Mufti Kamaruddin
Laboratorium Parasitologi, Fakultas Kedokteran Hewan UNSYIAH

Published : 11 Documents
Articles

Found 11 Documents
Search

INTENSITAS CEMARAN LARVA NEMATODA GASTROINTESTINAL PADA RUMPUT GEMBALAAN TERNAK DOMBA DI ACEH BESAR Kamaruddin, Mufti; Hanafiah, Muhammad; -, Nurdianti
Jurnal Veteriner Vol 8, No 1 (2007)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang intensitas cemaran larva nematoda dan jenis larva yang dominan pada rumput pengembalaan ternak domba di Aceh Besar. Sampel rumput diambil dari 4 desa, yaitu Meunasah Papeun, Lamreung, Leung Ie dan Cot Leupan. Pengambilan sampel dilakukan dengan membuat plot berbentuk huruf W pada sampel rumput yang akan diperiksa.
Produksi dan Isolasi Protein Membran Stadium Bradizoit Toxoplasma gondii : Suatu Usaha untuk Mendapatkan Material Diagnostik dalam Mendiagnosa Toksoplasmo Hanafiah, Muhammad; Nurcahyo, Wisnu; Kamaruddin, Mufti; Karmil, Fadrial
Jurnal Veteriner Vol 10, No 3 (2009)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

A study was conducted to isolate the membrane protein of Toxoplasma gondii at bradyzoid stage forthe development of intradermal diagnostic test in livestock infected by the parasite. Toxoplasma wasinitially collected from meat of goat serologically positive to the parasite. The infected meat was then fedinto uninfected cat to obtain oocyst. The oocyst was inoculated into the stomach of mice to produce tachyzoitwhich in turn produce cyst in tissue known as bradyzoit . The membrane protein was then isolated from thebradyzoit. The protein was analysed by sodium dodecyl sulfate electrophoresis (SDS-PAGE). The dataobtained were presented descriptively. The protein concentration isolated from each mouse infected at thedose of 1x107 oocysts was 11.91 mg. Two protein bands specific for bradyzoit were identified at 97.72 kDaand 67.60 kDa.
Study of Toxoplasmosis Infection in Human and Related to Animal in Banda Aceh Hanafiah, Muhammad; Kamaruddin, Mufti; Nurcahyo, Wisnu; Winaruddin, Winaruddin
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 4, No 2 (2010): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.383 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v4i2.9813

Abstract

The research has been done to know prevalence of toxoplasmosis in livestock, to search the source of infection that have potency to cause toxoplasmosis in human and to make a map of toxoplasmosis infection area in Banda Aceh. The method used in this research was serologic test, Card Aglutination Test (CATT). Data of fertile women in this study are collected through questioner. The result of this research showed that the toxoplasmosis prevalency number of society in Banda Aceh was 3.15%, while at livestock were varied respectively: goats 40%, chickens 25%, cattles 23%, duck 20%, cats 16%, buffalos 15%, and sheeps 10%. The potencial sources of to coures toxoplasmosis in human are: goat, chicken, cattle, duck, cat, buffalo, and sheep. The area found toxoplasmosis in humans and animal were: Baiturrahman, Kuta Raja, Ulee Kareng, Kuta Alam, and Syiah Kuala. Model toxoplasmosis infection patterns in human related to livestock and animal in Banda Acheh are : Y ( POSTOKSO) - 1,55688 + 2,65280 AYA + 1,17709 JDG + 4,28482 KUC - 3,74609 MEM
PENGARUH PEMBERIAN AIR PERASAN DALIN PEPAYA PADA AYAM: II. RESPON PATOFISIOLOGIK HEPAR = THE EFFECTS OF PAPAYA LEAF EXTRACT ON CHICKENS: II. PATHOPHYSIOLOGIC AL CHANGES OF LIVER Kamaruddin, Mufti; Sabo, M. Nur
Jurnal Sain Veteriner Vol 20, No 1 (2002)
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian air perasan dam pepaya dengan berbagai tingkatan dosis terhadap respon patofisiologik hepar ayam buras. Penelitian menggunakan 20 ekor ayam buras yang berumur 3 bulan dengan berat badan rata-rata (± SD) adalah 577 ± 69,97 gram. Hewan percobaan dikelompokkan secara acak merata dalam lima kelompok perlakuan, tiap-tiap kelompok terdiri dari empat ekor. Kelompok pertama sebagai kontrol hanya diberikan aquades (P0); kelompok kedua sampai kelompok lima diberi air perasaan daun pepaya dosis tunggal sebagai berikut: 1,5 ml (P1), 2,0 ml (P2), 2,5 nil (P3) dan 3,0 ml (P4). Untuk pembuatan perasan daun pepaya digunakan 400 g daun pepaya yang diekstraksi secara sederhana. Empat hturi setelab perlakuan ayam dikorbankan, dinekropsi dan dilakukan pemeriksaan hepar. Pemeriksaan dilakukan secara makroskopik dan mikroskopik. Preparat mikroskopik dibuat dengan metode parafin dan diwarnai dengan hematoksilineosin (HE). Hasil penelitian menunjukkan perubahan patologik pada hepar pada kelompok perlakuan P2„ P3 dan P4. Secara makroskopik pada hepar terlihat membengkak dan hiperemik, sedangkan secara mikroskopik struktur hepatositus teijadi degenerasi dengan gambaran inti pucat, hiperemi, hemoragi, dan koloni sel polimorfonuklear. Pada kelompok Po dan Pl tidak terlihat adanya perubahan makroskopik dan mikroskopik pada hepar ayam. Dari basil penelitian dapat disimpulkan bahwa dosis air perasan daun papaya 1,5 ml tidak menimbulkan perubahan patofisiologik, sedangkan pemberian pada dosis 2,0 nil, 2,5 ml dan 3,0 mi memperlihatkan perubahan patofisiologik pada hepar ayam buras. Semakin tinggi dosis pemberian air perasan daun pepaya yang diberikan pada ayam semakin besar perubahannya. Kata kunci: Air perasan daun pepaya; patofisiologik hepar
PENGARUH PEMBERIAN AIR PERASAN DAUN PEPAYA PADA AYAM: RESPON TERHADAP PATOFISIOLOGIK GINJAL = THE EFFECTS OF PAPAYA LEAF EXTRACT ON CHICKENS: III. KIDNEY PATHOPHYSIOLOGICAL RESPONSE Kamaruddin, Mufti; Salim, M. Nur
Jurnal Sain Veteriner Vol 20, No 1 (2002)
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian air perasan daun pepaya dengan berbagai tingkatan dosis terhadap respon patofisiologik ginjal ayam buras. Penelitian menggunakan 20 ekor ayam buras yang berumur 3 bulan dengan berat badan rata-rata (± SD) adalah 577 ± 69,97 gram. Hewan percobaan dikelompokkan secara acak merata dalam lima kelompok perlakuan, tiap-tiap kelompok terdiri dari empat ekor. Kelompok pertama sebagai kontrol hanya diberikan aquades (Po); kelompok kedua sampai kelompok lima diberi air perasaan daun pepaya dosis tunggal sebagai berikut: 1,5 ml (P1), 2,0 ml (P2), 2,5 nil (P3) dan 3,0 ml (P4). Untuk pembuatan perasan daun pepaya digunakan 400 g daun pepaya yang diekstraksi secara sederhana. Empat hari setelah perlakuan ayam dibedah bangkai, dinekropsi dan dilakukan pemeriksaan ginjal. Pemeriksaan dilakukan secara makroskopik dan mikroskopik. Preparat mikroskopik dibuat dengan metode parafin dan diwamai dengan hematoksilin-eosin (HE). Hasil penelitian menunjukkan perubahan patologik pads ginjal pada kelompok perlakuan P2, P3 dan P4. Secara makroskopik pada ginjal terlihat membengkak dan hiperemik, dan secara mikroskopik struktur ginjal terjadi degenerasi epitel tubulus, hiperemi, hemoragi, dan koloni sel polimorfonuklear. Pada kelompok Po dan P1 tidak terlihat adanya perubahan makroskopik dan mikroskopik pada ginjal ayam. Dan basil penelitian dapat disinapulkan bahwa dosis air perasan daun pepaya 1,5 ml tidak menirnbulkan perubahan patofisiologik, sedangkan pemberian pada dosis 2,6 ml; 2,5 ml dan 3,0 ml memperlihatkan perubahan patofisiologik pada ginjal ayam buras. Semakin tinggi dosis pemberian air perasan daun pepaya yang diberikan pada ayam semakin besar perubahan pada ginjal. Kata kunci: Air perasan daun pepaya; patofisiologik ginjal
PENGARUH PEMBER1AN AIR PERASAN DAUN PEPAYA PADA AYAM1. RESPON PATOFISIOLOG1K DUODENUM Kamaruddin, Mufti
Jurnal Sain Veteriner Vol 18, No 1 (2000)
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian air perasan daun pepaya dengan berbagai tingkatan dosis terhadap respon patofisiologik duodenum ayam buras. Penelitian menggunakan 20 ekor ayam buras yang berumur 3 bulan dengan berat badan rata-rata (± SD) 577 ± 69,97 g. Hewan percobaan dilcelompokkan secara acak merata dalam lima kelompok perlalcuan, tiap-tiap kelompok terdiri dari empat ekor. Kelompok pertarna sebagai kontrol hanya diberi akuades (Po); kelompok kedua sampai kelompok lima diberi air perasan daun papaya dosis tunggal sebagai berilait: 1,5 ml (P1), 2,0 ml (P2), 2,5 nil (P3) dan 3,0 ml (P4). Untuk pembuatan perasan daun papaya digunakan 400 g daun pepaya dan diekstraksi secara sederhana. Empat had setelah perlakuan ayam dikorbankan, dibedah bangkai, dilalcukan pemeriksaan duodenum. Pemeriksaan dilakukan secara makroskopik dan mikroskopik. Preparat mikroskopik dibuat dengan metode paraffin dan diwarnai dengan hematoksilin-eosin (HE). Hasil penelitian menunjukkan perubahan patologik pada duodenum pada kelompok perlakuan P2, P3 dan P4. Secara makroskopik pada duodenum terlihat gambaran hiperemi dan hemoragi difusa. Sedangkan secara mikroskopik duodenum ayam pada ketiga kelompok perlakuan P2, P3 dan P4 terjadi erosi pada lapisan epitel mukosa, hiperemi, dan hemoragi pada lamina propria. Sedangkan pada kelompok kontrol dan Pi tidak terlihat adanya perubahan makroskopik maupun mikroskopik. Dari hash penelitian dapat disimpulkan bahwa dosis air perasan daun papaya 1,5 ml tidak menimbulkan perubahan patofisiologik, sedangkan pemberian pada dosis 2,0 ml, 2,5 ml dan 3,0 ml memperlihatkan perubahan patofisiologik pada duodenum ayam buras. Sernakin tinggi dosis pemberian air perasan daun pepaya yang diberikan semakin besar perubahannya.
Studi Infeksi Haemonchus spp Pada Kambing Kacang yang Dipotong di Rumah Potong Hewan Banda Aceh Kamaruddin, Mufti
Jurnal Agripet Vol 2, No 2 (2001): Volume 2, No. 2, Oktober 2001
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1383.932 KB) | DOI: 10.17969/agripet.v2i2.3151

Abstract

ABSTRACT. The propose of this study is to find out the prevalence and the severety of Haemonchus spp infection and the comparative count of male and female worms in goats. One hundred abomasums from Abattoir in Banda Aceh were examined with mucous membrane flushing with running water of tap in Parasitology Laboratory of Veterinary Medicine Syiah Kuala University. The result of the study to show that prevalence of Haemonchus spp infection in goats is 87 %, and the severety of infection is 175 worm/goats. The comparative count of male and female worms in goat’s worm is 1 : 1.
EFFECTS OF PAPAYA LEAF EXTRACT ADMINISTRATION IN CHICKENS: I. DUODENUM PATHOPHYSIOLOGICAL RESPONSE Kamaruddin, Mufti; Salim, M Nur
Jurnal Sain Veteriner Vol 18, No 1&2 (2000)
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

The pathophysiological effects of papaya leaf extract administration were studied in 20 local-three month-old chickens weighing 577±69.979 g. The chickens were randomly evenly divided into 4 groups. P0 group just orally received one single dose Of 3.0 ml aquadest. The P1 P2 P3 and P4 groups were treated orally with one single dose of 1,5 ml, 2.0ml, 2.5 ml and 3.0 ml papaya leaf extract respectively. The extract was made from 400 g papaya leaves, extracted directly by simple traditional methods. Four days after treatment, the chickens were sacrificed, the duodenum were excised for macroscopic examinations, than fixed in 10% formalin prepared for microscopic examination using paraffin method and routine hematoxylin-eosin staining. The results indicated that pathological duodenum effects occurred in groups P2, P3 and P4. Macroscopically, the duodenum were hyperaemic and haemorrhagic. Microscopically the duodenum of these groups showed erosions of ephitelial mucous cells, hyperaemic and haemorrhagic propia. The P0 and Pt did not show any macroscopic and microscopic changes. It was concluded that one single dose of 3.0 ml aquadest or 1.5 ml of papaya leaf did not cause any pathophysiological effects in duodenum chicken, but a single dose of 2.0 ml, 2.5 ml or 3.0 ml did. The greater the dose the worse the effects.          
PENGARUH PEMBERIAN AIR PERASAN DALIN PEPAYA PADA AYAM: II. RESPON PATOFISIOLOGIK HEPAR = THE EFFECTS OF PAPAYA LEAF EXTRACT ON CHICKENS: II. PATHOPHYSIOLOGIC AL CHANGES OF LIVER Kamaruddin, Mufti; Sabo, M. Nur
Jurnal Sain Veteriner Vol 20, No 1 (2002): Juli
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.22146/jsv.319

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian air perasan dam pepaya dengan berbagai tingkatan dosis terhadap respon patofisiologik hepar ayam buras. Penelitian menggunakan 20 ekor ayam buras yang berumur 3 bulan dengan berat badan rata-rata (± SD) adalah 577 ± 69,97 gram. Hewan percobaan dikelompokkan secara acak merata dalam lima kelompok perlakuan, tiap-tiap kelompok terdiri dari empat ekor. Kelompok pertama sebagai kontrol hanya diberikan aquades (P0); kelompok kedua sampai kelompok lima diberi air perasaan daun pepaya dosis tunggal sebagai berikut: 1,5 ml (P1), 2,0 ml (P2), 2,5 nil (P3) dan 3,0 ml (P4). Untuk pembuatan perasan daun pepaya digunakan 400 g daun pepaya yang diekstraksi secara sederhana. Empat hturi setelab perlakuan ayam dikorbankan, dinekropsi dan dilakukan pemeriksaan hepar. Pemeriksaan dilakukan secara makroskopik dan mikroskopik. Preparat mikroskopik dibuat dengan metode parafin dan diwarnai dengan hematoksilineosin (HE). Hasil penelitian menunjukkan perubahan patologik pada hepar pada kelompok perlakuan P2„ P3 dan P4. Secara makroskopik pada hepar terlihat membengkak dan hiperemik, sedangkan secara mikroskopik struktur hepatositus teijadi degenerasi dengan gambaran inti pucat, hiperemi, hemoragi, dan koloni sel polimorfonuklear. Pada kelompok Po dan Pl tidak terlihat adanya perubahan makroskopik dan mikroskopik pada hepar ayam. Dari basil penelitian dapat disimpulkan bahwa dosis air perasan daun papaya 1,5 ml tidak menimbulkan perubahan patofisiologik, sedangkan pemberian pada dosis 2,0 nil, 2,5 ml dan 3,0 mi memperlihatkan perubahan patofisiologik pada hepar ayam buras. Semakin tinggi dosis pemberian air perasan daun pepaya yang diberikan pada ayam semakin besar perubahannya. Kata kunci: Air perasan daun pepaya; patofisiologik hepar
Predileksi yang Disukai Oleh Tungau Pada Kambing Kacang Lokal Kamaruddin, Mufti; Hanafiah, M.; Fahrimal, Yudha; Winaruddin, Winaruddin
Jurnal Agripet Vol 2, No 1 (2001): Volume 2, No. 1, April 2001
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.953 KB) | DOI: 10.17969/agripet.v2i1.3086

Abstract

ABTSRACT. This rescerch was done in second stage, The first one of study was done in field at Darul Imarah contry Aceh Besar. Examined of ample in Parasitology  Laboratory of Syiah Kuala University. This aimed of the research to know how predilected on infested of mite in the host. This study used 50 goats were the clinically infected the each of sample pick up erupted of skin in the area of face, ear, neck, beck, fore legs and wrist. Paramaeter of the research were species and each area of host. The result showed that location has a significant effect on mites infestation. The largest number of Sarcopies are found on the face area and the smallest number in the hindd legs. On the other hand, the largest number Chorioptes and Psoroptes are found in the hind legs and samallest in the face and ear area.Key Word : Sarcoptes; Chorioptes and Psoroptes