Lulut Indrianingrum
Civil Engineering Department, Architecture Engineering Program, Engineering Faculty. State University of Semarang, Indonesia

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

RESPON MASYARAKAT TERHADAP METODE PNPM P2KP : PENGALAMAN MASYARAKAT SADANG SERANG KOTA BANDUNG

Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 13, No 1 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: PNPM P2KP  (national program of community empowerment – urban poverty alleviation program) has been changing the community’s habit in managing the neighbourhood. The method is new, covering many  locations of  implementation-as national program,  limited  time of socialization and demanding a real output in short period. These backgrounds  lead  to a critical question of how does  the community  response  to manage PNPM P2KP within  the  traditional way of managing  the neighbourhood?. This paper aims  to describe  the community’s  response  to participatory planning (as  the spirit of PNPM P2KP) when  they are  implementing  the program’s method. The  location of study  is  in  Sadang  Serang  Sub  District  in  Bandung  Municipality.  Sadang  Serang  has  been participating  in  this  program  since  2004.  During  the  project  period,  the  community  found  a complicated way of  implementing  the program’s method. They have not been acquainted with  the participatory method but  the program did not give  them enough  time  to understand  the rogram’s objective.  In  the other words, The program  that should be participatory-based was  implemented  in project-based.  Time  is  the  keyword  of  this  matter  because  participatory  method  will  give  the community unlimited time to interact with the program. Community’s responses were collected from interviews with  the community’s board  (BKM) as  the  local comitee of PNPM P2KP and community member in Sadang Serang.   Keywords: Community’s response, PNPM P2KP Method   Abstrak:  PNPM  P2KP  (Program  Penanggulangan  Kemiskinan  Perkotaan)  yang  dilaksanakan  di Indonesia  telah  banyak  mengubah  kebiasaan-kebiasaan  masyarakat  dalam  mengelola lingkungannya.  Metode  yang  diterapkan  dalam  P2KP  dianggap  baru  oleh  masyarakat  yang  meliputi banyak lokasi pelaksanaan sebagai program nasional, waktu sosialisasi yang terbatas dan menuntut  keluaran  yang  nyata  pada  periode  yang  singkat  (pada  program  partisipasi).  Hal-hal tersebut  merupakan  fakta  yang  melatarbelakangi  pertanyaan  kritis  bahwa  bagaimana  respon masyarakat dalam mengelola program PNPM P2KP ditengah  cara-cara  konvensional  yang biasa dilakukan masyarakat dalam mengelola  lingkungannya. Artikel  ini bertujuan untuk mendiskripsikan respon masyarakat  pada metode  perencanaan  partisipatif  (sebagai  inti  dari  PNPM  P2KP)  ketika program ini dijalankan. Lokasi studi terletak di Kelurahan Sadang Serang Kota Bandung. Kelurahan ini telah melaksanakan program P2KP sejak 2004. Selama periode program, masyarakat menemui kesulitan dalam menjalankan metode program yang diterapkan. Masyarakat belum terbiasa dengan metode P2KP namun waktu yang diberikan pada masyarakat belum cukup untuk memahami tujuan program.  Dengan  kata  lain,  program  yang  seharusnya  dilaksanakan  dengan  dasar  partisipatif, dilaksanakan dengan dasar proyek. Waktu merupakan kunci dari permasalahan  ini karena metoe partisipatif akan memberikan waktu yang tidak terbatas bagi masyarakat untuk berinteraksi dengan program.  Respon-respon  dari  masyarakat  dianalisa  dari  wawancara  dengan  BKM  (Badan Keswadayaan Masyarakat) sebagai pegelola P2KP dan anggota masyarakat di Sadang Serang.   Kata kunci : respon masyarakat, metode PNPM P2KP

ANALISA PENGEMBANGAN POTENSI DESA KANDRI SEBAGAI PUSAT KULINER SINGKONG DI SEMARANG

Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kandri Village is one of villages in Gunungpati district that known as various types of processed cassava. The potential of rural areas strongly support to be developed into  culinary center because near with Kreo Caves tourism and the construction of reservoirs that would also potentially become a new tourist area and the existence of Kandri Village adds by traversed path of the tourism Gunungpati district is a potential to be further developed to support tourism in the Semarang city. Its necessary assessment about the development of Kandri Village as a center of cassava culinary in Semarang. Research uses qualitative rationalistic approach. The development Kandri as a center of culinary tape and processed needs to get support from the government and other stakeholders. Society of processed cassava producers tend to look for cassava raw materials from outside Kandri because raw material shortages. Marketing system is limited to orders and culinary exhibits. Manufacturer and distributor of tape at Kandri consists of two types of daily and seasonal. Zone of culinary tape and other located in Talun Kacang and integrated with Kreo Caves tourism and Jatibarang Reservoir.Kelurahan Kandri merupakan salah satu desa di Kecamatan Gunungpati yang terkenal akan berbagai jenis hasil olahan singkongnya. Potensi kawasan desa sangat mendukung untuk dikembangkan lebih jauh menjadi pusat kuliner karena terdapat obyek wisata Gua Kreo dan adanya pembangunan waduk yang nantinya juga berpotensi menjadi area wisata baru serta keberadaan Kelurahan Kandri yang dilalui jalur pergerakan kepariwisataan kecamatan Gunungpati menambah potensi kawasan untuk dikembangkan lebih jauh untuk mendukung kepariwisataan kota Semarang. Pengkajian lebih dalam mengenai pengembangan Kelurahan Kandri sebagai pusat kuliner singkong di Semarang perlu dilakukan. Penelitian ini menggunakan pendekatan Kualitatif Rasionalistik. Pengembangan Kandri sebagai pusat kuliner tape dan olahannya perlu mendapatkan dukungan pemerintah dan stakeholder lain. Masyarakat produsen olahan singkong cenderung mencari bahan baku singkong dari luar Kandri karena keterbatasan bahan baku. Sistem pemasaran masih terbatas pada pesanan dan pameran kuliner. Produsen dan distributor tape di Kandri terdiri dari dua jenis yaitu harian dan musiman. Mintakat kawasan sentra kuliner tape dan olahannya terletak di kawasan Talun Kacang dan terintegrasi dengan kawasan pariwisata Goa Kreo dan Waduk Jatibarang.

RENCANA KEPEMILIKAN RUMAH BAGI MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH (STUDI KASUS KELURAHAN TANJUNGMAS KOTA SEMARANG)

Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 18, No 1 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Affordable housing programs and banking program has been launched for the implementation of housing programs for Low Income Communities (MBR). MBR characteristics in each region are very diverse make housing programs for this segment is not easy to do the right target. Act 2 of 2001 has mandated that states are obliged to implement the settlement habitable housing for people, especially the MBR. This article will discuss how the public views MBR related to home ownership for families. Aspects related studies include family conditions, financing, location, shape and price residence. The research method used descriptive method with the results of questionnaires to the MBR in Sub Tanjungmas as Village poorest residents in the city of Semarang. The results showed that the respondents have a vision of home ownership by saving and installments. That their visions are still living in and near where you live now or anywhere else that has the same price range. They really understand that in order to obtain environmental conditions and a better home, they have to pay higher prices, then, the standards they use is on the quality of life now and that the location that suitable for them is a house in the kampong area. Program-program perumahan terjangkau dan program perbankan telah diluncurkan untuk pelaksanaan program perumahan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Karakteristik MBR di masing-masing daerah yang sangat beragam membuat program perumahan untuk segmen ini tidak mudah dilakukan secara tepat sasaran. Undang-Undang No.2 tahun 2001  telah mengamanatkan bahwa negara wajib menyelenggarakan perumahan permukiman yang layak huni bagi masyarakat khususnya MBR. Artikel ini akan membahas bagaimana pandangan masyarakat MBR terkait kepemilikan rumah bagi keluarganya. Aspek kajian antara lain terkait kondisi keluarga, pembiayaan, lokasi, bentuk tempat tinggal dan harga.  Metode penelitian menggunakan metode deskriptif melalui hasil kuisioner kepada MBR di Kelurahan Tanjungmas sebagai Kelurahan dengan penduduk miskin terbanyak di Kota Semarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden memiliki visi dalam kepemilikan rumah dengan cara menabung dan mencicil. Bahwa visi mereka adalah masih tinggal disekitar lokasi tempat tinggal sekarang atau tempat lain yang memiliki rentang harga yang sama. Mereka sangat memahami bahwa untuk memperoleh kondisi lingkungan dan rumah yang lebih baik, mereka harus membayar lebih mahal, maka, standar yang mereka gunakan adalah pada kualitas hidup yang dijalani sekarang bahwa lokasi rumah yang cocok untuk mereka adalah rumah di perkampungan.

PERKEMBANGAN SPASIAL PERMUKIMAN DI KAWASAN TUMBUH CEPAT STUDI KASUS DESA UMBULMARTANI, KECAMATAN NGEMPLAK KABUPATEN SLEMAN

Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 17, No 1 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The existence of the square Kaliwungu very far from the characteristics of such a square. Not only the shape, but the function of the square has also shifted away. Although the existence as public space  was still visible in the morning, but it the afternoon until evening, the square transformed into market. The function of the square as a public open space has been dominated as economic functions. From time to time the role of the square undergone many changes since the days of pre-colonial, colonial, post-colonial and current period. Changes in the role and function of the square as a public open space Kaliwungu basically occurs when the policy was issued regarding the transfer function around the market square into the parking lot of the mosque. It shows that the square as the center of the city has a strategic location that can not be separated from economic activities.Keberadaan alun-alun Kaliwungu sangat jauh dari karakteristik sebuah alun-alun tersebut. Tidak hanya bentuknya, tapi fungsi alun-alun juga sudah bergeser jauh. Walaupun pada pagi hari masih nampak keberadaannya, namun coba kita lihat pada sore hingga malam hari, alun-alun Kaliwungu berubah total menjadi pasar sore kaliwungu. Fungsi alun-alun sebagai ruang terbuka publik telah terdominasi sebagai fungsi ekonomi. Dari waktu ke waktu peran alun-alun mengalami banyak perubahan sejak zaman pra kolonial, kolonial, pasca kolonial dan masa saat ini. Perubahan peran dan fungsi alun-alun Kaliwungu sebagai ruang terbuka publik yang paling mendasar terjadi saat dikeluarkan kebijakan mengenai pengalihan fungsi pasar disekitar alun-alun menjadi tempat parkir masjid. Hal tersebut menunjukan bahwa alun-alun sebagai pusat kota memiliki letak strategis yang tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan ekonomis.

POTENTIAL RESOURCES IN CONSERVATION UNIVERSITY FOR GREEN INFRASTRUCTURE DEVELOPMENT

Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 16, No 1 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semarang State University (UNNES) as part of a larger community has initiated the positive development for the surrounding environment by establishing itself as a conservation university. The university has many potentials resources that can be developed into initial model of Green Infrastructure in university scale. This paper aims to present the supports, burdens and limitations of GI implementation in the university’s area through identifying resources that university have. Supports of the university include natural resources, man-made resources, institution and programs. Burdens and limitations explain the challenge for the university to implement and securing GI as an ongoing commitment and goal. Methodology used is primary observation and documents analysis. The analysis shows that the application of GI in the university is very possible regarding its natural and man-made resource supports as well as institutional and the university programs. Natural Resources supports are through the existence of birds and butterflies in the area of UNNES and some of them are classified as endangered species. The university is located among two kinds of important natural landscapes; there is valley with dense vegetation and river banks with steep cliffs. Those landscapes are potential for GI in UNNES. Man Made resources include water conservation zone, biodiversity conservation facilities and green spaces inside the campus. Supports from institution and programs are abundant because the vision of UNNES as a conservation university. GI in UNNES should include natural landscapes outside the area of campus to make a possible connection to create network required for GI system.