Sri Hartini KS Kariadi
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Hasan Sadikin

Published : 1 Documents
Articles

Found 1 Documents
Search

Tinjau Ulang Nilai Faktor Penduga dan Rumus Diskriminan untuk Mendiagnosis Hipertiroid pada Mola Hidatidosa Soetedjo, Nanny Natalia Mulyani; Kariadi, Sri Hartini KS
Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penatalaksanaan mola hidatidosa hanya dengan suction curretage dapat mencetuskan krisis tiroid pada penderita hipertiroid klinis maupun subklinis. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa frekuensi nadi >100 kali/menit, tinggi fundus uteri >20 minggu, dan kadar complete hCG >300.000 uIU/mL merupakan faktor penduga untuk diagnosis hipertiroid pada mola hidatidosa. Rumus diskriminan digunakan pada keadaan tidak didapatkan faktor penduga tersebut. Tujuan penelitian ini adalah meninjau ulang nilai faktor penduga dan rumus diskriminan untuk mendiagnosis hipertiroid pada penderita mola hidatidosa. Subjek penelitian adalah penderita mola hidatidosa yang dirawat di RS Hasan Sadikin Bandung periode tahun 2006–2008. Uji statistik menggunakan uji chi-square atau Fisher’s exact, dan uji Pearson atau Spearman. Usia rata-rata 95 kasus mola hidatidosa adalah 28,12+8,24 tahun, 79 kasus (83,2%) mempunyai kadar TSH <0,3 uIU/mL. Mempergunakan uji Fisher’s exact hanya didapatkan frekuensi nadi >100 kali/menit yang mempunyai hubungan signifikan dengan hipertiroid (p=0,000; p<0,05), Merpergunakan uji Fisher’s exact didapatkan pada kelompok frekuensi nadi <100 kali/menit dengan rumus diskriminan positif, mempunyai hubungan signifikan dengan hipertiroid (p=0,017; p<0,05). Mempergunakan uji Spearman didapatkan frekuensi nadi/menit dan kadar βhCG yang mempunyai hubungan signifikan (p=0,000 dan p=0,004; p<0,05). Kesimpulan frekuensi nadi >100 kali/menit dapat digunakan sebagai faktor penduga hipertiroid pada penderita mola hidatidosa. Pada penderita mola hidatidosa yang mempunyai frekuensi nadi <100 kali/menit, maka rumus diskriminan dapat dipakai untuk menduga hipertiroid. [MKB. 2011;43(1):35–41].Kata kunci: Frekuensi nadi, hipertiroid, mola hidatidosa, rumus diskriminanRe-review of Predictive Value and Discriminant Formula for DiagnosisHyperthyroid in Mole HydatidiformThe only treatment for mole hydatidiform patients is by suction curretage and this procedure can make thyroid storm in patient with clinical or subclinical hyperthyroid. They found that heart rate >100 beats per minute, uterus height >20 weeks, and βhCG levels >300,000 uIU/mL can be used as predictive value to diagnose hyperthyroid in mole hydatidiform patients. While discriminant formula can be used whether there were no those predictive values. The aim in this study was to see again whether predictive value and discriminant formula can be used to diagnose hyperthyroid in mole hydatidiform patients. Mole hydatidiform patients between 2006–2008 in Hasan Sadikin Hospital Bandung were entered in this study. Chi-square or Fisher’s exact test was using in this study and also Pearson or Spearman test. Means of 95 mole hydatidiform patients aged in this study was 28.12+8.24 years old, 79 patients (83,2%) had hyperthyroid with TSH level <0.3 uIU/mL. Only heart rate had significant association (p value 0.000 (p<0.05)) with hyperthyroid by using Fisher’s exact test. With Fisher’s exact test, only heart rate <100 beat per minute with positive discriminant formula had association with hyperthyroid with p value 0.017 (p<0.05), but not if they had uterus height <20 weeks. As conclusion that only heart rate >100 beats per minute can be used to predict hyperthyroid in mole hydatidiform patients. If mole hydatidiform patient has heart rate <100 beats per minute we can use discriminant formula to predict hyperthyroid. [MKB. 2011;43(1):35–41].Key words: Discriminant formula, heart rate, hyperthyroid, mole hydatidiform