Articles

PENGARUH KEMAMPUAN DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA PEGAWAI DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Jurnal Penelitian Universitas Jambi: Seri Humaniora Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Universitas Jambi : Seri Humaniora
Publisher : Jurnal Penelitian Universitas Jambi: Seri Humaniora

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji Pengaruh kemampuan dan motivasi terhada kinerja pegawai Dinas Pendidikan Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Hasil perhitungan statistik deskriptif menemukan bahwa para pegawai telah melaksanakan kinerja dengan baik, memiliki kemampuan yang baik dan motivasi kerja yang tinggi. Hampir semua indikator dari variabel-variabel yang diteliti telah memenuhi persyaratan keterhandalan dan valid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  Kemampuan kerja dan motivasi pegawai secara bersama-sama memberikan kontribusi 73,4% terhadap Kinerja pegawai Dinas Pendidikan Kabupaten Tanjung jabung Barat. Secara parsial, dari 2 (dua) variable independent yang ada ternyata kedua variabel tersebut (kemampuan kerja dan motivasi ) berpengaruh secara signifikan terhadap Kinerja pegawai Dinas Pendidikan kabupaten Tanjung Jabung Barat. Kemampuan pegawai yang perlu untuk ditingkatkan adalah kemampuan pegawai untuk mengerjakan pekerjaan yang sulit serta kemampuan berfikir untuk mengerjakan berbagai macam pekerjaan, melalui keikutsertaan pegawai dalam berbagai kegiatan diklat yang ada. Untuk motivasi pegawai yang perlu ditingkatkan pada masa yang akan datang adalah yang berkaitan dengan sportivitas dalam bekerja yaitu menerima segala keputusan kantor yang telah diberikan meskipun hal tersebut tidak sependapat. Caranya adalah dengan memberikan pencerahan pada para pegawainya untuk benar benar memahami tentang Tupoksi mereka serta memberitahukan semua aturan-aturan yang diberlakukan dikantor. Kemudian, pimpinan perlu juga menegaskan tentang apa saja sangsi yang akan diterima pegawai jika seandainya pegawai melanggarnya. Sehingga, ketika mereka melakukan pelanggaran maka sangsi diberkan kepada mereka dapat diterima dengan senang hati. Untuk kinerja pegawai yang perlu dibenahi adalah yang berkaitan dengan kemauan pegawai untuk bekerja melebihi target. Untuk mengatasi hal tersebut mungkin tindakan yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan motivasi kepada para pegawainya melalui pemberian kompensasi , baik kompensasi finansil seperti pemberian gaji, insentif dan bonus yang disesuaikan dengan beban kerja yang dilakukan pegawai maupun kompensasi non finansial seperti pemberian tanggung jawab , perhatian dari pimpinan, serta pemberian pengharagaan pada pegawai yang berprestasi .   Kata kunci: kemampuan kerja, motivasi kerja, dinas pendidikan

Akurasi Tematik Peta Substrat Dasar dari Citra Quickbird (Studi Kasus Gusung Karang Lebar, Kepulauan Seribu, Jakarta) (Thematic Accuracy of Bottom Substrate Map from Quickbrid Imagery (Case study: Gusung Karang Lebar, Kepulauan Seribu, Jakarta))

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 17, No 3 (2012): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2144.187 KB)

Abstract

Salah satu kelemahan metode koreksi kolom air adalah dapat memunculkan bias dalam estimasi rasio koefisien attenuasi. Bias ini berkontribusi pada nilai akurasi tematik peta substrat dasar. Studi ini menggunakan pendekatan zonasi geomorfologi untuk meningkatkan akurasi tematik peta substrat yang dihasilkan dari metode koreksi kolom air. Nilai piksel citra Quickbird dikonversi ke radiansi dan dilanjutkan dengan koreksi kolom air untuk menghasilkan peta substrat dasar dengan tiga tema ekosistem, yaitu ekosistem pantai berpasir dengan substrat dominan pasir, ekosistem lamun dan terumbu karang. Data lapangan dikelompokkan menggunakan metode Bray curtis dan menjadi dasar bagi reklasifikasi. Profil geomorfologi pada citra satelit disadap dari gabungan kanal hijau dan merah, mengacu pada hasil survei batimetri. Pendekatan kombinasi ini terbukti dapat meningkatkan akurasi tematik peta substrat dasar hingga lebih dari 20%.Kata kunci: quickbird, substrat dasar, akurasi tematikBias may occur on attenuation coefficient ratio estimated from water column correction method. This bias then contribute to thematic accuracy of bottom substrate images. This study used geomorphologic spatial zonation to improve thematic accuracy of bottom substrate maps that produced from water column correction method. Quickbird pixel values were converted to the top of atmosphere radiance and followed by water column correction to make bottom substrate map with three themes ecosystem i.e. sandy ecosystem, seagrass ecosystem and coral reef ecosystem. Field data were grouped using Bray Curtis method and become basis of image reclassification. Geomorphological profile was extracted from green and red composite images, refer to a bathymetric survey. These combined approaches were significantly proved to improve thematic accuracy up to more than 20%.Key words: quickbird, bottom subtrate, thematic accuracy

Indeks Kerentanan Pulau-Pulau Kecil : Kasus Pulau Barrang Lompo-Makasar

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (692.908 KB)

Abstract

Indonesia adalah negara kepulauan yang diperkirakan akan mengalami ancaman dampak pemanasan global dan kenaikan muka laut.  Pemanasan global juga akan meningkatkan kerentanan pulau-pulau kecil.  Kajian kerentanan pulau-pulau kecil merupakan bagian dari pengelolaan pulau-pulau kecil berkelanjutan.  Penelitian ini bertujuan untuk menghitung serta memproyeksikan kerentanan pulau-pulau kecil,  dan menyusun strategi adaptasi pulau-pulau kecil.  Penelitian dilakukan di Pulau Barrang Lompo-Makasar pada Bulan Nopember 2009. Prinsip dasar analisis data adalah mentransformasikan data lapang (kuantitatif dan kualitatif) ke dalam nilai skor untuk menghitung indeks kerentanan pulau. Indeks kerentanan Pulau Barrang Lompo adalah 8,33 (kategori sedang) dengan perubahan parameter kenaikan muka laut dan perendaman pada 2 tahun ke depan.  Elevasi dan kemiringan Pulau Barrang Lompo sangat rendah, dan pada tahun 2100 diperkirakan lebih dari 80 % daratan pulau ini terendam.  Strategi adaptasi yang diusulkan adalah pengembangan konservasi laut sekitar 50 % dari habitat pesisir, pembangunan bangunan pelindung pantai dan relokasi pemukiman penduduk. Kata kunci: pulau-pulau kecil, kerentanan, indeks.  Indonesia consist of many islands, especially small islands. Small islands are vulnerable to the impact of global warming and sea level rise. Small islands vulnerability assessment is part of the sustainability small island management.  The research aims to formulate the small islands vulnerability index, to simulate and to predict the vulnerability dynamic of small islands, to develop adaptation strategies of small islands. The research conducted on Barrang Lompo Island located in Makasar on Nopember 2009.  Data collection through observation, measurement, and depth interview.  The principle of data analysis is by means of transformation of quantitative and qualitative data into scoring value to produce the small island vulnerability index.  The results showed that vulnerability index for Barrang Lompo Island is 8.33 (moderate), coastal inundation until 2100 reach 80 % of the land area.  The suggested adaptation strategies are conservation of 50 % of coastal habitat, sea wall construction and resettlement. Key words: Small island, vulnerability, index.  

Studi Tingkah Laku Ikan pada Proses Penangkapan dengan Alat Bantu Cahaya : Suatu Pendekatan Akustik

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.426 KB)

Abstract

Makalah ini menguraikan tentang hasil penelitian tingkah laku ikan di sekitar daerah pencahayaan selama proses penangkapan melalui pendekatan akustik. Tujuan studi adalah mengidentifikasi pola tingkah laku ikan yang berhubungan dengan operasi penangkapan ikan yang menggunakan cahaya. Secara khusus akan dianalisis pola sebaran ikan sebelum dan setelah proses penangkapan, pola kedatangan ikan dan pola tingkah laku ini di sekitar sumber pencahayaan. Penelitian dilakukan di perairan Kabupaten Barru, Selat Makassar (4° 19’ 19,9" Lintang Selatan – 119° 16’ 201" Bujur Timur) dengan menggunakan instrumen side scan sonar. Analisis deskriptif dilakukan untuk menjelaskan pola tingkah laku ikan pada daerah yang disinari. Hasil penelitian menunjukkan kawanan ikan akan ada yang langsung menuju ke sumber cahaya dan ada yang tidak, dan datang pada berbagai kedalaman tergantung pada kedalaman renangnya masing-masing. Kecepatan gerak kawanan ikan mendekati bagan  berkisar 0,57 m/detik dan di sekitar pencahayaan sebesar 0,21 m/detik. Kawanan ikan cenderung bergerak dalam pola yang teratur mengelilingi sumber cahaya, dan akan semakin terkonsentrasi di sekitar daerah tangkapan  pada saat lampu yang berada di bawah bingkai bagan dipadamkan. Di dalam daerah pencahayaan, pola distribusi ikan cenderung berbentuk bola (spherical) dan berbentuk pita (ribbon) secara vertikal di luar daerah pencahayaan Kata kunci: pendekatan akustik, tingkah laku ikan This paper describes the results of fish behavior study  around illuminated area during capture process through acoustic approach. The objective of this study is to identify the pattern of fish behavior related to the operation of fishing gear using light. This research specifically aims to analyze the pattern of fish distribution before and after the capture process, to analyze the arrival pattern and to analyze fish behavior around the light source. This research was conducted in Barru Regency waters, Makassar Strait (4° 19’ 19,9" S. Lat. – 119° 16’ 201" E. Lon.) using Side Scan Sonar Instrument. Descriptive analysis was employed to examine the behavioral pattern around the given illumination area. The result shows that there are some fish came directly to the light source and  stay in the vicinity of the illuminated area while others are outside of that area. The fish school  approaching the illuminated area was found at the depth of 5-10 meters and 20-30 meters. The fish school movement speed approaching the Bagan Rambo reached 0.57 m/s and 0.21 m/s when fish school was around the illuminated area. The fish school tends to move in regular pattern encircling the light source and became concentrated once the light is turned off. In the illuminated area the shape of the fish school tend to be spherical, while outside of the area is tend to be in the shape of ribbon. Key words: acoustic approach, fish behaviour

Studi Awal Karakteristik Suara Siulan (Whistle) dan Lengkingan (Burst) pada Lumba-Lumba Hidung Botol (Tursiops truncatus)

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.337 KB)

Abstract

Makalah ini menguraikan tentang karakteristik suara lumba-lumba hidung botol (Tursiops truncates) yang diperoleh dengan menggunakan perekam suara pada laptop Toshiba T2150 CDT yang dilengkapi dengan soundcard dan internal microphone. Suara yang direkam adalah suara bertipe whistle dan burst yang dikeluarkan oleh lumba-lumba pada dua kelompok usia, subadult (10-12 tahun) dan adult (>12 tahun). Proses perekaman dilakukan selama ± 1 menit dan karakteristik suara ditentukan berdasarkan analisis spektrogram. Nilai power spectral sensity (PSD) dari suara yang dihasilkan lumba-lumba pada masing-masing kelompok usia bervariasi meskipun berasal dari individu yang sama, demikian halnya dengan frekuensi terjadinya PSD maksimal tersebut. Jika kedua kelompok usia ini dibandingkan, maka terlihat bahwa nilai rata-rata PSD maksimal kedua tipe suara pada lumba-lumba kelompok usia adult lebih tinggi dibanding lumba-lumba kelompok usia subadult.Suara whistle dan burst pada kedua kelompok usia terdengar berbeda, dimana suara whistle pada kelompok usia subadult tidak sekuat whistle pada kelompok usia adult. Perbedaan lebih jelas pada suara bertipe burst. Pada lumba-lumba kelompok usia subadult, suara burst menyerupai lengkingan, akan tetapi pada kelompok usia adult, suara burst menyerupai teriakan.Kata kunci: lumba-lumba hidung botol, suara siulan, suara lengkinganThis paper describes the sound characteristics produced by Bottlenose Dolphin using a notebook computer equipped with a sound card and internal microphone. The sound produced by two age groups, sub adult(10 – 12 years old) and adult (>12 years) was recorded for the duration of about one minute, and their sound characteristics were determined base on spectrogram analysis. It was found that the power spectral density (PSD) of the sound produced varies between the two groups. The average of maximum PSD of the adult was higher than the sub adult. Both of whistle and burst sounds in each age class were heard differently.The whistle sound produced by the sub adult was not as strong as the one produced by the adult group, and in the case of burst sound this differences was more pronounced. The burst sound of the sub adult group was heard like a shrill, but for the adult age group the burst sound was heard like a yell.Key words: botlenoosed dolphin, whistle sound, burst sound

Development of a Technique for Early Sexing of Koi (Ornamental Carp)

Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 16, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.947 KB)

Abstract

One of the critical issues faced by a Koi’s breeder is sexing at the early age, since it will result in financial benefit for the breeder. In this paper we describe the results of early sexing technique that is developed for the Koi using combination of descriptor method and application of artificial neural network (ANN), where we used back-propagation algorithm in the computation. Input data for ANN are obtained from both morphometric and energetic descriptors of Koi’s images. The morphometric descriptor shows that early sexing is possible and can be accomplished within 2 (two) months, which is much faster than conventional technique by means of histology. The accuracy of ANN computation for sexing using both descriptors as input is about 70%.Keywords: sexing, descriptors, artificial neural network, Koi

MODEL BIOEKONOMI PERAIRAN PANTAI (IN-SHORE) DAN LEPAS PANTAI (OFF-SHORE) UNTUK PENGELOLAAN PERIKANAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI PERAIRAN SELAT MAKASSAR

Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 13, No 1 (2006): Juni 2006
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.548 KB)

Abstract

Di perairan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Selat Makassar, produksi rajungan di perairan inshore pada tahun 2002 dan 2004 telah melewati biomassa optimal, yaitu sebesar 609.7 ton dan 607.5 ton. Masalah ini perlu segera ditangani, misalnya dengan mencari tingkat pemanfaatan yang optimal. Dalam makalah ini, diuraikan hasil pengembangan model bioekonomi perairan pantai (in-shore, 0 – 6 mil laut dari pantai) dan lepas pantai (off-shore, diatas 6 mil laut dari pantai) untuk menentukan jumlah biomassa yang dapat dimanfaatkan secara optimal dengan mempertimbangkan biaya operasi penangkapan dan nilai rajungan yang tertangkapdalam pengelolaan perikanan rajungan di perairan Selat Makassar (pantai barat Sulawesi Selatan). Data yang dikumpulkan adalah data produksi rajungan, upaya penangkapan, dan jumlah unit alat tangkap dari periode tahun 1995 sampai 2004, yang diperoleh dari instansi Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Adapun harga rajungan diperoleh dari 3 kelompok nelayan dan 3 perusahaan pengolahan rajungan yang ada di lokasi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rajungan di daerah ini, masih memungkinkan untuk diekploitasi dengan tetap memperhatikan konsep pengelolaan perikanan tangkap yang berkelanjutan. Model memberikan indikasi bahwa alokasi biomassa optimal pada perairan pantai adalah 180 ton/tahun, dan pada perairan lepas pantai adalah 771 ton/tahun. Hal ini disebabkan oleh pergerakan rajungan yang mempengaruhi jumlah populasi rajungan pada perairan pantai dan perairan lepas pantai.Kata kunci: model, bioekonomi, in-shore, off-shore, pertumbuhan.

MODEL NUMERIK DIFUSI POPULASI RAJUNGAN DI PERAIRAN SELAT MAKASSAR

Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 13, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.904 KB)

Abstract

Salah satu model pengelolaan perikanan tangkap untuk perairan yang luas adalah model difusi populasi, dimana ikan bebas melakukan pergerakan (difusi). Model ini dapat dikembangkan dari model pertumbuhan populasi dan model penangkapan (harvesting). Dalam makalah ini, diuraikan hasil model numerik difusi rajungan di Selat Makassar (pantai barat Sulawesi Selatan). Metode pengumpulan data yang digunakanadalah metode survei dan observasi, dimana densitas populasi rajungan ditentukan dengan metode swept area. Model difusi populasi yang dihasilkan menunjukkan bahwa rajungan di perairan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan melakukan pergerakan (difusi) dari perairan pantai ke perairan lepas pantai dengan koefisien difusi sebesar 60 ekor/km2. Rajungan yang layak tangkap berada pada jarak minimal 3.7 mil laut dari pantai ke arah laut. Dengan mempertimbangkan sifat difusi dari rajungan, model difusi yang dihasilkan direkomendasikan bagi pemanfaatan yang optimal pada pengelolaan perikanan rajungan.Kata Kunci: model, numerik, difusi, rajungan.

DISTRIBUSI SUMBERDAYA IKAN DEMERSAL DI PERAIRAN LAUT CINA SELATAN

Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 11, No 2 (2004): Desember 2004
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.804 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari hubungan antara distribusi sumberdaya ikan demersal dengan kedalaman perairan dan faktor-faktor lingkungan perairan Laut Cina  Selatan. Penelitian ini dilakukan dari tanggal 10 September - 5 Oktober 2001 dengan kedalaman 13-72 meter. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa distribusi sumberdaya ikan demersal tergantung dari salinitas, kedalaman dan suhu perairan. Pengaruh faktor salinitas lebih besar dari faktor kedalaman dan suhu perairan. Distribusi Alepes kalla, Selaroides leptolepis, Scutor ruconeus, Leiognathus leusiscus, Pomadasys maculatus, Pomadasys argyreus, Pampus argenteus, Upeneus tragula dan Nemipterus mesoprion pada perairan dangkal dengan salinitas yang rendah serta suhu yang tinggi. Sebaliknya Nemipterus marginatus, Nemipterus peronii, Nemipterus tambuloides, Priacanthus macracanthus dan Upeneus bensasi pada perairan yang lebih dalam, salinitas yang tinggi dan pada suhu yang rendah. Distribusi Atropus atropus, Gazza minuta, Leiognatus equulus dan Scomberomorus commerson pada perairan dengan kecerahan yang tinggi. Scolopsis taeniopterus, Saurida undosquamis dan Priacanthus tayenus memiliki toleransi yang luas terhadap faktor lingkungan.Kata kunci: distribusi, ikan demersal, perairan Laut Cina Selatan.

ANALISIS PERUBAHAN GARIS PANTAI DAN PENUTUPAN LAHAN ANTARA WAY PENET DAN WAY SEKAMPUNG, KABUPATEN LAMPUNG TIMUR

Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 11, No 2 (2004): Desember 2004
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2136.693 KB)

Abstract

Analisis terhadap perubahan garis pantai dan penutupan lahan di pesisir Lampung Timur, antara Way Penet dan Way Sekampung dilakukan berdasarkan citra satelit LANDSAT-TM antara tahun 1991, 1999,2001 dan 2003. Observasi dan pengukuran kondisi pantai dan gelombang di lapangan dilakukan untuk mempelajari dinamika pantai. Dari rangkaian data citra satelit tersebut ditemukan bahwa garis pantai mengalami proses erosi dan sedimentasi yang cukup nyata pada bagian-bagian pantai tertentu. Erosi yang terjadi di bagian selatan di Desa Purworedjo, misalnya, bervariasi antara 90 - 600 m dalam kurun waktu 12 tahun (1991 - 2003). Sementara itu, ke arah utara dari desa ini proses sedimentasi bervariasi antara 90 - 550 m. Ke arah utaranya lagi, garis pantai mengalami erosi, kemudian sedimentasi. Bentuk morfologi garis pantai, variasi arah angin dan karakteristik gelombang ditelaah sebagai faktor yang berperan dalam perubahan garis pantai tersebut. Intensitas perubahan dan uraian dinamika pantai yang terjadi dapat digunakan sebagai acuan dalam menentukan tindakan mitigasi ekologi yang efektif untuk melindungi daerah tersebut.Kata kunci: dinamika garis pantai, citra satelit, Lampung Timur

Co-Authors . Gassing . Salnuddin, . Acta Withamana Adam , Adi Lutfi Hanafi, Adi Lutfi Amin, Shofia Amiruddin Tahir Amron Amron, Amron Anglita Yantisetiasti Apdillah, Dony ARI WAHYUDI Arif Baswantara, Arif Augy Syahailatua Betthy S. S. Hernowo Bisman Nababan Dewi Kartika Ramadhan Fahrulian Fahrulian Fauziyah , Fauziyah . Febrianto, Try G. A. Satria, Mahesa Gilang Aulia Harold J. D. Waas Harold J.D. Waas, Harold J.D. Henry M Manik, Henry M Henry M. Manik Henry Manik Hidayat, Rizqi Rizaldi Hollanda Arief Kusuma, Hollanda Arief Husnul Khatimah I Wayan Nurjaya Jonson Lumban Gaol Jumailiyah, Jumailiyah Karen von Juterzenka, Karen von Kusumah, Billi Rifa M. Fedi A. Sondita M.Fedi Sondita Manik, Henry Munandar Manik, Henry Munandar Mara Samin Lubis, Mara Samin Mennofatria Boer Moh. Rasyid Ridho Moniharapon, Domey Muhammad Banda Selamat Muhammad Idris Muhammad Iqbal Muhammad Sulaiman Mulia Purba Mulyono S Baskoro Mulyono S. Baskoro Natih, Nyoman M.N Natsir, Moh. Nimmi Zulbainarni Nurhalis Wahiddin Nurjaya, Wayan Nyoman M N Natih Nyoman M.N. Natih, Nyoman M.N. Pane, Nursyahbany Sitorus Pane Sitorus Pianto, Teguh Arif R. Kusumah, Billi Richardus F. Kaswadji Roza Yusfiandayani Sadhotomo, Bambang Saepudin, Dudin Saleh Atmadipoera, Agus Salnuddin Salnuddin, Salnuddin Sam Wouthuyzen Selamat, Muhammad Banda Setyo Budi Susilo Siswadi Siswadi Sri Pujiyati Subhat Nurhakim Suhadi AR, Muhammad Surya Ningsih Susilohadi, . Suwandi Sugandi Syarufudin, Indra Totok Hestirianoto Udrekh udrekh Vincentius P Siregar Vincentius P. Siregar WAYAN SRIYASA, WAYAN Wisma Wisma, Wisma Yopi Novita