Articles

Found 16 Documents
Search
Journal : Jurnal Agrotek Tropika

PENGARUH BAHAN ORGANIK TERHADAP MUTU FISIOLOGIS BENIH BEBERAPA VARIETAS SORGUM (Sorghum bicolor) SETELAH MENJALANI PENYIMPANAN Marpaung, Hixkia J.; Pramono, Eko; Kamal, Muhammad
Jurnal Agrotek Tropika Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.832 KB) | DOI: 10.23960/jat.v3i2.1993

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian dosis bahan organik yang berbeda pada mutu fisiologis benih tiga varietas sorgum.Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Desa Negara Ratu, Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan dan Laboratorium Teknologi Benih dan Pemuliaan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung pada bulan Mei 2013 sampai Maret 2014. Perlakuan disusun secara faktorial dalam Rancangan Petak Terbagi (Split plot Design) yang diulang tiga kali sebagai ulangan. Petak utama adalah dosis bahan organik dari pupuk kandang sapi (B) yang terdiri atas 0 (b0), 5 (b1), 10 (b2) dan 15 t ha -1 (b3) dan anak petak adalah varietas tanaman sorgum (G) yang terdiri dari varietas Numbu (g1), Keller (g2), Wray (g3). Benih yang telah dipanen dari setiap kombinasi perlakuan di uji viabilitasnya dengan metode Uji Kertas digulung (UKD). Pengujian mutu fisiologis benih dilakukan pada saat setelah panen sebelum disimpan, tiga bulan setelah disimpan, dan lima bulan disimpan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian dosis bahan organik 15 t ha -1 menghasilkan mutu fisiologis benih sorgum lebih tinggi daripada tanpa bahan organik. Varietas Numbu menghasilkan benih dengan mutu fisiologis yang lebih tinggi daripada varietas Keller dan varietas Wray terutama setelah benih disimpan selama 3 dan 5 bulan. Pemberian bahan organik 15 t ha -1 menunjukkan peningkatan mutu fisiologis benih sorgum pada varietas Numbu dan Keller.
PENGARUH 1-METHYLCYCLOPROPENE (1-MCP), KITOSAN, DAN SUHU SIMPAN TERHADAP MASA SIMPAN DAN MUTU JAMBU BIJI (Psidium guajava L.) ‘CRYSTAL’ Widodo, Soesiladi E.; Kamal, Muhammad; Zulferyenni, Zulferyenni; Aprianti, Dwi
Jurnal Agrotek Tropika Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.245 KB) | DOI: 10.23960/jat.v4i1.1896

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi tunggal 1-MCP, kitosan, dan suhu dingin, interaksi antara 1-MCP dan kitosan, 1-MCP dan suhu dingin, dan kitosan dan suhu dingin, serta interaksi antara 1-MCP, kitosan, dan suhu dingin dalam memperpanjang masa simpan dan mempertahankan mutu buah jambu biji ‘Crystal’. Penelitian disusun dalam Rancangan Teracak Sempurna (RTS) secara faktorial 2 x 2 x 2 dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah 1-MCP (dengan 1-MCP dan tanpa 1-MCP), faktor kedua adalah kitosan (tanpa dan dengan kitosan 2,5%) dan faktor ketiga adalah suhu simpan (suhu dingin 20,8 ºC dan suhu kamar 25,2 ºC). Pengamatan dilakukan terhadap peubah masa simpan, kekerasan, susut bobot, ºBrix, asam bebas, dan tingkat kemanisan buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi 1-MCP, kitosan, dan penyimpanan pada suhu dingin 20,8 ºC tidak nyata meningkatkan masa simpan, kekerasan, dan susut bobot, tetapi mampu mempertahankan ºBrix, asam bebas, dan tingkat kemanisan buah jambu biji ‘Crystal’. Tidak terdapat pengaruh interaksi antara 1-MCP dengan kitosan, 1-MCP dengan suhu dingin, dan kitosan dengan suhu dingin terhadap masa simpan, kekerasan, susut bobot, ºBrix, asam bebas, dan tingkat kemanisan buah jambu biji ‘Crystal’. Tidak terdapat pengaruh interaksi antara 1-MCP, kitosan, dan suhu dingin terhadap masa simpan, kekerasan, susut bobot, ºBrix, asam bebas, dan tingkat kemanisan buah jambu biji ‘Crystal’.
PENGARUH APLIKASI BAHAN ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BEBERAPA VARIETAS SORGUM (Sorghum bicolor [L] Moench) Pramanda, Ryzkita Prima; Hidayat, Kuswanta Futas; Sunyoto, Sunyoto; Kamal, Muhammad
Jurnal Agrotek Tropika Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.555 KB) | DOI: 10.23960/jat.v3i1.1960

Abstract

Sorghum (Sorghum bicolor [L] Moench) adalah tanaman serealia yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sumber bahan pangan mendukung program diversifikasi pangan. Untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum maka perlu upaya pengembangan teknik budidaya seperti penambahan bahan organik dan penggunaan varietas unggul. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk;  mengetahui dosis pemberian bahan organik terbaik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum; mengetahui varietas tanaman sorgum yang menunjukan pertumbuhan dan hasil terbaik ; mengetahui pengaruh interaksi antara dosis bahan organik dan varietas yang digunakan terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Unit Kebun Percobaan Natar, Desa Negara Ratu, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan pada bulan Mei sampai September 2013. Perlakuan disusun secara faktorial dalam rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan.  Petak utama adalah dosis bahan organik (b) yang terdiri atas 4 taraf yaitu 0 ton ha (b0), 5 ton ha-1 (b1), 10 ton ha-1 (b2) dan 15 ton ha (b3).  Anak petak adalah varietas sorgum (g) yaitu Numbu (g1), Keller (g2), dan Wray (g3). Sorgum ditanam dengan jarak tanam 80 cm x 20 cm pada setiap petak percobaan yang berukuran 4 m x 4 m. Pupuk yang digunakan adalah Urea, SP-36 dan KCl masing-masing dengan dosis 100, 100 dan 150 kg ha-1. Pemberian Urea dilakukan secara bertahap yaitu 2 minggu setelah tanam (mst) dan 6 mst. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; aplikasi bahan organik meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum. Hasil sorgum tertinggi dicapai pada dosis 15 ton ha-1 ; varietas Numbu menunjukkan keragaan komponen hasil bobot biji/ malai terbaik, sedangkan produksi biomassa terbaik ditunjukkan oleh varietas Keller dan Wray; kombinasi penggunaan bahan organik dan varietas yang tepat untuk memperoleh hasil biji sorgum tertinggi adalah dosis 15 ton ha dengan varietas Numbu. 
PENGARUH KERAPATAN TANAMAN TERHADAP PRODUKSI BIOMASSA DAN NIRA TIGA VARIETAS SORGUM (Sorghum bicolor (L.) Moench) RATOON I Anggraeni, Desi; Karyanto, Agus; Sunyoto, Sunyoto; Kamal, Muhammad
Jurnal Agrotek Tropika Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.196 KB) | DOI: 10.23960/jat.v3i1.1955

Abstract

Kerapatan tanaman dapat menyebabkan terjadinya kompetisi antar tanaman, sehingga pengaturan kerapatan tanaman yang tepat sangat diperlukan dalam produksi tanaman sorgum.Penelitian ini bertujuan untuk; mengetahuikerapatan tanaman yang terbaik untuk produksi biomassa dan nira pada tanaman sorgum ratoon I,; mengetahuivarietas sorgum ratoon I yang terbaik untuk produksi biomassa dan nira; mengetahuipengaruh interaksi kerapatan tanaman dan varietas terhadap produksi biomassa dan nira.Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaaan BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian) Natar, Lampung Selatan, pada bulan September 2013 sampai Desember 2013.Perlakuan disusun secara faktorial dalam Rancangan Acak Kelompok, dengan 3 ulangan.Faktor pertama adalah varietas yang terdiriatas varietas Numbu, Keller, dan Wray.Faktor kedua adalah kerapatanan tanaman yang terdiri atas kerapatan satu, dua, tiga, dan empat tanaman per lubang. Petak percobaan pada penelitian ini berukuran 4 m x4 m.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: kerapatan tiga tanaman per lubang memiliki bobot basah tanaman dan volume nira paling tinggi pada umur 12 mst. Perbedaan produksi nira dan bobot tanaman basah antar kerapatan tersebut yaitu 42,66 – 81,47% dan 29,84-71,33%, pada varietas Keller dengan populasi tanaman 187.500 tanaman ha1 dan jarak tanamnya adalah 80x20 cm; varietas Numbu mampu menghasilkan biomassa dan nira tertinggi pada fase vegetatif, sedangkan varietas Keller menghasilkan biomassa dan nira tertinggi pada fase generatif; kombinasi perlakuan antara kerapatantanaman dan varietas mempengaruhi produksi biomassa dan nira tanaman sorgum. Kerapatan tiga tanaman per lubang tanam dengan varietas Keller mampu memproduksi biomassa dan nira tertinggi pada sorgum umur 12 mst ratoon I yaitu sebesar 390,00 g per tanaman dan 85,94 ml pertanaman, setara dengan 25.350,62 l per hadan 73,125ton ha-1.
RESPONS PERTUMBUHAN DAN HASIL TIGA VARIETAS SORGUM (Sorghum bicolor (L.) Moench) RATOON I TERHADAP APLIKASI BAHAN ORGANIK TANAMAN SORGUM PERTAMA Novri, Novri; Kamal, Muhammad; Sunyoto, Sunyoto; Hidayat, Kuswanta Futas
Jurnal Agrotek Tropika Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.375 KB) | DOI: 10.23960/jat.v3i1.1918

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis bahan organik yang diaplikasikan pada tanaman sorgum pertama terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum ratoon I, pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum ratoon I yang terbaik pada tiga varietas yang dicoba, dan mengetahui pengaruh interaksi antara dosis bahan organik yang diaplikasikan pada tanaman sorgum pertama dengan tiga varietas yang dicoba terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum ratoon I. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kebun Percobaan Natar, Desa Negara Ratu, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan dan Laboratorium Ilmu Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung yang dilaksanakan pada bulan September sampai dengan Desember 2013. Perlakuan disusun secara faktorial dengan Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design) dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS) dengan tiga ulangan. Petak percobaanyang digunakan pada penelitian ini berukuran 4m x 4 m. Tiap satu satuan percobaan seluas 16 m dengan jarak tanam 80x20 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ; Perlakuan dosis bahan organik 15 ton/ha menghasilkan bobot biji/malai sorgum ratoon I tertinggi yaitu 45,64 g/tanaman atau setara 285,25 g/m2 2; Varietas Numbu menunjukkan hasil bobot biji/ malai sorgum ratoon I tertinggi yaitu 55,37 g/tanaman atau setara 346,06 g/m sedangkan, varietas Wray menghasilkan bobot brangkasan basah tertinggi, yaitu 0,54 kg/tanaman atau setara 3,37 kg/m2 2 ; dan Kombinasi antara dosis bahan organik dan varietas sorgum yang tepat untuk menghasilkan bobot brangkasan basah tertinggi adalah dosis bahan organik 5 ton/ha dengan varietas Wray yaitu 0,54 kg/tanaman atau setara 3,37 g/m2.
RESPONS PERTUMBUHAN DAN HASIL BEBERAPA VARIETAS TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) TERHADAP SISTEM TUMPANGSARI DENGAN TANAMAN UBIKAYU (Manihot esculenta Crantz) Suseno, Sandi; Kamal, Muhammad; Sunyoto, Sunyoto
Jurnal Agrotek Tropika Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (63.926 KB) | DOI: 10.23960/jat.v2i1.1934

Abstract

Pengembangan jagung secara monokultur menghadapi kendala kompetisi penggunaan lahan dengan tanaman pangan lainnya. Salah satu cara mengatasi hal tersebut adalah dengan melakukan sistem tumpangsari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil tanaman jagung pada sistem tumpangsari dengan ubikayu dan sistem monokultur dan untuk mengetahui pengaruh varietas terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung yang ditumpangsarikan dengan tanaman ubikayu. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Badan Penelitian Tanaman Pangan (BPTP) Natar, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan dan Laboratorium Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung pada bulan November 2012 sampai dengan Maret 2013. Perlakuan disusun secara faktorial dengan petak terbagi dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 ulangan . Petak utama adalah pola pertanaman, yaitu monokultur dan tumpangsari, Anak petak adalah varietas tanaman jagung yang terdiri dari lima varietas yaitu P27, DK77, DK85, DK95, NK22. Petak percobaan yang digunakan pada penelitian ini berukuran 4 x 3,2 m. Data di analisis dengan ANOVA. Perbedaan nilai tengah perlakuan ditentukan dengan uji BNJ pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan Respons pertumbuhan dan hasil tanaman jagung terhadap sistem tumpangsari dengan ubikayu tidak tergantung pada varietas jagung. Pertumbuhan jagung pada sistem tumpangsari dan monokultur juga relatif sama. Pada sistem monokultur bobot biji kering per tanaman 15% lebih tinggi dari pada sistem tumpangsari. Antar - varietas, NK22 memiliki bobot biji kering per tanaman tertinggi, yaitu masing masing 4,7% ; 8,8% ; 10,2% , dan 11,1% lebih tinggi dibandingkan dengan DK77, DK95, P27 dan DK85.
AKUMULASI BAHAN KERING BEBERAPA VARIETAS JAGUNG HIBRIDA (Zea mays L.) YANG DITUMPANGSARIKAN DENGAN UBIKAYU (Manihot esculenta Crantz) Alsabah, Ragil; Sunyoto, Sunyoto; Hidayat, Kuswanta Futas; Kamal, Muhammad
Jurnal Agrotek Tropika Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.147 KB) | DOI: 10.23960/jat.v2i3.2068

Abstract

Sistem tumpangsari jagung dengan ubikayu merupakan cara untuk mengoptimalisasi penggunaan lahan.Bahan kering tanaman merupakan ukuran yang paling sering digunakan untuk menggambarkan dan mempelajari pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk: 1). mengetahui akumulasi bahan kering tanaman jagung yang ditanam secara monokultur dan tumpangsari dengan ubikayu, 2). mengetahui akumulasi bahan kering beberapa varietas jagung hibrida dalam sistem tumpangsari dengan ubikayu. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan BPTP, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan dan Laboratorium Ilmu Tanaaman, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung pada bulan November 2012 sampai Maret 2013. Perlakuan disusun secara faktorial dengan petak terbagi dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 ulangan.Petak utama adalah pola pertanaman tumpangsari dan monokultur, sedangkan anak petak adalah varietas tanaman jagung yang terdiri atas P27, DK77, DK85, DK95 dan NK22. Petak percobaan yang digunakan pada penelitian ini berukuran 4 x 3,2 m. Data dianalisis dengan ANOVA dan perbedaan nilai tengah perlakuan ditentukan dengan uji beda nyata jujur pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akumulasi bahan kering tanaman jagung yang ditanam secara monokultur dan tumpangsarimenunjukkan perbedaan secara nyata; bahan kering pada tanaman jagung secara monokultur memiliki nilai yang lebih besar daripada tanaman yang dibudidayakan secara tumpangsari. Sebagian bahan kering diakumulasikan pada biji diikuti batang,daun, akar, tongkol, kelobot dan malai. Akumulasi bahan kering pada beberapa varietas jagung yang ditanam secara tumpangsari menunjukkan perbedaan tidak nyata. Namun demikianvarietas NK22 menunjukkan akumulasi bahan kering yang paling besar dibandingkan dengan varietas DK85, DK77, DK95 dan P27.
KAJIAN INTERSEPSI CAHAYA MATAHARI PADA TIGA VARIETAS SORGUM (Sorghum bicolor (L.) Moench) DENGAN KERAPATAN TANAMAN BERBEDA PADA SISTEM TUMPANGSARI DENGAN UBIKAYU (Manihot esculenta Crantz) Ariyanto, Apri; Hadi, Muhammad Syamsoel; Kamal, Muhammad
Jurnal Agrotek Tropika Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.184 KB) | DOI: 10.23960/jat.v3i3.1961

Abstract

Tumpangsari tanaman sorgum dengan tanaman ubi kayu merupakan usaha pemanfaatan ruang kosong pada tanaman ubi kayu untuk meningkatkan penggunaan lahan. Persaingan cahaya matahari antartanaman yang ditumpangsarikan merupakan permasalahan dalam sistem ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola intersepsi cahaya matahari tiga varietas sorgum pada tingkat kerapatan tanaman berbeda pada sistem tumpangsari dengan ubi kayu. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Desa Negara Ratu Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan dari bulan Agustus sampai November 2014. Percobaan disusun secara faktorial (4x3) dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah kerapatan tanaman (p), dan faktor kedua adalah varietas sorgum (g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kerapatan empat tanaman perlubang tanam memiliki persentase intersepsi cahaya matahari tertinggi, (2) intersepsi cahaya matahari ketiga varietas sorgum menunjukkan pola yang relatif sama pada berbagai umur pengamatan (3) interaksi antara varietas dengan kerapatan tanaman memberikan perbedaan intersepsi cahaya matahari tanaman sorgum pada tumpangsari dengan ubi kayu pada umur 5 dan 7 mst dan (4) persentase intersepsi cahaya matahari tanaman sorgum nyata berkorelasi negatif dengan jumlah biji per malai, bobot biji per malai, bobot biji per m 2, bobot 100 butir, dan bobot brangkasan kering.
PERTUMBUHAN DAN HASIL TIGA VARIETAS SORGUM (Sorghum bicolor (L.) Moench) RATOON I PADA KERAPATAN TANAMAN YANG BERBEDA Cahyo, Galih Dwi; Hidayat, Kuswanta Futas; Sunyoto, Sunyoto; Kamal, Muhammad
Jurnal Agrotek Tropika Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (47.525 KB) | DOI: 10.23960/jat.v2i3.2069

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh varietas terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum ratoon I; pengaruh kerapatan tanaman terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum ratoon I; dan pengaruh interaksi antaravarietas sorgum dan kerapatan tanaman terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum ratoon I. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan (KP) Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Lampung, Desa Negara Ratu, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan dan Laboratorium Ilmu Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung yang dilaksanakan pada bulan September sampai bulan Desember 2013. Perlakuan dalam penelitian ini disusun secara faktorial (3x4) dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 12 perlakuan dan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan varietas sorgum mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum ratoon I, kecuali pada diameter batang dan bobot brangkasan basah. Varietas Numbu mampu menghasilkan bobot biji kering/ ha yang lebih tinggi 157,98 % dari varietas Kellerdan lebih tinggi 180,36 % dari varietas Wray. Secara umum kerapatan tanaman rendah menunjukkan hasil per individu tanaman sorgum ratoon I tertinggi, namun hasil per satuan luas lahan tanaman sorgum ratoon I tertinggi ditunjukkan oleh kerapatan tanaman tinggi. Penggunaan kerapatan tanaman tiga tanaman/ lubang tanam dapat menghasilkan bobot biji kering/ hayang lebih tinggi 62,00 % daripada kerapatan satu, 58,80 % dari kerapatan empat, dan lebih tinggi 50,00 % dari kerapatan dua. Varietas Numbu yang ditanam pada kerapatan tanaman satu tanaman/ lubang tanam mampu menghasilkan jumlah biji/ tanaman dan bobot biji kering/ tanaman yang tertinggi. Pada bobot brangkasan kering/ m 2 tertinggi dihasilkan oleh varietas Numbu yang ditanam pada kerapatan tanaman empat tanaman/ lubang tanam. Kombinasi varietas Numbu dengan kerapatan tanamanempat tanaman/ lubang tanam mampu menghasilkan bobot brangkasan kering/ ha lebih tinggi 46,67 % daripada varietas Keller, dan lebih tinggi 28,82 % daripada varietas Wray.
PENGARUH TINGKAT KERAPATAN TANAMAN TERHADAP KERAGAAN DAUN, PERTUMBUHAN BIJI DAN DAYA BERKECAMBAH BENIH BEBERAPA VARIETAS SORGUM (Sorghum bicolor (L.) Moench) PADA SISTEM TUMPANGSARI DENGAN UBI KAYU (Manihot esculenta Crantz) Siwi, Anggi Anggrestyas; Kamal, Muhammad; Sunyoto, Sunyoto
Jurnal Agrotek Tropika Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.849 KB) | DOI: 10.23960/jat.v3i3.1962

Abstract

Sorgum merupakan tanaman serealia sumber karbohidrat yang cukup penting bagi penduduk dunia. Alternatif pengembangan sorgum yaitu dengan melakukan pola tanam tumpangsari dan dengan pengaturan kerapatan tanaman. Hasil penelitian Pithaloka (2014) menunjukkan bahwa sorgum yang ditanam monokultur dengan kerapatan tinggi (3-4 tanaman per lubang) menghasilkan produksi biji per satuan luas lahan lebih tinggi dibandingkan dengan kerapatan tanaman (1-2 tanaman per lubang). Tujuan dari penelitan ini adalah (1) Mengetahui tingkat kerapatan tanaman terbaik untuk keragaan daun, pertumbuhan biji dan daya berkecambah benih sorgum pada sistem tumpangsari dengan ubikayu; (2) Mengetahui pengaruh perbedaan varietas terhadap keragaan daun, pertumbuhan biji dan daya berkecambah benih sorgum pada sistem tumpangsari dengan ubi kayu; (3) Mengetahui pengaruh interaksi antara kerapatan tanaman dan varietas terhadap keragaan daun, pertumbuhan biji, dan daya berkecambah benih sorgum pada sistem tumpangsari dengan ubikayu. Perlakuan disusun secara faktorial (3X4) dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh kerapatan tanaman terhadap keragaan daun, pertumbuhan biji dan daya berkecambah benih sorgum tergantung pada varietas. Pada kerapatan tanaman rendah (1 dan 2 tanaman per lubang) varietas Numbu memiliki jumlah biji/tanaman tertinggi dibandingkan dengan varietas Keller dan Wray, sementara pada daya berkecambah varietas Wray tertinggi dibandingkan dengan varietas Numbu dan Keller.