Elly Ingkiriwang
Universitas Kristen Krida Wacana

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

The Usage of Two Minutes Method (M2M) to Determine Mental Disorder Prevalence in Primary Care Hidayat, Dan; Ingkiriwang, Elly; Andri, Andri; Asnawi, Evalina; Widya, Ratna Surya; Susanto, Djap Hadi
Journal of the Indonesian Medical Association Vol. 60 No. 10 October 2010
Publisher : Journal of the Indonesian Medical Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Two Minutes Method (M2M) is prepared as a method to assist primary care phycisian in health care service (not just as mental health care service) and it is used to determine mental disorder prevalance compared to conventional psychiatric interview using PPDGJ-III by psychiatrist which is founded to be valid and reliable. The aim of the study was to compare the usage of M2M by primary care physician and the usage of conventional psychiatric interview by psychiatrist in determining mental disorder prevalence in Puskesmas Kecamatan Grogol Petamburan. From 1052 patients visited Puskesmas kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat, the mental disorder prevalence was 31.8% which was founded by the pshysician as well as by the psychiatrist. Using M2M, neurosis was founded to be the most common mental disorder (28.5%). Meanwhile, by using diagnotic guideline of PPDGJ-III performed by psychiatrist, Anxiety Disorders were 14%, followed by 12.5% Psychosomatic Disorder, Eating Disorder, Sleep Disorder and Sexual Dysfunction, and 2% Depressive Disorder (total 28.5%).Keywords: diagnostic tool, psychiatry, mental disorder, prevalence, Puskesmas
Penanda Biologis Protein Tau pada Demensia Alzheimerndo Ingkiriwang, Elly
Jurnal Kedokteran Meditek Vol. 15 No. 39E September-Desember 2008
Publisher : Jurnal Kedokteran Meditek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPada penyakit Alzheimer (AD) ditemukan kerusakan neuron di tingkat seluler, terutama pada korteks dan hipokampus. Beberapa penyebabnya antara lain oleh deposisi protein amiloid di luar sel neuron yang disebut plak, dan perubahan yang ditemukan di dalam sitoplasma disebut sebagai Neurofibrillary Tangles (NFT).1 Penelitian selama beberapa dekade ini telah memfokuskan pada Cerebrospinal Fluid (CSF) sebagai jendela dari otak individu dengan AD dan beberapa penyakit yang berhubungan dengannya. Patobiologi neurodegenerasi telah dimengerti dengan lebih baik, dan investigasi mulai difokuskan pada CSF sebagai protein penanda biologis untuk demensia Alzheimer. Tiga penanda biologis seperti total tau,fosfo-tau, dan bentuk asam amino 42 dari ß-amyloid telah dipelajari dalam sejumlah studi dan kemampuannya untuk mengidentifikasi AD incipient pada kasus Mild Cognitive Impairment (MCI). Penanda biologis CSF diharapkan mempunyai kemampuan tidak hanya sebagai penanda diagnostik, tetapi juga sebagai penanda stadium atau aktivitas penyakit. Tau dalam CSF meningkat pada tahap sangat dini, mungkin mendahului demensia yang dapat terdeteksi secara klinis. Diagnosis klinis AD dapat dilakukan dengan akurat, terutama oleh klinisi yang berpengalaman, dan karena hanya pengobatan simptomatik yang tersedia, maka test CSF untuk AD jarang dilakukan sebagai alat diagnostik yang rutin.2 Pengobatan simptomatik sekarang dapat memperlambat progesivitas penyakit3, maka test CSF dilakukan untuk diagnostik dini, bahkan presimptomatik sehingga akan lebih luas digunakan dalam praktek klinis. Kata kunci: penyakit Alzheimer, CSF, penanda biologis, tau.
Faktor Risiko Sindrom Premenstruasi pada Sampel Urban di Jakarta Februari-Maret 2018 Christie, Keisha D.; Citraningtyas, Theresia; Ingkiriwang, Elly; Soesanto, A. Aries
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 24 NO. 68 OKTOBER-DESEMBER 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v24i68.1695

Abstract

Sindrom premenstruasi (PMS) merupakan kumpulan gejala yang dapat menganggu produktivitas dan kualitas hidup. Untuk memahami sindrom premenstruasi yang terjadi di kelompok masyarakat perkotaan, dilakukan penelitian terhadap beberapa faktor risiko. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi hubungan faktor risiko (usia saat ini, usia menarche, status perkawinan, jumlah anak, pendidikan, status sosioekonomi dan pekerjaan, riwayat keluarga) terhadap sindrom premenstruasi. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive cross-sectional pada kelompok perempuan usia subur di Nafiri Discipleship Church Central Park untuk mewakilkan populasi urban. Data yang dikumpulkan dianalisa dengan uji korelasi bivariat Spearman. Didapatkan sebanyak 75 subjek penelitian. Karakteristik subjek mayoritas berusia 22-29 tahun, belum kawin, mengalami menstruasi pertama pada usia 13-15 tahun, memiliki gelar D3/S1, dan memiliki riwayat keluarga dengan sindrom premenstruasi. Hasil skrining dengan Premenstrual Symptoms Screening Tool (PSST) menunjukkan 58,7% responden mengalami sindrom premenstruasi ringan atau tidak bergejala, diikuti dengan 37,3% responden sugestif PMS sedang sampai berat. Ditemukan hubungan signifikan antara hasil skrining dengan variabel usia menarche (p=0,005) dan riwayat keluarga (p=0,004). Penelitian ini menggambarkan masalah yang dapat mengganggu produktivitas dan kualitas hidup perempuan daerah perkotaan. Satu dari tiga perempuan pada sampel ini mengalami PMS sedang sampai berat. Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk menelusuri peran faktor risiko terhadap timbulnya PMS. Kata Kunci: kesehatan perkotaan, kesehatan reproduksi, sindrom premenstruasi