Articles

Found 20 Documents
Search

RESPON PERTUMBUHAN Pichia manshurica DAN Rhodosporodium paludigenum PADA BERBAGAI MEDIA BASAL SEBAGAI PENENTU UNTUK PROSES ISOLASI PROTOPLAS Wijanarka, Wijanarka; Sutariningsih, Endang; Dewi, Kumala; Indrianto, Ari
Prosiding Seminar Biologi Vol 9, No 1 (2012): Seminar Nasional IX Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Pertumbuhan mikroorganisme biasanya ditunjukkan dengan adanya pertambahan jumlah sel atau masa sel yang sedang tumbuh. Pertumbuhan mikroorganisme dipengaruhi oleh faktor lingkungan hidupnya, salah satunya medium pertumbuhan. Medium tersebut sangat menentukan tingkat keberhasilan umur kultur dan profil fase pertumbuhan yang sangat penting pada saat isolasi protoplas. Tujuan penelitian ini adalah kinetika respon dan profil pertumbuhan Pichia manshurica dan Rhodosporodium paludigenum Pada Berbagai Media Basal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari-Februari 2011 di Laboratorium Mikrobiologi FMIPA UNDIP Semarang. Khamir Pichia manshurica dan Rhodosporodium paludigenum ditumbuhkan pada media basal  MEB (M1), TEB (M2), ME (M3) dan YPD (M4) serta dilakukan pengamatan pertumbuhan  setiap 6 jam selama 42 jam. Tahap berikutnya dilakukan studi analisis kinetika pertumbuhan khamir pada media basal yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  media YPD (M4)  mempunyai kecepatan pertumbuhan (μ) tertinggi  (0.2086 mg/jam)  dan waktu generasi terpendek 3.3236 (menit) pada jam ke-18, sedangkan Rh. paludigenum mempunyai nilai μ sebesar 0.2751 (mg/jam)  dan g  sebesar 2.5197 (menit). Kesimpulan penelitian ini adalah media YPD (M4) dapat digunakan untuk pertumbuhan Pichia manshurica dan Rhodosporodium paludigenum serta dapat digunakan  untuk media  isolasi protoplas   Kata Kunci:  Pertumbuhan, media basal, P. manshurica dan R. paludigenum
RESPON PERTUMBUHAN Pichia manshurica DAN Rhodosporodium paludigenum PADA BERBAGAI MEDIA BASAL SEBAGAI PENENTU UNTUK PROSES ISOLASI PROTOPLAS Wijanarka, Wijanarka; Sutariningsih, Endang; Dewi, Kumala; Indrianto, Ari
Prosiding Seminar Biologi Vol 9, No 1 (2012): Seminar Nasional IX Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.942 KB)

Abstract

ABSTRAK   Pertumbuhan mikroorganisme biasanya ditunjukkan dengan adanya pertambahan jumlah sel atau masa sel yang sedang tumbuh. Pertumbuhan mikroorganisme dipengaruhi oleh faktor lingkungan hidupnya, salah satunya medium pertumbuhan. Medium tersebut sangat menentukan tingkat keberhasilan umur kultur dan profil fase pertumbuhan yang sangat penting pada saat isolasi protoplas. Tujuan penelitian ini adalah kinetika respon dan profil pertumbuhan Pichia manshurica dan Rhodosporodium paludigenum Pada Berbagai Media Basal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari-Februari 2011 di Laboratorium Mikrobiologi FMIPA UNDIP Semarang. Khamir Pichia manshurica dan Rhodosporodium paludigenum ditumbuhkan pada media basal  MEB (M1), TEB (M2), ME (M3) dan YPD (M4) serta dilakukan pengamatan pertumbuhan  setiap 6 jam selama 42 jam. Tahap berikutnya dilakukan studi analisis kinetika pertumbuhan khamir pada media basal yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  media YPD (M4)  mempunyai kecepatan pertumbuhan (μ) tertinggi  (0.2086 mg/jam)  dan waktu generasi terpendek 3.3236 (menit) pada jam ke-18, sedangkan Rh. paludigenum mempunyai nilai μ sebesar 0.2751 (mg/jam)  dan g  sebesar 2.5197 (menit). Kesimpulan penelitian ini adalah media YPD (M4) dapat digunakan untuk pertumbuhan Pichia manshurica dan Rhodosporodium paludigenum serta dapat digunakan  untuk media  isolasi protoplas   Kata Kunci:  Pertumbuhan, media basal, P. manshurica dan R. paludigenum
THE INFLUENCE OF THIDIAZURON ON DIRECT SOMATIC EMBRYO FORMATION FROM VARIOUS TYPES OF EXPLANT IN PHALAENOPSIS AMABILIS (L.) BLUME ORCHID Mose, Windi; Indrianto, Ari; Purwantoro, Aziz; Semiarti, Endang
HAYATI Journal of Biosciences Vol. 24 No. 4 (2017): October 2017
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1348.365 KB) | DOI: 10.4308/hjb.24.4.201

Abstract

Phalaenopsis amabilis is an important national flower of Indonesia as a parent for orchidbreeding, so that needs a good strategy to produce high number of plants. The objective of this research is to analyze the use of thidiazuron (TDZ) for producing high number of plantlets, through directly induction of somatic embryos (SEs) from various explants. The method was used 20 each of protocorms, leaves, stems and roots as explants. The explants were dissected transversely, then put on various culture media: New Phalaenopsis (NP) and NP + (1, 2, 3) mgL?1 TDZ. Cultures were maintained at 25°C with continous white light. The formation of SEs was observed every week for 8 weeks. The results showed that SEs formation increased inline with the addition of TDZ concentration to the NP medium, for both velocity and amount of SEs formation. In NP0, SEs were formed at (26.07 ± 0.73) days after inoculation of protocorm, whereas on NP + (1, 2, and 3 mgL?1) TDZ, SEs were formed at (17.85 ± 0.67) days, (15 ± 0.64) days, and (11 ± 0.64) days, respectively. All types of explants formed SEs on NP + TDZ (1?3 mgL?1), whereas only 14 of 20 protocorms produced SEs (70%), and 8 of 20 stems formed SEs (40%) in NP0. In roots, SEs was formed on NP + 2 mgL?1 TDZ and NP + 3 mgL?1 TDZ. For stems, the highest amount of SEs (28.25 ± 1.07) was reached on NP + 3 mgL?1 TDZ, followed by protocorm (23.30 ± 1.13) SEs and roots (8.25 ± 0.68) SEs. In contrast, in NP0, the amount of SEs was very low (1.25 ± 0.46) from stem and (1.50 ± 0.65) from protocorms, there was no evidence of SEs formation in the leaves and roots.
PERKEMBANGAN PENELITIAN INDUKSI KALUS EMBRIOGENIK PADA JARINGAN VEGETATIF TANAMAN KARET KLONAL (Hevea brasiliensis Muell. Arg) Admojo, Lestari; Indrianto, Ari; Hadi, Hananto
Warta Perkaretan Vol 33, No 1 (2014): volume 33, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.wp.v33i1.46

Abstract

Perbanyakan tanaman karet (Hevea brasiliensis Muell Arg) saat ini masih menggunakan cara konvensional yaitu okulasi. Kelemahan teknik ini antara lain membutuhkan waktu yang lama, kebutuhan lahan yang luas, musim biji yang terbatas di samping juga diperlukan tenaga kerja yang cukup banyak. Permasalahan tersebut mengharuskan penelitian diarahkan pada perbanyakan bibit dengan tehnik yang lebih efisien dalam skala massal. Teknik kultur jaringan melalui embriogenesis somatik (EGS) membuka peluang tersebut. Induksi kalus embriogenik merupakan langkah awal untuk keberhasilan teknik EGS secara tidak langsung. Tulisan ini merangkum hasil penelitian induksi kalus embriogenik pada jaringan vegetatif tanaman karet klonal yang dimulai pada tahun 2008 hingga 2012. Hasil pengujian terhadap 6 klon karet (PB 260, PB 330, IRR 111, IRR 39, GT 1 dan IRR 112) menunjukkan bahwa klon IRR 112 dan PB 330 merespon pembentukan kalus embriogenik, dan membentuk fase embrio dari globular (IRR 112) hingga jantung dan torpedo (PB 330). Hasil pengujian jaringan vegetatif yang digunakan sebagai eksplan (helai daun, tangkai, ketiak tangkai, mata tunas) menunjukkan bahwa jaringan tangkai dan ketiak tangkai merespon terbentuknya kalus embriogenik. Kombinasi media dasar MS+2,4 D 5 ppm memberikan respon induksi kalus friabel terbaik dan MS+NAA 0,1 ppm+BAP 2 ppm memberikan respon kalus embriogenik terbaik, namun frekuensinya masih rendah. Tingkat browning masih tinggi yang menjadi faktor pembatas perkembangan kalus. Kalus yang bersifat embriogenik diharapkan berpotensi untuk diinduksi menjadi planlet melalui teknik embriogenesis somatik.
PENCEGAHAN BROWNING FASE INISASI KALUS PADA KULTUR MIDRIB DAUN KLON KARET (HEVEA BRASILIENSIS MUELL ARG) PB 330 Admojo, Lestari; Indrianto, Ari
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 34, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v34i1.220

Abstract

Perbaikan teknik perbanyakan dan mutu bibit klonal karet (Hevea brasiliensis Muell Arg) dapat dilakukan melalui teknik kultur jaringan. Kendala teknik tersebut diantaranya masih tingginya intensitas browning pada tahap inisiasi kalus. Browning umumnya disebabkan oleh senyawa fenolik yang biasanya muncul dan terakumulasi ketika eksplan dilukai. Penelitian ini bertujuan mengetahui metode eliminasi browning yang efektif diantara perlakuan perendaman eksplan dalam asam askorbat, arang aktif+sukrosa, subkultur berulang yang diinkubasi dalam ruang gelap dan terang. Bahan eksplan yang digunakan adalah eksplan midrib daun klon karet PB 330 yang ditanam pada media induksi kalus MS+2,4-D 5 ppm. Masing-masing menggunakan 10 botol sebagai ulangan dan ditanam sebanyak 2 eksplan per botol. Pengamatan meliputi waktu awal browning, waktu rata-rata eksplan mengalami browning, intensitas browning dan jumlah eksplan browning hingga 35 hari setelah tanam (HST). Data dari 10 eksplan untuk masing-masing perlakuan selanjutnya dianalisis dengan analisis ragam dari Rancangan Faktorial dan uji lanjut dengan Duncan Multiple Range Test untuk data yang berbeda nyata. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perendaman eksplan dalam 100 mg/L asam askorbat steril selama 30 menit, yang diinkubasi dalam ruang gelap efektif menurunkan intensitas browning hingga 7,5% dengan jumlah eksplan yang mengalami browning dapat ditekan hingga 30%. Diterima : 6 Januari 2016 / Direvisi : 30 Mei 2016 / Disetujui : 24 Juni 2016 How to Cite : Admojo, L., & Indrianto, A. (2016). Pencegahan browning fase inisasi kalus pada kultur midrib daun klon karet (Hevea brasiliensis Muell Arg) PB 330. Jurnal Penelitian Karet, 34(1), 25-34. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/220
PENGARUH JENIS DAN KONSENTRASI ZAT PENGATUR TUMBUH PADA INDUKSI KALUS EMBRIOGENIK KLON CENDANA (Santalum album Linn.) Herawan, Toni; Indrioko, Sapto; Indrianto, Ari; Haryjanto, Liliek; Widowati, Titis Budi
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 11, No 2 (2017): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : Center for Forest Biotechnology and Tree Improvement (CFBTI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpth.2017.11.2.151-158

Abstract

Sandalwood (Santalum album Linn.) is a tree which has a high rate of natural sprouting ability. Eventhough the propagation by the conventional techniques (shoot and root cuttings) and by the tissue culture have been reported, the percentage of plants regeneration is still low. The propagation using somatic embryogenesis was reported as better result than using shoots multiplication technique or organogenesis. The objective of this research is to examine the effect of clones, type and concentration of plant growth regulator on the development embryogenic callus of sandalwood. The three tested clones are C1, C2, and C3. The plant growth regulators are 2.4-D, Dicamba, and Picloram with the three level of concentrations:1 mg/L, 3 mg/L, and 5 mg/L. The result of study showed that the clone of C3 performed best on embryogenic callus development. It was observed through morphological analysis that 58.12% of explants performed embryogenic callus with friable texture and white, yellowish in colours. However, there were not significant differences between the types of plant growth regulator, the level of concentrations and their interactions on embryogenic callus development of sandalwood
KULTUR JARINGAN CENDANA (Santalum album L.) MENGGUNAKAN EKSPLAN MATA TUNAS Herawan, Toni; Indrioko, Sapto; Indrianto, Ari
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 3 (2015): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : Center for Forest Biotechnology and Tree Improvement (CFBTI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpth.2015.9.3.177-188

Abstract

The research aim is to observe tissue culture method for Sandalwood using node explants. The explants were cultured on Murashige and Skoog (MS) medium solidified with agar and supplemented with varies combination of hormones: BAP (benzyl-amino-purine), NAA (napthalene-acetic-acid), IAA (indole-acetic-acid) and Kinetin (furfuril-amino-purine) for shoot induction, multiplication and rooting. The results of study showed that the medium of MS+1 mg/l BAP+0.01 mg/ lNAA provided a good response for shoot induction of Sandalwood clones number A.III.4.14 at around 85%. The medium of MS+0.5 mg/l BAP+0.01 mg/l NAA provided a good response for shoot multiplication of the clones number A.III.4.14 (number of shoot and shoot elongation). The rooting medium of ½MS+20 mg/l IAA+1 mg/l IAA and 0.01 mg/l NAA resulted rooting percentage across the clones at around 37%. The highest survival rate after acclimatization was found at clone number WS6 at around 56%.
Pengaruh Medium Pupuk Organik Cair (POC) terhadap Karakter Morfologi dan Jumlah Tunas Protokorm Anggrek Vanda limbata Blume x Vanda tricolor Lindl. Yusuf, Yusnaeni; Indrianto, Ari; Indrianto, Ari
bionature Vol 17, No 1 (2016): April
Publisher : Fakultas MIPA UNM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.885 KB)

Abstract

Kultur embrio anggrek secara in vitro pada media tumbuh yang sesuai akan menghasilkan tanaman anggrek dalam jumlah besar namun dalam waktu yang singkat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis dan konsentrasi pupuk organik cair (POC) yang efektif terhadap pertumbuhan dan perkembangan embrio anggrek Vanda limbata  Blume x Vanda tricolor Lindl. Percobaan dilakukan dengan menggunakan protokorm anggrek Vanda limbata  Blume x Vanda tricolor Lindl. yang berumur 4 minggu (fase 2) yang ditanam pada medium perlakuan. Medium perlakuan yang digunakan adalah medium POC yakni Fertile, Fish Emultion dan Nasa dengan beragam konsentrasi (1; 1; 2; 2,5; 3; 3,5 ml/L) yang ditambahkan air kelapa 150 ml/L, sedangkan medium VW sebagai kontrol positif dan medium agar sebagai kontrol negatif. Pengamatan pada medium perlakuan dilakukan selama 2 bulan. Pengamatan dilakukan untuk mengukur parameter morfologis (panjang daun, jumlah daun, panjang akar, dan jumlah akar) serta jumlah tunas yang dihasilkan hingga pengamatan minggu ke-8. Setelah 2 bulan, tanaman kemudian disubkultur ke medium VW yang ditambahkan air kelapa dan ekstrak pisang. Data kuantitatif yang diperoleh kemudian dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA) untuk mengetahui pengaruh pupuk organik cair terhadap parameter yang diukur kemudian jika terdapat perbedaan nyata dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf uji 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh medium POC terhadap pertumbuhan dan perkembangan embrio anggrek menunjukkan respon yang berbeda-beda pada setiap fase pertumbuhan. Pada protokorm anggrek Vanda limbata  Blume x Vanda tricolor Lindl. berumur 4 MSP, POC Fertile 1,5 memberikan hasil yang berbeda nyata dibandingkan dengan medium VW pada parameter jumlah daun dan jumlah tunas dengan nilai 4,67 dan 6,00.Kata kunci: Pupuk Organik Cair, Perkecambahan In Vitro, Embrio, dan Anggrek
Pengaruh Medium Pupuk Organik Cair (POC) terhadap Karakter Morfologi dan Jumlah Tunas Protokorm Anggrek Vanda limbata Blume x Vanda tricolor Lindl. Yusuf, Yusnaeni; Indrianto, Ari; Indrianto, Ari
bionature Vol 17, No 1 (2016): April
Publisher : Fakultas MIPA UNM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.885 KB)

Abstract

Kultur embrio anggrek secara in vitro pada media tumbuh yang sesuai akan menghasilkan tanaman anggrek dalam jumlah besar namun dalam waktu yang singkat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis dan konsentrasi pupuk organik cair (POC) yang efektif terhadap pertumbuhan dan perkembangan embrio anggrek Vanda limbata  Blume x Vanda tricolor Lindl. Percobaan dilakukan dengan menggunakan protokorm anggrek Vanda limbata  Blume x Vanda tricolor Lindl. yang berumur 4 minggu (fase 2) yang ditanam pada medium perlakuan. Medium perlakuan yang digunakan adalah medium POC yakni Fertile, Fish Emultion dan Nasa dengan beragam konsentrasi (1; 1; 2; 2,5; 3; 3,5 ml/L) yang ditambahkan air kelapa 150 ml/L, sedangkan medium VW sebagai kontrol positif dan medium agar sebagai kontrol negatif. Pengamatan pada medium perlakuan dilakukan selama 2 bulan. Pengamatan dilakukan untuk mengukur parameter morfologis (panjang daun, jumlah daun, panjang akar, dan jumlah akar) serta jumlah tunas yang dihasilkan hingga pengamatan minggu ke-8. Setelah 2 bulan, tanaman kemudian disubkultur ke medium VW yang ditambahkan air kelapa dan ekstrak pisang. Data kuantitatif yang diperoleh kemudian dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA) untuk mengetahui pengaruh pupuk organik cair terhadap parameter yang diukur kemudian jika terdapat perbedaan nyata dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf uji 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh medium POC terhadap pertumbuhan dan perkembangan embrio anggrek menunjukkan respon yang berbeda-beda pada setiap fase pertumbuhan. Pada protokorm anggrek Vanda limbata  Blume x Vanda tricolor Lindl. berumur 4 MSP, POC Fertile 1,5 memberikan hasil yang berbeda nyata dibandingkan dengan medium VW pada parameter jumlah daun dan jumlah tunas dengan nilai 4,67 dan 6,00.Kata kunci: Pupuk Organik Cair, Perkecambahan In Vitro, Embrio, dan Anggrek
PENGARUH WARNA CAHAYA LIGHT-EMITTING DIODES (LED) INTENSITAS RENDAH DAN CEKAMAN DINGIN TERHADAP PERTUMBUHAN VEGETATIF ANGGREK Phalaenopsis HIBRIDA Nurunisa, Dzikrina; Sasongko, Aries Bagus; Indrianto, Ari
Biota Vol 4 No 1 (2018): Jurnal Biota 2018
Publisher : Faculty of Science and Technology State Islamic University Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/Biota.v4i1.1683

Abstract

Cahaya merah dan biru merupakan cahaya utama yang diserap tanaman dan berperan penting terhadap fotosintesis, pertumbuhan serta perkembangan tanaman anggrek Phalaenopsis hibrida. Cekaman dingin mampu memicu pembentukan organ generatif dan memperlambat pertumbuhan organ vegetatif. Namun, pengaruh intensitas cahaya rendah dan cekaman dingin terhadap pertumbuhan vegetatif dan generatif anggrek Phalaenopsis belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh warna cahaya intensitas rendah dan cekaman suhu dingin terhadap pertumbuhan vegetatif anggrek Phalaenopsis hibrida. Anggrek berumur ± 2 tahun ditumbuhkan dalam growth chamber dengan penyinaran lampu LED putih sebagai kontrol (100 lx), merah, biru, dan merah + biru (masing-masing 30 lx) sebagai perlakuan. Perlakuan suhu air terbagi menjadi cekaman dingin (4,5oC), suhu ruang (28oC) dan kontrol negatif (tanpa penyiraman). Daun diukur panjang, jumlah daun, densitas stomata selama 60 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cahaya LED intensitas rendah dapat meningkatkan ukuran panjang daun, namun cahaya merah memberikan hasil pertambahan panjang daun tertinggi. Perlakuan cahaya LED biru memberikan densitas stomata tertinggi terhadap warna cahaya lainnya. Di sisi lain, cekaman dingin menghambat pertumbuhan daun. Berdasarkan analisis ANOVA dan Tes Duncan, diperoleh bahwa antar setiap perlakuan baik warna cahaya dan suhu air tidak berbeda nyata. Warna cahaya dan suhu air tidak berpengaruh terhadap jumlah daun maupun pembukaan stomata daun.