cultivated in Central America, Africa, Asia and Pacific.  The objective of the research was to analyse genetic relationships of yam bean originated from Indonesia compared to its ancestor species from Mexico and Guatemala. Fourty three yam beans consisted of 35 genotypes from Indonesia and 8 introduced genotypes from Mexico and Guatemala were planted under complete block design with two replications. Fourteen significant different traits from 25 morphological leaf and flower properties traits have been used to analyse the genetic relationships. Results showed that yam beans from Sumatra differed from its relatives from the rest regions of Indonesia. Yam bean populations originated from Indonesia are closely related to its ancestor species from Mexico and Guatemala.   Key words :  Yam bean, Pachyrhizus erosus, genetic relationships
Kemampuan Ekstrak dan Bakteri Inhabitan Mucuna pruriens Linn. dalam Menekan Penyakit Bercak Daun Cercospora dan Meningkatkan Pertumbuhan Tanaman Kacang Tanah Yulia, Endah; Widiantini, Fitri; Firmansah, Ramdan; Karuniawan, Agung
Agrikultura Vol 19, No 1 (2008)
Publisher : Agrikultura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2212.172 KB)

Abstract

Tanaman velvet bean (Mucunna spp.) merupakan tanaman yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan biopestisida. Senyawa kimia yang diekstrak dari biji Mucuna telah banyak digunakan dalam pengobatan beberapa penyakit dalam bidang kesehatan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menguji ekstrak biji dan daun Mucuna dalam menekan pertumbuhan Cercospora sp. serta menguji kemampuan bakteri inhabitan Mucuna dalam memacu pertumbuhan tanaman dan menekan perkembangan penyakit bercak daun cercospora pada tanaman kacang tanah. Metode penelitian berupa metode eksperimen untuk menguji potensi ekstrak biji dan daun Mucuna dalam menekan pertumbuhan Cercospora sp. dari dua aksesi Mucuna asal NTT dan Jabar, dan menguji kemampuan isolat bakteri yang diisolasi dari dua aksesi tersebut dalam memacu pertumbuhan tanaman dan penekanan penyakit bercak daun cercospora yang diaplikasikan melalui perlakuan benih pada benih kacang tanah. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Fitopatologi dan rumah kaca Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, pada ketinggian + 700 m dpl, dari bulan Juli sampai bulan November 2007. Hasil penelitian menunjukkan potensi antimikrobial ekstrak Mucuna and ekstrak etanol biji Mucuna asal NTT menunjukkan penekanan pertumbuhan Cercospora sp. yang lebih baik dibandingan dengan ekstrak lainnya. Sementara itu, enam isolat bakteri inhabitan Mucuna cenderung meningkatkan pertumbuhan tanaman kacang tanah dan terdapat satu isolat bakteri yang secara nyata menekan penyakit bercak daun cercospora dengan penekanan penyakit sebesar 70,85%.
Interaksi Genotipe x Lingkungan, Stabilitas dan Adaptasi Jagung Hibrida Harapan UNPAD di 10 Lokasi di Pulau Jawa Saraswati, M.; Oktafian, A. N.; Karuniawan, Agung; Ruswandi, Dedi
Zuriat Vol 17, No 1 (2006)
Publisher : Zuriat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sembilan genotip jagung hibrida Harapan Unpad diseleksi berdasarkan interaksi G × E, stabilitas, adaptasi dan daya hasil. Percobaan dilakukan di sepuluh lokasi di Pulau Jawa, yaitu Ciamis, Tasik-Gombong, Tasik- SPMA, Cianjur, Lembang, Karawang, Nganjuk BLGBG, Nganjuk-Pace, Jatinangor dan Tanjung Sari. Dari Pebruari 2005−Juli 2006. Percobaan untuk setiap lokasi disusun dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK), dengan dua ulangan dan satu kultivar cek Bisi-2. Uji Homogenitas Barlett digunakan untuk melihat homogenitas varians galat dari beberapa lokasi. Analisis gabungan dilakukan jika varians galat homogen. Analisis gabungan memperlihatkan adanya interaksi G × E untuk semua karakter yang diamati. Berdasarkan analisis stabilitas ternyata semua hibrida Unpad memperlihatkan penampilan yang tidak stabil, sehingga direkomendasikan untuk dibudidayakan pada lingkungan yang spesifik. Uji multilokasi di Pulau Jawa juga berhasil menyeleksi hibrida Unpad baru, yaitu: S6A*1 ×11, S6A*11 × 11, S6A*90 × 11, S6A*25 × 18, S6A*29 × 11, dan S6A*37 × 11.
Seleksi Batang Atas Kina (Cinchona ledgeriana) Klon QRC dalam Pembibitan Stek Sambung Roselina, Mutia Dewi; Sriyadi, Bambang; Amien, Suseno; Karuniawan, Agung
Zuriat Vol 18, No 2 (2007)
Publisher : Zuriat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan kina klon QRC C. ledgeriana yang mempunyai daya kompatibilitas terbaik terhadap batang bawah (Cinchona succirubra). Percobaan dilaksanakan mulai dari Oktober 2006 hingga April 2007 di Kebun Percobaan Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung, Ciwidey, Bandung. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan menggunakan 21 klon QRC kina sebagai perlakuan dan diulang tiga kali. 21 klon QRC kina tersebut adalah : klon QRC 111, QRC 133, QRC 135, QRC 162, QRC 183, QRC 189, QRC 191, QRC 197, QRC 207, QRC 210, QRC 212, QRC 213, QRC 241, QRC 247, QRC 264, QRC 282, QRC 328, QRC 329, QRC 345, QRC 349, dan Cibeureum 5 sebagai tanaman kontrol. Karakter yang diamati meliputi karakter jumlah tanaman yang hidup (bibit), tinggi batang atas dan tinggi tunas yang dihasilkan (cm), diameter tunas (mm), dan jumlah daun tunas (helai). Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa klon QRC memiliki daya kompatibilitas tinggi terhadap batang bawah dibandingkan dengan klon kontrol Cibeureum 5, yakni klon QRC 213 dan QRC 247 untuk karakter tinggi batang atas (cm) dan tinggi tunas (cm); QRC 212 dan QRC 213 untuk karakter diameter tunas (mm); QRC 133, QRC 135, QRC 247, dan QRC 264 untuk karakter jumlah daun pada tunas (helai). Untuk persentase karakter jumlah tanaman yang hidup didapatkan nilai sebesar 44.18%.
Diversitas Genetik Plasma Nutfah Kacang Pedang (Canavalia ensiformis L.) Berdasarkan Karakter Morfologi Bunga dan Daun Karuniawan, Agung; Ismail, Ade
Zuriat Vol 18, No 2 (2007)
Publisher : Zuriat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan untuk menduga keragaman genetik populasi kacang pedang(Canavalia ensiformis L.) yang berasal dari Jawa, Timor, Flores, dan ex. China berdasarkan karakter morfologi daun dan bunga. Dua belas genotip kacang pedang ditanam dalam rancangan acak kelompok dengan dua ulangan. Setiap genotipe ditanam dalam satu baris sepanjang 6 m dengan jarak antar baris 100 cm dan jarak dalam baris 50 cm. Analisis multivariat meliputi analisis komponen utama dan kluster yang dilakukan berdasarkan 19 karakter morfologi daun dan bunga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis komponen utama walau tidak sejalan namun mampu mengelompokkan populasi Canavalia dalam tiga kelompok yang berbeda. Genotip asal Timor dam Flores cenderung berkerabat dekat dibandingkan dengan sebagian genotip asal Jawa dan ex. China. Morfologi daun adalah karakter pembeda dominan dibandingkan morfologi bunga.
STABILITAS KADAR BAHAN KERING UBI 16 GENOTIP BENGKUANG (Pachyrhizus erosus L. Urban) DI JATINANGOR JAWA BARAT BERDASARKAN MODEL AMMI Nusifera, Sosiawan; Karuniawan, Agung
Zuriat Vol 18, No 1 (2007)
Publisher : Zuriat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian yang bertujuan mengetahui stabilitas kadar bahan kering dari 16 genotip bengkuang (Pachyrhizus erosus L. Urban) di Jatinangor telah dilakukan pada musim kemarau dan musim hujan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Unpad, Jatinangor. Percobaan lapang dilakukan pada musim kemarau mulai Februari hingga Agustus 2006 dan musim hujan mulai November 2006 hingga Mei 2007. Percobaan terdiri dari empat set yang masing-masing set disusun dalam rancangan acak kelompok dengan 16 genotip bengkuang yang dikoleksi dari berbagai wilayah Indonesia and genotip leluhurnya dari Amerika tengah dan selatan sebagai perlakuan dan diulang dua kali. Empat set percobaan tersebut dibedakan berdasarkan kombinasi musim dan perlakuan pemangkasan sink reproduktif. Empat set tersebut dianggap representasi empat lingkungan yang berbeda. Karakter yang diamati adalah kadar bahan kering ubi (%). Data dianalisis dengan analisis model AMMI (additive main effect and multiplicative interaction) dengan parameter stabilitas AMMI stability value (ASV). Hasil menunjukkan bahwa genotip B-26/NS adalah genotip dengan kadar bahan kering tertinggi dan relatif stabil. B-10/EC550 adalah genotip dengan kadar bahan kering paling stabil. B-33/J, B-12/ECKew, B-80/ENT, dan B-61/EJ adalah genotip-genotip yang beradaptasi pada musim kemarau. Sebaliknya, B77/ENT, B-1/EC033, B-58/EJ, dan B-94/ENT beradaptasi dengan baik pada musim hujan. Genotip-genotip B-12/EC Kew, B-61/EJ, B-23/EC040, dan B-56/CJ lebih responsif terhadap perlakuan pemangkasan. Keempat lingkungan percobaan merupakan lingkungan yang discriminating.
KERAGAMAN GENETIK 16 PLASMA NUTFAH KENTANG HITAM (Solenostemon rotundifolius (Poir.) J. K. Morton) BERDASARKAN KARAKTER MORFOLOGI DAN AGRONOMI DI JATINANGOR Nuraeni, Leni; Bakti, Citra; Maxiselly, Yudithia; Karuniawan, Agung
Zuriat Vol 23, No 1 (2012)
Publisher : Zuriat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan pemuliaan tanaman terhadap plasma nutfah kentang hitam di Indonesia belum berkembang Pemuliaan kentang hitam baru hanya sebatas perbanyakan dalam kultur jaringan, sedangkan untuk analisis keragaman genetik kentang hitam di Indonesia berdasarkan karakter morfologi dan karakter hasil belum pernah dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi tentang keragaman genetik pada 16 aksesi kentang hitam asal Indonesia berdasarkan karakter morfologi dan agronominya. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Ciparanje Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran dari bulan Oktober 2010 – Juli 2011 Materi genetik yang digunakan berupa stek dari 16 aksesi kentang hitam. Metode percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang diulang sebanyak dua kali. Keragaman yang diperoleh dari dendogram menunjukan jarak euclidian  0,71 – 3,39. Dari analisi PCA yang didapatkan bahwa terdapat 20 karakter yang mempengaruhi variasi pada populasi kentang hitam. Sedangkan pada grafik biplot  terdapat satu kelompok aksesi yang memiliki kemiripan yang jauh dari kelompok aksesi yang lainnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa keragaman genetik dari 16 aksesi kentang hitam luas dengan 20 karakter yang mempengaruhi variasi pada populasi kentang hitam.
Interaksi Genotip x Musim Hasil Kacang Roay (Dolichos Lablab L.) Di Jatinangor Dwiwardhana, Reza; Karuniawan, Agung; Ismail, Ade
Zuriat Vol 20, No 1 (2009)
Publisher : Zuriat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Informasi tentang interaksi genotip x musim diperlukan dalam kebijakan genotip tanaman yang bagaimana yang akan disebarkan dalam pengembangan program seleksi pemuliaan tanaman. Penelitian bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai interaksi genotip x musim karakter komponen hasil dan hasil 48 genotip kacang roay (Dolichos lablab L.). Percobaan lapangan telah dilakukan di Ciparanje, Jatinangor, Kab Sumedang, Jawa Barat, dengan ketinggian ±753 meter di atas permukaan laut, dari bulan April 2008 sampai Mei 2009. Percobaan disusun dalam rancangan acak kelompok dengan 48 genotip sebagai perlakuan dan diulang sebanyak dua kali pada dua musim tanam. Karakter-karakter yang diamati adalah karakter komponen hasil dan hasil. Data dianalisis dengan analisis varians, dan analisis varians gabungan. Hasil percobaan menunjukan bahwa interaksi genotip x musim terdapat pada karakter bobot 100 biji, bobot biji per plot, jumlah polong per tanaman, panjang biji, jumlah polong per plot, panjang polong, lebar polong, tebal biji, umur berbunga, umur matang polong, dan umur panen. Genotip yang memiliki penampilan baik melebihi kedua kontrol pada karakter bobot 100 biji pada musim kemarau adalah Roay dodol-1/Dol 41, sedangkan pada musim hujan genotip Subang-5/Dol 7. Genotip pada musim kemarau dengan penampilan baik melebihi kedua kontrol berdasarkan karakter bobot biji per plot adalah Roay dodol-1/ Dol 41, sedangkan pada musim hujan genotip subang-5/ Dol 7 merupakan genotip yang lebih baik dibanding kedua kontrol. Pengaruh genotip dan musim secara mandiri terlihat pada karakter panjang daun terminal, lebar daun terminal panjang pedunkulus, dan jumlah biji per polong. Genotip – genotip yang memiliki penampilan cenderung stabil pada kedua musim untuk karakter bobot 100 biji adalah Subang-5/Dol 7, Rancabatok-2/Dol 11, Tasik-2/Dol 44 dengan nilai rata-rata kedua musim berturut-turut 87,31 gram, 65,38 gram, dan 49,42 gram. Sedangkan untuk karakter bobot biji per plot adalah subang-5/Dol 7, Rancabatok-1/Dol 10, Rancabatok-2/Dol 11 dengan nilai rata-rata kedua musim berturut-turut 294,70 gram, 202,46 gram, dan 174, 11 gram.
KERAGAMAN GENETIK 27 AKSESI GANYONG (Canna edulis Kerr.) ASAL JAWA BARAT DI JATINANGOR Laila, Fadhillah; Damayanti, Farida; Maxiselly, Yudithia; Karuniawan, Agung
Zuriat Vol 22, No 2 (2011)
Publisher : Zuriat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ganyong (C.edulis Kerr)  adalah  tanaman herba yang berasal dari Amerika  Selatan. Di Indonesia ganyong sudah dibudidayakan teratur di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Yogyakarta, Jambi, dan Lampung. Laboratorium Pemuliaan Tanaman Universitas Padjadjaran memiliki 27 aksesi ganyong yang merupakan hasil eksplorasi di daerah Jawa Barat dimana keragaman genetiknya belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi keragaman genetik 27 aksesi ganyong asal Jawa Barat di Jatinangor untuk mempermudah proses seleksi. Analisis hubungan kekerabatan mengunakan Analisis Komponen Utama (Principle Component Analysis/ PCA) dan NTSYS ver 2.10s. Percobaan dilakukan sejak bulan Maret 2010 sampai dengan Februari 2011 di Kebun Percobaan Ciparanje Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri dari 27 aksesi ganyong sebagai perlakuan dan diulang dua kali. Berdasarkan hasil analisis NTSYS dapat dilihat dari jarak Euclidian 1.09-5.86 menunjukkan bahwa variabilitas genotip dari 27 aksesi ganyong luas. Dari analisis PCA didapat hasil 15 karakter dari 24 karakter yang diamati mempengaruhi pola variasi dalam keragaman genetik. Dilihat dari gambar biplot terdapat satu aksesi yaitu aksesi 133 yang memilki kekerabatan yang jauh dibandingkan dengan keseluruhan aksesi.