Apoina Kartini
Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro

Published : 59 Documents
Articles

HUBUNGAN TINGKAT KONSUMSI ENERGI DAN PROTEIN DENGAN KADAR Immunoglobulin M (IgM) anti Phenolic Glycolipid-1 (PGL-1) NARAKONTAK SERUMAH PENDERITA KUSTA DI KOTA SEMARANG

JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 2, No 2 (2005): JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA
Publisher : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

IgM anti PGL-I merupakan penanda bahwa seorang narakontak serumah terinfeksi atau tidak oleh kuman Mycobacterium leprae. konsumsi energi dan protein yang rendah secara bermakna mengganggu sistem imun tubuh sehingga dapat menimbulkan infeksi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat konsumsi energi protein dengan kadar IgM anti PGL-I narakontak penderita kusta di Kota Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian penjelasan dengan metode survei melalui pendekatan cross sectional. Populasi yang diambil adalah narakontak serumah penderita kusta serumah di kota Semarang. Pengambilan sampel dengan cara purposive sampling diperoleh sampel sebanyak 69 narakontak serumah. Analisis univariat dan analisis bivariat dengan menggunakan uji statistik Korelasi Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tingkat konsumsi energi narakontak adalah 60,57 %, rata-rata tingkat konsumsi protein narakontak adalah 92,59 % dan rata-rata kadar IgM anti PGL-I narakontak 768,67 unit. Ada hubungan negatif bermakna antara tingkat konsumsi energi dan tingkat konsumsi protein dengan kadar IgM anti PGL-I narakontak penderita kusta di Kota Semarang (p=0,008, r= -0,317 dan p = 0,02, r= -0,27). Saran yang dapat diberikan pada narakontak kusta khususnya yang belum terinfeksi adalah meningkatkan konsumsi energi dan protein agar kekebalan tubuhnya dapat terjaga.Kata kunci: kusta, Igm anti PGL-I, konsumsi energi, konsumsi protein

Determinan Growth Faltering (Guncangan Pertumbuhan) pada Bayi Umur 2-6 Bulan yang Lahir dengan Berat Badan Normal

MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2009:MMI VOLUME 43 ISSUE 5 YEAR 2009
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Growth faltering determinants among 2-6 years old infants born with normal birth weightBackground: Poor growth in infants can be indicated by a decrease in WAZ score, and is started at the age of 3-6 months. Growth faltering can lead to growth failure. Therefore it is important to investigate growth faltering determinants to solve the growth problems.Methods: This case controls study was conducted at Kangkung subdistrict, Kendal district. Cases were the subjects who had growth faltering, and controls were the subjects who had normal growth. Thirty six subjects were included in each group. The determinant variables investigated were non-exclusive breastfeeding, no-colostrum feeding, formula feeding, early complementary food feeding, pacifier used, diarrhea, upper respiratory tract infections and lack of mother’s allocation time for caretaking. Analyses were conducted by bivariate and multivariate logistic regression.Results: Based on the results of bivariate logistic regression analyses, the determinants of growth faltering were: Non-exclusive breastfeeding (OR=3.30; 95%CI:1.15-9.52; PAR=0.61), formula feeding (OR=2.96; 95%CI:1.03-8.53 PAR=0.38), early complementary food feeding at ≤3 months (OR=16; 95%CI: 1.78-143.15) and upper respiratory tract infections (OR=3.35; 95%CI: 1.23-9,10; PAR=0.48). No-colostrum feeding, pacifier used, diarrhea, and lack of mother’s allocation time for caretaking were not the determinants of growth faltering. Multivariate logistic regression analyses showed that non-exclusive breastfeeding (OR=3.43; 95%CI: 1.15-10.17) and upper respiratory tract infections (OR=3.09; 95%CI: 1.09-8.73) were the main determinants of growth faltering.Conclusions: The main determinants of growth faltering among infants aged 2-6 months at Kangkung sub-district were nonexclusive breastfeeding and upper respiratory tract infections. It is recommended to promote exclusive breast-feeding and prevent upper respiratory tract infections among infants.Keywords: Growth faltering, non-exclusive breastfeeding, upper respiratory tract infections, infants, normal birth weight ABSTRAKLatar belakang: Gangguan pada pertumbuhan bayi ditunjukkan dengan penurunan skor Z menurut indeks BB/U, dan pada umumnya dimulai pada umur 2-6 bulan. Gangguan tersebut bila tidak ditangani lebih lanjut akan menjadi growth failure (kegagalan pertumbuhan). Oleh karena itu perlu diketahui faktor determinan growth faltering agar dapat dilakukan pencegahan dan penanggulangan masalah tersebut.Metode penelitian: Penelitian observasional dengan disain penelitian kasus-kontrol, yang dilakukan di Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal. Subyek adalah bayi yang mengalami growth faltering, dan kontrol adalah bayi yang mengalami pertumbuhan normal. Jumlah subyek masing-masing kelompok kasus dan kontrol adalah 36 subyek. Variabel yang diamati meliputi tidak diberikannya kolostrum, pemberian ASI tidak eksklusif, susu formula, MP-ASI dini, penggunaan kempongan, kejadian diare, ISPA danalokasi waktu asuh ibu. Analisis data dilakukan dengan menggunakan regresi logistik bivariat dan multivariat.Hasil: Berdasarkan analisis regresi logistik bivariat, determinan growth faltering adalah: pemberian ASI tidak eksklusif (OR=3,30; 95%CI: 1,15-9,52; PAR=0,61), susu formula (OR=2,96; 95%CI: 1,03-8,53 PAR=0,38), MP-ASI dini umur ≤3 bulan (OR=16; 95%CI: 1,78-143,15) dan ISPA (OR=3,35; 95%CI: 1,23-9,10; PAR=0,48). Variabel tidak diberikannya kolostrum, penggunaan kempongan, kejadian diare dan alokasi waktu asuh ibu yang kurang bukan merupakan faktor determinan. Analisis regresi multivariat menunjukkan bahwa pemberian ASI tidak eksklusif (OR=3,43; 95%CI: 1,15-10,17) dan kejadian ISPA (OR=3,09; 95%CI:1,09-8,73) merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap kejadian growth faltering.Simpulan: Determinan growth faltering utama pada bayi umur 2-6 bulan di Kecamatan Kangkung adalah Pemberian ASI tidak eksklusif dan kejadian ISPA. Disarankan untuk melakukan penyuluhan tentang pemberian ASI eksklusif dan pencegahan terhadap ISPA pada bayi.

Pemberian Cairan Karbohidrat Elektrolit, Status Hidrasi dan Kelelahan pada Pekerja Wanita

MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2012:MMI VOLUME 46 ISSUE 1 YEAR 2012
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.123 KB)

Abstract

Carbohydrate electrolyte solution improve hydration status and decrease fatigue among women workersBackground: Heat exposure cause dehydration and fatigue if water intake is insufficient. Carbohydrate electrolyte drinks consumption maintans workers hydration status and prevent fatigue. Women workers at ironing department in garment industry are at risk of dehydration and fatigue because of the heat exposure.Objective: To determine the effect of carbohydrate electrolyte solution on hydration and fatigue status among women workers.Method: This quasy experiment was conducted in pre post test control group design. Population of this study was women workersaged 18-35 years in ironing department of garment industry. Thirty-three subjects were selected by inclution criteria. Subjects were given three treatments, without intervention, drink water and carbohydrate electrolyte solution. Body weight and fatigue of the subjects were measured on the third, fourth, and fifth intervention days before and after each treatment. Body weight was measuredusing digital scales. Fatigue was measured by reaction timer to flash light. Data were analyzed using paired t test, Wilcoxon test, and Ancova.Result: Body weight decreased 0.1?0.2 kg after work without intervention and drinking water, while increased body weight of 0.1?0.1 kg after given carbohydrate electrolyte. Reaction timed to flash light decreased 12.2?49.0 milliseconds after given carbohydrate electrolyte solution increased 14.9?62.3 and 26.4?33.8 milliseconds after drinking water and without intervention respectively. Drinking carbohydrate electrolyte solution improved hydration status and decreased fatigue status before and aftercontrolled for energy and fluid intake, vitamin B1 and B6 intake.Conclusion: Carbohydrate-electrolyte solution improved the hydration status and decreased fatigue among women workers.Keywords: Carbohydrate-electrolyte solution, hydration status, fatigue, women workers ABSTRAKLatar belakang: Paparan panas selama bekerja dapat menyebabkan dehidrasi dan kelelahan jika asupan cairan tidak cukup. Penambahan cairan karbohidrat elektrolit selama bekerja diduga dapat mencegah dehidrasi dan kelelahan. Pekerja wanita di bagian ironing perusahaan garmen terpapar panas sehingga berisiko dehidrasi dan kelelahan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian cairan karbohidrat elektrolit terhadap status hidrasi dan kelelahan pada pekerja wanita.Metode: Desain penelitian nonrandomized pre-post test control group design. Populasi adalah pekerja wanita perusahaan garmen berusia 18-35 tahun di bagian ironing. Subyek berjumlah 33 orang yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi. Subyek mendapat tiga perlakuan, yaitu tanpa intervensi, pemberian air minum dan karbohidrat elektrolit. Subyek diukur berat badan dan kelelahan sebelum dan setelah bekerja selama tiga hari berturut-turut untuk setiap perlakuan. Pengukuran berat badan menggunakan timbangan injak digital. Kelelahan diukur melalui kecepatan dalam merespon cahaya dengan menggunakan alat reaction timer. Data dianalisis menggunakan paired t test, Wilcoxon, repeated measure, dan uji Ancova.Hasil: Pada kondisi tanpa intervensi dan pemberian air minum terjadi penurunan berat badan (0,1?0,1 kg) setelah bekerja, sedangkan pada pemberian karbohidrat elektrolit terjadi peningkatan berat badan sebesar 0,1?0,2 kg. Waktu reaksi rangsang cahaya menurun sebesar 12,2?49,0 millidetik setelah pemberian karbohidrat elektrolit dan meningkat sebesar 26,4?33,8 millidetik pada kondisi tanpa intervensi serta 14,9?62,3 millidetik pada pemberian air minum. Pemberian cairan karbohidrat elektrolit memperbaiki status hidrasi sebelum dan setelah dikontrol dengan asupan energi dan cairan serta menurunkan kelelahan sebelum dan setelah dikontrol dengan asupan energi, cairan, vitamin B1, dan vitamin B6. Simpulan: Pemberian cairan karbohidrat elektrolit dapat memperbaiki status hidrasi dan menurunkan kelelahan

Pajanan Pestisida Sebagai Faktor Risiko Hipotiroidisme pada Wanita Usia Subur di Daerah Pertanian

MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2012:MMI VOLUME 46 ISSUE 2 YEAR 2012
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.173 KB)

Abstract

Pesticide exposure as a risk factor for hypothyroidism in women at childbearing age in agricultural areasBackground: Hypothyroidism in women at childbearing age (WCA) will cause reproduction disorder, i.e. infertility, spontaneous abortion, impaired growth and development of foetus, placental abruption, and preterm delivery. Pesticide exposure is suspected to cause hypothyroidism. The research objective is to prove that pesticide exposure is a risk factor for hypothyroidism among WCA in agricultural areas.Methods: Case-control studies were used as study designs. Study subjects were 44 WCA as cases and 45 WCA as controls. Pesticide exposure was measured by asking WCA’s involvement in agricultural activities using structured questionnaire and by checking their levels of cholinesterase. Hypothyroidism was determined based on the results of TSH, FT4, and T3 level. Confounding variables were also measured. These variables were age, body mass index (BMI), participation in hormonal contraception, liver function, urinaryiodine excretion, urinary thiocyanate level and blood lead level. Chi-square test, OR (95% CI), and multivariate logistic regression were implemented to test the hypothesis.Results: Pesticides exposure is a risk factor for hypothyroidism (crude-OR=3.04; 95% CI=1.20-7.81; nilai p=0.033 and adjusted OR=3.31, 95% CI=1.25 to 8.78, p=0.016). The higher the degree of exposure, the greater the risk of having hypothyroidism.Conclusion: Pesticides exposure is a risk factor for hypothyroidism among WCA in agricultural areas.Keywords: Pesticide exposure, risk factor, hypothyroidism, women at childbearing age, agricultural areaABSTRAKLatar belakang: Hipotiroidisme pada kelompok wanita usia subur (WUS) dapat menyebabkan gangguan reproduksi, seperti infertilitas, abortus spontan, gangguan tumbuh-kembang janin, dan kelahiran prematur. Pajanan pestisida dapat mengganggu fungsi tiroid. Tujuan penelitian adalah membuktikan bahwa pajanan pestisida merupakan faktor risiko hipotiroidisme pada WUS di daerah pertanian.Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah kasus-kontrol. Subyek penelitian adalah 44 WUS sebagai kasus dan 45 sebagai kontrol. Pajanan pestisida diukur menggunakan kuesioner dan pemeriksaan kadar kolinesterase. Kejadian hipotiroidisme diukur menggunakan parameter kadar TSH, FT4 dan T3. Variabel perancu yang diukur meliputi umur, indeks massa tubuh (IMT), penggunaan KB hormonal, fungsi hati, ekskresi yodium urin, kadar tiosianat urin, dan kadar Pb darah. Uji hipotesis yang digunakanadalah uji Chi-square, uji OR (95%CI), dan regresi logistik multivariat.Hasil: Pajanan pestisida merupakan faktor risiko hipotiroidisme pada WUS di daerah pertanian (crude-OR=3,04; 95%CI=1,20- 7,81; nilai p=0,033 dan adjusted OR=3,31; 95%CI=1,25-8,78; p=0,016). Semakin tinggi derajat pajanan pestisida, semakin besar risiko terjadinya hipotiroidisme.Simpulan: Pajanan pestisida merupakan faktor risiko kejadian hipotiroidisme pada WUS di daerah pertanian.

HUBUNGAN USIA MENARCHE DENGAN OBESITAS PADA REMAJA PUTRI DI SMA THERESIANA 1 SEMARANG

Journal of Nutrition College Vol 2, No 1 (2013): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Obesitas merupakan salah satu masalah kesehatan dunia yang terjadi akibat simpanan lemak yang berlebih. Simpanan lemak berkaitan dengan kematangan seksual yang ditandai dengan munculnya menstruasi pertama (menarche) pada remaja putri. Remaja akan mengalami peningkatan komposisi lemak tubuh setelah mengalami menstruasi, apabila tidak dikendalikan dengan benar dapat membawa pada kejadian obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan usia menarche dengan obesitas pada remaja putri di SMA Theresiana 1 Semarang. Metode: Rancangan penelitian cross sectional, sampel berjumlah 71 dipilih secara stratified random sampling dari seluruh kelas X dan XI. Status gizi didasarkan nilai z-score IMT/U dan ditunjang dengan pengukuran persen lemak tubuh menggunakan Bioelectrical Impedance Analysis (BIA). Data usia menarche sampel dan keluarga didapatkan dari kuesioner, data asupan makan (energi, karbohidrat, protein dan lemak) didapatkan dari kuesioner semi quantitative food frequency dan aktivitas fisik didapatkan dari formulir recall aktivitas fisik selama 3 hari. Analisis data menggunakan Rank Spearman, Pearson Product Moment dan regresi linier ganda. Hasil: Sebanyak 14,1% subyek mengalami obesitas. Rata-rata usia menarche subyek 12,1±1,3 tahun dan sebanyak 2,8% berkategori dini (<10 tahun). Tidak terdapat hubungan usia menarche (r=-0,151; p=0,209), asupan energi (r=-0,009; p=0,942), asupan protein (r=0,113; p=0,35) dan asupan lemak (r=-0,024; p=0,844) dengan obesitas. Namun terdapat hubungan antara aktifitas fisik dengan obesitas (r= -0,236; p=0,031) dan terdapat hubungan usia menache keluarga dengan usia menarche subyek (r=0,445; p=0,000). Faktor yang paling berhubungan dengan obesitas adalah aktifitas fisik (p=0,040). Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara usia menarche dengan obesitas pada remaja, namun pada penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan obesitas melalui parameter IMT/U.

HUBUNGAN ANTARA BEBERAPA INDIKATOR STATUS GIZI DENGAN TEKANAN DARAH PADA REMAJA

Journal of Nutrition College Vol 1, No 1 (2012): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Hipertensi tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi juga dapat terjadi pada remaja. Di Indonesia prevalensi hipertensi remaja sebesar 8,4%. Pada anak obesitas ditemukan prevalensi hipertensi sebesar 20 - 30%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui indikator status gizi mana yang paling berpengaruh terhadap tekanan darah pada remaja. Metode: Rancangan penelitian adalah cross sectional dengan jumlah subyek 34 anak usia 11 - 14 tahun. Indikator status gizi terdiri dari Indeks Masa Tubuh (IMT), Lingkar Pinggang (LiPi), Rasio Lingkar Pinggang Tinggi Badan (RLPTB), dan Lingkar Leher (LL) ditetapkan sebagai variabel independen, sedangkan tekanan darah sistolik (TDS) dan tekanan darah diastolik (TDD) sebagai variabel dependen. Uji statistik yang digunakan adalah pearson product moment dan multivariat linear backward regression. Hasil: Prevalensi obesitas berdasarkan IMT/U sebesar 14,7%, LiPi sebesar 23,5%, RLPTB sebesar 47,1%, dan LL sebesar 29,5%. Prevalensi hipertensi sebesar 14,7%. Hasil uji bivariat menunjukkan bahwa semua variabel mempunyai hubungan signifikan dengan tekanan darah. Hasil uji multivariat menunjukkan bahwa pada kedua jenis kelamin TDS dan TDD dipengaruhi oleh IMT (b, 0.440; p, 0.010 dan b, 0.693; p, 0.000). Pada remaja Laki – laki TDS dipengaruhi oleh IMT (b, 0.76; p, 0.000) dan TDD oleh LiPi (b, 0.708; p, 0.001). Pada remaja perempuan TDS dan TDD dipengaruhi oleh LL (b, 0.871; p, 0.000 dan b, 0.828; p, 0.000). Kesimpulan: Indikator status gizi yang paling mempengaruhi tekanan darah pada remaja laki – laki adalah IMT dan LiPi, pada remaja perempuan adalah LL, dan pada kedua jenis kelamin adalah IMT.

PERBEDAAN KADAR TRIGLISERIDA SERUM TIKUS SRAGUE DAWLEY PADA PEMBERIAN KOPI ROBUSTA FILTER DAN TANPA FILTER

Journal of Nutrition College Vol 1, No 1 (2012): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Background: Dyslipidemia is a disorder of lipid metabolism characterized by (increasing or decreasing) lipid fraction disorders in blood plasma, such as triglyceride. Coffee is known as a bad effect coming from cafestol which can elevate triglyceride level on blood, nevertheless, it has positive effect coming from cafein which can decrease triglyseride level on blood.Method: true-experimental with pre-post randomized control groups design was conducted in this study. Subjects were 8 week-old and male Sprague Dawley rats which are given of filter and nonfilter robusta coffee’s  solution for 4 weeks. Serum-triglyceride levels are determined with GPO-PAP method. Normality data was examined by Shapiro Wilks. Data was analyzed with paired t-test and one way ANOVA.Result: This study showed the averages of pre triglycerides level in coffee filter are 99,67 mg/dl and post triglycerides level are 94,78 mg/dl (p=0,760). The averages of pre triglycerides level in unfilter coffee are 95,11 mg/dl and post triglycerides level are 91,33 mg/dl (p=0,693). Change averages of pre and post test in filtered coffee -4,89 mg/dl and unfiltered coffee -3,78 mg/dl (p=0,329).Conslusion: There were no differences in changes of triglyceride levels in the provision of robusta coffee filter and without filter Keywords: filter coffee, nonfilter coffee, trygliseride level, sprague dawley rats

HUBUNGAN TINGKAT PARTISIPASI IBU DALAM KEGIATAN POSYANDU DENGAN STATUS GIZI ANAK BALITA (STUDI DI KELURAHAN CANGKIRAN KECAMATAN MIJEN KOTA SEMARANG)

Journal of Nutrition College Vol 1, No 1 (2012): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Children under five years of age are included  in group of nutrition’s susceptible. They are on growth and development cycle which need a huge nutrient. The aim of this study is to understand the relationship between mother’s participation levels in posyandu and nutritional status of children under five years of age.Method: Study of analitical observation with cross sectional was used. Subject was a mother in Cangkiran, having children aged between 12-59 month. Subject was taken with proportional stratified random sampling technique. Mother’s participation in posyandu was taken from health care staff’s data, protein and energy intake were taken from food recall 3x24 hours, and nutritional status of children under five years of age was compared with Z-score of WHO 2005. Data was analyzed using Rank-Spearman and partial correlation used SPSS for Windows 19.0 software.Result: Approximately 56,4% of subjects have active participation’s levels in posyandu. Much of the children under five years of age from those have 80,6% good nutritional status (WAZ), 67,7% normal (WHZ), 61,3% normal (HAZ), and 61,3% normal (BMIAZ). There is a relationship mother’s participation levels in posyandu with nutritional status children under five years of age based on WAZ            (p = 0,030 ;  r = 0,651) but not for WHZ (p = 0,998 ;  r = 0,000), HAZ (p = 0,163 ; r = 0,191), and BMIAZ (p = 0,689 ; r = -0,055). This realtionship is also controlled by sufficient levels of energy             (p = 0,047 ;  r = 0,639) and protein (p = 0,003 ; r = 0,823).Conclusion: Increased participation levels of  mother’s in posyandu enhances nutritional status of children under five years of age (based on WAZ). This case is also influenced by sufficient levels of energy and protein.Keyword: mother’s participation levels, posyandu, nutritional status, children under five years of age

PERBEDAAN PENGETAHUAN GIZI, SIKAP DAN ASUPAN ZAT GIZI PADA DEWASA AWAL (MAHASISWI LPP GRAHA WISATA DAN SASTRA INGGRIS UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG)

Journal of Nutrition College Vol 2, No 3 (2013): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Gizi pada dewasa awal lebih dibutuhkan untuk mencegah penyakit dan meningkatkan kesehatan. Perubahan yang terjadi pada masa ini salah satunya adalah perubahan komposisi tubuh dan kebutuhan energi. Dewasa awal terutama wanita mempunyai kepedulian yang lebih besar terhadap masalah penampilan fisik. Pengetahuan gizi membuat mereka lebih mengetahui tentang asupan zat gizi dan prakteknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengetahuan gizi, sikap dan asupan zat gizi pada dewasa awal.Metode : Studi cross sectional pada 50 mahasiswi di LPP Graha Wisata dan Sastra Inggris Universitas Diponegoro Semarang. Sampel diambil secara simple random sampling. Data yang dikumpulkan adalah data identitas yang diukur dengan menggunakan kuesioner, data berat badan dan tinggi badan diukur dengan pengukuran berat badan dan tinggi badan, asupan energi, lemak, protein, cairan dan serat diukur dengan menggunakan formulir food recall selama tiga hari, pengetahuan gizi dan sikap diukur dengan menggunakan kuesioner pengetahuan gizi dan sikap. Analisis data untuk asupan zat gizi dengan uji independent t-test dan untuk pengetahuan gizi dan sikap dengan uji mann whitney dengan bantuan SPSS 17.0 for windows.Hasil : Pengetahuan gizi dewasa awal termasuk kategori kurang. Asupan energi kategori defisit (48%). Asupan lemak kategori baik (40%). Asupan protein kategori defisit (70%). Asupan cairan kategori defisit (90%). Asupan serat kategori defisit (100%). Tidak terdapat perbedaan asupan energi, lemak, protein, serat dan sikap (p=0,771; p=0,628; p=0,778; p=0,923; 0,344), tetapi ada perbedaan pengetahuan gizi dan asupan cairan pada kedua kelompok (p=0,048 dan p=0,000).Kesimpulan : Tidak terdapat perbedaan asupan energi, lemak, protein, serat dan sikap, tetapi ada perbedaan pengetahuan gizi dan asupan cairan antara mahasiswi LPP Graha Wisata dan Sastra Inggris Universitas Diponegoro Semarang.

Efek Cairan Rehidrasi terhadap Denyut Nadi, Tekanan Darah dan Lama Periode Pemulihan

Media Ilmu Keolahragaan Indonesia Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bertujuan untuk mengetahui jenis cairan rehidrasi mana yang mempercepat pemulihan setelah olahraga. Metode yang digunakan quasi eksperimen  dengan desain pretest-posttest Group Design untuk membandingkan efek rehidrasi air minum, elektrolit dan elektrolit+glukosa. Subjek adalah 20 orang atlet sepakbola di klub Mandala. Pengukuran berat badan, denyut nadi, tekanan darah sebelum dan setelah latihan fisik selama 45 menit, serta lama periode pemulihan pada pemberian tiap jenis cairan rehidrasi dilakukan 2 kali dengan interval waktu 3 hari. Variabel-variabel tersebut dibandingkan antara ke 3 jenis cairan. Analisis dilakukan dengan menggunakan metoda Repeated Measure untuk variabel yang berdistribusi normal dan metoda Friedman untuk variabel yang tidak berdistribusi normal serta dilanjutkan dengan regresi linier berganda untuk mengontrol variabel pengganggu. Hasil penelitian menunjukkan; Ada perbedaan efek pemberian ke 3 jenis cairan rehidrasi terhadap peningkatan denyut nadi setelah latihan fisik. Cairan rehidrasi air minum menghasilkan peningkatan denyut nadi terkecil yaitu sebesar 28 kali/menit dibandingkan dengan 39 kali/menit pada pemberian cairan elektrolit dan 45 kali/menit pada pemberian cairan elektrolit+glukosa. Tidak ada perbedaan peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik setelah pemberian 3 jenis cairan tersebut. Tidak ada perbedaan periode pemulihan denyut nadi, tekanan darah sistolik dan diastolik setelah pemberian 3 jenis cairan rehidrasi. Simpulan; pemberian cairan air minum memberikan hasil yang terbaik pada latihan fisik selama 45 menit.Kata Kunci: cairan rehidrasi; denyut nadi; tekanan darah; lama periode pemulihanAbstract This study aimed to find the best rehydration solution for recovery after exercise. The method of this research is quasy experiment with pretest-postest design study was conducted to compare the rehydration effect of water, electrolyte and glucose-electrolyte. The subjects were 20 football athletes of Mandala football club. Body weight, heart rate, blood pressure at pre and post 45 minutes exercise and the recovery period were done twice by 3 days interval for three weeks. Those measurements at 3 kinds of rehydration solutions were comparid. Analysis was conducted by repeated measure for normally distributed variables and friedman for not normally distributed variables and followed by multiple linear regresion for controlling the confounding variable. The result are; drinking water solution gave the smallest increase of heart rate (28 X/minutes) compared to electrolyte solutions (39 X/minutes) and electrolyte-glucose solutions (45 X/minutes). There were no difference in systolic and diastolic blood pressure increase after the three different rehydration solution consumption. There was no difference in the recovery period of heart rate, systolic and diastolic blood pressure after the three different rehydration solution consumption.The conclusion is drinking water showed the best effect as a rehydration solution for 45 minute exercise.Keywords: rehydration solution; heart rate; blood pressure recovery period