Articles

Found 8 Documents
Search

ANALISIS TUGAS MENULIS KRITIK SASTRA SUNDA DALAM MATA KULIAH KRITIK SASTRA DI JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAERAH FPBS UPI TAHUN AKADEMIK 2012/2013 Isnendes, Retty
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 13, No 2 (2013): Volume 13, Nomor 2, Oktober 2013
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v13i2.288

Abstract

AbstrakAnalisis Tugas Menulis Kritik Sastra Sunda dalam Mata Kuliah Kritik Sastra di Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah FPBS UPI Tahun Akademik 2012/2013. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan: (1) kecenderungan jenis kritik mahasiswa dan (2) kualitas kritik sastra mahasiswa. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan teknik: telaah pustaka, observasi, dokumentasi, dan analisis. Hasil yang didapat adalah sebagai berikut. Kecenderungan jenis kritik yang dipergunakan mahasiswa meliputi jenis tulisan dan jenis isi. Jenis tulisan kritik mahasiswa adalah sastrawan dan akademik, sedangkan jenis isinya adalah intrinsik dan ekstrinsik. Kualitas kritik mahasiswa dengan pola tulisan sastrawan dan akademik adalah: cukup, baik, dan sangat baik nilainya. Adapun kualitas kritik mahasiswa dengan pola tulisan akademik pada kritik tugas kelompok adalah baik dan sangat baik. Saran ditujukan bagi mahasiswa, tim dosen, dan lembaga JPBD.Kata kunci: Tugas, kritik sastra, Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah Abstract Writing Task Analysis of Literary Criticism in Literary Criticism in Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah FPBS UPI 2012/2013. The purpose of this study is to describe: (1) the tendency of criticism types of students and (2) quality of student literary criticism. The method used is descriptive techniques: literature review, observation, documentation, and analysis. The results are as follows. Tendency kind of criticism that students used include the type of writing and content type. Type of writing is a literary critic and academic students, while it is a kind of intrinsic and extrinsic. Quality of student criticism with literary and academic writing pattern is: pretty, good, and excellent value. As for the criticism of the quality of students with academic writing patterns on group assignments criticism is good and very good. Suggestion is intended for students, faculty teams, and institutions JPBD.Keywords: Assignment, literary criticism, Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah
MASYARAKAT SUNDA DALAM SASTRA: KOMPARASI MORALITAS DAN KEPRIBADIAN ISNENDES, RETTY
LOKABASA Vol 4, No 1 (2013)
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini mengangkat aktualisasi diri tokoh sastra dalam peranannya membentuk moral manusia Sunda. Tokoh sastra adalah refleksi berbagai struktur sosial, begitu pun dengan tokoh sastra Sunda yang bisa membiaskan kebenaran universal tentang sifat, sikap, karakter, dan kepribadian manusia Sunda pada tataran realitas. Karya sastra yang dianalisis adalah sample dari karya sastra Sunda dari tiga periode, yaitu: Periode Sastra Sunda Kuno atau Lama (Buhun), Periode Sastra Sunda Pertengahan (Bihari), dan Periode Sastra Sunda Modern atau Baru (Kiwari). Pada akhirnya, sistem nilai yang muncul dari kompleksitas aktivitas dipengaruhi oleh perubahan jaman dan bergantinya kekuasaan.  AbstractThis paper raised the self-actualization literary 􀂿gure in the role of moral human form Sunda. Various literary 􀂿gures are a re􀃀ection of social structure, as was the literary figures that can refract universal truths about the nature, attitude, character, and personality Sunda at the level of reality. Literary works are analyzed samples of literary works from three periods, namely: Ancient Sundanese Literary Period or Old (Buhun), Sunda Literature Medieval Period (Bihari), and Sundanese Modern Literary Period or New (Kiwari). In the end, the value systems that arise from the complexity of the activity is in􀃀uenced by the change of time and the alternation of power.
IDEOLOGI DAN IDENTITAS MASYARAKAT SUNDA DALAM ROMAN CARIOS AGAN PERMAS KARYA JOEHANA (Pendekatan Kritik Poskolonial) Abdilah, Arif Ali; Isnendes, Retty
LOKABASA Vol 8, No 1 (2017): Vol. 8, No. 1, April 2017
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan ideologi dan identitas masyarakat Sunda yang tercermin dalam karya sastra, khususnya roman. Deskripsinya berkaitan dengan pengaruh dan perubahan ideologi dan identitas sebab-akibat adanya kolonialisme. Untuk dapat menguraikan hal tersebut, maka dalam tulisan ini digunakan pendekatan kritik poskolonial, dengan menggunakan metode deskriptif-analitik. Untuk menganalisis data digunakan teknik fokalisator dan teknik interpretasi. Hasilnya menunjukkan bahwa dalam roman Carios Agan Permas, setiap kelas sosial masyarakat memiliki ideologi yang berbeda-beda. Bagi kelas kuasa, ideologi digunakan untuk mempertahankan kohesi sosial dan memperkuat kekuasaan. Ini terepresentasikan oleh subjek Haji Serbanna dan Imas. Bagi kelas tertindas, ideologi digunakan sebagai bentuk perlawanan. Bentuk ideologi ini hadir dalam diri Ambu Imba dan Otong. Dalam roman ini terdapat juga ideologi kelas kuasa, namun dalam praktiknya digunakan untuk melakukan resistensi sekaligus melindungi kelas tertindas. Adapun identitas yang terbentuk adalah identitas hibrid, dalam arti, subjek yang terdapat dalam roman ini memiliki sifat yang ambigu sekaligus ambivalen. Hal ini tampak pada subjek Haji Serbanna, Imas, sedangkan identitas yang terbangun dalam diri Brani bersifat ambigu. ABSTRACTThis study aims to describe the ideology and identity of the Sundanese community which is reflected in the literary works, especially romance. Its description concerns with the influence and change of ideology and the causal effect identity of colonialism. In describing this study, the writer used Poscolonial Criticism Approach and descriptive-analytic method. Fokalisator and interpretation techniques were used to analyze the data. The analysis result of Carios Agan Permas romantic story shows that every social society class has different ideologies. For the rulling class, the ideology is used to maintain social cohesion and to strengthen the power. It is represented by the subject of Haji Serbanna and Imas. For the oppressed class, the ideology is used as a form of resistance. This form of ideology is present in Ambu Imba and Otong. In this romantic story there is also a rulling class ideology, but in practice it is used to carry out resistance and to protect the oppressed class. The formed identity is a hybrid identity, in a sense, the subjects in this romantic story have both ambiguous and ambivalent caracter. The ambivalent character is seen in the subject of Haji Serbann and Imas, while the ambiguous caracter is found in Brani personality. Keywords: ideology, identity, poskolonia
TRADISI NYALIN DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT SUNDA (Kajian Struktur dan Etnopedagogik) Yanuariska, Yogi Yogaswara; Sudaryat, Yayat; Isnendes, Retty
LOKABASA Vol 8, No 2 (2017): Vol. 8, No. 2, Oktober 2017
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v8i2.14204

Abstract

Latar belakang penelitian ini adalah tradisi nyalin sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya dan belum terungkapnya niali-nilai kebaikan dalam tradisi nyalin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan (1) struktur (teks dan ko-teks) dan fungsi (konteks) tradisi nyalin dalam kehidupan masyarakat Sunda, (2) ciri kelisanan yang tampak dalam tradisi nyalin dalam kehidupan masyarakat Sunda, (3) nilai etnopedagogik dalam tradisi nyalin dalam kehidupan masyarakat Sunda. Metode penelitian yang digunakan adalah paradigma kualitatif dalam kajian tradisi lisan. Hasil penelitiannya, yaitu (1) struktur tradisi nyalin yang mencakup tahapan tradisi nyalin, tatahar ngawengku gempungan, kukumpul, majang, jeung riungan, ngukusan, sanduk-sanduk, mitembeyan mipit paré, dan ngaarwahan. Unsur-unsur tradisi nyalin mencakup nama kegiatan, pelaku kegiatan, barang-barang dalam kegiatan, makanan dalam kegiatan, gerakan, tempat berlangsungnya kegiatan, dan waktu berlangsungnya. Teks dalam tradisi nyalin adalah kapamalian, dongeng, mantra, diksi dan ungkapan. Fungsi tradisi nyalin sebagai (1) wujud rasa sukur pada Tuhan atas hasil panen yang didapat, (2) ciri kelisanan dalam tradisi nyalin, yaitu pemikiran lisan, ekspresi lisan, dan naratif lisan, 3) nilai etnopedagogik dalam tradisi nyalin, yaitu (1) pandangan hidup manusia dengan dirinya, (2) pandangan hidup manusia dalam lingkungan masyarakat, (3) pandangan hidup manusia dengan alam, (4) pandangan hidup manusa dengan Tuhan, (5) manusia dalam mengejar kemajuan lahir dan kebahagiaan batin. Kesimpulan dari penelitian ini, setelah diteliti secara struktur dan etnopedagogik memiliki nilai-niali luhur yang sudah ada di masyarakat sekaligus bisa dimanfaatkan sebagai teladan dalam bidang pendidikan formal dan kehidupan masyarakat umum.AbstractThe background of this research is Nyalin tradition that has begun to be abandoned by the society and the values in Nyalin traditions that have not been revealed yet. The purpose of this study is to describe (1) the structure (text and co-text) and the function (context) of the nyalin tradition in the Sundanese life, (2) the visible oral features of the tradition in the Sundanese life, (3) the ethnopedagogic value in Nyalin tradition in the Sundanese society’s life. The research method used is a qualitative paradigm in the study of oral tradition. The results of his research are the structure of nyalin tradition includes its stages i.e. tatahar ngawengku gempungan, kukumpul, majang, riungan, ngukusan, sanduk-sanduk, mitembeyan mipit paré, and ngaarwahan. Elements of Nyalin tradition include the name of the activity, the performer, the goods, the food, the movement, the place, and the time it takes place. The texts in Nyalin tradition are kapamalian, dongeng, mantra, diction and idiom. The functions of Nyalin tradition are (1) a form of gratefulness to God over the results of harvesting, (2) the verbal characteristic of Nyalin tradition i.e.oral thought, oral expression, and oral narrative, 3) ethnopedagogic values in Nyalin tradition i.e.(1) the perspective of human life with themselves (2) the perspective of human life in the society, (3) the perspective of  human life with nature, (4) the perspective of human life with God, (5) the effort of human to reach physical and spiritual satisfaction. The conclusion of this study, after being structurally studied by using ethno pedagogic approach, Nyalin tradition has noble values that already exist in the community that can be used as an example in the field of formal education and public life.
A Discourse of the Female Body in an Ancient Sundanese Literary Work of Lutung Kasarung: An Eco-Feminist Approach Isnendes, Retty; Haerudin, Dingding
TAWARIKH Vol 3, No 1 (2011)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: This research investigates Sundanese narrative poems in ”Lutung Kasarung” (LK) with an eco-feminist theory. This research draws upon an analytical descriptive method of literary research with a data collection method and a feminist text analysis. The data sources were two texts of narrative poems of LK which had been converted into a story by Ahmad Bakri (1976) and documents from an oral story which had been rewritten by C.M. Pleyte (1910). This study reveals that: (1) there was an event that underlied the representation of the female body, there was a discourse that explored the female body, and the characters presented were related and formed an event in the social reality of the Kingdom of Pasirbatang; (2) a denial of Carolyn Merchant’s theory, particularly in the context of women and ecology as well as as of women and reproduction. The denial was represented by the character of Purba Rarang; and (3) there was injustice towards female characters, although it was hidden beneath the writer’s worship to women.KEY WORDS: Eco-feminist, a discourse of the female body, poem of ”Lutung Kasarung”, and Sundanese society.  About the Authors: Retty Isnendes, M.Hum. and Dr. Dingding Haerudin are Lecturers at the Faculty of Language and Arts Education UPI (Indonesia University of Education), Jalan Dr. Setiabudhi No.229 Bandung 40154, West Java, Indonesia. They can be reached at: chyerettyisnendes@gmail.com and dingdinghaerudin@yahoo.co.idHow to cite this article? Isnendes, Retty & Dingding Haerudin. (2011). “A Discourse of the Female Body in an Ancient Sundanese Literary Work of Lutung Kasarung: An Eco-Feminist Approach” in TAWARIKH: International Journal for Historical Studies, Vol.3(1) October, pp.109-120. Bandung, Indonesia: ASPENSI [Asosiasi Sarjana Pendidikan Sejarah Indonesia] and UVRI [Universitas Veteran Republik Indonesia], ISSN 2085-0980. Chronicle of the article: Accepted (August 14, 2011); Revised (September 17, 2011); and Published (October 28, 2011).
UPACARA SEBA BADUY: SEBUAH PERJALANAN POLITIK MASYARAKAT ADAT SUNDA WIWITAN Isnendes, Retty
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 18, No 2 (2016)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (905.461 KB) | DOI: 10.14203/jmb.v18i2.411

Abstract

This article takes the theme of seba ceremony held by the traditional community of Baduy, which is assumed to be a traditional-political journey that has been held for centuries since the founding of Banten Sultanate. The writing aims to: Explain text (ceremony event) and describe the co-text and context of seba ceremony. The method used was descriptive qualitative, conducted through library research, observation, interview, and recording. Data were processed using transcription, analysis, and interpretation. The data collected consisted of seba leutik (small seba) ceremony from May 1-5, 2014 and seba ageung (the grand/big ceremony) from April 23-26, 2016. The results reveal that seba ceremony is held simultaneously by Baduy community (Baduy Luar and Dalam/Outer and Inner Baduy) with different procedures. What distinguishes the ceremony is the existence of lalampah, a journey heading to the capitals of the Regency and Province, which is done by Baduy Dalam community by foot, while Baduy Luar community do this by vehicle. The seba ceremony itself consists of seba ageung (the grand/big ceremony) and seba leutik (small seba), held annually. Seba is the awarding of marks of honor and recognition by Baduy community as those who ‘nu tapa di mandala’ (meditate in the holy land) to those who ‘nu tapa di nagara’ (meditate in the state). With these political marks, they expect that their rights of communal land protection and community prosperity will be fulfilled. The accompaniments to the text of seba are goods resulted from the holy ritual of kawalu, namely laksa and produce as well as rajah utterances (mantra) and traditional speeches. Keywords: Seba Baduy, traditional politic, Sunda Wiwitan Tulisan ini mengangkat upacara seba yang dilakukan oleh masyarakat adat Baduy yang diasumsikan sebagai perjalanan politik tradisional yang telah dilakukan berabad-abad lamanya, semenjak kesultanan Banten berdiri. Tujuan tulisan ini adalah: memaparkan teks (peristiwa upacara), mendeskripsikan ko-teks, dan konteks upacara seba. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik studi pustaka, observasi, wawancara, dan perekaman. Pengolahan data dilakukan dengan transkripsi, analisis, dan interpretasi. Data yang dikumpulkan adalah upacara seba leutik (seba kecil) pada tanggal 01 s.d. 05 Mei 2014 dan seba ageung (seba besar) pada tanggal 23-26 April 2015. Hasilnya adalah bahwa upacara seba dilakukan pada waktu bersamaan oleh masyarakat Baduy (dalam dan luar) dengan tata cara yang berbeda. Hal yang membedakannya adalah adanya lalampah yang dilakukan oleh orang Baduy Dalam dengan berjalan kaki menuju kota Kabupaten dan Propinsi, sedangkan orang Baduy Luar menggunakan kendaraan. Upacara seba terdiri atas seba ageung (seba raya/besar) dan seba leutik (seba kecil) yang dilakukan selang setahun sekali. Seba adalah menyerahkan tanda penghormatan dan penghargaan masyarakat Baduy sebagai ‘nu tapa di mandala’ (yang bertapa di tanah suci) pada mereka ‘nu tapa di nagara’ (yang bertapa di negara). Dengan tanda politis tersebut, mereka berharap haknya terpenuhi atas perlindungan tanah ulayat dan kesejahteraan masyarakatnya. Hal-hal yang menyertai teks seba adalah barang-barang yang berupa hasil ritual suci kawalu, yaitu laksa dan hasil bumi, juga tuturan rajah (mantra) dan pidato tradisional. Kata kunci: Seba Baduy, politik tradisional, Sunda wiwitan
Tatakrama Kepemimpinan Sunda dalam Novel Sejarah Tanjeur na Juritan Jaya di Buana Karya Yoseph Iskandar Isnendes, Retty; Ruhaliah, Ruhaliah; Koswara, Dedi; Permana, Ruswendi
LOKABASA Vol 10, No 1 (2019): Vol. 10, No. 1, April 2019
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v10i1.16943

Abstract

There is a presumption that Sundanese people leadership is weak and feeble so they can not compete on the national level. Though history recorded some names of Sundanese leaders, such as Prabu Wangi, Prabu Niskala Wastu Kanca, and Sri Baduga Maharaja. In the literature, the name of King Siliwangi is an icon and symbol of the great and successful Sundanese leader of all time. The identity and symbolism of the Sundanese leader are also reflected in the historical novel of Tanjeur na Juritan Jaya di Buana written by Yoseph Iskandar. Uniquely, the novel relies on the manuscript of Prince Wangsakerta from Cirebon which in the 1980s appalled Indonesia history. The novel has been awarded Rancage from Ajip Rosidi's Rancage Foundation. By using descriptive method and literature review technique and interpretation, the novel will be examined his leadership ethics in ethno pedagogic scope. The aims of this study are: (a) to describe the principles of Sundanese leadership in the novel, (b) to describe the etnopedagogical aspect in the novel, and (c) to compare the leadership principles of the past and the present as models of cultural education. The expected outcomes are the descriptions of figures of Sundanese leadership, Sundanese leadership manners, and the cultural education model found in the novel analyzed.AbstrakAda anggapan bahwa kepemimpinan Sunda lemah sehingga tidak dapat bersaing di panggung nasional. Padahal sejarah mencatat sejumlah nama pemimpin panutan Sunda, misalnya saja Prabu Wangi, Prabu Niskala Wastu kancana, dan Sri Baduga Maharaja. Dalam tataran sastra nama Prabu Siliwangi merupakan ikonitas dan simbolitas pemimpin Sunda yang besar dan berhasil sepanjang masa. Ikonitas dan simbolitas pemimpin Sunda tergambar juga dalam novel sejarah Tanjeur na Juritan Jaya di Buana yang ditulis oleh Yoseph Iskandar. Unik dan utamanya, novel tersebut bersandar pada naskah Pangeran Wangsakerta dari Cirebon yang tahun 1980-an menggemparkan jagat kesejarahan Indonesia. Novel tersebut telah mendapat hadiah Rancage dari Yayasan Rancage Ajip Rosidi. Dengan menggunakan metode deskriptif dan teknik telaah pustaka dan interprerasi, novel tersebut akan dikaji tatakrama kepemimpinannya dalam lingkup etnopedagogik. Tujuan penelitian ini adalah untuk: (a) mendeskripsikan tatakrama kepemimpinan Sunda dalam novel, (b) mendeskripsikan aspek etnopedagogik dalam novel, dan (c) membandingkan tatakrama kepemimpinan masa lalu dan masa sekarang sebagai model pendidikan budaya. Hasil yang diharapkan adalah terdeskripsikannya tokoh-tokoh dalam kepemimpinan Sunda, tatakrama kepemimpinan Sunda, dan model pendidikan budaya dari novel yang dianalisis.
IDEOLOGI DAN IDENTITAS MASYARAKAT SUNDA DALAM ROMAN CARIOS AGAN PERMAS KARYA JOEHANA (Pendekatan Kritik Poskolonial) Abdilah, Arif Ali; Isnendes, Retty
LOKABASA Vol 8, No 1 (2017): Vol. 8, No. 1, April 2017
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v8i1.15961

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan ideologi dan identitas masyarakat Sunda yang tercermin dalam karya sastra, khususnya roman. Deskripsinya berkaitan dengan pengaruh dan perubahan ideologi dan identitas sebab-akibat adanya kolonialisme. Untuk dapat menguraikan hal tersebut, maka dalam tulisan ini digunakan pendekatan kritik poskolonial, dengan menggunakan metode deskriptif-analitik. Untuk menganalisis data digunakan teknik fokalisator dan teknik interpretasi. Hasilnya menunjukkan bahwa dalam roman Carios Agan Permas, setiap kelas sosial masyarakat memiliki ideologi yang berbeda-beda. Bagi kelas kuasa, ideologi digunakan untuk mempertahankan kohesi sosial dan memperkuat kekuasaan. Ini terepresentasikan oleh subjek Haji Serbanna dan Imas. Bagi kelas tertindas, ideologi digunakan sebagai bentuk perlawanan. Bentuk ideologi ini hadir dalam diri Ambu Imba dan Otong. Dalam roman ini terdapat juga ideologi kelas kuasa, namun dalam praktiknya digunakan untuk melakukan resistensi sekaligus melindungi kelas tertindas. Adapun identitas yang terbentuk adalah identitas hibrid, dalam arti, subjek yang terdapat dalam roman ini memiliki sifat yang ambigu sekaligus ambivalen. Hal ini tampak pada subjek Haji Serbanna, Imas, sedangkan identitas yang terbangun dalam diri Brani bersifat ambigu.ABSTRACTThis study aims to describe the ideology and identity of the Sundanese community which is reflected in the literary works, especially romance. Its description concerns with the influence and change of ideology and the causal effect identity of colonialism. In describing this study, the writer used Poscolonial Criticism Approach and descriptive-analytic method. Fokalisator and interpretation techniques were used to analyze the data. The analysis result of Carios Agan Permas romantic story shows that every social society class has different ideologies. For the rulling class, the ideology is used to maintain social cohesion and to strengthen the power. It is represented by the subject of Haji Serbanna and Imas. For the oppressed class, the ideology is used as a form of resistance. This form of ideology is present in Ambu Imba and Otong. In this romantic story there is also a rulling class ideology, but in practice it is used to carry out resistance and to protect the oppressed class. The formed identity is a hybrid identity, in a sense, the subjects in this romantic story have both ambiguous and ambivalent caracter. The ambivalent character is seen in the subject of Haji Serbann and Imas, while the ambiguous caracter is found in Brani personality.