Articles
5
Documents
ANGKA KEMATIAN OPERASI JANTUNG RSUP DR. KARIADI SEMARANG PERIODE JANUARI 2011 - JANUARI 2013

MEDIA MEDIKA MUDA Vol 2, No 1 (2013): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang : Penyakit jantung merupakan salah satu penyakit dengan jumlah kasus tertinggi di Jawa Tengah (62,43% dari 1.409.857 kasus) dan menjadi penyebab kematian ke-5 rumah sakit di Indonesia pada tahun 2005. Salah satu penatalaksaan untuk pasien adalah dengan melakukan tindakan bedah jantung. Angka kematian pasien dapat digunakan sebagai parameter keberhasilan operasi bedah jantung di suatu rumah sakit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui data mengenai angka kematian operasi jantung di RSUP Dr.Kariadi Semarang periode 1 Januari 2011- 31 Januari 2013.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif cross sectional, dengan simple random sampling, menggunakan data sekunder dari rekam medik, ICU (Intensive Care Unit)dan IBS (Instalasi Bedah  Sentral) RSUP Dr. Kariadi Semarang periode 1 Januari 2011 – 31 Januari 2013. Data diklasifikasikan berdasarkan jenis operasi, diagnosa penyakit, usia, jenis kelamin, penyakit penyerta, status ASA, komplikasi dan penyebab kematian.Hasil : Pasien operasi bedah jantung diRSUP Dr.Kariadi Semarang pada 1Januari 2011 – 31 Januari 2013 sebanyak 191 orang. Jumlah pasien yang meninggal 26 orang (13,6%). Penyebab kematian terbanyak adalah syok kardiogenik (57,7%). Jenis operasi dengan angka kematian tertinggi adalah operasi perbaikan katup (100% dari 1 kali operasi), sedangkan yang terendah adalah sebesar  4% dari 53 operasi MVR (Mitral Valve Replacement).Simpulan : Selama periode 1 Januari 2011- 31 Januari 2013, angka kematian operasi jantung RSUP Dr. Kariadi Semarang adalah sebesar 13,6%.

PERBANDINGAN FREKUENSI PENGGUNAAN ANESTESI REGIONAL DAN ANESTESI GENERAL PADA PASIEN SEKSIO SESARIA DI RSUP DR KARIADI SEMARANG PERIODE JANUARI 2011-JANUARI 2013

MEDIA MEDIKA MUDA Vol 2, No 1 (2013): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang Anestesi diperlukan dalam setiap prosedur seksio sesaria. Teknik anestesi pada seksio sesaria dibagi dalam dua kategori besar, yaitu anestesi regional atau neuroaksial dan anestesi general atau umum. Pedoman anestesi obstetri merekomendasikan anestesi regional untuk seksio sesaria. Walaupun anestesi regional menjadi rekomendasi untuk seksio sesaria namun anestesi general masih digunakan untuk beberapa prosedur seksio sesaria karena onsetnya yang cepat. Tujuan Untuk mengetahui perbandingan frekuensi penggunaan anestesi regional dan anestesi general pada pasien seksio sesaria di RSUP Dr Kariadi Semarang.Metode Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan penelitian belah lintang. Penelitian ini menggunakan data dari rekam medis 194 pasien yang melahirkan dengan metode seksio sesaria di RSUP Dr Kariadi Semarang periode 1 Januari 2011 sampai 31 Januari 2013. Data dikumpulkan kemudian dikelompokkan dan ditampilkan dalam bentuk tabel serta grafik.Hasil Terdapat 85,6% atau 166 sampel yang menggunakan anestesi regional dan 14,4% atau 28 sampel yang menggunakan anestesi general pada prosedur seksio sesaria. Indikasi terbanyak untuk dilakukan seksio sesaria adalah bekas seksio sesaria, kelainan presentasi, dan partus tak maju.Simpulan Perbandingan frekuensi penggunaan anestesi regional dan anestesi general pada pasien seksio sesaria di RSUP Dr Kariadi Semarang adalah 85,6% anestesi regional dan 14,4% anestesi general.

PENGGUNAAN ANALGESIK PASCA OPERASI ORTHOPEDI DI RSUP DR. KARIADI SEMARANG

MEDIA MEDIKA MUDA Vol 3, No 1 (2014): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Analgesik yang inadekuat bisa memicu nyeri kronik, memperpanjang lama pemberian obat, dan tingkat nyeri yang bertambah sehingga memperberat beban yang ditanggung pasien pasca operasi orthopedi. Makadiperlukan penggunaan analgesik yang tepat guna memberikan lebih banyak keuntungan daripada kerugian efek sampingnya pada pasien.Tujuan: Memberikan informasi mengenai analgesik yang paling sering digunakan pasca operasi orthopedi di RSUP Dr. Kariadi Semarang periode Januari-Juni 2013.Metode: Desain penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan data yang dikumpulkan secara retrospektif, menggunakan data rekam medik pasien pasca operasi orthopedi periode Januari-Juni 2013 sebagai sampel. Duaratus tiga puluh tiga pasien pasca operasi orthopedi dari semua jumlah sampel telah memenuhi kriteria inklusi serta dilakukan pencatatan tentang jenis agen analgesik, dosis, metode pemberian, lama pemberian, dan jenis analgesik intrabedah yang digunakan. Data dideskripsikan dalam bentuk tabel dan gambar.Hasil: Dari 233 pasien pasca operasi orthopedi, diketahui bahwa analgesik paling banyak digunakan adalah NSAID ketorolac sebanyak 209 pasien (89,7%) dan paracetamol sebanyak 21 pasien (9,01%). Kombinasi NSAID ketorolac denganopioid tramadol digunakan sebanyak 2 pasien (0,85%), anestesi lokal bupivacaine digunakan sebanyak 1 pasien (0,43%), dan tidak terdapat pasien yang menggunakan opioid saja. Fentanyl adalah analgesia paling sering digunakanselama intraoperatif.Simpulan: Penggunaan analgesik pasca operasi orthopedi terbanyak adalah NSAID ketorolac 30 mg/8 jam jalur intravena selama dua hari, sedangkan penggunaan analgesik intraoperasi orthopedi terbanyak adalah opioid fentanyljalur intravena.

Manajemen Anestesi Operasi Total Tiroidektomi Menggunakan Target Controlled Infusion (TCI) Propofol dan Blok Pleksus Servikal Superfisial pada Pasien Karsinoma Tiroid dengan Metastasis Paru

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 7, No 1 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Keganasan pada tiroid jarang terjadi, namun kanker tiroid merupakan keganasan endokrin yang paling sering terjadi. Kanker paru-paru muncul ketika terjadi mutasi genetik pada sel normal dalam paru-paru yang dapatbermetastasis ke seluruh tubuh atau juga dapat diakibatkan metastasis dari tempat lain, seperti payudara, tiroid, atau usus besar. Keganasan tiroid menimbulkan beberapa tantangan dalam tindakan anestesi yaitu kemungkinan kesulitan dalam pengelolaan jalan nafas dan kemungkinan terjadinya badai tiroid.Adanya massa pada paru menjadikan pengelolaan anestesi pada pasien ini menjadi lebih kompleks.Kasus : Wanita usia 36 tahun dengan karsinoma tiroid metastasis paru direncanakan tindakan total tiroidektomi. Dari pemeriksaan pra operasi didapatkan keluhan benjolan pada leher kanan sebesar bola bekel. Pasien berada dalam Kondisi eutiroid secara klinis dan laboratoris. Dari foto dada didapatkan massa dengan opasitas bentuk bulat, batas relatif tegas dengan kalsifikasi di tepinya pada hemithoraks kiri.Manajemen anestesi diawali dengan midazolam 2 mg sebagai premedikasi dilanjutkan dengan TCI Propofol target plasma 6 mcg/ml, Fentanyl 100 mcg dan Rocuronium 30 mg untuk induksi kemudian pasien diintubasi tanpa gejolak hemodinamik. Setelah itu, dilakukan blok pleksus servikal superfisial dengan bupivacaine konsentrasi 0,25% volume 10 cc di setiap sisi leher.Untukrumatantarget plasma TCI diturunkan menjadi 4 mcg/ml dan rocuronium intermiten.Ventilator dengan setting Pressure Cycle untuk menghindari hiperinflasi paru dengan O2 dan Air dengan perbandingan 1:1 tanpa menggunakan N2O dan Agen Anestesi Volatile. Operasi berlangsung selama 4 jam dengan hemodinamik stabil.Pada akhir operasi TCI Propofol diturunkan secara bertahap dan pasien diekstubasi setelah pernapasan spontan adekuat kemudian pasien kembali ke ruang perawatan.Ringkasan : Penggunaan kombinasi anestesi umum dengan intubasi menggunakan TCI Propofol dan blok servikalis superfisial dapat menjadi teknik anestesi pilihan pada kasus struma disertai tumor paru. Analgesi melalui blok pleksus servikal superfisial terbukti cukup memuaskan selama operasi.

Pengaruh Lidokain Intravena Terhadap Kadar Superoxide Dismutase I (SOD1) Dan Gambaran Histopatologi Jantung Kelinci Pada Myocardial Ischemic Reperfusion Injury Model

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 8, No 1 (2016): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Ischemic reperfusion injury (IRI) adalah kerusakan jaringan yang disebabkan oleh kembalinya pasokan darah ke jaringan setelah periode iskemia atau kekurangan oksigen. Salah satu pilihan terapi untuk mencegah cedera jaringan adalah dengan meningkatkan antioksidan alami yang berada di dalam sel seperti superoxide dismutase (SOD). Tujuan : Membuktikan pengaruh lidokain intravena terhadap kadar Superoxide Dismutase 1 (SOD J) dan gambaran histopatologi jantung kelinci pada myocardial ischemic reperfusion injury model. Metode : Penelitian menggunakan 16 ekor kelinci lokal jantan, berumur 1 - 2 tahun, berat badan 1.5 - 2,5 kg. Penelitian menggunakan 2 kelompok yaitu kelompok kontrol (KK) terdiri dari 8 ekor kelinci yang diberikan perlakuan myocardial ischemic reperfusion injury. Kelompok perlakuan (KP) terdiri 8 ekor kelinci mendapatkan perlakuan myocardial ischemic reperfusion injury dan diberikan lidokain 2% i.v dengan dosis 1.5 mg/kg/jam secara kontin>ii dari awal sampai akhir prosedur. Kadar SOD1 diperiksa dengan metode EL1SA sedangkan histopatologi jaringan diperiksa menggunakan mikroskop kemudian hasilnya dihitung dengan persamaan regresi linier. Hasil : Kadar SOD1 didapatkan nilai p = 0,009. karena p < 0.05 maka dapat disimpulkan terdapat perbedaan bermakna antara kelompok kontrol dan perlakuan. Untuk gambaran histopatologi didapatkan nilai p = 0,323, karena p >0,05 maka dapat disimpulkan terdapat perbedaan tidak bermakna antara kelompok kontrol dan perlakuan. Simpulan : Terdapat perbedaan bermakna kadar SOD1 jantung kelinci pada myocardial ischemic reperfusion injury yang diberikan lidokain dibandingkan dengan kelinci yang tidak mendapat lidokain. Sedangkan untuk gambaran histopatologi terdapat perbedaan tidak bermakna pada kelinci myocardial ischemic reperfusion injwy yang diberikan lidokain dibandingkan dengan kelinci yang tidak mendapat lidokain.