Dwi Haryo Ismunarti
Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro Kampus Tembalang, Semarang, Indonesia. 50275

Published : 47 Documents
Articles

Tingkat Keberhasilan Penetasan dan Masa Inkubasi Telur Penyu Hijau, Chelonia mydas L pada Perbedaan Waktu Pemindahan Rudiana, Esti; Ismunarti, Dwi Haryo; Nirwani, Nirwani
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.348 KB)

Abstract

Keberhasilan penetasan telur penyu hijau secara semi alami sangat rendah akibat faktor fertilitas sebagai sifat bawaan, predator, infeksi mikroba dan kerusakan lingkungan peneluran. Sebagai alternative perlu dipelajari faktor yang mempengaruhi telur selama masa inkubasi di sarang semi alami. Beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa pergerakan perpindahan telur sebagai penyebab rendahnya tingkat keberhasilan penetasan karena selama masa inkubasi telur sangat sensitif terhadap gerakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gerakan terhadap tingkatkeberhasilan penetasan telur penyu hijau, Chelonia mydas L. Penelitian dilakukan di Pantai Peneluran Pangumbahan, Sukabumi. Telur diambil dari sarang alami setelahoviposisi oleh induk. Masing-masing sarang semi alami berisi 50 butir telur dengan waktu pemindahan berbeda. Telur penyu hijau sangat sensitif terhadap gerakan mulai 48 jam dan mereda mulai 20 hari setelahoviposisi oleh induk. Pemindahan telur ke sarang semi alami tidak dipengaruhi gerakan (baik dilakukan) sebelum 48 jam dan setelah 20 hari oviposisi oleh induk dengan posisi telur tetap.Kata kunci : penyu hijau, Chelonia mydas L, daya tetas, telurThe natural hatch rate for green turtle to be low, and suggested inherent fertility factors, predators, microbial infection, and nest environtment damage as probable cause of loss. Until artificial incubation of green turtle studying necessary. Although several reports state that moving sea turtle eggs during incubations results in poor survival, the state time of onset of this sensitivity has varied. The research is ti investigation the effect of movement on hatchability of the green turtle, Chelonia mydas L. This research was conducted of the nest environtment Pangumbahan, Sukabumi. Eggs were taken from the nest immediately after cessation of laying. Each fifty eggs was layed in the nest on artificial incubation with the time different of movement. Sensitivity was greatest early in the incubation after 48 h and did not totally abate after 20 day. They should not be moved till at least 48 h until 20 day after oviposition.Key word : green turtle, Chelonia mydas L, hatchability, eggs
Analisis Regresi Poisson untuk Menduga Hubungan Kelimpahan Makrobenthos dengan Parameter Kualitas Perairan Ismunarti, Dwi Haryo; Subagiyo, Subagiyo; Azizah TN, Ria
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.218 KB)

Abstract

Fungsi peluang poisson merupakan standar model untuk variabel cacah. Sebagai contoh banyaknya makrobenthos dan faktor-faktor oseanografi yang mempengaruhinya dapat didekati dengan model regresipoisson. Model regresi poisson dapat diduga menggunakan fungsi GLM (generalized linear models) dari program S-PLUS. Faktor-faktor oseanografi yang berpengaruh terhadap jumlah makrobenthos adalah salinitas, kecerahan, kecepatan arus, DO dan suhu.Kata kunci : peluang poisson, variabel cacah, makrobenthosThe poisson probability provides the standard models for count variable. As an example, the number of makrobenthos and oceanograpy factors could be approach a poisson regression model. The poissonregression can be fitted using the function GLM, which fits Generailized Linear Models in S-PLUS program. Oceanography factors as having an effect on the number of makrobenthos are salinity, kecerahan, kecepatanarus,DO dan suhu.Key words : poisson probability, count variable, makrobenthos
Pengaruh Penggunaan Pakan Alami Tetraselmis chuii dan Skeletonema costatum dengan Dosis yang Berbeda terhadap Pertumbuhan Kerang Totok (Effect of Using Natural Food Tetraselmis chuii and Skeletonema costatum with Different Doses on the Growth of Totok ..) Supriyantini, Endang; Ismunarti, Dwi Haryo; Ridlo, Ali
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 17, No 2 (2012): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.472 KB)

Abstract

Pengetahuan tentang asupan nutrisi yang sesuai untuk kerang totok Polimesoda erosa sangat penting selain untuk meningkatkan kegunaan diet mikroalga juga untuk mengetahui dosis pakan alami Tetraselmis chuii dan Skeletonema costatum yang paling efisien terhadap pertumbuhan kerang totok. Biota yang digunakan dalam penelitian ini adalah kerang totok ukuran 3-4 cm yang diperoleh dari perairan sekitar P. Gombol, Segara Anakan, Cilacap. Wadah yang digunakan adalah akuarium berukuran 30x30x30 cm dengan volume media 2 liter. Metode yang digunakan adalah eksperimental laboratorium dengan rancangan acak lengkap, 3 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu campuran T. chuii 36 x 104 sel/ml dan S. costatum 9 x 104 sel/ml (pakan T1); T. chuii 27 x104 sel/ml dan S. costatum 18 x 104 sel/ml (pakan T2) dan T. chuii 18 x 104sel/ml dan S. costatum 27 x 104 sel/ml (pakan T3). Pakan diberikan sekali sehari, pemeliharaan dilakukan selama 3 bulan. Pengukuran beratyang dilakukan seminggu sekali dan dianalisis Specific Growth Rate (SGR) dan Food Convertion Ratio (FCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran pakan T. chuii dan S. costatum memberikan pengaruhpertambahan berat yang berbeda nyata (p< 0,05), tetapi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap SGR dan FCR kerang Totok (p > 0,05). Pakan campuran T. chuii 27 x 104 sel/ml dan S. costatum 18 x 104 sel/ml meningkatkan nilai SGR namun mempunyai nilai FC yang besar.Kata kunci: Kerang Totok, Polimesoda erosa, Tetraselmis chuii, Skeletonema costatumKnowledge on ideal feeding dose for kerang totok P. erosa is needed to improved the use of microalgae diet and to investigate the most efficient natural feeding dose of T. chuii and S. costatum on growth of kerang totok (P. erosa). The organism used on this study was Kerang Totok size 3-4 cm which harvested from P. Gombol, Segara Anakan, Cilacap. Experiment was conducted in 30cm x 30cm x 30 cm aquarium filled with 2 liter of water each. A fully randomized design of laboratorium experimental method was applied for the study with three treatment i.e; 36 x 104 cell/ml T. chuii : 9 x 104 cell/ml S. costatum (T1); 27 x 104 cell/ml T. chuii : 18 x 104 cell/ml S. costatum (T2) and 18 x 104cell/ml T. chuii : 27 x 104 cell/ml S. costatum (T3), single feed dose per day at 08.00 WIB for 3 month period. Three replications were set up for each treatment. Parameter measured during the study were weight (weekly measurement), Specific Growth Rate (SGR) and Food Convertion Ratio (FCR). The result showed that feeding dose of T. chuii and S. costatum significantly affect the mean weekly weight gain (p< 0,05) but not to mean of SGR or FCR (p > 0,05). Mixture of 27 x 104 sel/ml T. chuii : 18 x 104 sel/ml S. costatum) tend toincrease the SGR values but give bigger FCR during the study period.Key words: Kerang Totok, Polimesoda erosa, Tetraselmis chuii, Skeletonema costatum
PRAKIRAAN SIFAT HUJAN MENGGUNAKAN METODE POHON KLASIFIKASI Ismunarti, Dwi Haryo
Jurnal Statistika Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Statistika
Publisher : Jurnal Statistika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.069 KB)

Abstract

Metode pohon klasifikasi digunakan untuk menduga nilai variabel respon berjenis kategorik, sedangkan variabel bebasnya dapat berjenis kategorik, kontinu atau keduanya. Pohon dibentuk menggunakan algoritma pemilahan secara rekursif terhadap himpunan data pengamatan dan himpunan bagiannya. Pohon klasifikasi untuk prakiraan sifat hujan bulanan menghasilkan Pohon klasifikasi optimum dengan 22 buah simpul terminal dengan nilai harapan tingkat kesalahan pengklasifikasian sebesar 0,33. Variabel Kelembaman nisbi pada jam 13.00 merupakan variabel yang paling berpengaruh. Metode pohon klasifikasi memberikan ketepatan 80% untuk prakiraan sifat hujan.   Kata kunci : pohon klasifikasi. variabel kategorik.
PERBANDINGAN KURVA PADA DISTRIBUSI UNIFORM DAN DISTRIBUSI BINOMIAL Darsyah, Moh. Yamin; Ismunarti, Dwi Haryo
Jurnal Statistika Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Statistika
Publisher : Jurnal Statistika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.646 KB)

Abstract

Suatu percobaan dapat dikatakan menarik jika terlihat pada hasil percobaannya itu sendiri. Besaran – besaran yang menjadi perhatian dari hasil percobaan diperoleh berdasakan pengacakan data atau yang sering disebut peubah acak yang termasuk dalam sebaran peluang diskret. Nilai suatu peubah acak ditentukan oleh hasil percobaannya, sehingga dapat memberi peluang kepada berbagai kemungkinan nilai peubah acak. Salah satu contoh dari peubah acak adalah peubah acak binomial dan peubah acak uniform yang  merupakan sama – sama distribusi peluang diskret. Distribusi binomial merupakan pengembangan dari distribusi bernouli dimana dari suatu percobaan yang menghasilkan, sukses atau gagal, dengan peluang kejadian suksesnya pada setiap kejadian adalah konstant. Distribusi uniform yaitu peubah acaknya memperoleh semua nilainya dengan peluang yang sama, biasanya distribusi ini bergantung pada parameter k. Percobaan pada penelitian ini digunakan software minitab yang ada di Laboratorium Statistika untuk mendapatkan variabel acak binomial dan uniform. Tujuan yang akan dicapai dalam percobaan ini adalah untuk mengetahui perbandingan  kurva hasil bangkitan data dan untuk mengetahui perbandingan nilai parameter hasil bangkitan data. Kata Kunci : Peubah Acak, Distribusi Diskret, Distribusi Binomial, Distribusi Uniform.
Studi Penggunaan Mannan oligosaccharide (MOS) terhadap kelulushidupan dan Pertumbuhan Artemia Indariyah, Indariyah; SPJ, Nur Taufiq; Ismunarti, Dwi Haryo
Journal of Marine Research Vol 2, No 3 (2013) : Journal of Marine Research
Publisher : Journal of Marine Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.809 KB)

Abstract

Artemia is the most enthused nature feed in the fish and crustaceans hatchery operations, which causing the increase of Artemia’s demand and the prices. Hence, we need to develop the Artemia production through aquaculture. The first larvae development are the crucial time which causes a big risk of death and the feed compositions still contain many harmful bacteria that can reduce the production of Artemia. By giving MOS for Artemia, can be expected to reduce mortality rates and accelerate the growth. The purpose of this research is to investigate the percentage of using MOS against the survival rate and growth of Artemia. The additional feeding treatments were 0% (A), 1% (B), 3% (C), and 5% (D) of MOS added to the amount of phytoplankton. ANOVA is used for analysing the data, then continued with Polinomial Ortogonal test. The Results showed that different treatment significantly different to the survival rate and growth of Artemia. The best survival rate (39,50%) was from the C treatment, indicated by the high weight (753,37 μg), and longest growth length (9,0 mm). Water quality during the research is still in a decent range for the life of Artemia. This research can be concluded thah the best percentage of MOS given for bast survival rate growth by weight and length were 4,1%, 3,7% and 3,6% respectively.
KAJIAN POLA ARUS LAUT SEBELUM DAN SESUDAH PEMBANGUNAN PELABUHAN KHUSUS PABRIKASI BAJA DI PERAIRAN PACIRAN, KABUPATEN LAMONGAN Muhazzir, Muhazzir; Widada, Sugeng; Ismunarti, Dwi Haryo
Journal of Oceanography Vol 1, No 1 (2012): Journal of Oceanography
Publisher : Journal of Oceanography

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (675.737 KB)

Abstract

AbstrakIndonesia terletak di negara tropis, keadaan ini menunjukkan bahwa banyak fenomena kelautan yang terjadi di perairan Indonesia. Fenomena kelautan yang banyak terjadi adalah fenomena fisika diantaranya adalah arus laut san pasang surut. Informasi mengenai arus laut sangat diperlukan dalam pembangunan bangunan pantai misalnya pembangunan pelabuhan khusus di perairan Paciran, Kabupaten Lamongan. Dengan adanya data arus laut yang akurat tentang pola arus laut, maka akan sangat membantu mengetahui lokasi yang tepat untuk mendirikan bangunan pantai. Tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi dan gambaran mengenai pola arus laut sehingga dapat mengurangi dampak negatif yang terjadi.Penelitian dilaksanakan pada tanggal 14-20 Oktober 2009, di perairan Paciran, Kabupaten Lamongan. Penelitian dilakukan dalam dua tahap, yakni tahap pengambilan data primer dan tahap pengerjaan model matematis di Laboratorium Komputasi Jurusan Ilmu Kelautan UNDIP, model matematis ini dapat dibuat dengan menggunakan perangkat lunak Surface Water Modelling System (SMS). Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif yaitu metode untuk membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian yang diteliti atau dikaji pada waktu terbatas dan tempat tertentu untuk mendapatkan gambaran tentang situasi dan kondisi secara lokal. Penentuan lokasi sampling didasarkan pada pertimbangan bahwa lokasi stasiun penelitian mewakili karakteristik perairan Paciran salah satunya pertimbangan kedalaman yang harus dicapai agar range sensor dari perekam terpenuhi sehingga perekaman data dengan perekam dapat berjalan dengan baik.Kecepatan rata-rata arus pada seluruh kolom air 10,83 cm/det, kecepatan arus minimum 0,95 cm/det, dan maksimum 29,12 cm/det. Kecepatan arus pada kolom air permukaan memiliki kecepatan arus yang lebih besar daripada kolom air tengah dan dasar. Kondisi arus dilapangan menunjukan adanya hubungan antara fluktuasi arah dan kecepatan arus dengan pola pasang surut yang terjadi. Hubungan ini dapat dilihat dengan adanya pergerakan arah arus yang cenderung bolak-balik, dimana pada saat kondisi pasang arah arus cenderung ke arah baratlaut - utara dan pada saat surut arah arus ke arah tenggara-selatan.  Hubungan ini dapat dilihat dengan adanya pergerakan arah arus yang cenderung bolak-balik, dimana pada saat kondisi pasang arah arus cenderung ke arah timur laut – barat dan pada saat surut arah arus ke arah barat – timur laut. Hasil simulasi model pola arus menunjukkan tidak adanya perubahan pola arus yang signifikan sebelum pembangunan pelabuhan khusus.
Analisis Prakiraan Luasan Daerah ¬Upwelling di Perairan Selatan Jawa Timur Hingga Selatan Lombok Kaitannya Dengan Hasil Perikanan Tangkap Raditya, Fabian Doko; Ismunarti, Dwi Haryo; Handoyo, Gentur
Journal of Oceanography Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Journal of Oceanography

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1846.063 KB)

Abstract

Abstrak                                                                        Salah satu komoditas utama perekonomian Indonesia adalah perikanan hasil tangkap ikan pelagis. Proses penangkapan ikan pelagis tidak lepas dari pendugaan daerah upwelling. Pendugaan daerah upwelling dapat diketahui melalui salah satu indikator upwelling berupa suhu permukaan laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi luasan daerah upwelling melalui indikator upwelling berupa suhu permukaan laut (SPL) di perairan selatan Jawa Timur hingga Pulau Lombok serta untuk mengetahui hubungan luasan upwelling terhadap hasil tangkap ikan pelagis berdasarkan data hasil tangkapan. Penelitian dilakukan dalam 3 (tiga) tahap, yaitu tahap pengumpulan data di lapangan (data primer) sebagai verifikasi citra, tahap pengumpulan data citra Aqua MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) level.3 bulanan dan data tangkapan ikan (data sekunder) serta tahap pengolahan citra untuk memperoleh luasan upwelling. Prakiraan luasan upwelling diperoleh dari luasan spasial dari piksel-piksel yang memenuhi anomali <-3oC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luasan upwelling pada tahun 2007 hingga 2011 memiliki pola yang cenderung sama, yakni upwelling kondisi luasan upwelling meningkat ditemui pada musim timur tepatnya pada bulan Juni hingga Oktober di sepanjang perairan pantai Selatan Jawa Timur dengan kondisi paling luas terdapat pada bulan Agustus dan September diikuti dengan penurunan rata-rata suhu permukaan laut (SPL). Luasan upwelling yang diindikasikan oleh suhu permukaan laut tidak mempengaruhi hasil tangkapan secara langsung atau dapat dikatakan bahwa ada jeda waktu sekitar 1 hingga 2 bulan antara terbentuknya upwelling dengan puncak hasil tangkapan ikan.
Studi Tipe Pasang Surut di Pulau Parang Kepulauan Karimunjawa Jepara Jawa Tengah Lisnawati, Lucy Amellia; Rochaddi, Baskoro; Ismunarti, Dwi Haryo
Journal of Oceanography Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Journal of Oceanography

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (982.061 KB)

Abstract

AbstrakStudi tipe pasang surut di Pulau Parang Kepulauan Karimunjawa Jepara Jawa Tengah telah dilakukan pada tanggal 18 September – 03 Oktober 2012. Parameter oseanografi yang diukur adalah data elevasi pasang surut selama 15 hari. Metode Admiralty digunakan untuk mengetahui tipe pasang surut. Berdasarkan hasil analisa diperoleh nilai Formzahl (F) = 2,52 sesuai dengan klasifikasi tipe pasang surut dimana nilai 1,5 < F ≤ 3 menunjukkan tipe pasang surut di Pulau Parang adalah campuran condong harian tunggal. Tunggang air yang terjadi berkisar antara 68 cm sampai dengan 150 cm dengan nilai HHWL = 157,28 cm dan LLWL = 46,52 cm. Pemodelan NAO Tide digunakan untuk memodelkan dan meramalkan selama 3 tahun (Oktober 2012- September 2015). Hasil peramalan selama bulan Oktober 2012 – September 2015 menunjukkan nilai HHWL tertinggi 155 cm pada bulan Januari 2013 dan LLWL terendah pada bulan dan tahun yang sama sebesar 46 cm.
Analisis Komponen Utama pada Hubungan Distribusi Spasial Komunitas Fitoplankton dan Faktor Lingkungan (Principal Component Analysis on the Relationship between Spatial Distribution of Phytoplankton and Environmental Factors ) Ismunarti, Dwi Haryo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 18, No 1 (2013): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.287 KB)

Abstract

Fitoplankton mempunyai peranan sangat penting dalam kesuburan suatu perairan. Kondisi dan distribusi dari fitoplankton sangat dipengaruhi oleh berbagai parameter lingkungan. Analisis ordinasi dengan Analisi Komponen Utama telah dilakukan untuk mengkaji komunitas fitoplankton dan hubungannnya dengan beberapa parameter lingkungan di perairan Kepulauan Karimunjawa Jepara, Jawa Tengah. Pengamatan terhadap parameter pH, oksigen terlarut, fosfat, nitrat, suhu dan salinitas perairan, serta fitoplankton dilakukan di 16 stasiun. Hasil analisis menunjukkan KU I dicirikan oleh stasiun penelitian dengan kelimpahan kelas Baccilariaphyceae yang tinggi dan kelas Dinophyceae yang rendah. Sedangkan KU II dicirikan oleh stasiun penelitian dengan kelimpahan kelas Baccilariaphyceae yang rendah dan kelas Dinophyceae yang tinggi. Kelimpahan kelas Baccilariaphyceae berhubungan secara negatif dengan konsentrasi fosfat dan berkorelasi positif dengan konsentrasi nitrat. Faktor lingkungan yang lain tidak menunjukkan adanya hubungan  secara statistik. Kata kunci: analisis komponen utama, fitoplankton, faktor lingkungan Phytoplankton have a very important role in the waters fertility. Conditions and distribution of phytoplankton is strongly influenced by various environmental parameters. Analysis ordination with Principal Component Analysis has been carried out in studying phytoplankton community and its relationship with several environmental parameters in Karimunjawa waters Jepara Central Java. Observation of the parameters pH, dissolved oxygen, phosphate, nitrate, water temperature and salinity, and phytoplankton were done at 16 stations. The results of the study show that Principal Component I is characterized by the abundance of Baccilariaphyceae high and Dinophyceae low. While Principal Component II is characterized by the abundance of Baccilariaphyceae low and Dinophyceae high. There was negative correlation between phytoplankton abundance with phosphate concentration and positive correlation with nitrate concentration. Other environmental factors did not show any statistically significant correlation. Keywords: principal component analysis, phytoplankton, environmental factors