Articles

Found 14 Documents
Search

Natural Antioxidants Dietary and Lipid Oxidation Analysis in Zebrafish (Brachydanio rerio) Tissue

HAYATI Journal of Biosciences Vol 14, No 3 (2007): September 2007
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (61.54 KB)

Abstract

Autoxidation of lipids is related to flesh deterioration and discoloration, as well as unpleasant flavors produced during processing and storage. This becomes a major factor determining fresh and frozen seafood products price. The aims of this research were to investigate the effect of two novel dietary supplementation antioxidants Vinlife grape seed extract and Herbalox rosemary extract on lipid oxidation during post-mortem storage of zebrafish (Brachydanio rerio) and the relationships between dietary antioxidants with the enzymatic antioxidant activities. Herbalox supplemented diet showed no harmful effects on growth or survival of zebrafish. However, the diet could not inhibit Thiobarbituric Acid Reactive Substances (TBARS) formation in zebrafish during post-mortem storage at 4 oC. Dietary Herbalox and Vinlife supplementation also showed no deleterious effects on growth or survival of zebrafish. The Vinlife supplementation efficiently suppressed TBARS formation in the zebrafish but the Herbalox supplementation. The two novel antioxidants had significant effects on catalase and glutathione S-transferase but not on glutathione peroxidase. These findings suggested that the supplementation with Vinlife was more effective than with Herbalox in inhibiting the formation of lipid oxidation products in zebrafish. Hence, Vinlife supplementation, could be a safe alternative method to improve oxidative stability of fish lipid contents. Key words: natural antioxidant, lipid oxidation, TBARS, GPx, CAT, GST

KAJIAN PEMODELAN LEBAR JALAN PADA PERUMAHAN BUKIT SEJAHTERA

PILAR Vol 7, No 2 (2012): PILAR 07092012
Publisher : PILAR

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.054 KB)

Abstract

Untuk menentukan lebar jalan di suatu komplek perumahan perlu diketahui peruntukan dari keberadaan komplek perumahan tersebut, sehingga jalan yang dibuat dapat melayani kebutuhan pemilik rumah.  Dari dasar inilah maka pada penelitian ini dibuat suatu persamaan model untuk menentukan lebar jalan pada salah satu komplek perumahan di kota Palembang yaitu Komplek Perumahan Bukit Sejahtera dengan meninjau beberapa variabel yang ada dalam komplek perumahan tersebut dengan beberapa type rumah didalamnya sehingga didapatkan lebar jalan yang ideal untuk dapat digunakan pada komplek yang sama pada perumahan yang lain.  Pemodelan lebar jalan pada komplek perumahan terdiri atas beberapa variabel yaitu : lebar jalan sebagai variabel terikat sedangkan panjang jalan, kecepatan kendaraan, arus kendaraan, jarak ke pasar, jarak ke kantor, jarak ke sekolah, jarak ke mesjid, jarak ke tempat olah raga dan rekreasi serta jarak ke pintu keluar merupakan variabel bebas.  Aplikasi terhadap lebar jalan hasil pemodelan dengan menggunakan model korelasi menunjukkan bahwa lebar jalan eksisting  untuk lebar jalan 4,00 m dan 4,50 m tidak perlu diperlebar dengan batasan kecepatan kendaraan 15 km/jam,  untuk lebar jalan 5,00 m tidak perlu diperlebar dengan batasan kecepatan kendaraan 20 km/jam,  untuk lebar jalan 5,50 m perlu diperlebar hingga 7,00 m dengan batasan kecepatan kendaraan 20 km/jam, pada jalan dengan lebar 6,00 m tidak perlu diperlebar bahkan kecepatan kendaraan dapat ditambah hingga 30 km/jam, pada jalan dengan lebar 7,00 m tidak perlu diperlebar bahkan kecepatan kendaraan dapat ditambah hingga 30 km/jam dan pada jalan dengan lebar 15,00 m perlu diperkecil hingga 11,00 m dengan batasan kecepatan kendaraan 60 km/jam.

KAJIAN PENERAPAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3) DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR DI BENGKEL DAN LABORATORIUM POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA

PILAR Vol 10, No 1 (2014): PILAR 10032014
Publisher : PILAR

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.913 KB)

Abstract

Aspect of Health Safety and Environment (K3) must be focused on education world, one of the place is Politeknik Negeri Sriwijaya (Polsri), a university located at Palembang that mainly focus on practice before theory. The practiced is done at workshop and laboratory. To prevent any accident, Health Safety and Environment (K3) application should be studied on teaching and learning process at workshop or laboratory of Polsri. Responses from correspondences was taken by questioners towards lectures, technicians, and students majoring Civil Engineering, Chemical Engineering and Mechanical Engineering, and later analyzed by Likert Scale.The grade results of Health Safety and Environment (K3) knowledge from lectures, technicians, students at workshop averaging on A and B range is lower than 50%. It shows that Health Safety and Environment (K3) knowledge must be increased especially on Engineering Major. The result of Health Safety and Environment (K3) equipments used by lectures or technicians is lower than 50% also during teaching and learninprocess, in the contrary Health Safety and Environment (K3) equipments used by students at workshop and laboratory is more than 50%. It is good if 100% always used by them to prevent sickness and accidentbecause of works. The result of Health Safety and Environment (K3) management application at workshopand laboratory is lower than 40% from lectures and technicians, and the result by students is lower than 50%. Students agree that Health Safety and Environment (K3) management already conducted at workshop or laboratory. Moreover, review and management of Health Safety and Environment (K3) at workshop and laboratory still need to be improved.

KAJIAN PRASARANA JALAN DALAM MENDUKUNG PERKEMBANGAN WILAYAH INDUSTRI TANJUNG API API

PILAR Vol 10, No 2 (2014): PILAR 0902014
Publisher : PILAR

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.402 KB)

Abstract

Wilayah Tanjung Api Api yang berada di Provinsi Sumatera Selatan tepatnya di Kabupaten Banyuasin merupakan wilayah potensial yang dapat dikembangkan mengingat letaknya yang sangat strategis, hal ini tentunya dapat meningkatkan pertumbuhan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di Sumatera Selatan umumnya. Mengingat wilayah Tanjung Api Api terdapat pelabuhan laut dan pelabuhan penyeberangan menuju Bangka dan Belitung serta di wilayah ini akan dijadikan kawasan ekonomi khusus (KEK) sesuai dengan Undang-undang RI Nomor 39 tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus (Tim Bappeda Sumsel, 2012). Keberadaan infrastruktur jalan untuk mendukung keberlangsungan perkembangan kawasan ekonomi di Tanjung Api Api tentunya sangat dibutuhkan, karena tanpa jalan yang layak maka perkembangan tersebut akan terkendala karena putusnya jalur transportasi yang menghubungkan kawasan tersebut sehingga akan mempersulit pergerakan orang dan barang. Melihat kondisi infrastruktur jalan yang ada sekarang berupa jalan aspal yang sudah begelombang dan berlubang serta jalan beton dengan retakan dan patahan yang sangat membahayakan pemakai jalan baik kendaraan roda dua maupun roda empat akan mengakibatkan terganggunya kenyamanan selama dalam perjalanan menuju kawasan Tanjung Api Api.Beberapa penanganan kerusakan jalan dapat dilakukan dengan menggunakan standar penanganan kerusakan jalan pada lapisan lentur menggunakan metode perbaikan standar Direktorat Jendral Bina Marga 1995. Jenis- jenis metode penanganan tiap- tiap kerusakan adalah : metode perbaikan standar, perbaikan jalan dengan overlay, perbaikan jalan dengan Rigid Pavement, dan perbaikan jalan dengan Cement Treated Recycling Base (CTRB).Pemeliharaan prasarana jalan menuju Tanjung Api-Api harus dilakukan dengan memperhatikan 3 aspek yang ada yaitu aspek ekonomi, sosial dan lingkungan. Dimana aspek ekonomi berkaitan dengan pendanaan yang tersedia agar dapat digunakan seefektif mungkin terhadap pemeliharaan jalan dengan memilih teknik pemeliharaan jalan yang tepat sehingga jalan dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan usia jalan yang direncanakan. Tinjauan terhadap aspek sosial yaitu dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat dan pengembangan wilayah sehingga prasarana jalan yang ada sesuai dengan peruntukannya, sedangkan dari aspek lingkungan yaitu bahwa pemeliharaan jalan yang dilakukan tidak merusak lingkungan yang ada.

KECERNAAN IN VITRO SILASE SAMPAH SAYUR DAN DAUN GAMAL MENGGUNAKAN MIKROORGANISME RUMEN KAMBING

Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 1, No 4 (2015): Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis (JITRO)
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecenaan bahan kering dan bahan organik tingkat campuran silase sampah sayur dan daun gamal yang diuji secara in vitro. Penelitian ini menggunakan  Rancangan  Acak  Lengkap dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan. Masing-masing perlakuan tersebut ialah R0 (daun gamal 100%), R1 (daun gamal 70%  + silase sampah sayur 30%), dan R2 (daun gamal 40% + silase sampah sayur 60%). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dan uji lanjut menggunakan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa campuran silase sampah sayur berpengaruh sangat nyata (p<0,05) terhadap kecernaan bahan kering dan berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap kecernaan bahan organik. Dapat disimpulkan bahwa perlakuan campuran silase sampah sayur dan daun gamal dapat meningkatkan kecernaan bahan kering dan bahan organik, perlakuan 40% daun gamal dan 60% silase sampah sayur menghasilkan persentase kecernaan bahan kering dan bahan organik yang terbaik yaitu (72,24% dan 68,19%).   Kata kunci : Silase sampah sayur, daun gamal, kecernaan bahan kering, dan bahan organik.

Status Teknologi dan Prospek Beauveria bassiana Untuk Pengendalian Serangga Hama Tanaman Perkebunan

Perspektif Vol 6, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.071 KB)

Abstract

ABSTRAKPengendalian hama dengan insektisida kimia telah menimbulkan banyak masalah lingkungan, terutama rendahnya  kepekaan  serangga  terhadap  insektisida kimia, munculnya hama sekunder yang lebih berbahaya, tercemarnya tanah dan air, dan bahaya keracunan  pada  manusia yang melakukan kontak langsung dengan insektisida kimia. Salah satu alternatif pengendalian yang cukup potensial adalah penggunaan patogen serangga, khususnya cendawan B. bassiana.  Mekanisme infeksinya yang secara kontak melalui kutikula dan tidak perlu tertelan oleh serangga menyebabkan  B.  bassiana  menjadi  kandidat  utama untuk digunakan sebagai agen pengendalian berbagai spesies serangga hama, baik yang hidup pada kanopi tanaman maupun yang di dalam tanah.  Rata-rata patogenisitasnya terhadap hama sasaran cukup tinggi, sehingga pemanfaatannya dalam pengendalian serangga  hama  perkebunan,  seperti  kapas,  kelapa sawit, lada, kelapa dan teh memiliki prospek sangat baik. Untuk pengendalian ulat penggerek buah kapas, Helicoverpa armigera telah ditemukan dua strain isolat, yaitu Bb4a dan BbEd10 yang efektif membunuh 80-87,5% ulat H. armigera hasil uji di laboratorium, dengan masing-masing LT50 mencapai 8,96-9,62 hari dan 19,69-22,27 hari dibanding strain B. bassiana yang lain (19-48 hari).  B. bassiana juga efektif untukm pengendalian serangga   hama kelapa sawit(Darna  catenata), penggerek batang lada (Lophobaris piperis), dan ulat pemakan tanaman teh (Ectropis bhurmitra). Konidia B. bassiana dapat diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada kanopi tanaman, ditaburkan pada permukaan tanah, atau dicampur dengan tanah atau kompos. Temperatur dan kelembaban adalah faktor abiotik yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan konidia B. bassiana, tetapi cahaya melalui panjang gelombang sinar ultraviolet juga berpotensi merusak konidia sehingga aplikasi pada pagi (< pkl. 08.00) atau sore hari (> pkl. 15.00) dapat menghindari kerusakan. B. bassiana aman bagi serangga bukan sasaran, terutama serangga berguna dan musuh alami. Temperatur dan kelembapan yang lebih stabil pada ekosistem tanaman perkebunan akan sangat mendukung peran B. bassiana dalam pengendalian hama utama tanaman perkebunan sehingga prospek pengembangannya sangat baik.Kata   kunci:   Beauveria   bassiana,   status   teknologi, prospek, hama perkebunan.  ABSTRACTStatus, technology and prospect of ecofriendly entomopathogenic fungus B. bassiana against insect pests of estate cropsChemical insecticides for pests control are causing environmental    problems,    such    as    reducing susceptibility of insect pests to a number of chemical insecticides, outbreaks of secondary pest, air and soil pollution, and human poisoned due to directly contact with the pesticides. Insect pathogen, a pest control bioagent, can be used as an alternative component control for reducing of chemical insecticide usage.  The entomopathogenic fungi, B. bassiana (Bals.) Vuill. is currently being developed as a potential of alternative bioinsecticide. Mode of action of the fungi is initially started  by  adhesion  and  penetrating  of  the  spore through insect cuticule, and its mycelium then develop inside the insect body prior the insect death. Its conidia will grow soon after the insect die. High pathogenicity will show when B.  bassiana expose to appropriate target pests.  Several Indonesian strains and isolates of B. bassiana have been proven to be pathogenic against several major insect pests of cotton, oil palm, pepper, coconut and tea. Two B. bassiana isolates, viz. Bb4a and BbEd10  were  found  to  be  effective  against  cotton bollworm, H. armigera with the average percentage of mortality by 80-87.5% based on laboratory study.  Both the LT50  and LT90 of the two isolates were 8.96-9.62 days and 19.69-22.27 days, respectively and these LT were shorter than that of other isolate, Fb4 (19-48 days).  B. bassiana  was also effective for control of the oil palm larvae (D. catenata), pepper stem borer (L. piperis),  and  tea  leaf  caterpillar (E.  bhurmitra).    B. Status, Teknologi, dan Prospek B. Bassiana  Untuk Pengendalian Serangga Hama (D.Soetopo dan IGAA Indrayani) bassiana can be applied by spraying method over the plant canopy, applied as soil treatment, or by mixing the conidia with compost. Temperature and humidity are the abiotic factors that able to influence the growth of conidia. B. bassiana spore is less active or even inactive when directly exposed to ultraviolet, therefore spraying conidia in the early morning (< 08.00 a.m) or in the evening (> 15.00 p.m) may avoid the reduction of conidia activity. B. bassiana is also safe to non-target insect including beneficial insect and natural enemies. Temperature  and  humidity  are  more  stabil  within estate plantation ecosystem and both will support the fungus  epizootic  development.  Therefore  using  B. bassiana seems to hold great promise in controlling the major insect pests of estate crops.Key words: Beauveria bassiana, status of technology, prospect, insect pest, estate crops.

Comparison Analysis of CBR Value Enhancement of Soil Type in Swamp Area by Addition of Fly Ash

Science and Technology Indonesia Vol 3 No 2 (2018): April
Publisher : ARTS Publishing

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (950.339 KB)

Abstract

Roads was built on swamp areas should be consider the condition of the base soil, since the characteristics of the soil in swamp areas have always inundated and have a low soil carrying capacity (Subagyo, 2006).  One of effort that could be done to improve the existing soil condition was used fly ash as a material for soil stabilization (Indera et al, 2016; Mina et al, 2016). This study was conducted to analyze the enhancement of CBR value on various soil types in swamp area by the addition of fly ash. Testing on the values of index properties, compaction, and CBR values was done in laboratory base on ASTM and AASHTO standars.  The test results show that the type of soil at the location of the sampling is silty or clay gravel and sand, clay soil, and silty soil.  The reduction of optimum water content  after the addition of fly ash is the highest decrease of  20.92%. While the highest increase of dry content weight after the addition of fly ash was 0.904 gr / cm3. An enhancement in the value of CBR by the addition of 20% fly ash in the study area, however the increase magnitude depends on the existing soil types, ie 7.99% in the silty or clay gravel and sand, 6 - 8% in the clay soil and 0,22 - 5% on silty soil. This indicates that the addition of fly ash was the optimum used on the type of clay soil.

LEARNING MANAGEMENT OF FAMILY EDUCATION THROUGH PARENTING CLASS TO IMPROVE PARENT’S POSITIVE PARENTING ABILITY (Case Study at PKBM Melati Jayagiri, West Bandung District)

Empowerment Vol 7, No 2 (2018): Volume 7, No 2, September 2018
Publisher : IKIP Siliwangi Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.879 KB)

Abstract

Abstract The main purpose of this study is to analyze the learning management of family education through parenting class to improve parent’s positive parenting ability conducted in Melati Jayagiri Community Learning Center (CLC/PKBM), Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.The study used qualitative approach and descriptive method. The research subjects were 5 persons, consisted of 3 community learning center’s students (WB1, WB2 and WB3) and triangulation from the informants coming from 1 CLC manager (P1) and 1 CLC educator (NS1). The study taken place in Melati Jayagiri Community Learning Center, Jayagiri Village, District Lembang, West Bandung regency. As the results of the study, the following data are obtained: 1) The lesson plans were designed by managers and educators after conducting needs assessments, after that learning objectives were determined, lessons and tools related to learning elements were prepared, 2) Parenting class was conducted with  positive parenting as the main learning materials, and the supporting materials were conveyed in the form of storytelling, (b) the learning approach used was participative-andragogy, (c) the learning methods/ techniques used were discussions, lectures, practices and frequently asked questions and demonstrations, (d) the learning media were laptops, LCD, speakers (e) evaluation, (f) follow-up and (g) learning environment, 3) the Learning outcomes consisted of (a) cognitive, (b) affective,and  (c) psychomotoric, all aspects indicating progressive improvement.  The research recommends mutual wider partnership with other Early Childhood Education’s stakeholders for better management of this parenting class in the future.Keywords: family education, positive parenting, learning, management

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMILIHAN KONTRASEPSI VASEKTOMI

Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwivery Science) Vol 1, No 1: Maret 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan AKBIDYO

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Pertumbuhan penduduk Indonesia yang tidak terkendali akan menimbulkan banyak masalah kependudukan. Rendahnya partisipasi pria dalam keluarga berencana dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya faktor demografi, faktor struktur sosial, faktor pasangan, dan faktor ketersediaan sumber daya kesehatan. Masih banyak faktor lain yang mempengaruhi pemilihan kontrasepsi vasektomi yang belum diketahui. Untuk mendapat- kan informasi lain mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan vasektomi, maka kami melakukan pene- litian dengan metode mixed method.Metode: Rancangan penelitian yang digunakan adalah mixed methods dengan pendekatan concurrent embed- ded dan strategi eksplanatoris. Data kuantitatif dikumpulkan dengan kuesioner. Untuk pengumpulan data kualitatif dilakukan wawancara mendalam pada responden, istri responden dan PLKB yang terpilih dengan menggunakan panduan wawancara. Data yang sudah dikumpulkan kemudian dianalisis, untuk metode kuantitatif menggunakan analisis deskriptif terhadap karakteristik responden. Untuk metode kualitatif, informasi dari subjek penelitian dicatat dalam bentuk transkrip, kemudian diberi koding dan dikelompokkan menjadi kategori serta tema.Hasil: Berdasarkan data yang terkumpul dari 53 responden didapatkan sebagian besar responden berada pada kelompok umur 41-50 tahun (39,6%); sebagian besar responden memiliki jumlah anak >3 orang (75,5%); mayoritas responden berpendidikan SD (90,6%); seluruh responden beragama Islam (100%); sebagian besar berpenghasi- lan ≥ UMR (75,5%); seluruh responden mendapatkan dukungan dari istri (100%); dan sebagian besar responden mendapatkan informasi dari PLKB (73,6%). Tanggapan akseptor terhadap stigma berkaitan dengan faktor agama, seksual, tindakan medis dan psikologi sedangkan alasan responden memilih vasektomi diantaranya karena faktor pasangan, ekonomi dan panutan.Simpulan: Panutan merupakan faktor lain yang dapat memengaruhi keputusan pria untuk menjalani vasektomi di Desa Kiarapedes.ABSTRACTBackground: The low participation of men in family planning is influenced by many factors, including demographic factors, social structure factors, family factors, and the availability of health resources. There are many other factors that influence the selection of contraceptive vasectomy is not yet known. For additional information concerning fac- tors that influence the choice of a vasectomy, we conducted a study with mixed methods method.Objective: To know factorsaffectingvasectomycontraceptionin the KiarapedesPurwakartaMethod: The study design used was mixed methods approaches and strategies embedded concurrent explanatory. Quantitative data were collected by questionnaire. The gathering of qualitative in-depth interviews were conducted in the respondent, the respondent's wife and PLKB selected using an interview guide. The data has been collected and analyzed, for a quantitative method using descriptive analysis of the characteristics of respondents. For quali- tative methods, information from research subjects are recorded in the form of transcripts, then given coding and grouped into categories and themes.Result: Based on data collected from 53 respondents found the majority of respondents were in the age group 41-50 years (39.6%), most of the respondents had a number of children> 3 people (75.5%), the majority of respon- dents had elementary (90 , 6%), all Muslim respondents (100%), most of the income ≥ minimum wage (75.5%) of all respondents have the support of his wife (100%), and most respondents receive information from field officers(73.6% ). Response acceptors of stigma related to religious factors, sexual, and psychological medical treatment while the reasons respondents chose vasectomy because of factors such as family, economy and role model.Conclusion: Modeling is another factor that can influence a man's decision to undergo a vasectomy in the villageKiarapedes.

Pencemaran Udara Akibat Kinerja Lalu-Lintas Kendaraan Bermotor Di Kota Medan

Jurnal Permukiman Vol 13, No 1 (2018)
Publisher : Pusat Litbang Permukiman, Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan manusia secara langsung atau tidak langsung maupun akibat proses alam menyebabkan kualitas udara turun sampai ke tingkat tertentu sehingga menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai peruntukannya. Semakin meningkatnya pertumbuhan suatu kota beriringan dengan meningkatnya kegiatan manusia dan bertambahnya jumlah kendaraan di perkotaan  maka mengakibatkan komposisi udara ambien mengalami perubahan kualitas. Terjadinya penurunan kualitas udara diakibatkan kendaraan bermotor di jalan yang padat. Akibat penurunan kualitas tersebut dapat mengganggu dan membahayakan lingkungan sekitar terutama manusia, hewan serta tumbuhan. Penelitian ini dilakukan di tiga lokasi di Kota Medan dengan tingkat kepadatan lalu lintas yang cukup tinggi, yaitu Jalan Gatot Subroto, Jalan Gagak Hitam, Jalan Sisingamangaraja. Dari hasil analisis menggunakan Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) diketahui bahwa volume lalu lintas berpengaruh signifikan terhadap kualitas udara ambien. Umumnya pengaruh tersebut didominasi oleh angkutan barang sedangkan angkutan penumpang hanya memberikan pengaruh yang kecil, namun pengaruh tersebut dapat bertambah besar apabila volume lalu lintas padat di suatu jalan. Untuk besaran pengaruh kinerja lalu lintas terhadap kualitas udara ambien sebesar 28,07% dan sisanya di pengaruhi faktor lain. Hasil tersebut cukup besar untuk satu parameter pencemar udara di perkotaan.