M. Jazuli
Universitas Negeri Semarang, Kampus Sekaran Gunungpati, Semarang

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

METODE DAN TEKNIK PENGAJARAN TARI (Method and Technique of Dance Learning) Jazuli, M.
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 3, No 2 (2002)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.011 KB)

Abstract

Tiada metode yang paling baik dan paling unggul, melainkan hanya orang mampu menggunakan metode secara tepat. Suatu metode pengajaran sangat erat kaitamya dengan faktor-faktor lain dalam proses belajar- mengajar, terutama tujuan yang hendak  dicapainya. Penggunaan metode juga sering melibatkan teknik-teknik tertentu. Oleh karena itu, pemanfaatan terhadap metode dan teknik pengajaran seni tari sangat bergantung kepada ketepatan memilih dan kemampuan untuk menggunakannya. Penggunaan metode maupun teknik pengajaran tari harus tetap mengacu kepada kepentingan pendidikan seni secara menyeluruh, yaitu sebagai wahana untuk menumbuhkan dan mengembangkan daya kreatif. ekspresif, imajinatif, keterampilan dan apresiatif agar siswa memiliki nilai dan sikap yang mampu untuk membangun dirinya sendiri serta menjunjung tinggi nilai-nilai budi pekerti luhur budaya bangsa. Kata Kunci: Metode dan teknik pengajaran
KRITIK TARI : SEBUAH KEMISKINAN  (Dance Critic: A Proverty) Jazuli, M.
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 4, No 2 (2003)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.099 KB)

Abstract

Suatu penulisan dan informasi tari sering terbentur pada kesulitan­kesulitan tertentu sehingga tak sampai kepada khalayak luas. Tentunya hal itu sebenarnya tak perlu terjadi seandainya resensi dan kritik tari hidup subur seiring dengan perkembangan pemikiran seni yang mampu membuka wawasan baru, serta seimbang dengan lahirnya karya­karya tari baru. Unutk itu sudah waktunya kritik menjadi suatu kebutuhan yang urgen guna meningkatkan apresiasi dan kepuasan penciptaan karya tari. Barangkali dapat dikatakan bahwa “tiadanya kritik, maka nilai­nilai dan kualitas sebuah karya tak dapat dikenali dan dipahami; tiadanya kritik berarti salah satu informasi budaya tak sampai”. Namun demikian, melakukan kritik terhadap tari tidaklah mudah, karena dibutuhkan kedewasaan dan kearifan dari pengkritiknya. Sebuah kritik seni (tari) harus mempertahankan aktivitas­aktivitasnya yang memancarkan kejelasan dan kekuatan pamor disiplin ilmu yang mendukung kritiknya. Isi kritik harus proporsional dan mampu menyertakan posisinya (stage of the art) diantara jenis karya tari yang menjadi objek kritik.Kata Kunci : ktirik tari, kritikus
MODEL PEWARISAN KOMPETENSI DALANG Jazuli, M.
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.056 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan model pembelajaran (pewarisan) kompetensi dalang. Untuk mengetahui model pembelajaran digunakan pendekatan pembelajaran tidak langsung dari Roger yaitu non-directive interview. Untuk mengetahui persyaratan dalang yang kompeten itu digunakan pendekatan strukturasionistik. Setting penelitian adalah jagat pedalangan, sedangkan lokasi penelitian bersifat situasional yakni bergantung dimana dan kapan siswa belajar mendalang. Hasil penelitian menemukan tiga model pembelajaran dalang. Pertama, model pembelajaran dalang di Sekolah dengan sistem dan aturan yang ketat, seperti  kurikulum, jadwal belajar, memiliki standar kompetensi dan standar kelulusan. Kedua, model pembelajaran dalang di Luar Sekolah, yaitu lembaga kursus. Ketiga,  model pembelajaran dalang di Luar Sekolah yang berbentuk Sanggar Seni. This study aims to describe the learning model (inheritance) of dalang competence. Efforts to overcome  the problems of  the study used qualitative research paradigms. To determine the learningmodel it was used an indirect approach of  Roger namely a non-directive interview. To fi nd out the requirements for competent dalang it was used structurasionistic approach. Setting of  the reseach is  world of puppetry, while research sites are situational, ie, depends where and when students learn a performer. The reseach founded three dalang learning models. First, the dalang learning model school system and the strict rules, such as a curriculum, a schedule of learning, competency standars and graduation standards.  Second, learning models are in out of school (non-formal school),for instance in the course  institution. Third, the dalang learning model in out of school (non-formal school) named  art studios.
The Aesthetics of Padendang Dance at Mappadendang Traditional Ceremony of Bugis Society in Soppeng Regency yayu, yusrianti yayu; Jazuli, M.; Sumaryanto Florentinus, Totok
Catharsis Vol 8 No 1 (2019): August 2019
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mappadendang traditional ceremony is a traditional ceremony that is held every year by Bugis society as an expression of gratitude for the abundance of the results of the crop. This traditional ceremony is usually combined with the Padendang dance, which is a traditional dance of the Bugis people, especially in Abbanuangnge Village, Soppeng Regency. It is derived from the word "Pa" which means the actor, "dendang" which means rhythm. Besides as a series of Mappadendang traditional ceremonies, this dance also functions as entertainment. The uniqueness of this dance lies in its attractive movements using properties called as rice pestle (stick). Besides that, it was supported by the sound of the collapsed pestle carried out by the mothers and accompanied by drum instruments. The purpose of this study is to analyze the aesthetics of Padendang dance at Mappadendang traditional ceremony of the Bugis society in Soppeng Regency. The method used in this study is a qualitative method. Data collection techniques are observation, interview and document study. The data validity technique uses triangulation techniques and data analysis techniques that follow the stages of interactive model analysis. The results of the Padendang dance research are three parts of the movement: the beginning of the movement, mappakaraja, the main part of the movement, Sere Padendang, the harvest and the final part mappatabe’ movement. The aesthetic findings of Padendang dance there are three aesthetic elements that exist in the Padendang dance, namely the shape / form of motion of the Padendang dance, the quality / content / message conveyed in the Padendang dance, and the performance / talent or skill possessed by the dancers.
Studi Kinci Angin untuk Penggerak Generator Pembangkit Tenaga Listrik Surya, Indra; Saputro, Harjono; Jazuli, M.
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 1, No 1 (2010): Oktober
Publisher : JURNAL TEKNIK MESIN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

-