Articles

Found 38 Documents
Search

DILEMA POLITIK HUKUM PERTAMBANGAN DI INDONESIA SUATU TELAAH ATAS KONSEP PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Junaidi, Muhammad
Jurnal Iqtisad Vol 4, No 2 (2017): Jurnal Iqtisad
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (698.984 KB) | DOI: 10.31942/iq.v4i2.2623

Abstract

Indonesia memliki sumberdaya alam yang sangat mumpuni dibandingkan Negara lain. Pantas saja investasi yang salah satunya pertambangan yang ada di Indonesia menjadi bidikan yang paling menarik investor asing untuk menamkan sahamnya di Indonesia. Persoalan yang mendasar dalam konteks pengelolaan pertambangan tentunya mengacu pada beberapa pasal yang diantaranya UUD 45 pasal 33 ayat yang menyebutkan ; Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Namun dalam praktinya dominasi penguasaan hanya pada segelintir pihak utamanya adalah pihak asing yang sangat dominan dalam mendapatkan untuk dari sumber daya alam yang dimiliki. Model pengelolaan yang demikian tentunya bertentangan dengan konstitusi kita. Pasal 33 UUD 1945 beserta penjelasannya, melarang adanya penguasaan sumber daya alam ditangan orang ataupun seorang. Dengan kata lain monopoli, tidak dapat dibenarkan namun fakta saat ini berlaku di dalam praktek-praktek usaha, bisnis dan investasi dalam bidang pengelolaan sumber daya alam sedikit banyak bertentangan dengan prinsip pasal 33. Disinilah kita perlu kembali pada konsep pembangunan berkelanjutan yang merupakan ruh dari pengelolaan sumber daya alam di Indonesia. Konsep pembangunan berkelanjutan bukan hanya menyeimbangkan antara ekonomi, social dan lingkungan dalam upaya menjalankan pembangunan yang ada, akan tetapi juga menitiktekankan pada upaya mengakomodir prinsip keadilan antar generasi.
Pengaruh Variasi Waktu Ultrasonikasi dan Waktu Tahan Hydrothermal terhadap Struktur dan Konduktivitas Listrik Material Graphene Junaidi, Muhammad; Susanti, Diah
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1092.901 KB)

Abstract

Graphene merupakan satu lapis atom karbon yang mengalami hibridisasi sp2 membentuk struktur heksagonal 2D. Graphene memiliki potensi besar untuk aplikasi nanoelectronic materials. Penelitian ini bertujuan menganalisis waktu ultrasonikasi dan hidrothermal terbaik untuk mensintesis Graphene. Graphene disintesis dengan metode reduksi Grafit Oksida (GO). Grafit dioksidasi membentuk GO dengan modifikasi metode Hummer. GO diultrasonikasi dengan variasi waktu 60, 90 dan 120 menit. Kemudian proses reduksi GO dilakukan secara kimia dengan penambahan serbuk Zn dan teknik hidrothermal 200 oC dengan variasi waktu tahan 12, 18 dan 24 jam. Analisis morfologi dan struktur graphene dilakukan dengan pengujian SEM dan XRD. Pengujian Iodine Number untuk mengetahui kemampuan graphene menyerap Iodin. Pengujian FTIR untuk mengetahui gugus fungsi yang terbentuk  pada GO dan Graphene. Pengujian Four Point Probe Test (FPP) untuk mengukur konduktivitas listrik Graphene. Hasil analsis menunjukkan bahwa graphene hasil ultrasonikasi 120 menit dan Holding 12 jam memiliki struktur Single Layer Graphene (SLG) dengan konduktivitas listrik terbaik 0.0105 S/m
SEJARAH KONFLIK DAN PERDAMAIAN DI MALUKU UTARA (Refleksi Terhadap Sejarah Moloku Kie Raha) Junaidi, Muhammad
Academica Vol 1, No 2 (2009)
Publisher : Academica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.149 KB)

Abstract

Kronologis konflik di Maluku Utara paling tidak merupakan biasdari konflik Ambon apabila dikaitkan dengan kedatangan pengungsidari Ambon Propinsi Maluku. Tanda-tanda pecahnya konflik dimulaidari peristiwa antara pemuda desa Talaga dan desa Bataka dikecamatan Ibu (Halmahera Barat). Walaupun dapat diselesaikan olehkepala desa dan tokoh masyarakat, namun secara keseluruhanpencegahan tidak signifikan untuk meredam isu konflik karenaperistiwa itu kemudian berubah menjadi kerusuhan yang bersifatmassive di Maluku Utara.Konflik pertama kali mulai di wilayah Kao (Malifut) PulauHalmahera kemudian meluas ke wilayah Pulau Tidore, Ternate,dataran Halmahera lainnya, Morotai dan Kepulauan Sula (Nanere:2000; Syahidusyahar:2005; Ratnawati; 2006). Rentang waktu konflikdi Maluku Utara terbilang singkat mulai dari Agustus 1999-Juni2001, namun mengakibatkan korban jiwa yang banyak yaitu 2.410jiwa dan kerugian material tidak terhitung jumlahnya.Kata Kunci : Konflik dan perdamaian Maluku Utara
Pertumbuhan dan konsumsi pakan ikan lele (Clarias sp.) yang diberi pakan berbahan baku lokal Abidin, Zaenal; Junaidi, Muhammad; ., Paryono; Cokrowati, Nunik; Yuniarti, Salnida
DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan Vol 4, No 1 (2015): APRIL 2015
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.84 KB) | DOI: 10.13170/depik.1.1.2360

Abstract

Abstract. Fish meal, corn, and rice bran are feed ingredient which easily obtained. Different of quality and amount of each ingredients in fish feed result a various respons on fish.  The aim of this study were to determine respon of growth and feed consumption of walking cat fish (Clarias sp.) which fed feed made of fish meal, rice bran, and corn. The experimental diets containing fish meal, corn meal, and rice bran meal, respectively A. 70;10:19,5.; B. 60;25;14,5 C=60,19,75:19,75; D=60:9,5:30, and the other diets, E and F, were commersial diets. Daily growth rate, feed consumption, feed eficiency, and feed conversion ratio showed significant differences (p>0,05) among the treatments. In general, feed consumption rate, daily growth rate, feed efficiency, and feed conversion rate were best obtained on commercial feed, while feed made from local ingredients showed lower performance than commercial feed. The low quality of feed local ingredients were caused by used low quality of local ingredients which caused the level minimum of fibre and ash were high in 17,9% and 23,5%, respectively. The utilization of Local fish meal 60-70%, corn meal 9,5-19,75%, and rice bran meal 14,5-30% in fish diet did not result better growth performance than commercial diet, however the best formulation for local ingredients of fish meal, corn meal, rice bran meal were 60%; 19,75%; 19,75% and 60%; 9,5%;30 % respectively Keywords : Corn meal; diets; feed consumption; fish meal; growth; rice bran; walking catfish (Clarias sp.)Abstrak.  Tepung ikan, jagung dan dedak padi adalah merupakan bahan baku yang mudah diperoleh dan dapat digunakan sebagai bahan baku pakan ikan, meskipun demikian perbedaan kualitas setiap jenis bahan baku dan jumlah pengggunaan setiap bahan baku dalam pakan dapat menghasilkan respon yang berbeda terhadap ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan dan konsumsi pakan ikan lele (Clarias sp.) yang diberikan pakan berbahan tepung ikan, tepung dedak padi, dan tepung jagung. Pakan uji yang dicobakan adalah pakan dengan komposisi tepung ikan: tepung jagung, dan: tepung dedak yang berbeda yaitu masing-masing A=70:10:19,5; B=60:25:14,5; C=60:19,75:19,75; D=60:9,5:30, serta dua pakan komersial yaitu E dan F Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan dengan komposisi bahan baku yang berbeda berpengaruh (p<0,05) terhadap laju pertumbuhan harian, tingkat konsumsi pakan, efisiensi pakan dan rasio konversi pakan. Tingkat konsumsi pakan, laju pertumbuhan harian, efisiensi pakan dan rasio konversi pakan yang terbaik diperoleh pada pakan komersial sedangkan pakan yang berbahan baku lokal menunjukkan tampilan yang lebih rendah dibandingkan pakan komersial. Rendahnya kualitas pakan berbahan baku lokal diduga disebabkan oleh bahan baku lokal  yang digunakan memiliki kualitas yang rendah sehingga menghasilkan pakan dengan kandungan serat kasar dan abu yang tinggi masing-masing minimal 17,9% dan 23,5%. Penggunaan bahan baku local yaitu tepung ikan 60-70%, tepung jagung 9,5-19,75% dan dedak 14,5 – 30% belum dapat menghasilkan tampilan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan pakan komersial, meskipun demikian formulasi terbaik  pakan berbahan baku lokal diperolah pada komposisi tepung ikan; jagung; dedak adalah 60%; 19,75%; 19,75% dan 60%; 9,5%;30 %.Kata kunci    : Ikan lele (Clarias sp.); konsumsi pakan; pakan; pertumbuhan; tepung dedak; tepung ikan; tepung jagung
SEDIMENTATION RATE AND DISPERSION OF ORGANIC WASTE FROM LOBSTER CULTURE ON CAGE IN EKAS BAY, WEST NUSA TENGGARA PROVINCE Junaidi, Muhammad; Hamzah, Mat Sardi
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 7, No 1 (2015): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

The objective of this study was to determine sedimentation rate and dispersion of organic waste from lobster culture on cage in Ekas Bay, West Nusa Tenggara Province. Measurement of sedimentation rate was conducted every month during the process of cultivation lobster. This measurement was done by setting up a sediment trap under and around the cage. The result of this study showed that sedimentation rate under the lobster cage within 270 days ranged from 14.92 to 27.33 (20.66±4.60) g/m2/day. The organic waste did not disperse far away from the cage because of the small current rate around the cage location of 0.068 to 0.2 m/s. Feces and residual feed settling velocities followed the current direction within the range of 0.0373 to 0.072 m/s with 8.50 m of water depth. According to this result, dispersion of feces particle and residual food was between 8.24 and 45.58 m from the cage. In order to prevent an accumulation of waste particle on the water bottom, the distance between cages needs to be set to at least twice of the farthest distance of particle dispersion which is 2 x 45.58 = 91.16 m or about 100 m. Keywords: sedimentation rate, waste dispersion, lobster culture, Ekas Bay
Prevalency of Nematode in Bali Cattle at Manokwari Regency Junaidi, Muhammad; Sambodo, Priyo; Nurhayati, Dwi
Jurnal Sain Veteriner Vol 32, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

This study was conducted from August to October 2006, a disease caused by worms digestive tract is one of the causes of the decline in beef production . The purpose of this study was to assess the number of infected cattle nematode, the nematode types and amount of each type of nematodes in Bali cattle in Manokwari. Based onobservations on the worm eggs, total of 23 individuals (44.23 %) of Bali cattle ( puppies and adults ) infected with nematodes. Most of the infected cow is a cow that as many as 16 puppies cattle (69.56 %), while the remaining 7 animals (30.44 %) is the mother cow. Types of nematodes that infect cattle puppies and adult cattle are Cooperiasp., Bunostomum sp., Mecistocirrus sp. and Trichuris sp. The frequency of attacks in a row is as much as 13 cattle Cooperia sp, Mecistocirrus sp as many as 10 head of cattle, as many as 8 sp bunostomum cows and Trichuris sp. as much as 5 cows. The highest number of eggs in a row is Bunostomum sp. (1520), Cooperia sp. (1280), Mecistocirrus sp. ( 1200) and Trichuris sp. (280). The average number of eggs per gr feces ( EPG ) of 4 species of parasites that infect a row is Bunostomum sp . (190 EPG), Mecistocirrus sp. (120 EPG) Cooperia sp. (98.46 EPG)and Trichuris sp. (56 EPG). As many as 44.23 % of Bali cattle in three districts (Masni, Oransbari dan Prafi) attacked nematodes which are predominantly cattle aged less than one year .
LAJU PERTUMBUHAN Chaetoceros sp. PADA PEMELIHARAAN DENGAN PENGARUH WARNA CAHAYA LAMPU YANG BERBEDA Sopian, Topan; Junaidi, Muhammad; Azhar, Fariq
Jurnal Kelautan Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.521 KB) | DOI: 10.21107/jk.v12i1.4873

Abstract

Chaetoceros sp. merupakan pakan alami yang banyak digunakan pada unit-unit pembenihan ikan dan udang karena memiliki kandungan protein yang cukup tinggi. Salah satu masalah yang sering terjadi akhir-akhir ini adalah sulitnya memproduksi Chaetoceros sp. dalam jumlah besar karena ketidakstabilan produksi yang disebabkan oleh kualitas dan kuantitas Chaetoceros sp. yang tidak sama untuk setiap periode kultur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui warna cahaya yang paling baik terhadap laju pertumbuhan Chaetoceros sp. Penelitian dilakukan dengan empat perlakuan cahaya lampu warna putih, warna hijau, warna merah, warna biru dan warna kuning yang setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan cahaya warna putih menghasilkan kepadatan populasi tertinggi sebesar 9,17 × sel/ml. selanjutnya perlakuan cahaya warna kuning sebesar 8,5 × sel/ml, kemudian perlakuan cahaya warna biru sebesar 5,33 × sel/ml, perlakuan cahaya warna merah sebesar 5 × sel/ml, dan terakhir perlakuan cahaya warna hijau yaitu sebesar 4,67 × sel/ml. Berdasarkan hasil penelitian ini, dianjurkan pada budidaya Chaetoceros sp. untuk meningkatkan laju pertumbuhan optimum adalah cahaya lampu warna putih.ABSTRACTChaetoceros sp. is a natural food that is widely used in fish and shrimp hatchery units because it has a fairly high protein content. One of the problems that often occurs lately is the difficulty of producing Chaetoceros sp. in large quantities due to production instability caused by the quality and quantity of Chaetoceros sp. which is not the same for each culture period. This study aims to determine the best color of light on the growth rate of Chaetoceros sp. The study was conducted with four white light, green, red, blue and yellow light treatments, each of which was repeated three times. The results showed that white light treatment produced the highest population density of 9,17 × cells / ml. then the yellow light treatment is 8,5 ×   cells / ml, then the blue light treatment is 5,33 × cells / ml, the red light treatment is 5 × cell / ml, and finally the light treatment of green is 4,67 × cells / ml. Based on the results of this study, it is recommended for the cultivation of Chaetoceros sp. to increase the optimum growth rate is white light. Keywords: Chaetoceros sp., Growth rate, natural feed, color of light
Pengaruh Pemberian Lactobacillus sp. dengan Dosis yang Berbeda terhadap Sistem Imun Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) yang diinfeksi Bakteri Vibrio parahaemolyticus Jannah, Miftahul; Junaidi, Muhammad; Setyowati, Dewi Nur’aeni; Azhar, Fariq
Jurnal Kelautan Vol 11, No 2 (2018)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.9 KB) | DOI: 10.21107/jk.v11i2.3980

Abstract

Udang vaname merupakan udang hasil introduksi yang memiliki nilai ekonomis tinggi baik di pasar lokal maupun di pasar internasional. Salah satu penyakit yang sering menyerang udang vaname adalah Vibrio parahaemolyticus. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pemberian bakteri probiotik Lactobacillus sp. terhadaprespon imun udang vaname yang diinfeksikan dengan V. parahaemolyticus, Survival rate, dan kepadatan bakteri V. parahaemolyticus pada usus udang. Udang yang digunakan adalah udang yang berumur 62 hari yang dipelihara dalam akuarium berukuran 30x30x25 cm sebanyak 10 ekor. Penelitian dilakukan dengan 5 perlakuan yaitu Kontrol(–)(tanpa Lactobacillus sp. dan tidak diinfeksi), Kontrol(+) (tanpa Lactobacillus sp. kemudian diinfeksi), P1 (Lactobacillus sp. 106 CFU/ml), P2 (Lactobacillus sp. 108 CFU/ml), P3 (Lactobacillus sp. 1010 CFU/ml). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian Lactobacillus sp.dengan dosis 108 CFU/ml mampu meningkatkan THC udang vaname sebesar 5,58 x 106 sel/ml, sel hialin dan sel granular yang berperan penting dalam sistem imun udang, meningkatkan nilai SR udang sebesar 86,67% dan menekan pertumbuhan bakteri patogen V. parahaemolyticus. Berdasarkan hasil penelitian ini, penggunaan dosis probiotik Lactobacillus sp. yang dianjurkan pada budidaya udang vaname untuk meningkatkan sistem imun, tingkat kelangsungan hidup udang dan menekan pertumbuhan bakteri V. parahaemolyticus adalah 108 CFU/ml.Kata kunci: Lactobacillus sp., V. parahaemolyticus, udang vaname, dosis Lactobacillus sp.ABSTRACTVannamei is an introduced shrimp that has economic value in both local and international market. One of the diseases that often attack vannamei shrimp is Vibrio parahaemolyticus. This study aims to determine the probiotic bacteria Lactobacillus sp. against vannamei shrimp immune response infected with V. parahaemolyticus, Survival rate, and bacterial V. parahaemolyticus density of the shrimp intestine. Shrimp used are shrimp that is 62 days which is kept in aquarium size 30x30x25 cm as many as 10 shrimp. The study was conducted with 5 controls: Control (-) (without Lactobacillus sp. and not infected), Control (+) (without Lactobacillus sp. and infected), P1 (Lactobacillus sp. 106 CFU / ml), P2 (Lactobacillus sp. 108 CFU / ml), P3 (Lactobacillus sp. 1010 CFU / ml). The results showed that the administration of Lactobacillus sp. with a dose of 108 CFU / ml was able to increase THC vannamei shrimp by 5.58 x 106 cells / ml, hyaline cells and granular cells required in the shrimp immune system, increasing shrimp SR value by 86.67% and core growth of V. parahaemolyticus. Based on the results of this study is the use of probiotic Lactobacillus sp. which is recommended in the cultivation of vaname shrimp to improve the immune system, the level of shrimp survival and suppress the growth of bacteria V. parahaemolyticus is 108 CFU / ml.Keywords: Lactobacillus sp., V. parahaemolyticus, vannamei, dose of Lactobacillus sp.
FURMULASI DAKWAH TERHADAP KESELAMATAN LINGKUNGAN Junaidi, Muhammad
Tajdid Vol 9, No 1 (2010)
Publisher : Tajdid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Portrait of the ecological crisis is a reflection of the disharmony and imbalance in the relationship between man and nature. Ecological awareness to find solutions, not just based on deduction-rationalistic deduction, but more fundamentally, back on parenial messages contained in all religions. This article wants to dig back of the treasure of Islam as a solution to rebuild the harmonization of the relationship between man and environment so that the ecological crisis to end soon.
SEMANGAT PEMBAHARUAN DAN PENEGAKAN HUKUM INDONESIA DALAM PERSPEKTIF SOCIOLOGICAL JURISPRUDENCE Junaidi, Muhammad
Jurnal Pembaharuan Hukum Vol 3, No 1 (2016): Jurnal Pembaharuan Hukum
Publisher : UNISSULA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.665 KB) | DOI: 10.26532/jph.v3i1.1346

Abstract

The spirit of renewal and law enforcement is often considered only based on a process of renewal and change the old Act to the new Act. If the renewal and law enforcement just conceived so, then the law will continue to be considered not present in the midst of society as part of the settlement of the problem. As a solution needs to be established is to integrate the spirit of renewal and law enforcement collaborated with social reality. Thus the ideal model is expected become law unifying identity as an expression of popular sovereignty and the pattern of State laws harmonization purposes.