Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Pola Dermatoglifi dengan Diabetes Mellitus Tipe II di RSUP Dr Mohammad Hoesin

JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 2, No 3 (2015): Oktober 2015
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dermatoglifi adalah ilmu tentang bentuk dan pola sidik jari. Dermatoglifi diturunkan secara poligenik, bersifat tetap dan tidak dipengaruhi umur, pertumbuhan dan perubahan lingkungan. Pola dermatoglifi dapat memperlihatkan juga kelainan genetik ataupun penyakit tertentu, sehingga bisa digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis suatu penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara  pola dermatoglifi DM tipe 2 dan yang tidak DM tipe 2. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian yaitu Retrospective case control, dan dilakukan di poliklinik penyakit dalam RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang, pada bulan februari 2014. Jumlah sampel yang diteliti 93 orang. Hasil penelitian memperlihatkan  pola whorl 54,8%, loop ulnar 39,7%, arch 3,2% dan pola loop radial 2,3% pada kasus DM tipe 2 dan pola loop ulnar 62,3%, whorl 29%, ,loop radial 6,6%, arch 2,1% pada kontrol tidak DM tipe 2. Indeks pola sidik jari pada DM tipe 2 yang terbesar adalah Indeks Furuhata 130.8 kemudian Indeks Dankmeijer 5,9. Dengan menggunakan test statistik uji Chi-Square, Odds Ratio dan pvalue<0,05 memperlihatkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pola sidik jari DM tipe 2 dan tidak DM tipe 2. Peneliti menyimpulkan bahwa orang lebih banyak mempunyai pola sidik jari whorl, mempunyai peluang lebih beresiko untuk menderita DM tipe 2 sebesar 2,96 dan 3,87

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TUBERKULOSIS PARU RELAPS PADA PASIEN DI RUMAH SAKIT KHUSUS PARU PROVINSI SUMATERA SELATAN TAHUN 2015-2016

JPP JURNAL KESEHATAN POLTEKKES PALEMBANG Vol 12 No 1 (2017): JPP Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang
Publisher : POLTEKKES KEMENKES PALEMBANG

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.056 KB)

Abstract

Tuberkulosis paru adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis. Sedangkan tuberkulosis paru Relaps adalah penderita Tuberkulosis Paru yang dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap kemudian dating kembali berobat dengan hasil pemeriksaan batuk berdahak Basil Tahan Asam positif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui factor resiko tuberculosis paru Relapsdi Rumah Sakit Khusus Paru Provinsi Sumatera Selatan tahun 2016. Penelitian ini menggunakan pendekatan Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini meliputi populasi kasus yaitu penderita TB paru yang mengalami kekambuhan dan populasi kontrol yaitu penderita TB paru yang sudah dinyatakan sembuh. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh data penderita TB Paru Relaps yang berobat di Poliklinik Paru Rumah Sakit Khusus Paru Provinsi Sumatera Selatan (total sampling) tahun 2015-2016.Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan menggunakan uji chi square.Hasil penelitian dapat disimpulkan tidak ada hubungan antara usia dengan kejadian TB paru Relaps(p:0,309; CI: 0,54-14,1; OR: 2,79), tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan kejadianTBparuRelaps(p:0,909;CI:0,308-2,82;OR:0,933), ada hubungan antara pendidikan dengan kejadian TB paru Relaps(p:0,017; CI: 1,2-14,6; OR: 4,2), tidak ada hubungan antara pekerjaan dengan kejadian TB paru Relaps(p:0,401; CI: 0,18-1,97; OR: 0,6), ada hubungan antara riwayat merokok dengan kejadian TB paru Relaps (p:0,045;CI:1,0-10,3;OR:3,2), tidak ada hubungan antara dengan kejadian TB paru Relaps (p:0,309;CI:0,54-14,1;OR:2,79).