Tina Dewi Judistiani
Department of Epidemiology and Biostatistics, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Published : 15 Documents
Articles

Found 15 Documents
Search

GANGGUAN GIZI BALITA DI DESA MEKARGALIH KECAMATAN JATINANGOR - SUMEDANG: MASALAH KESEHATAN MASYARAKAT

Jurnal Sistem Kesehatan Vol 1, No 2 (2015): Volume 1 Nomor 2 Desember 2015
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.373 KB)

Abstract

Penanggulangan gangguan gizi balita membutuhkan tindak lanjut yang terencana hingga level layanan primer. Data dasar dibutuhkan untuk menilai besarnya beban masalah tersebut. Penelitian deskriptif  potong lintang  dilakukan  bulan Maret 2015  di Desa Mekargalih Kecamatan Jatinangor, yang termasuk wilayah asuhan Program Studi Diploma 4 Kebidanan Fakultas Kedokteran Unpad.    Telah dikumpulkan data primer antropometri, usia dan jenis kelamin balita usia 3-5 tahun. Analisis indikator merujuk pada kurva World Health Organization-National Center for Health Statistics (WHO-NCHS) sesuai SK Menkes RI no 1995/Menkes/SK/XII/2010.Hasil penelitian menunjukkan komposisi balita 3-5 tahun  di Desa Mekargalih terdiri atas 65 (38,9%) anak laki laki dan 102 (61,1%) anak perempuan. Besar masalah gizi buruk-kurang mencapai 10,8%,  wasting  7,8% dan  stunting sebesar 16,2%.  Perbandingan proporsi  balita yang mengalami gangguan gizi  antara balita  perempuan terhadap laki-laki adalah : 12,8% vs 7,7% (gizi buruk-kurang),  18,6% vs 12,3% (stunting). Proporsi wasting  pada balita perempuan lebih rendah   (7,9% vs 9,2%). Simpulan :   Gangguan gizi balita usia 3-5 tahun di Desa Mekargalih Kecamatan Jatinangor merupakan masalah kesehatan masyarakat tingkat sedang. Balita perempuan lebih rentan mengalami gangguan gizi. Perlu diupayakan  perbaikan gizi  terpadu bagi tiap individu dengan pendampingan tenaga kesehatan.Kata Kunci :  Balita, masalah kesehatan masyarakat, status gizi

The Relationship of Age, Parity and Body Mass Index as Risk Factors to the Incidence of Uterine Myoma in Dr. Hasan Sadikin General Hospital

Althea Medical Journal Vol 2, No 3 (2015)
Publisher : Althea Medical Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Uterine myoma is a benign gynecological tumor which is commonly occurred in women. The incidence of uterine myoma in the world is 20–35% while in Indonesia is about 2.4–11.7%. Age, parity, and body mass index are correlated with the incidence of uterine myoma. This study aimed to determine the relationship among those factors towards uterine myoma, and to identify the prognostic value of body mass index in order to prevent uterine myoma.Methods: A case-control study was conducted to examine 394 medical records of patients with uterine myoma at Department of Obstetrics and Gynecology Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung from 2006 to 2011.  The case group were 133 and the control group were 261. The data were the subject’s weight, height, age, and parity. The correlation among all variable and the occurrence of uterine myomas were conducted using multiple logistic regression analysis.Results: There was no different range of age between the two groups. The incidence rate ratio of parity was 2.254 (95% confidence interval:1.310–3.876), followed by body mass index>33.0 incidence rate ratio was 1.691 (95% confidence interval: 0.477–5.994). From the receiver operating characteristic curve, it could be seen that the cut-off points for body mass index was 20.44 kg/m², and the risk of uterine myomas scaled up as the increase of body mass index.Conclusions: Parity and BMI can affect the risk of uterine myomas. To prevent the incident of uterine myomas, parity must be limited and BMI must be below the cut-off points (20.44 kg/m²). DOI: 10.15850/amj.v2n3.485

TYT Curve : Pilot Study on Alternatives Standards of Reference to Determine Intrauterine Growth in Low Resource Setting In Indonesia

International Journal of Integrated Health Sciences VOL 2, NO 1, July (2014)
Publisher : International Journal of Integrated Health Sciences

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Objective: To develop a new intrauterine growth curve based on local population for accurate intrauterine growth retardation (IUGR) infant identification. Methods: An observational analytic method was applied to develop Tina-Yessika-Tetty (TYT) curve derived from 13,405 neonatal anthropometric measurements taken from the medical record database of Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, Indonesia. The infants included in this study were born during the period of January 1st, 2005 to December 31st, 2009. The new curve was then compared to the Lubchenco and Alisjahbana curves. Only 6,814 data met the inclusion and exclusion criteria.    Results: The mean birth weight in this study was lower compared to that of the Lubchenco and Alisjahbana studies. Comparison of the three curves showed that there was a significant difference among the three curves (R=0.998, R2=0.996, p<0.001), which indicates a probability for a newborn classification.Conclusions: TYT curve may be used as an alternative to identify IUGR immediately after birth, especially when detection during pregnancy is not available in low resource setting. A prospective study with a larger population is needed; However, this study has provided an evidence to support the need for timely evaluation for such growth chart as they change over time.    Keywords: Alisjahbana curve, intrauterine growth, Lubchenco curve, TYT curveDOI: 10.15850/ijihs.v2n1.271

PENGARUH PELATIHAN PEMBERIAN ASI EKSLUSIF TERHADAP PENGETAHUAN MENYUSUI KELOMPOK PENDUKUNG ASI DI DESA MEKARGALIH DAN CIPACING KECAMATAN JATINANGOR KABUPATEN SUMEDANG

Jurnal Sistem Kesehatan Vol 1, No 3 (2016): Volume 1 Nomor 3 Maret 2016
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.027 KB)

Abstract

Survei kesehatan (Riskesdas) tahun 2010 melaporkan bahwa ibu yang melakukan pemberian ASI eksklusif hanya sekitar 15,3% di Indonesia. Pada tahun 2013, ibu yang melakukan pemberian ASI eksklusif sebesar 25,4% di wilayah Jawa Barat. Angka ini semakin menurun terutama di tingkat kecamatan. Hal ini berperan dalam peningkatan prevalensi gizi buruk pada anak-anak di bawah usia 6 bulan yang akhirnya akan berdampak pada peningkatan angka kematian anak. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihan pemberian ASI Eksklusif terhadap pengetahuan menyusui Kelompok Pendukung ASI (KP-ASI) yang dilaksanakan di Desa Mekargalih dan Cipacing, Kecamatan Jatinangor kabupaten Sumedang. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimental pretest posttest design yang dilaksanakan pada bulan Oktober 2014. Pengambilan sampel dilakukan dengan tehnik purposive sampling sebanyak 100 responden dari Desa Mekargalih dan Desa Cipacing. Penelitian ini menggunakan data primer dengan memberikan kuesioner kepada responden sebelum dan sesudah diberikan pelatihan dan pembentukan KP-ASI. Untuk menganalisis pengaruh (hubungan)  pelatihan pemberian ASI Eksklusif terhadap pengetahuan menyusui KP-ASI digunakan analisis T-Test dan Rank Spearman. Hasil penelitian didapatkan pengetahuan tentang pemberian ASI pada kelompok pendukung ASI di kedua desa sebelum dan setelah pelatihan terbanyak kurang, dan  menunjukkan pengaruh yang bermakna pelatihan pemberian ASI Eksklusif terhadap pengetahuan menyusui KP- ASI  (p<0.05). Pembentukan dan pelatihan KP-ASI dapat meningkatkan pengetahuan menyusui KP-ASI sehingga mendorong para ibu untuk melakukan pemberian ASI Eksklusif.Kata kunci: ASI eksklusif, pengetahuan, KP-ASI

Evaluasi Kegiatan Utama Pelayanan Posyandu Di Kecamatan Jatinangor

Jurnal Sistem Kesehatan Vol 3, No 1 (2017): Volume 3 Nomor 1 September 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.523 KB)

Abstract

Posyandu adalah Pos Pelayanan Terpadu yang merupakan bentuk peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan yang dibentuk oleh dan untuk masyarakat itu sendiri. Pelayanan Posyandu dilaksanakan kader dan saat ini seluruh desa di wilayah Provinsi Jawa Barat telah memiliki kader kesehatan, hanya saja dalam pelaksanaannya masih terdapat kegiatan utama pelayanan Posyandu yang tidak dilaksanakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kegiatan utama pelayanan di Posyandu Kecamatan Jatinangor. Metode Penelitian ini menggunakan metode obsevasional bersifat kuantitif dengan pendekatan potong lintang. Penelitian dilaksanakan di Posyandu pada tanggal 05 Agustus - 20 Agustus 2016. Pengumpulan data dlakukan dengan menggunakan daftar tilik dan teknik consecutive sampling yang berjumlah 14 Posyandu dari 10 Desa di kecamatan Jatinangor dan menggunakan analisis Univariat. hasil penelitian ini menunjukan 15,9% ibu hamil yang periksa mendapatkan pelayanan yang dibutuhkan, 27,8% pelayanan yang dibutuhkan, konseling akseptor KB dilaksanakan dan 0.31% pemberian oralit yang dilaksanakan. Simpulan penelitian ini adalah kegiatan utama pelayanan Posyandu masih belum terlaksana dengan baik, sehingga masih perlu evaluasi dan tindak lanjut secara berkala terhadap kegiatan utama yang telah dikerjakan di posyandu.Kata Kunci : Kegiatan utama, Pelayanan, Posyandu

Comparison of Knowledge, Attitude, Motivation-to-Breastfeed Exclusively between Allied Health Students and Students of Other Fields at Universitas Padjadjaran

Majalah Kedokteran Bandung Vol 48, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Comparison of Knowledge, Attitude, and Motivation-to-Breastfeed Exclusively between Allied Health Students and Students of Other Fields at Universitas PadjadjaranUniversity students are among future intellectuals who will play an important role in community education and empowerment, especially on the topic of exclusive breastfeeding, in which the coverage is low in Indonesia. This study aimed to compare students’ knowledge, attitude, and motivation-to-breastfeed exclusively between allied health studies (AHS), i.e medicine and midwifery,  and other fields studies (OFS), i.e. psychology, communication, literacy, and farming. Further information will be gained from exploring the correlation of knowledge-attitude, as well as attitude - motivation in both groups. A study was conducted among Indonesian female students in their final year of bachelor degree in October to November 2013. The subjects recruited were 196/340 female AHS and 300/633 female OFS. The remaining students were absent at data collection time. Validity and reliability of the questionnaires were satisfactory. Ethical clearance was obtained from the Committee on Health Research Ethics, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran. The mean scores must be higher than the cut off points to pass. Student’s T test result showed a highly significant difference (AHS vs OFS group: 83.1 vs 71.1 for  knowledge, 91.3 vs 86.4 for attitude, and 88.3 vs 83.6 for  motivation-to-breastfeed exclusively,  p<0.001). It is revealed also that the correlation index between knowledge-attitude as well as attitude -  motivation-to- breastfeed exclusively were higher in AHS group, but some AHS students scored lower than the OFS students. Discussion on this topic is presented in this article. Corrective interventions are needed for students who scored low.  This study shows a satisfactory students’ scores of knowledge, attitude, motivation-to-breastfeed exclusively. The AHS group has a better performance and correlation index between  knowledge and attitude, attitude and  motivation-to-breastfeed exclusively. [MKB. 2016;48(3):176–80]Key words: Allied health students, attitude, knowledge, motivation-to-breastfeed exclusively, students of other fields Hubungan antara Pengetahuan dan Perilaku, serta Motivasi Menyusui pada Mahasiswi Fakultas Medis dan Non-medis di Universitas PadjadjaranMahasiswi universitas yang keberadaanya di antara para intelektual masa depan mempunyai peran penting dalam pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, khususnya mengenai air susu ibu (ASI) eksklusif yang mempunyai cakupan rendah di Indonesia. Penelitian ini bertujuan membandingkan pengetahuan, sikap, dan motivasi untuk menyusui secara eksklusif antara beberapa studi kesehatan (AHS), yaitu kedokteran dan kebidanan, serta studi bidang lain (OFS), yaitu psikologi, komunikasi, sastra, dan pertanian. Informasi lebih lanjut akan mengeksplorasi hubungan pengetahuan, sikap, serta sikap-motivasi pada kedua kelompok. Penelitian ini dilakukan dari Oktober–November 2013. Sampel terdiri atas 196/340 perempuan AHS dan 300/633 OFS perempuan di Universitas Padjadjaran. Sampel yang tidak diambil adalah mahasiswi yang tidak hadir pada saat pengumpulan data. Validitas dan reliabilitas kuesioner yang memuaskan. Izin etik diperoleh dari Komite Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Hasil nilai yang lebih tinggi mempunyai poin untuk lulus. Hasil uji-t mahasiswi menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan (AHS vs kelompok OFS adalah 83,1 vs 71,1 untuk pengetahuan, 91,3 vs 86,4 sikap, dan 88,3 vs 83,6 motivasi untuk menyusui secara eksklusif, p<0,001). Indeks korelasi antara pengetahuan dan sikap serta sikap dengan motivasi untuk menyusui secara eksklusif lebih tinggi pada kelompok AHS, namun beberapa mahasiswi AHS mempunyai nilai lebih rendah daripada mahasiswi OFS. Hal tersebut dibahas dalam artikel, intervensi korektif yang diperlukan antara mahasiswi yang mendapat nilai rendah. Penelitian ini menunjukkan hasil yang memuaskan pada nilai mahasiswi tentang pengetahuan, sikap, dan motivasi untuk menyusui secara eksklusif. Kelompok AHS menunjukkan kinerja dan indeks korelasi yang lebih baik antara pengetahuan dan sikap, sikap dengan motivasi untuk menyusui secara eksklusif. [MKB. 2016;48(3):176–80]Kata kunci: Mahasiswi kesehatan, motivasi untuk menyusui secara eksklusif, mahasiswi non-kesehatan, sikap dan pengetahuan

Faktor Predisposisi Bidan dalam Pelaksanaan Program Stimulasi, Deteksi Dini dan Intervensi Tumbuh Kembang (SDIDTK)

Jurnal Sistem Kesehatan Vol 3, No 4 (2018): Volume 3 Nomor 4 Juni 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.205 KB)

Abstract

     Pembinaan tumbuh kembang anak secara komprehensif dan berkualitas diselenggarakan melalui kegiatan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK). Program SDIDTK adalah program pokok Puskesmas DTP Kota Bandung yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan khususnya oleh bidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor predisposisi bidan dalam pelaksanaan program SDIDTK. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang digunakan adalah seluruh bidan yang bekerja di Puskesmas DTP Kota Bandung, berjumlah 75 bidan. Data yang digunakan adalah data primer diperoleh dari kuesioner yang diberikan kepada bidan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli  - Agustus 2016. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bidan berumur 26-30 tahun 37 orang (49,3%), berpendidikan D3 66 orang (88,0%), lama bekerja >5 tahun 37 orang (49,3%), pernah pelatihan 15 orang (20,0%) dan lama pelatihan <1 tahun,1-2 tahun, >3 tahun masing-masing 5 orang (6,7%). Gambaran bidan yang memiliki pengetahuan cukup 39 orang (52,0%) dan memiliki sikap positif 39 orang (52,0%) Simpulan dari penelitian ini adalah pengetahuan dan sikap bidan yang merupakan faktor predisposisi dalam pelaksanaan program SDIDTK dapat dikatakan masih dalam kategori cukup. Pelatihan SDIDTK, seminar atau workshop mengenai pentingnya pemantauan tumbuh kembang anak sangat disarankan dengan harapan dapat meningkatkan pengetahuan bidan mengenai SDIDTK.Kata Kunci : Bidan, Faktor Predisposisi, SDIDTK

Evaluasi Pembentukan dan Pelatihan Kelompok Pendukung ASI di Desa Mekargalih dan Cipacing Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang

Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Center for Health Policy and Management

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTIntroduction: General health survey in Indonesia reported that in 2010 only around 15.3% mothers gave exclusive breastfeeding. This number was steadily decreasing when reaching district level. This led to increased prevalence of malnutrition until 11.7% among children under 6 months old that in the future will play a role in increasing children mortality rate. The objective of this study was to give counseling and training for breastfeeding support group and evaluate its impact on their knowledge regarding breastfeeding in Mekargalih and Cipacing Village, Jatinangor District, Sumedang Regency.Methods: Questionnaire regarding knowledge of breastfeeding was used prior to counseling and training among 100 mothers selected with purposive sampling. After counseling and training, knowledge was evaluated again using another questionnaire. Additional evaluation for breastfeeding support group was gained through in-depth interview.Result: There was significant increase of knowledge (p<0.05) after counseling and training for breastfeeding support group. Conclusion: Counseling and training for breastfeeding support group could provide better knowledge to encourage mothers to do exclusive breastfeeding. Keywords: exclusive breastfeeding, knowledge, support group ABSTRAKLatar Belakang: Survei kesehatan (Riskesdas) di tahun 2010 melaporkan bahwa hanya sekitar 15,3% ibu di Indonesia yang melakukan pemberian ASI eksklusif. Pada tahun 2013, ASI eksklusif dilakukan oleh 25,4% ibu di wilayah Jawa Barat. Angka ini semakin menurun terutama di tingkat kecamatan. Hal ini berperan dalam peningkatan prevalensi giz iburuk pada anak- anak di bawah 6 bulan yang akhirnya akan berdampak pada peningkatan angka kematian anak. Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengetahuan dan pemberian ASI kelompok pendukung ASI yang dihasilkan dari pembentukan dan pelatihan terhadap kelompok pendukung ASI di Desa Mekargalih dan Cipacing, Kecamatan Jatinangor kabupaten SumedangMetode: Pengetahuan tentang pemberian ASI dari 100 orang dinilai menggunakan kuesioner selanjutnya para ibu diberikan pelatihan pemberian ASI serta pembentukan Kelompok Pendukung ASI (KP-ASI). Perubahan pengetahuan dinilai kembali menggunakan kuesioner. Evaluasi kelompok Pendukung ASI dalam menyusui dan menilai pelaksanaan pelatihan dalam menyiapkan kelompok pendukung ASI untuk menjadi fasilitator teman sebaya melalui wawacara mendalamHasil: Terdapat peningkatan yang signifikan pada pengetahuan (p<0.05) sebelum dan sesudah pelatihan dan pembentukan KP –ASI.Kesimpulan: Pembentukan dan pelatihan KP-ASI sangat mendukung untu mendorong para ibu melakukan pemberian ASI eksklusif. Kata kunci: ASI eksklusif, pengetahuan, KP-ASI

Persepsi Dosen tentang Kemampulaksanaan Evaluasi 360° dan OSCE sebagai Alat Penilaian Keterampilan Komunikasi

Jurnal Pendidikan dan Pelayanan Kebidanan Indonesia (Indonesian Journal of Education and Midwifery Care Vol 3, No 2 (2016): Juni
Publisher : Program Studi Magister Kebidanan FK UNPAD

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.252 KB)

Abstract

Komunikasi merupakan salah satu standar kompetensi yang harus dikuasai oleh lulusan Prodi Diploma III Kebidanan yang mencakup pengetahuan, keterampilan klinis, dan perilaku. Metode penilaian keterampilan komunikasi mahasiswa yang banyak digunakan adalah Objective Structure Clinical Examination (OSCE). Terdapat alternatif metode penilaian keterampilan komunikasi, yakni metode evaluasi 360°.Mengingat metode evaluasi 360° merupakan alat penilaian yang baru di institusi kesehatan di Indonesia terutama di institusi kebidanan, pengkajian terhadap kemampulaksanaan evaluasi 360° dan OSCE ini perlu dilakukan untuk mengetahui bagaimana kemampulaksanaan evaluasi 360° dan OSCE sebagai alat penilaian keterampilan komunikasi. Rancangan Penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam. Analisis data yang dilakukan dimulai dengan pembuatan catatan lapangan, transkripsi hasil wawancara, reduksi, koding, kategorisasi, tema, dan interpretasi data. Hasil penelitian didapatkan penguji dalam melaksanakan evaluasi 360° adalah orang yang berinteraksi langsung dengan yang dinilai pada saat mahasiswa memberikan asuhan terhadap pasien seperti dosen, CI lapangan, pasien, keluarga pasien, mahasiswa yang dinilai, dan teman mahasiswa yang dinilai, sedangkan penguji OSCE adalah dosen dari pendidikan sesuai dengan bidang keilmuan. Penilaian OSCE dipengaruhi oleh perbedaan jumlah penguji, jumlah mahasiswa, dan jumlah kompetensi yang akan diuji. Durasi untuk mempersiapkan penilaian evaluasi 360° sebagai alat penilaian keterampilan komunikasi singkat, tetapi durasi pelaksanaan ujian dengan metode evaluasi 360° independen/tidak terbatas sesuai dengan kasus yang ditemukan, sedangkan waktu untuk mempersiapkan penilaian dengan metode OSCE lama dan waktu pelaksanaan penilaian ditentukan 5−10 menit setiap pojok uji. Dana operasional untuk melaksanakan evaluasi 360° sebagai alat penilaian keterampilan komunikasi ekonomis, sedangkan untuk OSCE biayanya mahal. Sarana prasarana untuk melaksanakan evaluasi 360° sebagai alat penilaian keterampilan komunikasi minim, sedangkan untuk melaksnakan OSCE banyak. Keberhasilan pelaksanaan sebuah metode penilaian apabila adanya ketersediaan sumber daya, biaya, waktu, dan logistik yang baik.

Hubungan Peringkat Akreditasi Institusi Pendidikan Diploma III Kebidanan dengan Hasil Uji Coba Uji Kompetensi Bidan Periode Juli 2013

Jurnal Pendidikan dan Pelayanan Kebidanan Indonesia (Indonesian Journal of Education and Midwifery Care Vol 2, No 2 (2015): Juni
Publisher : Program Studi Magister Kebidanan FK UNPAD

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.844 KB)

Abstract

Penjaminan mutu institusi pendidikan dilakukan melalui akreditasi institusi, sedangkan kualitas lulusan salah satunya dilakukan melalui uji kompetensi. Peringkat akreditasi yang baik akan menghasilkan uji kompetensi yang baik, namun berdasarkan hasil uji coba uji kompetensi bidan tahun 2012 didapatkan rerata nilai peserta dari institusi terakreditasi B memiliki nilai yang lebih rendah dari institusi yang terakreditasi C. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan nilai berdasarkan peringkat akreditasi dan hubungan peringkat akreditasi dengan nilai uji coba uji kompetensi. Penelitian dilakukan dengan  analitik cross sectional menggunakan seluruh data peserta uji coba uji kompetensi bidan periode Juli 2013 dari Asosiasi Institusi Pendidikan Kebidanan Indonesia (AIPKIND) dan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Data dianalisis dengan Kruskal-Wallis, Post Hoc Mann Whitney, dan Somers’d. Perbedaan nilai didapatkan pada semua kelompok akreditasi institusi (p<0,001) dengan nilai median (minimal−maksimal) 61,67 (19,44−78,33) akreditasi A, 54,44 (1,11−77,78) akreditasi B, dan 49,44 (2,78−80,00) akreditasi C (p<0,001). Hubungan yang lemah antara peringkat akreditasi institusi pendidikan dengan nilai uji coba uji kompetensi (p<0,001), baik dibandingkan dengan nilai median (r=0,22) maupun nilai batas lulus (r=0,23). Penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan nilai uji coba uji kompetensi berdasarkan peringkat akreditasi dan adanya hubungan antara peringkat akreditasi institusi dengan hasil uji coba uji kompetensi bidan. Semakin baik peringkat akreditasi institusi maka semakin baik pula hasil uji coba uji kompetensi yang didapatkan