Articles

Found 34 Documents
Search

Peningkatan Kualitas Pendidikan untuk Anak Suku Anak Dalam di Dusun Selapik, Kabupaten Muaro Jambi

Jurnal Karya Abdi Masyarakat Vol 2 No 1 (2018): Volume 2, No (issue) 1, Juni 2018
Publisher : LPPM Universitas Jambi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.541 KB)

Abstract

Dusun Selapik merupakan salah satu dusun yang masuk ke dalam Desa Nyogan Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi. Dusun ini merupakan tempat bermukimnya Suku Anak Dalam (SAD), yang hidup berdampingan dengan warga desa lainnya. Suku Anak Dalam di Dusun Selapik sudah bermukim permanen di kawasan dekat dengan pemukiman penduduk biasa, dan tidak berpindah-pindah, seperti kebiasaan SAD lainnya. Pendidikan bagi anak-anak Suku Anak Dalam yang berada di Dusun Selapik tidak mengikuti sekolah formal sama sekali, mereka hanya belajar di  sanggar belajar “Meraih Mimpi”. Sanggar Belajar ini dibina oleh Karang Taruna Setempat, dan waktu belajarnya hanya 3 kali seminggu, dengan fasilitas seadanya. Berdasarkan hasil survey pendahuluan dan wawancara langsung dengan kepala Dusun Selapik diperoleh informasi bahwa masalah biaya merupakan penyebab utama yang menyebabkan anak-anak SAD putus sekolah. Universitas Jambi sebagai salah satu Lembaaga Pendidikan dan merupakan Perguruan Tinggi Negeri terbesar di Provinsi Jambi, melalui Pusat Sudi Pendidikan Masyarakat dibawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat turut terpanggil untuk melakasanakan program pendidikan untuk anak-anak SAD. Metode pengabdian yang digunakan yaitu Participatory Rural Apraisal (PRA), yaitu metode pendidikan pada masyarakat.Berdasarkan hasil kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat tentang  Peningkatan Kualitas Pendidikan untuk Suku Anak Dalam di Dusun Selapik dapat diambil kesimpulan: (1).Sosialisasi kepada Kepala Desa dan Aparat Desa telah dilakukan dalam upaya untuk mengetahui kondisi real masyarakat Dusun Selapik. (2). Penyuluhan kepada Orangtua SAD telah menggugah dan menyadarkan mereka akan pentingnya pendidikan untuk anak-anak mereka, (3) Pemberian bantuan sarana dan prasarana pendidikan kepada anak-anak SAD  meningkatkan pemahaman anak-anak dalam belajar, mengaji dan praktek ibadah, (4) Kemajuan pendidikan anak-anak SAD di Dusun Selapik cukup signifikan dengan adanya kegiatan Pengabdian Masyarakat ini.

PENGARUH PEMBERIAN VITAMIN C DAN E TERHADAP GAMBARAN HISTOLOGIS TESTIS MENCIT (Mus musculus L.) YANG DIPAJANKAN MONOSODIUM GLUTAMAT (MSG)

Saintia Biologi Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : Saintia Biologi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.802 KB)

Abstract

The aim of this study is to determine the effect of vitamin C and E on  testicular histology of mice following exposure to monosodium glutamate (MSG) for 30 days. Completely Randomized Design (CRD) consisting of 6 treatments and 5 replications was used in this experiment. Mice were treated daily by oral gavage with 4 mg MSG (P1),  4 mg MSG + 0,26 mg  vitamin C (P2),  4 mg MSG + 0,026 vitamin E (P3), and  4 mg  MSG + 0,26 mg  vitamin C + 0,026 mg vitamin E (P4). All dosages (mg/g) were given based on body weight. Two control groups K- and K+ treated with water and castor oil respectively. The results showed that MSG decrease testis weight and its volume (P<0,05), MSG also decrease the diameter of seminiferous tubule and the number of spermatogenic cells. Vitamin C recovers testis weight (P<0,05), but cannot recover its volume, diameter of seminiferous tubules and the number  spermatogenic cells (P>0,05). Vitamin E increases the weight and volume of the testes and spermatogenic cells (P<0,05), but unable to recover diameter of the seminiferous tubules (P>0,05). The combination of vitamin C and E recover testis weight and its volume, seminiferous  tubule  diameter  and number  of  spermatogenic  cells (P<0,05). Keywords: Monosodium Glutamate, Vitamin C, Vitamin E, Testis

Child morbidity, level of parent’s education, and accessibility to health facilities as factors affecting Posyanduutilization

Health Science Journal of Indonesia Vol 4, No 1 Jun (2013)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLatar belakang: Pemanfaatan  Posyanduoleh ibu  yang mempunyai balita menurun. Studi ini mengidentifikasi beberapa faktor terkait pemanfaatan Posyanduoleh ibu para balita. Metode: Data berasal dari sebagian data studi potong lintang Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007. Populasi adalah semua wanita berumur 15-49 tahun yang mempunyai balita di Provinsi Jambi. Pemanfaatan Posyanduberdasarkan wawancara kepada ibu tentang pemanfaatan Posyanduoleh ibu selama 3 bulan terakhir sebelum survei. Hasil: Lebih banyak subjek yang menggunakan (62,9%) daripada tidak menggunakan (37.1%) Posyandu. Pendidikan ayah dan ibu, pekerjaan ayah, tingkat sosial ekonomi keluarga, morbiditas balita merupakan faktor risiko dominan terhadap pemanfaatan Posyandu. Subjek yang memiliki balita sakit dibandingkan yang tidak memiliki balita sakit 23% lebih banyak memanfaatkan Posyandu[risiko relatif suaian (RRa) = 1,23; P = 0,000]. Dari segi pendidikan ayah, mereka yang memiliki pendidikan ayah yang tinggi dibandingkan dengan pendidikan ayah yang rendah memiliki 18% lebih banyak yang memanfaatkan Posyandu(RRa = 1,18; P = 0,000). Di samping itu, mereka yang mudah dibandingkan dengan yang sulit berakses terhadap fasilitas kesehatan memiliki 15% lebih banyak memanfaatkan Posyandu. Kesimpulan: Pendidikan orang tua, pekerjaan ayah, dan tingkat sosial ekonomi keluarga, morbiditas anak merupakan faktor risiko utama terhadap pemanfaatan Posyandu. (Health Science Indones 2013;1:27-31)Kata kunci: pemanfaatan Posyandu, balita, pendidikan orang tuaAbstractBackground: Utilization of Integrated Health Post (Posyandu) by mothers with under-five has declined. This study examined several factors related to the utilization of Posyanduby mothers with under-five children. Methods: This cross sectional study analyzed a part of data from the National Basic Health Research (Riskesdas) 2007. The population consisted of women aged 15-49 years who had under-five children in the province of Jambi. Utilization of the Posyandu was the use of Posyanduby mothers in the last 3 months prior to the survey. Results: More subjects who utilized (62.9%) than did not utilized (37.1%) the Posyandu. Education of mother and father, occupation of father, and socioeconomic level of family child morbidity were dominant risk factors for to utilization Posyandu. Those who had compared with did not have child morbidity had 23% more chance to utilize Posyandu[adjusted relative risk (RRa) = 1.23; P = 0.000]. In term of education of father, those who had high than low education had 18% more chance to utilize Posyandu(RRa = 1.18; P = 0.000). In addition, those who had easy than difficult health facilities accessibility had 15% more chance to utilize Posyandu.Conclusions: Education of parents, father’s occupation, and family socioeconomic level, child morbidity were dominant risk factors for to Posyandu utilization. (Health Science Indones 2013;1:27-31)Key words: posyanduutilization, under-five children, education of parents

Selected risk factors related to underweight children aged 24-59 months in Jambi province, Indonesia

Health Science Journal of Indonesia Vol 4, No 2 Des (2013)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLatar belakang:Gizi kurang dengan berbagai penyebab merupakan penyebab utama angka kesakitan dan kematian di antara anak-anak di negara berkembang. Studi ini meneliti beberapa faktor risiko terhadap gizi kurang pada anak berumur 24-59 bulan di Provinsi Jambi. Metode:Analisis menggunakan sebagian data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 di Provinsi Jambi di antara anak berumur 24-59 bulan. Status gizi kurang dihitung menggunakan software WHO Anthro 2009 dengan batas nilai Z < –2 SD. Status gizi ibu dinilai dengan indeks massa tubuh berdasarkan WHO. Tingkat sosial ekonomi berdasarkan median pendapatan per kapita. Regresi Cox digunakan untuk menganalisis faktor determinan status gizi kurang. Hasil:Proporsi anak dengan gizi kurang sebesar 26,9% (206/766). Dibandingkan ibu dengan status gizi normal, ibu yang kurus berisiko 20% lebih memiliki anak berat badan kurang [risiko relatif suaian (RRa) = 1,20; 95% interval kepercayaan (CI) = 0,88-1,65; P = 0,250]. Namun, ibu dengan kelebihan berat badan memiliki risiko 46% lebih rendah untuk memiliki anak kurang berat badan (RRa = 0,54; P = 0,003). Pekerjaan ayah dan status sosial ekonomi keluarga, ayah yang tidak mempunyai pekerjaan atau memiliki status sosial ekonomi keluarga yang rendah masing-masing berisiko 37% dan 42% lebih besar memiliki anak kurang berat badan. Anak-anak yang memiliki sumber air yang buruk memiliki risiko 22% lebih tinggi untuk kurang berat badan. Kesimpulan:Ibu dengan status gizi kurang mempunyai risiko yang lebih besar memiliki anak gizi kurang. Sebaliknya, ibu kelebihan berat badan memiliki risiko yang lebih rendah untuk memiliki anak gizi kurang. (Health Science Indones 2013;2:78-82)Kata kunci:gizi kurang, balita, status gizi, malnutrisiAbstractBackground: Malnutrition with various causes is a major cause of morbidity and mortality among children in developing countries. This study examined several risk factors related to underweight among children aged 24-59 months in province of Jambi in Indonesia. Methods: This analysis used a part of Basic Health Research (Riskesdas) 2007 data in the province of Jambi in Indonesia among children aged 24-59 months. Underweight status calculation used WHO Anthro 2009 software based on weight for age indicator with limit value of  Z < - 2 SD. Mother nutritional status was evaluated by body mass index (kg/m2) based on WHO category. Family socio-economic status was categorized by median of per capita income. Cox regression was used to analysis determinant factors of underweight. Results: The  proportion  of  underweight  children  was  26.9%  (206/766).  Compared  with  normal  nutritional status of the mother, the underweight mother had 20% more risk to have underweight children [adjusted relative risk (RRa) = 1.20; 95% confidence interval (CI) = 0.88-1.65; P = 0.250). However, children of overweight mother had 46% lower risk to have underweight children (RRa = 0.54; P = 0.003). In term of father’s occupation and family socioeconomic status, children with unemployed father or low family socioeconomic status had 37% (RRa = 1.37; P= 0.030) and 42% (RRa = 1.42; P = 0.004) higher risk to have underweight children, respectively. Children who had poor water source had 22% higher risk to be underweight. Conclusion:  Underweight  mothers  had  more  risk  to  be  underweight  children;  however,  overweight mothers had lower risk to have underweight children. (Health Science Indones 2013;2:78-82)Key words: poor nutrition, under fives, nutritional status, malnutrition

Education, contraceptive use in women and the chance of six months exclusive breastfeeding in Indonesia

Health Science Journal of Indonesia Vol 5, No 1 Jun (2014)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Latar belakang:Di Indonesia proporsi ibu-ibu yang melaksanakan pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan masih rendah. Pada tulisan ini disajikan beberapa faktor risiko yang berkaitan dengan pemberian ASI eksklusif 6 bulan. Metode: Analisis naskah ini memakai sebagian data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 di 33 provinsi di Indonesia berdasarkan desain stratified sampling. Pada analisis ini sub-sampel ialah wanita berumur 15-49 tahun yang mempunyai bayi lahir tunggal hidup berumur 6 bulan, mempunyai bayi hidup bersama ibunya, dan mempunyai data lengkap untuk keperluan analisis ini. Jumlah ibu yang mempunyai anak <2 tahun serta hidup bersama anaknya sebanyak 1040, dan 325 di antaranya yang mempunyai anak 6 bulan serta lengkap datanya.Hasil:Ibu-ibu yang memberi ASI eksklusif hingga 6 bulan sebanyak 3,7%. Pemakaian kontrasepsi serta pendidikan merupakan dua faktor dominan terhadap kemungkinan pemberian ASI eksklusif. Dibandingkan dengan ibu yang memakai kontrasepsi hormonal, ibu yang tidak memakai kontrasepsi non hormonal serta yang tidak memakai kontrasepsi 7,3 kali lipat dan 9,1 kali lipat lebih tinggi memberikan ASI eksklusif [masing-masing risiko relatif (RRa) = 7,25; P = 0,031; dan RRa = 9,08; P = 0,004]. Ditinjau dari segi pendidikan  ibu,  ibu  yang  yang  berpendidikan  rendah  dibandingkan  dengan  ibu  berpendidikan  tinggi/menengah 4.2 kali lipat memberikan ASI eksklusif (RRa = 4,19; P = 0,027).Kesimpulan:Ibu-ibu yang memberikan ASI eksklusif hingga 6 bulan lebih sering terdapat di antara ibu-ibu yang tidak memakai kontrasepsi serta yang berpendidikan rendah. (Health Science Indones 2014;1:17-22)Kata kunci: ASI eksklusif, pendidikan ibu, kontrasepsi AbstractBackground: Exclusive breastfeeding for 6 months among Indonesian women is very low. This paper aimed to assess several factors related to exclusive breastfeeding for 6 months in Indonesia. Methods: This paper used part of the data from National Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS) 2012 from all (33) provinces in Indonesia based on stratified sampling design. The sub-sample included in this analysis were women aged 15-49 years who had a live last child aged 6 months at the time of interview, single birth, the baby lived with the mother, and had complete data for this analysis. The number women who with 2 year-old or less children and living with their mothers were 1040. For this analysis there were 325 women with 6 month-old babies.Results: The proportion of those with exclusive breastfeeding for 6 months was 3.7%. The final model revealed that contraception use and mother’s education were dominant risk factors for exclusive breastfeeding for 6 months. Compared to those who used hormonal contraception, those with non-hormonal as well as those who did not use any contraception had 7.3-fold and 9.1-fold, respectively, chance of practising exclusive breastfeeding for 6 months [adjusted relative risk (RRa) = 7.25; P= 0.031; and RRa = 9.08; P = 0.004 respectively]. Furthermore, in term of mother’s education, those who had low education compare with middle/higher education had 4.2-fold chance of practicing exclusive breastfeeding for six months (RRa = 4.19; P = 0.027).Conclusion: Exclusive breastfeeding for 6 months were more common among women who did not use any contraception as well as who had low education. (Health Science Indones 2014;1:17-22)Key words: exclusive breastfeeding, education of mothers, contraceptive use

ANALISIS PREFERENSI KONSUMEN DALAM MEMBELI RENGGINANG LORJUK DI KECAMATAN KAMAL BANGKALAN

9-772301-994005
Publisher : Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura.

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKAtribut sebuah produk dapat menjadi pertimbangan konsumen dalam membeli sebuah produk. Preferensi konsumen dalam membeli rengginang lorjuk dipengaruhi oleh beberapa atribut. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan karakteristik konsumen dan menganalisis atribut-atribut yang menjadi pertimbangan konsumen dalam membeli rengginang lorjuk. Penelitian ini dilakukan di  daerah Kamal. Sampel diambil dengan menggunakan metode accidental sampling sedangkan metode analisis data yang digunakan adalah metode  deskripitif kualitatif dan  konjoin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa atribut yang paling dipertimbangkan konsumen dalam membeli rengginang lorjuk adalah bentuk, harga, berat isi kemasan, jenis dan kemasan. Kata Kunci : Rengginang Lorjuk, Atribut, Konjoin.ANALYSIS OF CONSUMER PREFERENCE IN BUYING RENGGINANG LORJUK AT KECAMATAN KAMAL BANGKALAN ABSTRACT Attribute of product can be used as consideration of consumer in buying product. Consumer preference in buying rengginang lorjuk is affected by several attributes. Objective of this research is to describe characteristic of consumer and to analyze attributes being considered by consumer in buying rengginang lorjuk. This research was conducted in Kamal. Sample was taken by using method of accidental sampling meanwhile method of data analysis used descriptive qualitative and conjoint. Result of research showed that attributes that most considered by consumer in buying rengginang lorjuk is weight, price, volume, type and packaging.     Keyword : Rengginang Lorjuk, Attributes, Conjoint.

A new alternative indicator for chronic energy deficiency in women of childbearing age in Indonesia

Health Science Journal of Indonesia Vol 5, No 2 Dec (2014)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLatar belakang: Indikator untuk penilaian status gizi pada wanita usia subur (WUS) khususnya untuk mendeteksi risiko Kurang Energi Kronis (KEK) masih terbatas. Saat ini digunakan lingkar lengan atas (LiLA) sebagai alat skrining KEK dan Indeks Massa Tubuh (IMT) untuk penilaian status KEK, namun mempunyai beberapa keterbatasan. Tulisan ini bertujuan mengembangkan indikator baru penilaian risiko KEK pada WUS di Indonesia. Metode: Disain studi adalah cross sectional. Analisis memakai sebagian data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 pada WUS (18-49 tahun) di Kota Makassar dan Kabupaten Tana Toraja Provinsi Sulawesi Selatan sebanyak 1009 orang. Analisis ROC dipergunakan untuk mendapatkan formula rasio lingkar lengan atas - LiLA terhadap panjang lengan atas-PLA (LiLA/√PLA) dan titik potong optimal dengan IMT < 18,5 sebagai standar baku. Hasil: Hasil studi menemukan formula yang optimal adalah rasio LiLA/√PLA dengan titik potong < 4,25 untuk mendeteksi KEK pada WUS, lebih baik validitasnya (Sn = 80%; Sp=84%) dibandingkan validitas LiLA < 23,5 cm (Sn = 76%; Sp=87,2%) menggunakan baku emas Indeks Massa Tubuh < 18,5. Prevalensi KEK pada WUS 9,9% (IMT< 18,5); 22,4 % menurut Rasio LiLA/√PLA < 4,25. Korelasi antara LiLA-Berat badan r = 0,82; PLA-tinggi badan r = 0,45; LiLA-IMT r = 0,82 dan rasio LiLA/√PLA-IMT r = 0,80 (P = 0,000).Kesimpulan: Rasio LiLA/√PLA < 4,25 dapat menjadi alternatif indikator baru yang praktis dan efektif untuk menilai risiko KEK pada WUS di Indonesia. (Health Science Indones 2014;2:54-9)Kata kunci: rasio, LiLA, Ppnjang lengan, KEK, wanita usia suburAbstractBackground: Indicators for assessment of nutritional status in women of childbearing age (WCA) in particular to detect the risk of chronic energy deficiency (CED) were limited. Currently, we used mid upper arm circumference (MUAC) as a screening tool of CED and Body Mass Index (BMI) for CED status assessment, but have some limitations. This paper aims to develop a new indicator for the risk assessment of CED on WCA in Indonesia. Methods: The design was a cross sectional study. This analysis used a part of National Basic Health Health Research (Riskesdas) 2013 among 1009 WCA (18-49 years) in Makassar and Tana Toraja, South Sulawesi Province. ROC analysis was used to obtain the optimal formula and the cut off point with BMI <18.5 as the gold standard. Results: The study found that the optimal formula was MUAC/√UAL < 4.25 to detect a risk of CED, better validity (Sn = 80%; Sp= 84%) compared to MUAC < 23,5 (Sn = 76%; Sp= 87.2 %) with the gold standard was Body Mass Index (BMI). Prevalence of CED on women of reproductive age 9.9% (BMI<18.5); 22.4% (MUAC/√UAL <4.25). Correlation MUAC to weightr = 0.82; UAL to height r = 0.45; MUAC to BMI r = 0.82 and ratio of MUAC/√UAL to BMI r = 0.80 (P = 0.000). Conclusion: The ratio of MUAC/√UAL < 4.25 can be new alternative indicator that simple and effective for detecting CED on WCA (18-49 years) in Indonesia. (Health Science Indones 2014;2:54-9)Key words: Ratio, MUAC, arm length, CED, women of reproductive age

PREFERENSI KONSUMEN DALAM MEMBELI RENGGINANG LORJUK DI KECAMATAN KAMAL BANGKALAN

Agriekonomika Vol 2, No 2: Oktober 2013
Publisher : Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura.

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKAtribut sebuah produk dapat menjadi pertimbangan konsumen dalam membeli sebuah produk. Preferensi konsumen dalam membeli rengginang lorjuk dipengaruhi oleh beberapa atribut. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan karakteristik konsumen dan menganalisis atribut-atribut yang menjadi pertimbangan konsumen dalam membeli rengginang lorjuk. Penelitian ini dilakukan di daerah Kamal. Sampel diambil dengan menggunakan metode accidental sampling sedangkan metode analisis data yang digunakan adalah metode deskripitif kualitatif dan konjoin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa atribut yang paling dipertimbangkan konsumen dalam membeli rengginang lorjuk adalah bentuk, harga, berat isi kemasan, jenis dan kemasan.Kata Kunci: Rengginang Lorjuk, Atribut, Konjoin.ABSTRACTAttribute of product can be used as consideration of consumer in buying product. Consumer preference in buying rengginang lorjuk is affected by several attributes. Objective of this research is to describe characteristic of consumer and to analyze attributes being considered by consumer in buying rengginang lorjuk. This research was conducted in Kamal. Sample was taken by using method of accidental sampling meanwhile method of data analysis used descriptive qualitative and conjoint. Result of research showed that attributes that most considered by consumer in buying rengginang lorjuk is weight, price, volume, type and packaging.   Keyword: Rengginang Lorjuk, Attributes, Conjoint.

The Effects of Propolis Extract to Cellular Immune System of Rattus Norvegicus Strain Wistar

Jurnal Teknologi Pertanian Vol 9, No 1 (2008)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

An experiment type of research was conducted to find out the effects of propolis extract dosage on the cellular immune system of Rattus norvegicus. The administration per oral of propolis extract was 40 days and given at different  levels of dosage for each group :  9 mg/day (1st group); 12 mg/day (2nd group) and 15 mg/day (3rd group). The results showed that the average level of leucocytes in the control group    (untreated one) was 3883,33 ± 1563,86 cell/mm3, which comprised of 75,17 ± 4,36 % lymphocytes,  6,67 ± 2,66 % monocytes and 18,17 ± 5,12 % granulocyte. The average level of leucocytes of the first group was 3616,67 ± 1085,20 cell/ mm3 (contained 75,67 ± 4,50 % lymphocytes, 10,50 ± 5,21 % monocytes and 13,83 ± 2,14 % granulocytes);  The second one was 4100 ± 551,36 cell/ mm3 leucocytes (containing 67,33 ± 8,57 % lymphocytes, 3,50 ± 1,38 % monocytes and 25 ± 5,48 % granulocytes), and the third one was 4383,33 ± 1121,46 cell/ mm3 which contained 70 ± 5,10 % lymphocytes, 1,83 ± 0,41 % monocytes and 28,17 ± 5,19 % granulocytes. It may be concluded that the propolis extract could increase the number of leucocytes that influential to response cellular immune system of Rattus norvegicus. The increase of propolis dosage concentration significantly not related each other because the lymphocytes and monocytes cell have a similar correlation.Key words: propolis extract, leucocytes, cellular immune system

PREFERENSI KONSUMEN DALAM MEMBELI RENGGINANG LORJUK DI KECAMATAN KAMAL BANGKALAN

Agriekonomika Vol 2, No 2: Oktober 2013
Publisher : Department of Agribusiness, Faculty of Agriculture, Trunojoyo University, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1309.597 KB)

Abstract

ABSTRAKAtribut sebuah produk dapat menjadi pertimbangan konsumen dalam membeli sebuah produk. Preferensi konsumen dalam membeli rengginang lorjuk dipengaruhi oleh beberapa atribut. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan karakteristik konsumen dan menganalisis atribut-atribut yang menjadi pertimbangan konsumen dalam membeli rengginang lorjuk. Penelitian ini dilakukan di daerah Kamal. Sampel diambil dengan menggunakan metode accidental sampling sedangkan metode analisis data yang digunakan adalah metode deskripitif kualitatif dan konjoin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa atribut yang paling dipertimbangkan konsumen dalam membeli rengginang lorjuk adalah bentuk, harga, berat isi kemasan, jenis dan kemasan. ABSTRACTAttribute of product can be used as consideration of consumer in buying product. Consumer preference in buying rengginang lorjuk is affected by several attributes. Objective of this research is to describe characteristic of consumer and to analyze attributes being considered by consumer in buying rengginang lorjuk. This research was conducted in Kamal. Sample was taken by using method of accidental sampling meanwhile method of data analysis used descriptive qualitative and conjoint. Result of research showed that attributes that most considered by consumer in buying rengginang lorjuk is weight, price, volume, type and packaging.