Tatag Istanto
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

Penggunaan Sedasi dan Pelumpuh Otot di Unit Rawat Intensif

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 2 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sedation should be administered to patients with critical illness who were treated in the ICU, it is used to reduce patient anxiety reducing patient anxiety of invasive measures, monitoring and treatment, reducing the oxygen demand by reducing the activity of the patient and amnesia effect of treatment in ICU. Muscle paralytic rarely used in the ICU for sedation usually be enough to calm the patient and provide patient comfort with mechanical ventilation. The use of excessive sedation or slightly increased patient morbidity. The use of paralytic muscle in a long time has many disadvantages to be considered, even more so when there is impaired hepatic and renal function in patients.Keywords : -ABSTRAKSedasi sebaiknya diberikan pada pasien dengan penyakit kritis yang dirawat di ICU, hal ini digunakan untuk mengurangi kecemasan pasien mengurangi kecemasan pasien terhadap tindakan invasif, monitoring dan pengobatan, mengurangi kebutuhan oksigen dengan mengurangi aktivitas pasien dan menimbulkan efek amnesia terhadap perawatan di ICU. Pelumpuh otot jarang digunakan di ICU karena biasanya sedasi saja sudah mencukupi untuk menenangkan pasien dan memberikan kenyamanan pasien dengan ventilasi mekanik. Penggunaan sedasi yang terlalu berlebihan atau telalu sedikit meningkatkan angka morbiditas pasien. Penggunaan pelumpuh otot dalam waktu lama memiliki banyak kerugian yang harus dipertimbangkan, terlebih lagi bila terdapat gangguan fungsi hepar dan ginjal pada pasien.Kata kunci : -

Perbedaan Pemberian Midazolam dan Ketamin Terhadap PaCO2 dan HCO3 pada Pasien dengan Ventilator

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 3 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground:Sedation is given as much as 42-72% in patients treated in the Intensive Care Unit (ICU). Drugs that can be used, midazolam and ketamine, are different in terms of the effect on blood vessels.Objective : To find the difference in the value of PaCO2 and HCO3 via arterial blood gas analysis in patients at ICU who received midazolam as sedation compared with the use of ketamine.Methods: An experimental clinical randomized double-blind trial in patients using the ventilator in the ICU. Subjects (n: 28) were divided into 2 groups, K1 and K2, received ketamine and midazolam as sedation. Given for 24 hours with varying doses with a target depth of sedation of subjects on Ramsay Score 3. Then examined the value of blood gas analysis at 0, 6 and 24 hours.Results: Characteristics of the subjects age has a normal distribution of data. Results in comparison to 0 and 24 hours, groups of K1 and K2 on the value of HCO3 has a value of p = 0.565 (p> 0,05). And in PaCO2 values indicate significance at p = 0.12 (p> 0.05).Conclusion: There is no significant difference in PaCO2 dan HCO3 values when using ketamine and midazolam as sedation in subjects with ventilators between 0 to 24 hours.Keywords : midazolam, ketamine, sedation, ventilator, blood gas analysisABSTRAKLatar belakang: Sekitar 42 – 72% pasien yang dirawat di Unit Rawat Intensif (URI) diberikan sedasi. Obat yang digunakan yaitu midazolam dan ketamin, yang berbeda efeknya terhadap pembuluh darah.Tujuan: Mengetahui perbedaan nilai PaCO2 dan HCO3 darah arteri pasien yang dirawat di URI yang menerima midazolam dibandingkan dengan ketamin.Metode: Penelitian ini merupakan uji klinik eksperimental acak tersamar ganda pada subjek yang menggunakan ventilator di URI. Subjek (n : 28) dibagi menjadi K1 yang mendapat sedasi ketamin dan K2 yang mendapat midazolam. Sedasi diberikan selama 24 jam, dosis bervariasi, target Ramsay Score 3. Diperiksa nilai analisis gas darah pada jam ke- 0, 6 dan 24.Hasil: Hasil perbandingan pada jam ke- 0 dan ke- 24 kelompok K1 dan K2 nilai HCO3 p=0,565 (p>0,05). Nilai PaCO2 menunjukkan kemaknaan sebesar p=0,12 (p>0,05)Kesimpulan : Terdapat perbedaan yang tidak bermakna pada penggunaan ketamin maupun midazolam sebagai sedasi terhadap nilai PaCO2 dan HCO3 pada subjek yang menggunakan ventilator antara jam ke- 0 dan ke- 24.Kata kunci : midazolam, ketamin, sedasi, ventilator, analisis gas darah