Titi Kalima
Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi, Jl. Gunung Batu No. 5 PO Box 165, Bogor 16610 Telp. (0251) 8633234

Published : 26 Documents
Articles

Found 26 Documents
Search

GAHARU TANDUK (GONYSTYLUS MACROPHYLLUS (MIQ.) AIRY SHAW) DI HUTAN CILEMOH, JASINGA DAN UPAYA KONSERVASINYA Kalima, Titi
Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.851 KB)

Abstract

ABSTRAK Gaharu tanduk (Gonystylus macrophyllus (Miq.) Airy Shaw) merupakan salah satu spesies pohon bernilai komersial yang keberadaannya semakin langka. Spesies ini telah masuk dalam International of Union for the Conservation of Nature (IUCN) Red List Red List Data dengan kategori rawan (Vulnerable = VU). Eksplorasi untuk memperoleh data dan informasi ilmiah tentang keberadaan pohon gaharu tanduk telah dilakukan pada bulan Juli 2009 di hutan adat Cilemoh, Jasinga, Bogor, Jawa Barat. Pengumpulan data melalui pembuatan plot pengamatan berupa lingkaran dengan radius 7,32 m. Titik tengah lingkaran tersebut adalah pangkal batang pohon cuplikan. Di dalam plot pohon cuplikan dibuat pula 1 subplot lingkaran dengan titik tengahnya pada azimut 90° berjarak 3,66 m dari titik pusat plot dengan radius 2,07 m untuk tingkat pancang dan untuk pengamatan tingkat semai dibuat 3 subplot bujur sangkar 1m x 1m berjarak 4,57 m masing-masing azimut 30°, 150° dan 270° dari titik pusat plot. Hasil eksplorasi menunjukkan bahwa hanya diperoleh satu pohon berdiameter batang 85 cm, dengan tinggi total 31 m, tanpa permudaan alam. Oleh karena itu sebelum terjadi kepunahan, pohon gaharu tanduk perlu mendapat prioritas untuk dilindungi. Perlindungan yang dilakukan dapat berbentuk konservasi in-situ yaitu upaya melestarikan jenis di habitatnya atau konservasi ex-situ dengan melestarikan di luar habitatnya. Kata kunci : gaharu tanduk, komersial, langka, konservasi
KOMPOSISI JENIS DAN STRUKTUR HUTAN RAWA GAMBUT TAMAN NASIONAL SEBANGAU, KALIMANTAN TENGAH Kalima, Titi; Denny, Denny
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol. 16, No. 1 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1177.474 KB) | DOI: 10.20886/jphka.2019.16.1.51-72

Abstract

SariHutan rawa gambut di banyak tempat umumnya telah mengalami kerusakan akibat aktivitas  pembalakan hutan, kebakaran, pembangunan drainase atau kanal dan alih fungsi kawasan menjadi keperuntukan lain. Penelitian bertujuan mengetahui komposisi jenis dan struktur hutan rawa gambut di Danau Punggualas, Taman Nasional (TN) Sebangau, Kalimantan Tengah. Penelitian komposisi jenis dan struktur hutan rawa gambut Danau Punggualas, TN Sebangau, Kalimantan Tengah diamati berdasarkan data dari 40 petak ukur seluas 2,10 ha. Vegetasi diamati dengan menggunakan metode transek. Pengamatan dan pengukurandilakukan untuk semua tegakan pohon. Hasil penelitian ditemukan 2.253 individu dalam 99 jenis, 77 genus dan 42 suku yang tersebar dalam berbagai kelas diameter. Kerapatan tingkat pohon mencapai 139,41 pohon/ha dan luas bidang dasar 15,53 m²/ha. Tingkat tiang 960 batang/ha dan luas bidang dasar 25,39 m²/ha, tingkat pancang 9.090 batang/ha dan luas bidang dasar 6,42 m²/ha, tingkat semai 91.000 individu/ha. Suku yang mempunyai jumlah jenis terbanyak adalah Myrtaceae, Euphorbiaceae, Sapotaceae, Dipterocarpaceae, danLauraceae. Berdasarkan indeks nilai penting (INP), jenis tumbuhan yang mendominasi adalah Diospyros borneensis Hiern. (INP 39,91 %) dan Palaquium xanthochymum (de Vriese) Pierre (INP 32,64 %). Terdapat sebelas jenis tumbuhan yang masuk kategori dilindungi oleh International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) dan empat jenis endemik. 
GAHARU TANDUK (GONYSTYLUS MACROPHYLLUS (MIQ.) AIRY SHAW) DI HUTAN CILEMOH, JASINGA DAN UPAYA KONSERVASINYA Kalima, Titi
Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.851 KB)

Abstract

ABSTRAK Gaharu tanduk (Gonystylus macrophyllus (Miq.) Airy Shaw) merupakan salah satu spesies pohon bernilai komersial yang keberadaannya semakin langka. Spesies ini telah masuk dalam International of Union for the Conservation of Nature (IUCN) Red List Red List Data dengan kategori rawan (Vulnerable = VU). Eksplorasi untuk memperoleh data dan informasi ilmiah tentang keberadaan pohon gaharu tanduk telah dilakukan pada bulan Juli 2009 di hutan adat Cilemoh, Jasinga, Bogor, Jawa Barat. Pengumpulan data melalui pembuatan plot pengamatan berupa lingkaran dengan radius 7,32 m. Titik tengah lingkaran tersebut adalah pangkal batang pohon cuplikan. Di dalam plot pohon cuplikan dibuat pula 1 subplot lingkaran dengan titik tengahnya pada azimut 90° berjarak 3,66 m dari titik pusat plot dengan radius 2,07 m untuk tingkat pancang dan untuk pengamatan tingkat semai dibuat 3 subplot bujur sangkar 1m x 1m berjarak 4,57 m masing-masing azimut 30°, 150° dan 270° dari titik pusat plot. Hasil eksplorasi menunjukkan bahwa hanya diperoleh satu pohon berdiameter batang 85 cm, dengan tinggi total 31 m, tanpa permudaan alam. Oleh karena itu sebelum terjadi kepunahan, pohon gaharu tanduk perlu mendapat prioritas untuk dilindungi. Perlindungan yang dilakukan dapat berbentuk konservasi in-situ yaitu upaya melestarikan jenis di habitatnya atau konservasi ex-situ dengan melestarikan di luar habitatnya. Kata kunci : gaharu tanduk, komersial, langka, konservasi
POPULASI DAN HABITAT KAMPIS (Hernandia nymphaeifolia (C. Presl.) Kubitzki) DI HUTAN LINDUNG UJUNG GENTENG Kalima, Titi
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2013.10.1.63-79

Abstract

Penelitian dilakukan di kawasan Hutan Lindung (HL) Ujung Genteng, Sukabumi, Jawa Barat pada bulan Oktober dan November 2011. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh data dan informasi populasi dan habitat spesies kampis (Hernandia nymphaeifolia (C. Presl.) Kubitzki ) di HL Ujung Genteng. Metode yang digunakan adalah  jalur transek (line transect method) sepanjang 1 km dengan lebar 10 m dengan arah jalur sejajar garis pantai. Jalur tersebut  dibuat plot berukuran 20 m x 10 m bersambungan satu sama lain untuk mendata tingkat pohon. Setiap plot 20 m x 10 m dibuat sub plot berukuran 10 m x 10 m untuk tingkat pancang dan sub-sub plot berukuran 1 m x 1 m untuk pengamatan tingkat semai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi individu H. nymphaeifolia yang tumbuh di HL Ujung Genteng bagian barat lebih padat daripada di bagian timur. Di bagian barat, kerapatan pohon, pancang, dan semai  masing-masing 49, 46, dan 10.200 individu/ha, sedangkan di bagian timur secara berturut-turut 21, tingkat pancang 16 individu/ha, dan semai 2.653 individu/ha. Untuk kepentingan ekologis dan nilai ekonomis potensial, khususnya jenis kampis (H. nymphaeifolia) perlu dipertahankan keberadaannya melalui upaya konservasi in-situ, eks-situ, budidaya serta usaha ke arah penggunaan yang berkelanjutan.
STUDI SEBARAN ALAM Pinus Merkusii Jungh et de Vrise TAPANULI SUMATRA UTARA DENGAN METODE CLUSTER DAN PEMETAAN DIGITAL Kalima, Titi; Sutisna, Uhaedi; Harahap, Rusli
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2005.2.5.497-505

Abstract

Pinus adalah salah satu marga yang terdiri atas 100 jenis diseluruh dunia dan populasi jenis P.merkusii Jungh et de vris yang tumbuh di indonesia mempunyai nilai ekonomi tinggi, baik dari kayunya maupun getahnya .Salah satu hal paling penting dari jenis tersebut karena tumbuh secara alam dan akademik di Sumatera. Studi yang dilakukan bertujuan untuk memperoleh informasi tentang sebaran alam P.Merkusii Junght et de Vrise diwilayah hutan Tapanuli, Sumatera Utara Metode yang digunakan adalah metode kluster (Cluster Method) yang terdiri empat plot bentuk lingkaran setiap klusternya dengan jari-jari 17,95 m setiap plotnya. Studi menunjukan bahwa sebaran alam P.merkusii Jungh et de Vrise terdapat diwilayah Bukit Barisan daerah Habinsaran dan Geroga meliputi daerah-daerah Dolok Tusam, Dolok Saut , Dolok Sipirok, Dolok Soanon Situnggaling dan Suaka Margasatwa Baruman.Populasi P.merkusii Jungh et de Vrise tersebut tumbuh berkelompok secara terpencar pada ketinggian antara 1.000 m sampai dengan 2.000 m di atas permukaan laut dengan kemiringan lahan antara 45-80 persen. Dibawah tegakan hutan alam P.merkusii Jungh et de Vrise di Dolok tusam dijumpai tanaman menyan (Styrax benzoin Dryand) dengan kerapatan berkisar antara 19-28 pohon per klauternya. Adapun komposisinya jenis tumbuhan dibawah P.merkusii Jungh et de Vrise adalah Melastoma malabathricum Symplocos sp. Scheffa sp. Calophyllum soullatri, Castanopsis acuminatissima, Knema conferta dan Pandanus sp. 
AN OVERVIEW ON THE CONSERVATION STATUS OF MERSAWA (Anisoptera costata Korth.) IN JAVA Kalima, Titi; Setyawati, Titiek
Indonesian Journal of Forestry Research Vol 4, No 2 (2007): Journal of Forestry Research
Publisher : Secretariat of Forestry Research and Development Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.107 KB) | DOI: 10.20886/ijfr.2007.4.2.105-108

Abstract

Anisoptera costata Korth., which has a commercial name of mersawa grows and proliferates naturally, often gregarious, in semi-evergreen dipterocarp forest and evergreen forest in areas with seasonal climate and rare but widespread in lowland everwet forest from sea level up to 700 m in continental S.E. Asia, Malay Peninsula, Borneo, Sumatra, and Java (Ashton, 1982).  In Java, it has been recorded to occur only in Banten (Backer & Bakhuizen van den Brink,1963) and in Leuweung Sancang Nature Reserve (LSNR) (Kalima, 2006)
RATTAN SPECIES AT THREE MOUNTS IN GUNUNG HALIMUN NATIONAL PARK, WEST JAVA Kalima, Titi
Indonesian Journal of Forestry Research Vol 1, No 1 (2004): Journal of Forestry Research
Publisher : Secretariat of Forestry Research and Development Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/ijfr.2004.1.1.7-16

Abstract

Management  of  forest is believed   that many basic knowledges  about  the nature of  the forest is needed.   One of  them is to develop  the forest  as a resource  of  cane industry  in a sustainable way. For this  purpose,  the composition,   distribution  and density  of  rattan  species  in Gunung Halimun National  Park (INGH)   were studied as a model. Data were collected  from December 1994  until May 1995.   For species  composition   on rattan  in TNGH,   three  areas were observed namely in Mt. Kancana,  Mt. Pameungpeuk  and Mt. Pangkulahan  using a continues  belt transect method,   from  the  elevation  of  800-1,400   m above  sea level.  It was  found  that  there  were 13 species of  rattans  in the region.  In terms  of  species   richness  and densities,  Mt. Pameungpeuk comes  first, followed  by Mt. Pangku1ahan  and Mt. Kancana.  Calamus  beteroides, C.javensis,  Daemonorops melanocbaetes, and Plectocomia elongata  are dominant  both in seedling  and nature  forms.  The nature rattans  are relatively abundant   in areas  less  than  1,000 meter  above  sea level and  decrease  in number  of species as well as the minimal population  in the higher altitude.   Calamus  ornatus grows well at 800-1,400 m asl,  while Daemonorops ruber at 800-1,500 m asl, D.oblonga at 800-1,400 m asl.
KERAGAMAN JENIS DAN POPULASI FLORA POHON DI HUTAN LINDUNG GUNUNG SLAMET, BATURRADEN, JAWA TENGAH Kalima, Titi
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.833 KB)

Abstract

 ABSTRAK Penelitian    keragaman  dan  populasi  flora  di  hutan  lindung  Gunung  Slamet  Baturraden,  Jawa  Tengah dilakukan sebagai pendekatan penelitian untuk memperoleh data dan informasi dasar untuk pengelolaan Kebun Raya Baturraden berbasis ekologis. Penelitian ini bertujuan unutk mendapatkan informasi tentang keanekaragaman flora dan populasi di wilayah hutan lindung Gunung Slamet. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode kuadrat dengan pengukuran jalur berpetak dengan lebar 10 m dan panjang 500 m memotong kontur. Jalur diletakkan pada ketinggian 1.130 m dpl dan 1.250 m dpl. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kedua lokasi tersebut diperoleh 40 spesies flora hutan termasuk ke dalam 38 marga dan 33 suku dengan spesies flora pohon dominan antara lain Castanopsis argentea Blume, Elaeocarpus glaber Blume, Symplocos fasciculate Zoll., Ficus fistulosa Reinw., dan Antidesma tetandrum Blume. Selanjutnya hasil analisis indeks keanekaragaman spesies dan indeks kesamaan spesies pada lokasi penelitian tidak menunjukkan perbedaan antara flora spesies pada ketinggian 1.130 m dpl dan 1.250 m dpl. Pada ketinggian 1.250 m dpl. kerapatan flora pohon cenderung menurun bila dibandingkan dengan ketinggian1.130 m dpl. diakibatkan oleh perbedaan kondisi tanah, topografi, dan lingkungan fisik. 
TINGKAT KELIMPAHAN POPULASI SPESIES ROTAN DI HUTAN LINDUNG BATU KAPAR, GORONTALO UTARA Kalima, Titi; Jasni, Jasni
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1269.233 KB)

Abstract

Penelitian  ini  bertujuan  untuk  memperoleh  informasi  tentang  keanekaragaman spesies-spesies  rotan  di kawasan Hutan Lindung Batu Kapar, Gorontalo Utara. Observasi dilakukan di Kecamatan Atinggola, yang merupakan kawasan hutan alam. Spesies rotan yang dijumpai dicatat dan diidentifikasi berdasarkan karakteristik pelepah daun. Frekuensi setiap spesies rotan ditentukan berdasarkan kepadatan populasi setiap spesies pada beberapa tinggi tempat. Metode yang digunakan  adalah jalur berpetak (line plot sampling), di mana banyak tumbuhan rotan. Jalur dibuat sepanjang 100 m dengan ukuran lebar 20 m.  Hasil eksplorasi dan identifikasi spesies-spesies rotan di kawasan Hutan Lindung Batu Kapar dijumpai sebanyak 11 spesies rotan berdasarkan nama lokal. 11 spesies rotan ini diperoleh enam spesies rotan tumbuh berumpun dan lima spesies tumbuh tunggal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spesies rotan yang paling dominan persebarannya adalah rotan buku tinggi (Calamus ornatus var. celebicus Beccari ) berturut-turut pada ketinggian 600 m dpl., 700 m dpl., dan 800 m dpl., adalah INP = 30,94%; INP = 29,39 %; dan INP = 30,95%. Nilai indeks keanekaragaman spesies tertinggi pada ketinggian 700 m dpl. (1,0163) dengan 11 spesies dan nilai terendah pada ketinggian 800 m dpl. (0,9736) dengan 10 spesies. Nilai indeks kesamaan komposisi tidak mencapai 50%, berarti secara keseluruhan nilai indeks kesamaan spesies relatif rendah
STATUS POPULASI DIPTEROCARPACEAE DI HUTAN LINDUNG CAPAR,BREBES, JAWA TENGAH Kalima, Titi
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1675.033 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan di kawasan hutan lindung Capar, Brebes, Jawa Tengah pada bulan Juli 2007. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi status populasi spesies dari famili Dipterocarpaceae dan keragaman jenis pohon di hutan lindung Capar, Brebes, Jawa Tengah. Jalur berukuran panjang 100 m dan lebar 100 m dibuat pada tempat ditemukannya spesies dari famili Dipterocarpaceae (yaitu di Blok Gn.Bongkok dan Cikadu), kemudian dibuat 100 plot contoh berukuran 10 x 10 m untuk mendata semua spesies pohon yang berdiameter batang ≥ 20 cm, tingkat anakan pohon (diameter < 20 cm) pada plot berukuran 5 x 5m. Jumlah spesies dan individu, tinggi bebas cabang dan total, diameter batang dan tajuk dicatat. Hasil penelitian di dua lokasi ditemukan spesies Dipterocarpus retusus Blume dan Vatica javanica sub sp.javanica V. Slooten. Di blok Gn. Bongkok teridentifikasi 21 spesies tingkat pohon dan 24 spesies tingkat anakan pohon. Sedangkan di blok Cikadu ditemukan 20 spesies tingkat pohon dan 22 spesies tingkat anakan pohon. Spesies-spesies dominan untuk tingkat pohon di blok Gn. Bongkok adalah Macaranga rhizinoides Muell. Arg. (INP = 25,46%), tingkat anakan pohon Dipterocarpus retusus Blume (INP = 24,93%) yang memiliki pola sebaran tertinggi pada diameter batang < 10 cm. Sedangkan di blok Cikadu untuk tingkat pohon didominasi oleh Macaranga rhizinoides Muell. Arg. (INP = 39,71%), dan tingkat anakan pohon Pterospermum javanicum Jungh. (INP = 25,88%).  Pola sebaran D.retusus  Blume di blok Cikadu berkisar pada kelas diameter batang 20 - 40 cm, sedangkan Vatica javanica sub sp.javanica V. Slooten memiliki pola sebaran pada kelas diameter batang  10– 19,9 cm. Perambahan menyebabkan berubahnya ekosistem mikroakibat berubahnya struktur dan komposisi sampai hilangnya suatu spesies dari famili Dipterocarpacea. Kawasan hutan lindung mempunyai fungsi penting bagi perlindungan spesies dari famili Dipterocarpaceae. Upaya yang telah dilakukan dalam pengelolaan sumberdaya alam berkelanjutan yang diatur oleh Peraturaan Daerah (Perda) adalah pengembangan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) dengan melibatkan masyarakat lokal