Hari Ismanto
Staf Loka LItbang P2B2B Banjarnegara

Published : 15 Documents
Articles

Found 15 Documents
Search

FAUNA NYAMUK ANOPHELES DI DESA LEMAHJAYA, KECAMATAN WANADADI, KABUPATEN BANJARNEGARA, TAHUN 2011 Djati, Anggun Paramita; Priyanto, Dwi; Ismanto, Hari; Ustiawan, Adil
Balaba Vol 8, No 2 Des (2012)
Publisher : Prima Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTMalaria is still a health problem in Banjarnegara District. Efforts to prevent and control malaria requiresbasic information on vector surveillance data, including the species, and breeding place. This study obtain asuspected vector information, focus on Anopheles in Lemahjaya, where is an increase of malaria cases.Data collected by entomological survey and survey of malaria mosquito breeding place. Result ofmosquito collection found above mentioned various means 7 species of Anopheles that is An.aconitus (12,15%),An.maculatus (61,68%), An.balabacensis (1,87%), An.vagus ( 10,28%), An.kochi ( 6,54%), An.barbirostris (6,54%), dan An.tessellatus (0,93%). From seventh of the species is confirmed as vector of malaria is An.aconitusand An.maculatus. An.aconitus Predominantly species is An. maculatus. The biting and resting behaviour ofAn.maculatus found all night, since evening and the peak density at 21.00 until 22.00, 03.00 until 04.00 in outdoorand 24.00 – 01.00 in cattle. Result of entomological survey related to people´s behavior which have outdooractivity at night and result of malaria mosquito breeding place found An. maculatus larvaes.
PEMERIKSAAN LEPTOSPIROSIS SECARA LABORATORIS (HASIL PELATIHAN DI BALAI PENELITIAN VETEREINER BOGOR) Marbawati, Dewi; Ismanto, Hari
Balaba Vol 6, No 1 Jun (2010)
Publisher : Prima Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelatihan pemeriksaan leptospirosis dilaksanakan dalam rangka meningkatkan kemampuan laboratoriurn bakteriologi yang ada di Loka litbang P2B2 Banjarnegara agar memiliki kemampuan melakukan pemeriksaan Leptospirosis. Beberapa materi yang diberikan dalam pelatihan ini diantaranya teori umum Leptospirosis dan pemeriksaan Leptospirosis secara laboratoris dengan metode MAT (Microscopic Aglutination Test). Pelatihan ini dilaksanakan mengingat bidang penelitian di Loka Litbang P2B2 Banjarnegara yang lebih fokus ke bidang penyakit bersumber rodensia, bahkan 3 tahun terakhir ini telah melakukan penelitian mengenai Leptospirosis.
TEKNIK ISOLASI - IDENTIFIKASI Yersinia pestis SEBAGAI PENYEBAB PENYAKIT PES (HASIL PELATIHAN DI BALAI BESAR VETERINER BOGOR) Marbawati, Dewi; Ismanto, Hari
Balaba Vol 6, No 2 Des (2010)
Publisher : Prima Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknik isolasi dan identifikasi Y. pestis mempunyai prinsip- prinsip umum pertumbuhan yaitu terdiri dari tiga tahap yaitu: tahap pengkayaan, seleksi pada media agar dan uji biokimia. Tahap pengkayaan dilakukan dengan cara menimbang sebanyak 10-25 gram spesimen kemudian dimasukkan dalam blender atau plastik steril dan ditambah 90-225 ml media pengkayaan (dapat menggunakan Buffered Peptone Water (BPW), Brain Heart Infusion (BHI) atau menggunakan Nutrient Broth). Setelah itu dibuat suspensi spesimen 10%, kemudian dilakukan homogenisasi selama ± 2 menit dan diinkubasikan pada suhu 37 derajat Celcius selama 24 jam.
DAMPAK PERUBAHAN LINGKUNGAN TERHADAP VEKTOR PENYAKIT Ismanto, Hari
Balaba Vol 6, No 2 Des (2010)
Publisher : Prima Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berbagai perubahan lingkungan ternyata telah banyak menimbulkan berbagai masalah kesehatan, diantaranya penyebaran berbagai penyakit yang ditularkan oleh binatang khususnya serangga seperti nyamuk, lalat, dan kecoa antara lain penyakit Kaki Gajah (Filariasis), Demam Berdarah Dengue, Malaria, dan lain-lain. Bahkan pada kondisi tertentu, perubahan lingkungan ini juga telah berpengaruh terhadap peningkatan populasi dan perilaku vektor penyakit, di mana hal ini akan semakin meningkatkan resiko terjadinya penyebaran penyakit.
CAPLAK KERAS (Hard ticks) SEBAGAI VEKTOR PENYAKIT Ismanto, Hari; Ikawati, Bina
Balaba Vol 5, No 2 Des (2009)
Publisher : Prima Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu ektoparasit yang terdapat pada tikus adalah caplak (ticks) atau sengkenit, yang berdasarkan morfologi tubuhnya bisa dibagi menjadi dua, yaitu caplak keras (Hard ticks) dan caplak lunak (Soft ticks). Salah satu ciri utama yang membedakan keduanya adalah adanya scutum (lapisan chitin yang menebal dan keras) pada caplak keras stadium dewasa, sedangkan caplak lunak tidak memilik scutum. Pada tulisan ini hanya membahas mengenai caplak keras saja, khususnya peranannya dalam menularkan beberapa penyakit.
PENGELOLAAN LINGKUNGAN (ENVIRONMENTAL MANAGEMENT) DALAM PEMBERANTASAN VEKTOR MALARIA Ismanto, Hari
Balaba Edisi 01 No.001/Tahun I Juni 2005
Publisher : Prima Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan pengelolaan lingkungan (Environmental Management) untuk pemberantasan nyamuk menurut WHO Expert Commite On Vector Biology and Control (1979) meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan pengamatan kegiatan pengubahan dan atau manipulasi faktor-faktor lingkungan atau interaksinya dengan manusia untuk mencegah atau membatasi perkembangbiakan vektor dan mengurangi kontak antara manusia dan vektor. Dengan perencanaan, pemilihan desain dan pemeliharaan yang baik, pengelolaan lingkungan dapat mencegah atau mengurangi tempat perindukan nyamuk, sehingga diharapkan dapat mengurangi kepadatan nyamuk.
PENGENDALIAN VEKTOR DENGAN PENGUBAHAN LINGKUNGAN Ismanto, Hari
Balaba Edisi 002 No.01/Tahun II Juni 2006
Publisher : Prima Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu upaya yang bisa dilakukan dalam pengendalian penyakit menular adalah dengan pengendalian vektor (serangga penular penyakit) untuk memutuskan rantai penularan penyakit. Faktor yang penting dalam pengendalian vektor adalah mengetahui bionomik vektor, yaitu tempat perkembangbiakan, tempat istirahat, serta tempat kontak vektor dan manusia.Upaya pengendalian vektor dengan menggunakan bahan kimia ternyata tidak cukup aman, karena walaupun dapat menurunkan populasi vektor dengan segera, penggunaan bahan kimia yang berlebihan juga mempunyai dampak yang merugikan terhadap lingkungan, yaitu menurunnya kualitas lingkungan.Selain menggunakan bahan kimia, pengendalian vektor juga bisa dilakukan dengan pengubahan lingkungan, yaitu lingkungan fisik dan lingkungan sosial,ekonomi, dan budaya.Pengubahan lingkungan fisik dilakukan agar vektor tidak dapat berkembangbiak, istirahat, ataupun menggigit. Misalnya dengan Pembersihan Sarang Nyamuk (PSN) untuk pengendalian vektor Demam Berdarah Dengue (DBD) yang terkenal dengan sebutan 3M yaitu Menguras Tempat Penampungan Air (TPA), Menutup TPA dan Menimbun barang-barang yang dapat menampung air hujan yang bisa menjadi tempat berkembangbiak nyamuk Aedes aegypti. Contoh lain yaitu dengan membersihkan saluran air menggenang yang dapat menjadi tempat berkembangbiak nyamuk penular penyakit kaki gajah (filariasis).Pengubahan lingkungan sosial,ekonomi, dan budaya yaitu dengan mengubah perilaku masyarakat agar tidak terjadi kontak antara manusia dan vektor,misalkan dengan memasang kawat kasa pada ventilasi rumah agar nyamuk tidak masuk ke dalam rumah, atau memakai kelambu untuk mencegah gigitan nyamuk.Selama ini sebenarnya sebagian masyarakat sudah mengetahui cara pengendalian vektor penyakit dengan pengubahan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial, ekonomi, dan budaya. Namun demikian perlu kiranya peningkatan upaya-upaya tersebut agar pengendalian vektor sebagai salah satu cara pengendalian penyakit menular dapat berhasil dengan baik. Untuk itu diperlukan adanya kerjasama dari berbagai sektor terkait agar peran serta masyarakat dalam upaya pengendalian vektor ini dapat berjalan dengan baik, sehingga mengurangi resiko terjadinya penularan penyakit di masyarakat.
SURVEI EPIDEMIOLOGI PENINGKATAN KASUS MALARIA DI DESA JINTUNG KECAMATAN AYAH WILAYAH PUSKESMAS AYAH II AGUSTUS 2006 Ismanto, Hari; Ramadhani, Tri; Sunaryo, Sunaryo
Balaba Edisi 003 No.02/Tahun II Desember 2006
Publisher : Prima Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan surat permohonan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen tanggal 24 Agustus 2006 tentang Penanggulangan KLB malaria di Desa Jintung Kecamatan Ayah dan Desa Jladri Kecamatan Buayan. Telah terjadi peningkatan kasus malaria pada bulan Juli dan Agustus di wilayah Puskesmas Ayah II, yaitu di Desa Jintung. Jumlah kasus malaria sampai tanggal 16 Agustus 2006 mencapai 27 penderita (hasil konfirmasi laboratorium Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah) dan kemungkinan sudah terjadi penularan setempat karena sebelumnya di Desa Jintung tidak pernah ada kasus malaria. Kasus malaria bermula adanya penduduk Desa Jintung yang merantau di Bangka dan pulang dalam kondisi sakit (dengan gejala klinis malaria).Untuk mengantisipasi terjadinya penularan yang lebih luas, Loka litbang P2B2 Banjarnegara beserta tim dari DKK Kebumen. Puskesmas Ayah II melakukan survei tindak lanjut untuk mendapatkan gambaran epidemiologi malaria di Desa Jintung. Wilayah Puskesmas Ayah II sehingga diharapkan dapat diketahui sumber dan cara memutuskan rantai penularannya.
EVALUASI PENYEMPROTAN DINDING RUMAH PENDUDUK DI DESA JINTUNG DAN DESA SRATI KECAMATAN AYAH KABUPATEN KEBUMEN TAHUN 2006 Sunaryo, Sunaryo; Djati, Rr. Anggun Paramita; Ismanto, Hari; Dewi, Dian Indra
Balaba Edisi 004 No.01/Tahun III Juni 2007
Publisher : Prima Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Jintung dan Desa Slatri, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen merupakan daerah Reseptif malaria.Terjadi peningkatan kasus malaria pada bulan Juli dan Agustus 2006. Hasil Penyelidikan Epidemiologi di kedua wilayah tersebut telah terjadi penularan malaria setempat yang bersumber dari penderita malaria yang baru pulang dari luar jawa (import). Tersangka vektor yang teridentifikasi adalah Anophelesmaculatus, An.aconitus dan An.balabacensis yang ditemukan baik menggigit di dalam rumah dan di luar rumah.Untuk mengantisipasi terjadinya penularan malaria yang lebih luas di wilayah tersebut dilakukan upaya intervensi berupa penyemprotan rumah (IRS / indoor Residual Spraying) dengan cakupan pada seluruh rumah di Desa Jintung dan Slatri. Penyemprotan rumah dilakukan pada minggu ke IV bulan Agustus 2006, petugas penyemprot dari masyarkat/kader setempat yang dilatih oleh Dinas Kesehatan Kebumen dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Kandungan bahan aktif insektisida yang digunakan adalah Bifentrin 0, 10.Agar upaya pemberantasan vektor (IRS) dapat berhasil guna dan berdaya guna harus dilakukan dengan cara yang benar yaitu meliputi ketepatan dosis insektisida, kerataan residu insektisida yang menempel dipermukaan dinding serta cakupan rumah yang di semprot.Untuk mengetahui keberhasilan kegiatan penyemprotan rumah dilakukan upaya evaluasi, salah satunya dengan uji hayati (Bioassay).
EVALUASI PENYEMPROTAN DINDING RUMAH PENDUDUK DI DESA JINTUNG DAN DESA SRATI KECAMATAN AYAH KABUPATEN KEBUMEN TAHUN 2006 Sunaryo, Sunaryo; Djati, Rr. Anggun Paramita; Ismanto, Hari; Dewi, Dian Indra
Balaba Edisi 004 No.01/Tahun III Juni 2007
Publisher : Prima Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Jintung dan Desa Slatri, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen merupakan daerah Reseptif malaria.Terjadi peningkatan kasus malaria pada bulan Juli dan Agustus 2006. Hasil Penyelidikan Epidemiologi di kedua wilayah tersebut telah terjadi penularan malaria setempat yang bersumber dari penderita malaria yang baru pulang dari luar jawa (import). Tersangka vektor yang teridentifikasi adalah Anophelesmaculatus, An.aconitus dan An.balabacensis yang ditemukan baik menggigit di dalam rumah dan di luar rumah.Untuk mengantisipasi terjadinya penularan malaria yang lebih luas di wilayah tersebut dilakukan upaya intervensi berupa penyemprotan rumah (IRS / indoor Residual Spraying) dengan cakupan pada seluruh rumah di Desa Jintung dan Slatri. Penyemprotan rumah dilakukan pada minggu ke IV bulan Agustus 2006, petugas penyemprot dari masyarkat/kader setempat yang dilatih oleh Dinas Kesehatan Kebumen dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Kandungan bahan aktif insektisida yang digunakan adalah Bifentrin 0, 10.Agar upaya pemberantasan vektor (IRS) dapat berhasil guna dan berdaya guna harus dilakukan dengan cara yang benar yaitu meliputi ketepatan dosis insektisida, kerataan residu insektisida yang menempel dipermukaan dinding serta cakupan rumah yang di semprot.Untuk mengetahui keberhasilan kegiatan penyemprotan rumah dilakukan upaya evaluasi, salah satunya dengan uji hayati (Bioassay).