Articles

Found 34 Documents
Search

DILEMA POLITIK HUKUM PERTAMBANGAN DI INDONESIA SUATU TELAAH ATAS KONSEP PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Jurnal Iqtisad Vol 4, No 2 (2017): Jurnal Iqtisad
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (698.984 KB)

Abstract

Indonesia memliki sumberdaya alam yang sangat mumpuni dibandingkan Negara lain. Pantas saja investasi yang salah satunya pertambangan yang ada di Indonesia menjadi bidikan yang paling menarik investor asing untuk menamkan sahamnya di Indonesia. Persoalan yang mendasar dalam konteks pengelolaan pertambangan tentunya mengacu pada beberapa pasal yang diantaranya UUD 45 pasal 33 ayat yang menyebutkan ; Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Namun dalam praktinya dominasi penguasaan hanya pada segelintir pihak utamanya adalah pihak asing yang sangat dominan dalam mendapatkan untuk dari sumber daya alam yang dimiliki. Model pengelolaan yang demikian tentunya bertentangan dengan konstitusi kita. Pasal 33 UUD 1945 beserta penjelasannya, melarang adanya penguasaan sumber daya alam ditangan orang ataupun seorang. Dengan kata lain monopoli, tidak dapat dibenarkan namun fakta saat ini berlaku di dalam praktek-praktek usaha, bisnis dan investasi dalam bidang pengelolaan sumber daya alam sedikit banyak bertentangan dengan prinsip pasal 33. Disinilah kita perlu kembali pada konsep pembangunan berkelanjutan yang merupakan ruh dari pengelolaan sumber daya alam di Indonesia. Konsep pembangunan berkelanjutan bukan hanya menyeimbangkan antara ekonomi, social dan lingkungan dalam upaya menjalankan pembangunan yang ada, akan tetapi juga menitiktekankan pada upaya mengakomodir prinsip keadilan antar generasi.

Pengaruh Variasi Waktu Ultrasonikasi dan Waktu Tahan Hydrothermal terhadap Struktur dan Konduktivitas Listrik Material Graphene

Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1092.901 KB)

Abstract

Graphene merupakan satu lapis atom karbon yang mengalami hibridisasi sp2 membentuk struktur heksagonal 2D. Graphene memiliki potensi besar untuk aplikasi nanoelectronic materials. Penelitian ini bertujuan menganalisis waktu ultrasonikasi dan hidrothermal terbaik untuk mensintesis Graphene. Graphene disintesis dengan metode reduksi Grafit Oksida (GO). Grafit dioksidasi membentuk GO dengan modifikasi metode Hummer. GO diultrasonikasi dengan variasi waktu 60, 90 dan 120 menit. Kemudian proses reduksi GO dilakukan secara kimia dengan penambahan serbuk Zn dan teknik hidrothermal 200 oC dengan variasi waktu tahan 12, 18 dan 24 jam. Analisis morfologi dan struktur graphene dilakukan dengan pengujian SEM dan XRD. Pengujian Iodine Number untuk mengetahui kemampuan graphene menyerap Iodin. Pengujian FTIR untuk mengetahui gugus fungsi yang terbentuk  pada GO dan Graphene. Pengujian Four Point Probe Test (FPP) untuk mengukur konduktivitas listrik Graphene. Hasil analsis menunjukkan bahwa graphene hasil ultrasonikasi 120 menit dan Holding 12 jam memiliki struktur Single Layer Graphene (SLG) dengan konduktivitas listrik terbaik 0.0105 S/m

SEJARAH KONFLIK DAN PERDAMAIAN DI MALUKU UTARA (Refleksi Terhadap Sejarah Moloku Kie Raha)

Academica Vol 1, No 2 (2009)
Publisher : Academica

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.149 KB)

Abstract

Kronologis konflik di Maluku Utara paling tidak merupakan biasdari konflik Ambon apabila dikaitkan dengan kedatangan pengungsidari Ambon Propinsi Maluku. Tanda-tanda pecahnya konflik dimulaidari peristiwa antara pemuda desa Talaga dan desa Bataka dikecamatan Ibu (Halmahera Barat). Walaupun dapat diselesaikan olehkepala desa dan tokoh masyarakat, namun secara keseluruhanpencegahan tidak signifikan untuk meredam isu konflik karenaperistiwa itu kemudian berubah menjadi kerusuhan yang bersifatmassive di Maluku Utara.Konflik pertama kali mulai di wilayah Kao (Malifut) PulauHalmahera kemudian meluas ke wilayah Pulau Tidore, Ternate,dataran Halmahera lainnya, Morotai dan Kepulauan Sula (Nanere:2000; Syahidusyahar:2005; Ratnawati; 2006). Rentang waktu konflikdi Maluku Utara terbilang singkat mulai dari Agustus 1999-Juni2001, namun mengakibatkan korban jiwa yang banyak yaitu 2.410jiwa dan kerugian material tidak terhitung jumlahnya.Kata Kunci : Konflik dan perdamaian Maluku Utara

Pertumbuhan dan konsumsi pakan ikan lele (Clarias sp.) yang diberi pakan berbahan baku lokal

DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan Vol 4, No 1 (2015): APRIL 2015
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.84 KB)

Abstract

Abstract. Fish meal, corn, and rice bran are feed ingredient which easily obtained. Different of quality and amount of each ingredients in fish feed result a various respons on fish.  The aim of this study were to determine respon of growth and feed consumption of walking cat fish (Clarias sp.) which fed feed made of fish meal, rice bran, and corn. The experimental diets containing fish meal, corn meal, and rice bran meal, respectively A. 70;10:19,5.; B. 60;25;14,5 C=60,19,75:19,75; D=60:9,5:30, and the other diets, E and F, were commersial diets. Daily growth rate, feed consumption, feed eficiency, and feed conversion ratio showed significant differences (p>0,05) among the treatments. In general, feed consumption rate, daily growth rate, feed efficiency, and feed conversion rate were best obtained on commercial feed, while feed made from local ingredients showed lower performance than commercial feed. The low quality of feed local ingredients were caused by used low quality of local ingredients which caused the level minimum of fibre and ash were high in 17,9% and 23,5%, respectively. The utilization of Local fish meal 60-70%, corn meal 9,5-19,75%, and rice bran meal 14,5-30% in fish diet did not result better growth performance than commercial diet, however the best formulation for local ingredients of fish meal, corn meal, rice bran meal were 60%; 19,75%; 19,75% and 60%; 9,5%;30 % respectively Keywords : Corn meal; diets; feed consumption; fish meal; growth; rice bran; walking catfish (Clarias sp.)Abstrak.  Tepung ikan, jagung dan dedak padi adalah merupakan bahan baku yang mudah diperoleh dan dapat digunakan sebagai bahan baku pakan ikan, meskipun demikian perbedaan kualitas setiap jenis bahan baku dan jumlah pengggunaan setiap bahan baku dalam pakan dapat menghasilkan respon yang berbeda terhadap ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan dan konsumsi pakan ikan lele (Clarias sp.) yang diberikan pakan berbahan tepung ikan, tepung dedak padi, dan tepung jagung. Pakan uji yang dicobakan adalah pakan dengan komposisi tepung ikan: tepung jagung, dan: tepung dedak yang berbeda yaitu masing-masing A=70:10:19,5; B=60:25:14,5; C=60:19,75:19,75; D=60:9,5:30, serta dua pakan komersial yaitu E dan F Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan dengan komposisi bahan baku yang berbeda berpengaruh (p<0,05) terhadap laju pertumbuhan harian, tingkat konsumsi pakan, efisiensi pakan dan rasio konversi pakan. Tingkat konsumsi pakan, laju pertumbuhan harian, efisiensi pakan dan rasio konversi pakan yang terbaik diperoleh pada pakan komersial sedangkan pakan yang berbahan baku lokal menunjukkan tampilan yang lebih rendah dibandingkan pakan komersial. Rendahnya kualitas pakan berbahan baku lokal diduga disebabkan oleh bahan baku lokal  yang digunakan memiliki kualitas yang rendah sehingga menghasilkan pakan dengan kandungan serat kasar dan abu yang tinggi masing-masing minimal 17,9% dan 23,5%. Penggunaan bahan baku local yaitu tepung ikan 60-70%, tepung jagung 9,5-19,75% dan dedak 14,5 – 30% belum dapat menghasilkan tampilan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan pakan komersial, meskipun demikian formulasi terbaik  pakan berbahan baku lokal diperolah pada komposisi tepung ikan; jagung; dedak adalah 60%; 19,75%; 19,75% dan 60%; 9,5%;30 %.Kata kunci    : Ikan lele (Clarias sp.); konsumsi pakan; pakan; pertumbuhan; tepung dedak; tepung ikan; tepung jagung

SEDIMENTATION RATE AND DISPERSION OF ORGANIC WASTE FROM LOBSTER CULTURE ON CAGE IN EKAS BAY, WEST NUSA TENGGARA PROVINCE

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 7, No 1 (2015): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.927 KB)

Abstract

The objective of this study was to determine sedimentation rate and dispersion of organic waste from lobster culture on cage in Ekas Bay, West Nusa Tenggara Province. Measurement of sedimentation rate was conducted every month during the process of cultivation lobster. This measurement was done by setting up a sediment trap under and around the cage. The result of this study showed that sedimentation rate under the lobster cage within 270 days ranged from 14.92 to 27.33 (20.66±4.60) g/m2/day. The organic waste did not disperse far away from the cage because of the small current rate around the cage location of 0.068 to 0.2 m/s. Feces and residual feed settling velocities followed the current direction within the range of 0.0373 to 0.072 m/s with 8.50 m of water depth. According to this result, dispersion of feces particle and residual food was between 8.24 and 45.58 m from the cage. In order to prevent an accumulation of waste particle on the water bottom, the distance between cages needs to be set to at least twice of the farthest distance of particle dispersion which is 2 x 45.58 = 91.16 m or about 100 m. Keywords: sedimentation rate, waste dispersion, lobster culture, Ekas Bay

Prevalency of Nematode in Bali Cattle at Manokwari Regency

Jurnal Sain Veteriner Vol 32, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.159 KB)

Abstract

This study was conducted from August to October 2006, a disease caused by worms digestive tract is one of the causes of the decline in beef production . The purpose of this study was to assess the number of infected cattle nematode, the nematode types and amount of each type of nematodes in Bali cattle in Manokwari. Based onobservations on the worm eggs, total of 23 individuals (44.23 %) of Bali cattle ( puppies and adults ) infected with nematodes. Most of the infected cow is a cow that as many as 16 puppies cattle (69.56 %), while the remaining 7 animals (30.44 %) is the mother cow. Types of nematodes that infect cattle puppies and adult cattle are Cooperiasp., Bunostomum sp., Mecistocirrus sp. and Trichuris sp. The frequency of attacks in a row is as much as 13 cattle Cooperia sp, Mecistocirrus sp as many as 10 head of cattle, as many as 8 sp bunostomum cows and Trichuris sp. as much as 5 cows. The highest number of eggs in a row is Bunostomum sp. (1520), Cooperia sp. (1280), Mecistocirrus sp. ( 1200) and Trichuris sp. (280). The average number of eggs per gr feces ( EPG ) of 4 species of parasites that infect a row is Bunostomum sp . (190 EPG), Mecistocirrus sp. (120 EPG) Cooperia sp. (98.46 EPG)and Trichuris sp. (56 EPG). As many as 44.23 % of Bali cattle in three districts (Masni, Oransbari dan Prafi) attacked nematodes which are predominantly cattle aged less than one year .

FURMULASI DAKWAH TERHADAP KESELAMATAN LINGKUNGAN

Tajdid Vol 9, No 1 (2010)
Publisher : Tajdid

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Portrait of the ecological crisis is a reflection of the disharmony and imbalance in the relationship between man and nature. Ecological awareness to find solutions, not just based on deduction-rationalistic deduction, but more fundamentally, back on parenial messages contained in all religions. This article wants to dig back of the treasure of Islam as a solution to rebuild the harmonization of the relationship between man and environment so that the ecological crisis to end soon.

SEMANGAT PEMBAHARUAN DAN PENEGAKAN HUKUM INDONESIA DALAM PERSPEKTIF SOCIOLOGICAL JURISPRUDENCE

Jurnal Pembaharuan Hukum Vol 3, No 1 (2016): Jurnal Pembaharuan Hukum
Publisher : UNISSULA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.665 KB)

Abstract

The spirit of renewal and law enforcement is often considered only based on a process of renewal and change the old Act to the new Act. If the renewal and law enforcement just conceived so, then the law will continue to be considered not present in the midst of society as part of the settlement of the problem. As a solution needs to be established is to integrate the spirit of renewal and law enforcement collaborated with social reality. Thus the ideal model is expected become law unifying identity as an expression of popular sovereignty and the pattern of State laws harmonization purposes.

STRUKTUR KOMUNITAS ZOOPLANKTON DI PERAIRAN KABUPATEN LOMBOK UTARA, PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

Jurnal Biologi Tropis Jurnal Biologi Tropis Vol.18 No.2 Juli-Desember 2018
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (809.106 KB)

Abstract

ABSTRAKMengingat peranan zooplankton dalam ekosistem perairan sangat penting, maka dilakukan penelitian dengan tujuan untuk menganalisis struktur komunitas zooplankton yang meliputi jenis, kelimpahan, dan indek ekologi, dan  kaitan  distribusi zooplankton dan kualitas perairan di Perairan Kabupaten Lombok Utara. Pengumpulan data dirancang dengan sistem informasi geografis (SIG) pada 23 stasiun pengamatan yang ditentukan dengan teknik acak sederhana.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis dan kelimpahan zooplankton yang ditemukan di Perairan Kabupaten Lombok Utara cukup bervariasi dengan jumlah genus  sebanyak 9 yang terbagi  dari  5 kelas.  Berdasarkan perhitungan indeks ekologi menunjukkan bahwa struktur  komunitas zooplankton dalam kategori perairan yang kurang stabil. Kelimpahan dan indeks ekologi zooplankton  dipengaruhi oleh kondisi lingkungan (fisik-kimia) perairan antara lain  kecerahan, pH dan oksigen terlarut. Kata kunci : zooplankton,  struktur komunitas, kualitas perairan, kelimpahanABSTRACTConsidering that the role of zooplankton in aquatic ecosystems is very  important, research is carried out with the aim of analyzing zooplankton community structure which includes the type, abundance, and ecological index, and the relation of zooplankton distribution and water quality in North Lombok Regency Waters. Data collection was designed with a geographical information system (GIS) on 23 observation stations that were determined by simple random techniques. he results of this study indicate that the type and abundance of zooplankton found in the waters of North Lombok Regency are quite varied with the number of genus as many as 9 which are divided into 5 classes. Based on the calculation of the ecological index shows that the zooplankton community structure is in the category of less stable waters. The abundance and ecological index of zooplankton is influenced by the environmental (physical-chemical) conditions of the waters including brightness, pH and dissolved oxygen. Keywords: zooplankton, community structure, water quality, abundance 

Pelembagaan Cultural Wakaf Dalam Mewujudkan Wakaf Produktif

ZISWAF Vol 5, No 1 (2018): ZISWAF: Jurnal Zakat dan Wakaf
Publisher : Program Studi Zakat dan Wakaf

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.235 KB)

Abstract

One of the dilemmas in the management of waqf that has not been completely answered by Waqf Law is the institutional side of waqf. Institutionalization of waqf is still perceived only from an institutional structure that is formalistic so as to make the productivity of waqf implementation still running in place. The aspect of institutionalization of waqf is not only seen on the side of the institutional structure formed by the government. The existence of a wakaf institution that is productive is of course based on the subjectivity in building community involvement in the legal space which has an indicator is the existence of society in designing productivity through institutional non-structural but still prioritize accountability.